Inspirasi dari Pengusaha … Lihan
21 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PUTRI MALU. Restaurant Swis-Bell Hotel Banjarmasin. Malam itu, menjelang Temu Alumi ESQ Kalsel, Ary Ginanjar Agustian, suhu ESQ disambut hangat gembira. Acara makan malam dalam bentuk silaturahmi merupakan hal biasa. Sebagai orang yang ikut mendayung ESQ Kalsel sejak awal, baik petinggi ESQ Jakarta, para pelopor ESQ Kalsel, atau para pejabat Kalsel, bukan hal aneh. Tapi, ada yang baru, wajah baru. Siapa garang?
“Pak, Ersis, ini Pak Lihan”, kata Darmawan Jaya Setiawan, kini korwil ESQ Kalsel, memperkenalkan Lihan. Kami bersalaman dan bertegur sapa. Jaya, sudah beberapa hari bercerita tokoh yang satu ini. Penampilannya bukan bak seorang pegusaha besar. Berbaju sasirangan berdasar hijau dengan kombinasi motif khas Banjar. Belakangan saya tahu itulah baju terbaiknya.
Ya, perkenalan dengan Lihan sekadarnya saja. Paling-paling, dalam diskusi membicarakannya dari aneka sudut. Menarik. Tapi, tidak sempat berbincang lebih jauh. Tahu-tahu, Radar Banjar Peduli, organisasi sosial yang kami bangun dan ‘bergayut’ pada Radar Banjarmasin dalam jejaring Dompet Dhuafa Republika, dihadiah sepeda motor. Lalu, mobil operasional, Avanza.
Pokoknya, kiprah Lihan sebagai pengusaha sukses semakin sohor. Dan, sangat dermawan. Serius saya amati dari sisi mindset. Lihan sebagai pengusaha ‘aneh’. Puncaknya, ketika dia membeli intan Puteri Malu seharga Rp4 milyar. Padahal, juragan intan di Kalsel hanya menawar Rp.100 juta. Sejak itu Lihan sering tampil di media cetak dan media elektronik. Apalagi ketika mendanai pembuatan film Wali Songo.
Setelah beberapa kali diundang, karena memang tidak sempat hadir, Jaya berbaik hati membawa ke rumah Lihan. Sungguh kejutan. Rumahnya biasa-biasa saja. Istilah saya, kaya wadah kita-kita jua (bahasa Banjar).
Seperti biasa, tidak tahu pejabat atau orang kaya, saya bicara suka-suka saja. Dua jamaman kami ger-geran. Apalagi Lihan bercerita hal-hal lucu. Misal, ketika ikut acara pameran akbar di JCC, bersama Jaya, yang diberi brosur Jaya. Lihan? Mengambil sendiri. Belum lagi ketika petugas sampai memimjam ID cardnya, untuk meyakinkan; Apakah benar ‘makhluk’ sederhana ini Lihan?
Pengalaman nyata yang sedikit konyol sungguh luar biasa. Betapa tidak. Lihat bercanda, kalau ketika membeli helikopter membawa Jaya, bisa-bisa dikira pembelinya Jaya. Tidak terhitung tamu, tepatnya yang mengantar proposal (bantuan) bertanya pada Lihan: Pak Lihannya ada, Pak?
Yap, di Parahyangan Restaurant, sejak puluk 12.00 sampai 14.00, 21 April 2008, kami mengulang lagi ketawa-ketawa bermakna. Kali ini ada seriusnya. Lihan akan tampil pada Bandjarbaroe Post edisi Mei 2008. Lebih serius lagi, kami merancang pembuatan buku ‘Kiat Bisnis Anak Pesantren Berbasis Ridho Allah’.
Seperti biasa, saya menghujani dengan pertanyaan yang rada-rada tajam, dan mungkin kejam. Mulai dari masa kecilnya, yang luar biasa memprihatinkan, perjuangan hidup yang menjadikan tangguh, bagaimana dia menghidupi diri, memasak makanan santri, belajar bahasa Arab dan Inggris, lalu berkelana membuka usaha, dari Banjarmasin, Jakarta, Surabaya, sampai ke Cina.
Simpulannya, kiatnya sungguh unik, dan … kog ya mirip-mirip ‘gaya’ Rasulullah. Kalau perjalanan usaha bos sekitar 10 unit usaha ini, dari pisang goreng sampai penyewaan helikopter, dari percetakan sampai importir mesin cetak, dari warnet cafe sampai TV Kabel, duh … sungguh entrepenuere sejati. Waktu nanti yang akan membaptis.
Hidup sekadarnya saja, katanya. Jangan biarkan waktu tersedot mencari dan menjaga harta, biarlah harta yang menjaga kita. Tidak usah mencurigai orang, kepercayaan jauh lebih bermakna. Dan, semua itu dilandaskan ridho Allah.
Nampaknya, saya perlu mencerna ‘konsep’ hidup dan bisnisnya, mengkomperasikan dengan kenyataan yang dia perbuat, baru berkesimpulan. Inspirasi lainnya, semakin tergugah untuk menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 21 April 2008.













18 Responses to “Inspirasi dari Pengusaha … Lihan”
By sawali tuhusetya on Apr 21, 2008 | Reply
semoga muncul lihan2 lain di negeri ini pak agar roda peradaban di negeri ini bisa berputar terus dan tdak berhenti akibat banyaknya orang yang tak peduli lagi pada nasib sesama.
By noorlatifah on Apr 21, 2008 | Reply
Saya salut dengan prinsip hidup sekedarnya saja yang dianut pak Lihan. Karena dengan demikian kita tidak akan pernah sombong dan tidak akan ada yang namanya jarak dengan siapapun, tidak akan pernah memilih-milih teman dan sebagainya. Pokoknya Siiiipp deh!!!
By Rahmadona Fitria on Apr 21, 2008 | Reply
Subhanallah, ada kata-kata hikmah yg sepertinya sesuai dgn sosok Pak Lihan; yang perlu dikejar di dunia ini adalah ilmu dan amal bukan kemewahan.
By H4KEEM on Apr 21, 2008 | Reply
Sudah saatnya kita melepas baju yang kita pakai saat ini dan menengok ke dunia luar. Ternyata sangat banyaka kekayaan Allah yang belum kita ketahui. Kadangkala, kita pun harus menerimanya tanpa menggunakan logika yang kita Tuhankan selama ini. Nyatannya, banyak kesuksesan diraih hal bertentangan Teori ‘pemikiran’ sang ahli. Saatnya belajar dari kenyataan.
By ibnusina on Apr 21, 2008 | Reply
Luar biasa inspiratif, menggugah keyakinan jiwa bahwa hidup harus dihadapi dengan perencanaan. Bukan tanpa rencana Lihan menjadi seperti itu, kalau ingat cerita beliau yang honor ngajarnya hanya 100rb, wah ga kebayang kapan bisa berubah. Satu hal selain kedermawanan dan kisah sukses bisnisnya, semuanya tidak berubah. Lihan tetaplah Ustadz Lihan yang dulu kita kenal. barakallah..
By sandi on Apr 21, 2008 | Reply
satu hal yang sampai kini saya tunggu-tunggu dari pak Lihan, terwujudnya sebuah “Kedai Buku” (Warung Ilmu)… seperti pernah saya tulis di kolom hari minggu saya di Radar Banjarmasin: “Banjarbaru, Kedai, dan Buku” memperingati Hari Jadi Kotabaru yang ke-9 pada 20 April 2008 tadi.
Saya juga menunggu kabar dari pak Walikota Banjarbaru (tapi saya berpikir lagi, beliau baca nggak ya kolom minggu saya itu…?) — Duh, barangkali saya memang hanyalah seorang pemimpi yang payah…
By khai_ril on Apr 21, 2008 | Reply
Wah Bang, jadi penasaran nich ingin lihat terbitan Bandjarbaroe Post edisi “Bos Lihan”… Pasti akan lebih banyak yang menarik, sisakan lun satu bang laahh… Mudah-mudahan kita bisa jua jadi kaya “Bos Lihan” amieennn….
By Zul ... on Apr 21, 2008 | Reply
Kerendahatian, itulah modal Lihan
Suatu malam, sebuah SMS masuk ke handphoneku.
Ada beberapa kalimat yang intinya mohon izin untuk bersilaturrahmi. Yang mengejutkan pada bagian akhir tertulis ‘Lihan si Putri Malu’.
Hati siapa yang tak terkejut, sebagai orang biasa dapat SMS dari orang sehebat Lihan. Penasaran, aku tanya dari mana dia tahu nomor HPku. Ternyata, dia sempat singgah di blog aku dan menemukan alamat dan nomor tersebut. Selanjutnya, kami berkomunikasi baik via SMS maupun telepon.
Barangkali, kalau Lihan bukan orang yang rendah hati, ga mungkin dia mau memulai ingin berkenalan dengan orang ‘jaba’ sepertiku.
Beruntunglah banua memiliki orang seperti Lihan.
Tuhan telah membuktikan, orang-orang (maaf) berbadan pendek seperti Lihan, Napoleon, Habibie, dan banyak lagi justru memiliki banyak kelebihan.
Selamat, Abang sempat kenal dengan Lihan.
Tabik!
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 22, 2008 | Reply
Subhanallah.. Ustadz Lihan memang berpenampilan sederhana tapi dalam bersedekah sangat MEWAH sekali -ruar biasa-. Dalam sebuah kunjungan silaturahim kerumah beliau, beliau bercerita bahwa (setahun lalu kisahnya)sedekah-nya saja perbulan 600juta. Entah sekarang, mungkin sudah hitungan “M”. Memang patut dicontoh dalam perilaku bermewah dalam bersedekah.
By syaharuddin on Apr 22, 2008 | Reply
“….Hidup sekadarnya saja, katanya. Jangan biarkan waktu tersedot mencari dan menjaga harta, biarlah harta yang menjaga kita. Tidak usah mencurigai orang, kepercayaan jauh lebih bermakna. Dan, semua itu dilandaskan ridho Allah….”.
Luar biasa. Ya sungguh luar biasa ungkapan saudara Lihan di atas. Saat ini, yg terjadi malah sebaliknya, waktu habis tersedot untuk mencari harta –walaupun tidak salah–, curiga mencurigai, tidak ada lagi kejujuran dalam segala hal, delel. Memang kita dianjurkan untuk kaya, dan selalu berusaha bekerja keras tetapi tidak pelit alias engken. Harus diingat bahwa harta yg dimiliki sebagian untuk si fakir, si miskin, dan kegiatan sosial lainnya.Lihan, sebagai pengusaha Muslim, dan menjalankan berbagai hal positif di atas, adalah sudah seharusnya beliau lakukan karena memang seperti itu bimbingan Islam dalam berbisnis. Kita tunggu Lihan-Lihan yang lain dalam rangka menuju bisnis yang diridhoi Allah, Amin.
By SQ on Apr 22, 2008 | Reply
(setelah membuka blognya), yang terlintas di otak saya hanyalah:
Tidakkah pelajaran dalam hidup itu indah
Kita berproses dan terus berusaha menjadi lebih baik
Membiarkan waktu serta keadaan menempa
Satu persatu melucuti, menguji dan mengukir pribadi
Hingga terbentuk wujud rupawan
Seperti kepompong yang menjadi kupu2
siapa yang bisa menyangkanya?
Nampak Lihan orang yang sudah melewati itu semua. Mudah-mudahan bisa menjadi contoh, (termasuk saya), untuk terus belajar memaknai hidup.
By tri hayat on Apr 22, 2008 | Reply
ulun termasuk orang yang tidak mengenal Lihan secara langsung. hanya lewat cerita teman dan media, tetapi opini dikepala tentang Lihan sudah terbentuk sejak tahun 2005 silam. kini keinginan tuk bertemu dan bertegur sapa kian muncak (semoga bisa bertemu). setidaknya kesan yang ulun tangkap dari teman dan media adalah kesederhanaan, rendah hati dan kedermawanan. sikap seperti inilah yang menurut ulun patut untuk dicontoh dan diteladani. semoga Lihan yang satu ini menjadi inspirasi bagi banyak Lihan2 lain. amin
By taufik on Apr 22, 2008 | Reply
Ulama, umara, dan orang kaya merupakan tiga pilar penyangga keadilan dan kebenaran. Secara simbolik, ketiganya menjadi penjaga pintu neraka agar tak seorang pun masuk ke sana. Ulama, umara, dan orang kaya, pelindung masyarakatnya.
Dalil moralistik-idiilnya jelas: bila tiga golongan ini baik, maka baik pula masyarakatnya. Ulama menjadi teladan akhlak mulia dan mencerminkan pepatah: orang pandai tempat bertanya. Orang bijak itu perumus fatwa.Umara, pemegang kendali hidup masyarakat dan negara, mengemban sifat amanah dan jujur, dan bukan sibuk menjaga singgasananya sendiri, dengan risiko bohong, zalim, dan keji, yang sudah menjadi kelaziman di sini.
Sedang “orang kaya” (aghniya) menyangga tugas etis dan sosial menjadi dermawan, seperti tercermin dalam pepatah orang kaya tempat meminta. Maka, terkutuklah orang yang menyembunyikan kekayaannya karena takut dituntut jaksa.
Saya kira, Ustadz Lihan (bukan Ustad, kalau ini artinya (maaf), tepi pantat?) bisa kita tempatkan dalam konteks “orang kaya” yang tidak dikuasai oleh kekayaannya. Sepatutnya lah kita beri apresiasi yang tinggi, dan kita sangat berharap segala kiprah dan kontribusinya untuk kemajuan Ummat (rakyat) di Banua Banjar. Salam…
By setia budi on Apr 24, 2008 | Reply
dermawan, rendah hati dan banyak orang tidak yakin jika sudah berhadapan langsung dengan beliau…… Gaung Lihan begitu meroket tatkala Putri Malu sudah berada digenggaman beliau. Jauh sebelum itu saya pernah bertemu dan berbincang-bincang ala kadarnya … Sekarang kesederhanaan tetap melekat walaupun Lihan sudah menjadi bagian sederetan dari orang Kaya dikalimantan selatan.Menarik, Uda Ewa mencoba mengupas keberadaan Lihan dari segi kiat bisnis dan kepribadiannya.Yakinlah Uda Ewa masih banyak Lihan yang lain, yang masih belum terekspos!
By rahma yanti on May 1, 2008 | Reply
assalamualaikum wr.wb
pa haji , pa dermawan yang alhamdulillah selalu dimuliakan allah, mungkin email saya ini bagi bapak konyol, atau lancang, tapi bagi saya sangat berarti dan hanya Allah yang tahu, dan saya juga bersumpah atas nama allah, saya beranikan diri karna saya sedang mengalami kesulitan dana untuk mengambil sertifikat rumah yang jangka pendek sekali,saya bingung sedangkan gaji saya pas untuk biaya keluarga,mohon kiranya dengan keridhoan dan ketulusan hati bantu saya dalam menghadapi kesulitan ini, bila saya berpura-pura membohongi bapak,mungkin segala perbuatan dibalas allah.
terima kasih sebelumnya, maaf bila email ini kurang berkenan dihati bapak, saya hanya coba berusaha,segala sesuatu saya hanya pasrah pada allah, yang penting saya berusaha dan berdoa. wassalamualaikum wr.wb
By esti on Sep 11, 2008 | Reply
terus terang saya baru “kenal” pak haji lihan dari tulisan yg saya baca online. maklum…saya jarang menonton televisi dan hanya berkutat dgn dokumen-dokumen dan buku yang menarik perhatian saya.
yang ingin saya tanyakan, apa pernah ada orang yang meragukan kemampuan bapak haji lihan ini? karena bapak haji lihan ini kan sudah menjadi orang terkenal, dan mungkin juga banyak pesaing usahanya.
saya setuju sekali dgn ungkapan “dont judge a book by its cover”. jika saja ada orang seperti haji lihan di setiap provinsi, maka otonomi daerah akan maju.
salam.
By rasyid on Oct 11, 2008 | Reply
Misterius memang… Susah saya memberikan penilaian. Berat untuk men-justifikasi. Karena semuanya serba misterius.
Di tengah keglamoran dunia ada orang seperti Ust. Lihan…
By SRISUJARNO on Nov 5, 2008 | Reply
Boleh tahu gak, dimana alamat bapak lihan. atau Perusahaannya? ana amat tertarik dengan profilnya. Terima kasih
***Desa Cindai Alus, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.