Inspirasi: From first Love to Isteri Tercinta

15 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Masa kecil, masa paling indah. Apa saja dilakukan tanpa beban. Apalagi, masa remaja. Kemarin sore, Antaragama EWA Abbas, anak pertama saya menolak diajak makan malam di luar. Mau belajar, katanya. Antar besok uji coba UN SMP. Eh … ibunya bilang: Antra tumbuh jerawat tu. Kita bawa ke dokter yuk. Ntar kayak Uda, he he. Saya kena serangan jerawat ‘menghidupkan’ ketika kuliah.

Ya, kami tertawa-tawa. Antra mesem-mesem. Apa salahnya mengenal lawan jenis. Aku senang saja. Satu hal: Jangan nyerempet-nyerempet, ya nak. Dia mesem-mesem lagi. Dia juara kelas. Berbahagialah kau nak.

Hadirnya jerawat Antra mengingatkan cinta pertama. Cinta pertama? Makhluk apa itu? Bagaimana ‘dijatuhin’ cinta pertama? Aha, tak taulah. Yang penting pernah merasakan, setidaknya seolah-olah merasakan.

Aku teringat masa-masa kecil sampai sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 Tahun Muaralabuh. Sebenarnya aku ingin masuk SMP, dimana hampir seluruh teman-teman kesana. Tapi, keluarga bersikeras ke PGA.

Kata mereka biar dasar agama kuat. Dan, aku nakal, kali he he … Ketika berkumpul dengan ponakan, Bapak menikmati ketawa bercerita: Mak (mamak, paman) Ersis pernah Datuk (kakek) masukan ke karung goni, keras kepala tu orang. Yang kusenangi, tapinya. Tapi, Mak Ersis itu orangnya pintar, rajin, suka membaca, mandiri, telinganya saja lebar, kayak Datuk, katanya terkekeh-kekeh. Ih bangganya dipuji Bapak.

Mungkin dari situlah sikap memberontakku muncul. Aku berontak tapi tetap patuh pada orang tua. Sesuatu yang menjadi gaya hidupku kelak. Aku selalu protes kepada siapa dan tentang apa saja kalau tidak sependapat, tetapi kalau tidak diacuhkan, yah sudah. Aku bukanlah revolusioner sejati.

Aku masih ingat, tugas utamaku memelihara air sawah. Dari Tayeh, Sigintir, sampai Lolo. Sepulang sekolah tugas kulakukan. Kalau senja menghidupkan lampu strongkeng lalu ke mesjid. Yang paling menyenangkan, sekitar jam 9-10 mencari belut di sawah. Aku suka belut, kata Bapak bergizi.

Aku bangga punya Bapak yang berselera makan bagus, makanan kami bergizi. Kami memelihara kolam, kalau sudah panen, sawah kami jadikan kolam dan bila musim menanam tiba, ikan dipindahkan ke kolam rumah. Memelihara ayam, kebun sayur, dan sebagainya. Kata Bapak, sumber makanan bergizi tidak perlu dibeli, usahakan sendiri. Lagi pula, Ibuku dan Uni Er adalah tukang masak paling enak di dunia. Duh, luar biasa kehidupan masa itu. Tidak keluarga kaya, tapi cukuplah.

Kebiasaan itulah yang menjadikan aku petambak ikan dan peternak ayam. Aku menanami sinkong, lengkuas, janar, dan lombok di tanah kami. Tetapi, yang paling menyenangkan, Bapak banyak punya buku. Dari cerita ringan seperti Si Kecil sampai Ihya Ullumuddin, dari langganan Haluan sampai Kiblat. Inilah yang membentuk kepribadianku.

Bapak, kalau membaca sembari tidur-tiduran. Filsafat beliau, membaca dimana saja dan kapan saja. Padahal, tidak bersekolah tinggi. Kalau kecerdasaannya tidak diragukan walau hanya sebagai tukang (pemborong) bangunan. Ya itu tadi, telinganya lebar, he he.

Kini, anak-anakku, mau membaca sambil makan, tidur-tiduran, atau apa, silahkan. Mau buka internet subuh, tengah malam, OK-OK saja. Mau baca Harry Porter atau pelajaran sekolah, atau nonton bola, tidak kuatur. Terserah saja. Yang penting membaca, membaca, dan membaca.

Jatuh Cinta
Semasa kelas dua PGA jatuh cinta untuk pertama kali. Waduh gimana ya menulisnya. Di desaku, Batang laweh —ah ngak usah deh ditulis nama orangnya— aku punya perhatian, tepatnya jatuh cinta. Kami mengaji di rumah Angku Parit dan sama-sama di PGA. Adik kelas. Saking ingin bergaya, minta Bapak menukar sepeda relight-nya dengan sepedaku. Kukira bapak paham aku mau melagak. Beliau pernah muda juga kan. Sejak itu, Beliau lebih rajin memberi duit. Aku membeli minyak rambut, mereknya lavender, dan aku betul-betul geli saat menulis ini.

Suatu malam, di bawah pohon kelapa aku ditanya tu oleh Si Ceweq Paling Cuantiiik Di Dunia: Apo nan akan Uda katokan? Nah, lho. Sampeyan lanjutkan sendiri ya. Sayangnya, tidak bisa jalan-jalan di alam terbuka, begandengan tangan, apalagi cipika-cipiki (syukuuuur).

Sejak aku sekolah ke Padang, kemudian ke Jogya, ke Bandung, hanya pernah sekali bertemu di rumahnya di Jakarta, dia sudah punya anak waktu itu. Tapi aku yakin, ada sesuatu di hatinya, seperti di hatiku. He he.

Dibalik semua itu, aku ingin mengatakan, banyak hal dalam kehidupan kecil yang melengket di memori dalam perjalanan kehidupan akan berpengaruh di masa datang. Muaralabuh bagiku bukan sekedar tempat lahir, bukan sekedar tempat dimana kureguk indahnya keluarga dan pendidik keluarga yang tak terkira positifinya, tetapi secara keseluruhan adalah pembentuk diriku saat ini.

Ya, aku memang suka perempuan. Kisah dipotong … wong sekadar menampakkan kisah hidup sebagai inspirasi saja kan. Kalau ditulis habis, ntar novelnya tidak seru lagi dibaca. Begitulah, pada akhirnya … aku jatuh cinta pada mantan pacarnya. Ya, isteri sekarang. Baca cuplikan pusi berikut.

Malam ini, kasih!
janji tuntaskan harap
rampasmu sempurna lumatkan jiwa

Ingin rasanya ku hadirkan penghulu
agar jiwa kita dihalalkan
agar sua kita tak dicibir awan
agar burung-burung berdendang untuk kita
agar dekapan menyatu pangkuan

Tapi, tahukah kau kasih!
belenggu begitu ketat
ku tak yakin kau mampu menahan badai
gelombang terlalu ganas
jiwamu belum mantap memandang cakrawala
genggamku belum teruji
aku takut kau celaka
bahtera meragu hantar ke tepian
tuntutnya berkati-kati
meminta pundak berotot
terkadang kau masih ingus
kenangmu terpaku

Tahukah kau, kasih!
pencinta memiliki, utuh
tak sepercik tergadai
ia egois
cemburu, diktator, pedang, dendam
bukan ayunan sekecil zahra
kasih tak bertepi
kelembutan
pelindung
kedamaian
segalanya
sebab
ia pemilik

Jika kau tahu putihnya kapas
kerasnya cadas
kentalnya aspal
liatnya baja
tingginya gunung
dalamnya samudera,
begitulah cintaku padamu
Jika kau tahu inginku
kan ku robohkan Himalaya
kan ku datarkan Grand Canyon
kan ku tanami hutan kerikil Kalimantan
kan ku tangguk semua ikan di lautan
kan ku tuliskan seluruh kisah
lalu …
kuberikan padamu
hanya untukmu
hanya buatmu
hanya bagimu
hanya padamu,
seluruh inginku

Kasih!
kalau ku tuangkan cintaku
kenapa bertanya tentang:
——–rupa
 kemurungan yang meremas
 pakaian yang awut
 dompetku yang mapan ompong
 ketakberdayaan
 lusuh
 kasar dan nakal
 dan
 segerobak gombal——-

Tahukah kau, kasih!
itu terminal sesaat
bila bulanku memurnama
matamu silau membuta
takkan ada keranjang penampung kagum, penuh
terlalu akbar
ia dahsyat
decakmu akan membunuh,
ayam mati di lumbung

Hidup ini adalah gelombang
bukan mimpi berkapal angan,
perjuangan
dan
kesempatan
 
 Tak terpikirkankah aku merenggutmu
 Tak terbayangkankah aku meluluhmu

Ku akui, Kasih
aku kini terduduk lunglai
sesal menggunung menjauh gapaian
dosaku terlalu bengis
rinduku terlalu menyita
tak mampu bernafas lempang mengatur langkah,
beban memalu pundak

Ingat, kan ku kuasai gelombang itu
 pancang-pancang telah ditancap
 tiang-tiang disusun
 kapalku akan berlayar
 di atas gelombang paling ganas
 tariannya indah
 muat segala impian
 menuju sasar
 takkan ada tali pengikat
 dalam kedunguan saat ini
 dalam kejamnya hidup
 hanya sebentar
 sebentar lagi, kekasih

Kasih!
tengadahlah ke langit lepas
lihat bintang di ufuk Timur
cahayanya membesar
sirami kegelapan ini,
bawaku ke medan cinta

Sementara kau hanya menuntut dan menuntut
tanpa mendayung bidukku yang hampir
lewati hempasan gelombang
berbalut teguh menerjang karang,
asa alahkah watas-watas,
kenapa tangan belum jua terkembang
Lihat, lihatlah kasih!
Bumi Lambung Mangkurat belum angkara
sejuknya masih bersahabat
ambang langit menanti Sang Surya

Lihat, lihatlah kasih!
wajahmu menyimpan rindu dendam muatan lautan ragu ronanya ditelan ambang pelangi
pandangmu pesona tanya
tahukah betapa diriku dimakan derita, menahun
jiwa dihancur cita kesunyian
tanpa lambaian rumpun
tanpa belaian dedaunan
apalagi titik-titik salju kenyamanan
terlelah tertunduk terlesu,
di bibir kehidupan

Tahukah kau, kasih!
kata diumbar, cap ditajak tanpa batas:
 Si Pintar Si Teguh Si Idealis,
 keras dan pemberang 
 bengis, kikir, tanpa rasa, tapi
 tahu apa mereka
 tak mengerti dan tak pernah
 akan mampu mengerti
 karena mereka anjing-anjing penuntut

Gambaran hitam-putih lukisan turunan
dan, kau harus maklum aku ke sumsum
semua itu gombal
aku makhluk lemah dan dungu
miskin berkalang sandaran amburadul
bekalku asih, semangatku baja, cintaku agung
dan harap aliran darah tak pudar dibuaian bibir
masaku akan menjelang
dia akan datang,
pasti

Terkadang kasih!
ketika mentari menyapa pagi menyapu deraian awan
kulihat kau berpacu di atas sinarnya
kencang, kencang sekali menubrukku
tanpa ampun kau bergayut, manja
kau remas hidungku, kau pukul bahuku
lalu kau peluk dadaku,
bahagiaku tuntas sempurna

Rumah kita terang menderang
tawa Iqbal, Furqan, Henik, Dinri, dan Dandy –anak kita– kejar-mengejar menggegar, peraduan terguncang indah
Henik dan Dinri bergayut padaku
pisahkan kita dengan kasih untuk kasih
Iqbal, Furqan dan Dandy bermanjaria denganmu
salurkan cintamu untukku
dalam tapuk pada semangka berdaun senyum
makin dalam mencucuk sukma
tanpa kita tahu tamu berkunjung
kita tak peduli
biarin, tak ada arti siapa-siapa bagi kita
hidup terlalu indah,
cinta sempurna

Lalu, tidakkah kita terdenda, kasih!
tidak, Tuhan punya tangan dengan rencana
rumah kita mungkin takkan pernah megah
anak-anak terlahir dengan takdirnya
kisah-kisah mengaluri alirannya
terlalu indahkah menjelma
salahkan aku
kamu boleh bilang apa saja, kasih
dari gombal sampai bungul
pemimpi ke merindu, tapi ingat
sayangku mengalahkan
sayangmu padaku,
jauh

Kau lihat pernahkah aku tergoda
tak satupun bunga kusiram, melayu
kau segalanya,
aku tak peduli mereka
Bolehlah ucap, Si Urakan
jangan pengkhianat, sekecil apapun
begitu dulu, begitu kini
aku telah memilih,
impaskah dengan berianmu

Aku tak ingin menuntut
hatimu adalah hakim paling bijak,
kau pernah bilang “Aku rindu cemburu”
akulah biang pencemburu
namun aku tak terdidik mendikte
aku pengagum lubuk hati
dirimu adalah kamu
diriku adalah aku

…… dalam timbang kita memadu
 pada ayunan kita melangkah
 dalam batin kita menyatu
 pada percaya kita menumpang
 dalam belah ketupat kita berpadu
 ditenggang rasa kita bergandeng
 menyingkir halangan pedenda bathin
 mengenyah irisan pisau-pisau tak perlu

Sungguh, itulah sikapku
aku bukan jaksa penuntut,
cinta adalah kepercayaan
Lihatlah ke belakang
tapi jangan hidup di masa lalu
langkahmu di masa depan
labuhan kita berpadu

Pernah pula, kasih!
kubayangkan membunuhmu di hati
sayang, sayangku lebih besar dari itu
aku tak sanggup
aku tak bisa
aku tak mau
aku tak hendak
aku tak ingin
aku tak harap
aku ingin berpadu bagai pilin temali,
mungkinlah

Aku ragu, Kasih!
kamu terlalu sibuk dengan bayang-bayang
hingga aku tak tahu apa maumu
inginku dan inginku
berpilah di hati masing-masing
tidak
tak hendak ku menjawab
takkan kudapatkan jawaban
bila kau tetap diam,
dan diam
Yang kutakutkan, kasih!
daya tahanku
kau membesarkan putik, aku mengempis gunung
lalu kapan akan kau bantu
agar perjuanganku untuk kita,
berarti

Terlalu banyak tanya yang harus ku aju
aku tak hendak
aku menyelam lubuk jiwamu
telajang di mata cintaku
bagaikan kapas salju
modal kasihku
sedalam inti qalbu
disitu ada tanggung jawab
disitu ada asih, asah, asuh
disitu ada rindu
disitu ada biang cinta segala cinta
cinta yang tergadai,
di dirimu

Biarlah kasih, bumi ini makin panas
sebelum putaran final kukirim
kuingin kau mengerti
cinta adalah perjuangan, bukan pengorbanan
bila perjuangan kandas,
itulah resiko
Bila cinta pengorbanan
memedih menyayat memilu teramat sangat
bara api terlalu dingin dibanding
di ujung juang adalah nasib
kesitu kau kuajak
bukan ke ruang pengorbanan,
itu terlalu naif

Marilah kasih, jika kau mau
selagi ada waktu, mari-mari
kita coba hidup ini
tanpa harap tanpa target, tulus
mana tahu,
piala pejuang milik kita

Satu hal kau harus tahu, kasih!
kau bukan ‘my inspiration’
tapi ‘my life, my love and my strugle”,
kurnia Allah buatku

Tahukah kau, kasih!
saat tanganku membelai rambutmu
ketika tangan kita berpilin
waktu kau kudekap
saat buaian kasih limatkan angan 
aku tak tahu bahwa aku ada
aku tak tahu kalau kau ada
hanya kita dalam ubunku
hanya kita dalam hikmatku
jiwa luluh dalam layang
hanya bahagia
tak ada masalah
tak ada dengki
tak ada dendam
terukir dalam syahdu indah dunia nyaman,
Allah Mahapemberi

Kusadar, khayalku kini menuntut nyata
kukali seluruh masa lalu
kudaki puncak gunung harap
dalam paduan kasih,
kisah kasih kita

Kusadar, kasih!
kungkungan diri
Si Penjengkel absurd
kau terpaksa membuang ingin
nampanku kadang bukan santapanmu
jurang harapmu nyata,
melempang jarak

Tapi, kasih!
kugadai prinsip untukmu
kulupakan masa lalu
kutentang godaan zamrud
kuabai haribaan
kucampakkan segala embel
untuk apa,
untuk kita kasih

Memang buahnya berupa putik
akankah mekar
pertanyaan itu terlalu memaksa
juangku belum terimbuh
kuingin kau memapak langkah
menanam asa
mekarkan hati memecah palu kendala
agar tujuan menjadi genggaman
tapi mungkinkah,
tak hendak kujawab

Tengoklah, kasih!
dua merpati itu beriring terbang
berdendang ria bercinta di awang-awang bebas
kepak-kepak sayap seirama
entah kemana
terbang dan hanya terbang
tanpa tujuan
menyebar hembusan ria ke sudut penjuru ruang
sorak-sorak bergembira,
enjois
Padahal, kasih!
mereka tidak punya rasa
mereka tidak punya otak
mereka tidak punya cita
mereka tidak punya cerita
hidup untuk hidup
menjalani kodrat
gembira
bahagia
enak dipandang, sehat dilihat, manfaat nikmat,
itu saja

Aku tak ingin kita jadi merpati
tapi kenapa kita tidak boleh beramsal
belajar arif
belajar mengerti
bahwa hidup menjalani,
riang gembira
agar bermakna

Sering ku lihat cemberutmu menggoda
kau gantung harap
ketika mampuku bertanya
terduduk di pojok hari
dalam kebisuan dalam tanya
terperangah,
menggali makna
Siapa yang tak hendak
berjalan di pantai
dendang ria di Senggigi
ber-aloha di Hawaii
ke Tembok Cina membunuh waktu
mendaki Eiffel
nikmati Tari Perut Mesir
bersiram air di Niagara
melancong ke Thaskent
atau kencing ke Hongkong
melihat pembabal berpesta di Las Vegas
nikmati Kota Singa dari uang kita,
semua

Kadang ku meradang, maaf
ingat, aku bukan malaikat
kadang ku kecewa, biar
ingat, aku manusia
kadang ku meringis, perih
ingat, ruang kacau bukan peraduan,
cintaku hanya padamu

Ku tak ingin debat melilit sajadah
ku tak mau menambah beban
ku tak hak mengatur
ku tak hendak merusak masa depan, tapi
tak bolehkah aku mencinta
Terserah kau, kasih!
melangkahlah jika ingin melangkah
pergilah kalau hendak
aku tak ingin menjerat
aku tak ingin menuntut
ku hormati putusanmu, apapun yang terjadi, sungguh
itulah cintaku
cinta yang memberi
cinta yang berjuang
cinta untukmu
bukan untukku
tapi, untuk kita
untuk kau kasih,
I O U

Terlalu panjang bait ini
tidak, kasih
sejuta pena akan kehabisan tinta
segudang kertas akan kehabisan tempat
bila kutulis semua tak ada tempat yang cukup
hatiku terlalu dalam untukmu
untuk cintaku
Anugerah Allah terbesar
Subhanallah

  1. 26 Responses to “Inspirasi: From first Love to Isteri Tercinta”

  2. By mathematicse on Apr 15, 2008 | Reply

    Yaaaaaaaaaaaaaaaa cerita cintanya kok sedikit sih Pak…

    Teruskan dooong, lucu bacanya. Geli! Hi hi hi… :mrgreen:

  3. By Mega on Apr 15, 2008 | Reply

    hehehe..ini dipostingan sebelah dah pernha baca..di re-copas yack..?..tp lucu yang pertamanya..sedikit menggelitik

  4. By unai on Apr 15, 2008 | Reply

    hihihi saya juga suka, terusin pak..heheh pusinya itu looo huaaa riomantis

  5. By meiy on Apr 15, 2008 | Reply

    ginian nih paling seruuu, lagi bikin novel yah pak?
    puisi ini berkali2 aku baca, gimana yah, keren? entah? luar biasa kali ya! :)

  6. By aNdRa on Apr 15, 2008 | Reply

    Puisinya panjang sekali #:-s belum habis saya bacanya pak…hehehe

  7. By Rahmadona Fitria on Apr 15, 2008 | Reply

    first love memang tak terlupakan ya,Pak..ada yang berkesan dari tulisan ini,tentang masa kecil bapak bersama keluarga, saya kagum.. memang kepribadian seseorang terbentuk dari kebiasaan hidup ortuanya,sukses yang bapak peroleh saat ini ternyata memang sudah dipupuk sejak bapak kecil ya, salut.

  8. By sawali tuhusetya on Apr 16, 2008 | Reply

    wew… puisinya panjang banget, pak, sampai jari2 ini lelah memutar scroll mouse, hehehehehe :lol:

  9. By Robert Manurung on Apr 16, 2008 | Reply

    kata kuncinya memang dua : nakal dan cinta…tapi masih ngeluh juga hehehe…

  10. By Fien Prasetyo on Apr 16, 2008 | Reply

    ada satu yg pas bgt di ati, itu loh soal membaca, membaca, dan membaca…kuharap anakku kelak jg suka membaca, membaca, dan membaca yah

  11. By nurul huda on Apr 17, 2008 | Reply

    Cinta adalah perjuangan, bukan pengorbanan ….!!
    Berjuang untuk cinta, perlu pengorbanan ….!!

  12. By Evi on Apr 17, 2008 | Reply

    Wah, ternyata uda Ersis orang awak juga. Hehehe…baru tahu. Iyo lah Da, taruihkan lah curito kisah cinto tu. Sadang talamak eh baranti di tangah jalan

  13. By M. Rizky Adha on Apr 18, 2008 | Reply

    Wah, kayaknya ulun belum menemukan cinta pertama itu….

    **Duh … ruginya. Jangan ditemkan, ambil ….

  14. By DINA on Apr 18, 2008 | Reply

    KEREN abiz dech buat keromantisan puisi Ewa..
    Di bikin Novel az cerita cintanya Ewa…
    Tapi mo tanya PA, dari kutipan puisi diatas kaya na Bapa pengen berikan segalanya yach buat sang Istri tercinta, kalo istri bapa minta jantungnya bapa gimana, kan bapa cuma punya jantung satu…kira-kira dikasih ga pa…hehe

    ***he he

  15. By Bibidapi on Apr 20, 2008 | Reply

    so sweet pak… puisinya bikin hati terharu haru gimaaaaaaaaa gitu…romantis bener puisinya, bener aja gak romantis hehe… puisinya masuk museum MURI kali ya pak, panjang bener, bener aja gak panjang hehehhehe..

  16. By Erina on Apr 20, 2008 | Reply

    Ceritanya bikin tersenyum…
    Waaahh..puisinya seperti yang kalo diibaratkan kaya jalan raya rame, panjang dan menghipnotis si pembaca akan keindahan yang namanya Cinta,, jujur saya nggak bosan membaca puisi bapa. Tapi alangkah baiknya kalo Cinta itu didasari hanya semata karena ALLAH.

  17. By Suci on Apr 20, 2008 | Reply

    HAHAHAHAHAHAHAHAHA
    Lucu ceritanya…Lebih bagus kalo dipanjangin lagi, Pak..

  18. By M. Rizky Adha on Apr 20, 2008 | Reply

    Emmm… Tapi bagaimana cara mengambilnya pak??? Itu jawaban yang masih menjadi misteri bagi ulun… Menilik komentar orang sebelumnya, saya rasa sulit sekali menemukan orang yang memiliki rasa cinta (maksudnya pacaran kali???)semata2 karena Allah… Yang ada cuma nafsu yang bermain! Mungkin saya sendiri pernah begitu…??? Jadi pak, cinta pertama ulun to harus saya ambil kembali???

    ***Ya diambil, dijemput … bukan ditunggu, apalagi dilamunka, … gampang aja kog. Coba saja, jangan dipikir …

  19. By M. Rizky Adha on Apr 22, 2008 | Reply

    Wah, Gimana yaa… Apa macet ya jalannya ato berliku2 untuk saya jemput kembali…???he.. Walaupun lelah karena jalan yang ulun lalui itu cukup jauh, Tapi yang jelas ulun akan berusaha mewujudkannya…!!! Insya Allah….

  20. By diah eka rini on Apr 23, 2008 | Reply

    jadi pengen…. jadi istri bapa……..
    rasanya gimana githu istri bapa pasti bahagia banget punya suami kaya bapa udah pinter keren terkenal bisa bikin puisi yang indah………………..bangettttt

  21. By Jagung on Apr 23, 2008 | Reply

    wah.. hebat ceritanya. bikin aku berkhayal, mata minda ku melihat akan memori bapak semasa kecil dan semasa jatuh cinta. juga membuat aku teringat cinta pertama ku yang sekarang entah di mana..

  22. By +++++ on Aug 29, 2009 | Reply

    Di saat kegelisahan datang dari hidup qu terasa sepi hidup ini
    Setip di qu memandang alam seakan hidup ini berubah menjadi sebuah mimpi yang indah yang tidak perna aku lupakan
    Jiwa qu terus membawa qu kehidup
    Pan yang begituh untuk aku rasakan dari hati ke hati qu tapi mengapah kah cuma sekejap yang aku rasakan begituh
    Sulit untuk mengenal
    Seseorang di hidup qu
    Mukin hidup ini cuma untuk di rasakan tapi
    Tidak bisa di rasa kan
    Dengan keabadian di hati qu begituh cepat
    Untuk meng hilang dari hati

  23. By +++++ on Aug 29, 2009 | Reply

    Hidup ini tidak bisa di artikan dengan uang tapi bisa di arti kan dengan puisi begituh
    Pun dengan cinta akn
    Terus menjadi sebuah melodi cinta
    Tergetar saat mendengar melodi cinta cinta pun seperti berjalanan yang panjang yang harus kita lalui mengatakan cinta memang mudah tapi sungguh sulit untuk mengerti perasan cinta yang kita syngi
    Di setip waktu dn malm harus kita terbng untuk mencapi tujuan yang
    Selalu kita rasakan di hati mukin ituh yang terbayik untuk menjelang masa depan yang di penuhi dengn cinta

  24. By +++++ on Aug 29, 2009 | Reply

    Mencitai lah apah yang sudah di berikan
    Karna cinta tidak memandang dari apa
    Pun karna cinta yang
    Akn membawa mu terbang yang tak tentu arah gelap untk memandang cinta tapi terang untk memberikan cinta yang tulus cinta tiadk dapat membuat penyesalan
    Di hati mu tapi cinta
    Juga seperti air lauat
    An yang terus mengalir yang tak tentu tujuan

  25. By +++++ on Aug 31, 2009 | Reply

    Cintamu akn menjadi sebuah berlian di hati
    Qu senyuman mu akn
    Melukis kan di lubuk hati qu napas mu ada
    Lah hidup qu namun teralu banyak jurang
    Yang aku lalui aku kan
    Terus berjalan untuk
    Apah pun yang terjadi aku tidak perduli walo pun bumi
    Terbelah dua cinta akn menjadi nomor satu untuk mu seorng ingin diri qu terjatuh di pelukan mu supaya diri merasa kan kehangatan cinta mu
    Dn qu rasakan detak detik jantung mu seakan jiwa qu menyatu dengan jiwa
    Mu teralu hangat untk qu rasakan tubuh mu yang penuh
    Cinta

  26. By +++++ on Aug 31, 2009 | Reply

    Teralu tidak mukin diri qu menyaberangi
    Lautan yang luas yang terbentang dengan ombak yang kencang untuk qu lalui aku yang berada
    Jauh dari mu ingin rasa nya diri qu mencium wajah mu yang setiap malam aku rindukan wajah mu dn akn aku rang
    Kul tubuh mu akn aku
    Hapus kan setets air
    Mata mu yang meng
    Alir di pipi mu akn qu gantikan dengan kasi sayang qu qu berikan cinta qu untuk mu kekasih qu
    Tapi kenapah ya ko di ya gax mau aku peluk kan asik kalo di peluk sama aku terasa hangat tubuh mu iyakan sobat
    Hhhhhh

  1. 1 Trackback(s)

  2. Apr 24, 2008: Ragheb Alama

Post a Comment