Lomba Puisi Cinta Tanah Air 2008

18 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Blogerwan, Yth.
Lomba Puisi Cinta bulan April 2008 bertema: Cinta Tanah Air. Lomba bulan lalu, Puisi Cinta, Cinta Ayah Bunda, dan Cintra Rasul sudah masuk Terminal Nominator yang nantinya setelah melewati penanganan Tim Juri dipilih pemenangnya sekaligus akan dibukukan berlabel: Antologi Puisi Cinta.

Mengingat blog ini postingannya cukup banyak, tolong dipindai. Sebaiknya tidak usah bertanya-tanya. Pahami saja. Selamat berkarya. Salam.

Banjarbaru, 7 April 2007

  1. 44 Responses to “Lomba Puisi Cinta Tanah Air 2008”

  2. By sawali tuhusetya on Apr 7, 2008 | Reply

    semoga sukses, pak! salam kreatif!

    ***Salam menulis, menulis, dan terus menulis.

  3. By danalingga on Apr 8, 2008 | Reply

    Selamat buat yang berhasil. Ditunggu lomba lainnya pak. :D

    ***Amin

  4. By hanggadamai on Apr 8, 2008 | Reply

    sayang diriku gak bisa bikin puisi :(

  5. By Fien Prasetyo on Apr 8, 2008 | Reply

    Potret Negeri

    Aku berdiri menatap langit bangsaku…biru, abu-abu…lalu menghitam
    Lukisan indah alam negeri berubah menjadi pemandangan penuh haru
    Di setiap sudut bumi pertiwi menangis…sedu sedan..
    Perut membuncit, raga hanya belulang yang sesaat lagi akan patah

    Ibu pertiwi…aku tak pernah lagi melihat senyummu
    Tak jua kembali aku mendengar petuah-petuahmu
    Yang ada kini kau membisu diantara keluh kesah anak negeri
    Semakin hari semakin membuatmu nelangsa

    Tanah airku tak lagi punya belantara, laut melepas, atau gunung menjulang
    Panas, datar, bah, api, kerontang, hitam mengabu, semuanya kini jadi warnamu
    Menangisku hampir membakar pelupuk mata…sendu…pilu…
    Sementara sanubariku terpekur, tak sanggup menatap dunia

    Ibu pertiwi tiba-tiba menamparku, berkali-kali, bertubi-tubi !
    Sakit, perih, tapi aku merasakan kasih yang selama ini hilang ditelan kesombongan
    Mataku terbelalak saat hutanku terbakar, lautku tercemar, dan gunungku meletus
    Bah menelan tempat tinggal kami, asap membumbung menyesakkan dada

    Rasanya tak ada lagi waktu untukku terisak kembali
    Menatap negeri tercinta dalam lahat kehancuran
    Indonesia, aku tak ingin kehilangan tanah kelahiranku
    Tanah yang akan dan selamanya menjadi tumpah darahku

    Kurajut asa lukisan negeri ini hanya sepintas lalu…
    Berlalu..berlalu..dan berganti potret abadi bersama Indonesia sejati
    Biarlah nanti lukisan pedih tanah air terbingkai dalam kenangan
    Karena cinta akan membawa kedamaian dan kebaikan
    Kapanpun…dimanapun…siapapun…dan selamanya…
    Aek Nabara, 2008

  6. By hasti dwi nugrahani on Apr 8, 2008 | Reply

    warnanya biru
    langit luas dalam cengkraman awan gelap
    warnanya biru
    lautan dan ombak yang tak pernah mesra
    warnanya hitam
    tanah gersang dan batang pohon yang berderak rapuh
    warnanya hitam
    luapan lumpur rawa yang menghisap pepohonan
    negeri ini tak indah lagi
    tanah ini tak hangat lagi
    jiwa

  7. By hasti dwi nugrahani on Apr 8, 2008 | Reply

    Cintaku pada negeri ini

    warnanya biru
    langit luas dalam cengkraman awan gelap
    warnanya biru
    lautan dan ombak yang tak pernah mesra
    warnanya hitam
    tanah gersang dan batang pohon yang berderak rapuh
    warnanya hitam
    luapan lumpur rawa yang menghisap pepohonan
    negeri ini tak indah lagi
    tanah ini tak hangat lagi
    jiwa jiwa merapuh dalam asa yang senyap
    karena rumput dan bunga tak lagi bisa teriak, bernyanyi atau mengeluh
    namun kakiku berpijak disini
    dan menyirami mimpi dengan air mataku
    tanah airku adalah pembangun cinta
    dan aku adalah jiwa yang ditumbuhkannya
    aku mencintai seluruh tanah yang gersang dan retak
    seluruh lautan yang senyap oleh ikan yang berlalu
    dan saat airmataku tak lagi mampu menumbuhkan harapan
    darahku mengalir disana untuk sebuah asa kehidupan

  8. By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

    oleh : paundra

    judul puisi : * kami pewaris negeri ini *

    kami disini…
    menatap langit membelah cakrawala tanah air kami
    tak apa,
    bersandal jepit kami bersekolah
    kadang tak beralas ini kaki dengan sepatu model terbaru
    melewati tanah basah kaki-kaki kami
    dimana tersiram hujan sawah padi menguning
    menelusuri ngarai sungai
    berlari kami pada tanah pertiwi,hijau menghampar surga hutanku
    sesekali menyeka peluh pada wajah
    peluh jatuh dari badan karena cinta pada negeri
    karena cita-cita tanah air gemilang ada pada puncak jiwa kami
    tak gentar kami bila badai hujan menghadang
    dimana membasahi baju dan tas terbuat dari anyaman bambu
    karena kami tahu membangun tanah air adalah mulia

    gunung krakatau menampakan kegagahanya
    karang dihantam deburan ombak mengila
    tetap kokoh ia berdiri
    jiwa semangat ditempa sang guru
    agar tak menjadi generasi cengeng

    lihat…!
    matahari mulai menampakan sinar cahayanya
    berlari kita bersama
    menuju indonesia bangkit
    karena kami pewaris negeri ini.

    sidoarjo april* 2008………

  9. By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

    NB : berlari kami pada tanah pertiwi,hijau menghampar surga hutan negeri kami ( maaf bukan hutanku..,terimaksih)

  10. By paundra on Apr 9, 2008 | Reply

    oleh: paundra

    judul puisi : ” selamat berjuang anak-anak’ku…”

    kamu tahu apa itu cinta kepada tanah air?
    pegang ini buku dan pena, kau gali ilmu dari jiwa-jiwa para guru-gurumu.agar kau menjadi generasi cerdas
    bangsa yang besar tak akan ada !
    bila kau berdiam pada kebodohan dirimu
    cinta kepada tanah air,tak akan ada dalam jiwamu,
    bila kau tak menghargai para jasa pahlawan bangsamu
    sekarang sudah tiba waktunya kau tumpahkan semangat dalam jiwa dan ragamu.untuk membangun tanah airmu
    sana..! berangkatlah..!
    sinsingkan lengan bajumu,
    doaku ada dalam dirimu
    ” selamat berjuang anak-anak’ku…”

    sidoarjo april*2008……..

  11. By Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM on Apr 9, 2008 | Reply

    NEGERI YANG TERLUKA

    Ibu pertiwi seperti buku yang tergeletak,
    lupa tak tersentuh,
    dan membiarkan anak negeri berlari dengan senja,
    setelah lelah menantang mentari pagi.

    Ibu pertiwi seperti Durga yang terbelalak,
    melihat tugu yang runtuh,
    dan membiaskan rona yang berbusur seroja,
    menuju ke pusara yang diguyur doa dan sesaji,
    Visit Indonesia, Enjoy Jakarta, Stay with us …..
    But what for ???

  12. By Febry abrar on Apr 10, 2008 | Reply

    Satu Buat Ibu Pertiwi

    Negri Langit Biru
    Dalam dongeng Ibuku…
    Tentang Tanah harum
    Di Ujung Pulau
    Yang Kehilangan Bapa
    Sunyinya nyanyian
    Anak-anak seribu pulau

    Rataplah….
    Senyum-senyum awan
    Yang Hampir Pudar
    Bunga-bunga indah
    Yang Berguguran
    Hilangnya Buaian-buaian angin
    Yang Lembut
    Tentang benang-benang
    Yang kusut
    Kaca-kaca yang retak
    Dalam keluh kesahnya

    Dekaplah…
    Seribu pulau yang sedang piatu
    Taburkan Bunga-bunga
    Yang Kembali Mekar
    Rentangkan benang-benang yang kusut
    Satukan kaca-kaca yang retak
    Dalam Satu Ibu

    Agar Awan-awan Kembali Tersenyum
    Dalam persembahahan
    Nyanyian Anak-anak Seribu pulau
    Untuk Satu
    Ibu Pertiwi.

    Febry abrar
    Banjarmasin 10 april 2008

  13. By zie_noer on Apr 10, 2008 | Reply

    antara aku,angin, dan bangsaku

    kala itu aku tersindir
    oleh desir angin yang mengisyaratkan kegetiran
    kalau bukan karena firman tuhan
    aku tak akan sudi lagi menari
    di atas hamparan mega birumu
    tak sudi aku menyaksikan bangsamu
    yang dipenuhi darah amarah

    diamlah kau angin!
    jangan kau salahkan bangsaku
    kau hanya bisa mencibir
    menyebarkan kejelekan bangsaku kenegeri-negeri tetangga
    tidakkah kau ingat di negeri siapakah kau sedang menari
    negeriku negeri suci
    bangsaku bangsa beradab!

    kesucian negerimu hanyalah rekayasa belaka
    berapa juta galon darah tertumpahkan di negerimu
    atas nama kesucian menurut versi bangsamu
    kau kemanakan daftar orang-orang hilang
    yang sampai aku serenta ini
    tidak ada kabar yang jelas
    itupun atas nama keberadaban
    menurut versi bangsamu

    sindiran itu masih mengabut dalam kalbuku
    mengaburkan pandangan cintaku pada ibu pertiwi
    akankah kecintaanku pada negeri ini luntur
    akankah kidung cinta yang senentiasa kudendangkan pada ibu pertiwi harus terhenti

    tak mungkin aku memandang sebelah mata
    pada tanah airku yang kucinta
    wahai dunia
    tunggulah saatnya
    ketika bangsaku telah sembuh
    mercusuar dunia akan berada dalam tangan kami!

    sang angin tersenyum sinis
    dianggapnya aku bangsa bedebah yang membual
    ia berlalu sambil berkata
    semoga tuhan memberimu keberuntungan

    ngayogyakarta hadiningrat
    segaris dengan puncak merapi
    10 April 2008

  14. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 10, 2008 | Reply

    Salam kemerdekaan INDONESIA, MERDEKA, ALLAHU AKBAR…!

  15. By zie_noer on Apr 10, 2008 | Reply

    surat untuk kawan seperjuangan

    ‘desaku yang kusinta’
    ‘pujaan hatiku’
    kawan,nyanyian itu masih kuingat betul
    beberapa generasi setelah kita sering menembangkannya
    nyanyian itu adalah ikrar cinta mereka pada ibu pertiwi
    sungguh sayang
    mengapa ikrar cinta yang sering mereka nyanyikan
    kini tak lagi terdengar
    apakah generasi setelahnya tak lagi mengenal

    kawan,mungkin aku salah mempermasalahkannya
    dunia ini telah berubah
    umat manusia sudah terlalu akrab dengan istilah globalisme
    tapi, apakah bangsa ini akan mampu hidup hanya dengan globalisme
    yang menurutku hanyalah istilah gombal belaka

    tidak kawan,globalisme tak akan mampu mencukupi kebutuhan bangsa ini
    bangsa ini butuh reinkarnasi bung karno dan bung hatta
    kita butuh proklamator handal
    bukan provokator yang sering kita saksikan dalam layar kaca

    kawan, hati ini sebenarnya menangis
    ketika menyaksikan pertikaian bangsa kita sekarang
    itukah penghargaan mereka terhadap jutaan kusuma bangsa yang berjuang angkat senjata

    kawanku,mungkin sudah bukan waktunya lagi kita mengurusi bangsa ini
    sudah banyak peluh mengucur demi sejengkal tanah air kita
    berbagai pangkat dan jabatan pernah kita duduki
    lebih baik kita duduk tentram bersama anak cucu kita
    menyaksikan kedurhakaan penghuni tanah ini

    kawanku,walaupun kita pernah berjuang untuk bangsa ini
    jangan sakit hati bila saat mati kita disebut pengkhianat

    ngayogyakarta hadiningrat
    10 april 2008

  16. By Fien Prasetyo on Apr 11, 2008 | Reply

    Bangun…!!!

    Silam tangisku memecah sunyi bumi pertiwi
    Jadi hingar diantara bingar terdengar
    Seperti menjamu tamu anak negeri
    Dielu…dipuja…penuh selaksa harap

    Aku masih diam meski jiwa merayu
    Masih menggeleng tatkala kawan menyeru
    Turun ke jalan…
    Satu…dua sahabat masih setia padamu
    Yang lain sudah digerogoti kebebasan tak terbatas

    Lantang…tegap…katanya bela engkau
    Bakar mimpi-mimpi busuk yang terlanjur merasuk

    Rasanya tak usah tangisi langit negeri
    Tak perlu jua menantang mendung bergemuruh
    Karena sudah ada angin yang menghalau
    Pelangi terkembang memanjang, usai itu…

    Bangun saja dari tidur panjang dengan segepok pintalan mimpi
    Malu menelusup karena bangsa ini tak pernah terlelap
    Selalu terjaga untuk menjaga
    Menguntai bhineka menjadi satu asa
    Mematri cinta yang terlanjur dirasa
    Jauh dalam jiwa ragawi…tak terbalas…

    Aek Nabara, 2008

  17. By Iva on Apr 11, 2008 | Reply

    Penyakit dan Bangkit

    Badannya penuh borok
    mukanya penuh jerawat bernanah
    kulitnya ditumbuhi bisul beringas
    semua menambah bebannya

    Hamparan kulit mulus yang dulu ku lihat
    hancur tercabik-cabik luka
    luka durjana karena bakteri yang memiliki otak pintar
    pintar membuat luka di dalam hatinya

    Jantung yang tertusuk perasaan marah
    namun hanya gempa dan bencana yang dapat membalasnya
    walaupun sudah berjuang melepas cinta
    dalam tumbuhnya benih-benih pohon harapan
    namun yang ada masih saja polusi laknat
    untuk kegemukan segelintir kuman penyakit

    Biarkan aku menjadi ulat
    walaupun menjijikkan namun bisa menjadi kupu-kupu
    yang memperindah parasmu

    biarkan aku menjadi pohon
    yang akan tumbuh kokoh beranak pinak
    yang menyembuhkan lukamu

    biarkan aku menjadi diriku
    yang mencintaimu apa adanya
    karena hanya turut menanggung hutang
    dari orang yang tidak merasa harus bertanggung jawab

    biarkan doaku menyelimutimu
    biarkan cintaku membakar semua kelam sejarahmu
    sekarang kita akan bangkit bersama
    menyongsong hari esok yang cemerlang
    yang tiada luka

    matilah semua durjana
    perusak bangsa, penyakit semesta.
    damailah bangsaku, puaslah rakyatku.

  18. By Ainun on Apr 11, 2008 | Reply

    Indonesiaku………..
    Kau Tak Lagi Harum Mewangi
    Hutan Mu Tak Lagi Perawan Sejati
    Karena Telah Di Jamah Di Kotori Dan Di Perkosa
    Oleh Tangan Manusia Yang Tak Bertanggung Jawab
    Mereka Tebangi, Mereka Bakar Dan Mereka Curi

    Tanahmu Telah Di Nodai
    Bumimu Yang Asri Kini Menangis Sedih
    Karena Mereka Sudah Di Cemari
    Lautmu Nan Indah telah Dikotori

    nanti kalau ada lagi bolehkan pak?

  19. By makaribi on Apr 11, 2008 | Reply

    SURAT BUAT GENERASI BERIKUTNYA.
    :Indonesia 11 April 2008

    Dalam remang cahaya lampu, kutulis surat untukmu.
    Agar setiap kenangan terawetkan dalam tulisan.

    1\ : Buat Anakku nanti
    jika kau telah mampu membaca tulisan ini
    mungkin saat itu kau mulai melawan hari
    Aku ingin ceritakan tentang hariku dan negeriku
    saat masih pagi dan langit biru
    sebiru hati ditengah udara kota bertuba
    Kupilih kupilah kenangan yang ada
    hingga kuingat saat tumbuh ditanah tercinta
    tanah yang hijau dengan langit seluas samuderanya.
    aku lahir disebuah pulau
    pulau terpadat dari puluhan ribu pulau
    tapi yang ingin kuceritakan bukan tentang keindahannya
    bukan tentang kekayaan alamnya, bukan pula
    tentang ramahtamah penduduknya, bukan pula
    tentang kesuburan dan kesejahteraannya
    cukuplah kiranya kaudapatkan cerita itu
    dari dongeng guru sejarahmu.

    2\ : Janganjangan negeri kita telah digadaikan
    Hari ini utang kita menumpuk, sudah sangat menumpuk
    kuingin tahu darimu saat kau dewasa,
    utang itu berkurang atau bertambah berapa ?
    aku tak tahu bagaimana sebabnya
    negeri yang kaya kekayaan alamnya
    bisa miskin begini rupa
    seperti tikus mati dilumbung padi.
    tidak, aku tidak ingin ceritakan tentang rentenir
    yang sering datang kesini
    dan suka mencampuri urusan dalam negeri
    aku juga tak ingin ceritakan tentang tetangga kita
    diseberang samudera, yang menguras kekayaan alam kita
    dan hanya meninggalkan sampahnya
    dan suka pula mengintimidasi dengan senjata
    tidak, aku tidak ingin ceritakan itu semua
    aku juga tidak ingin menceritakan pejabat, pegawai
    atau temanteman yang suka korupsi dana APBD atau APBN,
    ditambah kolusi dan nepotisme disingkat KKN.
    aku tak ingin menceritakannya, karena bisabisa aku diseretnya juga
    aku ini bukan orang suci atau ulama
    jadi jangan paksa aku menghakiminya,
    tapi jangan cobacoba jadi koruptor
    jika tak ingin gelisah tidurmu, atau ketangkap dan tekor.
    tapi tenang jika kau dijebak atau menjebakkan diri dalam korupsi
    tidak akan kau dihukum mati, apalagi jika kau bisa negoisasi
    itu lebih bagus lagi, kau bisa dibebaskan atau setidaknya diringankan.
    ah sudahlah jangan diperpanjang.

    3\ : hari ini kita makin susah
    aku hanya ingin ceritakan padamu
    kemarin ada ibuibu membunuh anakanaknya dan dirinya sendiri
    karena kabarnya sudah tak mampu lagi beli nasi.
    susah cari kerjaan
    maka banyak peminta dijalanjalan
    ingin kukasih setiap orang
    apa boleh buat, buat makan aja paspasan.
    ada juga kisah gadis diperkosa,
    banyak yang kira nafsu pemicunya
    tapi kukira juga karena nikah mahal biaya
    apalagi belum punya kerja
    ada lagi cerita, orangorang keluar negeri jadi tenaga kerja
    disana mereka disiksa, pulang hanya tinggal nama.
    yang paling mengerikan perampokan dengan pembunuhan
    tak bisa kubayangkan, dirimu hartaku satusatunya
    dirampas dan diperbudak jaman.

  20. By izzah anwar on Apr 16, 2008 | Reply

    Alam Mengadu

    Sayang… sayang… sayang…
    Keping uang menina-bobokan Tuan
    Kealpaan menghanyutkan penumpang
    Ketulian membutakan mata-hati Tuan
    Tak hiraukan kanan-kiri kehancuran

    Hijauku jadi abu
    Tanahku gersang
    Air bah pun menyerang
    Menderai tangis alam

    Merkuri ikut merajam lautku
    Istana biruku
    Jadi kelabu
    Terlumuri limbah nistamu

    Tuan…
    Tak cukup kau sematkan
    Racun itu dalam kehidupanku
    Tapi juga merasuk, menggerogoti
    Otak anak negeriku
    Jadi pilu, dungu, sendu

    Tak merindukah kau…?!!
    Bersitatap dengan keelokan nusantara kala itu
    Jernih, tersenyum indah
    Bak mutiara, yaqut dan marjan
    Berseri-seri seperti mentari pagi
    Menentramkan hati
    Tuan…
    Rangkul aku, peluk aku
    Rawat aku, sayangi aku

    Ar-Rahmaan*…
    Jerit pohonku mengadu
    Alun-isak bayuku mendayu merayu
    Pun Ayat-Ayat Kauniyah-Mu
    Tunduk di hadap-Mu
    Atas seruan Rabbul ‘Alamin ku
    Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadz dzibaan*…
    Tundukkan pula tangan, hati hamba-hamba-Mu
    Dari durja
    Di atas nestapa alamku.

    *Ayat-ayat dalam surat Ar-Rahman

    Written by: Izzah Anwar
    Batu,
    On Sunday, April 13, 2008
    At 18:20

  21. By sulis on Apr 16, 2008 | Reply

    Hmm..boleh jug,,ntar mau ikutan…

  22. By asep on Apr 16, 2008 | Reply

    gemetar tangan ini meraihnya
    gemetar hati ini merasakannya
    aku dijajah…
    dijajah oleh pemikiranku yang tak bisa membangun negeri ini…
    aku dijajah..
    dijajah oleh anggapanku yang tak mungkin membanggakan negeri ini
    tanah kupijak..
    hatiku terinjak
    laut kutatap
    tangis terisak
    inikah negeriku yang gagah?
    inikah negeriku yang megah?
    ya!
    aku mengerti
    aku memang tak punya prestasi yang bisa membuat dadaku busung didepan dunia internasional
    tapi aku punya cinta yang bisa mengiringi negeriku dengan alunan surga
    yap IT’S OUR LOST PARADISE
    IT”S OUR GOD’S ISLANDS,,,our land in our heart,,,with our love…

  23. By Bibidapi on Apr 18, 2008 | Reply

    Baitii Jannatii

    Biarkan aku bernafas
    Di sini
    Bersama angin-angin yang memenuhi langit
    Dan samudera yang siap mengalir
    Hari itu
    Adalah saat pertama kujejakkan kaki
    Maka kutetapkan untuk berdiri di sini
    Hingga akhir, hingga entah
    Di tempat darah para durjana pernah singgah
    Tempat raja-raja membangun singgasana
    Tempat rempah-rempah bernaung dalam kerak bumi

    Negeriku adalah surga dunia
    Kucari tempat sempurna ke pelosok negeri
    Dimana tak ada korupsi,
    Tak ada kejahatan,
    Tak ada kelalaian,
    Tak ada dusta,
    Tak ada kemunafikan,
    Namun entah
    Ada sesuatu di hati ini berbisik,
    Tanah airku adalah surgaku

  24. By nani on Apr 18, 2008 | Reply

    Negeriku

    Di negeri ini
    tangisan pertamaku menggema
    disambut seutas senyum dan belaian lembut
    ibu pertiwi

    Aku menjelma jadi bocah ceria
    dari asupan gemah ripah bumi pertiwi
    masih kurasakan hangat dekapannya
    dan segarnya hembusan angin
    disela-sela hijau dedaunan

    aliran sungai menebar aroma rempah-rempah
    kebanggan negeri
    dan nyanyian burung-burung di pagi hari
    pertanda damainya jiwa menyongsong hari

    kini………..
    air mata membanjiri lorong-lorong hati
    menyaksikan ibu pertiwi tak lagi tersenyum
    belantara tak lagi hijau
    dan sungai-sungai hitam pekat
    menjadi saksi pancaroba negeri ini

    Aku yang tertegun……….
    bukan saatnya mencari kambing hitam
    tapi, bangkit bersama
    kembalikan negeriku yang nyaman

  25. By enno' purwa on Apr 21, 2008 | Reply

    Pertiwiku

    kelam abu
    menerpa semestaku
    raut senja tak elakkan
    senyap membisu
    ketika pertiwiku tidur
    nyanyian tangis mengiringi
    do’a pilu terlontar
    ahh ………
    kandung jiwa telahir darah
    kandung raga terlahir noda
    bunda, jangan kau pergi
    bangunlah bersama sajak harapku
    bangkitlah bersama rinduku
    nafasku, rohku untukmu
    pangkulah aku
    tuk indahnya pertiwiku

  26. By shanty on Apr 22, 2008 | Reply

    Tanya kami padamu
    Karya : Shanty

    apa yang kau beri selain utang di negeri asing
    apa yang kau wariskan selain tingkat ekonomi yang bikin pusing
    apa yang kau ceritakan saat ini hanyalah koalisi
    konglomerasi, perbudakan politik yang buat rakyat mati berdiri

    negeriku, disini dulu ku tumpahkan darahku
    disini dulu kami bersatu
    disini dulu kami saling membahu
    melupakan perbedaan ras, agama dan suku

    negeriku, mengapa wajahmu bermuram durja
    kenapa tanahmu tak lagi indah
    kenapa bumimu kini porak poranda
    kenapa manusiamu hanya berebut kekuasaan dan harta

    di setiap sudut desa
    di setiap sudut kota
    masih ada anak-anakmu yang berjuang
    berpikir dan mencoba bangkit dari kemelaratan

    kau tahu kami disini masih cinta
    kami disini masih suka
    negeriku satu bernama Indonesia
    bhineka ika tunggal ika

  27. By amanatia on Apr 23, 2008 | Reply

    Judul : Dear Ibu pertiwi

    Maafkan Kami…, Ibu

    Keluh lidah kami, Ibu

    Hanya untuk mengucapkan sepenggal kalimat tulus

    Permintaan maaf pun

    Kami sungguh kesusahan

    Pedih mata ini…, Ibu

    Hingga mata kami tak sanggup mengerjap

    Kami telah lupa bagaimana cara menangis

    Sungguh, dimana letak telaga air mata?

    Kami tak pernah tahu

    Apa yang harus kami perbuat…, Ibu?

    Untuk dapat merobek daftar panjang dosa kami

    Untuk mengganti segala kesadisan kami

    Yang tanpa segan mencoretkan warna nista

    Kepada realita bangsa

    Kami khilaf…, Ibu

    Kami telah menghancurkan peradaban!

    Kami mulai porak-porandakan tanpa iba!

    Kepada suatu dinasti Negara

    Yang masih tertatih-tatih belajar berjalan

    Seperti bayi, Indonesia

    Ibu Pertiwi…

    Kami mohon, janganlah engkau menangis darah

    Mungkin hanya inilah wujud pengakuan kami

    Generasi tak kenal balas budi

    Cacilah kami… Ibu

    Karena kami pantas untuk dicaci

  28. By Siti Nur Hidayati, SH on Apr 23, 2008 | Reply

    RAUT-RAUT WAJAH CINTA
    (Oleh : Siti Nur Hidayati)

    Di sini…….. pada sebuah cermin tak berbingkai
    Sungguh tempatnya mengabarkan berita
    Dari raut-raut wajah berbaur makna
    Bercerita tentang pergulatan antara hidup dan mati

    Lihatlah…….. wahai siapapun yang sudi saksikan
    Ada raut-raut wajah cinta yang pucat bergurat letih
    Sorot mata nanap menerawang kosong
    Menatapi kejauhan yang tak bertepi

    Itu….. wajah cinta si bocah pengemis?
    Entah karena suasana apa……………..
    Ia terdampar merayap dilembah kemiskinan
    Terbelit berbagai kesulitan yang tak bertepi
    Dan kini letih menunggu uluran tangan sang dermawan

    Itu….. wajah cinta si pemuda penganggur?
    Entah karena suasana apa……………..
    Ia terapung dihempas sang mujur
    Terjerembab diantara kolusi dan nepotisme yang tak bertepi
    Dan kini letih menggapai nasib baik

    Itu….. wajah cinta si bocah narkoba?
    Entah karena suasana apa……………..
    Ia tenggelam dalam buaian impian yang melupakan
    Lari dari carut marut hidupnya yang tak bertepi
    Dan kini letih mencari tempat berpijak

    Itu….. wajah cinta si bocah pemabok pencuri?
    Entah karena suasana apa……………..
    Ia terjebak dalam lingkaran setan penyamun
    Terdampar ditandusan kasih yang tak bertepi
    Dan kini letih menggapai nasib baik

    Atau Itu….. wajah cinta sang koruptor?
    Entah karena suasana apa……………..
    Ia bergelimang dalam perbuatan yang tak punya malu
    Terbuai dalam kesenangan diatas penderitaan kaum miskin
    Dan kini letih menghadapi persidangan dunia

    Lihatlah…….. wahai siapapun yang sudi saksikan
    Ada raut-raut wajah cinta yang pucat bergurat letih
    Sorot mata nanap menerawang kosong
    Menatapi kejauhan yang tak bertepi

    Melihat kepedihan ada diantero negeri
    Tapi…… semua hendak kabarkan cinta
    Meski entah karena apa …………………..
    Ini cinta! Untuk Indonesiaku……..
    Purbalingga 5 April 2008

    CAHAYA CAHAYA
    (Oleh : Siti Nur Hidayati)

    Kau hadir dikedalamanku
    Ketika gelap menyergap relungku
    Pengap tak tahu kemanapun arah
    Serasa ada sembilu menghujam
    Mengiris perih ke relung rasa
    Mengapa…………………………. ?
    Tak kuasa aku menolak
    Tak sampai aku meraih

    Kulihat nyalaMu abadi di singgasana tertinggi
    Berpijar hingga tembus di kegelapan penjuruku
    Aku terpana…………………………
    Ku lihat jelas batin yang keruh
    Di situ ada buih-buih kotor!
    Mengalir keluar dari hati cela

    Itu buih takabur ………….!
    Itu buih dusta ……………..!
    Itu buih ria …………………!
    Itu buih dengki ……………!
    Itu buih dendam ………….!

    Buih-buih itu terus berurai
    Nafasku telah tercekat sesak
    Penyakit hati itu meradang
    Aku tak berdaya
    Terkapar di titik terendah

    Lemah ………….!
    Papa ……………..!
    Hina ……………..!

    Jangan bicara salah
    Jangan bicara dosa
    Biarkan hening sunyi
    Biarkan sendiri

    Di situ ada taman kedamaian
    Tempat aku mencari aku
    Dalam pergulatan tanya berjawab
    Aku muncul hilang berganti aku
    Berjalan seiring denyut
    Detak-detak semakin cepat
    Hingga letih ronggaku k o s o n g
    Aku sebut A S M A M U

    A l l a h u A k b a r ………….. !
    Bergama di seluruh penjuru ronggaku

    A l l a h u A k b a r ………….. !
    Berkumandang mengisi ruangku

    A l l a h u A k b a r ………….. !
    Cahayua itu terang benderang

    A l l a h u A k b a r ………….. !
    Cahaya itulah Cahaya

    A l l a h u A k b a r ………….. !
    Cahaya segala cahaya
    Purbalingga 5 April 2008

  29. By meiy on Apr 24, 2008 | Reply

    Takkan kutukar cinta padamu, bunda pertiwi

    Satu;

    Hari ini

    catatan cinta kueja tadi malam, bunda
    ketika terdampar pada resah
    tanahku
    seolah jerit bumi berteriak
    minta tolong pada penghuninya
    yang tak peduli
    tetap tergesa-gesa
    kesana kemari memperkosa dirimu yang semakin tua
    meratakan hutan jadi tanah kering
    menuangkan banjir, menyisakan kerontang bergantian
    asap kebakaran racun timbal tak cukup mencemari
    bertambah intensitas hari ke hari
    mereka menodai lautmu, sungaimu dengan racun kimia
    membotaki gunung-gunung
    melobangi tubuhmu seperti bopeng-bopeng bulan
    mengerikan!

    (sungguh aku tak ingin jadi mereka!)

    mereka
    memperebutkan apa saja dengan loba
    tamak menginjak-injak yang kalah
    si miskin, si melarat,
    sengsara
    mengais-ngais sisa remah
    disudut-sudut kota yang sesak
    berhimpitan berbagi ruang sempit
    di desa petani-petani kehilangan sawah
    menangis kalah

    ada anak yang mati kelaparan, kata media
    “hanya sebuah kabar, tak perlulah dibesar-besarkan,”
    kata orang itu, entah siapa
    datang dalam mimpiku menjijikkan
    melubangi lumbung pertiwi tercabik-cabik menyeramkan

    aku terpelanting
    pada realita
    pening
    kuheningkan hati mencari jawab
    belum bisa banyak berbuat
    masih terbatas mencoba
    berbagi yang tak berlimpah,
    dan harapan, Tuhan pasti cukupkan untuk mereka
    tak sanggup kusaksikan bening mata bocah menangis
    berkaca-kaca menahan lapar.

    Dua;

    Dulu

    menelusuri jejak cinta padamu pertiwi
    apakah cinta mesti menuangkan darahku dalam perang?
    aku hanya punya perang melawan diri
    sejak dini
    walau hanya bertahan tak menyontek waktu ujian kala remaja
    biarlah nilaiku jeblok
    tapi aku tak goblok, bunda

    kubaca jejakku pada cinta:

    dimana cinta diuji?
    ketika kau mampu menolak amplop tebal dihadapanmu
    mencoba membeli kejujuran
    padahal kebutuhanmu menderu-deru

    kapan kesetiaan terbukti?
    ketika nafsu memburu-buru
    ingin memiliki yang bukan milikmu
    kau memilih siksa.

    ketika perawan rela menukar cinta demi sekedar bedak lipstik
    menjual cinta pada bandot tua demi materi
    kau memilih menderita.

    kubaca lagi jejak dimana cinta pernah tertoreh
    di Aceh, di Aceh!

    kutahankan cinta di tengah ledakan bom, hujan peluru menderu-deru
    ketakutan, darah dan trauma,
    takkan kutinggalkan bunda pertiwi
    mendesah di tiap doa, janganlah negeriku terpecah-pecah
    damai-damailah, jangan hanya dalam mimpi
    sampai aku lelah
    kehilangan kata. doa terhenti
    dalam hening mengeja cintaNya

    lalu ombak yang menghempas, mencipta neraka di hadapanku
    terpana membaca kehendakNya
    kucoba lagi menghayati cinta
    tetap kucinta kau
    sebab kurasakan tangismu bunda
    perih, perih menyayat hati
    dikhianati anak-anak sendiri
    kekasih jiwa.

    Tiga;

    Di hati, sekarang

    meski terbatas di pikir dan zikir
    kueja namamu dalam kasihNya
    semoga tetap bertahan
    dari perpecahan oleh tangan-tangan
    gergasi, siluman, manusia
    yang ingin membelah negeri
    yang ingin kau tak ada lagi
    menjadi serpihan-serpihan kecil tak berarti
    semoga kau bertahan
    sebab masih ada anak-anak bumi yang peduli
    tersenyum, tersenyumlah bunda pertiwi
    meski pahit menggigit hati

    Ruang Biru, 24 April 2008

  30. By meiy on Apr 24, 2008 | Reply

    baru baca setelah posting, ternyata banyak puisi cinta tersayat luka pada nasib pertiwi hiks..hiks

  31. By yunita p on Apr 24, 2008 | Reply

    Ratapan Senja

    Apa yang diperjuangkan, kini dihancurkan
    Apa yang dimenangkan, kini dienyahkan
    Negeri tercintaku luruh dalam balutan nafas sang waktu
    Bar-bar menjadi identitas tersohor bagi bumiku
    Semerbak wewangingan damai, tercerabut oleh anyir permusuhan
    Etika moral bergelayut di titik nadir
    Menanti terperosok…
    Negeriku malang, negeriku jalang
    Tenggelam dalam kebobrokan mental yang kental
    Apa yang ku cinta, kini terbalur rancu
    Semua samar…
    Kemajuan yang kasat mata,
    Hanya bermuara pada barisan pelahap ilegal rupiah berjamaah
    Selebihnya,
    Tergeletak pasrah pada guratan takdir Hyang Jagat
    Bahkan lingkaran cahaya mentari hanya memantulkan semburat nestapa
    Tak terelakkan,
    Air mata menggantung di pipi bulan
    Menangisi alam yang menggerutu tak bersahabat
    Negeriku dipenuhi lubang-lubang borok yang tak sempat terjamah
    Perut membuncit menjadi pertanda derita, bukan makmur
    Sedih…
    Miris…
    Aku menyaksikan ratapan senja nan malang
    Adakah yang masih peduli?
    Kemana perginya sang pekerti?
    Bahkan seorang pahlawan kesiangan pun enggan turun tangan…
    Lakukan sesuatu!!!
    Jika kau tak sanggup menjadi sebongkah karang yang kokoh
    Jadilah kerikil yang tak bergeming terlindas zaman
    Jika kau tak sanggup menjadi khalayak yang bersatu padu
    Jadilah sekawanan lebah pekerja yang gencar membela sang ratu
    Kayuh seluruh roda cinta sang nurani
    Lalu tebarkan ke setiap sudut Ibu Pertiwi
    Berikan yang terbaik…
    Demi Indonesia maju…

  32. By M. Rizky Adha on Apr 25, 2008 | Reply

    Negeri Sebatas Khayal

    Sejauh mata memandang
    Tak Kulihat senyum
    Elok nan permai
    Dari Sang Pertiwi…

    Nyanyian-nyanyian alam
    Berubah menjadi tangisan
    Yang tak berujung…

    Ku rindu saat-saat berada
    Dalam pangkuanmu…
    Membelaiku dalam tidur panjangku…
    Memimpikan sebuah negeri
    Yang kekal nan damai…

    Tak kurasa kini, hanya ada jeritan-jeritan
    Membahana…
    Menyemarakkan hati
    Sekaligus mencengangkannya
    Dalam satu euforia… (Bjm, April 2008)

  33. By ichsan on Apr 28, 2008 | Reply

    judul : aku? TKI

    kubuka mata kubuka jendela
    kulihat indah
    wajahmu
    menghias hariku
    dengan senyum yang makin tak kumengerti
    arti

    hari ini
    hari terakhir aku melihatmu
    esok
    aku kan pergi
    meninggalkanmu

    bukan
    maksudku tinggalkanmu
    inginku dustai cintamu

    mungkin semua akan jadi indah
    jika aku mampu terimamu apa adanya

    jangan
    jangan salahkan dirimu
    salahkan aku yang tak mampu berikan yang terbaik untukmu
    salahkan aku yang tak mampu lakukan yang terbaik untukku

    paling tidak
    kau masih punya hatiku
    paling tidak
    ku masih ingat kamu
    aku hanya coba teruskan hidup ini
    mengais asa demi nikmat dunia

    jika kau butuh hadirku
    pangil aku
    janjiku takkkan jadi orang yang mendurhakaimu
    aku akan datang seperti saat dulu
    saat aku masih bersamamu
    membelamu dari sgala yang merusakmu

    oh, negeriku
    maafkan aku

    Bdg, 15 April 2008

  34. By ichsan on Apr 28, 2008 | Reply

    judul: Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku
    karya: Ichsan Gana

    Hijau kuning merah dan kelabu warnai bangsaku

    Seperti langit
    yang tak selalu biru

    Awan mulai menghitam
    Menutup membuyarkan kesadaran

    Suaramu masih riang
    Walo tak sedahulu

    Kakimu terus melangkah
    Langkah lari
    nyeri

    Dinding rumahmu mulai buta
    Tuli
    Bisu
    tak mampu berpetuah

    Caya

    Kau masih mampu memelukku

    Bdg, 15 April 2008

  35. By Fatah on Apr 30, 2008 | Reply

    Judul : Bangga (Aku) Jadi Orang Indonesia

    Penulis : Lalu Abdul Fatah

    Boleh saja Taufik Ismail
    Merasa malu jadi orang Indonesia
    Merutuk-rutuk seribu dosa
    Berjamaah bangsa kita
    Namun, aku di sini berdiri
    Berikrar segenap-penuh hati
    : Bangga aku jadi orang Indonesia.

    Boleh saja kita akui
    Indonesia keadaannya memang begini
    Hancur di segala segi
    Namun, tak layak kita pesimis
    Berkicau mencela sampai menangis
    Berharap Indonesia berhenti diguyur gerimis.

    Optimis satu-satunya harapan yang tersisa
    ‘kan menjadi senjata pamungkas kita
    Menatap hari esok yang cerah
    Bumi pertiwi yang cantik sumringah.

    Lihatlah…
    Indonesia sepotong surgaloka nan jelita
    Terhampar di sepanjang khatulistiwa
    Kaya budayanya
    Subur tanahnya
    Makmur lautnya
    Laksana pelangi aneka rupa
    Itulah Indonesia
    Membuat iri bangsa lain di dunia.

    Boleh saja Taufik Ismail
    Merasa malu jadi orang Indonesia
    Namun, kita di sini
    Mari berjanji segenap-penuh hati
    Ikrarkan selalu tiap detak nadi
    : Bangga aku jadi orang Indonesia.

    Surabaya, 30 April 2008

  36. By novicharullah on May 1, 2008 | Reply

    Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
    memporak-porandakan revolusi yang memuncak
    menghardik bumi pertiwi ini
    bencana membuncah bak air yang tak bertepi

    Indonesia……
    Berteriaklah….
    Hingga Riak air menggema
    memperkuat tali kemerdekaan
    membanggakan tanah hijau yang lapang

    Indonesia….
    Berkaryalah Hingga gedung kesenian
    menjadi warna rupa yang terus terisi
    Kecintaan pada kebudayaanku
    membuat semangat raksa terus mengepul

    Indonesia….
    Kibarrkan sang saka
    pada tiang keyakinan tertinggi
    bersorak bahwa kemerdekaan terus
    membahana membawa rakyat tuk trus
    mencintai negara ini

    Aku cinta Indonesia
    sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
    yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
    tanah air…
    Proklamasi trus terngiang dimemoarku
    membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..

    Cukup satu kata tuk raih
    keberhasilan
    Aku Cinta Indonesia…..

  37. By novicharullah on May 1, 2008 | Reply

    Aku Cinta Indonesiaku…

    Kursi kebatilan dihantam keriuhan batinku
    memporak-porandakan revolusi yang memuncak
    menghardik bumi pertiwi ini
    bencana membuncah bak air yang tak bertepi

    Indonesia……
    Berteriaklah….
    Hingga Riak air menggema
    memperkuat tali kemerdekaan
    membanggakan tanah hijau yang lapang

    Indonesia….
    Berkaryalah Hingga gedung kesenian
    menjadi warna rupa yang terus terisi
    Kecintaan pada kebudayaanku
    membuat semangat raksa terus mengepul

    Indonesia….
    Kibarrkan sang saka
    pada tiang keyakinan tertinggi
    bersorak bahwa kemerdekaan terus
    membahana membawa rakyat tuk trus
    mencintai negara ini

    Aku cinta Indonesia
    sebuah keyakinan yang trus terpatri di dada
    yang melekatkan Pancasila sebagai simbol
    tanah air…
    Proklamasi trus terngiang dimemoarku
    membangkitkanku tuk hadapi masa depan…..

    Cukup satu kata tuk raih
    keberhasilan
    Aku Cinta Indonesia…..

    Karya:Novicharullah Arkie

  38. By eka first on May 3, 2008 | Reply

    Namai Negara Ini Cinta

    Katakan bahwa negara kami negara miskin..
    Aku tak pernah malu
    Katakan bangsa kami bangsa bodoh…
    Aku takkan kecewa
    Katakan pemimpin kami tak bermoral..
    Aku menerima kenyataan

    Jika semua itu membuat kau tertawa
    Aku hanya tersenyum
    Ini negaraku…
    Bagaimanapun kalian mencacinya,
    sebenci apapun kalian terhadapnya
    Semua cermin kebencianmu…
    merefleksikan kecintaanku padanya

    Negaraku memang negara miskin..
    Kemarin aku menatap bocah kecil lemah
    Yang kelaparan namun tertidur…
    Kadang ia terbatuk-batuk di sela tidurnya
    Dan ia juga menaruh mangkuk kecil di samping tubuhnya
    Yang diisikan oleh orang-orang dermawan yang melewatinya
    Bukan oleh pelindungnya yang bersembunyi di gedung ber-AC

    Bangsaku juga bodoh..
    Tetanggaku tak melanjutkan sekolahnya sekalipun ia mampu
    Tanpa sadar betapa berharganya pendidikan itu
    Tanpa sadar bahwa tak berartinya ia tanpa ilmu
    Tanpa sadar betapa bodoh bangsanya…
    Tanpa sadar ia menambah bodoh bangsanya itu

    Pemimpinku tak bermoral…
    Ia yang tertidur di tengah membicarakan rakyatnya
    Kalu begitu, apa ia juga mendengar suara rakyatnya?
    Apa ia melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati?
    Atau hanya ingin mengangkat namanya, lalu korupsi?
    Aku tak ingin peduli

    Seburuk itukah negaraku?
    Tentu saja tidak
    Aku terpana melihat candi borobudur sang kejaiban dunia
    Aku bangga miliki Habibie yang brilian
    Aku senang bisa menari tradisional kala semua gila modern dance
    aku bangga… kau mesti tahu itu

  39. By shanty on May 3, 2008 | Reply

    Tanya kami padamu
    Karya : Shanty

    apa yang kau beri selain utang di negeri asing
    apa yang kau wariskan selain tingkat ekonomi yang bikin pusing
    apa yang kau ceritakan saat ini hanyalah koalisi
    konglomerasi, perbudakan politik yang buat rakyat mati berdiri

    negeriku, disini dulu ku tumpahkan darahku
    disini dulu kami bersatu
    disini dulu kami saling membahu
    melupakan perbedaan ras, agama dan suku

    negeriku, mengapa wajahmu bermuram durja
    kenapa tanahmu tak lagi indah
    kenapa bumimu kini porak poranda
    kenapa manusiamu hanya berebut kekuasaan dan harta

    di setiap sudut desa
    di setiap sudut kota
    masih ada anak-anakmu yang berjuang
    berpikir dan mencoba bangkit dari kemelaratan

    kau tahu kami disini masih cinta
    kami disini masih suka
    negeriku satu bernama Indonesia
    bhineka tunggal ika

  40. By shanty on May 3, 2008 | Reply

    Ini negeriku

    baru kemarin kita tertawa
    lalu kini kita berduka
    baru kemarin kita merdeka
    lalu kini kita terjajah

    mahasiswa berontak lalu berorasi
    wakil rakyat berteriak senang diatas kursi
    rakyat kecil menjerit kelaparan
    para pejabat kenyang kemewahan

    ini negeriku
    gemah ripah loh jinawi
    ini wakil rakyatku
    demi kursi mati hati

  41. By makaribi on May 4, 2008 | Reply

    DESAKU

    u l
    B a

    n
    P s B
    u a u
    r t k
    n a i
    a i t
    m D
    a

  42. By makaribi on May 4, 2008 | Reply

    DESAKU TERCINTA

    ..u..l
    B……a
    …..n
    P…
    .u……………..s..B
    ..r…………..a……u
    …n………..t………..k
    …..m…….a……………i
    ……a….i………………t
    ………D

  43. By makaribi on May 4, 2008 | Reply

    ups! yang pertama salah

  44. By izzah on May 8, 2008 | Reply

    alhamdulillah masuk lagi…jazakallah pak ersis… tambah semangat bagi yang lain…yuup…!

  45. By Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM on Jun 9, 2008 | Reply

    Terima kasih, puisi saya : NEGERI YANG TERLUKA masuk nominator. Kalau buku antologi puisinya terbit, apa saya bisa pesan (meskipun nanti seandainya tidak menang?)

Post a Comment