Membukukan Makalah
17 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SETELAH beberapa waktu tinggal di ‘Pondok Mertua Indah’, kami membeli rumah kreditan BTN. Rumah baru, peralatan baru, tentu mudah saja. Buku, berapa pun umurnya, tentu tidak mungkin ditinggalkan. Begitu juga berbagai arsip. E … baru sadar, ternyata sewaktu kuliah (S2) membuat puluhan makalah. Makalah-makalah tersebut telah dipilah-pilah, siap menjadi ‘calon’ buku. Ajaib, tidak pernah menjadi buku.
Soalnya, begitu mau mengedit, job menulis, datang silih berganti. Menulis buku ajar, buku ‘pesanan’ penelitian, atau apa begitu. Bahkan, antologi puisi, dan belakangan serial menulis. Belum lagi menulis rutin untuk media, baik media cetak umum, maupun media cetak saya. Keterjebakan permintaan berbagai pihak menjadi beban tersendiri.
Menulis ulang atau mengedit makalah tentu membutuhkan waktu. Mana pula harus diketik ulang. Belakangan baru ‘tahu’ teknologi pindai (scanning) dimana tidak perlu mengetik ulang. Tetapi, tetap harus diedit. Sampai hari ini belum juga kesampaian.
Ketika seorang mantan mahasiswa melanjutkan kuliah ke UGM, saya wanti-wanti, akan menghargai kalau sepulang S2 membawa buku. Celaka, dia justru sharing menulis. Ketika pulang untuk penelitian, memamerkan karya tulis di media cetak sembari bertanya, sudah cukupkah untuk buku? Soal makalah untuk dibukukan luput dari diskusi.
Akhirnya, saya harus memberi contoh. Puluhan makalah kuliah, tentang pendidikan, apalagi kurikulum setelah dibaca, ternyata masih relevan. Saya kaget, dalam 20 tahun pendidikan Indonesia masih terbelit hal yang sama. Perlu dipertanyakan kemajuannya.
Lebih mengangetkan, masalah pendidikan masih itu-itu saja. Pada pembukaan tesis saya kutip masalah-masalah dasar pendidikan, Depdikbud (1981: 10), yaitu: peningkatan kualitas untuk memenuhi kebutuhan akan pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan; peningkatan kualitas guna mencapai tingkat relevansi yang tinggi; dan perbaikan sistem dan manajemen pendidikan untuk memperoleh kemampuan fungsional yang adaptif. Persis seperti yang dihadapi saat ini.
Kalau dianalisis, jangan-jangan lebih parah. Lalu, apa hasil kerja makhluk-makhluk yang ‘berbakti’ atau ‘mencari makan’ untuk dan dari pendidikan? Saya tidak mau terjerumus berburuk sangka. Apalagi, menganalisis berapa triliun dana dikucurkan, namun belum membuat hasil pendidikan mengembirakan. Sudahlah, menfokus untuk diri sendiri: Kamu jangan sok. Menyatukan makalah untuk dijadikan buku saja tidak mampu, kog mikir yang besar-besar. Tantangan diterima.
Inspirasi menulis tentang menulis, menusun buku-buku tentang menulis kembali bermain di otak. Suatu kali, timbul tanya: kenapa tidak berani menyusun kembali makalah?
Saya pikir-pikir, makalah dibuat sendiri. Tidak diupahkan. Kalau mengupah tentu lain ceritannya. Bahkan —ini kesalahan diri yang berakibat susah memaafkan diri sampai sekarang,— banyak membuatkan makalah teman-teman. Menerima upah (ampun Gusti). Celaka, ada satu makalah yang bahasanya agak lain. Oh … ternyata akibat ‘subsidi silang’. Saya membuatkan makalah A, teman membuatkan makalah B. Barter.
Ya, kalau membuat makalah diupahkan, membuat surat minta tolong, membuat skripsi atau tesis menyewa penulis, apalagi dalam penelitian, tidak pantas memang karya-karya tersebut dibukukan. Hai Ersis, kata hati saya, kamu kan tidak melakukan itu semua?
Yes, Sir. Implikasinya, menyusun makalah-makalah menjadi ‘calon’ buku. Ternyata, setelah dielus-elus lebih mudah. Saya punya target, kalaulah tidak sempat menjadi buku, minimal menjadi naskah siap cetak. Kalau sudah demikian, proses penulisan (ulang) makalah menjadi buku sudah berlalu.
Ya ya yaaaa. Mengumpulkan makalah-makalah kuliah, asal dibuat sendiri, satu cara untuk menulis buku. Tidak perlu berpikir begini-begitu, kumpulkan edit, dan … jadilah buku.
Mari menulis, menulis, menulis, dan … menulis buku.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 April 2008.













10 Responses to “Membukukan Makalah”
By kangbarok on Apr 17, 2008 | Reply
yupz, menulis… menulis… dan menulis….
By Rahmadona on Apr 17, 2008 | Reply
Setuju…love write and keep writing
By sawali tuhusetya on Apr 18, 2008 | Reply
asalkan isinya cocok buat kepentingan masyarakat umum, makalah kenapa tidak dijadikan buku, pak. cuma ngedit bahasanya biasanya *halah sok tahu* yang butuh waktu. bukankah bahasa makalah biasanya yang ndakik2, ngilmiah, penuh rujuan sana-sini, yang seringkali tidak disukai pembaca.
By mathematicse on Apr 18, 2008 | Reply
Wah iya betul, setuju makalah-makalah kuliah, kalau dibukukan bisa jadi buku tuh. Berarti orang-orang yang suka sok (tapi ga pernah nulis) harusnya sadar kalau karya tulis mereka selama jadi mahasiswa bisa dijadikan buku (ya asalkan bukan hasil beli makalah… wakakakakakakaak …
).
By mathematicse on Apr 18, 2008 | Reply
Membukukan makalah-makalah apakah sama dengan membukukan kliping pemikiran orang Pak?
By Mega on Apr 18, 2008 | Reply
siiipp…kudu dalam setahun nulis sebanyak lebih kurang 60 tulisan baru bisa diedit n jadiin buku ya..?
By budimeeong on Apr 18, 2008 | Reply
bahan sudah ada,,,tinggal nyiapin materi dong lagi,,,,hehehe
By Yari NK on Apr 21, 2008 | Reply
Membukukan makalah memang merupkan salah satu kumpulan tulisan yang paling menarik, tetapi akan lebih indah lagi jikalau dapat dijilid menurut topik tertentu………
***Siiiip
By M. Rizky Adha on Apr 22, 2008 | Reply
Emmm… Ngomong2 pak? Ulun n’ temen2 da bikin artikel tentang local genius di masyarakat Banjar, dilihat2 ternyata dah lumayan yang berhasil kami tulis n’ publikasikan. Truz temen2 ada ide untuk bikin buku pada satu tema, yakni local genius tadi… Nah, sekarang ulun minta masukan dari pian, kira2 pa yang mesti kami buat untuk bisa mengolah artikel tersebut menjadi sebuah buku??? Trims pak…
By kangbarok on Jun 16, 2009 | Reply
assalamu’alayk… apa kabar bong??