Inspirasi dari Kesibukan

20 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MAHASISWA. Entahlah … saya harus menulis apa dan bagaimana. Empat orang mahasiswa, dari ‘Pandawa Lima’ yang akan membereskan buku Antropologi, jam 08.00, 20 April 2008, muncul di rumah. Hari ini, Hari Jadi ke-9 Banjarbaru, dan HUT ke-10 Aprivisi EWA Abbas, anak kedua saya. Visi lahir di Banjarbaru, tetapi lebih tua dari Banjarbaru. Beberapa tahun lalu telah saya gugat. Tapi, ada yang 40 tahun lebih tua dari kota lahirnya. Lucu.
 
Ya, sudah. Syamsuwal Qomar ‘menangani’ Para Pemberani ini. Mereka diberi kursus kilat program PageMaker7. Sebenarnya, standar koran dan majalah kami, InDesign. Takut mereka muntah, he he. Maklum, telah lama berjodoh dengan word. Sesuatu yang mereka anggap program aplikasi paling bagus, kali aja.
 
Saya tidak menghadiri acara apa pun perayaan Kota Idaman, kota saya, sebab memilih merayakan Ultah anak. Tugas membuat laporan khusus di Bandjarbaroe Post toh sudah OK. Bandjarbaroe Post menjadi wakil dan dibagikan gratis.
 
Begitulah, mulai dari makan-makan, ke tempat permainan anak di Duta Mall Banjarmasin menjadi mengasyikkan. Tidak lupa mampir ke TB Gramedia. Rupanya, buku Menulis Sangat Mudah dan Menulis Mari Menulis, ludes lagi. Saya berjanji akan menghubungi penerbit di Jogja. Oleh-oleh yang didapat, buku Barack Obama Menerjang Harapan dan Becoming The Winning, Imam Robandi. Seperti biasa, didiskon 10 %. Kalau tidak salah, pembelian terkerdil selama ke Gramedia.
 
Pukul 13.00 kembali ke Banjarbaru. E … Para Pemberani masih asyik di ruang kerja, mengutak-atik internet. Saya memasang speedy unlimited, dan siapa saja silahkan memanfaatkan. Ada dua komputer dan tiga laptop siap dimanfaatkan. Wartawan baru saya ‘dadar’ di ruang ini, begitu juga mahasiswa dan guru-guru.
 
A hai … Para Pemberani diberi syarat: Pertama, tidak boleh beralasan. Kedua, belajar sendiri. Begitu ide menulis buku ajar mahasiswa disepakati, ditatar ilmu menulis yang bukan ilmu. Cukup bermodal: tulis, tulis, dan tulis. Hari ini mereka merasakan. Nampaknya, enjoy-enjoy saja tu. Mudah-mudahan tidak salah pilih.
 
Begitu selesai, eh datang Pak Haji yang mau membeli mobil, dan langsung mau main bayar saja. Saya bilang: Nanti saja. Jumat kita bertemu lagi. Sampai Kamis saya masuk penataran (lagi mau-maunya nich). Terus, ke alun-alun kota. Aneka acara sedang disuguhkan.
 
Agak terkejut saya ke pelataran Pemko. Eit … kotor dan bersimbah hujan. Lapangan Murjani, di depan Balaikota seluas dua lapangan sepakbola, dipakai untuk aneka acara, dan kuyup diguyur hujan. Segera menelepon teman-teman, agar berkumpul di LPMP Kalsel. Kami putuskan, launching blog ditunda. Pada sibuk deh me-SMS atau menlepon para petinggi.
 
Empat puluhan guru-guru Banjarbaru menggelar laptop. Saya bangga melihat semangat mereka. Kebetulan, Pak said, Kepala LPMP muncul. Kami melihat-lihat gedung induk yang baru selesai dibangun. Lalu, melihat bakal ruang komputer dan ‘kantor pusat’ yang akan segera kami tempati sebagai operation room percepatan peningkatan mutu pendidikan Banjarbaru. Nampaknya, akan bergerak sesuai rencana.
 
Yah, setelah sempat makan senja, saoalnya Pak Zainal dan Pak Suaidillah belum makan dari pagi, kami bubaran. Oh alah … seseorang menginfokan, ada sesuatu hal yang harus diselesaikan. Me-SMS beberapa petinggi, melakukan rapat kilat, akhirnya sampai juga di rumah.
 
Selepas magrib, eh sori … dengan dua orang tokoh guru, sebelumnya disepakati, mengadakan seminar. Hal itu disimpulkan setelah banyak guru memerlukan sertifikat —-saya kurang sreg kalau dikatakan demi menambah wawasan dan ilmu. Harap maklum, dampak sertifikasi guru. Sungguh menyebalkan.
 
Apa boleh buat, buku Becoming the Writer saya baca cepat, dan buku Barrack Obama, dilahap. Oi … Obama, kita pantas berharap darinya. Tapi, ingat … kalau pun sukses, dia presiden Amerika Serikat lho.
 
Di atas semua itu, saya ingat Heru Puji Winarso, kuliah serba rangkap, S3 di dua PTN … tidak mengeluh. Saya memaki diri. Dan, mengobatinya … menulis sajalah dulu. Sibuk kog dijadikan alasan. Kesibukan menghasilkan banyak hal. Menjadikan sibuk alasan banyak hal tidak menghasilkan hal apa pun. 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 20 April 2008.

  1. 6 Responses to “Inspirasi dari Kesibukan”

  2. By noorlatifah on Apr 20, 2008 | Reply

    Sibuk, sibuk, sibuk! sepertinya semua orang pada sibuk ya? Dari anak kecil sampai orang dewasa sibuk ini sibuk itu. Namun kita harus bisa membagi waktu untuk berbagai hal. Agar semua pekerjaan bisa terlaksana.Sibuk bukan alasan untuk tidak menulis kan Pak?
    Kalau kada bisa menulis balajarai dahulu.

    ***Sibuk … manakala dijadikan alasan, yah … jadi Raja Alasan deh

  3. By Rahmadona Fitria on Apr 21, 2008 | Reply

    mestinya kita memang banyak belajar tentang manajemen waktu kali ya…ada sebuah komunitas menulis yg tidak aktif karena alasan kesibukan, saya heran, padahal katanya anggotanya dari latar belakang penulis buletin dikampus, berarti harusnya mereka suka nulis kan, tp setiap pertemuan g pada ngumpul, akhirnya bubar.salahnya dimana?minat nulisnya atau kesibukannya atau karena mereka belum kenal EWT kali,ya Pak,he..he

    ***He he … bubaaaaaaaaaarkan saja

  4. By Willy Ediyanto on Apr 21, 2008 | Reply

    Wah, sibuk memang sering dijadikan kambing hitam. Kalau benar sibuk sih OK.
    Saya salut dengan orang yang tidak pernah mengatakan “Saya sedang sibuk”.
    Lha kemarin, beberapa hari yang lalu saya mengantar anak ke rumah sakit, waktu ngurus legalisasi resep askes, saya lihat petugas yang mestinya mendandatangani resep asyik dengan komputernya, padahal, menandatangani resep kan tidak seberapa lama, lha pengecekannya sudah selesai oleh anak buahnya kok.

    ***Sok sibuk tu … Ngak ada hasilnya, en mengewakan, sok sibuk

  5. By abee on Apr 21, 2008 | Reply

    met ultah buat anaknyah pak… :P

  6. By danalingga on Apr 21, 2008 | Reply

    Ah, sibukpun memberikan inspirasi untuk menulis.

  7. By SQ on Apr 22, 2008 | Reply

    Wah..saya lupa kalau visi juga ultah kemarin. Salam dan mudah-mudahan kedepannya senantiasa diberi keberkahan. Amien.
    Buat Pandawa Lima, dari curhat2 kemarin, mudah-mudahan aja cita-citanya berhasil jadi penulis.

    Terkerdil pak? saya tiga hari kemarin ke gramedia BJM cuma bisa “cuci mata” ?

Post a Comment