Inspirasi dari Worksop

15 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Workshop UNSW-SMPN 1 BjbAUSTRALIA. Senin, 14 April 2008 saya diundang pada pembukaan worksop bertema: Pengemabangan Contextual Teaching Learning (CTL) Pada Pengajaran Matematika, di Hotel Permata Inn, Banjarbaru. Workshop merupakan kerjasama Educational Assesment, University of New South Wales, Australia dengan SMPN 1 Banjarbaru dengan lintas UniSadhuGuna Testing Centre. Semula, malas hadir.  Tapi,  ya sudah, ada teman yang mendesak.
  
Gawean UnuSadhuGuna Testing Centre bagus. Instruktur CTL, Helmi Amin, cukup menghibur. Pikiran melayang ke ketika mengikuti S2 di IKIP Bandung. Prof. DR. S. Nasution baru kembali dari Amerika Serikat. Kami disuguhi educational technology. Belum lagi dosen-dosen gandrung buku semacam Models of Teaching (Bruce Joice dan Marsha Weil), Curriculum Develoment, Theory and Pactice (Hilda Thaba), dan sebareg lainnya. 
 
Yang kurang elok, begitu kembai ke kampus, bagaimana mau mempraktikkan, media pembelajaran di kampus sudah sangat mapan, papan tulis dan kapur.  Saya ‘membenci’ apa yang dipelajari. Tidak ada gunanya. Lucunya era itu penataran guru lagi marak-maraknya.
 
Suatu kali meneliti dampak penataran. Sungguh mengecewakan. Guru-guru ditatar, kembali ke sekolah, dan mengajar seperti sediakala. Penataran sebatas penataran, tanpa monitoring, apalagi evaluasi. Ciih … tidak tertarik sama sekali. Lalu, memuaskan diri membaca, menulis, menerbitkan media, berkolam ikan, beternak ayam, dan seterusnya.
 
Ndilalah, suatu kali, ‘dipaksa’ mengikuti pelatihan asesmen KBK di Jogja. Semangat bangkit. Tidak lupa mendatangi sekolah-sekolah terbaik di Jogja. Kembali ke kampus, apa yang mau diasesmen, wong 10 teman-teman yang ditanya pernah apa tidak mengikuti penataran KBK, duillah, tidak seorang pun.
 
Bagaimana mau mengevaluasi, kalau hal-hal mendasar KBK belum diinjek secara akademis. Lebih mengecewakan, ketika bahan-bahan ajar (multi media) yang saya minta pada SMPN 5 Jogja diserahkan kepada SMPN 1 Banjarbau, duh … membuka saja tidak bisa. Tobat.
 
Begitulah, semakin benci penataran. Padahal, berteman dengan orang-orang LPMP Kalsel, yang dulunya lembaga penatar guru. Saya emoh dibawa siapa pun dan penataran apa pun. Berkutat membantu ‘meneliti’ hal ikhwal sekolah, pendidikan. Sepuluh tahun dilakoni.
 
Akhirnya, terjebat juga. Tapi, dari awal sudah wanti-wanti, kalau berhenti pada Diklat, ogah. Program Diklat berjenjang dengan fokus pantauan ke sekolah-sekolah. Itu yang sedang diprogramkan. Kami selesai memetakan sarana dan prasarana pendidikan, kini sedang memetakan kompetensi guru.
 
Tepatnya, ini kali kedua dalam sepuluh tahun terakhir mengalah pada penataran, Diklat, worksop, atau apa pun namanya. Sekalipun demikian, jujur saja, kini ada banyak kemajuan. Mudah-mudahan bukan berhenti pada ‘proyek’ sebagaimana … ehm.
 
Berbagai ide muncul. Kenapa sih kog urusan asesmen harus didengungkan dari Australia sana? Toh, pelakunya orang-orang kita juga. Kebetulan, seorang teman kuliah S3 juga di Australia.
 
Kami diskusi banyak hal bersama seorang teman yang lulusan Amerika Serikat. Satu pertanyaan telak saya: Sampeyan ini, tidak mampukah membuat program percepatan peningkatan kualitas pendidikan dengan ‘warna lokal’? Kami terbahak-bahak. Sebab, itulah yang tengah dilakukan.
 
Sungguh, workshop yang tengah bergulir dalam sandingan dengan berbagai lembaga terkait, dilaksanakan dari satu hotel ke hotel, membuat decak kagum. Betapa kontras nyamannya suasana hotel dengan dinding-dinding sekolah. Betapa nyomplangnya aneka kelengkapan ‘contoh’ (teori) dan sarana pembelajaran dengan kondisi obyektif di sekolah.
 
Sudahlah, kalau inspirasi menulis dilanjutkan, bisa-bisa susah dikendalikan. Bagaimanapun setiap usaha dan upaya peningkatan kualitas pendidikan pantas disokong. Seorang teman menembak: Sudah normal ya? Mbuh, terserah nenek moyangmu. Kami tertawa-tawa memaknai pengalaman.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 April 2007.

  1. 5 Responses to “Inspirasi dari Worksop”

  2. By Zul ... on Apr 15, 2008 | Reply

    Kita masih terkurung pada fenomena ‘ingin tahu’, bukan ‘ingin mencoba’! Kegiatan penataran, diklat, workshop, bahkan studi banding pada hakikatnya baik jika diikuti. Akan lebih baik mampu dilakoni setelah itu. Memang ada kesenjangan antara pembuat program dengan penyedia sarana (baca: pimpro-nya beda}. Akibatnya, setelah dijejali ‘yang semestinya’, peserta pelatihan ternyata menemuka ‘yang nyatanya’. Apa boleh buat. Mungkin kita mesti menunggu sampai proyek berikutnya(?).

    Tabik!

  3. By toni februari on Apr 15, 2008 | Reply

    workshop….wah asyik tu pak, pertanyaannya apakah kondisi pengajar serta pendidikan kita harus disesuaikan dengan kondisi pengajar dan pendidikan diluar negeri atau malah sebaliknya sih.. ehm mendingan bikin konsep baru yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi SDM/bangsa ini kali yaa..

  4. By jimmy on Apr 15, 2008 | Reply

    saya ingat dulu waktu masuk sekolah dan kuliah ada penataran P4.. nah, sekarang aja saya lupa itu singkatannya apa, dan saya sama sekali tidak ingat apa yang diajarkan di sana dulu :( jadi, penataran.. menurut saya percuma!

  5. By mathematicse on Apr 15, 2008 | Reply

    Ha ha ha… begitu ya Pak pengalamannya banyak kecewanya. :D
    Duh, saya jadi mikir, ntar klo saya pulang nanti apakah bisa menerapkan ilmu yang saya pelajari ga ya? Dengan warna lokal, dengan mengembangkan sesuatu yang sudah ada di negeri kita, bukan dengan mencontek yang ada di luar (tapi susah diejawantahkan di negeri sendiri). :mrgreen:

  6. By fafau30 on Apr 20, 2008 | Reply

    Hebat ya pa Ersis saya yang mengikuti workshop sampai tuntas-tas-tas ngga terinspirasi untuk nulis. waduh ini masalah atau musibah. he..he

Post a Comment