Antropologi: Mahasiswa Menulis Buku
15 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Buku sebagai refernsi kuliah, sekalipun tidak terlalu sulit, pada kenyataannya susah juga didapat. Kebetulan, mahasiswa pengambil mata kuliah Pengantar Antropologi, memulai kuliah dengan menenteng buku Pengantar Ilmu Antropologi (Koentjaraningrat). Ditambah buku lainnya, sebagai refensi kuliah pengantar cukup saja.
Karena membaca, kuliah dilalui lebih enteng. Apalagi, saya didaulat menulis hal-hal menarik tiap minggu —bila sempat tentunya— di blog. Sebaliknya, ‘balas dendam’, mahasiswa menulis komentar setiap topik di blog saya, dan di blog mereka. Ramai jadinya.
Kamis, 10 April, 2008, kami bersepakat. Mahasiswa menulis sendiri ‘Buku Ajar’. Bahannya dari bacaan, diskusi di kelas. Pada akhir semester, direncanakan dicetak.
Saya memberi supor, tidak usah ragu atau bimbang, tidak usah bicara kualitas ‘ilmiahnya’, yang penting menulis. Kalau dicemooh atau dicaci mati, biar saja. Posisi yang diambil belajar. Belajar menulis buku dengan melakukannya.
Becanda memberi semangat, banyak lho dosen yang kualiahnya setinggi langit, bisanya omong doang (Contohnya Ersis). Rajin mencoret-coret makalah mahasiswa, karya bukunya tidak ada. Minimal, kalau kalian menulis, setelah jadi guru atau dosen, tidak terjerembab menjadi penyambung buku orang doang.
Ada orang puluhan tahun mengajar, kuliah ke luar negeri, membimbing penulisan skrpsi ratusan, tidak mampu menulis buku. Jangankan buku, menulis apa yang didongengkan di ruang kuliah saja tidak mampu ditulis. Kasihan.
Jadi, mari belajar menulis buku sejak dini. Kami bersepakat memulai. Soal kualitas, kumaha engke wae akang. Pembagian jatah sebagai berikut (lainnya menyusul):
BAB I PENGERTIAN ANTROPOLOGI
1. Pengertian Antropologi. (Dina Yulinda)
2. Ilmu bagian Antropologi. (Sri Wahyu Astuti)
3. Ilmu bantu Antropologi. (Tria Sakti Lianti)
4. Tujuan ilmu Antropolog. (Dewi Setiawati)
5. Metode Antropologi. (Septa Yudha)
6. Perkembangan awal Antropologi. (Dewi Komalasari)
7. Antropologi Era kolonialisme. (Helmi Novieanty)
BAB II MANUSIA
1. Manusia dalam perspektif antropologis. (Enna Marsiana).
2. Teori Evolusi. (Hamidah Ulfah)
3. Evolusi manusia. (Kamsinah)
4. ‘Makhluk Manusia’ tertua. (Nuril Najmi)
5. ‘Makhluk Manusia Tertua’ di Indonesia. (Diah Eka Rini)
6. The Missing Liks (Haryani)
7. Manusia; Antara pandangan Antropologi dan agama Islam (Hanik Pustita Sari)
BAB III KEPRIBADIAN
3.1 Pengertian Kepribadian (Santi Dwi Pratiwi)
3.2 Unsur-Unsur Kepribadian: Pengetahuan (Ganda Resnadi)
3.3 Unsur-Unsur Kepribadian: Perasaan (Ahmad Fauzi)
3.4 Unsur-Unsur Kepribadian: Naluri (Muhammad Fauzi)
3.5 Aneka Warna Kepribadian (Fahria Hefni)
3.6 Kepribadian Indonesia (Toni Februari)
3.7 Kepribadian Banjar (M. Agustiannur)
BAB IV MASYARAKAT
4.1.Pengertian Masarakat (Istiqomah)
4.2 Masyarakat Binatang dan Manusia (Muhammad Hidayat)
4.3 Kategori Sosial dan Golongan Sosial (AM Hamsin)
4.4 Pranata Sosial (Abdul Rahman S)
4.5 Intergrasi Masyarakat (Novi Dahliani)
4.6 Masyarakat Banjar (A. Muzain)
4.7 Masyarakat Indonesia (Ni Luh Sri rsini)
BAB V KEBUDAYAAN
5.1 Pengertian Kebudyaan (Siti Nurul Kamila)
5.2 Wujud Kebudyaan (Henny Suryaningsih)
5.3 Adat Istiadat (Irma)
5.4 Unsur-Unsur Kebudyaan (Helmi Hakim)
5.5 Integrasi Kebudyaan (Akbar Alamsyah H.)
5.6 Kebudayaan dan Kerangka Teori Tindakan (Puji Astuti)
5.7 Kebudayaan Daerah dan Kebudyaan Nasional (Riduan Saidi)
BAB VI DINAMIKA MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN
6.1 Proses Belajar Kebudyaan (Ihya Ul Ihsan)
6.2 Proses Evolusi Sosial (Setiyadi)
6.3 Difusi (Linda Araini)
6.4 Akulturasi (Wiwik Nurliyana S.)
6.5 Asimilasi (Selvia Agustina)
6.6 Inovasi (Mimi Febrianti)
6.7 Inovasi Kebudayaan Banjar (Martina)
BAB VII ETNOGRAFI BANJAR
7.1 Kondisi Obyektif (Melisa Prawita Sari)
7.2 Lintasan Historis (Juwita Sari)
7.3 Bahasa (Noor Fahriani)
7.4 Sistem Teknologi (Nurkhulis Wardani)
7.5 Sistem Mata Pencaharian (Zul Haziah)
7.6 Organisasi Sosial (Rumadi)
7.7 Sistem Pengetahuan (Novi Arianti)
7.8 Kesenian (Asmiah Ulfa)
7.9 Sistem religi (Hadi Rahman)
BAB VIII KEBUDAYAAN BANJAR
8.1 Kebudayaan Sungai (Chairi Ramadhan)
8.2 Rumah Banjar (Siti Nurhapsah)
8.3 Pasar Terapung (Farida Ariyani)
8.4 Mesjid Suriansyah (Ganjar Muttaqin)
8.5 Rumah Lanting (M. Yumni Rasyid)
8.6 Kesenian Khas Banjar Alat (Rizal Hasannor)
8.7 Sasirangan (Randi Ahmat)
8.8 Penambang Galuh (Arien Noorrahman)













113 Responses to “Antropologi: Mahasiswa Menulis Buku”
By mathematicse on Apr 15, 2008 | Reply
Sebagai tugas kuliah ya Pak? Biasanya klo sebagai tugas, dan dinilai, mahasiswa akan membuat sebagus mungkin.
By mathematicse on Apr 15, 2008 | Reply
Wah, rencananya saya juga begitu, jadi nanti ada bahan menath untuk dijadikan buku (lalu diedit sana-sini oleh kita (sebagai guru/dosen), jadi deh buku edisi mahasiswa (buatan mahaisiswa).
By Haryani on Apr 15, 2008 | Reply
saya benar-benar bersyukur,Ewa telah menggugah semangat saya.Saya senang sekali dengan tugas ini,bener-bener kesenangan yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Saya mempunyai kumpulan tulisan,tapi hingga detik ini tulisan-tulisan itu masih nongkrong di komputer saya.Soalnya saya bingung gimana ngeloncingnya…. Sebenarnya saya ingin bilang sama Ewa,tapi saya malu,he.he. gimana ya…
By sawali tuhusetya on Apr 16, 2008 | Reply
asyik juga metode yang dgunakan pak ersis. dapat ilmu sekaligus juga kreatif bikin tulisan. kemampuan reaepti dan produktif dilakukan sekaligus. wew… dalut banget. btw, dosen2 yang lain kenapa masih suka yang serba konvensional, ya, pak?
By sapri MK on Apr 16, 2008 | Reply
wah…wah !pada rame ni.. blognya boss!
saya juga masih belajar ngeblog tapi yang dibayar tentunya, bukan ngebayar boss,,hehehe… kalo boss mau, tuh liat boss, boss bisa join gratis boss…
jadi bisa buat biaya ngenet! hehehe…promo ya boss..
kan belajar
maaf ya boss..
salam kenal
urang banua
By diah eka rini on Apr 16, 2008 | Reply
Alhamdulillah akhirnya bisa dan akan punya buku juga terima kasih juga buat bapa sebagai inspirator pembuatan buku ini. mudah-mudahan saya bisa termotivasi untuk membuat tulisan yang bagus.BDW saya udah baca buku bapa lo yang Menulis mari Menulis ternyata isinya asyik juga setelah membaca jadi menggugah jiwa dan pikiran saya untuk menuliskan semua yang ada di pikiran saya.jadi pengen baca buku EWA yang laen….!!
By setiyadie on Apr 16, 2008 | Reply
Ass, EWA..
Awalnya Saya ragu apa orang seperti Saya bisa membuat sebuah tulisan yang bermanfaat bagi orang banyak. Tapi setelah membaca buku Anda, pikiran seperti itu mulai sirna. Saya mengerti bahwa Anda memberikan motivasi kepada mahasiswa-mahasiswa Anda dan itu sangat Saya sukai karena menrutu Saya teori tidak akan menghasikan apa-apa tanpa disertai tindakan.
Terimakasih.
By Akbar Alamsyah Hidayat on Apr 16, 2008 | Reply
Ass……..
Dengan adanya buku dari ewa ya… kurang lebih dapat membantu saya untuk membuat suatu tulisan…
thank pak ..
wss……..
By st.nurhapsah on Apr 16, 2008 | Reply
Ass………..
Terima kasih buat semangatnya!
Saya menjadi terinspirasi menulis apa yang ada dalam benak. Takut dengan kesalahan itu menjadi suatu penghalang yang besar. Semuanya berawal dari kesalahan, dari semua itu kemudian menelaah kembali.
By Hery Azwan on Apr 16, 2008 | Reply
Wah, idenya menarik, Pak
Seandainya saya dosen, pasti saya akan meniru cara Bapak.
Sebagai buku pengantar, pasti buku ini akan dibutuhkan oleh adik2 kelas mereka.
Salam hormat saya
By Arien Noor rahman on Apr 16, 2008 | Reply
aSKUM
saya bangga menjadi mahasiswa bapa karena bapa telah menginspirasi saya untu menjadi seorang penulis walaupun saya ga berani menulis tapi dengan motivasi-motivasi yang bapa berikan membuat sya mencoba untuk menulis walaupun saya tidak tau apakah tulisan saya itu sudah benar.
Saya senang sekali dengan tugas ini,bener-bener kesenangan yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam.
TERIMA KASIH EWA
WS. .
By KAMSINAH on Apr 16, 2008 | Reply
Saya menyambut dengan senang hati dan gembira atas usulan dan dorongan EWA yang menyarankan dan mendorong kami untuk bisa menulis dan membuat suatu tulisan, dan semangat itu selalu di dengungkan di telinga kami agar selalu menulis, menulis dan menulis! dan masalah tidak bisa dan takut salah itu adalah hal yang wajar, karena masih dalam tahap belajar dan permulaan, kita dapat belajar dari kesalahan, dan orang sukses adalah orang belajar dari kesalahan dan pengalaman! kita harus berani mencoba, So… maju terus dan terus berusaha untuk BISA.
By Catur Widyastuti PH on Apr 16, 2008 | Reply
Catur Widyastuti PH
Semoga semua yang kita inginkan dan di cita-cita dapat tercapai dengan cepat dan sukses. Jadi dapat membuktikan bahwa mahasiswa dapat mandiri, dengan terbitnya nanti buku yang di tulis para mahasiswa. SEMANGAT YA………….
By Nuril_Najmi on Apr 16, 2008 | Reply
Alhamdulillah…
Akhirnya melalui ide brilian bapak,kami menjadi mahasiswa yg kreatif,yg akan mbuat sebuah buku.saya menjadi semakin termotivasi untuk menulis.hal ini sangat menarik.semoga buku yang akan kita buat nanti bermanfaat bagi semua pihak dan menjadi kebanggaan bagi kita semua.
salut untuk Bapak..
By sri wahyu astuti on Apr 16, 2008 | Reply
siiip……. n terima kasih buat bapak.
ga nyangka bapak ngasih ide yang sangat baik buat kami, ga kebayang sebelumnya, kalau ada dosen kaya bapak yang ngasih motivasi n sekaligus membimbing dalam membuat tulisan. baru ini lo pak!!!!, jadi ga sabar liat hasilnya…
By Puji Astuti on Apr 16, 2008 | Reply
Setuju banget nih ma usulan bapa…jadi ga sabar nih pengen nulis.Dengan adanya gagasan bapa ini membuat hati saya tergugah ingin menghasilkan suatu inovasi dalam diri saya,meskipun banyak kekurangan dalam tulisan saya nantinya,tapi ga papa…namanya juga baru belajar.Moga aja setelah dicetak nanti buku ini dapat bermanfaat baik bagi diri kita maupun orang lain…semangat2 !!
By budimeeong on Apr 16, 2008 | Reply
duhhhh bakal sibuk jadi editor dong pa ewa…
kan ngga gampang hasil pemikiran beberapa mahasiswa dijadikan satu dalam buku…
di bari banyu ja pa’ae..spy nurut barataan…hehe
maaf bukan mahasiswa bapa ikutan komentar disini…hehehe
By henny on Apr 16, 2008 | Reply
Akhirnya keinginan orang tau saya terwujud juga……
Suatu malam saya sempat diskusi yang agak alot dengan bapak saya,beliau ingin saya membuktikan keseriusan dalam kuliah,rupanya baliau masih balum sepenuhnya percaya dengan hasil tiap semester yang saya perlihatkan dengan beliau,ternyata yang beliau inginkan adalah hasil nyata dari apa yang saya dapatkan selama saya kuliah.Wah!!! agak berat juga sih menerima tantangan beliau,akhirnya tantangan tersebut hanya sekedar jadi bahan diskusi malam itu,tapi sekarang saya telah menjanjikan hal yang ’semoga’ membuat beliau puas akan hasilnya nanti..semoga………
Dalam hal ini nasib saya berada pada hasil akhir yang telah kita usahakan ini pak,,,,
By Ganda Resnadi on Apr 16, 2008 | Reply
Jadi semangat ingin menulis dengan bimbingan EWA. Pembagian tugas yang selanjutnya akan selalu ditunggu.
By Linda Araini on Apr 16, 2008 | Reply
Menulis buku ajar benar - benar merupakan hal yang baru bagi mahasiswa sejarah karena sebelumnya memang belaum pernah. Hanya saja pasti mengalami kesulitan dalam menguraikan kata - kata.Ya semoga saja dengan semakin banyak membaca perbendaharaan kata semakin bertambah dan setelah membaca buku Bapa, mahasiswa jadi bisa menulis tanpa ragu dan tanpa beban.Tak perlu takut salah, karena seseorang itu belajar dari kesalahan baru bisa benar.
By M.Agustiannur on Apr 16, 2008 | Reply
wes asik mahasiswa sekarang disuruh nulis biar ada yang dihasilkan, “bengga juwa kami jadi mahsiswa”.Ditunggu aja pa pembagian tugas selanjutnya.
By Zul ... on Apr 16, 2008 | Reply
Ada banyak strategi untuk bisa mewujudkan sebuah keinginan. Apalagi jika menyangkut obsesi untuk membuat buku, baik referensi pribadi maupun modul. Salah satunya dikerjakan secara keroyokan dengan berbagi tugas. Cara yang Abang lakukan, bolehlah untuk ditiru oleh siapa pun, terutama mereka yang ingin mewujudkan mimpi mencerdaskan bangsa!
Tabik!
By MUHAMMAD FAUZI on Apr 17, 2008 | Reply
Kita semua harus berusaha dan berdoa agar planning kita untuk membuat buku bisa tercapai. Tanpa usaha dan doa, apa yang kita planning kan ini akan terjadi kemandekan, dan kita tak bisa berinovasi. Buat semuanya…MARI KITA MENULIS BUKU, agar bisa berinovasi…
By ricky on Apr 17, 2008 | Reply
mahasiswa tidak mempunyai mental kuat untuk teguh dan konsekuen terhadap tulisannya/pha lg ini gawean ewa pasti gak beres………. dasar ewa
By Dewi Komalasari on Apr 17, 2008 | Reply
Pa..ini tugas saya yang disuruh kemaren….
Judul : Perkembangan Etnografi
Etnografi merupakan dekripsi tentang bangsa-bangsa,dekripsi ini mula-mulanya didapat dari hasil laporan atau catatan-catatan pelayaran bangsa eropah ke daerah luar benuanya .yang diawali dengan runtuhnya romawi barat 476 ,dan dinasti umayyah lah yang berkuasa menggantikannya,walau pun dinasti ini bercorak islam tetapi tetap mendatangkan kemajuan yang luar biasa untuk bangsa eropah .Masa kekuasaan islam inilah yang meninggalakan warisan yang sangat besar melalui spanyol untuk bangsa eropah,banyak sarjana-sarjana muslim yang mengajarkan ilmu pengetahuan kebangsa eropah dengan berbagai cabang ilmu .Menurut prof.Jon Romeijn sebenarnya orang eropah sangat berhutang besar kepada orang-orang islam.Jadi sebenarnya peradaban islam sudah lebih maju dibanding bangsa eropah pada saat itu.Ilmu pengetahuan yang dibawa masuk oleh orang-orang islam khususnya arab sangat mempengaruhi pola pikir orang eropah,selain itu juga saat terjadi perang salib disinilah orang-orang eropah bertemu dengan orang-orang arab dan menemukan hal-hal baru yang tidak pernah ditemuinya dibenuanya.Hal-hal seperti inilah yang dicatat oleh orang-orang eropah begitu pula setelah perang salib semakin berkembangnya perdagangan dieropah yang mengharuskan bangsa eropah mencari barang-barang pertanian maupu benda-benda dagang dari timur.Didalam pelayarannya orang-orang eropah ini banyak sekali menemukan suku-suku maupun bangsa-bangsa baru diluar eropah dengan berbagai corak kebudayaanya,disinilah bangsa-bangsa baru itu mendapatkan pengaruh sangat besar dari bangsa eropah,tetapi proses ini tidak berlangsung singkat akan tetapi membutuhkan waktu panjang dalam perkembangannya.
Hasil dari catatan-catatan serta laporan-loparan tadi sudah ada yang berupa buku-buku,yang datang dari berbagai aspek mulai dari pemuka agama,para pelayar sampai kepada para pedagang-pedagang,yang isinya merupakan suatu kebiasaan-kebiasaan unik bangsa luat eropah yang termuat dalam adapt-istiadat serta kebudayaan yang beraneka ragam wujudnya.Hasil dari semua itulah yang membuat bangsa eropah tertarik dan mejadikannya bahan pengetahuan dan bahan itulah yang disebut etnografi.Tetapi etnografi tidaklah baku karena seringkali didalam penulisan laporan-laporan tadi hanya dipengaruhi emosi yang menurut bangsa eropah baik,tetapi tidak sedikit juga etnografi tadi ditulis sangat detail dan memperhatikan unsur-unsur keseluruhan dari aspek terendah sampai dengan yang tertinggi.Tetapi dengan keunikan-keunikan yang ditulis tadi lambat laun mendapatkan perhatian besar dari dunia ilmiah,serta mulai menjadikannya satu hasil dekripsi tadi dalam satu pengetahuan etnografi.
By Rizal Hasannor on Apr 17, 2008 | Reply
Ass EWA…
Terus terang saya senang sekali dengan adanya kegiatan pembuatan buku ini karena dengan ini saya mendapat pengalaman untuk pertama kalinya menulis sebuah tulisan dan menjadi sebuah buku. Bagi saya ini sebuah mimpi yang menjadi kenyataan karena dulu membuat sebuah buku bagi saya hanya ada dalam khayalan saja. Tapi setelah mendapat motivasi dari bapak akhirnya saya sadar bahwa menulis bukanlah hal yang mustahil bagi saya asalkan mau berusaha menulis. Semoga buku ini dapat selesai tepat waktu. Amin…
Wassalam…
By Wiwik on Apr 18, 2008 | Reply
Ass..
Saya baru saja membaca buku bapak yang berjudul menulis sangat mudah dan ternyata isinya begitu menarik. Benar-benar memberi motivasi terhadap pembaca untuk menulis, tidak hanya pandai bicara saja. Dari buku bapak inilah orang-orang termotivasi untuk menghasilkan karya. Termasuk saya pak.Saya senang karena ini pengalaman pertama saya dalam pembuatan buku. Dan semoga saja dalam pembuatan buku ini berjalan lancar dan dapat diselesaikan tepat waktu..Amin
Wassalammu’alaikum….
By Riduan Saidi on Apr 18, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Mudah-mudahan disuruh menulis yang enak saja…he,he,he
By randy on Apr 19, 2008 | Reply
Mudah-mudahan rencana membuat buku ini berhasil..
Amin
By randy on Apr 19, 2008 | Reply
Pa website yang saya ketik di atas ada sedikit kesalahan, jadi salah alamat websitenya. yang benar yang ini. Hehe
By HANIK PUSPITASARI on Apr 19, 2008 | Reply
Alhamdulillah, tugas saya sudah selesai lebih awal. Saya tunggu koreksi dari EWA.
a. Manusia : Pandangan Antropologi
Antropologi, secara ringkas dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang manusia dan kebudayaan yang dihasilkan dan dipakainya. Dalam bahasan ini akan dikemukakan bahasan manusia dalam pandangan Antropologi.
Manusia merupakan mahluk hidup yang terdiri dari jutaan sel yang terbentuk secara perlahan dengan waktu yang sangat lama. Pada awalnya sel pembentuk manusia itu hanya terdiri dari satu sel yang sangat sederhana. Proses perkembangan sel sederhana tersebut memerlukan waktu yang sangat lama yaitu jutaan tahun. Waktu yang sangat lama tersebut biasa dikenal dengan sebutan Teori Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin sebagai salah seorang ahli biologi pada abad ke 19 an.
Dalam kurun waktu yang sangat lama tersebut, sebelum mencapai kesempurnan menjadi manusia, banyak mahluk yang terbentuk berdsarkn jumlah sel dan waktunya masing-masing. Setiap sel yang terbentuk tersebut menjadi mahluk-mahluk lain selain manusia. Seiring perjalanan waktu, sel-sel yang terus berkembang mengalami percabangan-percabangan yang tidak sedikit, sehingga tercatat hampir satu juta mahluk lain selain manusia. Dalam perjalanan waktu itu, tidak jarang ada sel-sel yang tidak mampu memperthankan dirinya dan mengalami kepunahan. Namu,banyak juga yang mampu bertahan hingga saat ini.
Dalam ilmu Antropologi, telah ada klasifikasi oleh para ahli biologi yang menyimpulkn bahwa semua mahluk hidup di dunia berasal dari suku primat yang terbagi menjadi 2 cabang yaitu Anthropoid dan Prosimii. Berdasarkan klasifikasi tersebut, manusia ditempatkan pada subsuku Anthropoid yang dibagi menjadi 3 infrasuku yaitu, Infrasuku Ceboid, infrasuku Cercopithedoit dan infrasuku Hominoid. Infrasuku Hominoid terbagi kedalam 3 keluarga yaitu Pongidae, Ramapithecas dan Hominidae. Manusia berada pada percabangan infrasuku Hominidae. Dalam keluarga Hominidae manusia disatukan dengan keluarga kera-kera besar yang hidup di Asia dan Afrika seperti Gibbon, Ogangutan, Sipanse dan Gorilla. Sedangkan keluarga Hominidae menggabungkan manusia purba jenis Pithecanthropus dengan Homo Neanderthal dan dengan manusia sekarang atau Homo Sapiens. Jenis Homo Sapiens yang ada sampai saat ini terdiri dari 4 ras yaitu ras Negroid, Caucasoid, Mongoloid dan Austrloid.
Dapat disimpulkn bahwa manusia dalam pandangan ilmu Antropologi tidak langsung terbentuk secara sempurna, melainkan diperlukan waktu yang sangat lama hingga sel-sel tersebut sempurna, barulah terbentuk manusia.
Teori Evolusi oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam ilmu Antropologi.
b. Manusia : Dalam Pandangan Agama Islam
Dalam Agama Islam, segala sesuatunya telah diatur dengan baik dan digambarkan dalam kitab suci Al-Quran. Tidak luput olehNya, bagaimana proses pembentukkan manusia yang juga digambarkan sejelas-jelasnya.
Manusia diciptakan dari sari pati yang berasal dari tanah. Sebelum menjadi manusia yang terlahir di muka bumi, sari pati tersebut (air mani) ditempatkan oleh Alloh di dalam rahim seorang ibu. Air mani yang telah ditempatkan di dalam rahim kemudian dijadikan segumpal darah. Segumpal darah, kemudian berubah lagi menjadi daging yang berubah menjadi tulang-belulang. Pada usia kandungan 4 bulan, ia diberi nyawa (ruh) oleh Alloh. Akhirnya terbentuklah tulang-belulang yang dibalut oleh daging. Setelah mencapai kematangan bentuk dalam kurun waktu kurang lebh 9 bulan 10 hari, akan lahir seorang manusia hasil perpaduan orangtuanya. Selama berada dalam rahim sang ibu, ia menyerap makanan yang dimakan oleh sang ibu. Hingga lahir ke dunia pun ia masih bergantung pada ASI, untuk pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal.
Islam, memandang manusia sebagi mahluk ciptaan Alloh yang palinh sempurna. Dia adalah mahluk pilihan yang paling mulia kedudukannya dari pada mahluk-mahluk lain ciptaan Alloh. Begitu banyak keistimewaan yang dikaruniakan dalam diri manusia, mulai dari wujudnya yang paling indah dibanding dengan mahluk Alloh yang lain, sampai pada komponen penyusun dalam diri manusia yang tidak yang menyamainya.
Munusia dikaruniakan oleh Alloh akal untuk berfikir. Dengan akal, manusia mampu membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah). Dengan akal pula, manusia mampu merenungkan dan mengamalkan sesuatu yang benar tersebut. Dengan karunia akal, manusia diharapkan dapat memilah dan memilih nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Disamping memiliki akal, manusia selalu terlahir dengan 3 naluri yang pasti ada dalam dirinya, yaitu :
>Naluri untuk mensucikan sesuatu : naluri untuk beragama dan menyebah sesuatu yang lebih dari pada dirinya.
>Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri : manunia punya kecenderungan marah, sedih, senang dll.
>Naluri untuk melestarikan dirinya : naluri kasih sayang.
Demikianlah Alloh menciptakan manusia dengan segala kelebihan-kekurangan dan keistimewaan-keistimewaan tertentu yang tidak mungkin ditemukan pada mahluk hidup lain. Walaupun demikian, manusia juga sangat berpotensi untuk melakukan kesalahan dan kerusakan, ketika ia salah dalam memanfaatkan akalnya.
Adapun penciptaan manusia itu bukan tanpa tujuan, manusia diciptakan Alloh hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya.
Opini : Alloh swt menciptakan manusia di dunia ini dengan sempurna dan segala potensi yang sangat luar biasa. Pertama, potensi untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, seperti makan, minum dll. Kedua, potensi naluri untuk beribadah kepada sang Khalik, mempertahankan diri dan melestarikan keturunan. Ketiga, potensi akal. Dengan akal manusia dapat berfikir ketika hendak berbuat. Dengan akal pula manusia akan mampu memecahkan uqdatul qubro (3 pertanyaan mendasar dalam hidup), yaitu dari mana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan di dunia dan akan kemana manusia setelah mati. Melalui proses berfikir yang cemerlang manusia akan mampu menjawab manusia berasal dari Alloh yang menciptaannya, manusia hidup untuk beribadah kepada Alloh dan akan kembali kepada Alloh. Namun, manusia juga sangat berpotensi untuk melakukan kesalahan dan kerusakan ketika ia tidak mempergunakan akalnya sesuai dengan perintah Alloh swt. Wallahu’alam…
By toni februari on Apr 20, 2008 | Reply
waduuh saya kebagian yang mana ni pak….jadi deg-degan hee,,yaap aja deh..di antosan lah.
By Erina Marsiana on Apr 20, 2008 | Reply
MANUSIA DALAM SUDUT PANDANG ANTROPOLOGIS
(tugas MK Antropologi mahasiswa menulis buku)
Dilihat dari evolusi organik, manusia timbul dari bentuk kehidupan organik yang kemudian mengalami perkembangan evolusi. Manusia dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologisnya kita bisa menjabarkan manusia itu di klasifikasikan sebagai mahkluk Homo sapiens (bahasa latin untuk manusia)yaitu sebuah jenis dari suku primata yang berasal dari sub suku Anthropoid keluarga Hominidae, ras dari Homo Sapiens tersebut adalah ras Mongoloid. Jenis dari sebuah primata dari golongan mamalia yaitu sebuah primata dari golongan mamalia yaitu manusia yang menyusui keturunannya dan berdasarkan atas ciri itulah manusia dikelompokkan bersama makhluk-makhluk lain kedalam satu persamaan, yaitu kelas binatang yang menyusui. dalam suku ini, semua jenis kera, dari kera yang masih kecil contohnya Tarsii, sampai menjadi kera-kera besar seperti gorilla di kelompokan menjadi satu dengan manusia. Memang secara logika kita bisa lihat adanya banyak persamaan ciri-ciri antara organisma- manusia dengan organisma kera, namun secara harfiahnya manusia dilengkapi”Otak” yang berkemampuan tinggi, mempunyai unsur-unsur kepribadian yang kompleks seperti pengetahuan yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Manusia juga memiliki perasaan dan naluri, nah dari unsur-unsur yang dimiliki manusia tersebut, binatang tak memilikinya. jadi pada intinya perbedaan kelakuan manusia dengan binatang terletak pada akalnya.
Dalam hal kerohanian, manusia dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bermacam-bermacam variasinya, misalnya dalam agama erat kaitannya dalam hubungan dengan kekuatan-kekuatan ketuhanan atau sesama makhluk hidupnya. Dalam mitos, manusia juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam Antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam suatu masyarakat yang majemuk, serta perkembangan dalam teknologinya, dan terutama hal yang mendasar adalah kemampuan nya dalam membentuk kelompok atau dukungan yang satu sama lain serta bentuk pertolongan terhadap sesama yang paling utama. jadi dengan demikian perbedaan yang amat besar antara manusia dengan makhluk lainnya adalah:
a. Sebagian besar dari kelakuannya dikuasai akal
b. Kehidupannya di muka bumi hanya mungkin dengan suatu sistem peralatan yang merupakan hasil dari akalnya
c.Sebagian besar dari kelakuannya harus dibiasakannya dengan belajar.
d. Mempunyai bahasa
e. Pengetahuannya bersifat akumulatif
f. Sistem pembagian kerja dalam masyarakatnya jauh lebih kompleks dari pada dalam masyarakat binatang.
g. Masyarakatnya menunjukan suatu aneka warna yang besar.
Berdasarkan perspektif antropologis, masyarakat di Indonesia khususnya bisa berupa atau berwujud :
1. Komunitas-komunitas masyarakat kesukuan, lokal, asli atau etnis-tribal, etnis disini merupakan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti dalam kedudukan tertentu, yang berdasarkan faktor keturunan, adat, agama, bahasa dan sebagainya. sebaliknya tribal secara umum yaitu himpunan orang-orang yang mempunyai sejarah asal usul yang sama serta memiliki struktur budaya yang sama.Contohnya mempunyai perasaan senasib dan sepenanggungan seperti masyarakat Jawa, Madura, Sunda, Bali, Sasak dan Bima.
2. Komunitas-komunitas masyarakat peranakan Tionghoa, Indo belanda atau Eropa dan campuran-campuran lain yang makin lama makin banyak.
3. Komunitas-komunitas masyarakat asing (atau dari luar) seperti masyarakat arab, India, Cina, Tamil dan Eropa yang bisa menjadi turun temurun berdiam diwilayah Indonesia. Dalam kenyataan perkembangan hidup dan kehidupan, berbagai masyarakat tersebut dapat membentuk jaringan dan dapat pula; secara bersama dapat membangun kantong pemukiman (inklusif) dan dapat pula membangun kantong pemukiman secara (eksklusif), kemudian secara antropologis, kebudayaan di Indonesia bisa berupa atau berwujud:
- kebudayaan kesukuan lokal-asli seperti kebudayaan Dayak, Mandar, Bujo, Badui, Ekagi, Dani, dan Bugis.
- kebudayaan campuran atau Mestizo seperti kebudayaan India, kebudayaan peranakan Tionghoa Indonesia dan kebudayaan Hindia-Belanda.
- kebudayaan asing atau dari luar Indonesia seperti kebudayaan Arab, India, Cina dan Barat. berkat teknologi komunikasi, mobilitas keruangan masyarakat, prasarana fisikal dan ” tangan-tangan perkasa” dalam hal ini ialah negara dan bangsa Indonesia, dimana berbagai jenis nebula kebudayaan tersebut dapat berinteraksi, meskipun tidak semua.
By Suci on Apr 20, 2008 | Reply
Boljug idenya…mau nih kalo prodi bahasa Inggris juga bikin kaya gini…rame-rame bikin buku diktat, jadi refreshing kan juga ada…ga melulu bahan ajar tahun kapan gitu yang di pake trus….
By miabu on Apr 20, 2008 | Reply
ehm pa ewa,,,
ngomong-ngomong bab III nya kena spa sich,,,eheheheh
***Bentar lagi aja …
By setyawan dharma on Apr 21, 2008 | Reply
koq nama saya gak ada dalam daftar calon penulis buku yang akan dirilis ini. saya juga mahasiswa bapak MK Antro. ada di presensi.
Nama lengkap : DHARMA SETYAWAN
NIM : A1A103043
tolong sisipin ya pak…biar cepet jadi S.Pd
By HANIK PUSPITASARI on Apr 21, 2008 | Reply
Judul :> Manusia : Antara pandangan Antropologi dan agama Islam.
**Yoi
By Helma novieanty on Apr 21, 2008 | Reply
wah-wah ide baru dari bapak ini sangat menarik…judul yang bapak kasih akan secepat nya saya kerjakan….mudah-mudahan kita berhasil ya pak…
By A.Muzain on Apr 22, 2008 | Reply
BAB IV MASYARAKAT
4.6 Masyarakat Banjar
kalau dalam mitos yang beredar dimasyarakat suku Banjar itu terbentuk oleh seorang ratu yang hadir begitu saja tanpa ada sebab yang jelas.makhluk ini sebagai cikal bakal orang-orang banjar yang ghaib-ghaib.yang lebih dapat dipercaya orang banjar itu berasal dari sumatra sebagai pendatang yang kemudian bercampur dengan penduduk yang lebih asli yaitu suku dayak.
menurut Edwar Saleh suku Banjar itu terbagi menjadi tiga sub suku. yaitu, Banjar pahuluan, banjar batang banyu dan banjar kuala.
banjar pahuluan, suku ini penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang sungai nagara) yang berhulu kepegunungan meratus. menurut pengalaman saya ketika PKL keloksado yang dapat diambil dari kegiatan tersebut yaitu mengetahui dan dapat melihat langsung suku banjar pahuluan kebanyakan suku dayak yang tinggal digunung-gunung yang masih menganut agama nenek moyang (kaharingan) sedangkan bagi banjar pahuluan yang kena pengaruh islam tinggal ditepi-tepi sungai, pinggiran kota,dan sebagian menempati daerah perkotaan.
banjar batang banyu, suku ini banyak mendiami lembah sungai nagara (amuntai, alabio, nagara dan sebagainya ).suku ini lebih senang bepergian berdagang seperti orang nagara.kalau dilihat dair daerahnya yang rawa, suku ini banyak memelihara ternak seperti, itik, kerbau(adangan), sapi dan sebagainya. kalau dalam sejarahnya belanda mengakui keberadaan suku banjar sebagai orang yang pandai berdagang (yang dimaksud orang nagara).
banjar kuala, suku ini banyak mendiami sekitar banjarmasin (maratapura)karena sebagai pusat pemerintahan dari dulu sampai sekarang,orang-orangnya hebat-hebat seperti datu palampayan (syeh Arsyad al-banjari dan guru ijai.suku ini sangat agamis.makanya orang-orang menamakan martapura sebagai serambi mekkah.
suku banjar ini unik sekali dibanding dengan suku lain yang ada di Indonesia.keunikan tersebut contohnya dari segi bangunan, dikampung saya banyak rumah-rumah yang tinggi, dibanding dengan rumah sekarang,apa sebabnya? ternyata saya nanya kepada yang empunya rumah bahwa ini untuk keselamatan dari banjir .rumah panggung yang tinggi sesuai deng kearifan lokal (local genius) ini menandakan bahwa daerah banjarmasin adalah daerah rawa dan sering terjadi banjir.orang banjar juga sudah mengenal sistem perairan yaitu handil,anjir,antasan dan sebagainya atau yang lebih bisa dimengerti sungai buatan untuk perairan sawah.sistem ini ada jauh sebelum sistem irigasi yang diterapkan bangsa penjajah.kalau kita cermati kesenian banjar itu mirip dengan jawa karena orang melayu yang dekat dengan jawa adalah suku banjar.lihati kesenian musik panting, ada gamelan dan gongnya.
masyarakat banjar sekarang hidup acak-acakan,gado-gado.coba lihat sungai dan tata kota dibanjarmasin seperti pelangi, ada pemukiman kumuh dipinggir sungainya,sedangkan tidak beberapa meter berdiri ruko-ruko era milenium.banyaknya mall-mall yang dibangun itu berbanding terbalik dengan keadaan masyarakatnya, yakni masyarakat agraris.masyarakat banjar itu masyarakat bunglon tidak seperti orang eropa yang hidup modern bisa dikatakan masyarakat kota. masyarakat banjar ini meragukan, kalau dibilang masyarakat kota toh berperilaku kampungan.otak mistik,kerja disawah. kalau dibilang juga masyarakat desa toh ,ada gaya kota, ada Tv,ada Hp,ada PS,ada mobil ada kendaraan dan lain-lain.jadi masyarakat banjar itu masyarakat peralihan (transisi) antara masyarakat kota dan desa.
ada fenomena yang sangat menarik dari pendapat para ahli yang mengatakan bahwa alam menentukan manusianya,artinya karena banjar banyak memiliki sungai yang berarti seperti ilung (eceng gondok) yang larut terbawa arus, ini tandanya masyarakat banjar ini mengekor terserah patuanannya yang penting hidup selamat dan aman tanpa menggugah untuk hidup sukses, yang penting bisa naik haji dan hidup apa adanya.orang banjar ini juga suka nyantai dwarung-warung ujung-ujungnya ngobrol, banyak diskusi padahal banyak kerjaan sawah yang nyantai aza selesainya,akhirnya bila sawah itu bisa dikerjakan dalam waktu tiga hari bisa menjadi seminggu.itulah watak/tabiat yang benar-benar seperti sungai santai ngalirnya, mengikuti arus, bila orang kehilir ikut juga kesana, bila kehulu,silakan ikut juga.
By AM. Hamsin Fitriyadi on Apr 22, 2008 | Reply
KATEGORI SOSIAL DAN GOLONGAN SOSIAL
Berpijak dari pendapat Koentjaraningrat yang menjelaskan bahwa kategori sosial dan golongan sosial merupakan konsep dual hal yang berbeda walaupun dalam buku pelajaran Antropologi dan Sosiologi dalam bahasa asing biasanya hal tersebut dikenal dengan istilah yang sama, yakni Social Category. Namun, karena adanya terdapat unsur perbedaaan maka dengan itu kita perlu membedakan dua konsep tersebut. Dalam hal itu dapat diibaratkan dua konsep tersebut memiliki makna “serupa tapi tak sama”, begitulah juga pada konsep tersebut memilki pengertian yang berbeda walaupun terdapat kemiripan.
Dalam hal kategori sosial dijelaskan bahwa konsep ini merupakan kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri khas atau suatu kompleks ciri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu. Ciri khas tersebut dilakukan dengan maksud untuk memudahkan penggolongan dalam suatu tujuan dan biasanya dikenakan oleh pihak luar tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan. Sebut saja peneliti yang akan melakukan penelitian terhadap kehidupan masyarakat tertentu perlu melakukan penggolongan unuk memudahkan penelitian mereka, walupun pihak yang diteliti tidak menyadari hal tersebut.
Sehubungan dengan itu untuk mempermudah pemahaman kita mengenai kategori sosial tersebut dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari dimana terdapat kategori orang yang memiliki sepeda motor dan kategori orang tidak memilikinya dengan tujuan untuk menentukan harus menaati peraturan lalu-lintas dan bebas dari peraturan tersebut, terdapat katagori mahasiswa yang memiliki banyak buku bacaan dan kategori Mahasiswa yang sedikit memeliki buku bacaan dengan maksud untuk menentukan minat belajar, dan juga terdapat kategori orang bisa bermain Sepak bola dan kategori tidak bisa bermain dengan maksud untuk mengetahui minat olah raga sepak bola. Dari uraian tersebut dapatlah dikatakan bahwa unsur yang terkait dengan konsep kategori sosial biasanya tidak terikat dengan kesatuan adat, sistem norma, tidak mempunyai lokasi dan mengarah pada pembicaraan “kerumunan”.
Selanjutnya golongan sosial dijelaskan merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai oleh suatu ciri tertentu, bahkan sering kali ciri itu juga dikenakan kepada mereka oleh pihak luar kalangan masyarakat sendiri. Dalam konsep golongan sosial ini dapatlah kita umpamakan dalam contoh pembagian dan pemberian kedudukan yang berhubungan dengan jenis kelamin dalam suatu masyarakat. Misalnya kedudukan yang berhubungan dengan penggolongan laki-laki di Jawa berbeda denga laki-laki di Minangkabau, di Jawa kekuasaan keluarga ditangan ayah sedang di Minangkabau tidak demikian. Kemudian dalam golongan masyarakat Prasejarah sudah mengenal adanya penggolongan sosial masyarakatnya, diantaranya terdapat golongan pemimpin suku dan adanya pembagian golongan kerja di dalam kehidupan mereka tersebut. Disamping itu juga terdapat penggolongan masyarakat berdasarkan sistem kasta, yakni kasta Brahmana (pemuka agama), Ksatria (bangsawan), Waisya (pedagang), Sudra (rakyat jelata), dan Paria (gelendangan, peminta dan sebagainya).
Di dalam konsep golongan sosial tersebut didasarkan terjadi dengan sendirinya dan terjadi dengan sengaja. Terjadi dengan sendirinya dapat dipahami bahwa proses ini berjalan dengan sendirinya dan bentuk dasar penggolongan itu bervariasi menurut lokasi, waktu dan budaya masyarakat dimana sistem itu berlaku. Sedangkan golongan sosial yang terjadi dengan sengaja ditujukan untuk mengejar tujuan bersama, sistem penggolongan ini dapat kita lihat dalam pemerintahan, parpol, perusahaan besar dan sebagainya. Dengan lain perkataan konsep golongan sosial biasanya terikat dengan kesatuan adat, norma, identitas sosial dan bersifat berkelanjutan.
Dengan demikian konsep kategori sosial dan golongan sosial memiliki pengertian konsep yang berbeda, pada konsep kategori sosial mengarah pada suatu “kerumunan” sebaliknya golongan sosial mempunyai ikatan identitas sosial. Namun, kedua konsep tersebut memiliki perbedaan tapi perlu digaris bawahi konsep tersebut sama-sama tidak memenuhi syarat yang disebut masyarakat seutuhnya. Dikatakan tidak memenuhi syarat sebagai masyarakat karena ada suatu syarat pengikat yang tidak ada pada kedudukannya, yakni prasarana khusus untuk melakukan interaksi sosial.
By diah eka rini on Apr 23, 2008 | Reply
MAHLUK MANUSIA TERTUA DI INDONESIA
Manusia dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai individu yang mana dapat berdiri sendiri, serta memiliki kemampun dan kebutuhan tersendiri juga. Manusia terdiri dari kesatuan jasmani dan rohani. Yang khas secara jasmani manusia mempunyai ketinggian, berat badan, bentuk hidung, kepala, mulut, mata, dan postur tubuh yang berbeda satu sama lain bahkan yang kembar sekalipun. Sedangkan secara rohaniah manusia mempunyai tingkat kecerdasan, bakat, keinginan, dan tingkat pemahaman yang berbeda. Walaupun setiap manusia berbeda namun pada hakikatnya manusia sebagai individu mempunyai naluri yang sama yaitu naluri untuk mempetahankan hidup, meneruskan keturunan, serta mempunyai rasa ingin tahu dan terus mencari kepuasan.
Maka dari itu banyak hal yang bisa dilakukan untuk lebih bisa memahami siapa dan bagaimana mnusia itu sebenarnya. Namun sebelum jauh sampai ke sana hendaknya kita terlebih dahulu mengenal siapa sebenarnya nenek moyang kita, bagaimana bentuknya, dan seberapa cerdas mereka. Inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi sebagian orang namun kita akan mencoba mencari jawabannya.
Bumi kita Indonesia ini telah banyak sekali memberi sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan dalam pemecahan masalah asal mula manusia karena dalam hasil temuan para arkeolog terdapat bekas-bekas manusia tertua.
Adapun jenis fosil yang di temukan di Indonesia sebagai berkut :
a. jenis pithecanthropus
ada tiga jenis pithecanthropus yang di temukan di Indonesia yaitu:
1. pithecanthropus erectus
Fosil ini ditemukan oleh Eugene dubois pada tahun 1890, di daerah Trinil, lembah sungai bengawan solo. Fosil ini di namakan pithecanthropus erectus karena yang artinya manusia kera yang sudah berdiri tegak.
2.pithecanthropus mojokertensis dan pithecanthropus robustus
Kedua fosil ini di temukan oleh Von koenigswald, pada tahun 1936, di Mojokerto, Jawa Timur. Perlu di ketahui fosil jenis pithecanthropus ditemukan pada lapisan pleistosen bawah.
Adapun ciri-ciri dari fosil pithecanthropus adalah :
- tinggi badan sekitar 165-180 cm.
- volume otak berkisar antara 750-1350 cc.
- bentuk tubuh dan anggota badan tegap.
- alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat, bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat dan bentuk tonjolan kening tebal.
- Bentuk hidung tebal.
- Bagian belakang kepala tampak menonjol.
b.jenis Meganthropus
fosil jenis ini di temukan oleh Von koenigswald, pada tahun 1941. daerah penemuannya adalah di Desa Sangiran, lembah sungai Bengawan solo. Meghanthropus merupakan jenis manusia purba yang paling tua. Fosil ini menyerupai manusia raksasa karena ukurannya sangat besar dan tinggi. Oleh karena itu, fosil tersebut kemudian dinamakan meghanthropus paleojavanicus {manusia raksasa tertua dari jawa}.
Dan cirri-ciri dari fosil meganthropus adalah :
- memiliki tulang pipi yang besar.
- memiliki otot kunyah yang kuat.
- -memiliki tonjolan belakang yang tajam.
- tidak memiliki dagu.
- memiliki perawakan yang tegap.
- memakan jenis tumbuhan.
c. jenis Homo Sapiens
fosil homo sapiens adalah fosil manusia yang berfikir, dan ada 2 fosil yang ditemukan di Indonesia, yaitu :
1} Homo Soloensis
Fosil ini ditemukan oleh Teer Narr Oppenoorth dan Von Koenigswald, antara tahun 1931-1934. di Desa Ngandong, lembah sungai bengawan solo.
2} Homo Wajakensis
fosil ini di temukan oleh E.Dubois, pada tahun 1889, di daerah wajak, Tulung Agung, Jawa Timur. Fosil ini sangat berbeda dengan cirri-ciri manusia Indonesia sekarang, namun sangat mirip dengan tengkorak bangsa asli Australia (aborigin).
Ciri-ciri dari fosil Homo Sapiens adalah:
- otot tengkuk mengalami penyusutan .
- muka tidak menonjol ke depan.
- gigi kecil, dahi membulat, dan sudah terdapat dagu.
- berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna. - manusia homo sapiens hampir serupa dengan manusia modern, yaitu volume otaknya antara 1000-1200 cc.
- tinggi badan antara 130-210 cm.
Dan yang hebatnya manusia jenis ini mempunyai kemampuan membuat peralatan dari tulang dan batu dengan cara yang sederhana. Fosil homo sapiens ini ditemukan di lapisan pleitosen atas. Seperti yang kita ketahui para manusia yang hidup pada zaman di atas, kehidupannya tidaklah sehebat dan semodern kita, masyarakat pada masa ini hidup secara berkelompok , berpindah –pindah tempat menyesuaikan dengan alam dan ketersediaan makanan. Namun di duga manusia jenis Pithecanthropus mulai mengalami kemajuan kebudayaan. Mereka bisa membuat alat-alat keperluan hidup, seperti kapak perimbas, kapak genggam dan lain-lain. Dan kemajuan itu terus berkembang hingga akhirnya bisa hidup menetap di gua-gua, dari hanya bisa beruru dan meramu akhirnya bisa berkembang menjadi bercocok tanam tahap awal dan tigkat lanjut.
Hingga akhirnya sampai sekarang menjadi suatu bangsa yaitu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dan berbagai macam kebudayaan.
Dengan mengetahui siap nenek moyang kita , maka kita akan mengerti bahwa kebudayaan manusia berkembang pesat hingga sekarang ini membutuhkan proses dan waktu yang sangat lama. Dan dengan kemajuan pemikiran serta kebudayaannya manusia dapat menjadi mahluk yang paling berkuasa dan yang berkembang biak paling pesat di muka bumi ini.
By MUHAMMAD FAUZI on Apr 23, 2008 | Reply
3.4 UNSUR-UNSUR KEPRIBADIAN: NALURI
Naluri adalah sesuatu keinginan/ dorongan yang memang sejak dilahirkan ke dunia sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Tanpa memiliki naluri/ keinginan/ dorongan, sepertinya setiap makhluk hidup akan mengalami apa yang dinamakan depresai dalam hidup. Hidup akan tidak berarti tanpa memlilki naluri.
Dalam buku Koentjranigrat, para ahli psikologi sependapat bahwa naluri/ keinginan/ dorongan paling sedikit terdiri dari tujuh macam, yaitu
1.Keinginan untuk bertahan hidup
2.Keinginan berhubungan seksual
3.Keinginan untuk mencari makan
4.Keinginan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia
5.Keinginan untuk meniru tingkah laku sesamanya
6.Keinginan untuk mengabdi/ berbakti(religi)
7.Keinginan untuk mendapatkan keindahan(kesenian)
Dari ketujuh macam naluri/ keinginan/ dorongan tersebut, satu bagian saja ada yang kurang, misalnya Si A tidak memiliki keinginan lagi untuk bertahan hidup, maka Si A tersebut tentu akan mati. Dengan demikian, karena Si A tersebut sudah mati misalnya, tentu keinginan-keinginan yang lain tidak akan dapat terpenuhi dan berjalan. Contoh lain misalnya Si B tidak memiliki naluri/ keinginan untuk bergaul dengan manusia lainnya, tentu keinginan-keinginan yang lain tidak akan dapat berjalan seperti keinginan untuk bertahan hidup, keinginan untuk meniru tingkah laku sesamanya dan keinginan-keinginan lainnya, ini disebabkan karena Si B tadi tidak mau bersosialisasi, sedangkan kita tahu setiap makhluk hidup tidak akan dapat bertahan hidup tanpa orang lain.
Jadi, naluri/ keinginan/ dorongan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan makhluk hidup. Dari ketujuh macam naluri yang sudah dikemukakan, satu bagian saja putus, maka yang lain tidak akan dapat berjalan, semuanya saling berhubungan dan saling melengkapi.
By DWI SETIOWATI on Apr 23, 2008 | Reply
Tujuan Ilmu Antropologi
Tujuan ilmu antropologi berkembang bersama dengan perkembangan ilmu antropologi. Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya tentang fase-fase perkembangan ilmu antropologi, yaitu:
1. Fase pertama (sebelum 1800). Ilmu antropologi berupa bahan pengetahuan yang disebut ethnografi. Tujuan dari ethnografi ini sebagai bahan pengetahuan untuk bangsa Eropa untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan dari bangsa di luar wilayah Eropa.
2. Fase kedua (kira-kira pertengahan abad ke-19). Ilmu antropologi berkembang menjadi kumpulan-kumpulan dari ethnografi. Bangsa Eropa menganggap bangsa-bangsa di luar Eropa merupakan evolusi masyarakat yang paling awal atau primitif. Dengan meneliti kebudayaan masyarakat primitif ini maka mereka juga dapat mempelajari peryebaran kebudayaan manusia. Tujuan ilmu antropologi pada fase kedua ini bersifat akademikal, yaitu untuk mempelajari masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa primitif untuk mendapatkan pengertian tentang tingkat-tingkat kuno sejarah evolusi dan sejarah penyebaran kebudayaan manusia.
3. Fase ketiga (permulaan abad ke-20). Permulaan abad ke-20 bangsa-bangsa Eropa mencapai kemantapan dalam penguasaan daerah-daerah di luar wilayah Eropa. Sehingga tujuan ilmu antropologi disini berkembang sebagai ilmu yang bersifat praktis, yaitu mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa di luar Eropa untuk kepentingan pemerintah kolonial dan juga untuk mendapatakan pengertian tentang masyarakat masa kini yang kompleks.
4. Fase keempat (sesudah kira-kira 1930). Ilmu antropologi berkembang di seluruh dunia. Akhirnya tujuan ilmu antropologi berkembang menjadi dua sifat yaitu sifat akademikal dan praktis. Tujuan akademikalnya adalah mempelajari makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari anekawarna fisik, masyarakat dan kebudayaan masyarakat. Tujuan praktisnya adalah mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku bangsa tersebut untuk membangun masyarakatnya.
Opini: tujuan ilmu antropologi menurut saya hanya cara bangsa-bangsa Eropa mengenalkan bahwa mereka adalah bangsa yang paling beradab, berkebudayaan tinggi juga berpengetahuan luas. Sehingga menganggap bangsa lain lebih rendah tingkatnya dari bangsa Eropa.
By Haryani on Apr 23, 2008 | Reply
Judul: The Missing Link
Teka-teki mengenai nenek moyang yang merupakan mata rantai penghubung antara spesies manusia dan simpanse hingga kini masih selalu menjadi perdebatan diantara para ilmuwan. Karena makhluk yang merupakan penghubung antara simpanse dan manusia hingga kini masih belum diketemukan bukti-buktinya berdasarkan logika ilmiah.
Bahkan seiring dengan perkembangan dan kemajuan dibidang paleoantropologi dan geologi, konsepsi mengenai the missing link itu telah berubah. The missing link yang sebelumnya dianggap sebagai mata rantai penghubung antara ras manusia dan simpanse,kini diperkirakan sebagai makhluk induk, yang mana makhluk induk yang terdapat di muka bumi ada lebih dari satu makhluk induk,yang nantinya akan menurunkan percabangan makhluk hidup sesuai dengan jenis induknya.
Terdapat teori baru yang menyatakan bahwa genus Antrolopithecus bukanlah akar ras manusia. Teori ini telah meruntuhkan pohon kekerabatan hominidae, yakni suatu primat besar yang dianggap sebagai akar dari ras manusia dan simpanse.Dari sini jelas bahwa Antrlopithecus dan homo(manusia) tidak muncul pada cabang yang sama.
Melihat gambaran yang dihasilkan oleh catatan dan bukti-bukti fosil, Palaentologis evolusionis telah mengakui, bahwa mereka telah menarik kembali pernyataannya dan telah meninggalkan harapannya untuk dapat menemukan “mata rantai yang hilang” antara spesies manusia dan simpanse.
Bukti tidak adanya suatu penghubung apapun mengenai kekerabatan manusia dan simpanse adalah adanya perbedaan yang amat besar antara Homo Erectus sebagai ras manusia dengan Simpanse.Bukti lainnya yaitu dengan diuji cobakan transplansi ginjal yang dilakukan dari Simpanse ke Manusia untuk beberapa kali oleh Dr.Keith Reemtsma dari Universitas Tulane pada tahun 1963. Namun semua pasiennya meninggal,karena metabolisme Simpanse bekerja lebih cepat dari metabolisme manusia, hal ini menyebabkan sel-sel dalam jaringan ginjal simpanse menyerap air lebih cepat dalam tubuh manusia sebagai penerima organ.
Ini berarti kemunculan manusia pertama-tama dalam catatan fosil, muncul secara tiba-tiba tanpa melalui proses evolusi. Dan nenek moyang lansung manusia masih setia menanti untuk ditemukan.
By niluh on Apr 23, 2008 | Reply
Judul : Masyarakat Indonesia
Masyarakat Indonesia adalah masyarkat majemuk yang terdiri dari beberapa suku bangsa, bahasa, agama, sistem adat, dan sebagainya. Kemajemukan masyarakat indonesia semakin terlihat dengan dimilikinya pulau-pulau yang sangat banyak jumlahnya dan didiami oleh suku-suku dengan bahasa, budaya, serta kepercayaan mereka yang berbeda-bada. Hal ini merupakan aset negara yang tidak ternilai harganya. Masyarakat indonesia terkenal dengan keramahtamahannya sehingga membuat Indonesia dikenal oleh negara lain. Akibatnya banyak kebudayaan luar yang masuk ke Indonesia dan membuat semakin majemuknya masyarakat Indonesia. Kebudayaan tersebut mengalami proses akulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia, sehingga pada akhirnya masyarkat indonesia kurang mengetahui dan mengenal kebudayaan asli daerah masing-masing.
Kemajemukan masyarakt indonesia ini dapat berpengaruh terhadap perkembangan bangsa baik bersifat positifmaupun negatif. Dengan adanya kemajemukan pada masyarkat indonesia, memungkinkan dapat terjadinya perpecahan atau disintegrasi sosial. Jika dibiarkan, maka akan dapat memecah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, di Indonesia dibuat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Hal ini diharapkan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat indonesia serta mencegah terjadinya disintegrasi sosial pada masyarakat indonesia yang letaknya terpencar-pencar di berbagi wilayah di Indonesia.
Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas yang terdiri dari daratan dan lautan serta terbagi-bagi menjadi beberapa propinsi yang jumlahnya selalu mengalami perubahan. Setiap daerah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan daerah lain, sehingga masyarakatnya pun heterogen. Hal ini membuat pemerintah menetapkan peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan masyarakat. Sering kita jumpai masyarakat yang pro dan kontra dengan kebijakan-kebijakan dari pemerintah tersebut.
Persaingan dalam segala aspek kehidupan pun terjadi di dalam masyarakat dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial di masyarakat, karena siapa yang kuat dan cerdas dalam berbagai bidang akan menang serta berada pada strtifikasi sosial atas, sedangkan yang lemah akan berada pada stratifikasi sosial bawah. Masyarakat juga dapat mengalami mobilitas sosial vertikal naik (social climbing) atau mobilitas sosial vertikal turun (social sinking). Hal ini dapat mengganggu proses interaksi sosial masyarakat indonesia. Apalagi pada saat sekarang ini, sering kita lihat terjadi pro dan kontra didalam masyarakat indonesia yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu pendapat yang dimiliki oleh tiap individu masyarakat berbeda-beda. Banyak juga terjadi demo-demo yang menuntut perubahan sistem pemerintahan yang ada , karena masyarakat kecewa dengan kecurangan dan ketidakadilan yang terjadi di negara ini. Terlihat seperti akhir-akhir ini banyak terjadi korupsi dan penurunan dalam bidang ekonomi di negar ini. Dengan adanya masalah-masalah ini, maka perubahan besar banyak terjadi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat indonesia.
By DINA YULINDA on Apr 24, 2008 | Reply
PENGERTIAN ANTROPOLOGI
Sebagai salah satu bidang keilmuan, antropologi sangat berbeda dengan disipklin ilmu yang lain, baik dalam ruang lingkup, pendekatan dan pokok materi. Kehadiran antropologi memberikan kesempatan sekaligus tantangan untuk mempelajari berbagai macam pertanyaan mengenai segala aspek kehidupan manusia. Antropologi memberikan jawaban tentang apa dan siapa manusia itu, meski tidak dapat didefinisikan secara terbatas.
Antrpologi muncul karena rasa ingin tau manusia satu dengan manusia yang lainnya. Rasa ingin tau ini mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan lain keluar daerahnya. Contohnya Bangsa Eropa yang berlayar keluar daerahnya dengan berbagai tujuan. Dari perjalanan tersebut, wawasan kehidupan masyarakat di luar dirinya semakin luas, kemudian akan muncul kesadaran adanya perbedaan antara manusia satu dengan yang lainnya, baik fisik, budaya ataupun tingkat teknologi. Lalu muncullah berbagai macam pertanyaan yang menuntut mereka mempelajari segalanya lebih jauh, dari sinilah lahir ilmu antropologi.
Antropologi memiliki ruang khusus yang sangat perlu kita pahami. Menyimak keragaman etnis atau suku yang ada di Indonesia antropologi sangat perlu kita pahami, agar mampu menumbuhkan rasa persatuan, kesatuan dan cinta tanah air. Untuk mampu memahami itu semua, kita harus benar – benar tahu tentang antropologi mulai pada pengertian antropologi.
Banyak pendapat para ahli tentang pengertian antropologi sesungguhnya. Antropologi berasal dari kata Yunani yaitu Antrhoropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti Ilmu. Dari situ kita bisa melihat secara singkat antropologi ilmu yang mempelajari tentang manusia. Namun, masih banyak definisi – definisi lain yang berbicara mengenai pengertian antropologi. Seperti, Antopologi adalah studi tentang umat manusia secara menyeluruh berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat bagi manusia dan perilakunya. Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia. Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka bentuk fisik, serta yang di hasilkannya. Antropologi adalah suatu cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang masyarakat tertentu.
Dari definisi – defenisi tersebut diatas dapat disusun pengertian sederhana Anatropologi yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keragamana fisik, cara - cara berperilaku, tradisi – tradisi, nilai – nilai yang dihasilkan sehingga tiap manusia satu dengan yang lainnya saling berbeda – beda. Antropologi mencoba menguraikan bagaimana perbedaan dari segi sosial dan budaya, serta memahami persamaan sistim sosial dalam kontek hubungan kemanusiaannya. Antropologi menjadikan manusia sebagai bahan penelitiannya dan memahami penelitian melalui bagian yang sangat luas. Menurut, KOENTJARANINGRAT antropologi berupa suatu ilmu akademikal. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meniliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama ini yang secara tradisional memisahkan antroplogi dari disiplin ilmu kemanusian lainnya yang menekan pada perbandingan atau perbedaan antara kebudayaan antar manusia.
By TRIA SAKTI LIANTI on Apr 24, 2008 | Reply
judul : Ilmu Bantu Antropologi
Antropologi merupakan cabang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat tertentu. Banyak orang berpendapat bahwa para ahli antropologi adalah ilmuan yang hanya tertarik pada peninggalan-peninggalan sejarah (masa lalu). Karena antropologi bekerja menggali sisa kehidupan masa lalu untuk mendpatkan hasil kebudayaannya berupa pecahan guci, peralatan hidup dari batu yang berasal dari lapisan-lapisan bumi dan kemudian mencoba menafsirkan arti dari apa yang ditemukan itu.
Oleh karena itulah antropologi mempunyai ilmu bantu untuk mencoba memberi arti dari penemuan penelitiannya. Ilmu bantu adalah ilmu yang berguna untuk membantu antropologi, ilmu bantu mempunyai hubungan timbal balik dengan antropologi. Menurut koentjaraningrat, ilmu bantu antropologi yang diantaranya :
1. Ilmu geologi
2. Ilmu paleontology
3. Ilmu anatomi
4. Ilmu kesehatan masyarakat
5. Ilmu psikiatri
6. Ilmu linguistic (bahasa/sastra)
7. Ilmu arkeologi
8. Ilmu sejarah
9. Ilmu geografi
10. Ilmu ekonomi
11. Ilmu hokum adat
12. Ilmu administrasi
13. Ilmu politik
Keanekaragaman ras di dunia khusunya di Indonesia, sangat menarik perhatian besar bagi para ahli antropologi untuk menelitinya. Dalam hal ini ilmu bantu anotomi sangat berguna bagi antropologi untuk menganalisis perbedaan dari ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing ras tersebut.
Ketika mempelajari suatu kebudayaan, sebutlah kebudayaan jawa. Dimana ada bahasa jawa yang bertingkat-tingkat itu dapat dijelaskan melaui linguistik (bahasa / sastra) yang lebih mendalami tentang bahasa dan sastra jawa sebagai unsur kebudayaan. Ilmu linguistik menjelaskan bahwa bahasa jawa tersusun berstrata yaitu ngoko, karma, dan karma inggil. Bahasa ngoko digunakan untuk percakapan kepada orang yang sudah akrab atau kepada orang yang lebih muda/rendah derajatnya. Bahasa krama digunakan terhadap orang yang belum akrab (orang yang baru kenal) atau kepada orang yang dihormati semisal kaum bangsawan. Bahasa jawa juga terbagi menjadi dua yaitu bahasa jawa halus dan bahasa jawa kasar. Di dalam masyarakat jawa terdapat bahasa kedaton yang digunakan dilingkungan istana kerajaan (Surakarta, Yogyakarta). Bahasa yang bertingkat-tingkat tersebut menurut ilmu antropologi adalah refleksi dari struktur masyarakat jawa feodalistik sejak dulu kala. Ada sesuatu yang khas dari masyarakat jawa yaitu jamu sebagai obat yang berasal dari ramuan tradisoanal yang dipercaya masyarakatnya dapat mengobati berbagai macam penyakit. Hasil kebudayaan jawa berupa jamu tersebut masuk dalam kajian kesehatan masyarakat.
Ketika kita tertarik pada kajian kebudayaan Banjar, dapat dibantu oleh beberapa ilmu lain misalnya ilmu sejarah yang membahas mengenai suku-suku banjar serta kebudayaannya sejak zaman dulu ketika kerajaan banjar mulai terbentuk hingga munculnya kota Banjarmasin. Sejarah akan membantu menjelaskan latar belakang dan asal usul suku banjar hingga membentuk suatu kebudayaan banjar. Sejarah dapat membantu kajian antropologi budaya. Sejarah akan membantu secara kronologis bagaimana masyarakatnya dapat mempertahankan kebudayaannya hinga sekarang. Selain iu, ilmu arkeologi juga dapat membantu meneliti kebudayaan banjar zaman dulu dengan menggali dan meneliti di daerah pegunungan meratus yang dianggap sebagai pusat kebudayaan tertua di banjar.
Masyarakat banjar sangat dipengaruhi oleh keadaan geografi yang merupakan daerah yang banyak dilewati aliran sungai. Karena itulah masyarakat banjar disebut juga dengan pendukung budaya sungai. Dalam kesehariannya, masyarakat banjar biasa dengan alat transformasi yang disebut “jukung” yang susah ditandangi oleh masyarakat lain. Dalam hal kajian ini antropologi sangat memerlukan bantuan ilmu geografi untuk menjelaskan keadaan geografi sehingga memunculkan hasil budaya berupa peralatan dan teknologi yang khas yaitu “jukung”.
Dari segi geografi tersebut dapat juga dijelaskan pengaruhnya terhadap mata pencaharian penduduk masyarakat banjar yang sebagian besar bermata pencaharian bertani sungai (meiwak). Selain itu masyarakat banjar juga memiliki mata pencaharian berdagang dengan menggunakan jukung yang merupakan perekonomian tradisional banjar yang biasanya terbentuk dalam pasar terapung yang menjadi ciri khas budaya banjar. Disinilah ilmu ekonomi akan membantu antropologi dalam mengkaji system mata pencaharian penduduk secara lebih menyeluruh.
Antropologi pada awalnya memang tertarik pada kebudayaan masa lampau. Mereka ingin tahun tentang asal mula manusia dan perkembangannya, mereka juga mempelajari kebudayaan masyarakat yang masih sederhana yang diawali dengan kebudayaan yang masih primitif. Tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan, antropologi juga berkembang untuk mempelajari pola tingkah-laku manusia baik secara individu maupun berkelompok ditempat umum seperti di tempat hiburan (mall), rumah sakit, dan ditempat bisnis modern lainnya. Para ahli antropologi juga tertarik untuk mengkaji bentuk lembaga pemerintahan atau Negara maju yang ada sekarang ini sama tertariknya ketika para ahli antropologi mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau yang masih terdapat didaerah pedalaman yang masih tradisional. Antropologi mempelajari semua makhluk manusia yang pernah hidup pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ada.
By haryani on Apr 24, 2008 | Reply
tambahan untuk judul the missing link
>>disadur dari tulisan harun yahya dalam buku menjawab tuntas polemik evolusi,dari buku induk yang berjudul keruntuhan teori evolusi
By DIAH EKA RINI on Apr 24, 2008 | Reply
MAHLUK MANUSIA TERTUA DI INDONESIA
Manusia dapat dilihat dari dua sisi yaitu sebagai individu yang mana dapat berdiri sendiri, serta memiliki kemampun dan kebutuhan tersendiri juga. Manusia terdiri dari kesatuan jasmani dan rohani. Yang khas secara jasmani manusia mempunyai ketinggian, berat badan, bentuk hidung, kepala, mulut, mata, dan postur tubuh yang berbeda satu sama lain bahkan yang kembar sekalipun. Sedangkan secara rohaniah manusia mempunyai tingkat kecerdasan, bakat, keinginan, dan tingkat pemahaman yang berbeda. Walaupun setiap manusia berbeda namun pada hakikatnya manusia sebagai individu mempunyai naluri yang sama yaitu naluri untuk mempetahankan hidup, meneruskan keturunan, serta mempunyai rasa ingin tahu dan terus mencari kepuasan.
Maka dari itu banyak hal yang bisa dilakukan untuk lebih bisa memahami siapa dan bagaimana mnusia itu sebenarnya. Namun sebelum jauh sampai ke sana hendaknya kita terlebih dahulu mengenal siapa sebenarnya nenek moyang kita, bagaimana bentuknya, dan seberapa cerdas mereka. Inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi sebagian orang namun kita akan mencoba mencari jawabannya.
Bumi kita Indonesia ini telah banyak sekali memberi sumbangan kepada dunia ilmu pengetahuan dalam pemecahan masalah asal mula manusia karena dalam hasil temuan para arkeolog terdapat bekas-bekas manusia tertua.
Adapun jenis fosil yang di temukan di Indonesia sebagai berkut :
a. jenis pithecanthropus
ada tiga jenis pithecanthropus yang di temukan di Indonesia yaitu:
1. pithecanthropus erectus
Fosil ini ditemukan oleh Eugene dubois pada tahun 1890, di daerah Trinil, lembah sungai bengawan solo. Fosil ini di namakan pithecanthropus erectus karena yang artinya manusia kera yang sudah berdiri tegak.
2.pithecanthropus mojokertensis dan pithecanthropus robustus
Kedua fosil ini di temukan oleh Von koenigswald, pada tahun 1936, di Mojokerto, Jawa Timur. Perlu di ketahui fosil jenis pithecanthropus ditemukan pada lapisan pleistosen bawah.
Adapun ciri-ciri dari fosil pithecanthropus adalah :
- tinggi badan sekitar 165-180 cm.
- volume otak berkisar antara 750-1350 cc.
- bentuk tubuh dan anggota badan tegap.
- alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat, bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat dan bentuk tonjolan kening tebal.
- Bentuk hidung tebal.
- Bagian belakang kepala tampak menonjol.
b.jenis Meganthropus
fosil jenis ini di temukan oleh Von koenigswald, pada tahun 1941. daerah penemuannya adalah di Desa Sangiran, lembah sungai Bengawan solo. Meghanthropus merupakan jenis manusia purba yang paling tua. Fosil ini menyerupai manusia raksasa karena ukurannya sangat besar dan tinggi. Oleh karena itu, fosil tersebut kemudian dinamakan meghanthropus paleojavanicus {manusia raksasa tertua dari jawa}.
Dan cirri-ciri dari fosil meganthropus adalah :
- memiliki tulang pipi yang besar.
- memiliki otot kunyah yang kuat.
- -memiliki tonjolan belakang yang tajam.
- tidak memiliki dagu.
- memiliki perawakan yang tegap.
- memakan jenis tumbuhan.
c. jenis Homo Sapiens
fosil homo sapiens adalah fosil manusia yang berfikir, dan ada 2 fosil yang ditemukan di Indonesia, yaitu :
1} Homo Soloensis
Fosil ini ditemukan oleh Teer Narr Oppenoorth dan Von Koenigswald, antara tahun 1931-1934. di Desa Ngandong, lembah sungai bengawan solo.
2} Homo Wajakensis
fosil ini di temukan oleh E.Dubois, pada tahun 1889, di daerah wajak, Tulung Agung, Jawa Timur. Fosil ini sangat berbeda dengan cirri-ciri manusia Indonesia sekarang, namun sangat mirip dengan tengkorak bangsa asli Australia (aborigin).
Ciri-ciri dari fosil Homo Sapiens adalah:
- otot tengkuk mengalami penyusutan .
- muka tidak menonjol ke depan.
- gigi kecil, dahi membulat, dan sudah terdapat dagu.
- berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna. - manusia homo sapiens hampir serupa dengan manusia modern, yaitu volume otaknya antara 1000-1200 cc.
- tinggi badan antara 130-210 cm.
Dan yang hebatnya manusia jenis ini mempunyai kemampuan membuat peralatan dari tulang dan batu dengan cara yang sederhana. Fosil homo sapiens ini ditemukan di lapisan pleitosen atas. Seperti yang kita ketahui para manusia yang hidup pada zaman di atas, kehidupannya tidaklah sehebat dan semodern kita, masyarakat pada masa ini hidup secara berkelompok , berpindah –pindah tempat menyesuaikan dengan alam dan ketersediaan makanan. Namun di duga manusia jenis Pithecanthropus mulai mengalami kemajuan kebudayaan. Mereka bisa membuat alat-alat keperluan hidup, seperti kapak perimbas, kapak genggam dan lain-lain. Dan kemajuan itu terus berkembang hingga akhirnya bisa hidup menetap di gua-gua, dari hanya bisa beruru dan meramu akhirnya bisa berkembang menjadi bercocok tanam tahap awal dan tigkat lanjut.
Hingga akhirnya sampai sekarang menjadi suatu bangsa yaitu bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dan berbagai macam kebudayaan.
Dengan mengetahui siap nenek moyang kita , maka kita akan mengerti bahwa kebudayaan manusia berkembang pesat hingga sekarang ini membutuhkan proses dan waktu yang sangat lama. Dan dengan kemajuan pemikiran serta kebudayaannya manusia dapat menjadi mahluk yang paling berkuasa dan yang berkembang biak paling pesat di muka bumi ini.
By AbduL Rahman S on Apr 24, 2008 | Reply
PRANATA SOSIAL
Manusia melaksanakan banyak tindakan interaksi antar individu dalam rangka kehidupan masyarakat. Di antara semua tindakannya yang berpola tadi perlu diadakan perbedaan antara tindakan-tindakan yang dilaksanakan menurut pola-pola yang tidak resmi . sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakt itu untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi, dalam ilmu Sosiologi dan Antrapologi disebut pranata, atau dalam bahasa Inggris Institution.
Konsep Pranata telah lama berkembang dan dipergunakan dalam ilmu sosiologi, dan merupakan suatu konsep dasar yang diuraikan panjang lebar dalam semua kitab pelajaran mengenai ilmu itu. Sebaliknya dalam ilmu Anropologi konsep pranata kurang digunakan. Para ahli Antropologi lebih suka menggunakan konsep unsur kebudayaan untuk menganalisa aktivitas-aktivitas manusia dalam masyarakat yang mereka pelajari.
Berdasarkan atas fungsi dari pranata-pranata untuk memenuhi keperluan hidup manusia sebagai warga negara masyarakat memberikan kepada kita sekedar pengertian mengenai jumlah dari berbagai macam pranata yang ada dalam suatu masyarakat yang besar dan kompleks.
Pranata dapat diklasifikasikan dalam golongan yaitu:
1.Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan kekerabatan yaiu yang sering disebut Kinship.
2.Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan manusia untuk mata pencaharian hidup, memperoduksi, menimbun, menyimpan, mendistribusi hasi produksi dan harta.
3.Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan penerangan dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyarakat yang berguna.
4.Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan ilmiah manusia, melayani alam semesta sekelilingnya
5. Pranata-pranata yang befunsi memenuhi kepruan manusia unuk menghayatkan rasa keindahan dan rekreasi.
Penggolongan tersebut tentu tidak lengkap karena idak mencakup segala macam pranata yang mungkin ada dalam masyarakat indonesia. Feodalism sebagai suatu sistem hubungan antara pemilik tanah dan penggarap tanah, yang pada hakekatnya mengakibatkan suatu produksi dari hasil bumi, misalnya dapat dianggap suatu pranata ekonomi, tetapi sebagai suatu sistem hubungan antara pihak rakyat sebagai dasar suatu negara dapat dianggaap suatu pranata politik.
Disamping itu juga dalam suatu masyarakat banyak pula pranata yang tidak khusus tumbuh dari dalam, yaitu adat istiadat suatu masyarakat, melainkan yang dengan tak sadar maupun rencana diambil dari masyarakat lain. Jumlah pranata dalam suatu masyarakat selalu bertambah, tertutama dalam masyarakat yang sedang berkembang, dan karena itu dalam keadaan transisi dari masyarakat agraria ke masyarakat industri. Dalam masyarakat indonesia yang merupakan contoh dari masyarakat itu, berkali-kali harus berkembang dan di kembangkan pranata-pranata baru untuk memenuhi keperluan kehidupan masyarakat yang semakin hari menjadi semakin kompleks.
Di dalam seksi di atas telah kita pelajari bahwa pranata-pranata dalam suatu masyarakat terdiri dari suatu komplek tindakan berinteraksi yang menyebabkan terwujudnya ploa-pola sosial dalam masyarakat. Dalam ilmu antropolgi dan ilmu-ilmu sosial yang lain, peranan di beri arti yang lebih khusus, yaitu peranan yang khas yang di pentaskan atau di tindakan oleh individu dalam kedudukan di mana ia berhadapan dengan individi-individu dalam kedudukan-kedudukan lain.
Dengan demikian konsep kedudukan ( status ) itu menjadi unsur penting dalam suatu usaha kita untuk menganalisa mayarakat. Dalam rangka kedudukan dalam sautu masyarakat pranata itulah para indiidu warga masyarakat bertindak menurut norma-norma khusus dari pranata bersangkutan, bahkan menurut normq-norma khusus dari kedudukan khusus dalam pranta itu.
By Akhmad fauji on Apr 25, 2008 | Reply
3.3 UNSUR-UNSUR KEPRIBADIAN :PERASAAN
Manusia merupakn makhluk paling sempurna yang telah diciptakan oleh tuhan,dibandingkan dengan makhluk lainnya.Karena manusia diciptakan tuhan disertai dengan akal dan perasaan.Manusia akan selalu berkembang dengan akal dan perasaan yang dimilikinya.Namun,menurut Koentjaraningrat:susunan unsur-unsur akal dan jiwa itulah yang menyebabkan dan menentukan perbedaan tingkahlaku atau tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu.Inilah yang disebut dengan “kepribadian”atau personality.
Persaan merupakan suatu unsur dari kepribadian yang dimiliki oleh manusia.Perasaan yang dimiliki oleh manusia terdiri dari berbagai macam perasaan.Namun perasaan yang dimiliki oleh manisia juga bisa terjadi setiap saat dalam hidupnya.Menurut Koentjaraningrat:perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif atau negatif.Jadi perasaan yang dimiliki oleh manisia itu yang dipengaruhi oleh pengetahuannya akan terbentuk dalam suatu bentuk nilai yaitu positif dan negatif.
Misalkan ketika seseorang melihat siaran televisi yang menceritakan tentang kehidupan artis yang penuh kemewahan,penghasilan yang besar,serta dikenal dan diedolakan banyak orang,maka persepsi itu menyebabkan terbayang olehnya suatu gambaran betapanikmatnya jadi artis.Kemudian gambaran itu dihubungkan oleh akal dan pengetahuan yang dimilikinya,dan terbentuklah suatu gambaran lain menjadi suatu apersepsi tentang seandainya dia sendiri yang menjadi artis,yang seakan-akan dirasakannya sebagai suatu kenyataan,seingga ia pun tersenyum dengan sendirinya.Apersepsi seorang individu tadi menimbulkan dalam kesadarannya suatu perasaan yang positif,yaitu perasaan betapa nikmatnya menjadi artis.
Begitupun sebaliknya,kita dapat menggambarkan ketika seorang individu yang meliha suatu hal yang buruk dan tidak menyenangkan,mencium bau busuk,dan sebagainya.Persepsi tersebut dapat menimbulkan dalam kesadaran seorang individu tersebut menjadi perasaan yang bernilai negatif,karena dalam kesadaran dan pengetahuan yang dimilikinya waktu dulu,maka terkenang lagi bagaimana kita menjadi muak ketika melihat sesuatu hal yang tidk kita sukai.Apersepsi ini mungkin dapat menyebabkan kita benar-benar merasa muak apabila kita melihat kembali hal yang tidak kita sukai tadi.Dan apabila kemuakan atau kebencian terhadap sesuatu benda atau hal menjadi sangat besar dan membludak,serta selalu terkenang maka dapat menyebabkan seseorang menjadi pobia.Pobia yaitu perasaan kebencian atau kemuakan yang berlebihan terhadap sesuatu hal atau benda sehingga menyebabkan menjadi rasa takut yang berlebihan.
Sutu perasan yang selalu bersifat sobjektif karena adanya penilaian positif dan negatif tadi,maka biasanya akan menimbulkan suatu kehendak dalam kesadaran tiap individu.Kehendak itu berupa hal yang positif,yaitu setiap individu selalu ingin mendapatkan hal-hal yang memberikan kenikmatan baginya.Danjuga hal yang negatif,yaitu setiap individu selalu ingin menghindari hal-hal yang membawa keburukan baginya.
Suatu kehendak juga bisa menjadi sangat keras,hal ini sering terjadi apabila hal yang dikehendaki itu tidak mudah diperoleh,atau sebaliknya.Demikianlah perasaanyang dimiliki manusia,misalkan seperti yang terjadi sekarang banyak para ilmuan yang ingin pergi ke bulan,planet-planet lain yang susah untuk dicapai,maka dikembangkan lah pengetahuan dan temuan-temuan tentang hal tersebut,untuk mewujudkan kehendaknya.Karena setiap manusia itu juga mempunyai perasaan yang tidak pernah puas dan selalu ingin mendapatkan hal yang lebih.
Apabila keinginan yang masih atau tidak mungkin didapatkan,maka dapat digambarkan oleh manusia dalam bentuk khayalan atau fantasi,dengan khayalan dan fantasi ini manusia dapat merasakan dan menikmati hal apasaja yang diinginkannya.Suatu keinginan dapat pula menjadi lebih besar lagi dan sangat besar.Hal ini terjadi apabila seseorang yang merasakan penasaran karena tidak dapat memperoleh hal yang diinginkannya,bisa sangat bernapsu untuk mendapatkannya,kalau perlu dengan melakukan hal apapun.Perasaan yang seperti ini menurut Koentjaraningrat disebut dengan “emosi”.
By SRI WAHYU ASTUTI on Apr 26, 2008 | Reply
ILMU-ILMU BAGIAN ANTROPOLOGI
Ilmu Atropologi adalah suatu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya, masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang – orang Eropa yang melihat ciri – ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa ang di kenal Eropa. Dalam pengkajiannya lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyrakat tunggal, tunggal dalam artian kesatuan masyarakat yang tinggal pada daerah yang sama, selain itu antropologi mempelajari manusia sebagai mahluk biologis sekaligus mahluk sosial. Ilmu antropologi mirip dengan ilmu sosiologi tetapi pada ilmu sosiologi lebih memusatkan padamasyarakat dan kehidupan sosialnya (dari Wikipedia). Sebagai sebuah ilmu, antropologi juga mengalami tahapan – tahapan dalam perkembangannya. Yang mana dalam perkembangannya yang paling luas, ruang lingkup dan batas lapangan perhatiannya yang luas menyebabkan adanya masalah – masalah penelitian khusus. Sehingga membutuhkan ahli – ahli dengan kejuruan – kejuruan yang khusus( menurut Koentjaraningrat). Berhubungan dengan pengkhususan tersebut Ilmu Antopologi mengenala juga ilmu – ilmu bagian Antropologi yaitu :
1. Paleo-antropologi
2. Antrplogi Fisik
3. Etnolinguistik
4. Prehistori
5. Etnologi.
Paleo-antropologi dan Antrplogi Fisik
Disebut sebagai Antropologi biologi sedangkan Etnolinguistik, Prehistori, Etnologi disebut sebagai Antropologi budaya.
1. Paleo-antropologi adalah ilmu manusia purba yang menyelidiki evolusi manusia sejak awal sejarahnya hingga manusia Zama Logam. Dalam arti luas ia meliputi pendahulu manusia dan manusia modern dari beberapa abad yang lal. Dalam arti yang lebih sempit ia hanya mencakup manusia, fossil. Selain itu Paleo-antropologi adalah ilmu bagian yang meneliti soal asal – usul atau asal terjadinya dan evolusi mahluk manusia dengan mempergunakan sebagai bahan penelitian sisa – sisa tubuh yang telah membatu, atau fossil – fossil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan – lapisa bumi yang harus didapat oleh peneliti dengan berbagai metode penelitian.
Penemuan – penemuan dalam genetika pasti akan memepengaruhi teori evolusi. Metode baru dalam fisika, kimia , biologi akan memperkaya, mempertepat dan memantapkan penelitian Paleo-antropologi, selnjutnya konsep – kosep baru dalam etnologi, psikologi, linguistik dan ekologi sangat berpengaruh. Menyelidiki evolusi manusia berarti mempelajari variasi biologis manusia dalam waktu dan ruang beserta sebab – sebabnya dan prosesnya. Variasi kultural di masa lampau di pelajari oleh arkeologi, tetapi keduanya tidak mudah dapat dipecahkan, kerena budaya juga memepengaruhi biologi. Seperti biologi mempengaruhi budaya. Yang di pelajari dalam Paleo-antropologi adalah sisa manusia, berupa bagian keras biasanya tulang belulang yang menjadi fossil atau sub fossil termasuk gigi geligi. Kadang dapat berupa jejak kaki yang memfossil atau membatu. Sisa manusia yang d temukan itu berupa sample yang kemudian di rekunstruksi untuk mengetahui biologisnya dan kalau mungkin aspek biokulturalnya dan ekologinya, makin purba suatu peninggalan makin mudah di pahami. Tujuan Paleo-antropologi adalah mengetahui kehidupan biokultural manusia sejak manusia muncul di bumi, evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya. Selama dan seluas mungkin dengan demikian kita dapat mengetahui mengapa manusia sekarang seperti yang kita lihat keadaanya dan bagaimana kira – kira masa depannya (menurut Prof. Dr. T. Jacob)..
2. Antropologi Fisik merupakan bagian Ilmu Antropologi yang tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk di dalammya mempelajari gen – gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia. Mereka melihat perkembangan mahluk manusia itu mulai ada di bumi sampai manusia yang ada sekarang ini(dari ensiklopedia). Manusia di muak bumi ini dapat di golongkan kedalam beberapa golongan tertentu berdasarkan atas persamaan mengenai beberapa ciri tubuh (menurut Koentjaraningrat), selain itu bisa juga dikatakan sebagai ilmu yang mempelajari keberagaman ras manusia dengna mengamati ciri-ciri fisik( dari organisasi perpustakaan pusat).
3. Etnolinguistik adalah ilmu yang mempelajari suku-suku bangsa yang ada di dunia / bumi(dari organisasi perpustakaan pusat). Dalam arti lain Etnolinguistik merupakan ilmu bagian yang pada awal mulanya bersangkutan erat denga ilmu antropologi yang mana dalam penelitiannya yang berupa daftar – daftar kata, pelukisan tentang ciri dan tata bahasa dari beratus – ratus suku bangsa yang tersebar di muka bumi ini(menurut Koentjaraningrat).
4. Prehistori adalah ilmu yang mempelajari sejarah penyebaran dan perkembangan budaya manusia sebelum mengenal tulisan(dari organisasi perpustakaan pusat). Sub ilmua prehistori sering juga dinamakan ilmu arkeologi, namun dalam arti sebenrnya arkeologi adalah sejarah kebudayaan dari zaman prehistori di Indonesia, di teruskan sampai pada masa jatuhnya negara – negara Indonesia- Hindu. Ilmu prehistori di indonesia merupakan suatu ilmu yang sangat muda dan sebenarnya baru mulai pada tahun 1920an(menurut Koentjaraningrat).
5. Etnologi adalah ilmu yang mempelajari asas kebudayaan manusia di dalam kehidupan masyarakat suku bangsa di seluruh dunia ( dari organisasi perpustakaan pusat). Akhir – akhir ini telah berkembang dua aliran sub ilmu Etnologi yaitu Descriptive Integration dan Generalizing approach(antropologi sosial). Descriptive Integration yaitu merupakan mengolah dan mengintegrasikan menjadi suatu hasil – hasil penelitian dari sub – sub ilmu antropologi fisik, etnolingustik, prehisrotidan etnografi. Generalizing approach(antropologi sosial) mencari azas persamaan di belakang aneka warna dalam beribu – ribu masyarakat dari kelompok – kelompok manusia di muka bumi ini(menurut Koentjaraningrat).
Sejak setengah abad yang lalu talah berkembang suatu ilmu bagian yang baru yaitu ilmu etnopsikologi adalah ilmu yang mempelajari kepribadian bangsa serta peranan individu pada bangsa dalam proses perubahan adat istiadat dan nilai universal dengan berpegang pada konsep psikologi( dari organisasi perpustakaan pusat). Kompleks studi – studi antropologi yang menggunakan ilmu psikologi ini sekarang di anggap sebagai suatu sub ilmu atau spesialisasi tersendiri dalam rangka Ilmu spesialisasi. Seorang ahli antropologi memulai meneliti dengan metode – metode Antropologi, gejala – gejala ekonomi pedesaan, penghimpunana modal, pengaruh tenaga, sistem produksi dan pemasaran lokal dari hasil pertanian dan perikanan di Oseania dan Malaysia, yang mana telah menimbulkan spesialisasi Antropologi. Adapun spesialisasi Antropologi tersebut adalah :
1. Antropologi Ekonomi
2. Antropologi pembangunan
3. Antropologi pendidikan
4. Antropologi penduduk
5. Antropologi politik
6. Antropologi kesehatan jiwa.
By Hamidah ulfah on Apr 26, 2008 | Reply
TEORI EVOLUSI
Evolusi pada dasarnya bearti proses perubahan dalam waktu tertentu, sedangkan dalam konteks biologi, Evolusi bearti perubahan kecepatan gen dalam suatu populasi sehingga dalam perubahan gen ini menyebabkan perubahan pada suatu makhluk hidup.Teori evolusi selalu dikaitkan dengan Charles Darwin, padahal selain Charles Darwin sudah banyak para ilmuan lain yang melakukan berbagai macam percobaan ilmiah.
Tokoh-tokoh evolusi itu adalah sebagai berikut:
1. Carolus Linnaeus, penggagas sistem pengelompokkan biologi modern yang menunjukkan bahwa semua makhluk hidup didunia ini jika digambarkan seperti diagaram atau bentuk tingkatan menyerupai silsilah.
2. Jean Baptiste de Lamarck, seorang ilmuan dari Perancis yang mengusulkan ide-iedenya tentang makhluk hidup yang mengalami perubahan bersamaan dengan berjalannya waktu sebagai pengaruh dari lingkungannya.
3. Gregor Mendel, seorang pendeta dan ilmuan yang berasal dari Ceko, mempelajari ilmu keturunan atau genetika.
4. Charles Darwin, seorang ilmuan dari Inggris yang melakukan pelayaran dengan kapal HMS Beagle untuk membuat peta pelabuhan dunia ditahun 1831, ketika selama perjalanannya ia banyak menjumpai berbagai jenis species hewan dan tumbuhan.
5. Alfred Russel Wallace, seorang ilmuan yang berasal dari Inggris dan masa hidupnya sama dengan Charles Darwin.Menurut Wallace, teori evolusi adalah hasil dari pemikiran yang timbul secara metodis dalam waktu yang sangat lama.Namun entah kenapa justru teori Darwinlah yang menjadi terkenal dan masih hangat diperbincangkan orang.
Charles Darwin menjadi terkenal karena untuk pertama kalinya menerbitkan buku yang berjudul” On the Origin of species by means of natural selection”, yang didalamnya menjelaskan tentang penyajian-penyajian bukti yang menunjukkan bahwa kehidupan sekarang ini telah berevolusi sepanjang sejarahnya dan dasar dari evolusi tersebut adalah seleksi alam. Didalam evolusi waktu adalah faktor terpenting, karena dalam evolusi memerlukan waktu yang sangat lama.
Teori Evolusi menyatakan makhluk hidup yang ada dimuka bumi saat ini tercipta karena faktor kebetulan, dalam pernyataan itu terlihat jelas bahwa teori evolusi bukanlah sebuah fakta ilmiah, tetapi sebagian pandangan hidup materialisme yang mungkin dengan sengaja dimasukkan kedalam masyarakat oleh kaum Darwinisme.
Pada dasarnya teori evolusi ini dibuat sebagai bukti keabsahannya yang dihadirkan ketengah pemahaman secara ilmiah dari abad 19, dimana pada waktu itu masih terkebelakang. Tetapi sebaliknya teori evolusi sampai sekarang belum mampu membuktikan keabsahan dari teori mereka dan selalu berusaha gar teori evolusi ini tetap hidup dan berkembang sampai kapan pun.
Padahal sudah jelas para evolusionis itu hanya mengandalkan khayalan seperti dalam membuat berbagai macam bentuk tulisan-tulisan yang dalam pembuatannya hanya berdasarkan pada pengamatan yang penuh dengan perkiraan. Kini berbagai cabang ilmu pengetahuan tidak hanya bidang biologi saja yang mempelajari teori evolusi, tetapi bidang lainnya seperti bidang paleontologi, biokimia, fisika dan lainnya juga menyangkal bahwa semua makhluk hidup didunia ini muncul kepermukaan bumi karena kebetulan atau muncul secara alamiah.
Hal ini tentu tidak masuk diakal sebagai contohnya sel hidup yang pernah ditemukan oleh manusia, tidak mungkin sel hidup yang memiliki susunan dan sistem yang jauh lebih kompleks dari kota-kota besar yang bertebaran sekarang ini hanya dapat berfungsi apabila masing-masing bagian dari sel hidup itu muncul secara bersamaan dan dalam keadaan yang sudah berfungsi sebelumnya.Jika tidak mungkin rangkaian dari penyusun sel itu tumbuh berkembang secara kebetulan yang sangat lama.
Hal ini sudah jelas sekali bahwa Tuhanlah pencipta dari mahkluk hidup dan segala isinya yang ada dimuka bumi ini. Singkat kata para evolusionis sudah tidak memakai akal sehat dan nalar bahkan dalam setiap kesempatan justru omongkosong yang diperpertahankan walaupun bukti ilmiah sudah jelas menghancurkan teori evolusionis tersebut.
Kesimpulannya: Ilmu pengetahuan modern mengungkapkan fakta yang tidak dapat disangkal seperti: kemunculan makhluk hidup bukanlah faktor kebetulan melainkan makhluk hidup hasil ciptaan Tuhan.
By sutri ira marisa A1A107210 on Apr 26, 2008 | Reply
Komentar saya yang di atas. hanya lupa mencantumkan Nim.
By Septha on Apr 27, 2008 | Reply
Metode Ilmiah Antropologi
Dalam sebuah kajian Ilmu pengetahunan, penulisannya sangat tergantung dengan metode ilmiah yang di gunakannya. Karena metode ilmiah yang di gunakan menentukan keberhasilan suatu kajian ilmu tersebut dalam mencapai hasil yang di inginkan. Tidak terkecuali dengan kajian Antropologi yang mempunyai pengalaman yang lama dalam meneliti kebudayaan-kebudayaan hampir suku-suku bangsa yang ada di bumi ini.
Menurut Koentjaraningrat pada kajian Antropologi terdapat tahap-tahap dalam metode ilmiahnya, yaitu:
1. Pengumpulan fakta (Etnografi)
2. Penentuan ciri-ciri umum dan system.
3. Verifikasi.
Metode pengumpulan fakta tergantung pada sang peneliti dalam penerapannya, apakah dia ingin melakukan observasi langsung, atau hanya studi pustaka. Akan tetapi yang lazim di lakukan oleh peneliti Antropologi adalah melakukan penelitian langsung turun kelapangan (Observasi), dengan turut langsung merasakan gejala-gejala yang timbul dalam suatu masyarakat dan kebudayaannya. Metode yang digunakan dalam Observasi ini juga bermacam-macam dalam pengumpulan data di antarannya dengan metode wawancara. Metode tersebut bersifat kualitatif, dan membutuhkan waktu yang cukup lama karena tujuan penelitiannya adalah bersifat penemuan.
Metode wawancara biasanya digunakan dalam penelitian yang besifat intensif dan jumlah penduduk yang diteliti tidak lebih dari 3000 jiwa. Metode wawancara ini sendiri bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi. Proses wawancara yang dilakukan dicatat dan hasilnya disebut dengan Field Notes. Field notes tersebut kemudian dikumpulkan untuk dibuat tulisan/di bukukan agar lebih mudah dipelajari dan dipahami oleh orang lain yang ingin menerapkan hasil dari tulisan tersebut dalam penelitian yang lain tapi dengan objek yang sama.
Penentuan ciri-ciri umum dan system merupakan tahapan dalam proses berpikir ilmiah secara Induktif. Dalam menentukan ciri-ciri umum di antara fakta masyarakat yang telah dikumpulkan data-datanya biasanya menggunakan metode perbandingan (komperatif). Adapun langkah yang penting di lakukan adalah dengan mengadakan pengklasifikasian terhadap data-data yang sudah ada, dan kemudian mencari perbedaan pokoknya saja. Hal ini dilakukan karena sifat manusia yang dinamis, antara manusia satu dan yang lainnya juga mempunyai perangai dan penguasaan ilmu pengetahuan yang berbeda-beda. Di lain pihak Antropologi juga tidak dapat merumuskan fakta-fakta yang ada secara subyektif, ilmu Antropologi sebagian besar dari pengetahuannya bersifat “pengertian” mengenai kehidupan masyarakat beserta budaya yang dianutnya. Sedangkan yang dapat dirumuskan dalam penentuan ciri-ciri umum hanya kaidah-kaidah yang terkandung dalam data-data yang ada.
Verifikasi merupakan tahapan dalam proses berpikir ilmiah secara Deduktif, yang mana dari kaidah-kaidah yang telah di rumuskan secara umum di arahkan kembali ke fakta-fakta yang khusus. Dalam verifikasi metode yang lazim di gunakan adalah metode Kualitatif. Menurut Koentjaraningrat metode kualitatif mencoba untuk menyampaikan pengertian yang telah dicapai dalam kenyataan pada masyarakat yang ada dengan cara yang khusus dan mendalam. Verifikasi sendiri menguji kaidah-kaidah yang telah di rumuskan dalam kenyataan alam atau dalam kelompok masyarakat, karena Antropologi mengandung pengetahuan berdasarkan “pengertian” daripada berdasarkan kaidah-kaidah.
By Rista budi asih(A1A107237) on Apr 27, 2008 | Reply
Nama : Rista Budi Asih
NIM : A1A107237
Wawasan nusantara dari segi budaya
Kesadaran akan ragam budaya sebenarnya sudah muncul sejak negara republic indonesia terbentuk, pada masa ovde baru. Kesadaran tersebut dipendam atas nama kesatuan dan persatuan. Masyarakat Indonesia sering tersesat pada salah menilai tentang keberagaman budaya atau multikultur. Ada yang salah mengartikan multikultur sebagai batasan identitas antar individu bahkan ada yang mempermasalahkan asli atau tidak aslinya suatu budaya sesuai dengan tempat asalnya.
Keberagaman di Indonesia sudah lama ada tetapi multikultur adalah soal bagaimana memahami kebudayaan itu sendiri dan macam perbedaan bukan hal yang menyenangkan. Orang-orang tidak perlu menjadi asli untuk bisa mencintai Indonesia tetapi solidaritas dan toleransi serta keterbukaan sebenarnya sudah ditampilkan tanpa gagasan ragam budaya.
Ragam budaya menurut saya memegang peranan penting bagi bangsa Indonesia karena bagaimana mewjudkan agar budaya Indonesia pada hakekatnya adalah salah satu, sedangkan ragam corak budaya yang ada menggambarkan kekayaan budaya Indonesia yang menjadi model dan pandangan pengembangan budaya Indonesia seluruhnya yang hasilnya dapat dinikmati oleh bangsa-bangsa lain atau bangsa sendiri.
Perlu ditambahkan keadaan/kondisi kebudayaan di Indonesia sekarang ini sangat memprihatinkan misalnya saja. Banyak kebudayaan kita yang diambil Negara lain contohnya : reog, Angklung, Lagu daerah dll. Hal itu bisa terjadi dikarenakankurangnya sosialisasi pemerintah terhadap kebudayaan sandiri. Serta rakyat Indonesia pun sebagian besar lebih meniru kebudayaan luar misalnya : cara bicara (mencampurkan bahasa Indonesia dengan bahasa asing), dan sebagainya. Tetapi tidak menutup kemungkinan kebudayaan Indonesia pun bisa masuk ke bangsa asing misalnya saja : seni wayang kulit/seni tari telah masuk kenegara Amerika, kuliner Indonesia pun sudah dikenal.
Kesimpulan saya agar ragam budaya tetap terjaga keasliannya dan buat beragam budaya Indonesia tidak hilang karena perkembangan zaman yang modern saat ini, untuk itu kita tetap harus menanamkan kecintaan terhadap kebudayaan sendiri. Melestarikannya dan menjaganya. Peran pemerintah pun harus aktif dalam mengsosialisasikan kebudayaan yang sudah ada agar menyaring kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia serta peran masyarakat pun harus tetap menjalankan lebih banyak pertunjukan kebudayaan tiap untuk daerah agar semua kalangan dapat mengetahuinya.
By Fauzi Rahmat(A1A107220) on Apr 27, 2008 | Reply
Nama : Fauzi Rahmat
NIM : A1A107220
Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara yang merupakan cara pandang bangsa Indonesia dan meliputi beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara dalam mencapai tujuan pembangunan nasional yaitu kesatuan politik, kesatuan ekonomi, kesatuan social budaya, dan kesatuan pertahanan keamanan.
Arti dari wawasan nusantara adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungan sekitar berdasarkan ide nasionalnya yang belandaskan pancasila dan UUD 1945 (undang-undang dasar 1945) yang merupakan operasi bengsa Indonesia yang merdeka, berdaulat, bermatabat serta menjiwai tata hidup dalam mencapai perjuangan nasional dari beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara yaitu politik, ekonomi, social budaya, dan ketahanan keamanan kita bisa lihat betapa pentingnya ketempat aspek tersebut untuk pembangunan nasiona. Misalnya dari segi politik banyaknya orang-orang atau masyarakat yang ikut beroganisasi untuk membantu pembangunan nasional, sari segi ekonomi banyaknya hasil kekayaan alam yang hasil kekayaannya digunakan untuk penghasilan atau devisa Negara, dari segi social budaya, banyaknya budaya-budaya yang memiliki oleh bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh Negara lain, dan dari segi ketahanan keamanan banyaknya tentara atau polisi yang telah dilengkapi senjata canggih untuk melindungi Negara ini dengan segenap jiwa raga mereka.
Kesimpulan saya dari semua itu, wawasan nusantara yang memiliki beberapa ruang lingkup atau cakapan yang sangat untuk pembangunan nasional, jika salah satu dari cakupan itu hilang atau tidak dijalankan maka pembangunan nasional tidak akan berjalan lancar bahkan mungkin pembangunan nasional tidak pernah tercapai.
By KAMSINAH on Apr 27, 2008 | Reply
EVOLUSI MANUSIA
Manusia diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai hoo sapiens(bahasa latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, merekadijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi dimana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga sering kali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu dan perubahan secara bertahap. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam satu populasi.
By wiwik listianik (A1A107230) on Apr 27, 2008 | Reply
Nama : Wiwik Listianik
Nim : A1A107230
WAWASAN NUSANTARA
“ Wawasan dan Nusantara” dua kata yang sudah tidak asing lagi kita dengar atau kita baca dalam tulisan-tulasan. wawasan itu sendiri adalah bagaimana cara pandang terhadap nusantara(lingkungan) yaitu bentuk kesatuan dan persatuan negara kita Republik Indonesia.
Wawasan nusantara itu sendiri memiliki tujuan segala bidang contohnya saja : Bidang politik, Bidang ekonomi, Bidang sosial, Bidang kesehatan dan masih banyak lagi bidang-bidang lain yang harus dibangun semua itu hanya bertujuan hanya mencapai suatu tujuan nasional.
Pada dasarnya wawasan nusantara ialah bagaimana cara pandang atau pola pikir kita sebagai warganegara terhadap lingkungan (Nusantara) untuk membuat atau menjadikan negara kita supaya lebih maju.
By Suci dinarni (A1A107226) on Apr 27, 2008 | Reply
Nama : Suci Dinarni
Nim : A1A107226
WAWASAN NUSANTARA
Pada dasarnya wawasan nusantara adalah cara pandang atau pola pikir kita sebagai warga negara indonesia terhadap nusantara (lingkungan) untuk membuat atau menjadikan negara kita supaya lebih maju.
Wawasan nusantara memiliki beberapa ruang lingkup dan cakupan wawasan nusantara dalam mencapai tujuan pembangunan nasional yaitu : kesatuan politik, ekonomi, sosial budaya dan kesatuan ketahanan keamanan. Kita bisa lihat dengan semua itu pembangunan dinegara indonesia akan tercapai karena indonesia memiliki empat aspek yang sangat penting untuk pembangunan.
Kesimpulan saya yaitu pada dasarnya wawasan nusantara memilki tujuan untuk mencapai suatu pembangunan nasional.
By KAMSINAH on Apr 27, 2008 | Reply
EVOLUSI MANUSIA
Manusia diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai hoo sapiens(bahasa latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, merekadijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi dimana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga sering kali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu dan perubahan secara bertahap. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti perubahan frekuensi gen dalam satu populasi. Akumulasi perubahan gen ini menyebabkan terjadinya perubahan pada makhluk hidup.
Evolusi tidaklah, sebagaimana yang disangka banyak orang, menyatakan bahwa’manusia berevolusi dari kera’. Tetapi, manusia dan kera yan ada sekarang mempunyai ” moyang yang sama”. Pengertian ‘moyang’ ini harus dipahami sebagai moyang secara fisik bukan spiritual, paling tidak hingga saat ini. Evolusi tidak berarti membuat makhluk hidup tambah bagus atau tambah intelek. Contohnya, ular adalah hasil evolusi proses dari semacam kadal yang tidak lagi memerlukan ‘tangan’dan’kaki’. Evolusi tidak mempunyai tujuan tertentu. Organisme adalah hasil dari mutasi yang sukses, maupun gagal, tergantung dari kondisi lingkungan pada saat itu. Manusia tidak mempunyai tempat yang khusus didalam ‘pohon evolusi’. Kita hanyalah salah satu cabang dari pohon itu. Evolusi tidak berhenti. Evolusi adalah proses basis dari biologi dan terus berlangsung.
Hewan terdekat denan manusia yang masih bertahan hidup adalah simpanse; kedua terdekat adalah gorila dan ketiga adalah orang utan. Penting untuk diingat, namun, bahwa manusia hanya mempunyai persamaan populasi nenek moyang dengan hewan ini dan tidak diturunkan langsung dari mereka. Ahli biologi telah membandingkan serantaian pasangan dasar DNA antara manusia dan simpanse, dan memperkirakan perbedaan genetik keseluruhan kurang dari 5%. Diperkirakan bahwa garis silsilah manusia bercabang dari simpanse sekitar 5 juta tahun lalu, dan dari gorila sekitar 8 juta tahun lalu. Namun, lapotran terbaru dari tengkorak hominid berumur kira-kira 7 juta tahun sudah menunjukkan percabangan dari garis silsilah kera, membuat kuat adanya percabangan awal silsilah tersebut.
Berikut beberapa gejala penting dalam evolusi manusia:
Perluasan rongga otak dan otak itu sendiri, yang umumnya sekitar 1,400cm kubik dalam ukuran volumnya, dua kali lipat perluasan otak simpanse dan gorila. Beberapa ahli antropologi, namun, mengatakan bahwa alih-alih perluasan otak, penyusunan ulang struktur lebih berpengaruh pada bertambahnya kecerdasan.
Penggunan gigi taring.
Penggerak bipedal(dua kaki)
Perbaikan laring/pangkal tenggorokan(yang memungkinkan penghasilan bunyi kompleks atau dikenal sebagaibahasa vokal). Bagaimana gejala-gejala ini berhubungan, denan cara apa mereka telah menyesuaikan diri, dan apa peran mereka dalam evolusi organisasi sosial dan kebudayaan kompleks,merupakan hal-hal penting dalam perdebatan yang berlangsung diantara para ahli antropologi ragawi saat ini.
Evolusi menjelaskan sejarah makhluk hidup, hewan, tumuhan,fungsi, mikroba. Bukti pendukungnya amat banyak dan berasal dari berbagai cabang biologi: hierarki taksonomi sebagaimana ditemukan Linnaeus dan para ahli penerusnya, fosil-fosil yang menunjukkan bahwa kehidupan dimasa lalu berbeda bentuknya dengan kehidupan masa sekarang, hingga bukti genetika yang menunjukkan kesamaan antara berbagai makhluk hidup. Kini evolusi bisa dikatakan telah menjadi teori sentral dalam biologi modern.
Waktu adalah faktor penting dalam evolusi. Proses evolusi memerlukan waktu yang sangat lama. Menurut Darwin, ada dua mekanisme yang mendasari evolusi pertama, proses evolusi membawa spesies yang ada untuk beriteraksi dengan kondisi ekologinya. Contohnya, karena hasil evolousi, beberapa burung mempunyai paruh yang hanya bisa dipakai untuk mengisap madu bunga. Selama bunga itu masih tersedia, burung ini akan hidup. Tetapi, bila bunga ini, karena sesuatu hal, punah, maka burung itu kemungkinan besar akan punah juga. Mekanisme yang kedua adalah kelahiran spesies baru dari hasil variasi di spesies yang ada. Waktu dan perjuangan untuk hidup(survival)adalah dua hal yang dibutuhkan untuk melahirkan generasi baru. Waktu yang lebih panjang lagi dan melalui proses yang sama, menurut Darwin akan dapat menjelaskan evolusi dari semua mahluk hidup dimuka bumi yang berasal dari satu” Common ancestor”.
Paham evolusi merupakan sisa-sisa dari terjadinya proses evolusi yang sangat panjang dari materi amuba sampai pada akhirnya terbentuk manusia yang dianggap sebagai sisa-sisa hasil evolusi yang panjang itu ternyata mempunyai fungsi yang penting dalam pertumbuhan manusia, seperti untuk mengatur keseimbangan kalsium, dan lainnya. Dalam satu spesies kita sering melihat adanya perbedaan warna, ukuran, berat, dan cara hidup. Hal ini terjadi karena pengaruh berbagai faktor seperti suhu, tanah, makanan dan lainnya. Variasi dalam spesies ini dalam perkembangan berikutnya akan menurunkan keturunan yang berbeda, tetapi masih dalam satu spesies. Hal ini yang disebut evolusi mikro.
Sementara banyak spesies lain yang punah, manusia tetap eksis dan berkembang sekarang. Keberhasilan meraka disebabkan oleh daya inteletualnya yang tinggi, tetapi ereka juga mempunyai kekurangan fisik. Manusia cenderung menderita obersitas lebih dari primata lainnya. Kemampuann mental manusia dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, mahluk tersedih diantara semua hewan. Kemampuan memiliki perasaan, sedih/bahagia,membedakan meraka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes hewan. Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat,membentuk dirinya sebagai sumber kebahagian.
Pandangan konvensional dari evolusi manusia menyatakan bahwa manusia berevolusi dilingkungan dataran sabana di Afrika. Teknologi yang disalurkan melalui kebudayaan telah memungkinkan manusia untuk mendiami semua benua dan beradaptasi dengan semua iklim. Gaya hidup asli manusia adalah pemburu dan pengumpul yang diadaptasikan kesabana, adegan yang disarankan dalam evolusi manusia. Gaya hidup lainnya nomadisme(berpidah tempat,terkadang dihubungkan dengan kumpulan hewan), dan perkampungan menetap yang dimungkinkan oleh pertanian yang baik. Manusia mempunyai daya tahan yang kuat intuk memindahkan habitat mereka dengan berbagai alasan,seperti pertanian, pengairan, urbanisasi dan pembangunan.
kesimpulannya adalah evolusi manusia merupakan serangkaian peristiwa yang mengwujudkan jutaan sel-sel yang telah lalu dan hingga menjadi manusia yang seperti sekarang, inilah kiranya yang dapat saya kemukakan mengenai evolusi manusia, lebih dan kurangnya merupakan kerterbatasan saya dalam pengumpulan bahan dan data juga cara penyampaiannya,tarima kasih.
By Nuril Najmi on Apr 28, 2008 | Reply
MAKHLUK MANUSIA TERTUA
Dalam teori Darwin (Charles Robert Darwin 1809-1882) berpendapat bahwa manusia berasal dari perkembangan makhluk sejenis kera yang sederhana kemudian berkembang menjadi hewan kera tingkat tinggi sampai akhirnya menjadi manusia. Darwin mengatakan bahwa “suatu benda (bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada kesempurnaan yang kemudian ia memperluas teorinya hingga sampai kepada asal-usul manusia.Manusia pada sekarang ini adalah hasil yang paling sempurna dari perkembangan tersebut secara teratur oleh hukum-hukum mekanik seperti halnya tumbuhan dan hewan yang kemudian lahirlah suatu ajaran (pengertian) bahwa manusia yang ada sekarang ini merupakan hasil evolusi dari kera-kera besar (manusia kera berjalan tegak) selama bertahun-tahun dan telah mencapai bentuk yang paling sempurna .
Secara umum , fosil-fosil manusia dari jaman ke jaman terbagi atas tiga kelompok, yaitu manusia kera, manusia purba dan manusia modern.
Australopithecus Africanus
Australopithecus merupakan makhluk yang tertua yang ditemukan di desa Taung di sekitar Bechunaland dengan bentuk mirip manusia,ditemukan oleh Raymond Dart tahun 1924. Bagian tubuh yang ditemukan hanya fosil tengkorak kepala saja.umurnya antara 350.000-1000.000 tahun dengan ukuran otak sekitar 450-1450 cm. Perkembangan dengan perubahan volume otak ini besar pengaruhnya bagi kecerdasan otak manusia.
Paranthropus Robustus dan Paranthropus Transvaalensis
Dua penemuan tersebut ditemukan di daerah Amerika Selatan dengan ciri isi volume otak sekitar 600 cm kubik, hidup di lingkungan terbuka, serta memiliki tinggi badan kurang lebih 1,5 meter. Kedua fosil menusia kera tersebut disebut australopithecus.
Manusia Purba / Homo Erectus.Sinanthropus Pekinensis.
Homo Erectus
Berdasarkan bukti-bukti per tanggalan, manusia purba Homo erectus telah mendiami Sangiran (Jawa) sejak awal Plestosen (sekitar 1,8 juta tahun) hingga ratusan ribu tahun lalu (akhir Plestosen Tengah).
Sinanthropus pekinensis
adalah manusia purba yang fosilnya ditemukan di gua naga daerah Peking negara Cina oleh Davidson Black dan Franz Weidenreich. Sinanthropus pekinensis dianggap bagian dari kelompok pithecanthropus karena memiliki ciri tubuh atau badan yang mirip serta hidup di era zaman yang bersamaan. Sinanthropus pekinensis memiliki volume isi otak sekitar kurang lebih 900 sampai 1200 cm kubik. manusia Peking sudah mulai mencari kehangatan dan membakar makanan dengan menyalakan api.mreka tinggal di gua dan berburu dengan alat dari batu. Volume otak manusia Peking lebih kecil daripada manusia zaman modern. Dari batok kepala manusia Peking yang tergali ternyata volume otaknya hanya 1059 miligram, sedang manusia zaman modern 1400 miligram. Manusia purba itu sudah bisan berjalan dengan berdiri tegak. Dihitung berdasarkan fosil yang tergali, tinggi badan lelaki rata-rata 156 sentimeter, sedang wanita 144 sentimeter. Usia harapan mereka sangat pendek, 70% meninggal sebelum berusia 14 tahun, jarang sekali yang bisa mencapai 50 tahun.Penggalian di gua Bukit Tulang Naga Zhou Kou Dian telah menemukan tiga batok kepala manusia purba yang dinamakan manusia gua bukit yang hidup kira-kira 27 ribu tahun silam. Kondisi fisik mereka nyata sekali mengalami kemajuan nyata daripada ta mempunyai konsepsi tentang keindahan. Menurut para paleo antropolog, manusia gua bukit sudah bisa mengadakan upacara pemakaman bagi yang meninggal. Fosil manusia gua bukit adalah data benda penting tentang evolusi manusia. Tahun 1987, Mereka sudah menguasai teknik penyalaan api, pengeboran dan pengasahan.
Meganthropus Palaeojavanicus / Manusia Raksasa Jawa
Meganthropus palaeojavanicus ditemukan di Sangiran di pulau jawa oleh Von Koningswald pada tahun 1939 - 1941.
Manusia Heidelberg.
Manusia heidelberg ditemukan di Jerman.
Pithecanthropus Erectus
Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berjalan tegak).adalah manusia purba yang pertama kali fosil telang belulang ditemukan di Trinil Jawa Tengah pada tahun 1891 oleh Eugene Dubois. Pithecanthropus erectus hidup di jaman pleistosin atau kira-kira 300.000 hingga 500.000 tahun yang lalu. Volume otak Pithecanthropus erectus diperkirakan sekitar 770 - 1000 cm kubik. Bagian tulang-belulang fosil manusia purba yang ditemukan tersebut adalah tulang rahang, beberapa gigi, serta sebagian tulang tengkorak.makhluk ini merupakan makhluk peralihan dari kera ke manusia dan merupakan satu-satunya leluhur manusia yang paling tua.makhluk ini berevolusi terus dan menerapakan serta memperkembangkan kebebasan yang alami ketika berjalan tegak,mempergunakan tangan dan menggunakan otak untuk membuat alat-alat,serta mulai memperhatikan dunia sekeliling.
Manusia Modern
Pengertian atau arti definisi manusia modern adalah manusia yang termasuk ke dalam spesies homo sapiens dengan isi volum otak kira-kira 1450 cm kubik hidup sekitar 15.000 hingga 150.000 tahun yang lalu. Manusia modern disebut modern karena hampir mirip atau menyerupai manusia yang ada pada saat ini atau sekarang.
Manusia Swanscombe - Berasal dari Inggris
Manusia Neandertal
Ditemukan di lembah Neander.makhluk ini hidup pada pertengahan akhir Pleistocene.sekitar 500.000 sampai 50.000 tahun yang lalu.orang beranggapan bahwa makhluk ini merupakan manusia primitive yang pertama.Temuan-temuan membuktikan bahwa Nendertal mengubur mayat-mayat kerabat mereka,membuat alat musik dan memiliki hubungan kebudayaan dengan Homo Sapiens yang hidup seperiode.Neandertal adalah ras manusia bertubuh kekar tapi pendek.
Manusia Cro-Magnon / Cromagnon
Ditemukan di gua Cro-Magnon, Lascaux Prancis. Dicurigai sebagai campuran antara manusia Neandertal dengan manusia Gunung Carmel.Di perkirakan hidup 30.000 tahun lalu.Manusia ini memiliki tengkorak berbentuk kubah dan dahi yang lebar.kapasitas tengkoraknya1.600 cc.sejumlah temuan paleoantropologi telah menunjukkan bahwa ras Cro-Magnon dan Nendertak salin membaur,kemudian mengawali ras-ras dewasa ini.
Manusia Shanidar - Fosil dijumpai di Negara Irak.
Manusia Gunung Carmel - Ditemukan di gua-gua Tabun serta Skhul Palestina.
Manusia Steinheim - Berasal dari Jerman.
By Helma Novieanty on Apr 28, 2008 | Reply
Antropologi Era Kolonialisme
Banyak tulisan-tulisan penting tentang masyarakat dan kebudayaan hasil perjalanan oleh orang-orang Eropa menemukan dunia baru yang mana dari tulisan-tulisan tersebut banyak berpengaruh terhadap timbulnya ilmu antropologi. Tulisan-tulisan tersebut dibuat oleh orang Eropa pada akhir abad XV dan XVI, mereka mulai mengadakan perjalanan ke Afrika, Asia, Oceania dan Amerika yang dilakukan oleh para musafir, pelaut, penyiar agama Nasrani dan laporan-laporan dari para pegawai pemerintahan bangsa Eropa yang bertugas di daerah-daerah jajahan. Dalam abad inilah timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi (gambaran tentang bangsa-bangsa di suatu tempat) berdasarkan pola pikir evolusi masyarakat. Mereka menganggap bahwa masyarakat dan kebudayaan berubah secara lambat dalam waktu yang cukup lama. Antropologi fase ke dua ini mempelajari masyarakat dan kebudayaan yang primitif dengan tujuan mendapatkan suatu gambaran mengenai sejarah evolusi serta penyebaran kebudayaan manusia.
Kemudian pada fase yang ketiga dipermulaan abad ke XX, negara-negara Eropa sudah menjadi bangsa penjajah di berbagai penjuru dunia. Negara penjajah di Eropa berhasil mencapai kekuasaannya di daerah jajahan di luar Eropa. Kedudukan ilmu antropologi pun pada fase ini menjadi penting, yaitu mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan masyarakat pribumi. Dari sinilah didapat suatu cara untuk menguasai serta mempengaruhi penduduk atau masyarakat pribumi. Dari sini pulalah antropologi menjadi ilmu yang praktis, artinya mempelajari masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa untuk kepentingan menjajah dan menperoleh suatu pengertian masyarakat masa kini yang kompleks.
Kemudian pada fase keempat, yaitu kira-kira sesudah tahun 1930 an, dalam fase ini mengalami perubahan yang besar. Bangsa-bangsa pribumi yang dijajah tadi sudah banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan barat atau Eropa yang mengakibatkan kebudayaan asli sudah mulai luntur bahkan hilang, dan selain itu akibat perang dunia kedua yang mana sesudah ini muncul kebencian terhadap negara yang menjajah, yang tadinya bangsa primitif sudah mulai terpengaruh oleh budaya Eropa. Antropologi dalam perkembangannya lebih memperhatikan suku-suku yang hidup di perdesaan di wilayah Eropa sendiri.(fase-fase perkembangan antropolgi menurut Prof.Koentjaraningrat).
Tulisan tentang masyarakat dan kebudayaan bangsa Indonesia banyak sekali ditulis oleh para pegawai dari negara yang menjajah Indonesia seperti halnya Belanda dan Inggris. Penelitian dan pengamatan antropologi di Indonesia telah ada sejak masa penjajahan atau era kolonialisme. Pada abad ke XIX, T.J. Willer, pegawai pemerintahan dari Belanda menulis tentang masyarakat di Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat dan Maluku. Pada waktu Bengkulu dijajah Inggris, kepala pemerintahannya, W. Marsden (1783), menulis tentang suku yang ada di Indonesia, yaitu Minang Kabau, Rejang dan Lampung.
Masih ingatkah dengan C. Snouck Hurgronje, seorang ilmuan berkebangsaan Belanda yang memberikan gambaran tentang Aceh. Dia meneliti tentang kehidupan masyarakat Aceh. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan rahasia semangat juang masyarakat Aceh. Snouck sejak 1889 meneliti pranata islam di masyarakat pribumi hindia belanda khususnya aceh. Ia mempelajari politik kolonial untuk memenangi pertempuran belanda di aceh. Bagi pemerintahan belanda dia dianggap peneliti yang sukses akan tetapi bagi rakyat Aceh, Snouck adalah seorang penghianat.
Snouck merupakan penggalan cerita dari perkembangan antropologi di masa lampau saat bangsa Eropa mulai membangun kolonial di benua Asia, yang banyak mendapat tantangan dan pemberontakan. Dengan menghadapi masalah ini, pemerintahan kolonial berusaha mencari kelemahan suku-suku asli atau pribumi serta menaklukannya. Dengan mencari bahan-bahan etnografi tadi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa mereka mempelajari kebudayaan-kebudayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat jajahannya untuk kepentingan kolonisasi.
Asal-usul antropologi, baik di barat maupun di Indonesia saling berkaitan erat terhadap sejarah kolonialisme, dapat kita lihat dari tulisan-tulisan yang mereka buat. Para pegawai kolonial jaman dulu wajib menulis laporan karakter masyarakat dan daerah yang mereka ambil sumber daya alamnya di daerah jajahan Belanda, yang mana dari catatan-catatan itu diberi nama etnologi, sebuah penggambaran watak khas masyarakat. Antropologi timbul dari adanya rasa ingin tahu dari manusia terhadap manusia lain. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mengadakan perjalanan ke daerah lain.
Perjalanan yang dilakukan oleh bangsa Eropa itupun dilakukan dengan tujuan bermacam-macam, ada yang menyebarkan agama, ada yang betul-betul ingin tahu akan daerah sekitarnya, dan ada juga yang mencari daerah jajahan. Yang terakhir inilah yang telah terjadi pada fase ketiga, dimana penjajahan pada bangsa-bangsa Asia dan Afrika mencapai puncaknya oleh bangsa Eropa. Mereka berlomba-lomba untuk memperluas daerah jajahannya, termasuk belanda yang saat itu menjajah Indonesia. perlombaan memperluas wilayah jajahan tersebut itulah yang kita kenal dengan masa kolonialisme.
Antroplogi dimanfaatkan untuk menganalisis masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa yang terjajah, fungsi antropologi menjadi keperluan yang praktis artinya suatu usaha pembangunan masyarakat suku-suku bangsa yang berada di luar Eropa demi kepentingan kolonial. Antropologi menjadi sebuah metode penjajahan yang baru secara halus, yaitu dengan mempelajari watak-watak serta kebudayaan masyarakat yang dijajah.
Demikianlah antropologi yang terjadi pada masa era kolonialisme, dimana antropologi digunakan sebagai alat atau metode yang halus untuk mempelajari watak, kebiasaan maupun kebudayaan masyarakat pribumi oleh bangsa eropa demi kepentingan kolonisasi.
By Helma Novieanty on Apr 28, 2008 | Reply
Antropologi Era Kolonialisme
Banyak tulisan-tulisan penting tentang masyarakat dan kebudayaan hasil perjalanan oleh orang-orang Eropa menemukan dunia baru yang mana dari tulisan-tulisan tersebut banyak berpengaruh terhadap timbulnya ilmu antropologi. Tulisan-tulisan tersebut dibuat oleh orang Eropa pada akhir abad XV dan XVI, mereka mulai mengadakan perjalanan ke Afrika, Asia, Oceania dan Amerika yang dilakukan oleh para musafir, pelaut, penyiar agama Nasrani dan laporan-laporan dari para pegawai pemerintahan bangsa Eropa yang bertugas di daerah-daerah jajahan. Dalam abad inilah timbul karangan-karangan yang menyusun bahan etnografi (gambaran tentang bangsa-bangsa di suatu tempat) berdasarkan pola pikir evolusi masyarakat. Mereka menganggap bahwa masyarakat dan kebudayaan berubah secara lambat dalam waktu yang cukup lama. Antropologi fase ini mempelajari masyarakat dan kebudayaan yang primitif dengan tujuan mendapatkan suatu gambaran mengenai sejarah evolusi serta penyebaran kebudayaan manusia.
Kemudian pada fase yang ketiga dipermulaan abad ke XX, negara-negara Eropa sudah menjadi bangsa penjajah di berbagai penjuru dunia. Negara penjajah di Eropa berhasil mencapai kekuasaannya di daerah jajahan di luar Eropa. Kedudukan ilmu antropologi pun pada fase ini menjadi penting, yaitu mengetahui latar belakang kehidupan dan kebudayaan masyarakat pribumi. Dari sinilah didapat suatu cara untuk menguasai serta mempengaruhi penduduk atau masyarakat pribumi. Dari sini pulalah antropologi menjadi ilmu yang praktis, artinya mempelajari masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa untuk kepentingan menjajah dan menperoleh suatu pengertian masyarakat masa kini yang kompleks.
Kemudian pada fase keempat, yaitu kira-kira sesudah tahun 1930 an, dalam fase ini mengalami perubahan yang besar. Bangsa-bangsa pribumi yang dijajah tadi sudah banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan barat atau Eropa yang mengakibatkan kebudayaan asli sudah mulai luntur bahkan hilang, dan selain itu akibat perang dunia kedua yang mana sesudah ini muncul kebencian terhadap negara yang menjajah, yang tadinya bangsa primitif sudah mulai terpengaruh oleh budaya Eropa. Antropologi dalam perkembangannya lebih memperhatikan suku-suku yang hidup di perdesaan di wilayah Eropa sendiri (fase-fase perkembangan antropologi menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat).
Tulisan tentang masyarakat dan kebudayaan bangsa Indonesia banyak sekali ditulis oleh para pegawai dari negara yang menjajah Indonesia seperti halnya Belanda dan Inggris. Penelitian dan pengamatan antropologi di Indonesia telah ada sejak masa penjajahan atau era kolonialisme. Pada abad ke XIX, T.J. Willer, pegawai pemerintahan dari Belanda menulis tentang masyarakat di Sumatera Utara, Riau, Kalimantan Barat dan Maluku. Pada waktu Bengkulu dijajah Inggris, kepala pemerintahannya, W. Marsden (1783), menulis tentang suku yang ada di Indonesia, yaitu Minang Kabau, Rejang dan Lampung.
Masih ingatkah dengan C. Snouck Hurgronje, seorang ilmuan berkebangsaan Belanda yang memberikan gambaran tentang Aceh. Dia meneliti tentang kehidupan masyarakat Aceh. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan rahasia semangat juang masyarakat Aceh. Snouck sejak 1889 meneliti pranata islam di masyarakat pribumi hindia belanda khususnya aceh. Ia mempelajari politik kolonial untuk memenangi pertempuran belanda di aceh. Bagi pemerintahan belanda dia dianggap peneliti yang sukses akan tetapi bagi rakyat Aceh, Snouck adalah seorang penghianat.
Snouck merupakan penggalan cerita dari perkembangan antropologi di masa lampau saat bangsa Eropa mulai membangun kolonial di benua Asia, yang banyak mendapat tantangan dan pemberontakan. Dengan menghadapi masalah ini, pemerintahan kolonial berusaha mencari kelemahan suku-suku asli atau pribumi serta menaklukannya. Dengan mencari bahan-bahan etnografi tadi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa mereka mempelajari kebudayaan-kebudayaan dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat jajahannya untuk kepentingan kolonisasi.
Asal-usul antropologi, baik di barat maupun di Indonesia saling berkaitan erat terhadap sejarah kolonialisme, dapat kita lihat dari tulisan-tulisan yang mereka buat. Para pegawai kolonial jaman dulu wajib menulis laporan karakter masyarakat dan daerah yang mereka ambil sumber daya alamnya di daerah jajahan Belanda, yang mana dari catatan-catatan itu diberi nama etnologi, sebuah penggambaran watak khas masyarakat. Antropologi timbul dari adanya rasa ingin tahu dari manusia terhadap manusia lain. Rasa ingin tahu itulah yang mendorong manusia mengadakan perjalanan ke daerah lain.
Perjalanan yang dilakukan oleh bangsa Eropa itupun dilakukan dengan tujuan bermacam-macam, ada yang menyebarkan agama, ada yang betul-betul ingin tahu akan daerah sekitarnya, dan ada juga yang mencari daerah jajahan. Yang terakhir inilah yang telah terjadi pada fase ketiga, dimana penjajahan pada bangsa-bangsa Asia dan Afrika mencapai puncaknya oleh bangsa Eropa. Mereka berlomba-lomba untuk memperluas daerah jajahannya, termasuk belanda yang saat itu menjajah Indonesia. perlombaan memperluas wilayah jajahan tersebut itulah yang kita kenal dengan masa kolonialisme.
Antroplogi dimanfaatkan untuk menganalisis masyarakat dan kebudayaan bangsa-bangsa yang terjajah, fungsi antropologi menjadi keperluan yang praktis artinya suatu usaha pembangunan masyarakat suku-suku bangsa yang berada di luar Eropa demi kepentingan kolonial. Antropologi menjadi sebuah metode penjajahan yang baru secara halus, yaitu dengan mempelajari watak-watak serta kebudayaan masyarakat yang dijajah.
Demikianlah antropologi yang terjadi pada masa era kolonialisme, dimana antropologi digunakan sebagai alat atau metode yang halus untuk mempelajari watak, kebiasaan maupun kebudayaan masyarakat pribumi oleh bangsa eropa demi kepentingan kolonisasi.
By santy Dwi Pratiwi on Apr 28, 2008 | Reply
PENGERTIAN KEPRIBADIAN
Tatanan Unsur – unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah – laku atau tindakan dari tiap – tiap individu manusia disebut kepribadian/Personality.Seorang Sarjana Antropologi Amerika Ralph Linton menyatakan bahwa kepribadian secara primer adalah suatu konfigurasi dari respon – respon yang dikembangkan oleh Individu sebagai hasil dari pengalamannya. Sebaliknya pengalaman adalah akibat dari hubungan timbal balik dari lingkungannya. Individu melakukan penyesuaian dirinya yang unik terhadap lingkungannya. Lingkungan sangat berperan penting dalam pembentukan kepribadian suatu Individu.Kepribadian adalah sesuatu yang sangat khas yang membedakan Individu yang satu dengan Individu yang lain. Kepribadian berhubungan erat dengan akal dan jiwa, akal dan jiwa ini dikeluarkan melalui kelakuan/tingkah laku. Kepribadian mengantarai lingkungan fisik dan psikologisnya. cara setiap orang menyesuaikan diri dengan lingkungannya tidak sama. Ilmu – ilmu sosial seperti Antropologi, Sosiologi, dan Psikologi membahas kepribadian. Analisa yang khusus dan mendalam tentang kepribadian dibahas oleh Ilmu Psikologi. Dalam Antropologi sendiri kepribadian berhubungan dengan sistem sosial /adat istiadat yang ada di suatu masyarakat. kepribadian manusia menentukan sistem sosial dan adat istiadat yang ada di masyarakat, adat istiadat dan sistem sosial yang beragam memperkaya kebudayaan. kepribadian adalah cerminan dari kebiasaan suatu masyarakat yang erat kaitannya dengan adat istiadat(budaya).Manusia akan terpengaruh dengan lingkungannya, kepengaruhannya mempunyai ciri khas, sehingga dapat dibedakan kepribadian antara individu yang satu dengan individu yang lain. Kepribadian yang berbeda – beda ini menimbulkan budaya yang berbeda – beda tergantung dari kepribadian individu itu sendiri. Kepribadian selalu berkembang dan berubah, tergantung lingkungan dimana Individu itu tinggal, yang menyebabkan berkembang dan berubahnya juga kebudayaan. Definisi tentang Pengertian Kepribadian menurut Antropologi memang tidak dikaji secara mendalam, karena akan ditemui kesulitan – kesulitan bila mengkaji secara mendalam, sebab konsepsi kepribadian adalah suatu konsep yang sangat luas, sehingga sulit untuk mempertajam definisi. Antropologi mengkaji konsep kepribadian secara umum, Psikologi yanglebih khusus dan mendalam mengkaji tentang kepribadian.
By Dewi komalasari on Apr 29, 2008 | Reply
PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI
Manusia beserta kebudayaan merupakan bahan kajain Antropologi,khususnya di Indonesia perkembangan Antropologi dimulai dengan penelitian adapt-istiadat,sistem kepercayaan,struktur social dan kesenian dari suku-suku diwilayah nusantara.Perkembangan Antropologi dibagi menjadi beberapa fase yaitu pertama,kedua,ketiga dan keempat.
Dalam fase pertama sekitar abad ke 15 sampai abad ke 16 bangsa Eropah mulai berlomba-lomba mencari daerah baru dibelahan dunia,mulai dari Afrika,Asia,Amerika sampai ke Australia,dan dalam perjalanan inilah didapat bahn etnografi (dekripsi tentang bangsa-bangsa).sebenarnya etnografi tadi sudah ada sebelum bangsa Eropah berlayar yaitu dalam perjalanan Ibnu Batuta 1330 dengan sebuah perahu yaitu perahu jalba,satu ari kapal laut yang melegenda dilaut merah yang terbuat dari bilahan papan yang dipoles minyak ikan hiu agar anti air.setelah perjalanan Ibnu batuta,125 tahun kemudian barulah para penjelajah Eropah seperti chistopher Columbus,vasco de gama dan maghelhan berlayar.Pada saat itu Ibnuu Batutah tidaklah dibekali dengan keilmuan yang mendukung penjelajahan seperti astronomi ataupun kelautan ,tetapi ilmu yang dimilikinya hanya ilmu-ilmu fikih dan sastra arab.Ibnu Batutah merupakan seorang teologis,sastrawan puisi dan cendikiawan tidak seperti Columbus ataupun marcopolo yang merupakan seorang petualang yang sebenarnya.Petualang Ibnu Batuta jaraknya sangatlah panjang dibanding perjalanan marcopolo dan penjelajah siapa pun sebelum ditemukannya mesin uap,panjang jaraknya kurang lebih 72.000 mil.Ibnu Batuta merupakan penjelajah yang luar biasa,ia menjadi penjelajah yang sangat berpengalaman.perjalannya meliputi Spayol,Rusia,,Turki,Persia,India,Cina,Indonesia khususnya di samudra pasa (Aceh) dan beberapa Negara muslim lainnya.Ibnu Batuta didlam perjalanannya mendeskripsikan kondisi spiritual,politik dan social Negara-negara yang disinggahinya dan mengilustrasikannya dengan sentuhan satra yang berupa irama berpuisi.seperti halnya di samudra pasai ketika Ibnu Batuta singgah di serambi mekkah ini ia menulis samudra pasai sebagai negri yang menghijau serta kota besar yang indah dan ia pun mencatat bahwa samudra pasai merupakan pusat studi islam di Asia Tenggara pada saat itu.
Dan barulah bangsa Eropah berlayar setelah kemenangan raja ferdinan II dan permaisurinya Issabella Castile terhadap kerajaan isalam yang terakhir di Andalusia yaitu Granada setelah memancarkan kemilau kerajaan sampai kepenjuru Eropah.Saat itulah Isabella Castile memberikan 3 buah kapal kepada vasco de gama untuk melakukan pelayaran guna mencari daerah-daerah baru.Karena pada saat itu bangsa-bnagsa konstanti nopel dikuasai oleh bangsa turki,yang mengakibatkan bangsa Eropah tidak bisa bedagang kewilayah timur melalui jalur tradisional yang kemudian bangsa-bnagsa eropah mencari jalan baru melalui kutub utara ataupun melalui afroka selatan untuk sampai ke Asia Tengah dan dari rombongan-rombongan pelayaran inilah didapat bahan-bahan etnografi dari berbagai suku bangsa diluar Eropah.seperti saja hasil dari perjalanan marcopolo,ia menemukan hal-hal yang aneh diluar kebiasaan bangsa eropah seperti di istana khu bilai khan,sudah digunkannya uang kertas yang sah yang dikeluarkan kerajaan yang mempunyai nilai yang bermacam-macam dan adanya pengiriman surat yang sudah sangat teratur yang diras sudah sangat maju dibanding bangsa Eropah pada saat itu.dan ia pun menemukan beberapa daerah yang masih tradisional yang dianggapanya primitive seperti saat ia menyinggahi pelabuahn perlac di aceh,walaupun didaerah pesisir laut maju dan dikunjungi pedagang-pedagang India dan penduduk disana mayoritas beragama islam tetapi didaerah jauh dari pesisir masih sangat primitf yang masih melakukan ha-hal yang diharamkan.dan masih banyk daerah-daerah yang masih tertinggal kemajuannya . serta masih banyak hal-hal yang baru yang bangsa eroapah jumpai dalam perjalanan.
Semakin banyaknya suku-suku asing yang dijumpai dalam perjalanan yang kemudian mereka catat dibuku-buku harian ataupun didalam jurnal perjalanan.catatan itu berupa kebudayaaan-kebudayaan bangsa dilluar eropah tadi meliputi adapt-istiadat,susunan masyarakat ,bahasa dan ciri-ciri fisik dari beraneka ragam suku-bangsa diAfrika,Asia,dan suku-suku Indian penduduk pribumi Amerika (koentjaraningrat).Bahan-bahan dekrifsi inilah yang kemudian dikenal dengan etnografi (dekripsi tentang bangsa-bangsa).tetapi dekripsi-dekripsi tadi didalam penulisannya masih banyak dipengaruhi emosi dan banyak terdapat ketidak jelasan dalam penulisannya dan hanya hal-hal yang dirasa bangsa eropah aneh saja yang ditulis disamping ada pula dekripsi yang sudah sangat jelas penulisannya.tetapi dalam keanehan-keanehan itulah yang membuat menarik dan menjadi perhatian orang-orang terpelajar di eropah .menurut koenjaraningrat sejak abad ke 18 timbul pandangan orang eropah 3 macam sikap yang bertentangan terhadap bangsa diAsia,Afrika dan amerika yaitu :
1. Sebagai orang eropah memandang akan sifat kebudayaan dari bangsa-bangsa jauh tadi tiu,dan mengatakan bahwa bangsa-bangsa itu bukuan manusia sebenarnya,bahwa mereka liar,turunan iblis dan sebagainya.denagn demikian timbul istilah-istilah seperti savage,primitives,yang dipakai orang eropah untuk menyebut bangsa-bangsa tadi.
2. Sebagai oaring eropah memandang akan sifat-sifat baik dari bangsa jauh tadi,dan mengatakan bahwa masyarkat bangsa-bangsa itu adalah contoh dari masyarakat yang masih murni ,yang belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bnagsa eropah barat pada waktu itu.
3. Sebagai orang eropah tertarik akan adapt-istiadat yang aneh dan mulai mengumpulkan benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa di Afrika,Asia ,Oseania dan Ameriak pribumi tadi.kumpulan-kumpulan pribadi tadi da yang dihimpun menjadi satu,supaya dapat dilihat secara umum,dengan demikian timbul museum-museum pertama tentang kebudayaan-kebudayaan bangsa-bangsa diluar eropah.
Yang kemudian pada awal abad ke 19 semakin besar perhatian bangsa eropah terhadap etnografi tadi dan menimbulkan usaha untuk menyatukan seluruh himpunan bahan etnografi.
Dalam fase kedua perkembagan antropologi berada pada pertengahan abad 19.pada pertengahan abad ke 19 ini sidahbanyak ditemukan tulsan-tulisan mengenai dekripsi tentang bangsa-bangsa dan disusun menjadi karangan-karangan brdasarkan perkembanganya dan pola pikir evolusi masyarakat pada saat itu,dimana evolusi itu terjadi secara perlahan dengan jakangka waktu yang sangat lama.
Masih adanya bangsa-bangsa tradisional diluar bangsa eropah yang dikatakan bangsa eropah adalah bangsa primitif ,yang membuat tingkatan kebudayaan masyarakat itu menurut bangsa eropah adalah contoh kebudayan yang rendah dan bangsa eropah lah yang menempati bangsa dengan kebudayaan yang tertinggi.dan sisa-sisa bangsa tradisional tadi masih ada sampai sekarang yangmerupakan warisan kebudayaan kuno.Dengan adanya pola pikir tentang tingkatan ata evolusi masyarakat dan kebudayaannya membuat bangsa-bangsa didunia ini mempunyai tingkat evolusinya masing-masing.Dan pada tahun 1860,banyak bermunculan karangan-karangan tentang bermacam-macam jenis kebudayaan dimuka bumi ini dengan tingkatan atau evolusi masyarakat dan kebudayaannya dan muncullah ilmu antropologi.Setelah bermunculannya karangan-karangan masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan bangsa dimuka bumi ini.Dalam penulisannya masih beracuan bahwa bangsa diluar eropah yang masih tradisional adalah bangsa primitif yang jauh tertinggal dan bangsa eropah adalah bangsa yang jauh lebih berkembang dan berada ditingkatan paling tinggi kebudayaanya.dengan adanya pengelompokan itu,membuat bangsa diluar eropah yang masih pimitif tadi menjadi sumber pengetahuan tentang sejarah penyebaran kebudayaan manusia.Berarti dalam fase ini menurut koenjaraningrat antropologi bertujuan akademis dimana mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pamahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.jadi antropologi bertujuan untuk mempelajari manusia beserta kebudayaan dengan tingkat atau evolusi dan penyebaran kebudayaanya.
By Mini Febrianti on Apr 30, 2008 | Reply
INOVASI
Beberapa pengertian inovasi dalam berbagai versi
inovasi kadang pula diartikan sebagai penemuan, namun berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti discovery atau invention (invensi). Discovery mempunyai makna penemuan sesuatu yang sebenarnya sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui. sedangkan invensi adalah penemuan yang benar-benar baru sebagai hasil kegiatan manusia. Prof. Dr. Anna Poejiadi (2001) memberikan penjelasan: secara harfiah to discovery berarti membuka tutup. Artinya sebelum dibuka tutupnya, sesuatu yang ada di dalamnya belum diketahui orang. Amabile et al. (1996) mendefinisikan inovasi yang hubungannya dengan kreativitas. Inovasi atau inovation berasal dari kata to innovate yang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru. Lain lagi dengan Schumpeter pada tahun 1934. Ia mendefinisikan inovasi sebagai kreasi dan implementasi “kombinasi baru”. Ada satu pendapat lagi tetapi siapa pencetusnya masih tidak diketahui. Seorang ahli tanpa nama ini mengartikan inovasi sebagai pemikiran cemerlang yang bercirikan hal baru ataupun berupa praktik-praktik tertentu ataupun berupa produk dari suatu hasil olah pikir dan olah teknologi yang diterapkan melalui tahapan tertentu yang dimaksudkan untuk memecahkan persoalan yang timbul dan memperbaiki suatu keadaan tertentu ataupun proses tertentu yang terjadi masyarakat. Inovasi diartikan penemuan dimaknai sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau kelompok orang baik berupa discovery maupun invensi untuk mencapai tujuan atau untuk memecahkan masalah tertentu. dalam inovasi tercakup discovery dan invensi. kata kunci lainnya dalam pengertian inovasi adalah baru. Santoso S. Hamijoyo dalam Cece Wijaya dkk (1992:6) menjabarkan bahwa kata baru diartikan sebagai apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh sipenerima pembaharuan, meskipun mungkin bukan baru lagi bagi orang lain. akan tetapi, yang lebih penting dari sifatnya yang baru adalh sifat kualitatif yang berbeda dari sebelumnya. Kualitatif berarti bahwa inovasi itu memungkinkan adanya reorganisasi atau pengaturan kembali dalam bidang yang mendapat inovasi. Kita berada di tengah-tengah samudera inovasi. Karena inovasi mencakup beberapa bidang yakni bidang ekonomi, politik, teknologi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Terakhir pengertian inovasi menurut Koentjaraningrat adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabkan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk yang baru. Dengan demikian inovasi itu mengenai pembaruan kebudayaan yang khusus mengenai teknologi dan ekonomi. Proses inovasi sangat erat kaitannya dengan penemuan baru dalam teknologi. Suatu penemuan biasanya juga merupakan suatu proses sosial yang panjang yang melalui dua tahap khusus, yaitu discovery dan invention. Suatu discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, baik yang berupa suatu alat baru, ide baru yang diciptakan oleh seseorang individu, atau suatu rangkaian dari beberapa individu dalam masyarakat yang bersangutan. Discovery baru menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui, menerima dan menerapkan penemuan baru itu. Sebagai contoh dari inovasi adalah perubahan pandangan dari geosentrisme menjadi heliosentrisme dalam astronomi. Nicolaus Copernicus memerlukan waktu bertahun-tahun guna melakukan pengamatan dan perhitungan untuk menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya, bahwa bulan berputar mengelilingi matahari dan bumi, bahwa planet-planet lain juga berputar mengelilingi matahari. Kesalahan besar yang ia lakukan adalah bahwa ia yakin semua planet termasuk (bumi dan bulan) mengelilingi matahari dalam bentuk lingkaran. Penemuan ini menggugah Tycho Brahe melakukan pengamatan lebih teliti terhadap gerakan planet. Data pengamatan kemudian membuat Johanes Kepler akhirnya mampu merumuskan hukum-hukum gerak planet yang tepat. Penemuan tiga tokoh tersebut merupakan “discovery”. Sedangkan invent yang dalam kamus didefinisikan sebagai penciptaan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumya. contoh invention adalah penemuan Thomas Alva Edison (1847-1931), yaitu penemuan perekam suara elektronik, penyempurnaan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf mesin, mesin piringan hitam, dan pengembangan bola lampu pijar. Para ahli sarjana menyebutkan faktor-faktor pendorong bagi individu dalam suatu masyarakat untuk memulai dan mengembangkan penemuan-penemuan baru, yakni :
1. Kesadaran para individu akan kekurangan dalam kebudayaan.
Di tiap masyarakat banyak individu yang sadar akan kekurangan dalam kebudayaan mereka di antaranya banyak juga yang menerima kekurangan-kekurangan itu tapi ada pula yang merasa tidak puas dengan kekurangan tersebut. Individu yang tidak puas tapi berkesan pasif atau tidak mampu berbuat apa-apa. Berlawanan dengan itu individu yang aktif yang selalu berusaha untuk berbuat sesuatu paling tidak sedikit demi sedikit memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut. Individu yang merasa tidak puas artinya mereka sadar akan kekurangan-kekurangan disekelilingnya. Individu yang merasa tidak puas tapi aktif inilah yang menjadi latar belakang munculnya para pencipta dari penemuan-penemuan baru, baik yang bersifat discovery maupun bersifat invention.
2. Mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan.
Seorang ahli (dalam arti luas segala pekerjaan yang mungkin terdapat pada suatu masyarakat) selalu berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan dari hasil karyanya, dan dalam proses perbaikan itu akan tercapai hasil yang sebelumnya tidak pernah dicapai oleh ahli lain. Itu yang akan memunculkan suatu inovasi dan penemuan baru.
3. Sistem perangsang bagi aktifitas pencipta dengan masyarakat.
Adanya iming-iming sesuatu yang akan didapat yang tentunya yang akan mengangkat derajad, harkat, dan martabat orang yang menciptakan penemuan-penemuan baru berupa materil (harta benda) maupun immateril (penghormatan dari umum/masyarakat, kedudukan yang tinggi dll).
Kecepatan proses penerimaan suatu inovasi yang disebarkan kepada masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni :
1.Sifat inovasi.
Beberapa sifat dari inovasi yang berpengaruh terhadap proses penerimaan suatu inovasi adalah
a. Tingkat keuntungan relatif dari inovasi tersebut. Semakin tinggi tingkat keuntungan relatif semakin cepat pula teknologi tersebut diterima oleh masyarakat.
b. Tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. Semakin tinggi tingkat kesesuaian dengan nilai-nilai yang ada masyarakat, semakin cepat pula inovasi tersebut diterima.
c. Tingkat kerumitan dari inovasi ( complexity) dari inovasi yang akan disebarkan. Semakin tinggi tingkat kerumitan dari inovasi, semakin sulit diterima oleh masyarakat.
d. Tingkat mudah diperagakan (triability) dari inovasi yang akan disebarkan. Semakin tinggi tingkat kemudahan diperagakan dari inovasi yang akan disebarkan, semakin mudah inovasi itu diterima masyarakat.
e. Tingkat kemudahan dilihat dari hasilnya (observability). Semakin tinggi tingkat observability semakin mudah inovasi tersebut diterima oleh masyarakat.
2. Saluran komunikasi yang digunakan.
Kecepatan diterimanya suatu inovasi oleh masyarakat, sangat dipengaruhi pula oleh saluran komunikasi yang digunakan. ada beberapa saluran komunikasi yang dapat dipilih yaitu:
a. Melalui media massa seperti TV, koran, majalah, dan sebagainya.
b.Melalui saluran tatap muka (inter personal).
Pada kondisi masyarakat pedesaan yang ada pada saat ini, penyampaian inovasi pada masyarakat pedesaan melalui media massa rasanya belum efektif, karena jangkauan masyarakat pedesaan pada media massa masih relatif rendah. Oleh karena itu, akan lebih efektif apabila proses penyampaian inovasi pada masyarakat digunakan saluran inter personal. 3. Keadaan masyarakat yang akan menerima inovasi tersebut.
Kondisi masyarakat yang akan menerima inovasi yang disampaikan ikut berpengaruh terhadap kecepatan diterimanya inovasi tersebut. Secara teoritis masyarakat yang mempunyai ciri modern akan lebih cepat menerima inovasi dibandingkan masyarakat yang berciri tradisional.
4. Peranan penyuluh.
Dalam proses penyebaran inovasi pada masyarakat, penyuluh berfungsi sebagai pemrakarsa yang tugas utamanya membawa gagaan-gagasan baru. beberapa peranan yang harus dilakukan penyuluh agar proses penyebaran inovasi dapat berjalan efektif adalah :
a. Menumbuhkan kebutuhan untuk berubah.
b. Membangun hubungan untuk perubahan.
hubungan ini tentunya harus terbina di antara sasaran perubahan (klien) dan penyuluh.
c. Diagnosa dan penjelasan masalah yang dihadapi klien.
Gejala-gejala dari masalah yang dihadapi haruslah diketahui dan dirumuskan menjadi masalah bersama sasaran perubahan.
d. Mencari alternatif pemecahan masalah.
Selain itu tujuan dari perubahan harus juga ditetapkan dan tekad untuk bertindak harus ditumbuhkan.
e. Mengorganisasikan dan menggerakkan masyarakat ke arah perubahan.
f. Perluasan dan pemantapan perubahan.
g. Memutuskan hubungan antara klien dan penyuluh untuk perubahan itu.
Hal itu diperlukan untuk mencegah timbulnya sikap ketergantungan masyarakat pada penyuluh.
5. Jenis pengambilan keputusan.
Perubahan dapat terjadi apabila terdapat keputusan untuk melakukan perubahan. Berbagai macam keputusan yang diambil dalam proses pembaharuan, pada hakekatnya dikelompokan dalam tiga katagori yaitu :
a. Keputusan perorangan (individual decision).
b. Keputusan bersama (collective decision).
c. Keputusan penguasa (authority decision)
Apabila ditinjau dari segi kecepatan di dalam proses penerimaan suatu inovasi, maka tipe pengambilan keputusan secara authority akan menduduki yang tercepat, sedangkan pengambilan secara kolektif yang paling lambat. Jadi dari beberapa pendapat tentang inovasi tersebut dapat disimpulkan bahwa inovasi itu adalah memperkenalkan hal yang baru, discovery adalah penemuan sesuatu yang sebenarnya telah ada sebelumnya, dan invention yakni menciptakan sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya. Segala sesuatu yang baru tidak semuanya dikatakan sebagai sebuah inovasi. Sesuatu dikatakan sebuah inovasi ketika pembaharuan tersebut memiliki kualitas yang lebih baik dan dapat dirasakan manfaatnya bagi individu atau kelompok, meskipun sesatu yang baru itu tidak dikatakan baru oleh seseorang tetapi dirasa baru oleh pihak lain. Dengan adanya inovasi menimbulkan orang termotivasi untuk berpikir kreatif dan menimbulkan keinginan untuk membuat sesuatu yang baru menuju suatu perbaikan. Inovasi dilakukan bukan semata-mata untuk trend atau iseng, namun inovasi dilakukan pastilah memiliki tujuan, dan tujuan tersebut ialah untuk tercapainya suatu perubahan mengarah pada yang lebih baik.
By Ganda Resnadi on May 3, 2008 | Reply
Unsur-Unsur Kepribadian ; Pengetahuan
Menurut Koentjaraningrat, pengetahuan adalah unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Setiap individu manusia yang dalam keadaan sadar tentunya akan memiliki pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah segala hal atau pemikiran yang yang ada dalam otak manusia. Manusia yang baik adalah manusia yang berpikir dan manusia yang berpikir adalah manusia yang senang bertanya. Pengetahuan ditimbulkan oleh rasa ingin tahu yang dimiliki manusia akan kondisi yang ada di sekitarnya sehingga ia bisa mengatasi kondisi tersebut demi keberlangsungan hidupnya. Dalam teori respons and challenge, pengetahuan manusia akan selalu berkembang seiring dengan tantangan alam yang ada. Maksudnya adalah semakin keras keadaan alam yang ada di sekitar manusia, maka pengetahuan manusia akan semakin tinggi sehingga peradaban yang dimilikinya semakin tinggi nilainya.
Terbentuknya pengetahuan dalam diri individu mengalami sebuah proses, yaitu persepsi, apersepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi. Persepsi didapat melalui rangsangan yang diperoleh oleh panca indra dan kemudian diproses oleh otak sehingga didapatkan sebuah penggambaran yang bersifat umum. Pada saat kita berekreasi ke pantai, kita akan merasakan hembusan angin pantai yang deras, suara deburan ombak, dan pohon nyiur yang daunnya bergerak akibat tiupan angin, hal ini lah yang disebut dengan persepsi. Penggambaran tentang pantai yang ada di otak akan berubah pada keadaan dimana diterimanya penggambaran baru dari individu lain yang berupa cerita atau media seperti foto tentang pantai yang berbeda. Penggambaran yang telah dimiliki oleh individu akan mengalami perkembangan dengan bertambahnya pengertian akan penggambaran yang telah dimilikinya. Didapatkannya penggambaran baru tersebut disebut dengan apersepsi.
Tidak jarang persepsi yang telah dimiliki manusia juga dapat menimbulkan rasa keingintahuan individu pada hal yang sifatnya lebih rinci dan terfokus yang disebut dengan pengamatan. Manusia sebagai makhluk yang unik, yang berlainan antara manusia yang satu dengan yang lainnya sehingga tanggapan akan sesuatunya juga berlainan. Ada yang gemar pada suatu benda, padahal benda tersebut mungkin saja tidak disenangi oleh individu lain. Kegemaran tadi akan menyebabkan individu lebih memusatkan perhatiannya pada benda yang sifatnya lebih khusus tersebut sehingga ia akan mendapatkan pengertian yang lebih lengkap dan terperinci.
Seorang individu juga dapat merekonstruksi penggambaran-penggambaran akan sesuatu yang belum diketahuinya atau belum dirasakannya melalui panca inderanya secara abstrak berdasarkan bagian-bagian penggambaran yang sifatnya sama dengan cara menggabungkan penggambaran-penggambaran dan berdasarkan azas-azas tertentu. Galileo menyatakan bumi itu bulat, padahal sebelumnya belum ada yang pernah berkeliling dunia. Ia berani mengungkapkan pernyataan tersebut berdasarkan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya dari kehidupannya. Pada tingkatan ini manusia telah membuat sebuah konsep.
Penggambaran baru juga dapat dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi berdasarkan keinginan dari setiap individu. Hal ini disebut dengan fantasi. Manusia akan selalu memiliki fantasi karena pemikirannya yang hampir tidak ada batasnya. Keinginan yang dimiliki manusia menimbulkan sebuah cita-cita sehingga ia akan berusaha untuk meraihnya. Fantasi membawa dampak positif bagi individu karena individu dapat membuat sebuah perencanaan akan hari-hari selanjutnya berdasarkan pengalaman-pengalaman yang didapatkannya dari hari-hari sebelumnya.
Pengetahuan dapat hilang dan masuk ke dalam alam bawah sadarnya yang disebut dengan sub-conscious. Akan tetapi pengetahuan tersebut tidak hilmh begitusaja tetapi hanya dilupakan untuk sementara dan pengetahuan itu dapat kembali lagi dalam kesadarannya walaupun hanya sebagiannya. Sebagai contoh, kita mungkin dapat melupakan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidup, seperti mantan kekasih. Akan tetapi kita bisa mengingat kembali kenangan-kenangan yang pernah kita lalui bersama si dia pada saat kita bertemu lagi dengannya setelah sekian lama tidak bertemu.
Selain itu, pengetahuan manusia juga bisa masuk kedalam alam tak sadar yang disebut dengan unconscious. Berbeda dengan pengetahuan yang masuk kedalam sub-concious, pengetahuan yang masuk kedalam unconsciuos dapat timbul kembali pada saat individu berada dalam ketidaksadarannya, seperti mengigau. Individu yang sebelum ia beristirahat, tetap mengingat pekerjaannya, sehingga tanpa sadar ia berbicara sendiri tentang hal-hal dalam pekerjaannya tadi.
By Linda Araini on May 3, 2008 | Reply
Difusi
Difusi juga diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari individu ke individu lain dan dari masyarakat ke masyarakat yang lain. Suatu penemuan baru dapat ditularkan/disebarkan kepada masyarakat luas melalui difusi sehingga semua manusia yang ada di dunia dapat menikmati kegunaannya. Antropologi menekankan pentingnya difusi sebagai suatu pola perubahan..
Pengertian difusi menurut:
1.Rogers (1969) mengemukakan bahwa difusi adalah proses suatu ide-ide baru yang disampaikan melalui sistem hubungan sosial tertentu.
2.Kroeber mengemukakan bahwa difusi selalu menimbulkan perubahan sebagai kebudayaan yang menerima unsur kebudayaan lainnya yang menyebar itu. Pernyatan Kroeber ini jelas karena sifat keterbelakangan kebudayaan marginal yaitu kebudayaan yang paling jauh dari pusat kebudayaan yng lebih tinggi dan akibatnya kurang mendapat keuntungan dari difusi sehingga perkembangannya jauh tertinggal di belakang misalnya masyarakat yang relative terisolasi tak pernah sekaya dan seterampil masyarakat yang berinteraksi dengan masyarakat lain.
3. William A.Haviland mengemukakan bahwa difusi sebagai penyebaran adat/kebiasaan dari kebudayaan yang satu kepada kebudayaan yang lainnya.
4.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, difusi diartikan sebagai proses penyebaran/ perembesan kebudayaan dari satu pihak kepada pihak lain (dari kebudayaan yang satu ke kebudayaan yang lainnya).
Ada 2 tipe difusi :
1. Difusi intramasyarakat terpengaruh oleh beberapa faktor, misalnya:
*. suatu pengakuan bahwa unsur yang baru tersebut mempunyai kegunaan.
* ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang mempengaruhi diterimanya atau tidak diterimanya unsur-unsur yang baru.
* unsur baru yang berlawanan dengan fungsi unsur lama, kemungkinan besar tidak akan diterima.
*. kedudukan dan peranan sosial dari individu yang menemukan hal baru tidak akan mempengaruhi apakah hasil penemuannya itu dengan mudah diterima atau tidak.
2. Difusi antarmasyarakat :
*. adanya kontak antarmasyarakat-masyarakat tersebut.
*. kemampuan untuk mendemonstrasikan kemanfaatan penemuan baru.
*. pengakuan akan kegunaan penemuan baru.
*.ada tidaknya unsur-unsur kebudayaan yang menyaingi unsur-unsur penemuan baru.
*. peranan masyarakat yang menyebarkan penemuan baru di dunia ini.
*. paksaan dapat juga dipergunakan untuk menerima suatu penemuan baru.
3. Bentuk difusi :
a. difusi ekspansi adalah proses di mana informasi / material manjalar dari satu daerah ke daerah lain yang semakin luas/urbanisasi, penyebaran sistem uang, berita dari koran / tv.
b.difusi relokasi adalah informasi atau materi pindah meninggalkan daerah asal ke suatu daerah baru/transmigrasi
c.difusi cascade/bertingkat yaitu penjalaran melalui tingkatan dari atas ke bawah yang disebut top down. contohnya : Keluarga Berencana sedangkan dari bawah ke atas yang disebut bottom up. Contohnya : kebutuhan sarana jalan dari masyarakat diteruskan ke Kepala Desa, ke Camat , Bupati dan sebagainya.
Penyebaran Manusia. Ilmu paleoantropologi telah memperkirakan bahwa makhluk manusia terjadi di suatu daerah tertentu di muka bumi, yaitu daerah sabana tropikal di Afrika Timur, sedangkan sekarang makhluk itu menduduki hampir seluruh muka bumi ini dalam segala macam lingkungan iklim. Hal ini dapat diterangkan dengan adanya proses pembiakan dan gerak migrasi – migrasi yang disertai dengan proses penyesuaian atau adaptasi fisik dan sosial budaya dari makhluk manusia dalam jangka waktu yang lama sejak zaman purba, misalnya persebaran manusia dengan cirri – cirri Austro-Melanesoid. Nenek moyang dari manusia Wajak (Homo Wajakensis), sebelumnya sudah ada yang sejak lama menyebar ke arah timur menduduki Irian, sebelum Kala Es ke-IV berakhir dan sebelum kenaikan permukaan laut yang terjadi waktu itu memisahkan Irian dari bagian barat dari Indonesia dan dari benua Australia.
Migrasi yang lambat dan otomatis adalah sejajar dengan perkembangan dari makhluk manusia yang rupa-rupanya selalu bertambah jumlahnya sejak masa timbulnya di muka bumi hingga sekarang. Dalam proses evolusi serupa itu makhluk manusia seolah-olah selalu memerlukan tempat – tempat yang baru di muka bumi. Sebagian besar dari kelompok-kelompok manusia dalam zaman purba hidup dari berburu. Dari suku-suku bangsa di muka bumi yang sampai sekarang masih hidup dari berburu, kita mengetahui bahwa sekelompok manusia berburu, walaupun memang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, tetapi selalu bergerak dalam batas suatu wilayah berburu yang tetap misalnya manusia purba dulu hidupnya berkelompok di daerah muara-muara sungai di mana mereka hidup dari usaha menangkap ikan di sungai, dari meramu tumbuh-tumbuhan dan akar-akaran dan dari berburu di hutan belukar.
Wilayah itu dikenal oleh warga kelompok bersangkutan dengan teliti sekali. Pengetahuan itu, yaitu pengetahuan tentang topografi tanah, tentang tempat-tempat yang dilalui binatang,tempat-tempat di mana terdapat belukar dan sebagainya, sangat vital bagi sekelompok bangsa berburu. Untuk beberapa saat manusia purba dikatakan hidup menetap, namun dilihat dari jangka waktu yang panjang, suatu kelompok manusia lama-lama akan pindah juga dikarenakan binatang buruaan mulai berkurang atau karena dalam wilayah yang lama jumlah manusia sudah mulai terlampau banyak. Namun, perpindahan itu berjalan sangat lambat, dan biasanya tanpa disadari orang – orang yang bersangkutan.
Migrasi manusia yang berlangsung cepat dan mendadak itu disebabkan oleh beberapa hal, yaitu bencana alam, wabah, perubahan mata pencaharian hidup, peperangan, dan juga sejarah seperti perkembangan pelayaran bangsa Cina di Asia Timur dan Asia Tenggara; perkembangan pelayaran bangsa-bangsa Arab di Asia Selatan dan Afrika Timur; migrasi dari bangsa Arab dari Asia Barat ke Afrika Utara; perkembangan pelayaran dari bangsa-bangsa Eropa ke Benua Afrika, Asia dan Amerika dan sebagainya.
Penyebaran Unsur-Unsur Kebudayaan. Bersamaan dengan penyebaran dan migrasi kelompok-kelompok manusia di muka bumi, turut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan dan sejarah dari proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut proses difusi (diffusion). Salah satu bentuk difusi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain di muka bumi, yang di bawa oleh kelompok-kelompok manusia yang bermigrasi. Terutama dalam zaman prehistori, puluhan ribu tahun yang lalu, ketika kelompok-kelompok manusia yang hidup dari berburu pindah dari satu tempat ke tempat-tempat yang lain hingga jauh sekali, maka unsur-unsur kebudayaan yang mereka bawa juga didifusikan hingga jauh sekali. Bekas-bekas difusi itu yang sekarang menjadi salah satu obyek penelitian ilmu prehistori, misalnya pada masa sekarang bekas-bekas perkampungan serupa apa yang disebut oleh para ahli perhistori disebut abris sous roches (tempat-tempat perlindungan di bawah karang), misalnya karang-karang atau gua – gua dengan himpunan tanah pada dasarnya yang mengandung bekas-bekas alat-alat batu, tulang, dan kerang dari zaman dahulu. Adapula bekas-bekas timbunan sampah dapur yang berasal dari kerang, yang oleh para ahli prehistori disebut kjokkenmoddinger(sampah dapur). Sekarang tempat-tempat itu berupa bukit-bukit kerang yang mengandung alat-alat dari zaman prehistori dengan suatu corak tertentu yang ditandai antara lain oleh kapak genggam.
Penyebaran unsur-unsur kebudayaan dapat juga terjadi tanpa ada perpindahan kelompok-kelompok manusia atau bangsa-bangsa dari satu tempat ke tempat lain, tetapi oleh karena ada individu-individu tertentu yang membawa unsur-unsur kebudayaan itu hingga jauh sekali. Mereka itu adalah terutama pedagang dan pelaut. Pada zaman penyebaran agama-agama besar, kaum pendeta Buddha, para pendeta Nasrani, dan kaum muslimin mendifusikan berbagai unsur kebudayaan dari mana mereka berasal, sampai jauh sekali. Agama Buddha menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri lanka, bagian barat Laut Cina,Kamboja, Laos, Myanmar, Vietnam dan Thailand. Pada zaman penyebaran agama Islam, pedagang – pedagang yang berasal dari Parsi dan Gujarat datang berdagang ke Asia Tenggara terutama Indonesia, selang beberapa lama penyebaran agama Islam di Indonesia khususnya di Jawa dilakukan oleh para Wali yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Pada zaman penyebaran agama Nasrani yang membawa pengaruh kebudayaan Eropa, yang juga masuk ke Indonesia dalam rangka kolonialisme Belanda, ialah agama Katolik dan agama Kristen Protestan (terutama dari aliran Calvinisme), agama-agama tersebut disiarkan dengan sengaja oleh organisasi-organisasi penyiaran agama (missie untuk agama Katolik dan Zending untuk agama Kristen).
Bentuk difusi lain yang mendapat perhatian ilmu antropologi adalah penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu-individu dalam suatu kelompok manusia dengan individu-individu kelompok-kelompok tetangga yang berlangsung dengan berbagai cara, yaitu :
1.Symbiotic adalah hubungan di mana bentuk dari kebudayaan itu masing-masing hampir tidak berubah, misalnya berbagai suku bangsa Afrika hidup bercocok tanam di ladang. Kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari suku-suku bangsa Negrito yang hidup dari berburu dan hasil hutan itu dibarter dengan hasil pertanian. Kedua belah pihak saling membutuhkan, tetapi hanya terbatas pada barter barang-barang itu sedangkan proses pengaruh-mempengaruhi yang lebih jauh tidak ada.
2.Penetration pacifique, artinya “pemasukan secara damai”. Adalah bentuk hubungan yang disebabkan karena perdagangan, tetapi dengan akibat yang lebih jauh daripada yang terjadi pada hubungan symbiotic. Unsur-unsur kebudayaan asing dibawa oleh pedagang masuk ke dalam kebudayaan penerima dengan tidak sengaja dan tanpa paksaan.
Pemasukan secara tidak damai terdapat pada bentuk hubungan yang disebabkan karena peperangan dan serangan penaklukan yang mana di dalamnya terdapat perlaanan fisik…
. Difusi merupakan salah satu proses dari transformasi kebudayaan menyangkut faktor eksternal karena adanya dua kelompok yang bertemu yaitu kelompok asing dan kelompok lokal menyebabkan terjadinya pertemuan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda. Hal ini dianggap sebagai salah satu bentuk komunikasi dari luar. Proses difusi ini bisa dilakukan melalui kemajuan teknologi komunikasi seperti radio, televisi, surat kabar, majalah, buku, film atau satelit.
By MARTINA on May 4, 2008 | Reply
INOVASI KEBUDAYAAN BANJAR
Inovasi adalah suatu proses pembaharuan dari penggunaan sumber-sumber alam, energi, dan modal, pengaturan baru dari tenaga kerja dan penggunaan teknologi baru yang semua akan menyebabakan adanya sistem produksi, dan dibuatnya produk-produk baru. Sedangkan pegertian kebudayaan menurut ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Sebagai contoh inovasi kebudayaan dapat kita jumpai pada kebudayaan masyarakat Banjar Kalimantan Selatan. Beberapa di antara ciri kebudayaan Banjar adalah beragama Islam, berbahasa banjar dan tinggal di tepi sungai.
Beragama Islam
Agama Islam merupakan agama mayoritas masyarakat Banjar. Masyarakat Banjar mulai memeluk agama Islam sejak sultan kerajaan Banjar yakni Sultan Suriansyah memeluk agama Islam. Sampai sekarang pun agama Islam tetap menjadi agama mayoritas masyaraka Banjar. Salah satu inovasi yang dapat dilihat dari segi agama Islam yang dianut masyarakat Banjar adalah pembaharuan pada tempat peribadatannya. Dulu hampir semua aktivitas keagamaan dilakukan oleh masyarakat Banjar di surau yang berukuran kecil dan sederhana, tetapi sekarang telah banyak bangunan masjid yang besar dengan berbagai corak dan seni.
Berbahasa Banjar
Bahasa Banjar terbagi menjadi dua, yaitu bahas Banjar Hulu dan bahasa Banjar Kuala. Dari segi bahasa ini pun juga mengalami pembaharuan yang dapat dijumpai dari bertambahnya jumlah kosa kata yang digunakan.
Tinggal di tepi sungai
Sungai merupakan pusat kebudayaan Banjar. Hampir semua aktivitas masyarakat Banjar dilakukan di sungai. Sungai digunakan sebagai sarana transportasi, sarana pengairan lahan pertanian maupun sanitasi lingkungan, sebagai tempat penghasil bahan makanan seperti lauk pauk, dan tempat melakukan segala aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, minum, memasak dan lain sebagainya. Oleh karena itulah kebudayaan Banjar dikenal dengan kebudayaan sungai.
Kebudayaan sungai yang melekat pada masyarakat Banjar itu sendiri telah mengalami berbagai inovasi terutama dari segi teknologi dan ideologi.
1. Segi Teknologi
Dari segi teknologi, pembaharuan dapat berupa penggunaan alat baru dan metode transportasi. Penggunaan alat baru pada masyarakat Banjar dapat dilihat dari aktivitas mereka dalam berbagai mata pencaharian, misalnya bertani. Dulu dalam melakukan aktivitas bertani mereka masih menggunakan metode dan peralatan yang sederhana. Misalnya dalam hal pengolahan tanah dulu menggunakan “tajak”, sekarang sudah menggunakan traktor. Dalam hal pemisahan padi dengan batangnya, dulu masih dilakukan dengan cara “diirik” sekarang sudah menggunakan mesin perontok padi. Kemudian untuk memisahkan padi dari kulitnya, dulu dilakukan dengan cara ditumbuk di lesung, sekarang sudah menggunakan mesin penggiling padi.
Demikian juga dengan mata pencaharian perikanan. Masyarakat Banjar terbiasa menggunakan peralatan yang sederhana, misalnya pancing, tangguk, dan lukah. Sedangkan transportasi yang digunakan juga masih menggunakan jukung biasa. Sekarang sudah mnggunakan jala dan perahu yang dilengkapi dengan motor. Hal ini sangat penting dalam menghemat waktu dan tenaga, sehingga hasil tangkapan dapat dipasarkan dengan cepat.
Pada masyarakat Banjar, juga mengalami inovasi pada metode transportasi. Pada tempo dulu, masyarakat Banjar lebih mengutamakan transportasi melalui sungai. Sungai memiliki peran yang penting dalam kegiatan ekonomi, misalnya jual beli, pendistribusian barang dan transfer kebudayaan lainnya. Akan tetapi, sekarang masyrakat Banjar cenderung mengutamakan transportasi darat. Hal ini juga ditunjang dengan pembangunan jalur darat dan jembatan penyeberangan oleh pemerintah.
2. Segi Ideologi
Kebudayaan Banjar juga mengalami inovasi dari segi ideologi, misalnya dari tata cara berpakaian. Sekarang kain sasirangan yang merupakan kain khas Banjar tidak hanya dipakai sebagai sarana penyembuhan orang sakit ataupun hanya dipakai pada upacara adat masyarakat Banjar serta hanya dapat dipakai oleh golongan bangsawan. Tetapi dapat dipakai oleh siapa saja dalam berbagai acara. Apalagi sekarang kain sasirangan banyak yang dimodifikasi dalam berbagai bentuk dan motif. Demikian pula halnya dengan pakaian pengantin adat Banjar. Dulu pakaian pengantin adat Banjar hanya berwarna kuning yang merupakan warna sakral bagi orang Banjar. Sekarang sudah mengalami modifikasi dalam berbagai warna.
Inovasi kebudayaan dapat berupa pembaharuan pada ide, aktivitas dan hasil karya manusia. Inovasi yang dapat dilihat dengan jelas adalah inovasi yang berupa hasil karya, misalnya pembaharuan teknologi.
Pada kebudayaan masyarakat Banjar sendiri juga mengalami inovasi. Meskipun tidak semua inovasi yang dihasilkan tersebut berdampak positif. Misalnya ketika pemerintah daerah lebih memprioritaskan pembangunan jalur darat dan jembatan penghubung. Hal ini telah menimbulkan masalah baru yaitu akan hilangnya mata pencaharian masyarakat penjual jasa angkutan air, seperti yang terjadi pada masyarakat penawar jasa kapal penyebrangan di sungai Gampa, Ranau Badauh Kalimanan Selatan. Sebelum jembatan Rumpiang selesai dibangun saja pengguna jasa penyeberangan sudah sepi, apalagi kalau jembatan Rumpiang selesai dibangun.
Akan tetapi perlu diingat bahwa suatu kebudayaan beserta pendukungnya tidak akan mengalami kemajuan jika tidak melakukan inovasi.
By Wiwik Norliyana on May 5, 2008 | Reply
Akulturasi
Para sarjana anthropologi sepaham bahwa konsep akulturasi adalah mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing dengan sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah kedalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur-unsur kebudayaan atau kepribadian kebudayaan itu sendiri. Misalnya kebudayaan Hindu memasuki kebudayaan Bali, dan menyatu menjadi kebudayaan Hindu-Bali. Unsur-unsur kebudayaan Bali tidak akan hilang atau tetap bertahan meskipun dimasuki kabudayaan Hindu.
Proses akulturasi sudah ada sejak dulu dalam sejarah kebudayaan manusia. Akan tetapi, proses akulturasi yang mempunyai sifat yang khusus baru timbul ketika kebudayaan bagsa-bangsa di Eropa Barat mulai menyebar ke seluruh daerah dimuka bumi, dan mulai mempengaruhi masyarakat, suku-suku bangsa di Afrika, Asia, Oceania, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Namun, perubahan kebudayaan akibat adanya proses akulturasi tidak menyebabkan terjadinya perubahan total pada kebudayaan yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karna ada unsur-unsur kebudayaan yang masih bertahan, menerima sebagian atau mengadakan penyesuaian dengan unsur-unsur kebudayaan yang baru.
Para ahli Anthropologi mempergunakan istilah-istilah berikut, untuk menganalisis apa yang terjadi dalam proses akulturasi :
1. Substitusi. Unsure atau kompleks unsur kebudayaan yang lama diganti dengan unsur baru yang lebih memberikan kegunaan bagi keperluan hidup masyarakatnya. Contohnya : sistem komunikasi tradisional yang dulu dilakukan melalui kentongan, genderan atau bedug diganti dengan telepon, radio atau pengeras suara.
2. Sinkretisme. Unsur-unsur lama masih berfungsi dan bercampur dengan unsur baru sehingga membentuk sistem yang baru. Contoh : sinkretisme banyak terjadi dalam unsur keagamaan. Tradisi-tradisi lama masih bertahan, bercampur dengan unsur keagamaan yang baru.
3. Adisi. Ditambahkannya unsur-unsur yang baru kepada unsur-unsur lama yang masih berlaku. Contoh : diperkenalkannya jenis-jenis pupuk kimia kepada para petani. Sementara itu, jenis pupuk tradisional (pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk hijau) masih dipakai.
4. Dekulturasi. Adanya suatu unsur tertentu yang hilang dan diganti dengan unsur yang baru. Contoh : adanya mesin penggiling padi, mengakibatkan hilangnya tradisi menumbuk padi dengan lesung dan alu.
5. Originasi. Masuknya unsur kebudayaan yang sama sekali baru, sehingga meninbulkan perubahan besar. Contoh : proyek listrik masuk desa menimbulkan situasi baru di daerah pedesaan. Listrik tidak hanya menyebabkan perubahan lampu “lampu minyak” menjadi lampu listrik. Tetapi masuk juga unsur-unsur telekomunikasi seperti radio dan televise. Media tersebut banyak memberikan informasi dan potensi perubahan di bidang pendidikan, kesehatan dan perekonomian.
6. Penolakan (|Rejection). Proses akulturasi yang terlalu cepat atau terlalu dipaksakan sehingga banyak anggota masyarakat yang tidak siap menerima. Akibatnya, mereka menolak terjadinya perubahan, baik secara terang-terangan (misalnya memberontak) atau secara diam-diam. Contohnya : pemberontakan di zaman penjajahan.
7. Penetrasi atau penerobosan kebudayaan.
Suatu unsure atau kompleks unsur kebudayaan asing mempengaruhi kebudayaan setempat sedemikian rupa intensifnya sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan besar pada kebudayaan setempat.
Penetrasi kebudayaan ada yang berlangsung secara damai, ada juga yang berlangsung secara paksa melalui kekerasan. Penetrasi secara damai yang disebut Penetration Pacifique, biasanya dilakukan oleh para pedagang dan penyebar agama. Contoh : masuknya pengaruh Hindu dan Islam ke Indonesia. Adapun penetrasi secara paksa yang disebut Penetration Violente dilakukan melalui penaklukan atau penjajahan. Contohnya : penjajahan orang-orang Eropah di Afrika dan di Asia termasuk di Indonesia.
Jadi, akulturasi merupakan proses perubahan dimana terjadi penyatuan dua kebudayaan yang berbeda. Penyatuan ini menyebabkan kebudayaan yang lemah menyerupai kebudayaan yang kuat, tetapi maisng-masing kebudayaan masih mempertahankan ciri khususnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Koeber, bahwa akulturasi meliputi berbagai perubahan dalam kebudayaan yang disebabkkan oleh adanya pengaruh dari kebudayaan lain, yang akhirnya menghasilakan persamaan pada kebudayaan.
Robert H Lauer memberikan contoh, pemerintah kolonial mencoba “membudayakan” orang Afrika. Membudayakan di sini berarti adanya penyatuan yag disengaja, agar kebudyaan kolonial mempengaruhi kebudayaan orang Afrika.
Dengan demikian, syarat utama terjadinya akulturasi adalah adanya kontak sosial dan komunikasi antara 2 kelompok masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Kebudayaan asing akan relative mudah diterima apabila:
1. tidak adanya hambatan geografis, seperti daerah bergunung akan relative susah dijangkau, sehingga kontak dengan masyarakat luar menjadi sukar
2. kebudayaan yang datang memberikan manfaat yang lebih besar bila dibandingkan dengan unsur kebudayaan yang lama
3. adanya persamaan dengan unsur kebudayaan yang lama
4. adanya kesiapan pengetahuan dan keterampilan
5. kebudayaan itu bersifat kebendaan
Jika beberapa faktor diatas dapat dilalui, maka proses akulturasi akan mudah diterima masyarakat setempat.
By siti nurul kamila on May 6, 2008 | Reply
PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat.Kebudayaan merupakan pengetahuan manusia yang diyakini akan kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti serta menyelimuti perasaan-perasaan dan emosi-emosi manusia serta menjadi sumber bagi sistem penilaian suatu yang baik dan buruk,suatu yang berharga atau tidak,yang bersih atau kotor dan sebagainya.Hal ini bisa terjadi karena kebudayaan itu di selimuti oleh nilai-nilai moral, yang sumber dari nilai-nilai moral tersebut adalah pada pandangan hidup dan pada etos atau sistem etika yang dipunyai oleh setiap manusia.Menurut Edward B Tylor,kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,yang didalamnya terkandung pengetahuan,kepercayaan,kesenian,moral,hukum,adat istiadat,dan kemampuan-kemampuan lainya yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya,rasa,dan cipta masyarakat.dari dua difinisi di atas dapat di peroleh pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistim pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam pikiran sehari-hari kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola perilaku, bahasa, peralatan hidup,organisasi sosial, religi, seni,dan lain-lain. Kebudayaan adalah hasil karya manusia dalam usahanya mempertahankan hidup, mengembangkan keturunan dan meningkatkan taraf kesejahteraan dengan segala keterbatasan kelengkapan jasmaninya serta sumber-sumber alam yang ada di sekitarnya. Kebudayaan boleh dikatakan sebagai perwujudan tanggapan manusia terhadap tantangan-tantangan yang di hadapi dalam proses penyesuaian diri mereka dengan lingkungan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yamg di gunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya,serta menjadi kerangka landasan bagi mewujudkan dan mendorong terwujudnya kelakuan. Dalam difinisi ini, kebudayaan dilihat sebagai “mekanisme kontrol” bagi kelakuan dan tindakan-tindakan manusia (Geerts, 1973). Kebudayaan yang telah menjadi sistem pengetahuannya, secara terus menerus dan setiap saat, bila ada rangsangan digunakan untuk dapat memahami dan menginterpretasi gejala, peristiwa, dan benda-benda yang ada dalam lingkungannya sehingga kebudayaa yang dipunyai itu juga dipunyai oleh para warga masyarakat dimana dia hidup. Karena, dalam kehidupan sosialnya dan dalam kehidupan sosial warga masyarakat tersebut, mewujudkan berbagai kelakuan dan hasil kelakuan yang harus saling dipahami agar keteraturan soaial dan kelangsungan hidup mereka sebagai mahluk sosial dapat tetap di pertahankan. Pemahaman ini dimungkinkan oleh adanya kesanggupan manusia untuk membaca dan memahami serta menginterpretasikan secara tepat berbegai gejala dan peristiwa yang ada dalam lingkungan. Kesanggupan ini di mungkinkan adnya kebudayaan yang berisikan model-model kognitif yang mempunyai peranan sebagai kerangka pegangan untuk pemahaman. Dan dengan kebudayaan ini manusia mempunyai kesanggupan untuk mewujudkan kelakuan tertentu sesuai dengan rangsangan- rangsangan yang ada atau yang dihadapinya.
By m.agustiannur on May 7, 2008 | Reply
3.7 Kepribadian Banjar
Kepribadian atau personality berasal dari kata persona yang berarti masker atau topeng; maksudnya apa yang tampak secara lahir tidak selalu menggambarkan yang sesungguhnya (dalam bathinnya). Contoh: orang lapar belum tentu mau makan ketika ditawari makanan, pada hal perutnya keroncongan. Orang tidak punya uang dapat berpura-pura punya uang atau sebaliknya. Itulah gambaran kepribadian, bahwa yang tampak bukan yang sebenarnya.
Kepribadian menurut Kontjaraningrat adalah semua corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsangan baik dari luar maupun dari dalam. Corak perilaku dan kebiasaan ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada seseorang. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya (Depkes, 1992).
kepribadian itu sebetulnya adalah pemberian Tuhan yang sangat berkaitan dengan komposisi fisik kita ditambah dengan pengaruh lingkungan yang kita terima atau kita alami pada masa pertumbuhan kita. Misalnya, ada orang yang mudah cemas, kita tidak bisa langsung berkata orang ini beriman lemah, tapi memang sejak lahir jantungnya peka, mudah sekali merasakan getaran-getaran yang bersumber dari luar dirinya. Akibatnya dia lebih mudah dikejutkan, merasa tegang, dan lebih rawan terhadap kecemasan. Yang jelas nobody’s perfect, tidak ada orang yang sempurna. Masing-masing orang sudah dikaruniai Tuhan kelebihan dan kekurangan.
Budaya Banjar
Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia (1997) disebutkan bahwa dalam Ilmu Sosial, kebudayaan merupakan himpunan keseluruhan dari semua cara manusia berpikir, berperasaan dan berbuat serta segala sesuatu yang dimilki manusia sebagai anggota masyarakat yang dapat dipelajari dan dialihkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Koentjaraningrat (1995) menyebutkan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya cipta manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar.
Masyarakat Banjar dikenal identik dengan agama Islam, Alfian Daut (1997) secara baik sekali mengemukakan tentang kebudayaan masyarakat Banjar dalam disertasinya Islam dan Masyarakat Banjar : Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Alfian menguraikan tentang kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Banjar yang dibedakan atas tiga macam, yaitu pertama kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam (kepercayaan Islam), kedua kepercayaan yang mungkin ada kaitannya dengan struktur masyarakat Banjar pada zaman dulu atau dikenal dengan istilah bubuhan. (Bubuhan ini masih ada dalam masyarakat Banjar sekarang). Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin ada kalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.
Dengan pemahaman kebudayaan tersebut kiranya kita dapat secara arif dan bijaksana untuk menyikapi adanya pluralitas yang ada di masyarakat. Sangat menarik pula untuk dikemukakan disini tentang Tradisi Demokrasi dalam Persektip sejarah Banjar yang dikemukakan oleh Bambang Subiyakto (2001) bahwa masyrakat Banjar pada dasarnya adalah masyarakat agraris yang terbuka, egaliter dan resiprokal. Karena itu kebudayaan masyarakatnya dengan sendirinya bersifat demokratis, sebab hierarki bukan merupakan produk alamiah melainkan produk kultural, akal budi manusia.
Kepribadian Banjar
Suatu ciri atau identitas dari masyarakat Banjar adalah memeluk agama Islam. Orang Banjar merupakan pemeluk mayoritas agama Islam oleh karena itu, kepribadian yang muncul pada masyarakat Banjar Banyak dipengaruhi oleh ajaran – ajaran Islam disamping memiliki pengaruh yang lain.
Perubahan situasi dapat mengubah posisi mereka dalam struktur simbolik yang abstrak, termasuk di dalamnya seperangkat norma atau aturan mengenai hubungan sosial. Implikasinya pertama, sofistikasi budaya Banjar relatif rendah karena keterrikatannya yang relatif kuat pada hubungan-hubungan yang bersifat langsung baik hubungan produksi (dengan alam), hubungan sosial, ekonomi maupun politik.Demokrasi dalam prespektif budaya dan sejarah Banjar adalah demokrasi yang bersifat langsung dari setiap struktur atau kebijaksanaan sebagai dampak tidak langsung atau jangka panjangnya. (Faruk,1994)
Sifat egaliter dan resiprokal tersebut pada masyarakat Banjar tercermin oleh rasa tidak suka terhadap pemaksaan kekuasaan. Mereka lebih mengutamakan kebebasan dan kemerdekaan serta perdamaian atau bekerja sama, disamping agak individualis. Semua itu tidak lain merupakan bagian (unsur) sifat-sifat demokrasi masyarakat ini.
Seperti diungkapkan Faruk H.T. (1994) bahwa bahasa Banjar cenderung sederhana, mempunyai kosa kata terbatas jumlahnya sehingga komunikasi kebahasaan sangat terikat pada situasi kontak personal dan langsung. Implikasinya yang kedua, ikatan orang Banjar pada struktur simbolik yang abstrak menjadi relatif longgar.
Dengan demikian jelas terlihat bagaimana sebenarnya masyarakat Banjar dengan kemajemukannya tersendiri telah mampu menyatukan unsur-unsur budayanya menjadi satu kesatuan sebagai ciri khas dari masyarakat Banjar itu sendiri. Apapun alasan dalam upaya penyeragaman budaya yang ada merupakan suatu pengingkaran atas realita yang ada di masyarakat. Karena masyarakat Banjar memiliki kepribadian yang hampir mirip namun tak serupa dengan masyarakat yang lain.
By Hadi Rahman on May 7, 2008 | Reply
Sistem Religi Banjar
A.Pendahuluan
Pengakuan bahwa religi suatu sistem, berarti religi itu terdiri dari bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain, dan masing-masing bagian merupakan satu sistem tersendiri. Apabila kita berbicara tentang sistem kepercayaan, maka yang dimaksud ialah seluruh kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh seseorang atau kesatuan sosial. Kesatuan sosial itu dapat berwujud suatu masyarakat dalam arti luas, tetapi dapat pula berwujud satu kelompok kekerabatan yang relatif kecil, dalam hal ini Bubuhan dalam masyarakat Banjar, atau bahkan keluarga batih semata-mata, dan dapat pula berwujud suatu masyarakat daerah lingkungan tertentu. Pengkategorian atas berbagai sistem kepercayaan yang ada dalam masyarakat Banjar sedikit banyak berdasarkan atas kesatuan-kesatuan sosial yang menganutnya.
B.Perkembangan Agama Atau Kepercayaan Dalam Masyarakat Banjar
Bentuk-bentuk kepercayaan dan praktek-praktek keagamaan yang bagaimana yang dianut oleh nenek-nenek moyang orang Banjar tatkala mereka mula-mula menetap di sini, sulit mencari keterangan dan bukti yang akurat untuk mengutarakan asal-usul agama dalam suku Banjar. Barangkali aspek religius dari kehidupan masyarakat Bukit yang mendiami pegunungan Meratus adalah merupakan sisa-sisa yang masih tertinggal (survivals) dari kepercayaan mereka itu. Tentu saja dengan mengingat pengaruh dari agama Hindu dan Islam. Mungkin pula religi nenek moyang orang Banjar pada zaman purba itu dapat ditelusuri di kalangan suku Murba yang hidup di daerah Sumatera (Riau dan Jambi) dan Semenanjung Malaya (sekarang Malaysia Barat) pada saat ini. Dengan demikian kita bisa memperkirakan bahwa religi mereka berdasarkan pemujaan nenek moyang dan adanya makhluk-makhluk halus di sekitar mereka (animisme). Mungkin bentuk-bentuk pemujaan nenek moyang dan aspek-aspek animisme dari kehidupan keagamaan masyarakat Banjar, yang kadang-kadang masih muncul, adalah sisa-sisa dari agama mereka dahulu kala.
Tentang agama yang dianut oleh raja-raja cikal bakal sultan-sultan Banjar, Hikayat Banjar mungkin dapat dijadikan landasan. Empu Jatmika pada waktu mendirikan keraton Negaradipa konon menyuruh pula membangun candi, yang dinamakan “candi Agung”, yang bekas-bekasnya masih ada di kota Amuntai, tidak jauh dari pertemuan sungai Balangan dan Tabalong.
Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa agama yang dianut di Negaradipa dan demikian pula agaknya di Negaradaha, ialah salah satu bentuk agama Syiwa, mungkin sekali dalam bentuk sinkretisme syiwa Budha. Pengaruh ini intensif, menurut salah satu peneliti sejarah budaya Banjar hanya terbatas dalam lingkungan Keraton dan keluarga bangsawan atau pembesar-pembesar kerajaan, dan hanya berkenaan dengan daerah ibukota lalawangan (mungkin setingkat kabupaten Jawa).
Sejak pangeran Samudera dinobatkan sebagai sultan Suriansyah di Banjarmasin, yaitu kira-kira 400 tahun yang lalu, Islam telah menjadi agama resmi kerajaan menggantikan agama Hindu. Dan agaknya perubahan agama istana Hindu menjadi Islam dipandang oleh rakyat awam sebagai hal yang sewajarnya saja, dan tidak perlu mengubah loyalitas mereka. Sejak masa Suriansyah proses islamisasi berjalan cepat, sehingga dalam waktu yang relatif tidak terlalu lama, yaitu sekitar pertengahan abad-18 atau bahkan sebelumnya, Islam sudah menjadi identitas orang Banjar.
Sebagaimana nama-nama atau barangkali lebih baik gelar-gelar bagi dewa tertinggi itu memperlihatkan adanya pengaruh Hindu dan Islam., dan sebagian lagi membayangkannya sebagai nenek moyang.
Agama Kristen mulai diperkenalkan sekitar tahun 1688 oleh seorang pastor Portugis, namun penyebaran agama Kristen secara intensif dilakukan di kalangan orang Dayak di kawasan ini oleh kegiatan zending sejak tahun 1688. Orang-orang Dayak sasaran khususnya ialah yang bertempat tinggal di (propinsi) Kalimantan Tengah, sedangkan orang-orang Bukit baru terjamah oleh kegiatan pengkristenan pada permulaan abad ini.
Feuilletau de Bruyn melaporkan ditemukannya sekitar 200 orang Kristen di kalangan orang Manyan di sekitar kota Tanjung, yang tersebar dalam beberapa kampung, sedangkan beberapa penganut Kristen di Labuhan pada waktu itu tidak diperoleh sesuatu keterangan.
Setelah menceritakan tentang sultan Suriansyah, selaku sultan Banjar pertama yang menganut agama Islam, Hikayat Banjar tidak menyinggung-nyinggung lagi bagaimana proses islami selanjutnya atau bagaimana pengaruh Islam terhadap pemerintahan dan kehidupan sehari-hari, selain menyebut beberapa jabatan agama, yaitu panghulu, khalifah dan khatib.
Mungkin perkembangan jabatan-jabatan agama dari yang tertinggi di ibukota kesultanan sampai yang terendah di kampung-kampung adalah atas pengaruh syekh Muhammmad Arsyad al Banjari. Pengaruh beliau terhadap pelaksanaan sehari-hari di kehidupan keagamaan orang Banjar cukup besar. Karya yang konon didasarkan atas ajaran beliau, yaitu kitab perukunan, sejak lama sekali, bahkan sampai sekarang masih, merupakan kitab pegangan bagi sebagian besar ummat Islam di Banjar, bahkan juga di daerah-daerah lainnya di Indinesia.
C. Kepercayaan Dan Keyakinan Di Masyarakat Banjar
Kepercayaan yang berasal dari ajaran Islam bukanlah satu-satunya kepercayaan religius yang dianut masyarakat Banjar, sistem ritus dan sistem upacara yang diajarkan Islam bukanlah satu-satunya sistem upacara yang dilakukan. Keseluruhan kepercayaan yang dianut orang Banjar penulis sejarah bedakan menjadi tiga kategori. Yang pertama ialah kepercayaan yang bersumber dari ajaran Islam. Isi kepercayaan ini tergambar dari rukun iman yang ke enam. Yang harus disebutkan di sini, sehubungan dengan karangan ini, ialah kepercayaan tentang malaikat sebagai makhluk Tuhan dengan fungsi-fungsi tertentu. Dan tentang adanya kehidupan sesudah mati atau sesudah hancurnya alam semesta ini ( hari akhirat) selain manusia dan malaikat, masih ada dua jenis makhluk Tuhan lain yang termasuk dalam sistem kepercayaan ini dan keduanya memang disebut dalam Al Qur’an, yaitu jin dan setan atau iblis.
Kedua, kepercayaan yang munkin ada kaitannya denga struktur masyarakat Banjar pada zaman dahulu, yaitu setidak-tidaknya pada masa sultan-sultan dan sebelumnya. Orang-orang Banjar pada waktu itu hidup dalam lingkungan keluarga luas, yang dinamakan bubuhan dan juga bertempat tinggal dalam rumah, dan belakangan, dalam lingkungan , bubuhan pula.
Kepercayaan demikian ini selalu disertai dengan keharusan bubuhan melakukan upacara tahunan, yang dinamakan atau lebih baik penulisan kategorikan sebagai aruh tahunan, disertai berbagai keharusan atau tantangan sehubungan dengan kepercayaan itu.
Ketiga, kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran masyarakat atas alam lingkungan sekitarnya, yang mungkin adakalanya berkaitan pula dengan kategori kedua.kepercayaan kategori pertama mungkin lebih baik dinamakan kepercayaan Islam, kategori kedua kepercayaan bubuhan dan kategori ketiga kepercayaan lingkungan. Referensi sehubungan dengan kepercayaan Islam biasanya diperoleh dari ulama-ulama, kepercayaan bubuhan diperoleh dari tokoh bubuhan dan kepercayaan yang berhubungan dengan tafsiran penduduk terhadap lingkungan alam sekitar (kepercayaan lingkungan) diperoleh dari tabib-tabib, sebutan dukun dalam masyarakat Banjar, atau orang-orang tua tertentu, terutama yang tinggal di lingkungan yang bersangkutan tetapi juga yang bertempat tinggal di luarnya. Masih sehubungan dengan bentuk kepercayaan yang ketiga, kepercayaan lingkungan, ialah kepercayaan yang berkenaan dengan isi alam ini.
Di dalam masyarakat berkembang kepercayaan dengan minyak-minyak sakti, yang konon berkhasiat menyebabkan dagangan sipemakainya laku, ia disukai orang, menyembuhkan luka bagaimanapun parahnya, atau kebal terhadap senjata, tetapi di samping itu ada di antara minyak-minyak sakti itu yang berakibat sampingan berupa peminumnya menjadi “hantu” setelah matinya kelak, khususnya berkenaan wanita yang minum minyak kuyang.
Masyarakat Banjar mengembangkan kegiatan berupacara hampir dalam semua bidang kehidupan: yang ia lihat dari sifatnya merupakan pelaksanaan belaka dari kewajiban-kewajiban (dan anjuran-anjuran) yang diajarkan oleh agama Islam, terjadi dalam rangka peralihan tahap-tahap hidup seorang individu, yang berulang tetap sesuai jalannya kelender, dan yang terjadi sewaktu-waktu dirasakan keperluan untuk itu.
D.Penutup
Kepercayaan dan agama yang dianut nenek moyang kita pada zaman dahulu yang berkembang hingga sekarang tidak lepas dari beberapa keyakinan tentang hal yang gaib dan dijadikan ritual penyembahan. Sejak masa Syekh Arsyad al Banjari perubahan dan perkembangan agama terjadi khususnya agama Islam sedangkan agama Kristen datang di bawa oleh bangsa Portiugis dan berkembang di masyarakat Banjar sehingga terjadi keragaman agama dalam masyarakat banjar.
By Helmi Hakim on May 7, 2008 | Reply
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Unsur-unsur Kebudayaan adalah merupakan pemerincian ke dalam unsur-unsur yang khusus. C. Kluckhohn seorang ahli antrapologi dalam sebuah karanganya yang berjudul Universal Categoriies of Culture (1953),dia berpndapat bahwa ada tujuh unsur kebudayaan yang dapat di temkan pada semua bangsa di dunia,unsur-unsur tersebut yaitu:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
a.alat-alat produktif
b.senjata
c.wadah
d.alat-alat menyalakan api
e.makanan
f.pakaian
g.tempat berlindung dan perumahan
h.alat-alat transportasi
2. Sistem mata pencaharian hidup
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
a.berburu dan meramu
b.beternak
c.bercocok tanam di ladang
d.menangkap ikan
3. Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. M. Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya. Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
4. Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuna, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
5. Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
6. Sistem kepercayaan
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latin religare, yang berarti “menambatkan”), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion (Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
a.Agama Samawi
Agama samawi adalah merupakan agama yang berasarkan wahyu Ilahi.Agama Samawi atau agama Abrahamik meliputi Islam, Kristen (Protestan dan Katolik) dan Yahudi.
a.1. Agama Yahudi
Yahudi adalah salah satu agama yang jika tidak disebut sebagai yang pertama tercatat sebagai agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi adalah bagian utama dari agama Ibrahim lainnya, seperti Kristen dan Islam.
a.2. Agama Kristen
Kristen adalah salah satu agama penting yang berhasil mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsuf Kristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus.
a.3. Agama Islam
Agama Islam merupakan agama monotheime/atau monotheistik pertama dan tertua.Agama lain merupakan modifikasi manusia dari agama islam. kita bisa lihat dari perkembangan agama dari nabi-nabi terdahulu.Agama Islam telah berhasil merubah cara pandang orang-orang eropa terhadap kebudayaan, seperti ilmu-ilmu fisika, matematika, biologi, kimia dan lain-lain oleh para fislsuf barat yang kemudian hal itu diubah dan diakui oleh orang-orang eropa bahwa hal itu merupakan hasil karya orng eropa asli, Terutama oleh kalangan para filsafat. Sementara itu, nilai dan norma agama Islam banyak mempengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan juga sebagian wilayah Asia Tenggara.
b.Filosofi dan Agama dari Timur
Filosopi dan Agama seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China dan menyebar disepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari China, mempengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.
c. Agama tradisional
Agama tradisional, atau terkadang disebut sebagai “agama nenek moyang”, dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto. Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
7. Sistem ilmu dan pengetahuan
Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
a.pengetahuan tentang alam
b.pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
c.pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
d.pengetahuan tentang ruang dan waktu.
Tiap unsur kebudayaan universal apat di perincikan lagi ke dalam unsur-unsurnya yang lebih kecil sampai beberapa kali.hal ini karena serupa dengan kebudayaan dalam keseluruhan .tiap unsur kebudayaan universal itu juga memiliki tiga wujud,yaitu wujud sistem budaya wujud sistem sosial,dan wujud kebudayaan fisik.
By setiyadi on May 7, 2008 | Reply
Proses evolusi Sosial
Proses Microscopic dan Macroscopic Dalam Evolusi Sosial. Proses evolusi dari suatu masyarakat dan kebudayaan dapat dianalisa oleh seorang peneliti seolah-olah dari dekat secar detail (microscopic), atau dapat juga dipandang dari jauh hanya dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang besar saja (macroscopic). Proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata seorang peneliti untuk berbagai macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam setiap masyarakat di dunia.
Proses-Proses Berulang dalam Evolusi Sosial Budaya. Dalam antropologi, perhatian terhadap proses-proses berulang dalam evolusi sosial budaya baru timbul sekitar tahun 1920 bersama dengan perhatian terhadap individu dalam masyarakat. Proses ini mengenai suatu aktivitas dalam sebuah lingkunagn atau suata adat dimana aktivitas yang dilakukan terus berulang. Dan aktivitas yang dimaksud biasanya aktivitas yang menyimpang atau diluar kehendak prilaku. Namun pada suatu ketika dan sering terjadi aktivitas tersebut selalu berulang (recurent) dalam kehidupan sehari-hari disetiap masyarakat. Sampai akhirnya masyarakat tidak bisa mempertahankan adatnya lagi, karena terbiasa dengan penyimpangan-penyimpangan tersebut. Maka masyrakat terpaksa memberi konsesinya, dan adat serta aturan diubah sesuai dengan keperluan baru dari individu-individu didalam masyarakat.
Dalam meneliti masalah ketegangan antara adat istiadat yang berlaku dengan kebutuhan yang dirasakan oleh beberapa individu dalam suatu masyarakat, perlu diperhatikan dua konsep yang berbeda, yaitu (1) kebudayaan sebagai kompleks dari konsep norma-norma, pandangan-pandangan, dan sebagainya, yang bersifat abstrak (yaitu sistem budaya), dan (2) kebudayaan sebagai serangkaian tindakan yang konkrit, dimana para individu saling berinteraksi (yaitu sistem sosial). Kedua sistem tersebut sering saling bertentangan, dan dengan mempelajari konflik-konfliks yang ada dalam setiap masyarakat itulah dapat diperoleh pengertian mengenai dinamika masyarakat pada umumnya.
Proses Mengarah dalam Evolusi Kebudayaan. Dengan mengambil jangka waktu yang panjang maka akan terlihat prubahan-perubahan besar yang seolah bersifat menentukan arah (dirctional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan yang bersangkutan. Sebagai contoh misalnya tingkat kebudayaan manusia yang berawal dari Neolitik, kemudian berubah menjadi Mesolitik dan akhirnya berubah menuju Paleolitik.
Perubahan Sosial dan Kebudayaan. Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan. Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan itu dapat terjadi pada nilai sosial, norma sosial, pola perilaku organisasi, lapisan masyarakat, lembaga kemasyarakatan, interaksi sosial dan lain sebagainya. Perubahan sosial itu terjadi karena adanya perubahan dalam unsur-unsur yang mempertahankan keseimbangan masyarakat seperti misalnya perubahan dalam unsur geografis, biologis, ekonomis, atau kebudayaan.
Para pakar sering mempersoalkan tentang hubungan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Sebagian mengatakan bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan, karena kebudayaan mencakup semua aspek kehidupan. Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.
Bentuk-bentuk Perubahan Sosial Budaya.
Perubahan secara lambat dan Perubahan secara cepat (dilihat dari waktu). Perubahan secara lambat atau evolusi, yaitu perubahan yang memerlukan waktu lama. Cirinya : memerlukan waktu lama, perubahannya kecil, perubahan tidak disadari oleh masyarakat, tidak diikuti oleh konflik atau tidak menimbulkan kekerasan. Contohnya : perubahan mata pencaharian masyarakat Perubahan secara cepat atau revolusi, yaitu perubahan yang terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Ciri-cirinya membutuhkan waktu singkat, perubahannya besar karena menyangkut sendi-sendi pokok kehidupan, perubahan disadari/direncanakan, seringkali diikuti oleh kekerasan atau menimbulkan konflik. Contohnya : revolusi Indonesia tahun 1945, reformasi Indonesia tahun 1998, revolusi industri Perancis dan Inggris.
Perubahan yang pengaruhnya kecil dan pengaruhnya besar. Perubahan yang pengaruhnya kecil adalah perubahan yang tidak membawa pengaruh langsung bagi kehidupan masyarakat. Contohnya : perubahan mode pakaian, gaya potongan rambut, dan lain-lain. Perubahan yang membawa pengaruh besar adalah perubahan yang membawa pengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat karena perubahan yang terjadi pada unsure-unsur social budaya masyarakat. Contonya : Industrialisasi membawa pengaruh pada hubungan kerja, lembaga kemasyarakatan, system pemilikan tanah, pelapisan social, hubungan kekerabatan, dan lain-lain.
Perubahan yang dikehendaki/direncanakan dan perubahan yang tidak dikehendaki/tidak direncanakan. Perubahan yang dikehendaki/direncanakan atau pembangunan adalah perubahan yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh pihak-pihak tertentu yang ada dalam masyarakat. Perubahan yang tidak dikehendaki/tidak direncanakan adalah perubahan yang tidak diperkirakan sebelumnya. Biasanya perubahan tidak dihendaki muncul sebagai dampak dari perubahan yang direncanakan.
By hanik puspitasari on May 7, 2008 | Reply
a. Manusia : Pandangan Antropologi
Menurut Koentjaraningrat, antropologi adalah “ilmu tentang manusia”. DAlam perkembangannya di Amerika, antropologi dipakai dalam arti yang sangat luas, karena meliputi baik bagian-bagian fisik maupun sosial dari “ilmu tentang manusia”. Pada bahasan selanjutnya akan dikemukakan mengenai manusia dalam pandangan antropologi.
Para ahli biologi pada abad ke-19 an menyimpulkan bahwa manusia merupakan mahluk hidup yang terbentuk dari jutaan sel.
Pada awalnya di dunia ini hanya ada satu sel yang kemudian berkembang dan mengalami percabangan-percabangan. Percabangan ini mengakibatkan adanya variasi mahluk hidup di dunia ini. Menurut Charles Darwin dalam teori Evolusinya, manusia merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami perubahan secara bertahap dalam waktu yang sangat lama. Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut terjadi seleksi alam. SEmua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan organisme-organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil mempertahankan dirinya.
Para ahli biologi yang menyimpulkan bahwa semua mahluk hidup di dunia berasal dari suku primat yang terbagi menjadi 2 cabang yaitu Anthropoid dan Prosimii. Berdasarkan klasifikasi tersebut, manusia ditempatkan pada subsuku Anthropoid yang dibagi menjadi 3 infrasuku yaitu, Infrasuku Ceboid, infrasuku Cercopithedoid dan infrasuku Hominoid. Infrasuku Hominoid terbagi kedalam 3 keluarga yaitu Pongidae, Ramapithecas dan Hominidae. Manusia berada pada percabangan kaluarga Hominidae. Keluarga Hominidae menggabungkan manusia purba jenis Pithecanthropus dengan Homo Neanderthal dan dengan manusia sekarang atau Homo Sapiens. Jenis Homo Sapiens yang ada sampai saat ini terdiri dari 4 ras yaitu ras Negroid, Caucasoid, Mongoloid dan Austrloid.
Dapat disimpulkn bahwa manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana yang mengalami perubahan secara bertahap dengan waktu yang sangat lama (evolusi). Berdasarkan teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini berasal dari satu moyang yang sama. Nenek moyang manusia adalah kera. Teori Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai dalam antropologi.
b. Manusia : Dalam Pandangan Agama Islam
Dalam Agama Islam, segala sesuatunya telah diatur dengan baik dan digambarkan dalam kitab suci Al-Quran. Tidak luput olehNya, bagaimana proses pembentukkan manusia yang juga digambarkan sejelas-jelasnya.
Manusia diciptakan dari sari pati yang berasal dari tanah. Sebelum menjadi manusia yang terlahir di muka bumi, sari pati tersebut (air mani) ditempatkan oleh Allah swt di dalam rahim seorang ibu. Air mani yang telah ditempatkan di dalam rahim kemudian dijadikan segumpal darah. Segumpal darah, kemudian berubah lagi menjadi daging yang berubah menjadi tulang-belulang. Pada usia kandungan 4 bulan, ia diberi nyawa (ruh) oleh Allah swt. Akhirnya terbentuklah tulang-belulang yang dibalut oleh daging. Setelah mencapai kematangan bentuk dalam kurun waktu kurang lebh 9 bulan 10 hari, akan lahir seorang manusia hasil perpaduan orangtuanya. Selama berada dalam rahim sang ibu, ia menyerap makanan yang dimakan oleh sang ibu. Hingga lahir ke dunia pun ia masih bergantung pada ASI, untuk pertumbuhan dan perkembangan yang maksimal.
Islam, memandang manusia sebagi mahluk ciptaan Allah swt yang paling sempurna. Dia adalah mahluk pilihan yang paling mulia kedudukannya dari pada mahluk-mahluk lain ciptaan Allah swt. Begitu banyak keistimewaan yang dikaruniakan dalam diri manusia, mulai dari wujudnya yang paling indah dibanding dengan mahluk Allah swt yang lain, sampai pada komponen penyusun dalam diri manusia yang tidak yang menyamainya.
Munusia dikaruniakan oleh Allah akal untuk berfikir. Dengan akal, manusia mampu membedakan antara yang haq (benar) dengan yang bathil (salah). Dengan akal pula, manusia mampu merenungkan dan mengamalkan sesuatu yang benar tersebut. Dengan karunia akal, manusia diharapkan dapat memilah dan memilih nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan.
Disamping memiliki akal, manusia selalu terlahir dengan 3 naluri yang pasti ada dalam dirinya, yaitu :
Naluri untuk mensucikan sesuatu : naluri untuk beragama dan menyebah sesuatu yang lebih dari pada dirinya.
Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri : manunia punya kecenderungan marah, sedih, senang dll.
Naluri untuk melestarikan dirinya : naluri kasih sayang.
Adapun penciptaan manusia itu bukan tanpa tujuan, manusia diciptakan Allah swt hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya.
Opini : Allah swt menciptakan manusia di dunia ini dengan sempurna dan segala potensi yang sangat luar biasa. Pertama, potensi untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, seperti makan, minum dll. Kedua, potensi naluri untuk beribadah kepada sang Khalik, mempertahankan diri dan melestarikan keturunan. Ketiga, potensi akal. Dengan akal manusia dapat berfikir ketika hendak berbuat. Dengan akal pula manusia akan mampu memecahkan uqdatul qubro (3 pertanyaan mendasar dalam hidup), yaitu dari mana manusia berasal, untuk apa manusia diciptakan di dunia dan akan kemana manusia setelah mati. Melalui proses berfikir yang cemerlang manusia akan mampu menjawab manusia berasal dari Allah yang menciptaannya, manusia hidup untuk beribadah kepada Allah dan akan kembali kepada Allah. Namun, manusia juga sangat berpotensi untuk melakukan kesalahan dan kerusakan ketika ia tidak mempergunakan akalnya sesuai dengan perintah Allah swt. Wallahu’alam…
By Riduan Saidi on May 7, 2008 | Reply
5.7 Kebudayaan Daerah dan Kebudayaan Nasional
Kebudayaan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang khas yang terdapat pada wilayah tersebut. Kebudayaan daerah di Indonesia di Indonesia sangatlah beragam. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan daerah sama dengan konsep suku bangsa. Suatu kebudayaan tidak terlepas dari pola kegiatan masyarakat. Keragaman budaya daerah bergantung pada faktor geografis. Semakin besar wilayahnya, maka makin komplek perbedaan kebudayaan satu dengan yang lain. Jika kita melihat dari ujung pulau Sumatera sampai ke pulau Irian tercatat sekitar 300 suku bangsa dengan bahasa, adat-istiadat, dan agama yang berbeda.
Konsep Suku Bangsa / Kebudayaan Daerah. Tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, sebagai kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat orang luar yang bukan warga masyarakat bersangkutan. Sebaliknya, terhadap kebudayaan tetangganya, ia dapat melihat corak khasnya, terutama unsur-unsur yang berbeda menyolok dengan kebudayaannya sendiri. Pola khas tersebut berupa wujud sistem sosial dan sistem kebendaan. Pola khas dari suatu kebudayaan bisa tampil karena kebudayaan itu menghasilkan suatu unsur yang kecil berupa berupa suatu unsur kebudayaan fisik dengan bentuk yang khusus yang tidak terdapat pada kebudayaan lain.
Indonesia memiliki banyak suku bangsa dengan perbedaan-perbedaan kebudayaan, yang tercermin pada pola dan gaya hidup masing-masing. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa dan menggunakan kurang lebih 250 bahasa daerah. Akan tetapi apabila ditelusuri, maka sesungguhnya berasal dari rumpun bahasa Melayu Austronesia. Kriteria yang menentukan batas-batas dari masyarakat suku bangsa yang menjadi pokok dan lokasi nyata suatu uraian tentang kebudayaan daerah atau suku bangsa (etnografi) adalah sebagai berikut:
• Kesatuan masyarakat yang dibatasi oleh satu desa atau lebih.
• Kesatuan masyarakat yang batasnya ditentukan oleh identitas penduduk sendiri.
• Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh wilayah geografis (wilayah secara fisik)
• Kesatuan masyarakat yang ditentukan oleh kesatuan ekologis.
• Kesatuan masyarakat dengan penduduk yang mempunyai pengalaman sejarah yang sama.
• Kesatuan penduduk yang interaksi di antara mereka sangat dalam.
• Kesatuan masyarakat dengan sistem sosial yang seragam.
Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan berbagai kebudayaan daerah yang berlainan, terutama yang berkaitan dengan pola kegiatan ekonomi mereka dan perwujudan kebudayaan yang dihasilkan untuk mendukung kegiatan ekonomi tersebut (cultural activities), misalnya nelayan, pertanian, perdagangan, dan lain-lain. Pulau yang terdiri dari daerah pegunungan dan daerah dataran rendah yang dipisahkan oleh laut dan selat, akan menyebabkan terisolasinya masyarakat yang ada pada wilayah tersebut. Akhirnya mereka akan mengembangkan corak kebudayaan yang khas dan cocok dengan lingkungan geografis setempat.
Dari pola kegiatan ekonomi kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam.
• Kebudayaan Pemburu dan Peramu
Kelompok kebudayaan pemburu dan peramu ini pada masa sekarang hampir tidak ada. Kelompok ini sekarang tinggal di daerah-daerah terpencil saja.
• Kebudayaan Peternak
Kelompok kebudayaan peternak/kebudayaan berpindah-pindah banyak dijumpai di daerah padang rumput.
• Kebudayaan Peladang
Kelompok kebudayaan peladang ini hidup di daerah hutan rimba. Mereka menebang pohon-pohon, membakar ranting, daun-daun dan dahan yang ditebang. Setelah bersih lalu ditanami berbagai macam tanaman pangan. Setelah dua atua tiga kali ditanami, kemudian ditinggalkan untuk membuka ladang baru di daerah lain.
• Kebudayaan Nelayan
Kelompok kebudayaan nelayan ini hidup di sepanjang pantai. Desa-desa nelayan umumnya terdapat di daerah muara sungai atau teluk. Kebudayaan nelayan ditandai kemampuan teknologi pembuatan kapal, pengetahuan cara-cara berlayar di laut, pembagian kerja nelayan laut.
• Kebudayaan Petani Pedesaan
Kelompok kebudayaan petani pedesaan ini menduduki bagian terbesar di dunia. Masyarakat petani ini merupakan kesatuan ekonomi, sosial budaya dan administratif yang besar. Sikap hidup gotong royong mewarnai kebudayaan petani pedesaan.
Erat hubungan antara kebudayaan dengan masyarakat dinyatakan dalam kalimat, “masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan, sehingga tidak ada masyarakat yang tidak menghasilkan kebudayaan. Sebaliknya tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya”. Dalam pengertian kebudayaan daerah sangatlah sulit, karena mencakup lingkup waktu dan lingkup daerah geografisnya. Dalam lingkup waktu dan daerah diartikan sebagai kebudayaan yang belum dapat pengaruh asing dari manapun, baik Hindu-Budha, Islam dan Barat. Kebudayaan asli Indonesia menurut Van Leur ada 10 macam kebudayaan asli:
• Kemampuan Berlayar
Menurut teori pada umumnya, bangsa Indonesia berasal dari Vietnam sebagai daerah kedua, sebelumnya dari tiongkok selatan penyebarannya tentulah mepergunakan tata pelayaran. Daerah yang dijelajahinya sampai pada Madagaskar. Sangat mungkin untuk jarak dekat dilakukan dengan menggunakan rakit sederhana, sedangkan jarak jauh menggunakan perahu yang bercadik. Cadik (outriggers) dibuat dari kayu (bamboo) dipasang kiri kanan perahu, fungsinya mengurangi olengan di laut, inilah salah satu ciri budaya orang-orang yang berbahasa Austronesia.
• Kepandaian Bersawah
Budaya bersawah telah dikenal sejak zaman neolitikom. Kemudian di perbaharui dengan kebudayaan perungu, sehingga pengolahan sawah lebih intesif.
• Astronomi
Pengetahuan perbintangan (astronomi) secara sederhana telah dikenal dalam hubungannya untuk pelayaran demi mengenal arah,atau pun untuk pertanian. Untuk pelayaran dipergunakan Gubug Penceng (Zuider Kruis) guna tahu arah selatan, sedangkan untuk pertanian di kenal Bintang Waluku (Grote Beer) yang bila sudah tampak waktu tertentu berarti dimulaiinya melakukan cocok tanam di sawah.
• Mengatur Masyarakat
Adanya pimpinan terpilih dari masyarakat (primus inter pares). Orang mempunyai kemampuan paling baik diantara masyarakat yang ada.
• Sistem Macapat
Macapat berarti cara yang didasarkan pada jumlah empat dalam pengaturan masyarakat. Pemimpin berada ditengah antara Barat, Timur, Selatan, dan Utara. Pada masa sekarang dikonsepkan sebagai alun-alun yang terdapat semua daearah.
• Wayang
Wayang pada mulanya merupakan sarana untuk upacara kepercayaan. Nenek moyang yang telah meninggal dibuatkan arca perwujudan. Boneka perwujudan dimainkan dengan iringan cerita dan nasehat.
• Gamelan
Gamelan merupakan perlengkapan peralatan dalam upacara adat.
• Batik
Seni batik dibuat pada kain putih dengan mempergunakan canting sebagai alat tulisnya, sehingga diperoleh batik tulis. Kebudayaan batik terdapat pada semua daerah dengan motif berbeda.
• Seni Logam
Kerajinan logam sejalan dengan budaya batik dan budaya gamelan sebagai sarana dua macam sarana tersebut.
• Perdagangan
Perdagangan pada daerah-daerah kebudayaan dengan pola sama yaitu sistem barter.
Pada garis besarnya sistem kekerabatan dalam masyarakat suku-suku bangsa Indonesia memakai sistem kekerabatan bilateral, yaitu sistem kekerabatan yang mendasarkan garis keturunan dari ayah dan garis ibu secara berimbang. Anak-anak yang lahir dapat masuk ke dalam kerabat ayahnya dan kerabat ibunya secara bersama-sama. Sistem inilah yang banyak berlaku pada kebudayaan daerah di Indonesia. Sebagian kecil kebudayaan daerah dalam sistem kekerabatan unilateral matrilineal, yaitu sistem kekerabatan yang hanya berdasarkan garis ibu saja (contoh masyarakat Minangkabau). Kebudayaan daerah lainnya memakai sistem kekerabatan unilareal patrineal, yaitu sistem kekerabatan yang berdasarkan garis ayah saja.
Dari uraian diatas kebudayaan daerah secara pengertian tidak akan terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada. Tetapi dari berbagai corak kebudayaan tersebut, terdapat persamaan yang mendasar. Yaitu mengenai tentang upacara keagamaan semua suku bangsa, mementingkan upacara-upacara adat yang bersifat religi. Suku bangsa tersebut lebuh suka unsur mistik daripada berusaha dalam mencapai tujuan materiil mereka. Hal yang berhubungan dengan unsur mistik dianut oleh semua kebudayaan daerah yang ada di Indonesia.
Masih percaya pada takhayul. Dulu dan sekarang masyarakat daerah di Indonesia percaya kepada batu, gunung, pantai, sungai, pohon, patung, keris, pedang, dan lainnya, mempunyai kekuatan gaib. Semua itu dianggap keramat dan manusia harus mengatur hubungan dengan baik dengan memberi sesaji, membaca do’a dan memperlakukannya dengan istimewa. Manusia Indonesia sering kali menghitung hari baik, bulan baik, hari naas, dan bulan naas, mereka juga percaya akan adanya segala macam hantu, jurig, genderowo, makhluk halus, kuntilanak, dan lain-lain. Likantropi, kepercayaan bahwa manusia dapat mejelma menjadi binatang tertentu menyebar di nusantara.
Kebudayaan Nasional. Menurut pandangan Ki Hajar Dewantara tentang kebudayaan nasional yang katanya “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Faham kesatuan makin dimantapkan, sehingga ketunggalikaan makin lebih dirasakan daripada kebhinekaan. Wujudnya berupa negara kesatuan, ekonomi nasional, hukum nasional, bahasa nasional. Sebelum Sumpah Pemuda (1928), Indonesia terdiri dari macam-macam “bangsa” yang sebenarnya hanya ditingkat suku bangsa. Setelah itu secara berangsur makin kuat rasa kebangsaan Indonesia (Indonesia Raya), sehingga waktu Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (1945), sudah dinyatakan bahwa proklamasi tersebut dilakukan atas nama bangsa Indonesia oleh Soekarno-Hatta.
Koentjaraningrat menyebutkannya “yang khas dan bermutu dari suku bangsa mana pun asalnya, asal bisa mengidentifikasikan diri dan menimbulkan rasa bangga, itulah kebudayaan nasional”.pengertian yang dimaksudkan itu sebenarnya lebih berarti, bahwa puncak-puncak kebudayaan daerah atau kebudayaan suku bangsa yang bermutu tinggi dan menimbulkan rasa bangga bagi orang Indonesia bila ditampilkan untuk mewakili negara (nation). Misalnya: tari Bali, di samping orang Indonesia merasa bangga karena tari itu dikagumi di negeri, seluruh dunia juga mengetahuinya. Bali itu letaknya di Indonesia jadi kesenian itu dari Indonesia. Dalam hal ini juga berlaku bagi cabang-cabang kesenian lain bagi berbagai suku bangsa di Indonesia.
Dengan beribu-ribu gugus kepulauan, beraneka ragam kekayaan serta keunikan kebudayaan, menjadikan masyarakat Indonesia yang hidup diberbagai kepulauan itu mempunyai ciri dan coraknya masing-masing. Hal tersebut membawa akibat pada adanya perbedaan latar belakang, kebudayaan, corak kehidupan, dan termasuk juga pola pemikiran masyarakatnya. Kenyataan ini menyebabkan Indonesia terdiri dari masyarakat yang beragam latar belakang budaya, etnik, agama yang merupakan kekayaan budaya nasional dengan kata lain bisa dikatakan sebagai masyarakat multikultural.
Secara fisik penduduk Indonesia dibagi menjadi beberapa golongan :
• Golongan orang Papua Melanosoid. Golongan penduduk ini bermukim di pulau Papua, Kei, dan Aru. Mereka mempunyai ciri fisik seperti rambut keriting, bibir tebal, dan berkulit hitam.
• Golongan orang Mongoloid. Berdiam di sebagian besar kepulauan Indonesia, khususnya di kepulauan Sunda Besar (kawasan Indonesia barat), dengan ciri-ciri rambut ikal dan lurus, muka agak bulat, kulit putih hingga sawo matang.
• Golongan Vedoid, antara lain orang-orang Kubu, Sakai, Mentawai, Enggano, dan Tomura, dengan ciri-ciri fisik bertubuh relatif kecil, kulit sawo matang, dan rambut berombak.
Dari perbedaan golongan tersebut, ada pola sistem yang khas dari bangsa Indonesia. Untuk kebudayaan nasional bisa dihubungkan dengan kebudayaan timur yang menjadi dasar landasan kebudayaan daerah. Kebudayaan nasional dapat dilihat dari pola sistem hidup masyarakatnya, seperti sifat keramah-tamahan, kekeluargaan, kerakyatan , kemanusiaan dan gotong royong. Sifat-sifat inilah yang dapat dilihat dari kebudayaan nasional yang dilihat oleh bangsa lain sebagai ciri kebudayaan Indonesia. Meskipun gotong royong setiap daerah istilahnya berbeda, tetapi secara pengertian sama artinya. Bangsa Indonesia mempunyai peribahasa berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, sama rata sama rasa. Ungkapan ini mencerminkan bangsa Indonesia sejak dulu menjunjung tinggi kebersamaan dalam melaksanakan pekerjaan, dan menikmati hasilnya
By Rumadi on May 7, 2008 | Reply
ORGANISASI SOSIAL
Organisasi sosial adalah perkumpulan yang di bentuk oleh masyarakat,baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum yang berfungsi sebagai sarana dan wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan Bangsa dan Negara.sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama,manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.unsur-unsur khusus dalam organisasi sosial adalah dalam tiap masyarakat, kehidupan masyarakat di organisasi dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam linkungan dimana ia hidup dan bergaul dari hari ke hari. kesatuan sosial yang paling dekat dan mesra adalah kesatuan kekerabatannya, yaitu keluarga inti yang dekat,dan kaum kerabat yang lain, kemudian ada kesatuan kesatuan di luar kaum kerabat, tetapi masih dalam lingkungan komunitas. karena tiap masyarakat manusia,dan juga masyarakat desa, terbagi ke dalam lapisan-lapisan, maka tiap orang yang di luar kaum kerabat nya menghadapi lingkungan orang orang yang lebih tinggi dari padanya,tetapi juga orang orang yang sama tingkatnya.sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial,sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial masyarakat yang bersangkutan .kekerabatan adalah unit sosial yang terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya. sistem kekerabatan yang ada pada masyasrakat yang pengaruh industrialisi sudah masuk secara mendalam tampak bahwa fungsi kesatuan kekerabatan yang sebelumnya di anaggap penting dalam berbagai sektor kehidupan seseorang,biasanya mulai berkurang dan bersamaan dengan itu adat istiadat yang mengatur kehidupan kekerabatan sebagai kesatuan yang mulai mengendor,dalam kajian sosiologi antropolgi ada beberapa macam kelompok kekerabatan yang jumlahnya relatif kecil masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
Sebagai sebuah suku bangsa, bangsa banjar juga memepunyai sebuah sistem kekerabatan yang disebut dengan istilah bubuhan, bubuhan adalah merupakan kelompok kekerabatan ambilineal,seseorang menjadi anggota bubuhan bisa karena ia masih se keturunan dengan mereka,dari pihak ibu saja atau ayah saja maupun kedua duanya dan menetap dalam lingkungan masyarakat tersebut.seseorang dapat masuk menjadi warga kelompok apabila ia kawin dengan salah seorang warga dan menetap dalam lingkungan pemukiman mereka, di setiap kampung terdapat dua sampai tiga bubuhan yang mendiami tanah ulayat masing masing, bubuhan sangat kuat ikatan sosialnya dan berfungsi untuk memberikan perlindungan keamanan dan ekonomi bagi anggotanya. setiap bubuhan di pimpin oleh seorang warganya yang dianggap berwibawa dan memepunyai kelebihan menurut para pengikutnya.biasanya kepala bubuhan merangkap sebagai kepala kampung yang disebut pembakal yang bertanggung jawab langsung kepada sultan, dalam menjalankan tugasnya pembakal juga di bantu oleh penghulu yang merupakan jabatan keagamaan ditataran kampung yang mengurus segala masalah agama yang terjadi di kampung nya,ada juga tuan guru yaitu sebutan bagi orang yang ahli agama islam, biasanya ini gelar bagi seseorang yang ahli di bidang agama islam sebelum dia diangkat sebagai penghulu dan dapat dikatakan sebagai pemimpin masyarakat non formal.serta tatuha kampung yang sangat disegani masyarakat.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sistem pamerintahan pada masa kesultanan,dan mungkin juga rezim-rezim sebelumnya diatur secara hierarkis sebagai pemerintah bubuhan.peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan sultan dan masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda.jabatan kepala pemerintahan kampung tidak lagi ditentukan oleh keturunan, melainkan melalui pendidikan,saat ini dominasi bubuhan sebagai kelompok kekerabatan sudah sangat lemah,tetapi masih terasa dan sewaktu waktu masih muncul ke permukaan.
Dalam deskripsi deskripsi etnografi mengenai aneka warna suku bangsa di seluruh dunia ,para ahli antropologi juga banyak menaruh perhatian pada organisasi dan susunan masyarakat komunitas desa dan komunitas kecil.hal yang di perhatikan oleh para ahli adalah mengenai pembagian kerja ,berbagi aktifitas kerja sama,serta hubungan dan sikap antara pemimpin dan pengikut dalam komunitas.
By Asmia Ulfah on May 7, 2008 | Reply
Salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Pengertian kesenian menurut Umar kayam dalam bukunya Seni Tradisi Masyaraat adalah salah satu unsur yang menyangga kebudayaan. Sedangkan Kesenian dalam buku Sub Tema Sejarah Kesenian adalah dalam arti luas ,kesenian dapat menyangkut juga segala segala produk kebudayaan hasil peradapan manusia (Depdikbud,1990:117). Jadi kesenian merupakan karya budaya yang mengandung nilai-nilai keindahan hasil dari peradaban manusia.
Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi ,dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan akan keindahan itu dapat dinikmati,maka ada dua lapangan besar ,yaitu (1) seni rupa, kesenian yang dapat dinikmati dengan mata , dan (2) seni suara, kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga. Ditinjau dari garapannya ada lima cabang seni yaitu Seni Rupa, seni Sastra, Seni Tari, Seni Teater, dan Seni musik.Ada yang mengklasifikasi seni pertunjukan yakni seni tari, seni musik dan seni sastra.
Di dalam sejarah kebudayaan manapun tentu ada memuat tentang sejarah kesenian.Sejarah kebudayaan orang banjar tidak lepas dari sejarah keseniannya. Sejarah kebudayaan banjar berhubungan dengan sejarah perkembangan masyarakat Banjar, yang berawal dari adanya pembauran etnik Melayu sebagai etnik dominan. unsur Melayu sangat dominan dalam bahasa Banjar, demikian pula dengan kesenian Banjar yang merupakan hasil asimilasi dari pengaruh social politik dalam kurun waktu yang sangat lama. Dimulai dari kesenian zaman prasejarah saat manusia hidup di gua-gua. Walaupun kesenian pada zaman ini sulit untuk dijelaskan karna hanya merupakan penafsiran manusia dilihat dari gambar-gambar atau lukisan yang ada pada dinding gua. Jadi disimpulkan bahwa pemikiran orang-orang zaman prasejarah masih sederhana, kesederhanaan pemikiran tersebut dapat dilihat pada etnis Dayak sekarang. Seperti penggambaran lambang atau simbol yang bersifat magis-religius.untuk seni tari, seni suara, ragam rias dan lainnya hanya untuk tujuan yang mengandung nilai magis-religius berkaitan dengan konsep kepercayaan yang mereka anut berhubungan dengan alam arwah, mitologi, dan kosmologi.semua hal tersebut dapat kita lihat pada saat upacara Aruh ganal pada masyarakat bukit Loksado.
.Kesenian pada zaman Hindu Budha diceritakan dalam buku “Urang Banjar dan Keseniannya “, besar kemungkinannya pendatang yang berasimilasi itu masih menubuh kembangkan kesenian, melayu. Ketika Tanjug Puri lenyap maka tumbuh kerajaan Negara Dipa yang dibantu oleh orang-arang Jawa dari kediri utara. Kebudayaan Jawa dalam kehidupan masyarakat istana dan sekitarnya berpadu dengan kebudayaan melayu dan kebudayaan Maanyan,akan tetapi karena keraton Negara Dipa lebih mendominasi adat tradisi Budaya Jawa, maka masyarakat sekitar juga dipengaruhi hal yang demikian.
Kesenian-kesenian yang ada mulai ada pada zaman Hindu Budha mulai beragam karna mulai membaurnya bangsa melayu dengan penduduk sekitar yang terdiri dari suku-suku Maanyan, Lawangan dan bukit. Kesenian yang ada diantaranya sebagai berikut:
1.Seni Rupa
a.Seni Bangunan
b.Seni Arca
c.Seni Ukir
d.Seni Lukis
2. Seni Sastra
a.Sangiang Gantung
b.Intingan dan Dayuhan
c.Ular Dandang
d.Batu Balah Batu Batangkup
e.Sandah Gelar Puteri Ambang Kapas
f.Kisah Batu Benawa
3.Seni Teater
a.Wayang Kulit
b.Wayang Wong
c.Dalang Topeng
4.Seni Musik dan Seni Suar
5.Seni Tari
Tari baksa mempunyai beragam nama seperti baksa panah, baksa dadap, baksa tumbak, baksa tameng, baksa kanter, baksa kupu-kupu, diiringi oleh gamelan empat puluh orang.
Kemudian pada saat kebudayaan islam secara perlahan tumbuh, tradisi lama dilanjutkan dan budaya lama yang tidak bertentangan dengan islam secara tradisi tetap dipertahankan.
Kesenian-kesenian yang berkembang pada zaman islam adalah sebagai berikut:
1. Seni Rupa
Tentang seni rupa pada zaman Islam, terutama pada masa kerajaan Banjar dan seterusnya konsep-konsep kepercayaan lama yang terdapat dalam kaharingan (kaharingan dan Sulawesi)terdapat pula dalam wujud seni bangun dan sarana rumah diam dan mesjid orang banjar.
a. Seni Bangunan
b. Seni Arca
c. Seni Ukir
d. Seni Lukis
e. Seni Motif Anyaman
2. Seni Sastra Lisan
Seni sastra lisan ini bisa dikategorikan juga sebagai teater Tutur yakni teater yang dituturkan oleh sang pelaku atau menceritakan suatu kisahan yang berstruktur dari awal. Pertengahan menuju pada ketegangan atau klimaks hingga ending. Penuturan dalam menyampaikan kisahan, dengan menggunakan kemampuan vokal,dalam menampilkan suara dan ekspresi watak-watak yang menjadi pendukung cerita. Bisa terwujud dalam lagu, dalam dialog dan didukung pula dengan alat peraga atau alat musik.
a.Dundam
b.Lamut
c.Andi-andi
d.Bapandung
e.Madihin
f.Basyasyairan
g.Bapapantunan
1)Pantun Anak-anak
2)Pantun Anak Muda
3)Pantun Orang Tua
Menurut banyak baris pada satu koplet, pantun banjar juga mempunyai pantun biasa, pantun kilat, pantun berkait, dan pantun talibun.
3.Seni Musik
a.Gamelan
b.Terbang Haderah
c.Terbang Ampat
d.Terbang Lamut
e.Terbang Madihin
f.Musik Suling
g.Musik Japin Gambus
h.Musik Kurung-kurung Hantak
i.Musik Kintung
j.Musik Main Kuntau
4. Seni Suara
a. Sinden
b. Lagu Dundam
c. Lagu-lagu Bajapin
d. Lagu Basyasyairan
e. lagu Tirik dan Gandut
f. Lagu Pariuk
g. Lagu Ba-ahui
h. Lagu Badudus
i. lagu-lagu Damarutan
5. Seni Tari
a. Tari baksa dan Topeng
b. Tari Rudat
c. Tari Sinoman Haderah
d. Tari Semi Klasik
e. Tari Basisingaan
f. Tari Bagandut
g. Tari Japin Sigam
h. Tari Payung Kambang
6. Seni Teater
Seni teater salah satu kesenian jenis banjar, istilah teater dalam arti seni pertunjukan adalah istilah yang baru bagi urang banjar. Dan teater ini hanya dikenal oleh kalangan masyarakat perkotaan yang terpelajar yang senter disebut-sebut sejak tahun 1980-an. Sebelumnya ditahun 1950-an lebih dikenal dengan istilah sandiwara kemudian menyusul istilah drama.
a.Teater Wayang Kulit
b.Teater Wayang Gung
c.Teater Abdul Muluk Cabang
d.Mamanda
e.Teater Tari Topeng
f.Teater Tari Kuda Gipang Carita
By Novi Ariyanti on May 7, 2008 | Reply
Sistem Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berfikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error). Tiap suku bangsa di dunia biasanya mempunyai pengetahuan tentang : alam sekitarya, alam flora dan fauna, zat-zat dan bahan mentah, manusia, dan penetahuan tentang ruang dan waktu.
Salah satu unsur kebudayaan daerah yang bersifat universal dan telah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat suku Banjar adalah pengetahuan yang berkenaan dengan pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional merupakan bagian yang integral dari kebudayaan, karena konsep tentang kondisi sakit dan cara pengobatannya tidak berdiri sendiri.
1.Sistem Pengobatan
Menurut masyarakat suku Banjar, konsep lokal tentang sakit yang dalam bahasa banjar disebut dengan garing adalah adanya semacam gangguan terhadap pikiran dan fisik sehingga manusia tidak dapat berkonsentrasi secara penuh dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan kata lain, sakit dalah gangguan yang datang menyerang tubuh manusia baik secara lahir (fisik) maupun batin (kejiwaan). Sakit yang digolongkan rasional menurut konsep masyarakat suku Banjar adalah yang dapat dilihat dan dirasakan dengan jelas bagian mana yang terasa sakit dan terganggu. Sedangkan sakit yang tidak rasional mempunyai ciri sulit ditentukan penyebabanya, dan tidak dapat ditunjukan bagian mana yang sakit, tetapi dirasakan menyiksa fisik dan pikiran secara sadar maupun tidak sadar.
Dalam konsep masyarakat suku bangsa Banjar sakit yang bersifat tidak nyata jauh lebih berbahaya daripada sakit yang nyata. Kepercayaan tentang adanya makhluk gaib jahat menimbulkan berbagai istilah penyakit diantaranya seperti garing panas, garing pulasit (kerasukan roh jahat), sakit kuning, dan kapidaraan yang semua penyakit tersebut pengobatannya harus diserahkan kepada ahlinya.
2. Pengetahuan tentang pengobatan Tradisional
Pada dasarnya pengobatan taradisional yang dikenal masyarakat suku Banjar adalah merupakan pengetahuan yang diwarisi dari para orang tua dan ahli pengobatan tradisional yang ada di daerah mereka. Penggunaan obat-obatan yang bahan ramuan dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan hampir merata diketahui warga masyarakat . Berbeda dengan pengetahuan pegobatan tradisional dengan tindakan, pengetahuannya hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Pengetahuan tentang pengobatan tindakan itu mereka peroleh setelah mempelajarinya secara khusus dan tidak setiap orang sanggup melakukannya karena ada persyaratan yang harus dipenuhi.
Pengetahuan pengobatan tradisional yang digolongkan ke dalam bentuk tindakan jasmani adalah seperti : pengetahuan yang dimiliki oleh tukang urut (ahli pijat), dan bidan beranak (bidan bersalin). Mereka ini menekuni profesinya karena faktor keturunan dan ada juga dari mimpi. Menurut pengakuan mereka apabila menolak mempelajari ilmu yang diajarkan itu, maka badan mereka terasa sakit-sakitan. Adapun pengetahuan pengobatan tradisional yang dilakukan dengan tindakan rohani biasanya dimiliki oleh orang yang pengetahuan agamanya luas dan orang yang memiliki ilmu pengetahuan kebatinan. Cara pengobatan yang mereka lakukan adalah dengan membaca do’a-do’a yang ditiupkan ke dalam air putih untuk diminum atau disemburkan kepada yang sakit.
Dalam pengobatan tradisional masyarakat suku Banjar, ada pula interaksi yang terjadi secara langsung antara pengobat dengan penderia sewaktu pengobatanya dilakukan, seperti pengobatan pulasit. pulasit berbeda dengan kesurupan. Warga masyarakat menganggap pulasit sebagai perbuatan jahat dari seseorang yang punya kepentingan sesuatu dengan memperalat roh jahat. Orang yang kena pulasit ini tidak saja bicaranya yang kacau, tetapi bisa memberontak dan bisa menghancurakan benda-benda di sekitarya. Ketika pengobatan dilakukan oleh ahlinya, terjadi dialog antara pengobat dengan penderita yang menggambarkan perkelahian mengadu kesaktian masing-masing. Kemenangan pengobat adalah kesembuhan penderita.
By nurkhulis wardani on May 7, 2008 | Reply
ETNOGRAFI BANJAR
teknologi tradisional mengenai paling sedikit delapan macam sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik yang dipakai oleh manusia yang hidup dalam masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian :
1. alat-alat produksi
2. senjata
3. wadah
4. alat-alat menyalakan api
5. makanan, minuman, bahan pembangkit gairah, dan jamu-jamuan
6. pakaian dan perhiasan
7. tempat berlindung dan perumahan
8. alat transportasi
*alat yang dibicarakan terbatas pada alat untuk membantu dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, dalam masyarakat banjar dikenal salah satu alat yang dinamakan nyiru, bentuknya lingkaran dengan berbagai ukuran, nyiru dibuat dari bambu pilihan (ubak/bagian dalam bambu) yang sudah dibersihkan ditambah dengan rotan, dibuat dengan cara dianyam, nyiru lebih domin digunakan untuk menampi/memisahkan antara beras yang bagus dan beras yang rusak/antah. selan itu juga, nyiru dapat digunakan untuk meletakkan ikan asin, krupuk, dan lain-lain yang biasanya untuk dijemur.
*senjata
seperti halnya alat produktif, senjata juga dibedakan menurut bahan, tekhnik dan kegunaannya. serta dapat dikelaskan berdasrkan fungsi dan lapangan pemakaiannya.
contoh senjata tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat banjar untuk berburu yaitu jipah (kata kerja=manjipah). Sesuai fungsinya jipah dipergunakan antara lain untuk menangkap rusa, yaitu dengan dengan mengikat jerat pada sepotong kayu bagian ujungnya yang merupakan pohon kecil yang dilenturkan kebawah yang berfungsi sebagai pegas. Biasanya dipasang pada lorong yang dilalui rusa atau binatang lain yang ditangkap dengan jipah ini.apabila rusa atau binatang lain yang lewat dilorong tersebut dan terinjak kunci pegas dari jipah maka kayu yang menjadi pegas tadi tegak seperti semula dan rusa tersebut terjerat pada jerat yang dipasang pada ujung kayu tadi
*alat-alat menyalakan api
pada masa pra sejarah antara ilmu pengetahuhan dan teknologiberkembang secara simulan dan paralel. tentang tekhnologi bagaimana manusia prasejarah dalam membuat alat-alat batu telah dilakukan penelitian dengan kajian yang disebut experimental archaelogy (keely, 1980) pada saat manusia melakuan penyerpihan dengan cara memukul batu calon alat dengan batu lain, kadang-kadang timbul percikann-percikan api yang dapat memebakar benda-benda lain yang mudah terbakar, mulai saat itulah manusia mengenal api.
pada masyarakat banjar sekarang sudah tidak asing lagi dengan lat-alat untuk menyalakan api seperti korek api. tinggal menentukan tujuan dari penyalaan api tersebut. misalnya difungsikan untuk memasak, maka tergantung dari pengguna untuk menjaga api agar tetap menyala. masyarakat banjar biasa menggunakan alat untuk menjaga api tersebut misalnya berupa dapur yang diletakkan diatas atang.
*wadah
alat dan tempat untuk menyimpan barang, menimbun serta memuat. kindai atau lumbung padi yang dikenal masyarakat banjar sebagai alat untuk menimbun hasil pertanian yaitu padi, kindai terbuat dari anyaman bambu dan pelepah rumbia kering dengan dilapis atau diberi balas tikar purun, bentuknya bulat atau segi empat,
penimbunan padi dalam kindai ini bertujuan untuk menyimpan padi sampai musim bercocok taman tahun berikutnya. penggunaan kindai sebagai tempat menyimpan sudah jarang dilakukan oleh masyarakat banjar, terlebih sekarang sudah dikenal karung sebagai penyimpanan hasil pertanian terutama menyimpan padi.
kindai bisa ditemukan pada masyarakat pedalaman. masyarakat pedalaman menyimpan padi untuk persiapan menghadapi musim paceklik tiba.
*makanan
Dalam kebudayaan Banjar juga mengenal berbagai macam jenis makanan dan minuman, masakan yang ada di daerah Kalimantan Selatan biasanya unik dan menyesuaikan dengan bahan makanan yang ada di sekitar.
dilihat dari cara pembuatannya masakan terbagi : memasak dengan cara digoreng, dikukus, direbus, dipanggang, dibakar, dan lain-lain
menurut fungsinya : makanan pokok, makanan sebagai pelengkap hidangan, makanan tambahan,
Seperti jenis masakan yang dikupas di sini yaitu tentang mandai basanga / kulit cempedak goreng sebagai makanan pelengkap dalam hidangan menu masakan sehari-hari, . Banyak orang yang bingung dan tidak tahu dengan masakan dari kulit cempedak ini
Mandai sudah lama dijadikan lauk alternatif bagi orang Banjar. Sebelum diolah, cempedak (Artocarpus champeden Spreng) dikuliti/dikupas bagian luarnya sehingga tampak putih kemudian dibersihkan, bagian inilah yang disebut mandai , setelah menjadi mandai biasanya tidak bisa langsung digoreng tetapi harus direndam lebih dulu di dalam larutan air garam selama beberapa jam. Lamanya merendam tergantung yang punya niat memasak, . Dengan direndam ini daging mandai akan menjadi lunak sehingga saat digoreng nanti lebih mudah dan hasilnya lebih enak seperti menggigit daging.
Cara menyajikan mandai sama seperti menyajikan lauk lainnya, cukup dihidangkan di dalam piring sudah bisa dinikmati oleh seluruh keluarga, apalagi dimakan dengan nasi panas. tapi bagi yang punya penyakit maag kambuhan hati-hati jangan kebanyakan
kandungan dari cempedak :
Lemak 0.4 g
Kabohidrat 25.8 g
Kalsium 40.0 mg
Fosforus 5.0 mg
Besi (Fe) 1.1 mg
Natrium 1.2 mg
Kalium 246.0 mg
Vitamin B1 0.16 mg
Vitamin B2 0.15 mg
Vitamin C 17.7 mg
*pakaian
pakaian merupakan cerminan dari tingkat budaya bangsa serta kepribadian seseorang, maka segala sesuatu mengenai tata busana adapt dan segala kelengkapannya yaitu tatarias, ornament, warna dengan makna serta arti perlambang perlu diketahui untuk dipelihara. Dengan perubahan zaman terjadilah perkembangan kebudayaan, perubahan karena segala macam pengaruh yang sulit dielakkan. Tujuan berpakaian sesuai kaidah agama dan kesehatan, cirri-ciri khas daerah harus tetap ada sehingga dapat memberi nilai tambah dalam pengertian perkembangan budaya kita.
ditinjau dari sudut fungsi dan pemakaiannya, pakaian dapat dibagi kedalam beberapa golongan:
- semata-mata sebagai alat untuk menahan pengaruh dari sekitaran alam.
- pakaian sebagai lambang keunggulan dan gengsi.
- pakaian sebagai lambang yamg dianggap suci.
- pakaian sebagai perhiasan badan.
pakaian masyarakat banjar jelas telah mengalami akulturasi dan asimilasi, besar kemungkinan karena masyarakat banjar berinovasi..tekhnik pembuatan bahan pakaian misalnya ada yang dengan cara dicelup, contoh kain Sebagai salah satu produk unggulan daerah yang memperkaya budaya bangsa kalimantan selatan yaitu sasirangan.
Kopiah Sasirangan Dibuat dari bahan kain khas banjar yaitu sasirangan.
*Rumah Banjar
ada tiga macam bentuk rumah manusia, yaitu : rumah yang setengah di bawah tanah (semi sub terranian dwelling), rumah di atas tanah (surface dwelling), dan rumah di atas tiang (pile dwelling).
dipandang dari sudut pemakaiannya tempat berlindung terbagi dalam tiga golongan yaitu :
- tadah angin
- tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas, dibawa pindah, dan didirikan lagi.
- rumah untuk menetap.
dipandang dari sudut fungsi sosialnya :
- rumah tempat tinggal keluarga kecil.
- rumah tempat tinggal keluarga besar.
- rumah suci
- rumah pemujaan
- rumah tempat berkumpul umum
- rumah pertahanan
Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.
Menurut Idwar Saleh (1984:5) Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung.
Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin.
Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi (pile dwelling), yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan). Jadi nilainya sama dengan rumah joglo di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi). Dalam suatu perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung tersebut rumah dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah (alluvial) maupun lahan kering.
Lantai
Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.
Dinding
Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.
Atap
Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.
Ornamentasi (Ukiran)
Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi. Kaligrafi Arab merupakan ragam hias yang muncul belakangan yang memperkaya ragam hias suku Banjar. (Museum Lambung Mangkurat - Banjarbaru, “Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)
Pengaruh Sistem Religi dan Sistem Pengetahuan
Meskipun orang Banjar sudah memeluk Islam, namun dalam kegiatan sehari-hari yang berhubungan dengan kebudayaan masih melekat unsur aninisme, Hindu-Buddha yang berkembang sebagai dasar adat pada masa lalu. Akan tetapi hal itu tidak secara keseluruhan. Religi yang dianggap asal adalah dari Kaharingan yang dikembangkan oleh orang Dayak. Pengaruh Hindu, Buddha, Islam maupun Kristen tidak berarti kepercayaan nenek moyang dengan segala upacara religinya hilang begitu saja. Orang-orang Dayak yang telah memeluk Islam dianggap sebagai Suku Bangsa Banjar dan tidak lagi menganggap dirinya sebagai suku Dayak. Suku Banjar hampir semua sendi keagamaanya didasarkan pada sentimen keagamaan yang bersumber pada ajaran Islam. Jadi setiap rumah tangga memiliki peralatan yang berhubungan dengan pelaksanaan keagamaan. Demikian pula pada rumah tradisional Banjar banyak dilengkapi dengan ukiran yang berkaitan dengan persaudaraan, persatuan, kesuburan, maupun khat-khat kaligrafi Arab yang bersumber dari ajaran Islam seperti dua kalimat syahadat, nama-nama Khalifah, Shalawat, atau ayat-ayat tertentu dalam Al-Qur’an.
Namun ukiran-ukiran di rumah Banjar juga masih ada yang berhubungan dengan kepercayaan Kaharingan, Aninisme, Dinanisme, maupun Hindu-Buddha, misalnya swastika, enggang, naga dan sebagainya
Filosofi Rumah Adat Banjar
Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata (suami dan isteri). dengan demikian maka rumah bubuingan tinggi dapat dikategorikan sebagai rumah suci.
Dwitunggal Semesta
Pada peradaban agraris, rumah dianggap keramat karena dianggap sebagai tempat bersemayam secara ghaib oleh para dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. rumah banjar juga berfungsi sebagai tempat pemujaan. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk patung pria dan wanita yang disembah dan ditempatkan dalam istana. Pemujaan arwah nenek moyang yang berwujud pemujaan Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas dan alam bawah Kosmogoni Kaharingan-Hindu. Suryanata sebagai manifestasi dewa Matahari (Surya) dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang menjadi orientasi karena terbit dari ufuk timur (orient) selalu dinantikan kehadirannya sebagai sumber kehidupan, sedangkan Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa. Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja merupakan citra kekuasaan bahkan dianggap ungkapan berkat dewata sebagai pengejawantahan lambang Kosmos Makro ke dalam Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang “dunia Bawah” sedangkan Pangeran Suryanata perlambang “dunia atas”. Pada arsitektur Rumah Bubungan Tinggi pengaruh unsur-unsur tersebut masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/didestilir (bananagaan) melambangkan “alam bawah” sedangkan ukiran burung enggang melambangkan “alam atas”.
Tata Nilai Ruang
Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan (Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau “dinding tengah” yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang hierarkis. Ruang Panampik Kecil tempat bagi anak-anak, ruang Panampik Tangah sebagai tempat orang-orang biasa atau para pemuda dan yang paling utama adalah ruang Panampik Basar yang diperuntukkan untuk tokoh-tokoh masyarakat, hanya orang yang berpengetahuan luas dan terpandang saja yang berani duduk di area tersebut. Hal ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantara keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam Kerajaan beserta kaum hartawan.
rumah adat banjar dipandang dari sudut pemakaiannya termasuk jenis rumah untuk menetap, dipandang dari sudut fungsi sosialnya rumah adat banjar termasuk rumah untuk tempat tinggal keluarga besar, rumah suci, rumah pemujaan, dan rumah untuk berkumpul. desain rumah banjar juga lebih mengutamakan rungan yang luas untuk berkumpul.
*alat transportasi masyarakat banjar
dalam bukunya yang berjudul pengantar antropologi, koentjaraningrat menyebutkan 5 alat transportasi yang terpenting menurut fungsinya, yaitu : sepatu, binatang, alat seret, kereta beroda, rakit, dan perahu.
Budaya jukung sebenarnya dikenal pada 2000 tahun sebelum masehi, yaitu dari migrasi pertama orang-orang proto melayu (melayu tua) dari Sungai Mekong, Yunan, Cina Selatan ke Kalimantan. Saat itu para imigran dari proto melayu yang merupakan asal usul suku Dayak, telah mengenal peralatan dari logam. Baru pada abad 6-7 pembuatan jukung semakin berkembang di Kalimantan.
Dahulu diketahui banyak jenis jukung yang dikenal berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Jukung dibuat selaras dengan kondisi alam Kalimantan pada waktu itu. Yang paling tua jenisnya diperkirakan adalah jukung sudur. Jukung ini menjadi pondasi terciptanya jukung-jukung jenis baru
Banjarmasin di aliri oleh sungai Martapura dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut Jawa, sehingga berpengaruh kepada drainase kota dan memberikan ciri khas tersendiri terhadap kehidupan masyarakat, terutama pemanfaatan sungai sebagai salah satu prasarana pengangkutan air, perikanan dan perdagangan.
Jauh ke belakang dalam sejarah Banjar tempo dulu, saat jukung (kini menjadi prototip kelotok) banyak berseliweran di sungai, tentu tidak sesulit sekarang. Minimnya akses darat membuat jukung menjadi alat transportasi penting kala itu.
Bahkan lebih jauh lagi sebelum ‘lahirnya’ suku Banjar, jukung telah digunakan sebagai alat transportasi penting dalam penyebaran penduduk dari pesisir menuju pedalaman Kalimantan.
Perkembangan jukung yang sampai ke Kalimantan selatan akhirnya menjadi identitas budaya saat berdirinya kerajaan Dipa di Amuntai, lalu kerajaan Daha di Negara, Hulu Sungai Selatan, hingga kerajaan Banjar di Kuin, yang menjadi tonggak lahirnya Suku Banjar. Budaya sungai dan alat transportasinya tidak bisa dipisahkan dalam sistem sosial masyarakat Banjar ketika itu.
Sah saja tentunya jika sebuah idiom menyebut Tidak ada orang Banjar jika tidak ada jukung. Sebab sejarah mencatat, Kerajaan Banjar di Kuin lahir setelah Pangeran Samudera lari mengasingkan diri menggunakan jukung dari Daha di Negara.
budaya jukung sebagai harmoni dalam kehidupan masyarakat Banjar. Harmoni dan kearifan hidup dengan alam khususnya sungai yang tidak terasa lagi saat sekarang, orang dulu memelihara sungai karena digunakan untuk jalan bepergian dengan jukung,
By toni februari on May 7, 2008 | Reply
Kepribadian Indonesia
Indonesia memiliki lebih dari 220 juta penduduk yang memiliki beragam budaya, suku dan adat istiadat, Indonesia sebagai bagian dari Negara-negara yang ada dalam posisi benua Asia memiliki adat yang disebut adat ketimuran yang berbeda dengan adat atau budaya barat seperti Amerika atau Eropa.
Indonesia yang tergabung dari berbagai suku, contohnya Jawa, Batak, Sunda, Banjar, Dayak, Bugis, Asmat, dan lain-lain terkenal dengan keramah tamahan masyarakatnya dan tingginya rasa saling menghormati antar sesama, ini bisa dibuktikan dengan terciptanya Negara ini yang dapat menyatukan semua suku, atau missal di daerah Banjarmasin yang penduduknya bisa saling terbuka dan menerima penduduk dari suku lain antaranya jawa, bugis, batak atau suku dari Negara lain seperti Cina dan Arab yang datang melalui akulturasi budaya dulunya.
Pada tanggal 28 oktober 1928 sebelum kemerdekaan bangsa ini tercipta, semua pemuda dari beragam suku di Indonesia yang memiliki sebutan Yonk Java ( jawa), Yonk Celebes (sulawesi), Yonk Borneo (Kalimantan) dan sebagainya berikar untuk menyatu dan bergabung menjadi satu kesatuan bangsa, dengan beralasan karena semuanya memiliki kesamaan budaya dalam artian satu cita-cita dan rasa saling menghormati. Peristiwa ini sering kita sebut dengan “Sumpah Pemuda”.
Personality dan culture bangsa Indonesia tentunya sangat berbeda dengan negara-negara barat, perbedaaan ini adalah karena pandangan hidup dan kebiasaan manusianya yang berbeda.
Dalam era globalisasi ini, bukan hanya perdagangan bebas saja yang utamakan dan menjadi program kerja negara-negara didunia ini namun juga kebudayaan negara-negara kuat mengekor bahkan secara langsung bisa di terima di bumi pertiwi ini, lalu bagaimana dan seperti apa kepribadian Indonesia saat ini?
Bukan berarti kepribadian negara luar itu jelek atau kepribadian kita yang bagus, namun perlu kita cermati apakah cocok atau tidak kebudayaan luar itu kita adopsi, selama ini kita seakan telah mengikuti jaman atau trend yang up to date, dalam berpakaian, dalam pemikiran, meningkatkan rasa gengsi, individualisme dan lain sebagainya yang berbau kepribadian barat.
Dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran, rasa toleransi, ramah, sopan santun, saling menghargai, gotong royong dan lain sebagainya selalu menjadi dasar dalam hidup bermasyarakat. Bedanya dengan kepribadian orang-orang barat, disana mereka berpikir individualis, bermasyarakat atas dasar kegunaan. Itulah pandangan mereka yang telah terbentuk sejak dari migrasinya orang inggris ke benua amerika dan sejak jaman revolusi industri.
Pemikiran ini terbentuk karena proses kehidupan mereka yang selalu berpikir logis, struggle untuk hidup, bagaimana tidak, ketika mereka berpindah dari tanah inggris ke tanah amerika banyak sekali perjuangan yang telah mereka korbankan untuk mendapat kehidupan yang layak di banding di negara pertamanya yaitu Inggris. Atau di inggris sendiri, buruh-buruh banyak yang ditelantarkan, mereka berjuang untuk hidup dan mulai untuk mementingkan diri sendiri.
Di Indonesia, itu tidak terjadi, alam yang kaya raya, subur makmur tak menjadikan masyarakatnya susah dan menderita, bahkan sikap saling memberi merupakan sebuah kewajiban, namun karena sikap inilah ternyata kolonialisme, imperialisme dapat masuk dan mengubah pandangan hidup masyarakat Indonesia, orang portugis, belanda, dan spanyol sangat berpengaruh pada perubahan jati diri bangsa ini, direct rule dan indirect rule yang dtanamkan bangsa barat, mengubah pemikiran bangsa dan masyarakat Indonesia.
Kadang kita tidak menyadari bahwa sekarang ini masyarakat Indonesia sedang menyeimbangkan gaya hidup serta menyadur pemikiran orang-orang barat dalam artian meniru bukan menjadikan referensi, jika kita bisa melihat esensi pemikiran masyarakat desa yang masih alami di Indonesia ini mungkin kita akan sadar bahwa inilah kepribadian bangsa kita yang dulu menjadi ciri khas bangsa ini yang cantik dengan adat ketimurannya.
Kembali ke masalah perubahan, dalam kepribadian, perubahan kepribadian bukan hal yang dilarang, posisi serta jati diri yang membentuk kehidupan masyarakat bangsa indonesia dari dulu kala menjadi indikator dalam memilah dan memilih mana yang bisa kita pakai, intinya cocok atau tidak cocok dengan adat kita yaitu adat ketimuran.
Menyadur isi dari bukunya Koenjtoroningrat, Pengantar Ilmu Antropologi bahwa unsure kepribadian manusia di bentuk oleh pengetahuan, perasaan dan dorongan naluri.
Pengetahuan, berhubungan dengan apa yang kita lihat, rasakan dan rabaan kita tentang sesuatu, yang masuk ke dalam otak kita serta diproses dalam akal manusia menjadi sebuah gambaran atau referensi yang tersimpan dalam pikiran. Masukan tersebut bisa dari lingkungan, pengalaman serta peristiwa yang memang kita kehendaki untuk diproses menjadi sebuah moment tertentu. Inilah yang membentuk jati diri kita secara tidak langsung dalam kurun waktu tertentu jika hasil pengetahuan ini kita terapkan.
Perasaan, adalah anugerah tuhan yang diberikan kepada manusia untuk digunakan sebagai alat penilai dalam memilih apa yang bisa kita lakukan dan hindari, mengetahui mana yang negative atau yang positif, melihat mana yang cocok atau yang tak cocok, meskipun bersifat subyektif namun sangat berguna bagi kita untuk menimbulkan sebuah keinginan.
Dorongan naluri, selain pengetahuan yang didapat melalui proses kehidupan, manusia memiliki bawaan atau gen sejak lahir. Missal naluri untuk mempertahankan hidup, naluri untuk usaha mencari makan, naluri sex, naluri untuk bergaul, berbakti dan lain sebagainya, jika naluri ini digabungkan secara seimbang dengan pengetahuan maka akan jadi wujud kepribadian.
Menyoal lebih dalam menuju kepribadian manusia tidak terlepas dari ilmu psikologi. Menurut David Cohen dari Oxford university dalam bukunya “ melesatkan otak kiri otak kanan “ teori kepribadian merupakan sebuah bidang psikologi yang telah terasimilasi ke dalam kebudayaan yang luas secara mendalam.
Ini menegaskan kita bahwa kepribadian individu atau masyarakat, sangat berpengaruh dalam lahirnya sebuah kebudayaan manusia dan mendorong terbentuknya kepribadian umum suatu bangsa. Untuk memahami jati diri bangsa ini, tak perlu seluruh masyarakat di negara ini sadar akan jati diri bangsa ini, mulailah dari diri kita sendiri, kenali kepribadian bangsa kita yang tercinta ini.
Pandai-pandailah dalam memfilter kebudayaan negara lain yang selama ini kita telan mentah-mentah, lalu kita pikirkan apakah pantas jika kebudayaan barat kita pakai dan dijadikan kepribadian baru bangsa ini serta melupakan jati diri kita sebagai orang timur yang penuh dengan rasa sopan santun.
Ingatlah dengan adat-adat ketimuran kita yang beraneka ragam namun saling menghargai dan satu visi, alangkah indahnya jika kita selalu berpegang teguh pada adat yang telah membentuk kepribadian umum bangsa ini.
mohon dikoreksi Pak heee….
By ihya ul ihsan on May 8, 2008 | Reply
Proses belajar kebudayaan sendiri
Proses internalisasi.
Proses ini merupakan proses yang berlangsung selama individu masih hidup,dimulai pada saat individu tersebut dilahirkan hingga akhir hayatnya.Sepanjang kehidupannya manusia terus menerus belajar untuk mengolah segala perasaan hasrat,nafsu,emosi yangt diperlukan sepanjang hidupnya
Perasaan pertama yang teraktifkan pada saat bayi lahir kedunia adalah perasaan puas dan tidak puas.perasaan tidak puas akan membuat bayi menangis,sedangkan perasaan puas akan membuar bayi diam.Hal ini dapat dimaklumi karena ketika bayi lahir keadaan disekitarnya menjadi berbeda dan ini menyebabkan perasaan tidak puas yang pertama kali,hal inilah yang menyebabkan bayi menangis ketika dilahirkan.Hanya ketika sudah diberi selimut untuk menghangatkannya dan diberi kesempatan untuk menyusu maka rasa tidak puas itu menjadi terpuaskan.Akibatnya bayi akan berhenti menangis.Dengan berjalannya waktu si bayi menjadi sadar, cara untuk mendapatkan rasa puas adalah dengan cara menangis
Tiap hari yang berlalu,pengalaman yan dimilikipun menjadi terus bertambah.Rasa senang,bahagia,gembira,sedih,marah,rasa bersalah,benci,harga diri,malu dan sebagainya.Selain perasaan tersebut masih ada berbagaai macam hasrat,seperti hasrat untuk mempertahankan hidup,untuk bergaul,untuk meniru,untuk tahu,untuk berbakti dan lain-lain.Semua dipelajari oleh individu melalui proses internalisasi.
Proses sosialisasi.
Hal ini berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungannya dengan sistem sosial,mempelajari semua pola tindakan individu-individu yang menempati berbagai kedudukan dalam masyarakatnya yang dijumpai selama kehidupannya sehari hari sejak ia dilahirkan.individu yang berbeda mengalami proses sosiaisasi yang berbeda pula,hal ini karena proses ini banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan serta lingkungan sosial individu yang bersangkutan.
Proses enkulturasi
Proses ini dapat diterjemahkan kedalam satu istilah Indonesia yaitu pembudayaan.Dalam bahasa Inggris enkulturasi menggunakan istilah institutionalization.Dalam proses ini individu mempelajari dan menyesuaikan pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat,system norma,dan peraturan-peraturan yang berlaku dalam masyarakatnya.
Proses enkulturasi sudah dimulai sejak dalam pikiran warga suatu masyarakat.pada mulanya dari orang-orang dilingkungan keliarganya,lalu dari teman-teman spermainannya.Seringkali ia meniru segala macam tindakan .Proses meniru dijadikan sarana untuk belajar.Dengan terus meniru maka tindakannya menjadi suatu pola yang mantap dan norma yang mengatur tidakannya di budayakan.Ada sebagian norma yang dipelajari secara sebagian saja,dengan cara mendengar dari lain dalam lingkungan pergaulannya.Ada sebagian norma yang dengan sengaja diajarkan tidak hanya oleh keluarga tapi juga dari lingkungan sekolah yang sifatnya formal.selain aturan masyarakat dan negara yang diajarkan, aturan sopan santun dalam bergaul dan lain-lain juga diajarkan.
By selvia agustina on May 8, 2008 | Reply
Asimilasi
Asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru.Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok.Untuk mengurangi perbedaan itu,asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan,sikap,dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Hasil dari proses asimilasi adalah semakin tipisnya batas perbedaan antar individu dalam suatu kelompok,atau bisa juga batas-batas antar kelompok.Selanjutnya,individu melakukan identifikasi diri dengan kepentingan bersama.Artinya,menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok.Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain.
Asimilasi atau assimilation adalah proses sosial yang timbul apabila terdapat tiga persyaratan berikut:
terdapat sejumlah kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda.
terjadi pergaulan antar individu atau kelompok secara intensif dan dalam waktu yang relatif lama.
kebudayaan masing-masing kelompok tersebut saling berubah dan menyesuaikan diri.
Biasanya kelompok-kelompok yang tersangkut dalam suatu proses asimilasi adalah suatu kelompok mayoritas dan beberapa kelompok minoritas.Golongan minoritas lah yang mengubah sifat khas dari unsur-unsur kebudayaannya,dan menyesuaikannya dengan kebudayaan dari golongan mayoitas sedemikian rupa sehingga lambat laun kehilangan kepribadian kebudayaannya,dan masuk ke dalam kebudayaan mayoritas.
Hal yang penting untuk diketahui adalah faktor-faktor apa yang mendorong dan menghambat terjadinya proses asimilasi.
Faktor-faktor yang mendorong atau mempermudah terjadinya asimilasi adalah:
toleransi diantara sesama kelompok yang berbeda kebudayaan
kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
kesediaan menghormati dan menghargai orang asing dan kebudayaan yang dibawanya
sikap terbuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat
persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan universal
perkawinan antara kelompok yang berbeda budaya
mempunyai musuh yang sama dan meyakini kekuatan masing-masing untuk manghadapi musuh tersebut
Faktor-faktor yang menjadi penghalang terjadinya asimilasi antara lain:
kelompok yang terisolasi atau terasing(biasanya kelompok minoritas)
kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan baru yang dihadapi
prasngka negatif terhadap pengaruh kebudayaan baru.Kekhawatiran ini dapat diatasi dengan meningkatkan fungsi lembaga-lembaga kemasyarakatan
perasaan bahwa kebudayaan kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan kelompok lainnya.Kebanggaan berlebihan ini mengakibatkan kelompok yang satu tidak mau mengakui keberadaan kebudayaan kelompok yang lainnya
perbedaan ciri-ciri fisik,seperti tinggi badan,warna kulit atau rambut
perasaan yang kuat bahwa individu terikat pada kebudayaan kelompok yang bersangkutan
golongan minoritas mengalami ganguan dari kelompok penguasa
sifat takut terhadap kekuatan dari kebudayaan lain
Orang Cina misalnya ada di Indonesia,dan bergaul secara luas dan intensif dengan orang Indonesia sejak berabad-abad lamanya;namun mereka belum juga semua terintegrasi ke dalam masyarakat dan kebudayaan Indonesia,karena selama itu belum cukup ada sikap saling bertoleransi dan bersimpati.
By PUJI ASTUTI on May 8, 2008 | Reply
KEBUDAYAAN DAN KERANGKA TEORI TINDAKAN
Menurut ilmu Antroplogi, kebudayaan adlah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kata kebudayaan dan culture. Kata kebudayaan berasal dari mkata sanskerta buddayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa, dan rasa itu.
Adapun kata culture yang merupakan kata asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere yang berarti mengolah atau mengerjakan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sabagai sagala daya upaya serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.
Beda kebudayaan dan peradaban. Istilah peradaban sering juga dipakai untuk menyebut suatu kebudayaan yang mempunyai system teknologi, ilmu pengetahuan, seni bangunan, seni rupa, system kenegaraan serta masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Pandangan menyeluruh dan terintegrasi mengenai konsep kebudayaan ini dapat kita mantapkan dengan mempergunakan sebuah kerangka yang disusun oleh suatu kelompok studi yang terdiri dari jumlah sarjana ilmu-ilmu social yang didalamnya terkandung konsepsi bahwa dalam menganalisa suatu kebudayaan dalam keseluruhan perlu dibedakan secara tajam antara adanya empat komponen, yaitu :
Sistem Budaya
Budaya tradisional dan lokal yang dipahami sebagai local level dicision making dalam bidang pertanian, kesehatan, pendidikan, pengelolaan sumberdaya alam dan aktivitas sosial lainnya, khususnya di lingkungan masyarakat desa dan di daerah pinggir perkotaan. Fenomena tersebut memberikan gambaran yang jelas kearifan tradisi dalam mendayagunakan sumberdaya alam dan sosial yang ternyata bersifat dinamis. Melalui perjalan waktu yang panjang para pendukung budaya itu selalu memperbaharui dan memperkaya sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Dimana daya adaptasi dan efektifitas sistem pengetahuan dan teknologi masyarakat itu ternyata mampu mengembangkan mutu peradaban nilai-nilai kemanusiaan yang unggul di dunia ini dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya. Dalam banyak hal tidak diragukan kemampuan manusia menunjang kelangsungan hidupnya, dimana sistem budaya yang dimilikinya itu dilindungi dan terus disempurnakan dan diwariskan dari generasi ke generasi yang ternyata sejalan dengan logika dan kaedah ilmu pengetahuan modern.
Dalam sistem kepercayaan masyarakat purba dan masyarakat masa kini yang masih hidup dalam lingkungan tradisi yang kuat seperti menghormati dan memuja alam, dewa-dewa dan totemisme yang disertai tabu membunuh atau memakan hewan atau jenis tumbuhan tertentu. Sejalan dengan itu, adanya keyakinan hubungan yang erat dan bersifat kausal antara makro dan mikro kosmos, merupakan suatu kesadaran manusia yang mengandung kearifan dalam menjaga ketertiban alam jagad raya ini. Dimana terpeliharanya keseimbangan hubungan antara manusia dengan lingkungan alam, sesama manusia dan dengan Tuhan Yang Maha Esa merupakan pelajaran berharga bagi manusia modern saat ini dalam menghadapi porak-porandanya berbagai bentuk kehidupan sosial.
Pengembangan nilai-nilai budaya tradisonal dan lokal sejalan dengan konsep multikultural dalam membangun identitas diri yang disebut “budaya Indonesia“ yang nyata dan beragam. Dalam kehidupan nasional keragaman budaya budaya masyarakat itu, seperti penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bersamaan dengan itu membiarkan masyarakat pendukungnya menggunakan bahasa daerah berdampingan dengan bahasa nasional. Sesungguhnya, multikulturalisme dan nasionalisme tidak mempunyai hubungan yang jelas, tetapi penekanan pada salah satu akan mengurangi arti dari yang lainnya.
Dengan demikian, dalam memelihara keberlanjutan peradaban manusia yang lebih manusiawi, paradigma tersebut dapat dijadikan semacam “alternatif” yang harus dibangun sejalan dengan kesepakan masyarakat dunia yang terus menerus diaktualisasikan melalui berbagai pertemuan puncak dan secara nasional melalui otonomi daerah untuk melaksanakan amanah pembangunan manusia yang berkelanjutan dalam meningkatkan kesejahteraan yang adil dan beradab
Sistem Sosial
Sistem sosial di negara ini adalah sistem sosial yang jika kita pertimbangkan dengan akal sehat adalah sistem yang terbaik dibandingkan dengan sistem-sistem yang ada di negara lain. Bayangkan saja tentang ide keadilan sosial yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia, tentang kontrol negara atas sumber-sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Bukankah itu sistem yang sempurna? Sayangnya pada saat itu pendiri bangsa ini terlalu yakin dengan sistem yang mereka buat. Pada zaman itu mereka tidak memikirkan kelangsungan umur sistem ini dan terlena dengan kesempurnaan sistem tersebut. Mereka lupa bahwa selama masih ada di bawah langit, semuanya bersifat relatif. Tidak pernah ada yang dapat menjadi sempurna selama berada di bawah langit. Ide-ide yang mereka kemukakan adalah ide-ide yang luhur. Penuh dengan nilai-nilai positif yang membangun dan sepertinya pasti akan membawa pertumbuhan yang positif terhadap keadaan sosial masyarakat negara ini. Nyatanya apa yang disimulasikan di otak selalu tidak sesuai dengan kenyataan. Maklum, manusia memang belum dapat membuat simulasi tentang kehidupan sosial di suatu tempat pada situasi dan kondisi tertentu. Karena hal itu sangatlah kompleks di luar dari jangkauan daya pikir manusia pada umumnya. Hanya beberapa orang jenius saja, yang mungkin jumlahnya pun masih dapat dihitung dengan jari, dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada kondisi sosial seperti di negara ini.Akan tetapi kita sebagai rakyat tidak dapat menyalahkan pendahulu-pendahulu yang telah membuat kesalahan. Tentunya mengatur negara tidak akan semudah omong kosong belaka yang tidak pernah membentur suatu kenyataan. Hanya ide-ide yang tertampung dalam batas suatu individu tidak dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang pelik yang menyangkut keterikatan hubungan antara satu dengan yang lain.
Sebenarnya suatu sistem sosial dapat dianalogikan dengan sistem komputer yang terbatas. Hanya saja sistem komputer memiliki tingkat kompleksitas yang lebih sederhana dibandingkan dengan sistem sosial. Sistem komputer terbagi menjadi beberapa sub-sistem yang memiliki fungsi masing-masing. Setiap sub-sistem memiliki tanggung jawab masing-masing terhadap suatu resource yang terbatas, dan resource-resource yang terbatas tersebut harus dapat dikelola dengan baik agar program-program yang berjalan di atas sistem dapat berkerja dengan lancar tanpa gangguan. Tetapi nyatanya di dalam tingkat kompleksitas yang lebih sederhana itu pun, sistem yang dibuat pun tidak dapat benar-benar handal menangani resource yang terbatas. Macam-macam jenis komponen yang beraneka ragam dan macam-macam program yang berjalan di atas sistem tersebut mengakibatkan banyaknya kondisi-kondisi khusus yang harus ditangani. Di tambah lagi program-program yang merusak sistem seperti virus, worm, dan trojan menambah kesulitan di dalam membuat sistem yang benar-benar handal. Begitu pun di dalam sistem sosial. Virus-virus sosial yang beredar di dalam sistem dengan mudah berpindah dari satu sisi ke sisi lain. Bahkan virus – virus sosial lebih hebat dibandingkan dengan virus – virus komputer karena mampu berevolusi mengikuti perubahan-perubahan sistem dan mewariskan hasil evolusi tersebut kepada generasi berikutnya. Melihat hal tersebut mungkin tidak ada lagi jalan untuk membenahi sistem sosial yang ada, tetapi dengan melihat analogi sistem komputer, ada suatu solusi yang berkerja dengan baik apabila mengalami kebuntuan jalan untuk menghapuskan virus-virus sosial, yaitu “format and install new system”. Metode ini telah dijalankan berkali-kali di mana pun juga ketika terjadi kebuntuan. Hasilnya pun dapat dikatakan cukup berhasil sampai dengan periode tertentu timbul lagi virus-virus sosial yang baru dengan kemampuan yang lebih hebat dari generasi sebelumnya. Memang siklus seperti ini selalu berulang. Lahir suatu sistem baru, kemudian timbul virus – virus baru, buat sub-sistem penanggulangan virus, virus bertambah banyak, sub-sistem gagal dengan fungsinya, sistem utama rusak, hapuskan sistem utama, kembali lagi ke fase awal. Dengan mempertimbangkan keadaan-keadaan sosial di negara ini, sepertinya metode di atas tidak dapat dihindarkan lagi. Suatu saat, akan muncul gaya-gaya normal yang melawan tekanan-tekanan sosial kemudian menghancurkan sistem sosial dan virus-virusnya. Siklus berulang lagi, sampai pada kebuntuan terjadi lagi dan seterusnya.
Mengenai cara penanggulangan nya adalah relatif terhadap situasi dan kondisi tertentu. Setidaknya prinsip dasar yang harus dipahami adalah menjaga keseimbangan, baik keseimbangan alam, keseimbangan sosial dan keseimbangan diri sendiri. Sebagai prioritas yang paling penting adalah menjaga keseimbangan diri sendiri yang berdampak terhadap keseimbangan sosial dan kemudian berdampak lagi terhadap keseimbangan alam. Manusia moderen tentunya akan mengerti tentang prinsip di mana diri nya memberikan pengaruh kepada masyarakat walau pun kecil. Sehingga dengan sadar menjaga dirinya dari pengaruh-pengaruh yang menyebabkan ketidakseimbangan dirinya.Karena itu sudah tentu revolusi diri sangat penting untuk mencegah terjadinya revolusi sosial. Sehingga setiap tindakan dari berbagai individu tidak akan terlalu mempengaruhi keseimbangan sosial. Setidaknya dunia akan lebih baik jika dihuni oleh orang-orang bijak. Orang-orang yang selalu waspada terhadap dampak perbuatannya. “Barang siapa menanam padi, maka akan menuai beras. Barang siapa menanam mawar, maka akan menuai duri.” Tetapi lucunya kadangkala terjadi “Barang siapa menanam padi maka akan menuai batang padi, orang lain mencuri berasnya. Barang siapa menanam mawar, maka menuai bunga, orang lain durinya.”
Sistem Kepribadian
Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego. Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”. Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
Menurut Calvil S. Hall dan Lindzey, dalam psikodinamika masing-masing bagian dari kepribadian total mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dinamika dan mekanisme tersendiri, namun semuanya berinteraksi begitu erat satu sama lainnya, sehingga tidak mungkin dipisahkan. Id bagian tertua dari aparatur mental dan merupakan komponen terpenting sepanjang hidup. Id dan instink-instink lainnya mencerminkan tujuan sejati kehidupan organisme individual. Jadi id merupakan pihak dominan dalam kemitraan struktur kepribadian manusia.
Menurut S. Hall dan Lindzey, dalam Sumadi Suryabarata, cara kerja masing-masing struktur dalam pembentukan kepribadian adalah: (1) apabila rasa id-nya menguasai sebahagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak primitif, implusif dan agresif dan ia akan mengubar impuls-impuls primitifnya, (2) apabila rasa ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya bertindak dengan cara-cara yang realistik, logis, dan rasional, dan (3) apabila rasa super ego-nya menguasai sebagian besar energi psikis itu, maka pribadinya akan bertindak pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna yang kadang-kadang irrasional.
Kesadaran dan ketidaksadaran
Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya. Menurut Gerald Corey, bukti klinis untuk membenarkan alam ketidaksadaran manusia dapat dilihat dari hal-hal berikut, seperti: (1) mimpi; hal ini merupakan pantulan dari kebutuhan, keinginan dan konflik yang terjadi dalam diri, (2) salah ucap sesuatu; misalnya nama yang sudah dikenal sebelumnya, (3) sugesti pasca hipnotik, (4) materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas, dan (5) materi yang berasal dari teknik proyeksi, serta isi simbolik dari simptom psikotik.
Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.
Mekanisme pertahanan ego
Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah: (1) represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran, (2) memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik, (3) pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran, (4) proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar, (5) penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”, (6) rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur, (7) sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi, (8) regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami, (9) introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain, (10) identifikasi, (11) konpensasi, dan (12) ritual dan penghapusan.
Perkembangan kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu: (1) tahap oral, (2) tahap anal: 1-3 tahun, (3) tahap palus: 3-6 tahun, (4) tahap laten: 6-12 tahun, (5) tahap genetal: 12-18 tahun, (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.
Sistem Organisma
Menurut Sigmund Freud, perilaku manusia itu ditentukan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa enam tahun pertama dalam kehidupannya. Pandangan ini menunjukkan bahwa aliran teori Freud tentang sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Namun demikian menurut Gerald Corey yang mengutip perkataan Kovel, bahwa dengan tertumpu pada dialektika antara sadar dan tidak sadar, determinisme yang telah dinyatakan pada aliran Freud luluh. Lebih jauh Kovel menyatakan bahwa jalan pikiran itu adalah ditentukan, tetapi tidak linier. Ajaran psikoanalisis menyatakan bahwa perilaku seseorang itu lebih rumit dari pada apa yang dibayangkan pada orang tersebut.
Di sini, Freud memberikan indikasi bahwa tantangan terbesar yang dihadapi manusia adalah bagaimana mengendalikan dorongan agresif itu. Bagi Sigmund Freud, rasa resah dan cemas seseorang itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa mereka tahu umat manusia itu akan punah.
By Noor Fahriani on May 8, 2008 | Reply
BAB VII.Etnografi Banjar
7.3 Bahasa
Pada awal terbentuknya suku-suku bangsa, secara universal untuk dapat saling berkomunikasi antar individu perlu sarana atau alat komunikasi yaitu bahasa. Bahasa lisan tidak dikenal begitu saja oleh masing-masing kelompok, hampir dapat ditemukan diseluruh dunia bahwa satu-satunya alat komunikasi yang paling tua adalah tanda atau lambang yang digambarkan pada dinding gua manusia purba.
Di Kalimantan pada umumnya dan khususnya di Kalimantan Selatan, pada masa prasejarah ditandai oleh kehidupan di gua-gua, kemungkinan besar pada waktu itu juga mengenal tahap-tahap awal sarana komunikasi dengan membuat lambang dan simbol-simbol sebagai alat komunikasi.
Bahasa Banjar merupakan salah satu bahasa daerah yang berada di Kalimantan digunakan sebagai alat komunikasi sesama masyarakat Banjar. Bila masyarakat Banjar berbicara sesama dengan orang Banjar yag lainnya maka akan terdengar sangat kontras bahwa bahasa Banjar memiliki dialek yang khas. Dalam logat daerah terdapat ciri-ciri khas yang spesifik meliputi tekanan, turun-naiknya nada, panjang pendeknya bunyi bahasa membangun aksen yang berbeda-beda. Bahasa Banjar adalah bahasa yang dipergunakan oleh suku Banjar. Secara geografis suku ini pada mulanya mendiami seluruh Kalimantan Selatan. Namun akibat perpindahan penduduk dan percampuran penduduk Bahasa Banjar tersebar sampai di Kalimantan tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, bahkan banyak didapatkan di beberapa tempat di pulau Sumatera yang kebetulan menjadi pemukiman orang-ornag perantau dari Banjar sejak lama seperti di Muara Tungkal, Sapat, dan Tembilahan
Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, bahasa Melayu sebagai bahasa ekonomi menunjukkan pengaruhnya sejak abad pertama masehi menurut seorang pengkaji Robert Blust , bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu telah unggul sejak tahun 673 sebelum masehi di mana Pendeta I Tsing yang ingin mempelajari agama Buddha, telah menuntut ilmu di Sriwijaya dan terpaksa mempelajari bahasa Melayu untuk tujuan itu. Kemudian kekayaan khazanah peradaban bangsa Melayu tersebar ketika era Syeikh Abdur Rauf Singkel, Syeikh Nuruddin Raniri dan Syeikh Muhammad Arshad Banjar
Bahasa. ini sendiri terwujud dalam 3 komunitas besar, yaitu bahasa banjar kuala, bahasa banjar pahuluan dan bahasa banjar melayu. Bahasa ini bayak sekali berinduk dari bahasa Melayu, sementara bahasa Indonesia juga banyak mengadopsi bahasa Melayu, sehingga tidak sulit untuk mempelajari bahasa Banjar karena kosa katanya sama dengan bahasa melayu, perbedaan yang nyata hanyalah dari segi sebutan, bahasa banjar menggunakan a untuk menggantikan e seperti kalihatan (kelihatan), handak (hendak) dsb. Para ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa banjar termasuk kedalam anggota rumpun bahasa Austronesia Barat di wilayah gugusan kepulauan di selatan lautan fasifik. Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar yang semula sebagai bahasa suku bangsa juga menjadi bahasa pergaulan di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sebagai bahasa penghubung antar suku.
Seperti halnya bahasa Indonesia dan bahasa lainnya, Bahasa Banjar memiliki struktur bahasa yang diikuti dengan kaidah-kaidah atau norma bahasa yang terdiri atas kaidah atau aturan yang menyangkut tata bunyi, tata kata dan tata kalimat.
Kalimat Bahasa Banjar terdiri atas kata-kata atau sekelompok kata yang memiliki fungsi tertentu di dalam kalimat baik sebagai subjek (S), predikat (P), objek (O) ataupun keterangan (Ket) serta pelengkap (pel).
Kalimat Bahasa Banjar dapat terjadi dari gabungan kata benda (KB), kata kerja (KK) kata sifat (KS), kata keterangan (K.ket), kata bilangan(KBil)
Sebagai contoh untuk KB, inya guru (dia guru), KB KK julak tulak (paman pergi), KB KS diyang bungas (gadis cantik), KB Kbil duit banyak (uang banyak).
Selain itu dijelaskan pula Bahasa Banjar terdiri atas frase/kelompok kata benda (FB) kelompok kata kerja (FK) kelompok kata sifat (FS), kelompok kata bilangan (F bil) dan kelompok kata depan (FD).
contoh FB FK kaka kawalku sudah tulak (kakak temanku sudah pergi), FB FB bubuhan kami guru sabarataan (keluarga kami guru semua), FB FS nasi kuning itu kuning banar (nasi kuning itu kuning sekali), FB F bil lulungkang rumahnya banyak banar (jendela rumahnya banyak sekali).
Pola kalimat Bahasa Banjar berdasarkan konteks yaitu keadaaan suasana pemakaian kalimat tertentu seperti kalimat sapa contoh, Napang nang diitihi (apa yang dilihat), kalimat panggil, Ka lakas kasia (kakak lekas kemari), kalimat seru, Umai-umai kapurunan (aduh teganya), kalimat tanya, Lawan siapa ikam mambarasihi padu ( dengan siapa kamu membersihkan dapur), kalimat perintah, Barasiai Barataan (bersihkan semua), kalimat pemberitaan, Umahnya kamandahan (rumahnya kebakaran).
Dalam Bahasa Banjar juga dikenal dengan kalimat tunggal dan kalimat majemuk, Kalimat tunggal hanya terdiri atas satu subjek dan satu predikat dan satu objek, kalimat majemuk terdiri atas dua kalimat atau lebih yang dipadukan menjadi satu.
Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa tetapi hanya untuk kata ganti orang.
unda, sorang = aku ; nyawa = kamu —> (agak kasar)
aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu —> (netral, sepadan)
ulun = saya ; (sam)piyan / (an)dika = anda —>(halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
inya, iya, didia = dia —>(netral,sepadan)
sidin = beliau —>(halus)
Bahasa Banjar Dialek dan Subdialeknya
Suatu kenyataan bahwa bahsa banjar tersebar luas di sepanjang selatan dan timur Kalimantan dan berkembang jauh ke udik-udik sungai Barito serta anak-anak sungainya. Wilayah persebaran yang cukup luas seperti ini ditambah dengan kesulitan komunikasi yang tealh berlangsung berabad-abad, maka menyebabkan bahasa banjar tumbuh dan berkembang menurut lingkup geografisnya masing-masing dengan dampak tumbuhnya dialek dan ragam-ragam tuturan. C. den Hamer membedakan bahasa Banjar ke dalam dialek lokal : Amuntai dan Alabio, Kelua, Tanjung dan Kandangan yang selanjutnya dikatakan sebagai wilayah pemakaian bahasa Banjar di Hulu Sungai, Hamer telah memilah bahasa Banjar ke dalam dua dialek besar, yaitu :
1. Dialek Banjar Kuala, yang umumnya dipakai penduduk sekitar kota Banjarmasin,
Martapura, dan Pelaihari, dialek banjar kuala ini dituturkan dengan mengalun, meliuk-liuk, tidak keras dan tidak cepat . Menurut Mukhlis Maman seorang seniman banjar , bahasa Banjar Kuala ini mengenal enam huruf vocal yaitu,a,i,u,e,o dan e’. Dialek Banjar Kuala yang asli misalnya dituturkan di daerah Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kotamdya Banjar Baru dan Kotamadya Banjarmasin
2. Dialek Banjar Hulu, yang umumnya dipakai penduduk di daerah Hulu Sungai yaitu
Tapin, HSS, HST, HSU serta Tabalong. Pemakaian dialek ini jauh lebih luas dan masih menunjukan beberapa variasi subdialek lagi yang oleh Den Hammer disebut dengan istilah dialek lokal yaitu seperti Amuntai, Alai, Kandangan, dan Kalua adalah diantara yang terbesar. Dalam dialek ini hanya mengenal tiga huruf vokal yaitu, a,i,u, dialek ini dituturkan dengan agak kaku, pendek-pendek, keras dan cepat.
Ciri paling menonjol yang membedakan dialek Banjar Hulu dan Banjar Kuala adalah perihal adanya vokal tengah [e, o, dan sebagiannya] yang hanya dimiliki oleh kelompok tutur Banjar Kuala. Kelompok tutur Banjar Hulu sama sekali tidak mengenal vokal-vokal tersebut, kecualai dalam penamaan seperti Loksado, Alabio, dan lain-lain
Bahasa Banjar Hulu vs Bahasa Banjar Kuala
gamat (Banjar Hulu), gémét (Banjar Kuala); artinya pelan
miring (Banjar Hulu), méréng (Banjar Kuala); artinya miring
himpat, tawak, tukun, hantup (Banjar Hulu), hamput (Banjar Kuala); artinya lempar (sambit)
arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
bungas (Banjar Hulu), langkar, béngkéng (Banjar Kuala); artinya cantik
tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
kau’u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
Dilihat dari segi kosa kata, baik dalam hal jumlah maupun variasi sub dialeknya , tampaknya Banjar Hulu jauh lebih banyak dan komplek, misalnya antara subdialek satu dengan subdialek lainnya seperti Alabio, Kalua, Kandangan, Amuntai dan lain-lain banyak berbeda kosa katanya, sehingga dapat terjadi kosa kata yang dipergunakan pada daerah lainnya, tetapi dibandingkan dengan Banjar Kuala, subdialek Banjar Hulu lebih berdekatan satu sama lain.
By henny on May 8, 2008 | Reply
WUJUD KEBUDAYAAN
menurut Koentjaraningrat wujud kebudayaan merupakan suatu sistem dari suatu ide-ide dan konsep-konsep dari wujud kebudayaan sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola. Wujud kebudayaan terdiri dari sistem budaya, sistem sosial, dan wujud fisik.
1. Wujud yang paling utama adalah wujud ideal dari kebudayaan sebagai suatu kompkleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan dan sebagainya. wujud ini adalah wujud ideal dari kebudayaan. Disebutkan bahwa wujud kebudayaan ini adalah sistem budaya karna gagasan dan pikiran tersebut tidak merupakan kepingan-kepingan yang terlepas, melainkan saling berkaitan berdasarkan asas-asas yang erat hubungannya sehingga menjadi sistem gagasan dan pikiran yang relatif mantap dan berkelanjutan. Sifatnya abstrak, tidak dapat di raba atau di foto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala atau dangan perkataan lain, dalam alam pikiran di setiap masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatakan gagasan mereka tadi dalam tulisan maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis masyarakat yang bersangkutan.
2. Wujud kedua sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini merupakan wujud kebudayaan yang di sebut sistem sosial.Sistem sosial ini tidak dapat melepaskan diri dari sistem budaya. Apapun bentuknya, pola-pola aktivitas tersebut ditentukan atau ditata oleh gagasan-agasan dan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala manusia. Oleh karena saling berinteraksi antara manusia, maka pola aktivitas dapat pula menimbulkan gagasan, konsep, dan pikiran baru serta tidak mustahil dapat diterima dan mendapat tempat dalam sistem budaya dari manusia yang berinterksi tersebut. Dalam arti lain dapat mengenai tindakan berpola dari manusia itu sndiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi,berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain dari detik ke detik, hari ke hari, dan tahun ke tahun selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. sebagai rangkaian aktivitas manusia-manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial ini bersifat kongkret, terjadi di sekeliling kita sehari hari, bisa difoto, dan di dokumentasikan. Contoh: petani sedang bekerja di sawah, orang sedang menari dangan lemah gemulai, orang sedang berbicara dan lain lain.
3. Wujud kebudayaan yang ketiga sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini merupakan wujud kebudayaan sebagai wujud fisik dan tidak memerlukan banyak penjelasan. Aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai pengguna peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut manghasilkan benda untuk keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret biasa juga di sebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai pada benda yang bergerak arena berupa seluruh total hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia dalam masyarakat. Bersifat kongkret dan berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan difoto. contoh: bangunan-bangunan megah separti piramida, tembok cina, menhir, alat-alat rumah tangga seperti kapak perunggu, gerabah.
Berangkat dari pengertian di atas, ada tiga hal yang menjadi kata kunci dalam memahami sebuah kebudayaan yaitu ide(mantefak), sistem sosial (sosiofak), dan wujud budaya fisik (artefak). Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak dapat dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya(artefak) manusia. Wujud benda hasil budaya (artefak) samua benda hasil karya manusia yang di sebut kebudayaan yang kongkret, dapat diraba dan difoto. Kebudayaan dalam wujud kongkret ini disebut kebudayaan fisik.
Dalam kenyataan sehari-hari ketiga wujud tersebut yaitu gagasan, perilaku, dan benda hasil budaya tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi. Contoh: salah satu unsur kebudayaan adalah sistem religi maka wujud budaya sistem religi ini adalah sebagai berikut:
1. Gagasan: konsep tentang dewa-dewa
2. Perilaku: upacara keagamaan yang dilakukan olah salah satu bangsa dengan konsep kepercayaan terhadap nenek moyang pada masyarakat indanesia.
3. Dapat di temukan contohnya pada masyarakat prasejarah di Indonesia berupa menhir, patung perwujudan nenek moyang
By Irma on May 8, 2008 | Reply
BAB V. KEBUDAYAAN
5.3 ADAT ISTIADAT
Adat istiadat merupakan salah satu bagian dari kebudayaan, dimana adat istiadat adalah sesuatu yang juga timbul dari pikiran manusia. Adat istiadat disatu tempat berbeda dengan adat istiadat ditempat lain, tergantung kepada masyarakatnya. Adat istiadat mengandung nilai-nilai budaya karena merupakan hasil dari konsepsi masyarakat itu sendiri. Selain itu, adat istiadat sendiri termasuk dalam tingkatan norma yang juga mempunyai akibat hukum yang dikenal dengan hukum adat. Karena mempunyai hukum, maka Adat istiadat ini mempunyai akibat-akibat apabila dilanggar oleh anggota masyarakat. Adat istiadat pada umumnya bersifat tidak tertulis dan selalu dipelihara secara turun-temurun. Disamping adat istiadat, ada juga kaidah-kaidah yang dinamakan peraturan atau hukum yang sengaja disusun untuk menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat dan mempunyai sanksi yang tegas. Oleh karena itu, adat istiadat sebagai bagian dari kebudayaan pada dasarnya tidak terlepas dari beberapa hal yaitu adanya sistem nilai, norma dan hukum.
Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia perlu untuk berinteraksi dengan manusia lain. Sehingga untuk berinteraksi dengan sesamanya tersebut, manusia dipandu oleh nilai-nilai budaya dalam kehidupan sosialnya. Nilai-nilai budaya merupakan tingkatan yang paling abstrak dan paling luas ruang lingkupnya oleh karena itu sulit untuk diterangkan secara rasional dan nyata. Tingkatan ini adalah ide-ide yang mengonsepsikan hal-hal yang paling bernilai dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai budaya ini berakar dalam bagian emosional dari alam jiwa manusia. Menurut koentjaraningrat tingkat sistem nilai budaya merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga sesuatu masyarakat, mengenai apa yang mereka anggap bernilai, berharga dan penting dalam hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan para warga masyarakat. Jadi, system nilai budaya dapat dikatakan sebagai sesuatu yang baik, yang diinginkan, dipentingkan serta dianggap berharga oleh masyarakat dan dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Tiap sistem nilai budaya dalam masyarakat mencakup lima masalah dasar dalam kehidupan manusia. Menurut C. Kluckhohn, kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka yang dapat dipakai para ahli antropologi untuk menganalisa secara universal variasi sistem nilai budaya dalam semua macam kebudayaan didunia yaitu:
a. Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia.
b. Masalah mengenai hakekat dari karya manusia.
c. Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia.
d. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
e. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan manusia.
e. Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan manusia.
Dalam hal ini, sistem nilai budaya berkaitan erat dengan pandangan hidup dan ideology. Suatu system nilai budaya sering juga berupa pandangan hidup. Namun, pada hakikatnya keduanya memillki perbedaan. Jika system nilai dianut sebagian besar warga masyarakat maka pandangan hidup hanya dianut oleh golongan-golongan atau individu-individu khusus dalam masyarakat. Sebaliknya, konsep ideologi menyangkut sebagian besar dari warga masyarakat atau golongan-golongan tertentu.
Hubungan antara manusia dalam suatu masyarakat bermula dari terciptanya norma-norma didalam masyarakat. Mula-mula norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja. Namun, terjadinya interaksi antara manusia satu dengan manusia lainnya dalam suatu masyarakat menuntut adanya suatu pedoman maka lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sengaja. Berbeda dengan system nilai budaya yang bersifat umum maka norma dalam hal ini bersifat lebih khusus. Secara umum, norma dapat diartikan sebagai seperangkat aturan yang mengatur tingkah laku manusia yang bersifat memaksa dan apabila dilanggar akan mendapatkan hukuman atau sanksi yang tegas. Norma terlahir dari adanya kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang dijadikan kebiasaan yang teratur yang kemudian dijadikan dasar bagi hubungan masyarakat. Koentjaraningrat memberi definisi mengenai norma. Menurutnya, norma berupa aturan-aturan untuk bertindak yang bersifat khusus yang perumusannya biasanya bersifat amat terperinci, jelas, tegas dan tak meragukan. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.
Adapun mengenai pelanggaran terhadap norma, setiap norma mempunyai sanksi yang berbeda beda sesuai dengan tingkatan norma yang ada dalam masyarakat. Ada norma yang apabila dilanggar mempunyai akibat yang berat tetapi ada juga yang ringan. Sanksi yang berat misalnya diasingkan atau dibuang oleh masyarakat, sedangkan sanksi yang ringan misalnya berupa tertawaan atau ejekan. Berdasarkan tingkatannya, norma di dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi empat yaitu : cara (usage), kebiasaan (folkways), tata kelakuan (mores) dan adat istiadat (costum).
Lain lagi halnya dengan hukum. Keberadaan hukum sangat terkait dengan adanya suatu pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam suatu masyarakat. Hukum pada dasarnya adalah seperangkat peraturan yang dibuat dengan sengaja untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Hukum ada yang bersifat tertulis dan tidak tertulis. Di Indonesia, hukum yang tidak tertulis itu dinamakan hukum adat. Hukum adat ialah bagian hukum yang tidak tertulis, hidup dan tumbuh didalam jiwa masyarakat dan berlaku turun-temurun dari dahulu sampai sekarang. Di Indonesia yang menjadi sumber hukum adat ialah keyakinan antara lain dalam bentuk kebiasaan, putusan-putusan kepala-kepala rakyat. Hukum adat bersifat dinamis yang mana apabila susunan masyarakat berubah maka hukum adat itu akan berubah pula adatnya. Namun, dalam hal ini perlu untuk dibedakan antara konsep hukum adat dengan hukum itu sendiri. Lalu, apakah yang dimaksud dengan hukum? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, dua ahli Antropologi yaitu A.R. Radcliffe-Brown dan Bronislaw Malinowski, memberikan pandangannya masing-masing mengenai hukum, sebagaimana diuraikan dalam Koentjaraningrat. Hukum dalam pandangan Radcliffe-Brown adalah suatu sistem pengendalian sosial yang hanya muncul dalam kehidupan masyarakat yang berada dalam suatu bangunan Negara, karena hanya dalam suatu organisasi sosial seperti Negara terdapat pranata-pranata hukum seperti polisi, pengadilan, penjara dan lain-lain. Sebagai alat-alat Negara yang mutlak harus ada untuk menjaga keteraturan sosial dalam masyarakat. Karena itu, dalam masyarakat-masyarakat bersahaja yang tidak terorganisasi secara politis sebagai suatu Negara tidak mempunyai hukum. Walaupun tidak mempunyai hukum, ketertiban sosial dalam masyarakat tersebut diatur dan dijaga oleh tradisi-tradisi yang ditaati oleh warga masyarakat secara otomatis-spontan. Di sisi lain, Malinowski memberikan pendapat yang berbeda dari Radcliffe-Brown, menurutnya hukum tidak semata-mata terdapat dalam masyarakat yang terorganisasi dalam suatu Negara, tetapi hukum sebagai sarana pengendalian sosial) yang terdapat dalam setiap bentuk masyarakat. Hukum dalam kehidupan masyarakat bukan ditaati karena adanya tradisi ketaatan yang bersifat otomatis-spontan tetapi karena adanya prinsip timbal-balik dan prinsip publisitas.
Lebih lanjut mengenai konsep hukum diatas, akan dikemukakan juga pendapat dari ahli Antropologi lain yaitu Ter Haar dan Pospisil. Ter Haar mengemukakan teori yang dikenal sebagai teori Keputusan (Beslissingenleer/Decision Theory), yang pada pokoknya menyatakan bahwa hukum didefinisikan sebagai keputusan-keputusan kepala adat terhadap kasus-kasus sengketa dan peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan dengan sengketa. Lain halnya dengan pandangan pospisil yang pada intinya menyatakan bahwa hukum pada dasarnya adalah suatu aktivitas kebudayaan yang mempunyai fungsi sebagai alat untuk menjaga keteraturan sosial atau sebagai sarana pengendalian sosial (social control) dalam masyarakat. Karena itu, untuk membedakan peraturan hukum dengan norma-norma lain, yang sama-sama mempunyai fungsi sebagai sarana pengendalian sosial dalam masyarakat, maka peraturan hukum mempunyai 4 atribut hukum (attributes of law), yaitu : Atribut Otoritas (Attribute of Authority), Atribut dengan Maksud untuk Diaplikasikan secara Universal (Attribut of Intention of Universal Aplication), Atribut Obligasio (Attribute of Obligatio), dan Atribut Sanksi (Attribute of Sanction).
Dari beberapa pendapat mengenai hukum yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli Antopologi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hukum adalah suatu sistem pengendalian sosial dalam masyarakat yang dibuat untuk menjaga keteraturan sosial baik pada masyarakat yang terorganisasi maupun yang tidak terorganisasi dalam suatu negara.
By Juwita Sari on May 9, 2008 | Reply
Lintasan History Banjar
Dalam membahas etnografi menurut Koentjaraningrat, ada baiknya juga dilengkapi dengan keterangan-keterangan lain yang mendukung, salah satunya adalah mengenai keterangan asal mula dan sejarah suku bangsa. Dalam upaya pengumpulan keterangan ini, ahli antropologi perlu bantuan dari para ahli sejarah atau ahli ilmu-ilmu bantu lainya. Sebab ketengan mengenai asal mula serta sejarah suku bangsa ini terdiri dari berbagai macam sumber, seperti dari benda-benda kebudayaan, naskah-naskah kuno, dan juga bisa dari cerita-cerita dongeng atau mitolog. Metode inilah yang juga dipakai dalam membahas etnografi banjar.
1. Masa Prasejarah
Apabila kita mengacu pada pengertian kata Banjar sebagai penyebutan untuk suku bangsa, bahasa, dan wilayah budaya ( culture area), maka dapat dipastikan bahwa sejarah kebudayaan banjar tidak mengenal tataran masa prasejarah, karena kebudayaan Banjar tidak mengenal tataran masa prasejarah, karena kebudayaan banjar muncul dan berkembang pada masa awal masuknya pengaruh Islam ke Kalimantan. Akan tetapi apabila kata Banjar tersebut tidak diartikan sebagai wilayah budaya, dan semata-mata hanya untuk menggantikan kata Kalimantan Selatan, maka tataran sejarah kebudayaan di wilayah ini dapat diawali sejak masa prasejarah ( Ideham, dkk, 2005:24).
Di Kalimantan Selatan, pegunungan meratus yang terbentuk dari karst batu gamping yaitu jenis batuan yang sangat baik untuk mengkonservasi tulang secara alamiah. Jika harus dicari jejak-jejak masa lalu manusia prasejarah di daerah Kalimantan selatan, maka pegunungan kapur seperti ini adalah salah satu tempat yang memberikan harapan untuk perburuan manusia prasejarah, antara lain harus diarahkan pada celah-celah gamping di pegunungan meratus yang menyimpan gua-gua alamiah, baik berupa ceruk (rock shelter) maupun gua (cave).
Penelitian intensif ekskavsi yang dilakukan sejak tahun 1995 hingga 1999 di gua babi yang terletak di bukit batu bali (Tabalong,Kalimantan selatan), menemukan komponen manusia yang bersifat fragmentaris dengan kualitas cukup tinggi. Berdasarkan karakter morpologinya, diketahui tidak kurang ada 11 individu yang terdiri dari dewasa dan anak-anak. Pada tahun 1999, ditemukan rangka manusia di gua tengkorak yang memberikan indikasi yang sangat penting tentang ras manusia pendukung budaya dikawasan batu buli, yaitu austromelanesoid.
Di Kalimantan Selatan, kegiatan masyarakat prasejarah pada masa berburu dan meramu sederhana ditunjukan dengan adanya beberapa bukti tinggalan budaya paleolit berupa kapak perimbas yang ditemukan tahun 1939 oleh geolog toer soetarjo di Awangbangkal Aranio (kabupaten banjar). Sebelumnya, H. Kupper tahun 1939 menemukan alat-alat batu di Awangbangkal, tepatnya di tepi selatan sungai riam kanan. Alat-lat yang ditemukan tersebut, digolongkan dalam unsure budaya kapak perimbas yang dibuat dari batu kuarsa, terdiri dari 5 buah kapak perimbas dan 2 buah alat serpih.
Bentuk pertanian menetap pertama, mungkin berkaitan dengan introduksi sagu dari Indonesia bagian timur. Sagu ini lebih banyak tumbuh di daerah rawa-rawa pesisir yang lembab. Masyarakat purba mengambil sagu ini, lalu memelihara tumbuhan sagu ini, dan memanennya secara teratur, seperti halnya yang dilakukan oleh suku Malanau di delta rejang, Serawak. Masyarakat juga mulai menagkap ikan dan mengumpulkan moluska air tawar. Aktifita- aktifitas ini menyebabkan mereka membentuk pemukiman menetap.
Perubahan cara hidup yang penting terjadi dengan bersamaan dengan penemuan biji besi dan cara-cara untuk mengekstraksi dan mengolahnya. Sekitar tahun 1000, di Kalimantan yang tepatnya di delta-delta sungai di kuching, penduduk ada penduduk asli sudah menggunakan biji besi. Keterampilan dalam membuat alat-alat dari besi mungkin sudah ada sebelumnya, yaitu bersamaan dengan diperkenalkannya artefak dari besi dan perunggu tembaga beserta teknologi penggunaanya oleh orang- orang dari cina, Vietnam, dan India sekitar abad ke 6 hingga 10.
Penemuan besi membawa perubahan yang sangat mendasar pada masyarakat setempat, karena dengan alat –alat dari besi ini mereka akan lebih dalam membuka hutan untuk keperluan menanam padi dan taro. Ini membuat masyarakat dayak yang dulu aktifitasnya sebagai pengumpul sagu, menjadi penanam padi. Perladangan padi seperti ini masih dilakukan hingga sekarang. Padi kemungkinan besar diperkenalkan oleh imigran bangsa Mongolia, sebab dalam permulaan Kal Holosen sekitar 7000 tahun yang lalu, dialiran sungai Yangtze telah dibudidayakan padi liar dan jenis padi-padian yang lain.
Besi digunakan untuk membuat pisau dan alat – alat pertanian serta alat untuk membuat lubang pada sumpit dari kayu besi yang keras. Sumpit adalah senjata cirri khas orang dayak. Pemburu purba di Kalimantan sudah mengenal panah dan anak panah, tetapi sumpit yang terbuat dari kayu besi ini adalah senjata yang jauh lebih hebat, lebih akurat, dan mampu membunuh mangsa dari jarak yang jauh.Daerah yang kaya akan biji besi, yaitu daerah Apo Kayan, Mantalat ( Barito Hulu), Mantikai ( anak sungai Sambas) dan Tayah di Kalimantan Barat.
Kebudayaan megalitik ditemukan di sumber air sungai Baram yang berada disekitar gunung Murud, di tempat-tempat sekitar pegunungan Kalabit dan di Kalimantan Tengah diperkirakan berasal dari kurun waktu yang sama. Masyarakat Kalabit terus menganut budaya batu besar ini hingga tahun 1950, ketika mereka sudah menganut agama Kristen. Batu besar ini berhubungan dengan upacara-upacara penguburan tokoh-tokoh masyarakat, seperti kepala suku. Daerah yang paling banyak memiliki benda-benda purba pada masa ini adalah di daerah Kalimantan Timur. Terdapat kira-kira 50 pusat pemukiman dan kuburan yang disebut ”ngorek” yang memiliki monumen batu.
2. Kerajaan-kerajaan sebelum berdirinya kerajaan Banjar
Di kalimantan Selatan sejak abad 14 hingga awal abad 16 yakni sebelum berdirinya kerajaan Banjar yang berorentasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut negara suku (etnic State) yang diwakili oleh negara Nan Sarunai dan Fase kedua adalah negara awal (erly State) yang di wakili pada Negara Dipa dan Negara Daha. Terbentuknya Negara Dipa dan Daha menandai zaman klasik di kalimantan selatan.
1.Kerajaan Nan Sarunai
Kerajaan Nan Sarunai adalah kerajaan milik orang Dayak Maanyan. Keraaan ini terletak di dekat kota Amuntai sekarang.
Bangunan istana kerajaan Nan Sarunai berbentuk rumah panggung panjang yang dikenal dengan nama batang atau lamin. Antara bangunan pemimpin dengan rakyatnya memiliki perbedaan. Perbedan tersebut dapat dilihat dari adanya aksen tambahan pada bangunan rumah pemimpin, yaitu berupa tanda plus ( ) pada atapnya.
Pada kerajaan ini, pengawasanya ada ditangan seorang idividu yang memiliki otoritas warisan, yang disebut kepala suku.
Masyarakat maanyan hidup terpencar-pencar keseluruh wilayah kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, terutama setelah kekalahan kerajaan Nan Sarunai terhadap serangan yang dilakukan oleh Majapahit pada abad XIV.
2. Kerajaan Negara Dipa
Setelah kerajaan Nan Sarunai, berdiri satu kerajan lagi yang dibangun oleh emigran dari Jawa yang bernama kerajaan negara Dipa. Keraaan ini terletak diantara pertemuan sungai amandit dengan sungai negara yang disebut dengan hujung tanah.
Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh Empu Jatmika dengan gelar maharaja. Empu Jatmika mempunyai dua orang anak, yang bernama Empu Mandastana dan lambung mangkurat. Dalam menjalankan kekusaannya, Empu Jatmika mengalami keraguan sebab ia bukan dari keturunan raja. Sehingga ia menginginkan yang akan menjadi penerusnya adalah orang yang pantas dan berhak. Karena itu setelah dirinya wafat, anaknya yang bernama Lambung Mangkurat mencarikan pengganti ayahnya, terpilihlah putri Junjung Buih. Putri Junjung lalu dikawinkan dengan Pangeran Suryanata dari kerajaan Majapahit.
Pada masa kekuasaan ini, wilayah negara dipa terus melebar sampai kedaerah sukanana, batang lawat, sambas, kutai, pasir, kota waringin,karasikin,dan berau.
3. Kerajaan Negara Daha
Setelah putri Junjung Buih dan pangeran Suryanata wafat, tahta kekuasaan diturunkan pada anaknya suryaganggawangsa, lalu dilanjutukan lagi oleh Carang Calean, dan yang terakhir dipegang oleh Raden Sari Kaburangan. Pada masa kekuasaan Raden Sarikaburangan ini, pusat pemerintahan dipindah ke Muara Bahan. Setelah berpindah ke daerah ini, kerajaan Negara Dipa berganti nama menjadi Negara Daha.
Penduduk Negara Daha sebagian besar adalah masyarakat kerajaan Negara dipa yang ikut pindah ketika kerajaan tersebut pindah ke Muara Bahan. Kerajaan ini ramai sekali dikunjungi oleh saudagar-saudagar dari luar daerah kerajaan, seperti dari Melayu, Cina, Jawa, dan Bugis.
Raden Sarikaburangan lalu digantikan oleh anaknya, yaitu Raden Sukarama. Setelah masa kekuasan ini, terjadi perebutan tahta kekuasaan, di mana perebutan tahta ini terjadi antara Raden Samudera yang merupakan pewaris sah tahta kekusaan dengan Raden Tumenggung yang merupakan anak Raden Sarikaburangan. Dalam perebutan tahta kekuasaan ini, Raden Tumenggung berhasil merebut dan menduduki tahta kekuasan kerajaan negara daha.
3. Berdirinya Kerajaan Banjar
Kerjaaan Banjar adalah nama lain dari kerajaan Banjarmasin atau kesultanan Banjar. Pengaruh kerajaan Banjar meliputi gabungan seluruh wilayah yang sekarang sebagai propinsi kalimntan Selatan, Kalimantan Tengah, dan sebagian kalimantan Timur.
Perebutan kekuasaan yang terjadi di kerajaan Negara Daha, antara Raden Samudera dengan Raden Tumenggung, yang diakhiri dengan direbutnya tahta kekuasaan oleh Raden Tumenggung, secara langsung berhubugan dengan berdirinya kerajaan banjar. Raden Samudera yang kalah dalam perebutan tahta di kerajaan daha, memutuskan untuk pergi dari kerajaan tersebut, ia memilih untuk pergi ke hilir sungai Barito yang di sebut oleh orang Dayak Ngaju dengan nama Banjar oloh masih. Nama Banjar oloh masih berarti kampung orang Melayu.
Raden Samudera melihat tempat ini memiliki potensi besar untuk dikembangankan sebagai pusat kekutan untuk melawan negara daha. Pusat kekuatan ini diakui oleh orang-orang Melayu yang tinggal di daerah ini, dan diangkatlah raden samudera sebagai raja.
Dalam rangka persiapan penyerangan ke negara daha,raden samudera meminta bantuan kepada kerajaan Demak. Sultan Demak mengabulkan permintaan tersebut, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi oleh Raden Samudera. Syarat tersebut adalah mengharuskan Raden Samudera dan para pengikutnya memeluk Islam, syarat tersebut diterima oleh Raden Samudera.
Dengan kekuatan besar, Raden Samudera dan pengikutnya menyerang negara Daha., terjadilah peperangan diantara keduanya. Peperangan ini dimenagkan oleh Raden Samudera. Ia kemudian memindahkan rakyat negara Daha ke Banjarmasin. Perpindahan ini merupakan manifestasi dari tujuan perang, yaitu merekrut tenaga manusia, dan pengukuhan Raden Samudera sebagai kepala negara yang mempunyai kharisma. Pembauran penduduk di Banjarmasin, yang terdiri dari rakyat Daha, Melayu, Dayak, dan orang Jawa (pasukan dari Demak), pada dasarnya menggambarkan bersatunya masyarakat sebagai kesaktian utama.
Kemenangan Raden Samudera atas Raden Tumenggung pada abad XVI merupakan suatu perwujudan terjadinya pergeseran politik dari negara yang ekonominya berbasis agraris menjadi negara yang becorak maritim dan Islam sebagai agama negara. Sejak saat itu Raden Samudera menggunakan gelar Sultan Suriansyah dan dikukuhkanlah kerajaaan Banjar. Ibukota kerajaan Banjar adalah Banjarmasin.
Raja-raja yang pernah memerintah kerajaan Banjarmasin adalah sebagai berikut :
1. Raja I adalah Sultan Suriansyah
2. Raja II adalah Sultan Rahmatullah
3. Raja III adalah Sultan Hidayatullah
4. Raja IV adalah Sultan Mustainbillah
5. Raja V adalah Sultan Inayatullah
6. Raja VI adalah Sultan Saidullah
7. Raja VII adalah Sultan Tahalidullah
8. Raja VIII adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma
9. Raja IX adalah Sultan Agung
10. Raja X adalah Sultan Amirullah Bagus Kusuma (kedua kali)
11. Raja XI adalah Sultan Hamidullah
12. Raja XII adalah Sultan Tamjidullah
13. Raja XIII adalah Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah
14. Raja XIV adalah Susuhunan Nata Alam
15. Raja XV adalah Sultan Sulaiman Saidullah
16. Raja XVI adalah Sultan Adam Alwasikh Billah
17. Raja XVII adalah Sultan Tamjidullah Alwasikh Billah
Dalam hikayat Banjar ditemui istilah-istilah seperti negari Banjar, orang Banjar,Raja Banjar, dan Tanah Banjar. Akan tetapi istilah-istilah itu semuanya menacu pada pengertian wilayah kerajaan ini, yaitu wilayah Kerajaan Banjar yang di mana penduduknya disebut orang Banjar dan rajanya disebut raja Banjar.
Menurut Idwar Saleh (1991) suku Banjar setidaknya memiliki tiga subsuku berdasarkan wilayah tempat tinggal dan unsur pembentuk suku itu, yaitu :
1. Banjar Pahuluan adalah campuran Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok). Orang Banjar Pahuluan mendiami daerah lembah-lembah sungai ( cabang sungai Negara) yang berhulu di pegunungan Meratus.
2. Banjar Batangbanyu adalah campuran Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok). Tempat tinggal masyarakat Banjar Batang Banyu adalah di lembah sungai Negara.
3. Banjar Kuala adalah campuran Melayu, Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai ciri kelompok). orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar Banjarmasin dan Martapura.
4. Masa Penjajahan
Perkembangan kesultanan Banjaramasin yang pesat terutama dalam hal perdagangan, perdagangan yang utama adalah lada hitam yang begitu diminati dalam perdagangan internasional, menarik hati banyak pihak untuk menguasainya, salah satunya adalah Belanda.
Berbagai cara dilakukan oleh Belanda agar dapat menguasai kerajaan Banjar, tetapi terus gagal karena mendapat perlawan dari kesultanan Banjar, yang menyebabkan pecahny perang Banjar tahun 1859. Pada abad 19 Belanda akhirnya dapat mengusai kerajaan Banjar. Setelah berhasil menguasai kerajaan Banjar, tanggal 11 Juni 1860 diproklamirkan penghapusan kerajaan Banjarmasin. Dalam proklamasi tersebut, antara lain dinyatakan Kerajaan Banjar dihapuskan dan tidak lagi diperitah oleh raja atau sultan dan seluruh pemerintahan di lingkungan bekas keraajaan Banjar langsung di bawah kekuasaan gubernemen Hindia Belanda di bagian selatan dan timur Kaliamantan.
Belada kemudian membentuk keresidenan afdeling Selatan dan Timur Kalimantan pada tahun 1865, yaitu sebagai berikut :
1. Afdeling Banjarmasin termasuk Onderafdeling Kween( Kuin)
2. Afdeling Martapura yang terbagi atas lima district, yaitu Martapura, Riam Kanan, Banua Ampat, Margasari.
3. Afdeling Tanah Laut, terbagi atas empat district, yaitu Pelaihari, Tabanio, Maluka, dan Satui.
4. Afdeling Amuntai yang terbagi atas tujuh distict, yaitu Amuntai, Negara, Balangan, Alai, amandit, Tabalong, dan Kalua.
Keorganisasian pemerintahan Hindia Belanda selalu mengalami perubahan, begitupula dengan jumlah afdeling dan distriknya. Berdasarkan Staatsblad tahun 1898 nomor 178, di daerah Borneo bagian Selatan dibagi ke dalam beberapa wilayah administratif, yakni Afdeling Banjarmasin dan daerah sekitarnya (ommelanden) Afdeling Martapura; Afdeling Kandangan; Afdeling Amuntai; Afdeling Tanah-tanah Dusun/Teweh (Doesoenlanden); Afdeling Tanah-tanah Dayak/Kapuas (Dajaklanden); Afdeling Sampit; Afdeling Pasir dan Tanah Bumbu.
Sebelum dibentuknya kersedenan Onderafedeling selatan dan timur Kalimantan, kesultanan Bajar yang telah dikuasai Belanda sempat secara politisis diduduki oleh Inggris, yaitu dari tahun 1811-1816.
5.Masa pendudukan Jepang
Kekuasaan Jepang di Kalimantan dimulai dari daerah Tarakan. Setelah berhasil menancapkan tombak kekuasaan pertama di Tarakan yaitu pada tanggal 10 Januari 1942, Jepang terus melebarkan sayap kekuasaanya hingga ke Kalimantan Selatan. Untuk sampai ke Kalimantan Selatan, ada dua jalan yang ditempuh oleh pasukan tentara Jepang. Jalan pertama yaitu melalui jalan darat, masuk dari balikpapan lalu melewati Muara Uya ( Tanjung ), akhirnya sampai di Banjarmasin. Sedangkan jalan kedua, tentara Jepang memilih jalan laut, yaitu masuk lewat Jorong, lalu ke Pelaihari, hingga sampai di Banjarmasin.
Masuknya tentara Jepang di Banjarmasin, membuat pemerintah Belanda di daerah ini ketakutan. Belanda pun akhirnya memilih untuk menyerahkan Banjarmasin ke Tangan Jepang. Tetapi sebelum diserahkan ke tangan Jepang, Banjarmasin oleh AVC di bumi hanguskan. Tujuan AVC menghanguskan seisi kota Banjarmasin, terutama fasilitas-fasilitas penting adalah agar tentara jepang tidak dapat menggunakannya. Dala upaya penghangusan Kota Banjarmasin ini, tercium indikasi adanya diskriminasi, di mana beberapa fasilitas penting yang dibakar seperti kantor percetakan Suara kalimantan adalah surat kabar yang kontra terhadap pemerintah Belanda.
Pembumi hangusan ini, membuat marah tentara Jepang, sebagai pelampiasan kemarahan itu Jepang menghabisi nyawa beberapa orang dari panitia penyambutan, yaitu Burgemeester Van der meulen, pimpinan redaksi Borneo Post Smith, dan beberapa orang Cina.
Setelah berhasil menguasai kota Banjarmasin pada tanggal 12 pebruari 1942, jepang lalu menetapkan Kalimanatan Selatan atau disebut tentara jepang dengan Minami Borneo ditetapkan dala wilayah Indonesi bagian timur. Wilayah ini di bawah kendali angkatan laut (Kaigun), yang berpusat di Makassar. Wilayah Kalimantan Selatan oleh jepang ditetapkan sebagai Syu, yang di mana wilayah ini dibagi jadi 3 Bun yaitu Hulu Sungai, Banjarmasin, Kapuas Barito Bun terbagi dalam Fuku Bun, lalu terbagi lagi dalam Gun, dan Gun terbagi dalam Fuku Bun.
Kedatangan tentara Jepang di Indonesia, khususnya di Kalimantan Selatan awalnya disambut dengan gembira oleh rakyat, apalagi dengan janji-janjinya yang ingin melepaskan seluruh wilayah Asia dari jajahan negara-negara barat. Akan tetapi setelah berjalannya waktu janji yang dulu dikatakan tidak ada satupun yang terbukti, malah Jepang akhirnya menggantikan Belanda menjajah Indonesia. Jepang memperlakukan rakyat dengan sangat kejam, lebih kejam dari masa pendudukan Belanda.
Kenyataan ini membuat kecewa dan kebencian dalam diri rakyat. Sehingga sikap tidak bersahabat pun mulai ditunjukan rakyat kepada tentara Jepang. Untuk mengantisipasi kemarahan yang lebih besar, tentara Jepang menteror rakyat, terutama terhadap rakyat yang secara terang-terangan melawan tentara Jepang. Cara yang digunakan bisa dengan menangkap tanpa ada tuduhan yang jelas, atau lebih kejam lagi tentara Jepang tanpa segan membunuh rakyat yang menentang tersebut. Kekejaman Jepang terus berlanjut hingga kalahnya jepang terhad sekutu tahun 1945.
Pada masa pemerintahannya, Jepang juga banyak membentuk gerakan-gerakan pemuda di daerah ini. Gerakan ini mencakup pada kegiatan politik dan sosial. Gerakan-gerakan pemuda tersebut seperti, seinendan, Konon Hokoku Dan, Boei Teisin Tai,Heiho angkatan laut atau Kaigun Heiho, Tokubetsu Toku Tai, Peta, Fujin-Kai, dan Kinrohosi yaitu pengerahan masa untuk kerja bakti.
Tujuan Jepang membentuk gerakan – gerakan pemuda ini adalah sebagai tenaga cadangan dalam perang melawan tentara sekutu. Pemuda-pemuda yang dikirim ke medan perang, sebagian besar tidak ada yang kembali lagi. Hal ini menambah berat penderitaan rakyat Kalimantan Selatan.
6. Masa Kemerdekaan
Sebelum kekalahan Jepang terhadap tentara sekutu, Jepang memberikan janji kepada Indonesia yaitu berupa kemerdekaan. Akan tetapi setelah terjadi kekalahan itu, Jepang rupanya mau mengingkari janji tersebut.
Dengan dorongan, dukungan, serta keberanian daris rakyat Indonesia, akhirnya pada tanggal 17 agustus 1945 diproklamirkanlah kemerdekaan Indonesia. Pembacaan teks proklamasi dilakukan di halaman kediaman Soekarno di jalan Pegangsaan Timur. Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia cepat tersiar keseluruh wilayah Indonesia, termasuk juga di Kalimanatan Selatan.
Setelah kemerdekaan, di Kalimantan khususnya terjadi beberapa kali perubahan pembagian wilayah administrasi.Pertama terjadi setelah pemulihan kedaulatan yang ditandai dengan konprensi Meja Bundar (KMB) pada tanggal 14 Agustus 1950 pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) mengeluarkan Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1950 yang menetapkan pembagian wilayah RIS atas 10 propinsi (propinsi administratif). Satu diantaranya adalah Propinsi Kalimantan. Propinsi Kalimantan meliputi 3 keresidenan yakni Keresidenan kalimantan Barat, Keresidenan kalimantan Selatan dan Keresidenan kalimantan Timur.
1. Residentie Zuid-Borneo (Keresidenan kalimantan Selatan)
2. Residentie Oost-Borneo (keresidenan kalimantan Timur)
3. Residentie West-Borneo (keresidenan Kalimantan Barat)^
Eks Daerah Otonom Dayak Besar dan Swapraja Kotawaringin dibentuk menjadi 3 Kabupaten yaitu ; (1) Kabupaten Kapuas, (2) Kabupaten Barito dan (3) Kabupaten Kotawaringin yang bersama-sama daerah Otonom Daerah Banjar dan Federasi Kalimantan Tenggara, di gabungkan kedalam Keresidenan Kalimantan Selatan.
Perubahan untuk kedua kali mengenai pembagian wilayah Kalimantan terjadi setelah sidang yang dilaksanakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan Pemerintah tahun 1956, di mana diputuskan mengenai pembentukan 3 daerah otonom di Kalimantan, yaitu sebagai berikut :
1. Propinsi Kalimantan Barat yang berkedudukan di Pontianak, yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Kabupaten Sambas, Pontianak, Ketapang, Sanggau, Sintang, Kapuas Hulu dan Kota Besar Pontianak.
2. Propinsi Kalimantan Selatan yang berkedudukan di Banjarmasin, yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Utara, Barito, Kapuas, Kotawaringin, Kotabaru dan Kota Besar Banjarmasin.
3. Propinsi Kalimantan Timur yang berkedudukan di Samarinda yang wilayahnya meliputi Daerah-daerah Otonom Istimewa Kutai, Bulongan dan Berau.
Kemudian tahun 1957 dengan Undang-undang Darurat Nomor 10 tentang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah dan Perubahan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swantantra Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, maka terjadi pengurangan wilayah pemerintahan atas Propinsi Kalimantan Selatan. Propinsi Kalimantan Selatan yang semula terdiri dari delapan daerah kabupaten berkurang menjadi empat kabupaten dan satu kota besar, karena Kapuas, Barito dan Kotawaringin dimasukkan ke dalam wilayah Propinsi Kalimantan Tengah.
Untuk wilayah Kalimantan selatan, setelah keluar Undang-undang Nomor 27 Tahun 1959 tentang Penetapan Undang-undang Darurat Tahun 1953 menjadi Undang-undang maka Daerah Tingkat I (propinsi) Kalimantan Selatan akhirnya mempunyai wilayah sebanyak tujuh Daerah Tingkat II / Kotapraja ( kabupaten ) yang terdiri dari :
1. Daerah Kotapraja Banjarmasin dengan ibukotanya Banjarmasin
2. Daerah Tingkat II Banjar dengan ibukotanya Martapura
3. Daerah Tingkat II Barito Kuala dengan ibukotanya Marabahan
4. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Selatan ibukotanya Kandangan
5. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Tengah ibukotanya Barabai
6. Daerah Tingkat II Hulu Sungai Utara ibukotanya Amuntai
7. Daerah Tingkat II Kotabaru dengan ibukotanya Kotabaru.
Berdasarkan Undang Undang Darurat No.2 tahun 1953 terbentuk Daerah Kalimantan dengan ibukotanya di Banjarmasin. Perkembangan ketatanegaraan, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan UU Nomor 25 tahun 1956 yang isinya membagi Kalimantan menjadi 3 (tiga) propinsi dan diberlakukan terhitung tanggal 1 januari 1957, maka Kalimantan menjadi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Penjelasan UU nomor 25 tahun 1956 tersebut hanya menyatakan, bahwa Kalimantan Tengah Akan dibentuk menjadi propinsi otonom selambat-lambatnya dalam jangka waktu tiga (3) tahun, sebelumnya akan dibentuk terlebih dahulu daerah kerisedenan sebagai persiapan. Akhirnya dengan tanggal 23 mei 1957 dibentuklah Propinsi Kalimantan Tengah.
By Melisa Prawita Sari on May 9, 2008 | Reply
BAB VII
ETNOGRAFI BANJAR
7. 1 KONDISI OBJEKTIF
1. Lokasi
Secara geografis Propinsi Kalimantan Selatan terletak pada garis 140° 19’13″ sampai dengan 116°33’14″ BT dan 1°21’49″ sampai dengan 4°10’14″LS. Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai wilayah seluas 37.530, 52 km2 atau sekitar 6,98% dari luas Pulau Kalimantan. Secara administratif Propinsi Kalimantan Selatan Ibukotanya adalah Banjarmasin. terletak di bagian tenggara Pulau Kalimantan, batasnya :
• Sebelah Utara : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur
• Sebelah Selatan : berbatasan dengan Laut Jawa
• Sebelah Timur : berbatasan dengan Selat Makassar
• Sebelah Barat : berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Tengah
Penduduk Kalimantan Selatan biasanya menyebut wilayah Banjarmasin dengan sebutan ‘Banjar’, pada mulanya Banjar adalah sebutan untuk kampung yang dihuni oleh orang-orang Melayu. Orang-orang Ngaju menyebut orang-orang Melayu yang tinggal di kawasan sepanjang sungai dengan sebutan ‘Banjar Masih’, yang artinya kampung-kampung orang Melayu, dan berdasarkan geografi politik tradisional, Banjar juga adalah sebuah nama kerajaan Islam yang pada awalnya terletak di Banjarmasin. Ketika proses pembentukan Kerajaan Banjar, Banjar Masih mempunyai pelabuhan dagang yang disebut orang Ngaju ‘Bandar Masih’ artinya Bandarnya orang Melayu dan dijadikan sebagai ibukota kerajaan Banjar yang kemudian menjadi kota Banjarmasin.
2. Keadaan Alam Kalimantan Selatan
Sebagian besar Pulau Kalimantan terbangun dari sedimen laut yang berasal dari Laut Jawa dan laut Cina Selatan. Bagian Barat Daya pulau ini terdiri dari singkapan batu berumur 400 juta tahun, pada masa lalu merupakan bagian dari Dataran Sunda yang dulu pernah menyatu dengan Semenanjung Melayu, jawa, dan Sumatera.
Dari segi topografi di wilayah Kalimantan Selatan terbentang Pegunungan Meratus, terbentang dari Utara ke selatan dan membagi wilayah menjadi Wilayah Barat dan Wilayah Timur. Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan mempunyai kemiringan tanah 0-2 % dan sebagian besar berada pada kelas ketinggian 25-100 m di atas permukaan laut.Wilayah Pegunungan Meratus merupakan daerah yang terpisah secara khusus dari daerah perbukitan yang lain dan merupakn lahan yang kaya akan tumbuh-tumbuhan spesifik, terutama anggrek. Jenis fauna tidak hanya tergantung oleh tipe habitat, tetapi juga batasan-batasan geografis pegunungan dan sungai-sungai. Flora resmi di Kalimantan Selatan adalah Kasturi (Mangifera casturi) dan fauna resminya adalah Bekantan (Nasalis larvatus).
Secara geologis, sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan terdiri dari batu endapan dan batuan beku, dengan bentuk morfologi yang dapat dibagi menjadi 4 bentuk, yaitu :
• Dataran alluvial : 589.243 ha
• Dataran : 1.171.944 ha
• Pegunungan : 1.259.456 ha
Dengan demikian wilayah Kalimantan Selatan didominasi oleh bentuk morfologi daratan dan pegunungan,masing-masing 33,89% dan 33,56%.
Daerah Kalimantan Selatan banyak dialiri sungai besar maupun sungai kecil. Sungai terbesar adalah sungai Barito anak sungainya Sungai Bahan dan Sungai Negara. Dekat Banjarmasin, Sungai Barito mempunyai cabang Sungai Martapura dan anak-anak Sungai Riam kanan dan Riam Kiwa. Daerah aliran sungai lainnya yang terdapat di Propinsi Kalimantan Selatan adalah : Tabanio, Kintap, Satui, Kusan, Batulicin, Pulau Laut, Pulau Sebuku, Cantung, Sampanahan, Manunggal dan Cengal. Dan memiliki catchment area sebanyak 10 (sepuluh) lokasi yaitu Binuang, Tapin, Telaga Langsat, Mangkuang, Haruyan Dayak, Intangan, Kahakan, Jaro,dan Batulicin.
3. Penduduk
Penduduk yang mendiami Propinsi Kalimantan Selatan biasanya disebut ‘Urang Banjar’ (Orang Banjar), walaupun penduduk di Kalimantan Selatan bukan seluruhnya etnik/ suku Banjar asli.
Ketika Banjarmasin lahir di tahun 1526 yang merupakan lahirnya kerajaan Banjar, penduduknya adalah campuran dari unsur Melayu, Ngaju, Maanyan, Bukit, Jawa dan suku-suku kecil lainnya yang dipersatukan oleh agama Islam, berbahasa dan beradat istiadat Banjar. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya dengan inti pembentukan persatuan etnik lahir kelompok besar yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu, dan Kelompok Banjar Pahuluan.
Delapan etnik/ suku terbanyak di Kalimantan Selatan berdasarkan sensus 2000 (dalam sensus belum disebutkan beberapa suku terkecil yang merupakan penduduk asli) :
1. Suku Banjar : 2.271.586 jiwa
2. Suku Jawa : 391.030 jiwa
3. Suku Bugis : 73.037 jiwa
4. Suku Madura : 36.334 jiwa
5. Suku Buket : 35.838 jiwa
6. Suku Mandar : 29.322 jiwa
7. Suku Bakumpai : 20.609 jiwa
8. Suku Sunda : 18.519 jiwa
9. Lainnya : 99.165 jiwa
Total penduduk Propinsi Kalimantan Selatan tahun 2000 : 2.975.440 jiwa
Berdasarkan hasil Survei Ekonomi Nasional 2002 diperkirakan jumlah penduduk Kalimantan Selatan bertambah dengan total 3.054.129 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.528.939 dan perempuan 1.525.190. Jumlah penduduk tersebut termasuk jumlah penduduk asli dan penduduk pendatang.
Penduduk asli Kalimantan Selatan terdiri dari berbagai kelompok etnik/ suku, antara lain:
a. Orang Banjar Kuala; Banjarmasin sampai Martapura
b. Orang Banjar Batang Banyu; Margasari sampai Kelua
c. Orang Banjar Pahuluan; Pleihari, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, sampai Tanjung
d. Suku Barangas di Berangas, Ujung Panti, Lupak, Aluh-Aluh
e. Suku Dayak Dusun Deyah di Muara Uya, Gunung Riut, Upau
f. Suku Dayak Balangan; daerah Halong dan sekitarnya di Kabupaten Balangan
g. Suku Maanyan; Dayak Warukin, Pasar Panas, Dayak Samihin
h. Suku Lawangan di Muara Uya Utara
i. Suku Abal di Kampung Agung sampai Haruai
j. Suku Bukit di Awayan (Dayak Pitap), Haruyan, Hantakan, Loksado, Piani, Paramasan, Bajuin, Riam Adungan, Sampahan, Hampang
k. Suku Bakumpai di Bakumpai, Marabahan, Kuripan, Tabukan
Selain penduduk asli, terdapat pula penduduk pendatang dari berbagai kelompok etnik/ suku dari luar Kalimantan Selatan, antara lain :
a. Suku Bugis di Pagatan (Bugis Pagatan) dan sekitarnya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru
b. Suku Madura di Madurejo (Madura Madurejo) dan sekitarnya di Kecamatan Pengaron daerah Riam Kiwa Kabupaten Banjar dan Mangkauk
c. Suku Bajau di Kotabaru, Tanjung Batu
d. Suku Mandar di Pulau Laut dan Pulau Sebuku
e.Suku Jawa Tamban di Purwasari Tamban Kabupaten barito Kuala
f.Orang Cina Parit di Pleihari Kabupaten Tanah Laut
g.Suku Bali di Barambai Kabupaten Barito Kuala, Sebamban di Kabupaten Kotabaru, dan sedikit di sekitar daerah Pleihari
Selain itu terdapat pula etnis keturunan Arab yang menempati perkampungan-perkampungan Arab di daerah-daerah tertentu di Kalimantan Selatan.
Diantara penduduk pendatang tersebut, Suku Bugis-lah yang datang secara legal atau resmi dengan membentuk kerajaan dan membawa budaya asli mereka di Kalimantan Selatan atas izin resmi dari raja Banjar yang berkuasa pada saat itu. Sedangkan penduduk pendatang lainnya datang ke Kalimantan Selatan melalui transmigrasi dan ada juga yang datang secara spontan.
Kelompok Etnik berdasarkan urutan keberadaannya di Kalimantan Selatan :
1. Austro-Melanosoid (sudah punah)
2. Dayak (rumpun Ot Danum)
3. Suku dayak Bukit
4. Suku Banjar (1526)
5. Suku Bajau, Suku Bugis (1750), Suku Mandar
6. Suku Jawa, Suku Madura
7. Etnis Tionghoa-Indonesia, Etnis Arab-Indonesia
8. Etnis Eropa (1860-1924, sudah punah)
Dengan demikian, dengan adanya pendatang dari luar Kalimantan Selatan terjadi pembauran budaya luar dengan budaya daerah ini di samping pembauran budaya antar etnis yang merupakan penduduk asli Kalimantan Selatan.
By Akbar Alamsyah Hidayat on May 9, 2008 | Reply
INTEGRASI KEBUDAYAAN
Dari beberapa paparan pada pokok bahasan yang lain, telah di uraikan tentang pengertian umum tentang kebudayaan yang mana menurut sebagian pendapat ada yang mengatakan bahwa kebudayaan itu adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, dan ada juga yang hasil pemikiran manusia. Jadi, kebudayaan adalah hasil dari pemikiran manusia yang ditumpahkan dalam bentuk abstrak maupun konkret yang mana dapat bertahan dan berkembang dalam kurun waktu tertentu
Dalam integrasi kebudayaan, dapat diartikan bahwa integrasi kebudayaan adalah suatu proses penyatuan dua unsur kebudayaan atau lebih yang mana dapat menghasilkan kebudayaan baru. Para ahli anthropologi biasanya memakai istilah “holistik” untuk nmenggambarkan metode tinjauan yang mendekati suatu kesatuan yang terintegrasi. Dari pada itu timbul beberapa konsep untuk menganalisa masalah integrasi kebudayaan yaitu pikiran kolektif, fungsi unsur – unsur kebudayaan, fokus kebudayaan dan kepribadian umum. Jadi Integrasi sosial sangatlah penting di dalam sejarah ataupun di dalam kebudayaan nasional.
1. Pikiran kolektif
Semenjak akhir abad 19 soeorang sosiologi Prancis yaitu E. Durkheim, telah mengembangkan konsep representation collectives atau pikiran-pikiran kolektif dalam sebuah buku. Kebanyakan yang dibahasnya adalah masalah aktifitas dan proses-proses rohaniah. Selain itu dia mempunyai sebuah gagasan bahwa akal manusia itu mempunyai kemampuan untuk menghubung-hubungkan proses atau aktifitas – aktifitas rohaniah yang primer tadi melalui proses sekunder, menjadi bayangan-bayangan dan jumlah semua bayangan mengenai suatu hal yang khas, menjadi sebuah gagasan dealam pikiran seorang individu yang kemudian disebut dengan representation individuelle
Pada umumnya gagasan diatas dapat di miliki oleh lebih dari dari satu individu bahkan dapat dimiliki oleh sebagian warga suatu masyarakat. Mungkin sering kita dengar tentang gagasan umum atau gagasan masyarakat yang mana suatu bentuk pemikiran dari suatu masyarakat tentang pengaturan dan pelaksanaan dari aktifitas atau proses-proses rohaniah dari masyarakat itu sendiri. Gagasan yang telah dimiliki oleh suatu masyarakat ini bukan lagi merupakan gagasan tunggal menyangkut suatu hal yang khas, melainkan biasanya sudah terkait dengan gagasan – gagasan yang lain yang sejenis menjadi suatu kompleks gagasan – gagasan atau pikiran. Istlah – istilah lain yang sering dipergunakan untuk menyebut konsep pikiran umum atau kolektif tadi ada juga yang menyebutnya dengan konfigurasi tetapi kata itu kurang di pakai dalam anthropologi.
2. Fungsi Unsur-Unsur Kebudayaan
Mengenai fungsi dari unsur-unsur kebudayaan yang dikaji dari anthropologi banyak tokoh atau sarjana yang berusaha menjabarkan tentang pengertian tersebut dengan cara meneliti fungsi dari tiap-tiap unsur kebudayaan tersebut. Seorang sarjana anthropologi, M.E. Spiro, pernah mengemukakan bahwa dalam suatu bentuk karangan ilmiah terdapat tiga cara pemakaian kata fungsi tersebut , yaitu sebagai berikut :
1.Pemakaian yang menerangkan fungsi itu sebagai hubungan guna antara suatu hal dengan suatu tujuan tertentu.
2.Pemakaian yang menerangkan kaitan korelasi antara satu hal dengan hal yang lain.
3.Pemakaian yang menerangkan hubungan yang terjadi antara suatu sistem yang terintegrasi.
Pengertian dari pemakaian kata fungsi diatas jelas sekali bahwa pemakaiannya dapat digunakan dalam bahasa sehari-hari yang mana masing-masing mempunyai pengertian dan aplikasi yang berbeda dalam suatu ilmu dan keadaan serta bagaimana hubungannya dengan integrasi kabudayaan itu sendiri. Suatu etnografi deskripsi yang terintegrasi atau holistik dikarang dengan menggunakan cara yang dipaki oleh para sarjana pada ketika itu yang mana merupakan suatu gejala baru dalam anthropologi.
3. Fokus Kebudayaan
Dalam suatu kebudayaan terdapat pranata-pranata yang menjadi fokus atau dominan kebudayaan bagi suatu masyarakat yang mana juga merupakan unsur pusat dalam kebudayaan kehidupan masyarakat pada tiap-tiap daerah. Menurut ahli anthtropologi amerika R. Linton, dia menyebutkan cultural interest atau kadang-kadang pula social interest yaitu sesuatu yang merupakan kebudayaan dominan yang harus dimiliki atau dilakukan oleh anggota dari suatu masyarakat dari daerah tertentu dan menjadi ciri khas dari masyarakat dari daerah tersebut. Demikian pula banyak ahli anthropologi dapat menyusun suatu etnografi yang holistik mengenai banyak kebudayaan salah satu contohnya adalah kebudayaan dari priyai di Jawa Tengah dengan mengemukakan unsur-unsur dari fokus kebudayaannya tadi.
4. Etos Kebudayaan
Sebuah kebudayaan itu dapat berkembang atau bahkan runtuh sebagaian besar diakibatkan adanya turut campurnya manusia dalam aktifitasnya yang menyangkut kebudayaan yang ada di daerah tersebut. Dalam kenyataannya suatu kebudayaan dapat dikatakan sebagai kebudayaan dikarenakan adanya suatu ciri khas atau watak tertentu yang merupakan pembeda dari daerah – daerah lain yang mana telah diturunkan secara turun – temurun dari generasi ke generasi dan dapat bertahan walau ada yang berubah menurut perkembangan zaman. Ciri khas tersebut dalam anthropologi biasanya disebut dengan watak atau ethos, yang sering tampak dalam kehidupan dan tingkah laku pada suatu masyarakat
Dalam kenyataanya terjadinya atau terbentuknya watak ( ciri khas ) tersebut tidak lepas dari peran kondisi geografis dari suatu daerah. Secara anthropologi banyak pandangan dari orang asing tentang kebudayaan dari tiap-tiap daerah yang ada di Indonesia banyak yang salah mengerti atau bahkan salah paham dengan kebudayaan itu karena pada dasarnya mereka belum mengetahui kebudayaan tersebut secara mendetail. Contoh dari ciri khas yang ada yaitu : orang – orang jawa timur karakteristik bahasanya sangat berbeda dengan orang jawa tengah padahal kedua kebudayaan itu terdapat pada satu pulau ada juga contoh lain pada kebudayaan banjar juga ada terdapat 2 ciri kahs yang berbeda yang lumrah kita kenal dengan banjar pahuluan dan banjar kuala yang mana dalam karakteristik pergaulan dan tata cara berbahasa antar masing-masing daerah itu berbeda satu sama lain . jadi suatu kebudayaan itu selalu mempunyai pembeda, ciri khas atau watak yang merupakan pemberi tanda dan benang merah antar kebudayaan satu dengan kebudayaan yang lain yang sangat sulit untuk di hilangkan karena sudah diturunkan secara turun temurun antar generasi.
By Muhammad Hidayat on May 10, 2008 | Reply
BAB IV Masyarakat Binatang dan Manusia
Dalam kajian ilmu antropologi manusia mempunyai nenek moyang yang sama yaitu sebuah sel kehidupan, dalam teori evolusi disebutkan berasal dari kera yang dalam perkembangannya terjadi perubahan dalam strukturnya dan variasi-variasi dalam sel tersebut sehingga menjadi seperti manusia yang seperti sekarang walupun masih terdapat spesies-spesies manusia seperti bigfoot yang terdapat di daerah kutub yang berkaki besar dan berbulu tebal serta manusia kerdil di Halimun.
Memang dalam Al-Qur’an tidak dijelaskan bahwa manusia berasal dari binatang, melainkan dari sebuah gumpalan tanah yang terdiri dari darah didalamnya yang kemudian diberi ruh yang akhirnya hidup yang kemudian disebut Adam, namun dalam kajian Antropologis kita tidak dapat memakai dasar tersebut, sebab kita tidak mengkaji Al-Qur’an melainkan ilmu pengetahuan tentang asal muasal manusia berdasarkan ilmu pengetahuan.
Manusia adalah tingkatan makhluk hidup yang paling tinggi diantara makhluk hidup lainnya, sebab manusia dibekali dengan akal untuk berfikir dan nafsu. Berbeda dengan binatang yang hanya dibekali dengan nafsu sehingga binatang merupakan derajat paling rendah diantara makhluk hidup. Manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia memerlukan bantuan orang lain untuk hidup, manusia juga dapat berinteraksi dengan makhluk yang lain, baik itu dengan cara bertatapan, bersentuhan, berbicara.
Masyarakat manusia adalah masyarakat yang dihuni oleh manusia yang mempunyai kepribadian yang menandakan bahwa mereka itu adalah manusia, manusia mempunyai pengetahuan yang sudah ada sejak lahir yang secara sadar dan terkandung di dalam otaknya dimana mereka gunakan untuk bertahan hidup. Manusia mempunyai persepsi atau proses penggambaran terhadap apa yang mereka temui, dari persepsi ini akal mereka mempunyai peran penting sebab dengan akal tersebut mereka bias membedakan baik dan buruk atau benar atau salah, berbeda dengan binatang yang tidak mempunyai hal tersebut. Dalam prosesnya lagi manusia kemudian menemui suatu gambaran baru sehingga terjadi percampuran antara penggambaran yang dahulu, yang kemudian diperoleh suatu pengetahuan baru dan menimbulkan suatu perbandingan, hal inilah yang disebut dengan apersepsi yang membuat pikiran manusia dapat menghasilkan suatu pemikiran yang baru.
Hal ini sudah tergambar dari manusia pertama yang ada di muka bumi yang dulunya hanya menggunakan batu atau benda-benda tajam untuk berburu dan memotong makanan, artinya mereka berfikir berdasarkan keadaan yang ada pada waktu itu, keadaan tersebut menuntut mereka untuk melakukan suatu inovasi dalam kehidupan mereka sendiri untuk bertahan hidup, lambat laun mereka kemudian mengembangkan pemikirannya untuk mencari benda yang lebih halus, akhirnya tercipta zaman-zaman baru seperti zaman besi, zaman perunggu, dan zaman logam, berbeda dengan binatang yang dari dahulu hanya begitu-begitu saja, contoh yang paling kecil adalah sapi, dari dahulu sampai sekarang makanan yang mereka makan hanyalah rumput, sedangkan manusia tidak begitu, manusia selalu mencari sesuatu hal yang baru begitu pula dengan makanannya. Kemampuan akal manusia membentuk suatu konsep baru tersebut disebut pula fantasi, dimana sesuatu yang dulunya hanya dapat dibayangkan menjadi kenyataan.
Adakalanya manusia bagaikan sekumpulan masyarakat binatang dimana mereka tidak dapat menggunakan akalnya untuk berfikir, mereka hanya bisa mendewakan nafsu mereka yang bahkan melebihi nafsu binatang, manusia seperti ini tidak dapat diasukkan ke dalam masyarakat manusia, walaupun mereka mempunyai akal tetapi tetap saja seperti binatang. Hal-hal yang menyebabkan derajat manusia lebih rendah dari binatang ini disebabkan oleh kelakuan mereka seperti tidak “membaca” karena kebanyakan masih didapati manusia yang tidak menaati peraturan-peraturan atau norma-norma yang ada.
Sebagai manusia yang tidak ingin disebut derajatnya lebih rendah dari saudara lahir kita, hendaknya kita dapat menggunakan potensi yang ada pada diri sendiri untuk memotivasi dan menggunakan ilmu untuk hal-hal yang berguna dalam lingkungannya, kita tidak perlu juga terlalu memaksakan diri untuk melakukan hal yang tidak kita bias, tetapi dengan membaca kita sudah dapat menghindarkan diri dari kalimat yang mengatakan bahwa derajat manusia lebih rendah dari binatang.
By Fahrian Hefni on May 10, 2008 | Reply
Aneka warna kepribadian
Aneka warna kepribadian individu bersifat unik, yakni berbeda dengan kepribadian dari satu individu dengan individu yang lain. Hal ini dikarenakan setiap individu diciptakan berbeda-beda dari satu individu dengan individu yang lain sehingga timbul suatu ciri yang khas dari individu yang dimana didalam kehidupan individu mempunyai bermacam-macam perbedaan, seperti pengetahuan, perasaan, kehendak, kesadaran kepribadian, dan lain-lain.
Dengan adanya perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya maka antar individu sering terjadi perselisihan dikarenakan perbedaan pendapat, yang dimana masing-masing individu merasa benar dan merasa hebat sehingga mengakibatkan antar individu selalu bertolak belakang. Kita lihat saja pada negara Indonesia ini yang mempunyai daerah yang sangat luas yakni dari9 sabangang sampai merauke yang dimana terdiiri dari ber5bagai macam ras, suku, dan agama kepercayaan. Sehingga sangat berpengaruh sekali sangat berpengaruh sekali dengan corak pemikiran dan kepribadiaan masing-masing individu . Sehingga sering kita lihat dalam menjalankan roda pemerintahan sering terjadi perbedaan pendapat dan pemikiran yang dimana akan menimbulkan perpecahan, hal inilah yang dialami negara kita ini sekarang dalam menjalankan pemerintahannya kedepan yang hanya dikarena masing-masing individunya mempunyai pendapat lalu kemudian berpengaruh terhadap perkembangan negara ini sendiri.
Sering terjadi nperbedaan kepribadian, maka saya melihat bahwa kepribadiaan dipengaruhi oleh dua faktor, yang pertama adalah faktor intern seperti pengaruh gen yang diturunkan oleh kedua orang tua mereka, dan faktor keluarga. Faktor yang kedua adalah faktor ekstern, yakni pengaruh dari letak geografis suatu daerah, keadaan alam dan lingkungan. Lalu akan membentuk suatu kepribadiaan yang khas dalam diri individu yang berbeda dengan individu yang lain. Sehingga dimana pun dan kapan pun apabila kepribadiaan seseorang itu sudah betul-betul melekat dalam dirinya maka tidak akan hilang dan takkan pernah sama karena masing-masing individu mempunyai ciri khas yang sifatnya unik.
Kepribadiaan umum, oleh karena individu adalah mahluk sosial, yang artinya tidak dapat hidup tanpa berdampingan dan berinteraksi dengan individu lain sehingga dalam melakukan pemikiran dan perbedaan kepribadian yang sering terjadi antar individu akan tetapi akan timbul suatu ciri yang khas suatu kepribadiaan umum dari suatu daerah yang dimana pola pikir dengan daerah lain. Biasanya kepribadiaan umum akan timbul karena pengaruh faktor dari lingkungan, alam, dan letek geografis suatu daerah yang didiami suatu kelompok individu yang lama kelamaan akan timbul suatu ciri yang khas dari gabungan individu yang mendiami suatu daerah dan akan terbentuk kepribadiaan umum. Kita lihat saja daerah Banjarmasin ini, yang dimana kehidupan masing-masing individu tidak akan lepas dari yang namanya sunagi, karena memang banjarmasin terdapat sungai-sungai baik yang besar maupun yang kecil, sehingga banjarmasin juga disebut kota seribu sungai. Akan tetapi kalau dilihat banjarmasin dengan kebudayaan sungainya dilihat dari kaca mata barat seperti belanda yang dimana mereka mengatakan orang banjarmasin adalah jorok. Yang dimana pada saat belanda dtang untuk berdagang didaerah kesultanan banjar, mereka mengamati keadaan socio-kultural orang banjar. Mereka mengatakan bahwa orang banjar hidup tidak akan lepas dari yang namanya sungai, sampai dalam hal kehidupan sehari-hari saja seperti mencuci, mandi, buang hajat, dan tempat untuk mengambil air minum tidak akan lepas dari sungai. Sehingga dalam melihat dari kaca mata barat, khususnya belanda mengatakan orang banjar itu adalah jorok.
Disini dapat kita simpulkan apabila ingin melihat suatu kebudayaan lain kita harus melihatnya dari bermacam-macam sudut pandang, sehingga tidak akan selalu bertentangan dengan kebudayaan lain. Karena suatu kebudayaan selalu benar menurut sipenunjang kebudayaan dan membentuk suatu kepribadian umu.
By Siti Nurhapsah on May 12, 2008 | Reply
RUMAH BANJAR
Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris.Menurut Idwar Saleh (1984:5) Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung (ba-anjung) yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan
Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton (Dalam Sultan). Jadi nilainya sama dengan rumah joglo di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja (Rumah Bubungan Tinggi). Dalam suatu perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung tersebut rumah dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah (alluvial) maupun lahan kering.Jenis-jenis Rumah Adat Banjar. Arsitektur regionalisme bergaya rumah Bubungan Tinggi:
1.Rumah Bubungan Tinggi
2.Rumah Gajah Baliku
3.Rumah Gajah Manyusu
4.Rumah Balai Laki
5.Rumah Balai Bini
6.Rumah Palimbangan
7.Rumah Palimasan (Rumah Gajah
8.Rumah Anjung Surung (Rumah Cacak Burung)
9.Rumah Tadah Alas
10.Rumah Lanting
11.Rumah Joglo Gudang
12.Rumah Bangun Gudang
Sejarah dan Perkembangan Rumah Adat Banjar.
Rumah adat Banjar, biasa disebut juga dengan Rumah Bubungan Tinggi karena bentuk pada bagian atapnya yang begitu lancip dengan sudut 45º. Bangunan Rumah Adat Banjar diperkirakan telah ada sejak abad ke-16, yaitu ketika daerah Banjar di bawah kekuasaan Pangeran Samudera yang kemudian memeluk agama Islam, dan mengubah namanya menjadi Sultan Suriansyah dengan gelar Panembahan Batu Habang. Sebelum memeluk agama Islam Sultan Suriansyah tersebut menganut agama Hindu. Ia memimpin Kerajaan Banjar pada tahun 1596–1620. Pada mulanya bangunan rumah adat Banjar ini mempunyai konstruksi berbentuk segi empat yang memanjang ke depan. Namun perkembangannya kemudian bentuk segi empat panjang tersebut mendapat tambahan di samping kiri dan kanan bangunan dan agak ke belakang ditambah dengan sebuah ruangan yang berukuran sama panjang. Penambahan ini dalam bahasa Banjar disebut disumbi. Bangunan tambahan di samping kiri dan kanan ini tamapak menempel (dalam bahasa Banjar: Pisang Sasikat) dan menganjung keluar. Bangunan tambahan di kiri dan kanan tersebut disebut juga anjung; sehingga kemudian bangunan rumah adat Banjar lebih populer dengan nama Rumah Ba-anjung. Sekitar tahun 1850 bangunan-bangunan perumahan di lingkungan keraton Banjar, terutama di lingkungan keraton Martapura dilengkapi dengan berbagai bentuk bangunan lain. Namun Rumah Ba-anjung adalah bangunan induk yang utama karena rumah tersebut merupakan istana tempat tinggal Sultan. Bangunan-bangunan lain yang menyertai bangunan rumah ba-anjung tersebut ialah yang disebut dengan Palimasan sebagai tempat penyimpanan harta kekayaan kesultanan berupa emas dan perak. Balai Laki adalah tempat tinggal para menteri kesultanan, Balai Bini tempat tinggal para inang pengasuh, Gajah Manyusu tempat tinggal keluarga terdekat kesultanan yaitu para Gusti-Gusti dan Anang. Selain bangunan-bangunan tersebut masih dijumpai lagi bangunan-bangunan yang disebut dengan Gajah Baliku, Palembangan, dan Balai Seba. Pada perkembangan selanjutnya, semakin banyak bangunan-bangunan perumahan yang didirikan baik di sekitar kesultanan maupun di daerah-daerah lainnya yang meniru bentuk bangunan rumah ba-anjung. Sehingga pada akhirnya bentuk rumah ba-anjung bukan lagi hanya merupakan bentuk bangunan yang merupakan ciri khas kesultanan (keraton), tetapi telah menjadi ciri khas bangunan rumah penduduk daerah Banjar.
Rumah Adat Banjar di Kalteng dan Kaltim
Kemudian bentuk bangunan rumah ba-anjung ini tidak saja menyebar di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga menyebar sampai-sampai ke daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Sekalipun bentuk rumah-rumah yang ditemui di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mempunyai ukuran yang sedikit berbeda dengan rumah Ba-anjung di daerah Banjar, namun bentuk bangunan pokok merupakan ciri khas bangunan rumah adat Banjar tetap kelihatan. Di Kalimantan Tengah bentuk rumah ba-anjung ini dapat dijumpai di daerah Kotawaringin Barat, yaitu di Pangkalan Bun, Kotawaringin Lama dan Kumai. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar ke daerah Kotawaringin ialah melalui berdirinya Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan dari wilayah Kerajaan Banjar ketika diperintah oleh Sultan Musta’inbillah. Sultan Musta’inbillah memerintah sejak tahun 1650 sampai 1672, kemudian ia digantikan oleh Sultan Inayatullah. Kerajaan Kotawaringin yang merupakan pemecahan wilayah Kerajaan Banjar tersebut diperintah oleh Pangeran Dipati Anta Kesuma sebagai sultannya yang pertama. Menyebarnya bentuk rumah adat Banjar sampai ke daerah Kalimantan Timur disebabkan oleh banyaknya penduduk daerah Banjar yang merantau ke daerah ini, yang kemudian mendirikan tempat tinggalnya dengan bentuk bangunan rumah ba-anjung sebagaimana bentuk rumah di tempat asal mereka. Demikianlah pada akhirnya bangunan rumah adat Banjar atau rumah adat ba-anjung ini menyebar kemana-mana, tidak saja di daerah Kalimantan Selatan, tetapi juga di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Kondisi Rumah Adat Banjar
Akan tetapi sekarang dapat dikatakan bahwa rumah ba-anjung atau rumah Bubungan Tinggi yang merupakan arsitektur klasik Banjar itu tidak banyak dibuat lagi. Sejak tahun 1930-an orang-orang Banjar hampir tidak pernah lagi membangun rumah tempat tinggal mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. Masalah biaya pembangunan rumah dan masalah areal tanah serta masalah mode nampaknya telah menjadi pertimbangan yang membuat para penduduk tidak mau membangun lagi rumah-rumah mereka dengan bentuk rumah ba-anjung. Banyak rumah ba-anjung yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya sekarang dirombak dan diganti dengan bangunan-bangunan bercorak modern sesuai selera jaman. Tidak jarang dijumpai di Kalimantan Selatan si pemilik rumah ba-anjung justru tinggal di rumah baru yang (didirikan kemudian) bentuknya sudah mengikuti mode sekarang. Apabila sekarang ini di daerah Kalimantan Selatan ada rumah-rumah penduduk yang mempunyai gaya rumah adat ba-anjung, maka dapatlah dipastikan bangunan tersebut didirikan jauh sebelum tahun 1930. Untuk daerah Kalimantan Selatan masih dapat dijumpai beberapa rumah adat Banjar yang sudah sangat tua umurnya seperti di Desa Sungai Jingah, Kampung Melayu Laut di Melayu, Banjarmasin Tengah, Banjarmasin, Desa Teluk Selong Ulu, Maratapura, Banjar, Desa Dalam Pagar), Desa Tibung, Desa Gambah (Kandangan), Desa Birayang (Barabai), dan di Negara. Masing-masing rumah adat tersebut sudah dalam kondisi yang amat memprihatinkan, banyak bagian-bagian rumah tersebut yang sudah rusak sama sekali. Pemerintah sudah mengusahakan subsidi buat perawatan bangunan-bangunan tersebut. Namun tidak jarang anggota keluarga pemilik rumah menolak subsidi tersebut karena alasan-alasan tertentu , seperti malu atau gengsi. Karena merasa dianggap tidak mampu merawat rumahnya sendiri. Bagaimanapun keadaan rumah-rumah tersebut, dari sisa-sisa yang masih bisa dijumpai dapat dibayangkan bagaimana artistiknya bangunan tersebut yang penuh dengan berbagai ornamen menarik.Rumah Banjar yang lapuk dimakan zaman.
Bagian dan Konstruksi Rumah Tradisonal Banjar.
a.Pondasi, Tiang dan Tongkat
Keadaan alam yang berawa-rawa di tepi sungai sebagai tempat awal tumbuhnya rumah tradisional Banjar, menghendaki bangunan dengan lantai yang tinggi. Pondasi, tiang dan tongkat dalam hal ini sangat berperan. Pondasi sebagai konstruksi paling dasar, biasanya menggunakan kayu Kapur Naga atau kayu Galam. Tiang dan tongkat menggunakan kayu ulin, dengan jumlah mencapai 60 batang untuk tiang dan 120 batang untuk tongkat.
b.Kerangka
Kerangka rumah ini biasanya menggunakan ukuran tradisional depa atau tapak kaki dengan ukuran ganjil yang dipercayai punya nilai magis / sakral. Bagian-bagian rangka tersebut adalah :
1.susuk dibuat dari kayu Ulin.
2.Gelagar dibuat dari kayu Ulin, Belangiran, Damar Putih.
3.Lantai dari papan Ulin setebal 3 cm.
4.Watun Barasuk dari balokan Ulin.
5.Turus Tawing dari kayu Damar.
6.Rangka pintu dan jendela dari papan dan balokan Ulin.
7.Balabad dari balokan kayu Damar Putih. Mbr>
8.Titian Tikus dari balokan kayu Damar Putih.
9.Bujuran Sampiran dan Gorden dari balokan Ulin atau Damar Putih.
10.Tiang Orong Orong dan Sangga Ributnya serta Tulang Bubungan dari balokan kayu Ulin, kayu Lanan, dan Damar Putih.
11.Kasau dari balokan Ulin atau Damar Putih.
12.Riing dari bilah-bilah kayu Damar putih.
c.Lantai
Di samping lantai biasa, terdapat pula lantai yang disebut dengan Lantai Jarang atau Lantai Ranggang. Lantai Ranggang ini biasanya terdapat di Surambi Muka, Anjung Jurai dan Ruang Padu, yang merupakan tempat pembasuhan atau pambanyuan. Sedangkan yang di Anjung Jurai untuk tempat melahirkan dan memandikan jenazah. Biasanya bahan yang digunakan untuk lantai adalah papan ulin selebar 20 cm, dan untuk Lantai Ranggang dari papan Ulin selebar 10 cm.
d. Dinding
Dindingnya terdiri dari papan yang dipasang dengan posisi berdiri, sehingga di samping tiang juga diperlukan Turus Tawing dan Balabad untuk menempelkannya. Bahannya dari papan Ulin sebagai dinding muka. Pada bagian samping dan belakang serta dinding Tawing Halat menggunakan kayu Ulin atau Lanan. Pada bagian Anjung Kiwa, Anjung Kanan, Anjung Jurai dan Ruang Padu, terkadang dindingnya menggunakan Palupuh.
e.Atap
Atap bangunan biasanya menjadi ciri yang paling menonjol dari suatu bangunan. Karena itu bangunan ini disebut Rumah Bubungan Tinggi. Bahan atapnya terbuat dari sirap dengan bahan kayu Ulin atau atap rumbia.
f.Ornamentasi (Ukiran)
Penampilan rumah tradisional Bubungan Tinggi juga ditunjang oleh bentuk-bentuk ornamen berupa ukiran. Penempatan ukiran tersebut biasanya terdapat pada bagian yang konstruktif seperti tiang, tataban, pilis, dan tangga. Sebagaimana pada kesenian yang berkembang dibawah pengaruh Islam, motif yang digambarkan adalah motif floral (daun dan bunga). Motif-motif binatang seperti pada ujung pilis yang menggambarkan burung enggang dan naga juga distilir dengan motif floral. Di samping itu juga terdapat ukiran bentuk kaligrafi. Kaligrafi Arab merupakan ragam hias yang muncul belakangan yang memperkaya ragam hias suku Banjar. (Museum Lambung Mangkurat -Banjarbaru, “Rumah Tradisional Bubungan Tinggi dan Kelengkapannya”, 1992/1993)
Cara Menentukan Ukuran Rumah Adat Banjar
Cara Menentukan Ukuran Rumah Adat Banjar dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1.Panjang dan lebar rumah ditentukan ukuran depa suami dalam jumlah ganjil. (Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87)
2.Dihitung dengan mengambil gelagar pilihan, kemudian dihitungkan dengan perhitungan gelagar, geligir, gelugur. Bila hitungannya berakhir dengan geligir atau gelugur maka itu pertanda tidak baik sehingga harus ditutup dengan gelagar. Hitungan gelagar akan menyebabkan rumah dan penghuninya mendapatkan kedamaian dan keharmonisan. (Depdikbud, Brotomoeljono, Rumah Tradisional Kalimantan Selatan, 1986 : 87)
3.Cara lain menurut Alfani Daud, MA. (1997 : 462); Ukuran panjang dan lebar rumah dilambangkan delapan ukuran lambang binatang yaitu naga, asap, singa, anjing, sapi, keledai, gajah, gagak. Panjang ideal dilambangkan naga dan lebarnya dilambangkan gajah.Yang tidak baik ialah lambang binatang asap, anjing, keledai, atau gagak. (Jumlah) panjang depa seseorang yang membangun rumah dibagi delapan mewakili binatang berturut-turut seperti tersebut terdahulu. (Tiap depa dikalikan 12). Bila panjang rumah 6 depa, berarti 6 x 12 ukuran atau 72 ukuran, maka jika ukurannya dilambangkan oleh binatang naga, haruslah ditambah 1/12 depa lagi. Untuk memperoleh ukuran lambang gajah, panjang itu harus ditambah 7/12 depa atau dikurangi 1/12 depa. (Alfani Daud, MA, Islam dan Masyarakat Banjar, 1997 : 462)
Filosofi Rumah Adat Banjar
Pemisahan jenis dan bentuk rumah Banjar sesuai dengan filsafat dan religi yang bersumber pada kepercayaan Kaharingan pada suku Dayak bahwa alam semesta yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alam atas dan alam bawah.Rumah Bubungan Tinggi merupakan lambang mikrokosmos dalam makrokosmos yang besar.Penghuni seakan-akan tinggal di bagian dunia tengah yang diapit oleh dunia atas dan dunia bawah. Di rumah mereka hidup dalam keluarga besar, sedang kesatuan dari dunia atas dan dunia bawah melambangkan Mahatala dan Jata(suami dan isteri).rumah Bubungan Tinggi melambangkan berpadunya Dunia Atas dan Dunia Bawah.
Dwitunggal Semesta
Pada peradaban agraris, rumah dianggap keramat karena dianggap sebagai tempat bersemayam secara ghaib oleh para dewata seperti pada rumah Balai suku Dayak Bukit yang berfungsi sebagai rumah ritual. Pada masa Kerajaan Negara Dipa sosok nenek moyang diwujudkan dalam bentuk patung pria dan wanita yang disembah dan ditempatkan dalam istana. Pemujaan arwah nenek moyang yang berwujud pemujaan Maharaja Suryanata dan Puteri Junjung Buih merupakan simbol perkawinan (persatuan) alam atas dan alam bawah Kosmogoni Kaharingan-Hindu. Suryanata sebagai manifestasi dewa Matahari (Surya) dari unsur kepercayaan Kaharingan-Hindu, matahari yang menjadi orientasi karena terbit dari ufuk timur (orient) selalu dinantikan kehadirannya sebagai sumber kehidupan, sedangkan Puteri Junjung Buih berupa lambang air, sekaligus lambang kesuburan tanah berfungsi sebagai Dewi Sri di Jawa. Pada masa tumbuhnya kerajaan Hindu, istana raja merupakan citra kekuasaan bahkan dianggap ungkapan berkat dewata sebagai pengejawantahan lambang Kosmos Makro ke dalam Kosmos Mikro. Puteri Junjung Buih sebagai perlambang “dunia Bawah” sedangkan Pangeran Suryanata perlambang “dunia atas”. Pada arsitektur Rumah Bubungan Tinggi pengaruh unsur-unsur tersebut masih dapat ditemukan. Bentuk ukiran naga yang tersamar/didestilir (bananagaan) melambangkan “alam bawah” sedangkan ukiran burung enggang melambangkan “alam atas”.
Pohon Hayat
Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan citra dasar dari sebuah “pohon hayat” yang merupakan lambang kosmis. Pohon Hayat merupakan pencerminan dimensi-dimensi dari satu kesatuan semesta. Ukiran tumbuh-tumbuhan yang subur pada Tawing Halat (Seketeng) merupakan perwujudan filosofi “pohon kehidupan” yang oleh orang Dayak disebut Batang Garing dalam kepercayaan Kaharingan yang pernah dahulu berkembang dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan pada periode sebelumnya.
Payung
Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi dengan atapnya yang menjulang ke atas merupakan sebuah citra dasar sebuah payung yang menunjukkan suatu orientasi kekuasaan ke atas. Payung juga menjadi perlambang kebangsawanan yang biasa menggunakan “payung kuning” sebagai perangkat kerajaan. Payung kuning sebagai tanda-tanda kemartabatan kerajaan Banjar diberikan kepada para pejabat kerajaan di suatu daerah.
Simetris
Wujud bentuk rumah Banjar Bubungan Tinggi yang simetris, terlihat pada bentuk sayap bangunan atau anjung yang terdiri atas Anjung Kanan dan Anjung Kiwa. Hal ini berkaitan dengan filosofi simetris (seimbang) dalam pemerintahan Kerajaan Banjar, yang membagi kementerian, menjadi Mantri Panganan (Kelompok Menteri Kanan) dan Mantri Pangiwa (Kelompok Menteri Kiri), masing-masing terdiri atas 4 menteri, Mantri Panganan bergelar ‘Patih’ dan Mantri Pangiwa bergelar ‘Sang’, tiap-tiang menteri memiliki pasukan masing-masing. KOnsep simetris ini tercermin pada rumah bubungan tinggi.
Kepala-Badan-Kaki
Bentuk rumah Bubungan Tinggi diibaratkan tubuh manusia terbagi menjadi 3 bagian secara vertikal yaitu kepala, badan dan kaki. Sedangkan anjung diibaratkan sebagai tangan kanan dan tangan kiri yaitu anjung kanan dan anjung kiwa (kiri).
Tata Nilai Ruang
Pada rumah Banjar Bubungan Tinggi (istana) terdapat ruang Semi Publik yaitu Serambi atau surambi yang berjenjang letaknya secara kronologis terdiri dari surambi muka, surambi sambutan, dan terakhir surambi Pamedangan sebelum memasuki pintu utama (Lawang Hadapan) pada dinding depan (Tawing Hadapan ) yang diukir dengan indah. Setelah memasuki Pintu utama akan memasuki ruang Semi Private. Pengunjung kembali menapaki lantai yang berjenjang terdiri dari Panampik Kacil di bawah, Panampik Tangah di tengah dan Panampik Basar di atas pada depan Tawing Halat atau “dinding tengah” yang menunjukkan adanya tata nilai ruang yang hierarkis. Ruang Panampik Kecil tempat bagi anak-anak, ruang Panampik Tangah sebagai tempat orang-orang biasa atau para pemuda dan yang paling utama adalah ruang Panampik Basar yang diperuntukkan untuk tokoh-tokoh masyarakat, hanya orang yang berpengetahuan luas dan terpandang saja yang berani duduk di area tersebut. Hal ini menunjukkan adanya suatu tatakrama sekaligus mencerminkan adanya pelapisan sosial masyarakat Banjar tempo dulu yang terdiri dari lapisan atas adalah golongan berdarah biru disebut Tutus Raja (bangsawan) dan lapisan bawah adalah golongan Jaba (rakyat) serta diantara keduanya adalah golongan rakyat biasa yang telah mendapatkan jabatan-jabatan dalam Kerajaan beserta kaum hartawan.
Tawing Halat/Seketeng
Ruang dalam rumah Banjar Bubungan Tinggi terbagi menjadi ruang yang bersifat private dan semi private. Diantara ruang Panampik Basar yang bersifat semi private dengan ruang Palidangan yang bersifat private dipisahkan oleh Tawing Halat artinya “dinding pemisah”, kalau di daerah Jawa disebut Seketeng. Jika ada selamatan maupun menyampir (nanggap) Wayang Kulit Banjar maka pada Tawing Halat ini bagian tengahnya dapat dibuka sehingga seolah-olah suatu garis pemisah transparan antara dua dunia (luar dan dalam) menjadi terbuka. Ketika dilaksanakan “wayang sampir” maka Tawing Halat yang menjadi pembatas antara “dalam” (Palidangan) dan luar (Paluaran/Panampik Basar) menjadi terbuka. Raja dan keluarganya serta dalang berada pada area “dalam” menyaksikan anak wayang dalam wujud aslinya sedangkan para penonton berada di area “luar” menyaksikan wayang dalam bentuk bayang-bayang.
Denah Cacak Burung
Denah Rumah Banjar Bubungan Tinggi berbentuk “tanda tambah” yang merupakan perpotongan dari poros-poros bangunan yaitu dari arah muka ke belakang dan dari arah kanan ke kiri yang membentuk pola denah Cacak Burung yang sakral. Di tengah-tengahnya tepat berada di bawah konstruksi rangka Sangga Ribut di bawah atap Bubungan Tinggi adalah Ruang Palidangan yang merupakan titik perpotongan poros-poros tersebut. Secara kosmologis maka disinilah bagian paling utama dari Rumah Banjar Bubungan Tinggi. Begitu pentingnya bagian ini cukup diwakili dengan penampilan Tawing Halat (dinding tengah) yang penuh ukiran-ukiran (Pohon Hayat) yang subur makmur. Tawing Halat menjadi fokus perhatian dan menjadi area yang terhormat. Tawang Halat melindungi area “dalam” yang merupakan titik pusat bangunan yaitu ruang Palidangan (Panampik Panangah).
By Farida Ariyani on May 13, 2008 | Reply
PASAR TERAPUNG
Pasar Terapung merupakan salah satu bentuk pola interaksi jual-beli masyarakat yang hidup di atas air. Para pedagang dan pembeli malakukan aktivitas jual-beli di atas Jukung, sebutan perahu dalam bahasa Banjar. Pasar ini dimulai setelah shalat Subuh dan akan berakhir ketika matahari telah beranjak naik atau sekitar jam 9 pagi. Apabila lewat dari jam tersebut, maka sudah dapat dipastikan bahwa pasar bakal sepi, karena para pedagang akan berpencar menyusuri sungai-sungai kecil, untuk menjual barang dagangnya ke penduduk yang rumahnya berada di bantaran sungai.
Pasar terapung ini sudah ada lebih dari 400 tahun lalu, dan merupakan sebuah bukti aktivitas jual-beli manusia yang hidup di atas air. Seperti halnya pasar-pasar yang ada di daratan, di atas pasar terapung ini juga dilakukan jual beli barang seperti sayur-mayur, buah-buahan, segala jenis ikan dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Pembelian dari tangan pertama disebut dukuh, sedangkan tangan kedua yang membeli dari para dukuh untuk dijual kembali disebut panyambangan. Di pasar ini, pengunjung dapat menyaksikan transaksi jual-beli yang dilakukan secara tradisional, yaitu dengan cara barter antar para pedagang berperahu, yang dalam bahasa Banjar disebut bapanduk. Namun sayangnya, kondisi aktraktif aktivitas jual-beli di atas perahu tersebut semakin lama semakin pudar pamornya, baik karena jumlah-jumlah pedagang yang semakin sedikit, sikap penjual yang tidak lagi cukup bersahabat, ataupun kurangnya dukungan dari pemerintah kota Banjarmasin. Kebijakan pemerintah membangun pasar di darat dekat dengan Pasar Terapung Kuin dan pembangunan ratusan jembatan rendah yang menghalangi akses lalu lintas sungai, baik langsung atau tidak, merupakan salah satu penyebab semakin memudarnya aktivitas jual-beli di pasar terapung ini.
Mengunjungi Pasar Terapung Muara Kuin akan memberikan kenangan tak terlupakan tentang bagaimana masyarakat yang hidup di atas air memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, pengunjung juga akan mengetahui pola transaksi jual-beli yang telah berumur lebih dari 400 tahun. Oleh karena pasar ini telah menjadi saksi bisu perjalanan aktivitas ekonomi masyarakat Kalimantan Selatan. Suasana berdesak-desakan antara perahu besar di pasar terapung ini cukup unik dan khas. Para pengemudi jukung dengan mahirnya mengayuh dan mengejar pembeli atau penjual yang berseliweran kian kemari dan perahu mereka kerap oleng dimainkan gelombang Sungai Barito. Bagi wisatawan yang datang dari kota-kota besar, akan merasakan sensasi tersendiri ketika mengamati pedagang wanita dengan topi lebarnya berperahu menjual hasil kebun atau makanan olahannya sendiri. Pasar terapung tidak memiliki organisasi seperti pada pasar di daratan, sehingga tidak tercatat berapa jumlah pedagang dan pengunjung, pembagian pedagang berdasarkan barang dagangan, dan tempat berjualan yang selalu berpindah-pindah. Bagi pengunjung yang hanya ingin bersantai, bisa menikmati secangkir teh atau kopi, ditambah dengan makanan/kue khas Banjar, sambil menikmati goyangan ombak yang menerpa klotok yang ditumpangi. Pengunjung juga dapat menyaksikan rumah-rumah terapung (Rumah Lanting) yang berada di sepanjang pinggiran sungai.
Pasar Terapung Muara Kuin terletak di aliran sungai Barito, tepatnya di muara Sungai Kuin, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Bajarmasin, Kalimantan Selatan. Jika berangkat dari pusat kota Banjarmasin dengan menggunakan perahu mesin atau yang biasa disebut klotok, diperlukan waktu sekitar 45 menit untuk menuju pasar yang berada di aliran Sungai Barito tersebut. Jika ingin lebih cepat sampai, pengunjung dapat menggunakan angkutan darat dengan menempuh rute Kota Banjarmasin-desa Alalak. Dari desa Alalak menuju lokasi Pasar Terapung yang jaraknya tidak begitu jauh pengunjung bisa mencarter klotok dengan harga Rp 70 ribu (tergantung bisa tidaknya pencarter malakukan tawar menawar). Dengan menyewa klotok, pengunjung tidak hanya bisa menyaksikan aktivitas di floating market tetapi juga bakal diajak berwisata ke Pulau Kembang.
Di pasar terapung ini tersedia tempat penyewaan perahu klotok, rumah makan, warung-warung penjual makanan dan minumana ringan. Selain itu, di pasar ini para pengunjung dapat bermalam di Rumah-Rumah Lanting yang berjejer di pinggir sungai.
By chairi ramadhan on May 13, 2008 | Reply
KEBUDAYAAN SUNGAI
Sejak dulu, ketika kita berbicara tentang Banjar, maka salah satu keunikan geografis yang mencuat terhadap daerah ini adalah sungai-sungainya. Dengan menyesuaikan pada kondisi lingkungan yang ada, maka tidaklah mengherankan jika pemusatan penduduk di Kalimantan Selatan berbasis di tepian sepanjang sungai-sungai yang ada. Dengan keadaan seperti inilah, kehidupan sungai menjadi salah satu ciri yang menonjol dari masyarakat Banjar
Sehingga kita dapat saksikan bahwa di hampir semua tepian sungai-sungai di Kalimantan Selatan pasti terdapat kampung-kampung kecil. Pola pemukiman yang dikembangkan di tepian sungai-sungai itu pada awalnya berbentuk memanjang sepanjang tepian sungai dengan arah hadap rumah ke arah sungai. Tidak ada yang membangun rumah dengan membelakangi sungai. Bahkan pada perkembangan bentuk-bentuk rumah tradisional, masyarakat Banjar juga mengembangkan jenis rumah yang sangat akrab dengan sungai, yaitu bentuk rumah tradisional Lanting. Sayangnya, saat ini, rumah lanting tersebut sudah hampir punah.
Jelaslah di sini bahwa perahu atau jukung mempunyai peran yang sangat penting bagi penduduk di sepanjang sungai. Perahu menjadi satu-satunya alat transportasi untuk dapat menjangkau daerah sekitarnya, sekaligus berfungsi sebagai alat Bantu perdagangan dan keperluan lainnya. Mereka dapat mengangkut hasil pertanian atau perkebunan dan sekaligus menjualnya langsung dari perahu tersebut. Pertemuan ratusan perahu yang membawa hasil bumi dan barang kebutuhan hidup inilah yang membentuk apa yang sekarang disebut dengan “pasar terapung”. Lokasi berjual-beli yang dilakukan di atas air dengan perahu sebagai alat atau sarana yang utama. Saat ini masih bisa kita saksikan model pasar seperti ini sebagaimana yang terdapat di pinggiran sungai Kuin Cerucuk dan Lok Baintan (Bambang Sugiyanto: 2004).
Pola kehidupan yang kemudian terbentuk di sekitar ketiga sub-suku Banjar yang dilingkupi oleh kondisi geografis sungai itu adalah pola yang juga erat kaitannya dengan kondisi geografis yang khas pada daerah ini, yakni kebudayaan sungai. Di sisi yang bersamaan, daerah Banjar juga menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya Islam yang secara geografis bisa dikategorikan sebagai wilayah pesisir. Wilayah pesisir ini, tentunya, merupakan kontras dari wilayah pedalaman. Islam di wilayah pesisir ini memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan Islam yang berada di pedalaman. Islam di wilayah pesisir, pada umumnya, adalah Islam kosmopolit karena memiliki kecenderungan yang sangat intens terlibat kontak dan interaksi dengan Islam yang datang dari luar. Dengan demikian, corak Keislaman masyarakat Banjar bisa diasumsikan sangat dipengaruhi oleh dinamika yang ada di luar wilayahnya.
Demikianlah pada umumnya kehidupan masyarakat Banjar pada beberapa puluh tahun yang lalu yang kental dengan budaya sungai. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa suatu kebudayaan atau budaya bukanlah sesuatu yang bersifat statis, tetapi merupakan sesuatu yang bersifat dinamis. Kebudayaan merupakan media manusia dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan alam agar dapat mempertahankan kehidupannya. Perubahan kebudayaan merupakan sesuatu yang sangat wajar dalam rangkaian kehidupan manusia. Perubahan itu tentunya didasari oleh adanya perubahan kondisi lingkungan alam atau perubahan nilai-nilai yang terjadi pada masyarakat itu sendiri
Budaya Sungai yang Termarjinalisasi
Seiring derap modernisasi yang dijalankan di daerah ini, perubahan pun terjadi dalam tata nilai urang Banjar. Budaya sungai urang Banjar lambat laun mengalami pergeseran yang sangat signifikan. Sungai-sungai tidak lagi menjadi sesuatu yang terpenting dalam kehidupan urang Banjar. Dari sini penulis mulai berpikir lagi, modernisasikah yang salah atau kita sendiri yang salah memahami dan menerapkan modernisasi ?
Bagaimana tidak. Dulu kebudayaan Banjar berkembang dari kehidupan sungai, yang kemudian melahirkan tata nilai dan artifak-artifak budaya yang bernuasa sungai. Dari sungai, nenek moyak urang Banjar mendapatkan inspirasi untuk dapat mengembangkan pemukiman di atas rawa atau di dekat sungai dengan tetap mempertahankan kelestariannya, sehingga berdirilah bentuk-bentuk rumah panggung yang memang sangat sesuai bahasa alam yang ada di sekitarnya. Sementara di daerah pinggiran sungai, pendirian rumah-rumah panggung juga ditata apik sesuai dengan konsep dan tata nilai tradisional yang memandang sungai sebagai halaman atau teras rumah. Pandangan ini yang mengatur bahwa semua rumah yang dibangun di pinggiran sungai semuanya harus menghadap ke sungai, tidak boleh ada yang membelakanginya. Bahkan pemerintah Belanda pun pernah melarang pembangunan rumah yang membelakangi sungai di kota Banjarmasin.
Sekarang, atas nama modernisasi, pola-pola pembangunan pemukiman dan usaha telah mengalami perubahan. Hampir di semua sungai kita akan mendapati deretan perumahan atau warung-warung penduduk yang membelakangi sungai. Hampir semua rumah atau bangunan lainnya saat ini dibangun oleh urang Banjar dengan cara diuruk. Perubahan pola pemukiman masyarakat yang tidak lagi memandang sungai sebagai teras atau halaman depan sebuah rumah mengakibatkan perubahan pola pemukiman di sepanjang bantaran sungai. Pola pemukiman yang baru ini banyak mengambil lahan di atas sungai sehingga rumah-rumah tersebut mengurangi lebar badan sungai. Kejadian ini tentunya akan berdampak pada semakin cepatnya pendangkalan sungai-sungai sehingga sekaligus mengurangi daya tampung sungai terhadap limpasan air pada waktu hujan datang. Berkurangnya daya tampung ini akan pada menurunya atau hilangnya fungsi sungai sebagai pembagi aliran air pada saat pasang atau banjir dating, sehingga genangan air dapat segera dialirkan ke muara atau laut.
Sekarang ini juga, sungai-sungai di sepanjang jalan Ahmad Yani, Veteran, dan Soetoyo S sudah tidak berfungsi lagi. Selain tertutup oleh jembatan-jembatan yang dibuat tanpa memikirkan pola aliran air, sungai-sungai itu juga mengalami pendangkalan yang hebat akibat sampah-sampah yang bertebaran di mana-mana.
Tidak ada lagi budaya sungai yang sangat menjaga dan memelihara kebersihan dan kelestarian sungai tampaknya mulai luntur oleh lajunya denyut pembangunan. Masyarakat Banjar secara umum sudah tidak lagi memandang sungai sebagai sesuatu yang perlu dijaga dan dipelihara lagi. Perubahan tata nilai yang terkait dengan sungai sebagai sumberdaya air, jalur transportasi dan keperluan lain yang penting bagi kehidupan manusia mulai bergeser dengan adanya pembangunan jalan-jalan darat.
Beginikah potret budaya sungai masyarakat Banjar sekarang ini ? Akhirnya, tanpa kita sadari semua dengan hilangnya sungai-sungai yang membelah kota ini secara lambat laun telah menyebabkan pemiskinan budaya sungai di daerah ini. Padahal kita tahu semua bahwa budaya sungai merupakan sumber utama dari sistem atau tata nilai yang dihayati atau dianut masyarakat Banjar, yang selanjutnya membentuk sikap mental atau pola berpikir mereka.
Ini mungkin yang menjadi penyebab mengapa warga di daerah ini sangat susah diajak menjaga kebersihan dan eksistensi sungai, karena sungai-sungai sudah tidak berarti lagi bagi mereka. Ketidakberartian ini, tentunya, lantaran budaya sungai bukan lagi bagian tata nilai urang Banjar masa kini.
Dari Festival Jukung Menuju Pentas Revitalisasi Sungai
Di tengah-tengah budaya sungai yang sedikit demi sedikit mengalami peminggiran dalam arus modernisasi, budaya sungai pun tidak lagi menjadi tata nilai yang hidup di tengah masyarakat. Budaya sungai kini hanya bisa menjadi tontonan eksotis masa lalu dalam bentuk festival dan aset parawisata. Secara tidak sadar, kita justru telah melakukan proses fosilisasi dan mesiumisasi terhadap gejala-gejala budaya yang ada di masyarakat, hingga meletakkan hanya semata-mata gejala masa lalu.
Lalu ketika budaya sungai telah berganti dan sekedar tontonan, tidak ada lagi sumber utama dari sistem atau tata nilai yang bisa dihayati masyarakat untuk membentuk sikap mental atau pola berpikir urang Banjar masa kini dalam menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya. Sikap mental inilah yang kemudian mempengaruhi dan membentuk pola tingkah laku urang Banjar masa kini yang kontra dengan lingkungannya. Adanya sungai bukannya untuk dimanfaatkan dan dikelola sebagai sumber daya kehidupan, namun kini perilaku umum urang Banjar telah berubah menjadi cenderung menistakan keberadaan sungai-sungai yang ada. Jika tidak dijadikan tempat membuang sampah, sungai-sungai diuruk untuk kepentingan ekonomis-individual semata. Tidak ada lagi nilai-nilai kelestarian.
Jika kita sepakat bahwa jukung adalah salah satu bentuk perwujudan material dari kebudayaan sungai, maka tentunya eksistensi kebudayaan sungai itu sendiri pastilah sangat ditentukan oleh keberadaan landasan pembentuk dari kebudayaan itu sendiri, yakni sungai.
Oleh karena itu, ketika ada usaha untuk kembali menghidupkan budaya sungai, maka mau tidak mau kita juga harus melakukan revitalisasi sungai-sungai itu sendiri sebagai landasan fisik kebudayaan sungai itu sendiri. Hal ini karena budaya hanya bisa berkembang dalam lingkup lingkungan yang juga bisa menjadi sarana pendukungnya. Upaya menghidupkan kembali budaya sungai karenannya haruslah dilakukan secara seiring antara menghidupkan wujud material budaya (jukung) dengan merevitalisasi landasan pembentuk budayanya (sungai). Tanpa begitu, kita akan secara sengaja mendudukkan budaya sungai hanya tontonan semata.
Dengan demikian, sudah saatnya pemerintah daerah kini menyadari perubahan yang terjadi di masyarakat ini. Dan sudah saatnya kita sama-sama berusaha mentransformasikan Festival Jukung menjadi sarana dan momentum untuk merevitalisasikan sungai-sungai yang ada sebagai sarana penopang utama kelangsungan budaya sungai yang kita dambakan. Di sinilah diperlukan political will pemerintah untuk bersikap tegas terhadap setiap perilaku dan tindakan masyarakat yang cenderung merusak kelestarian sungai. Dan sudah saatnya pula pembangunan di kota ini lebih mempertimbangkan kelestarian sungai.
By Randy Ahmad on May 13, 2008 | Reply
Sasirangan
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan, menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang, kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.
Proses Pembuatan Kain Sasirangan
Pertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.
Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.
Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan. Sasirangan belakangan terus berkembang menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perkembangan dunia mode yang sering mengadaptasi pakaian-pakaian tradisional. Malah terkadang sasirangan sudah menjadi pilihan pakaian resmi suatu acara. Soal harga, bisa diperoleh mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jenis kainnya.
Kain Sasirangan adalah kain yang didapat dari proses pewarnaan rintang dengan menggunakan bahan perintang seperti tali, benang atau sejenisnya menurut corak-corak tertentu. Pada dasarnya teknik pewarnaan rintang mengakibatkan tempat-tempat tertentu akan terhalang atau tidak tertembus oleh penetrasi larutan zat warna.
Prosesnya sering diusahakan dalam bentuk industri rumah tangga, karena tidak diperlukan peralatan khusus, cukup dengan tangan saja untuk mendapatkan motif maupun corak tertentu, melalui teknik jahitan tangan dan ikatan. Tak mengherankan jika usaha kecil menengah (UKM) ini cepat berkembang di Banjarmasin.
Sisi lain yang menarik dari sasirangan adalah sebagai kain pamintan untuk fungsi pengobatan. Anda mungkin tak percaya. Tapi begitulah fakta di lapangan. Masih ada yang datang berhajat penyembuhan penyakit tertentu melalui ritual sasirangan. Yang bisa menyembuhkan pun hanyalah dari tutus keturunan pegustian Banjar. Mereka bergelar Antung atau Gusti. Yang masih aktif adalah Antung Mulik dan anaknya Antung Rahmiah. Antung Mulik adalah saudara Antung Kacil, ‘dukun’ kharismatik ahli pengobatan sasirangan terkenal di Kampung Seberang Masjid.
By Novi.D on May 15, 2008 | Reply
Integrasi Masyarakat
Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu:
- Pengendalian terhadap konflik
- penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
Pengertian masyarakat yaitu Masyarakat (sebagai terjemahan istilah society) adalah sekelompok orang yang membentuk senbuah sistem semi tertutup (atau semi tebuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berda dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Menurut syaikh Taqyuddin Ab-nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Sedangkan yang dimaksud dengan Integrasi sosial adalah jika yang dikendalaikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan. Unsur-unsur sosial yang dimaksud yaitu pranata, kedudukan sosial dan peranan sosial.
Integrasi sosial dpat terbentuk, apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial.
Suatu intergrasi sosial sangat diperlukan, apalagi saat ini, dimana dalam kehidupan bermasyarakat sangat rawan terjadinya konflik yang timbul dari berbagai macam masalah yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Adanya Integrasi dalam masyarakat sangat diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
Dalam ilmu Antropologi Integrasi masyarakat berkaitan erat dengan stuktur sosial atau social structure dari suatu masyarakat.
Konsep social structure pertama kali dikembangkan oleh seorang tokoh dalam ilmu Antropologi, yaitu A.R radcliffe Brown (1881-1955). Dasar pikirannya mengenai stuktur sosial secara singkat:
1. Pangkal dan pusat dari segala penelitian masyarakat dimuka bumi ini, serupa dengan penelitian-penelitian ilmu kimia. Demikian pula dengan Antropologi pada dasarnya harus mempelajari susunan hubungan antara individu-individu menyebabkan adanya berbagai sistem masyarakat.
2. Struktur dari suatu masyarakat itu mengendalikan tindakan individu dalam masyarakat.
3. Hubungan Interaksi antar Individu dalam masyarakat adalah hal yang konkret yang dapat diobservasi dan dapat dicatat.
4. dengan struktur sosial, seorang peneliti kemudian dapat menyelami latar-belakang seluruh kehidupan suatu masyarakat.
5. Untuk mempelajari struktur sosial sesuatu masyarakat diperlukan suatu penelitian lapangan.
6. Sturktur sosial dapat juga dipakai sebagai kriterium untuk menentukan batas-batas dari suatu masyarakat tertentu.
Menurut pandangan para penganut Fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi diatas dua landasan:
Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi diatas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) diantara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar). Masyarakat terintintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affilation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.
Adapun factor-faktor pendorong Integrasi masyarakat antara lain:
- Homogenetas kelompok danbesar kecilnya kelompok, Pada kelompok yang kecil biasanya tingkat kemajemukannya juga relative kecil, sehingga aka mempercepat proses integrasi social dalam masyarakat.
- Mobilitas geografis dan
- Efesiensi komunikasi, komunikasi yang berlangsung dengan baik dalam masyarakat akan mempercepat proses Integrasi social.
By Zul Haziah on May 15, 2008 | Reply
Zul Haziah
Sistem Mata Pencaharian
Selain menjadi pegawai pemerintah atau perusahaan, urang Banjar juga memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain :
1. Bertani dan Berkebun.
Mata pencaharian ini sangat berkaitan erat dengan kondisi alam tanah Banjar yang potensi lahan keringnya sangat luas, sehingga mendukung berkembangnya usaha pertanian dan perkebunan.
Untuk mata pencaharian bertani, urang Banjar menanam tanaman pangan komoditi utama, yaitu padi sawah dan sebagian lagi adalah palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar dan ubi kayu. Sedangkan untuk tanaman holtikultura urang Banjar menanam jeruk, pisang ,durian, kacang tanah dan sayuran.
Adapun jenis-jenis pertanian yang dilakukan urang Banjar antara lain :
1) Ladang tegalan atau bahuma gunung
Dilakukan dengan sistem ladang berpindah, sekali dalam setahun. Proses pengerjaanya dengan pembabatan semak belukar yang kemudian disirau (dibakar), baru dilakukanlah tugal bigi (ditanami langsung dengan bibit padi).
2) Bekacang (berkebun kacang tanah di gunung)
3) Sawah
a. Sawah di dataran rendah, berada di aliran sungai besar (Sungai Barito, Sungai Bahan, Sungai Negara dan sebagainya), seperti :
• bahuma tahun /bahuma banih /pahumaan banih tahun (sawah tahun), karna umur padi ini dari ditanam sampai dengan selesai panen lamanya satu tahun. Proses pengerjaannya sebagian besar dikerjakan dimusim barat banyu (musim penghujan), hanya panennya saja di musim kemarau. Cara pengerjaan atau penggarapannya melalui proses penyemaian benih padi dan kalau perlu ditambak atau dibesarkan lagi sesudah disemai agar mudah untuk ditanam.
• bahuma sarung /bahuma banih sarung. Proses pengerjaannya berkebalikan dengan bahuma banih. Bibit padi yang ditanam tidak melalui penyemaian tetapi langsung ditanam dengan tutugal (sebatang kayu bulat seperti alu yang pangkalnya agak runcing) untuk membuat lubang benih padi yang akan ditanam.
• bahuma rintak /sawah rintak/pahumaan banih rintak, karna pertanian ini dikerjakan menjelang musim kemarau atau ketika banyu merintak (air mulai surut) dan panennya di musim kemarau. Cara pengerjaan atau penggarapannya sama dengan bahuma tahun.
• bahuma gadabung. Proses penggarapannya sama dengan penggarapan sawah tahun, perbedaannya hanyalah pada bibit padi yang ditanam.
• bahuma panyambung. Dilakukan untuk menyambung waktu yang tersisa pada bahuma tahun akibat dalamnya air yang terlalu lama menggenangi sawah di musim penghujan.
b. Sawah di dataran tinggi, berada di daerah Rantau, Kandangan , Barabai, dan sebagainya. Perbedaannya dengan sawah di dataran rendah adalah pada sebagian alat kerja dan cara membabat dan membersihkan rumput di sawah, yaitu dengan menggunakan tajak bulan (tajak yang matanya seperti bulan sabit, yang tajamnya pada bagian yang cembung). Panjang tangkai dan bentuknya sama dengan tajak sawah dataran rendah, yang matanya lurus yang disebut dengan istilah tajak surung atau tajak bungkul , karena matanya lurus seperti mata parang bungkul.
c. Huma musim/ bahuma musiman di daerah rawa pada musim kemarau, seperti :
• bahuma gumbili, berada di daerah Negara Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Musim kerjanya pada musim kemarau dan panennya menjelang musim hujan.
• bahuma sumangka, bahuma waluh dan bahuma jagung, berada di daerah rawa Negara yang arealnya berdekatan dengan areal kebun gumbili. Waktu atau musim kerjanya sama dengan bahuma gumbili.
Adapun jenis-jenis perkebunan yang dilakukan urang Banjar antara lain:
1) Kebun di dataran rendah
a. Kebun rumbia, ditanam di aliran sungai besar seperti Sungai Bahan, Sungai Negara dan Sungai Tapin di tepi sungai besa dan di tepi sungai dekat muara anak sungai. Dari pohon rumbia ini batangnya menghasilkan sagu, daunnya untuk atap dan pelepahnya untuk membuat lampit dan hati batangnya atau paya digunakan untuk makanan ternak yaitu itik, selain sagunya diambil sebagai bahan makanan.
Pekerjaan mengambil sagu dari batang rumbia disebut batuhut, sedangkan pekerjaan membuat atap dari daun rumbia ini disebut mahambit.
Dahulu untuk menjual atap rumbia ini ke Banjarmasin dengan menggunakan ripang hatap atau dua buah perahu besar yang dirakit yang disebut lanting rumbia yang dihanyutkan melalui arus Sungai Bahan dan Sungai Barito. Tetapi sekarang ripang hatap dan lanting rumbia ini digantikan dengan mobil truk dan klotok / perahu motor.
b. Kebun nyiur atau kebun kelapa, banyak terdapat di daerah pantai dengan menggunakan tanggul atau galangan dan parit-parit berupa jalur-jalur untuk membawa buah yang dipetik dengan dihanyutkan di parit-parit tersebut. Perkebunan kelapa ini banyak terdapat di daerah Tamban Kabupaten Barito Kuala, daerah Pagatan di daerah Sungai Kusan, daerah Pantai Takisung dan sebagainya.
Kelapa ini ada yang dibuat kopra, minyak atau dilala dan adapula yang dijual. Alat yang digunakan untuk mengupas sabutnya disebut huhuak (alat besi yang runcing).
2) Kebun di dataran tinggi
a. Kebun buah-buahan bermusim
b. Kebun karet atau kebun getah
c. Kebun pisang
d. Kebun paring (kebun bambu)
e. Kebun hanau (kebun enau)
f. Kebun lurus (sejenis kayu yang dapat dijadikan bahan meubel)
2. Meramu, Menambang dan Mendulang Intan dan Emas
Mata pencaharian meramu merupakan mata pencaharian manusia yang paling tua. Salah satu mata pencaharian utama manusia purba selain berburu dan menangkap ikan. Mata pencaharian ini masih dilakukan oleh manusia di masa sekarang, termasuk sebagian urang Banjar.
Adapun jenis meramu yang dilakukan urang Banjar adalah meramu hasil hutan, antara lain :
1) Meramu galam
Galam adalah kayu yang tumbuh di daerah rawa di Kalimantan Selatan yang digunakan untuk kayu api dan kalang sunduk atau fondasi tiang pada rumah panggung di daerah rawa. Pada masa sekarang setelah ditemukannya mesin penggergajian kayu, galam ini dibuat balokan untuk bahan pembuat rumah dan untuk cerucuk sebagai fondasi rumah beton di perkotaan.
2) Meramu kapurnaga, papung, dan balangiran
Ketiga kayu ini digunakan untuk bahan bangunan. Selain itu, kayu kapurnaga dan balangiran juga digunakan untuk membuat jukung sudur, yaitu perahu yang dulunya digunakan sebagai alat angkut atau perahu sungai di daerah rawa pertanian dan perikanan di aliran Sungai Negara.
3) Meramu halayung dan sirang
Halayung dan sirang merupakan jenis palma yang batangnya digunakan untuk lantai rumah atau tiang pondok. Lantai halayung biasanya digunakan untuk lantai rumah yang selalu basah, seperti di ruang belakang atau padapuran tempat meletakkan tempat air dan mencuci alat-alat makan.
Pekerjaan ini hanyalah pekerjaan sampingan untuk keperluan sendiri. Sekarang pohon-pohon ini sudah langka akibat pembabatan hutan untuk persawahan. Yang ada hanya pohon sirang, karena tidak sebaik halayung untuk dijadikan bahan rumah.
4) Meramu rotan / Mamagat paikat
Meramu rotan berarti mencari berbagai jenis rotan di hutan yang tumbuh liar, seperti paikat, ilatung, tuhu dan manau. Paikat atau rotan kecil ini banyak tumbuh di aliran Sungai Negara, Sungai Bahan dan Sungai Tapin. Digunakan untuk bahan anyaman, menjalin alat penangkap ikan dan sebagainya.
5) Mamuai wanyi (lebah madu)
Untuk mendapatkan sarang wanyi, urang Banjar melakukan peng”claim”an terhadap sarang-sarang yang mereka temui dengan memberi tanda dengan memasang sulapit, setangkai kayu kecil yang dibelah diujung atasnya. Namun, alat ini sekarang tidak digunakan lagi.
Oleh urang Banjar, aktivitas pertambangan batubara dilakukan dengan menggunakan metode penambangan secara terbuka (open pit), sehingga tidak memerlukan teknologi yang rumit dan biaya investasi lebih rendah jika dibandingkan dengan pertambangan bawah tanah (underground). Hal ini dimungkinkan, karna umumnya batubara yang ada di Kalimantan Selatan berada pada lapisan tanah permukaan, sehingga mata pencaharian ini cukup banyak diminati oleh urang Banjar, selain karna memang mata pencaharian ini mendatangkan banyak keuntungan.
Potensi sumber daya alam, berupa tambang batubara, yang terdapat di Kalimantan Selatan cukup besar dengan kualitas yang baik. Keberadaannya pun menyebar di seluruh kabupaten, seperti Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Kotabaru, Tanah Bumbu, HST, HSU, HSS, Tapin dan Tabalong.
Untuk mata pencaharian pandulangan intan terbesar banyak dilakukan di Kabupaten Banjar dan Banjarbaru. Penggosokannya dilakukan di rumah-rumah di Martapura sedangkan jual belinya dilakukan di Martapura, Banjarmasin, hingga langsungdibawa ke Jawa, Negeri Belanda (Amsterdam) dan Perancis.
Menurut letak intan yang ditambang, ada tiga jenis pandulangan, antara lain :
1) pasiraman; yaitu pandulangan yang dilakukan pada musim kemarau dengan menyelam berulangkali ke dasar sungai.
2) Luang surut; intan berada tidak jauh dari permukaan tanah.Dahulu air ditimba dengan ember, tetapi sekarang diganti dengan pompa air. Pembiayaan dan pembagian hasil pada pandulangan ini dibebankan dan dibagi rata diantara para pendulang.
3) Luang dalam; intan berada jauh di alam tanah dan pengukuran kedalamannya dilakukan dengan ukuran tangga (1 tangga = 1,5 m). Pada pandulangan ini seluruh biaya dibebankan oleh Tatuha Luang (pemimpin dan penyedia biaya).
Adapun orang-orang yang terlibat dalam mata pencaharian ini antara lain :
1. tatuha luang
2. malim / paranormal, pencari dan penunjuk lokasi intan
3. para pendulang
4. camat, pemungut retribusi daerah
5. kepala padang, yang menjalankan aturan adat di lokasi
6. pemilik tanah lokasi
7. berbagai pihak pendukung
Para pandulang biasanya berhak 50 % dan tatuha luang juga 50 % dari harga jual.
Sedangkan untuk mata ppencaharian mandulang emas, peralatan tradisional yang digunakan biasanya adalah tangguk dan lenggangan untuk mengangkut, membersihkan dan memisahkan serbuk emas dari pasir galian , yang sekarang digantikan mesin pompa penyedot air dan pasir dari lubang tambang dialurkan ke tempat pengendapan serbuk emas.
Untuk pandulangan emas, seluruh biaya dipikul oleh pemilik pompa. Hasil dibagi berdasarkan kesempatan diantara pemilik pompa yang mendapat bagian terbesar degan pemilik perbatasan, dan para pekerja tambang.
3. Menangkap Ikan / Perikanan
Menangkap ikan juga merupakan mata pencaharian yang sangat tua yang dilakukan urang Banjar. Lingkungan yang berupa sungai. rawa, danau dan laut menjadi potensi daerah yang mereka miliki. Menangkap ikan sendiri dilakukan urang Banjar di sekitar sungai Barito, sungai Negara, dan tepi laut atai di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru.
1) Perikanan darat
a. Perikanan di sungai besar
• Kumpai paiwakan
Yaitu tempat ikan yang terbuat dari kumpulan kumpai (enceng gondok), baik yang dipelihara maupun yang hanyut, yang tertahan oleh pohon-pohon yang tumbang/ditumbangkan di tepi sungai. Di musim kemarau kumpai paiwakan ini dihampangi (dikurung) dengan tempat yang disebut hampang balat sampai air surut baru kemudian ditangguk (ditangkap). Jenis ikan yang kumpai paiwakan ini antara lain : haruan (gabus), tauman (gabus besar yang berwarna), sepat, baung, dan ikan sungai lainnya.
• Raba
Seperti halnya kumpai paiwakan, raba juga merupakan tempat ikan yang terbuat dari pepohonan yang tumbang. Raba juga bisa digunakan sebagai tempat memancing ikan, baik dengan menggunakan kail maupun dengan penciduk yang disebut humbing atau susuduk. Ikan-ikan yang hidup di raba ini antara lain : kalui (gurami), pipih atau belida, tauman, sanggang, kalabau, baung dan sejenisnya.
b. Danau
Para nelayan yang hidup di tepi danau (Danau Panggang di Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Danau Bangkau di Kabupaten Hulu Sungai Selatan) menangkap ikan sepanjang tahun dengan berbagai macam alat dan cara sesuai keadaan dan cuaca atau musim.
c. Sunga paiwakan
Merupakan anak sungai besar yang sengaja digali menuju daerah rawa tempat ikan rawa berkembang biak. Di musim kemarau, ikan-ikan dikurung di rawa dengan membelatnya dengan hampang penghalat, baru kemudian hampang tersebut dibuka di musim penghujan.
Ikan yang ditangkap di musim kemarau kemudian diasinkan dan dijemur untuk diawetkan, urang Banjar menyebutnya dengan wadi.
d. Sumur paiwakan
Sumur paiwakan ini biasanya digali di daerah rawa di sekitar sungai paiwakan, dan sebagian besar di daerah rawa yang banyak ditumbuhi galam. Ikan biasanya ditangkap ketika rawa telah kering, menggunakan alat penciduk, seperti halawit atau tangguk.
e. Pirungkang
Yaitu lubang yang disebabkan oleh pohon yang rebah yang ada di daerah rawa perikanan. Di musim kemarau, ketika rawa telah kering, ikan akan berkumpul di pirungkan. Karna pirungkan dibentuk oleh alam, maka tempat ikan ini tidak ada pemiliknya.
2) Perikanan laut
Nelayan laut ini berpindah-pindah lokasi penangkapannya, sesuai dengan pergantian musim dan keadaan geografis, yaitu adanya pegunungan dan Tanjung Selatan yang dapat melindungi dari hembusan angin. Hasil tangkapannya dipasarkan langsung dan bisa juga setelah diasinkan dan dikeringkan.
4. Beternak
Batuhut sagu dan Manggulahabang (membuat gula aren)
Mata pencaharian ini sangat terkait dengan potensi alam tanah Banjar yang memiliki rumput alam yang luas untuk dijadikan padang pengembalaan, penanaman rumput unggul dan integrasi antara perkebunan dan ternak, dan banyak terdapat di Kabupaten HSS, HST, HSU, dan Tanah Laut. Kesesuaian lahan dan iklim di daerah Banjar juga sangat cocok untuk dikembangkannya mata pencaharian ini. Pola pengembangan budi daya adalah bentuk perusahaan perorangan (individual) dan kemitraan, baik untuk penggemukkan maupun pembibitan.
Sebagian besar peternak Banjar sendiri masih berpendidikan rendah, namun cukup berpengalaman sebagai peternak yang tangguh dan gigih. Adapun jenis-jenis peternakan yang di lakukan urang Banjar antara lain :
1) Kalang hadangan (peternakan hadangan / kerbau)
2) Peternakan kerbau di dataran tinggi
3) Peternakan sapi
4) Peternakan kuda
5) Peternakan itik / bebek, yang terkenal adalah peternakan itik Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
6) Ternak rumah, seperti ternak ayam kampung dan berbagai jenis itik
7)
5. Kerajinan dan Industri Rumah Tangga
Jenis-jenis kerajinan yang dilakukan urang Banjar sebagai mata pencaharian mereka antara lain :
1) Kerajinan dari daun rumbia, seperti : mahambit (membuat atap) dan membuat higir atau hingir (membuat karpet untuk alas diserambi belakang / padapuran)
2) Kaerajinan rotan, baik berupa wadah (tempat) maupun berupa hiasan dinding dan tutup kepala.
3) Kerajinan jangang, sejenis akar tumbuhan yang berwarna coklat yang digunakan untuk membuat kopiah jangang dan tas tangan.
4) Pertukangan rumah dan pembuatan alat-alat penangkap ikan
5) Penggosokan intan dan batu alam, Tukang mas / kemasan, kerajukan kuningan, pandai besi
6) Kerajinan gerabah, Kerajinan anyaman bambu, dan Anyaman purun
7) Kerajinan sulam menyulam dan membordir, tenun sarigading dan pembuatan kue tradisional, seperti dodol, madu kasirat, kokoleh, wajik, dll.
6. Berdagang
Ketika transportasi darat belum berkembang seperti sekarang, budaya sungai merupakan budaya yang mendominasi cara hidup urang Banjar. Terutama mereka yang bermukim di tepi dan di lingkungan sungai. Dengan kondisi lingkungan berupa sungai, rawa, danau dan laut, menjadikan urang Banjar melakukan aktivitas perdagangan di atas perahu. Barang-barang yang diperjual belikan pun berupa alat-alat dan bahan-bahan pokok keperluan sehari-hari. Dengan menggunakan jukung-jukung kecil yang dikayuh oleh pahanduk atau pembelantik sampai perahu-perahu pengangkut yang didayung, terjadilah perniagaan antardesa, dari desa ke kota dan sebaliknya dari pakan ke pakan – sebuah pasar yang berlangsung antarwaktu tertentu yang lazim terjadi sehari dalam sepekan.
Setiap hari minggu, selain terjadinya los pasar di darat/bantaran di kota-kota kecil dan desa-desa di tepian Sungai Barito, Sungai Bahan, Sungai Nagara dan Sungai Martapura, kegiatan ini juga terjadi di pasar terapung di sungai di areal los pasar tersebut. Sedangkan di luar hari minggu, pedagang-pedagang sungai ini memasarkan barang dagangan tertentu, seperti alat-alat memasak/kerja dari bahan yang tahan lama dan barang musiman.
Adapun perahu-perahu yang biasanya digunakan dalam perdagangan sungai ini antara lain :
1) jukung lontong dan nasi kunig, rombong soto, biasanya menepi dan menambatkan jukungnya pada dahan pohon rambai, melayani pemukim tepi bantaran atau sesama pendayung.
2) Perahu rombong beratap, perahu yang menyediakan minuman panas dan bermacam-macam wadai (kue) hingga nasi bungkus. Yang khas pada jukung ini adalah adanya alat cacucuk wadai, yaitu sebuah galah kayu panjang dengan paku besi / bambu yang ditembuskan di ujung galah tersebut. Berfungsi manjumput wadai (mengambil kue).
3) Perahu panyiapan dan panyudiran, perahu panyiapan; tukang siap yang dipanggil menepi oleh penduduk yang ingin manyapuh (galvanisasi) perhiasan perak atau tembaga. Sedangakan perahu panyudiran; yaitu tukang soldir untuk menyambung atau menambal alat-alat rumah tangga yang patah atau bocor.
Untuk jukung lontong, nasi kuning, dan rombong soto serta perahu rombong beratap oleh para pedagang sungai tersebut masih digunakan sampai sekarang, sedangkan parahu panyiapan dan panyudiran sudah tidak digunakan lagi.
By M.Yumni Rasyid on May 15, 2008 | Reply
RUMAH LANTING
Rumah Lanting adalah rumah rakit tradisional suku Banjar (rumah Banjar) di Kalimantan Selatan dengan pondasi rakit mengapung terdiri dari susunan dari batang-batang pohon yang besar yang selalu oleng dimainkan gelombang dari kapal yang hilir mudik di sungai. Rumah Lanting banyak terdapat di sepanjang sungai-sungai di Kalimantan. Rumah Lanting juga terdapat di sepanjang sungai Musi di Palembang, Sumatera Selatan dengan sebutan Rumah Rakit.
Ciri-ciri :
1.Bubungan memakai atap pelana
2.Landasan pelampung supaya mengapung dengan tiga batang besar pokok kayu, di atasnya dipasang gelagar ulin untuk dasar bangunan
Jika berkunjung ke Banjarmasin atau Martapura dan kota-kota lain di Kalimantan Selatan, pastikan selain mengamati rumah banjar di darat juga meluangkan waktu melihat lanting. Lanting merupakan rumah terapung di tepi sungai yang ditambatkan di darat.
Di tepi Sungai Martapura di pusat kota Banjarmasin, juga bisa
dijumpai sisa-sisa rumah lanting. Beberapa di antaranya menjadi tempat tambat speedboat, dan ada juga yang menjadi bengkel yang melayani servis mesin perahu kelotok (perahu bermesin khas Kalsel) serta speedboat.
Pengurus Pusat Pengkajian Islam Bidang Sejarah dan Budaya Banjar, Zulfa Jamalie, mengemukakan, peradaban Banjar seperti peradaban dunia lainnya berasal dari sungai dan lanting itu. Zulfa memaparkan, pada abad ke-18 hingga abad ke-19, perairan di Banjarmasin dan Kalsel umumnya masih dijejali rumah-rumah terapung yang disangga balok-balok kayu utuh. Penataan lanting yang berderet itu membuat kagum para pendatang dan masuk dalam berita Dinasti Ming di China tahun 1618 yang menyebutkan, di Banjarmasin ada rumah di atas rakit seperti yang ada di Palembang.
Kini, rumah lanting menjadi kontroversial seiring penataan kota yang tidak berpihak pada penataan kawasan sungai. Lanting dianggap “mengganggu” pemandangan karena menimbulkan kesan jorok dan kumuh.
Wakil Sekretaris Lembaga Budaya Banjar Syarifudin R menyebutkan, lanting justru memiliki kearifan tradisional yang tak terpikirkan manusia modern. Saat ini lanting tidak hanya terancam oleh penggusuran. Rusaknya hutan dan daerah aliran sungai bagian hulu juga menjadikan lanting makin tak memiliki masa depan. Tidak hanya itu. Langkanya kayu hutan mengakibatkan orang susah mendapatkan balok kayu yang digunakan untuk penopang atau rakit.
Hingga kini rumah lanting masih bisa ditemui di perairan Sungai Martapura, dan sungai-sungai di bagian dalam. Rumah lanting itu tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi sekarang berkembang menjadi toko terapung.
Di Lokbaintan Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, di Muara Kuin Banjarmasin, dan di Muara Mantuil Banjarmasin, kini bertebaran toko terapung. Rumah portable yang bisa dipindah-pindah itu hingga kini masih berjaya di tengah gelombang modernisasi.
Wali Kota Banjarmasin Midfai Yabani pernah melontarkan gagasan
untuk menata kawasan Muara Mantuil sebagai kawasan percontohan
penataan rumah lanting. Nantinya kawasan itu diharapkan bisa menjadi aset wisata daerah yang khas. Zulfa berpendapat, ide Midfai Yabani perlu dikembangkan karena
bagaimanapun lanting merupakan warisan peradaban Kalsel, dan menjadi identitas yang tak boleh lepas.
Wakil Sekretaris Lembaga Budaya Banjar Syarifudin R menyebutkan, ke depan pemerintah setempat harus mempertahankan mati-matian identitas dan penanda budaya Banjar itu.
Menurut catatan sejarah, rumah lanting menjadi salah satu penanda perkembangan kehidupan peradaban kebudayaan sungai dan rawa masyarakat Banjar kota Banjarmasin, ia menjelma menjadi sebagai ruhnya kota. Potret indah masa-masa awal pertumbuhan kota Banjarmasin, tak bisa dipungkiri bahwa rumah lanting dan rumah panggung di atas bantaran sungai menjadi ciri khas utama dari kehidupan budaya perairan masyarakat Banjar. Rumah panggung di sungai, rumah lanting, dan pasar terapung yang telah ada sejak abad ke-16 merupakan bagian dari budaya sungai. Namun, pada waktu itu keberadaan rumah lanting dan rumah panggung begitu teratur. Sehingga wajar dikatakan jika lingkungan perairan di Kota Banjarmasin pada abad ke-18 hingga abad ke-19 yang terlihat adalah barisan rumah lanting dan rumah-rumah panggung sepanjang sungai. Pada masa itu lalu lintas utama hanya melalui sungai, sementara jalan darat belum ada, jadi sebagian masyarakat Banjar cenderung memilih tinggal di rumah panggung yang menghadap ke sungai (Idwar Saleh, 1975). Dengan demikian jelas bahwa rumah lanting merupakan salah satu bukti sejarah permukiman masyarakat Banjar, sebab istilah banjar berarti letak perumahan kampung atau desa berderet-deret di atas air sepanjang pinggir sungai (Saleh, 1982:2).
Lebih jauh, nilai historis dan budaya dari sebuah rumah lanting sebetulnya memerlukan riset dan pengkajian yang mendalam. Asumsinya, jukung yang sederhana saja setelah diteliti, dipopulerkan oleh (alm H. Fathurrahman/Kai Asing Banua Hanyar/Eric Petterson) ternyata menggambarkan korelasi yang luar biasa, bagaimana komunikasi dan interaksi suku Banjar dengan masyarakat belahan dunia lainnya, bahkan dari situ ternyata juga bisa dirambah dan dilacak asal mula nenek moyang orang Banjar. Maka rumah sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan suku Banjar pun boleh jadi memiliki nilai dan filsafat tinggi yang belum tergali secara luas selama ini. Memang diakui sisi negatif dari keberadaan sebuah rumah lanting saat sekarang ini juga tidak sedikit, misalnya kesadaran yang rendah dari para penghuninya untuk tidak membuang sampah ke sungai, bangunan rumah lanting yang terkesan asal-asalan, letak dan psosi rumah lanting yang tak beraturan sehingga tak sedap dipandang, sumber kekumuhan, merusak keindahan kota, tidak menghasilkan PAD, dan sebagainya.
Karena itu untuk mengembalikan kebermaknaan sebuah rumah lanting agar tetap dapat dinikmati, inti dari pemindahan kawasan lokasi rumah lanting tidaklah sekedar sampai disitu, tetapi bagaimana relokasi kawasan rumah lanting diikuti pula dengan penataan secara teratur dengan manajemen modern, apik dan ramah lingkungan, sehingga rumah lanting dengan multi fungsinya dapat dimaksimalkan, baik sebagai penjaga ekosistem perairan, pencegah erosi dan abrasi, maupun penerus rasa sejarah dari sebuah peradaban. Karena itulah menggusur, menghapuskan, mematikan atau apapun istilahnya dengan maksud untuk menghilangkan rumah lanting, pada prinsipnya sama saja dengan menghapus jejak sejarah budaya Banjar dan membunuh ruh kota Banjarmasin.
By Rizal Hasannor on May 15, 2008 | Reply
ALAT KESENIAN KHAS BANJAR
Salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Pengertian kesenian menurut Umar kayam dalam bukunya Seni Tradisi Masyaraat adalah salah satu unsur yang menyangga kebudayaan. Sedangkan Kesenian dalam buku Sub Tema Sejarah Kesenian adalah dalam arti luas ,kesenian dapat menyangkut juga segala segala produk kebudayaan hasil peradapan manusia. Jadi kesenian merupakan karya budaya yang mengandung nilai-nilai keindahan hasil dari peradaban manusia.
Menurut Koentjaraningrat dalam bukunya Pengantar Ilmu Antropologi ,dipandang dari sudut cara kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan akan keindahan itu dapat dinikmati,maka ada dua lapangan besar ,yaitu (1) seni rupa, kesenian yang dapat dinikmati dengan mata , dan (2) seni suara, kesenian yang dinikmati oleh manusia dengan telinga. Ditinjau dari garapannya ada lima cabang seni yaitu Seni Rupa, seni Sastra, Seni Tari, Seni Teater, dan Seni musik. Ada yang mengklasifikasi seni pertunjukan yakni seni tari, seni musik dan seni sastra.
Musik panting merupakan salah satu kesenian khas Banjar. Musik perpaduan antara nada-nada gitar panting, biola, Babun (alat musik tabuh sejenis gendang), gong dan tamborin, terdengar syahdu. Irama yang keluar menggambarkan etnis banjar yang lekat dengan sungai. Dulu musik panting hanya bisa dinikmati ketika pementasan atau pada acara formal seperti perkawinan atau acara pemerintah. Namun kini musik panting kian membumi. Hotel-hotel berbintang di Kalsel menjadikan permainan musik panting untuk menyambut tamu mereka. Bahkan musik panting kini turun ke jalan. Selain musik panting, kesenian Banjar lainnya adalah teater japin. Musik yang dipakai dalam teater Japin adalah musik Japin Pesisiran. Alat-alat yang ada dalam musik Japin tersebut adalah:
Gambus Bidawang
Biola
Harmonika Angin
Babun
Keprak
Tamborin
Agung (Gong) besar dan kecil
Dalam kesenian Banjar dikenal berbagai seni musik seperti :
1.Gamelan
2.Terbang Haderah
3.Terbang Ampat
4.Terbang Lamut
5.Terbang Madihin
6.Musik Suling
7.Musik Japin Gambus
8.Musik Kurung-kurung Hantak
9.Musik Kintung
10.Musik Main Kuntau
Kesenian Lamut
Lamut merupakan salah satu kesenian tradisional Kalimantan Selatan. Kesenian Lamut yang hampir punah ini hampir sama dengan beberapa jenis kesenian di daerah lain, misalnya kesenian Cianjuran di Jawa Barat. Perbedaannya terdapat pada cara menyampaikan dan alat musik yang mengiringi. Kalau pada kesenian Cianjuran digunakan kecapi maka dalam Lamut digunakan alat musik terbang besar.
Pelaksanaan Lamut akan dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam Lamut ini diberi julukan Palamutan. Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi.
Sebelum cerita Lamut dimulai disediakan dulu sesajen yang terdiri dari air kembang, air baboreh, kelapa muda, gula merah, dan ketan. Di samping itu harus ada perapen yang selalu mengepulkan kemenyan. Tujuannya agar jalannya cerita dalam pembawaan Lamut berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan apa-apa sampai berakhirnya acara.
Cerita Lamut kalau diceritakan dengan cara biasa tidaklah memakan waktu yang lama, cukup kira-kira 2 jam. Ceritanya pun sudah diketahui oleh orang banyak. Cerita Lamut dibawakan dengan lagu merdu dan iringan terbang yang indah. Tidak semua bagian cerita dilagukan, ada dialog-dialog tertentu dalam cerita kemudian diselingi oleh tabuhan terbang. Apalagi yang membawakan Lamut dua orang, akan terlihat sangat menarik saat dua Palamutan ini bersahut-sahutan. Pukulan terbang sering digunakan untuk menandai perpindahan bagian cerita dalam cerita untuk menunjukkan suasana perpindahan cerita atau penyisipan pesan-pesan tertentu dalam cerita.
By Ganjar Muttaqin on May 16, 2008 | Reply
BAB VIII KEBUDAYAAN BANJAR
MASJID SURIANSYAH
Masjid Suriansyah adalah sebuah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun di masa pemerintahan Sultan Suriansyah(1526-1550), raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Bentuk arsitektur dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang, merupakan masjid bergaya tradisional Banjar. Masjid bergaya tradisional Banjar pada bagian mihrabnya memiliki atap sendiri terpisah dengan bangunan induk. Masjid ini didirikan di tepi sungai Kuin.
Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : ” Ba’da hijratun Nabi Shalallahu ‘alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia.” Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: “Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya’ban tatkala itu (tidak terbaca)” . Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanghgal 10 Sya’ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (renovasi masjid) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I (1734-1759).
Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi “Allah Muhammadarasulullah”. Pada bagian kanan atas terdapat tulisan “Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17″, sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : “Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri”.
Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur mesjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu. Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas. Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella. Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.
Salah satu peninggalan kerajaan Islam Banjar yang sampai sekarang masih bisa dilihat oleh generasi sekarang sesudah lebih kurang 4 abad yang lalu adalah Masjid Sultan Suriansyah di Kuin. Sebagaimana namanya masjid ini dibangun pada masa pemerintahan raja Banjar pertama yakni Sultan Suriansyah yang sebelumnya bernama Raden Samudera. Besar kemungkinan masjid ini dibangun pada tahun 1528-an sesudah terjadinya pengislaman sebagian masyarakat Banjar, karena itu diperkirakan usianya tidak kurang dari 450 tahun sudah.
Masjid Sultan Suriansyah merupakan tanda diterimnya Islam secara resmi oleh kerajaan, tempat peribadatan raja dan kaum bangsawan, tempat pertemuan dan peringatan keagamaan rakyat dan kerajaan. Karena itulah eksistensinya dianggap sebagai bangunan penting yang harus tetap lestari, dikenang, dan dicatat tinta sejarah
Menurut cerita yang mendapatkan tugas mengumpulkan alat-alat bangunan atau kayu untuk bangunan masjid ini adalah seseorang yang bernama Patih Anom alias Arya Malingkang atau Datu Pujung, seorang tokoh yang disegani dan mempunyai kekuatan luar biasa. Oleh Patih Anom didatangkan empat buah tiang soko guru dari kayu Halayung yang besar, karenanya konstruksi pertama masjid ini terdiri dari tiang soko Halayung, lantai Halayung dan atap dari dari daun rumbia, letaknya berjarak lebih kurang 500 meter dari istana sultan.
Masjid Sultan Suriansyah ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, perbaikan dan pergantian, misalnya tiang soko yang dulunya dari kayu Halayung diganti dengan kayu Bulan dan terakhir diganti dengan kayu Besi (Ulin). Kemudian atap yang dulunya rumbia diganti dengan atap sirap, begitu pula dengan dindingnya, yang sekarang sudah beton/semen.
Pada zaman pemerintahan Sultan Tamzidillah I pernah diadakan perubahan, bentuk masjid dibuat berloteng empat tingkat yang ditambah dengan unsur-unsur yang belum ada pada aslinya, yaitu unsur menara empat rangkap. Loteng yang empat rangkap tersebut mengandung nilai-nilai religius dan filsafat ketuhanan yang tinggi, tingkat pertama mengandung pengertian syariat, kedua tariqat, ketiga adalah ma’rifat dan keempat adalah hakikat. Ada ukiran dan tulisan dari huruf Arab yang terdapat disalah satu pintunya dan merupakan wakaf dari Sultan Tamzidillah, kemudian juga ada sebuah mimbar berukir dari kayu ulin yang dibuat pada tahun 1292 H atau 1867 M.
Masjid tradisional Banjar pada dasarnya mengambil pola masjid tradisonal Jawa khususnya masjid Agung Demak, karena Kesultanan Banjar pertama kali mendapat pengaruh agama Islam dari Kesultanan Demak Bintoro. Kesultanan Demak mengirim Khatib Dayan yang merupakan cucu Sunan Gunung Jati Cirebon untuk mengajarkan agama Islam kepada rakyat negeri Banjar di Kalimantan Selatan.
Beberapa perbedaan pola masjid tradisional Jawa dan Banjar :
• Masjid di negeri Banjar dibangun dengan konstruksi panggung.
• Masjid di negeri Banjar pada bagian pengimamam (mihrab) memiliki atap tersendiri terpisah dari bangunan induk.
• Pada puncak masjid terdapat bangunan masjid yang disebut pataka yang terbuat dari kayu ulin. Di Jawa disebut mustoko/memolo terbuat dari tanah liat.
• Pada ujung-ujung pertemuan atap pada jurai luar terdapat Jamang.
• Terdapat pagar susur yang disebut Kandang Rasi.
• Masjid di Tanah Jawa terdiri atas 2 bangunan utama yaitu bangunan yang beratap tumpang tiga yang merupakan “dalem” dan bangunan beratap limas di depannya yang merupakan “pendopo” sedangkan Masjid di negeri Banjar hanya terdiri atas satu bangunan utama yang beratap tumpang tiga.
Masjid Suriansyah merupakan salah satu bukti keanekaragaman kebudayaan Banjar yang sampai saat ini dapat kita lihat dan dapat kita buktikan keunikannya. Karena masjid Suriansyah merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Dan kita sebagai penerus bangsa wajib melestarikan keberadaannya.
By ARIEN NOOR RAHMAN on May 16, 2008 | Reply
PENAMBANG GALUH
INTAN adalah mineral yang secara kimia merupakan bentuk kristal, atau alotrop, dari karbon. Intan terkenal karena memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama faktor kekerasannya dan kemampuannya mendispersikan cahaya. Sifat-sifat ini yang membuat intan digunakan dalam perhiasan dan berbagai penerapan di dalam dunia industri.Terutama ditambang di Afrika tengah dan selatan, walaupun kandungan intan yang signifikan juga telah ditemukan di Kanada, Rusia, Brazil, dan Australia. Sekitar 130 juta “carat” (26.000 kg) intan ditambang setiap tahun, yang berjumlah kira-kira 9 miliar dolar Amerika. Selain itu, hampir empat kali berat intan dibuat di dalam makmal sebagai intan sintetik (synthetic diamond).
Biasa ditambang dari pipa-pipa vulkanis, tempat kandungan intan yang berasal dari bahan-bahan yang dikeluarkan dari dalam bumi karena tekanan dan temperaturnya sesuai untuk pembentukan intan.Intan terdapat dari dalam perut bumi yang digali baik secara manual maupun dengan mekanisasi. Sekarang kebanyakan para penambang intan sudah menggunakan mekanisasi, yaitu dengan menggunakan mesin penyedot untuk menyedot tanah yang sudah digali.
Tanah yang disedot bersama air, dipilah melalui tapisan. Dengan keterampilannya, si penambang bisa membedakan batu biasa, pasir, atau intan. Intan yang baru didapat ini disebut “galuh” di daerah Banjarmasin. Galuh ini masih merupakan intan mentah. Untuk menjadikannya siap pakai, intan harus digosok terlebih dahulu. Penggosokkan intan yang ada di masyarakat sebagian besar masih dengan alat tradisional. Salah satu tempat penghassil intan adalah Martapura. Sekitar 40 km dari Banjarmasin, ibukota Kabupaten banjar ini terkenal sejak zaman penjajahan Belanda sebagai tempat penambangan intan.
Martapura adalah ibukota kabupaten Banjar yang terdiri atas kecamatan Martapura, Martapura Barat dan Martapura Timur. Kota ini terkenal sebagai kota santri di Kalimantan, karena terdapat pesantren Darussalam. Kota Martapura semula bernama Kayutangi yang merupakan ibukota Kesultanan Banjar (terakhir di masa pemerintahan Sultan Adam).Ulama Banjar yang terkenal Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari penulis Kitab Sabilal Muhtadin berasal dari kota ini. Kota sering dikunjungi wisatawan karena merupakan pusat transaksi penjualan intan dan tempat penggosokan intan utama di Kalimantan dan menyediakan banyak cenderamata batu mulia.Martapura sering juga disebut sebagai kota Serambi Makkah karena di kota ini banyak sekali santri-santri yang berpakaian putih-putih yang hilir mudik untuk menuntut ilmu agama sehingga mirip sekali dengan kota Makkah ketika musim ibadah haji.
Baru-baru ini, penambang di Kabupaten Banjar menemukan intan mentah sebesar pentol bakso. Kelompok pendulang intan tradisonal menemukannya di kedalaman 15 meter di Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar.Beratnya mencapai 40 gram, penambang mengatakan ukurannya 200 karat. Diberi nama Puteri Malu, intan ini penemuan terbesar setelah intan Trisakti tahun 1965 seberat 33 gram.
Bagi seorang penambang, menemukan intan besar belum tentu membawa kemakmuran baginya. Penambang intan ibarat seorang buruh tani, hidup miskin bertahan hidup dari utang. Dalam sebuah kelompok penambang, paling untuk adalah pemilik modal, pemilik alat (mesin sedot) dan pemilik lahan. Penambang hanya seorang pekerja. Jika pemodal, pemilik alat dan pemilik lahan bisa dapat 2-4 bagian, penambang hanya dapat 1 bagian. Itupun dipotong utang.Penemu intan Trisakti tidak mendapat keuntungan yang layak dari pemerintah yang mengambilnya. Entah bagaimana nasib penemu Intan Puteri Malu
A. Intan Terbesar Ditemukan
Banjar Sejak ditemukannya intan Trisakti 166,75 karat di lokasi penambangan Pumpung Cempaka pada 1965, di tanah Banjar lak lagi terdengar penemuan galuh yang sebanding. Kini, tepatnya 1 Januari 2008, sembilan penambang pimpinan H Israniansyah memecahkan rekor tersebut.Masya Allah, intan seberat hampir 200 karat berhasil ditemukan kelompok penambang tersebut. Tepatnya di lokasi penambangan intan Desa Antaraku, Kecamatan Pengaron. Batu mulia yang dinamai Putri Malu itu sementara ditaksir sebagai yang terbesar di Asia dan mungkin yang terbesar di dunia.
Kemarin (12/1), Israniansyah pun menepati janji untuk memperlihatkan si Putri Malu tersebut kepada Bupati Banjar Khairul Saleh. Didampingi Camat Pengaron Wasis H. dan kedua keponakannya, Ismaini dan Muhyar, intan tersebut dibawa ke kediaman bupati.
Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Selang 10 menit berlalu, Khairul harus bertolak ke Jakarta hingga rombongan Isra tidak bisa bertemu bupati.
Dibandingkan intan Trisakti yang ditemukan pada 26 Agustus 1965 pukul 12.15 Wita, bentuk intan Putri Malu berbeda. Jika Trisakti berbentuk bulat lonjong berwarna ungu terkadang berubah menjadi merah jambu, Putri Malu berbentuk bulat dengan permukaan tidak rata, namun licin dan berkilau.
Warnanya persis pentol bakso, kecokelat-cokelatan. Jika dipegang, terasa berat seperti sedang memegang besi. “Sampai, saat ini airnya masih misterius. Apakah keras atau lunak. Namun, sudah dipastikan bahwa temuan kami itu adalah intan,” tegas Isra.
Dia menyatakan, intan tersebut tidak akan dijual dalam waktu dekat. Sementara disimpan dulu sampai minimal diketahui kualitas air intannya.
Demikian pula dengan harga yang dikehendaki. Sejauh ini belum ada patokan harga yang mereka pasang. Soal harga memang bergantung pada kualitas intan itu. Walaupun berukuran kecil, jika kualitasnya bagus, harga pun jauh lebih tinggi dibandingkan intan besar, namun berkualitas rendah.
Tambang-tambang intan yang terkenal di dunia antara lain di Kimberley Afrika Selatan. Kemudian menyusul Rusia dan Amerika Selatan.
B. Intan-Intan terkenal di dunia antara lain :
1. Culinan
Ditemukan pada tahun 1905. Besarnya sebelum digosok 3.106 carat. Setelah di gosok menjadi
Culinan I dengan besar 530,2 carat
Culianan II dengan besar 312.40 carat
2. Excelsior
Ditemukan di Afrika Selatan tahun 1893, besar sebelum digosok 995,20 carat.
3. Great Mogul
Ditemukan di India. Besarnya 793 carat. Warna kebiru-biruan.
4. Koh-i-nur
Besar setelah digosok 186 carat dan setelah digosok untuk kedua kalinya menjadi 108.93 carat. Banyak orang yang telah memiliki Intan ini antara lain:
Raja Malwa dari India pada tahun 1304
Raja Mogul
Nadirsyah dari Persia
Kerajaan Inggris sampai sekarang
5. Regent
Besarnya 410 carat. ditemukan di India pada tahun 1701. Intan ini juga sering berpindah tangan dari orang-orang penting dunia seperti :
Dipasang pada mahkota Louis XV pada tahun 1772
Dipasang pada tangkai pedang Napoleon Kaisar dari Perancis.
Dibawa Istri Napoleon Maria Louis dan dipasang pada mahkota kerajaan perancis.
C. Intan terkenal di Indonesia
1. Tri Sakti
ditemukan di Cempaka Martapura pada tahun 1965. besarnya 166,72 carat setelah digosok. penggosokan dilakukan di Amsterdam.
2. Galuh Badu.
Ditemukan di bati-bati Tanah laut ( Kalsel) pada tahun 1967, besarnya 26,5 carat.
3. Galuh Cempaka.
Ditemukan di Cempaka tahun 1969. Besarnya 29.75 carat.
4. Galuh Bulan.
Ditemukan di Cempaka tahun 1969, besarnya 27,50 karat.
By dharma setyawan on May 16, 2008 | Reply
LEBIH MENGENAL
MUSEUM NEGERI LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU
sumberdaya sejarah dan budaya sangat penting untuk generasi mendatang, dalam rangka pembangunan bangsa yang besar dan maju dengan tanpa kehilangan identitas dan akar budayanya. Sumberdaya sejarah dan budaya merupakan sumberdaya yang tak ternilai harganya dan tak terbaharui (unrenewable) keberadaannya, sehingga harus dikelola secara baik dan benar. Pengelolaan sumberdaya sejarah dan budaya “yang baik” memiliki arti bahwa pengelolaannya akan membawa kemanfaatan yang besar bagi masyarakat luas, sedangkan pengelolaan “yang benar” memiliki arti bahwa pengelolaan tersebut harus dapat menjamin kelestariannya sebagai data yang dapat diakses sepanjang masa. Hal inilah yang mendorong berdirinya museum umum[1] di berbagai propinsi di Indonesia, demi pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya sejarah dan budaya.
Secara umum tugas dan fungsi museum adalah mengkomunikasikan serta mempublik asikan hasil-hasil penelitian ilmiah kepada umum, baik melalui media pameran, bimbingan edukatif kultural maupun media lainnya dalam pelestarian dan pemanfaatan bukti material manusia dan lingkungannya untuk ikut serta mengembangkan seni, ilmu dan teknologi dalam rangka peningkatan nilai budaya dan kecerdasan kehidupan bangsa. Dengan demikian informasi yang disajikan oleh museum haruslah betul-betul objektif.
Hal ini berkesesuaian dengan defenisi museum itu sendiri yaitu setiap badan tetap yang tidak mencari keuntungan, yang dalam melayani masyarakat terbuka untuk umum dan kegiatannya meliputi; mengumpulkan, merawat, meneliti, mengkaji, mengkomunikasikan, serta memamerkan bukti material manusia dan lingkungannya, untuk kepentingan studi dan rekreasi, (RUU Permuseuman Ps. 1 ayat huruf b).
Sejarah Museum :
Sejak direbutnya Constantinopel, Asia Kecil dan Yunani oleh Turki, jalur perdagangan Eropa dan Asia putus. Para pelayar Eropa berusaha mencari jalan laut menuju negeri Timur yang kaya rempah-rempah dan permata.
Sekembalinya dari daerah yang mereka kunjungi mereka juga membawa benda-benda budaya yang kemudian disimpan dalam Cabinet of Curiousities sebagai milik kebanggaan. Kemudian timbul gagasan untuk menghimpun Cabinet of Curiousities dalam MOUSEION (pura/tempat suci untuk memuja para dewa muse)
Kata MOUSEION inilah yang mencadi cikal bakal penyebutan Museum, yang dalam Bahasa Yunani Kuno berarti “pura” (tempat pemujaan) bagi para Muse. Para muse itu terdiri atas 9 orang. Mereka adalah puteri-puteri Dewa Zeus (Jupiter) dari isterinya yang bernama Mnemosyne. Kesembilan orang Muse itu adalah para Dewi Penguasa Ilmu Pengetahuan dan Seni, yang dipimpin oleh Apollo, putera Zeus dari isterinya yang bernama Letto
Sejarah Museum Di Kalimantan Selatan
Museum pertama yang didirikan di Kalimantan Selatan adalah Borneo Museum yang didirikan pada tahun 1907 di Banjarmasin. Mula-mula berlokasi di Swartpark (sekarang Kompleks Masjid Sabilal Muhtadin), kemudian dipindahkan ke Heeren Gracht (Jalan D.I. Panjaitan sekarang). Usia museum ini tidak berumur panjang, karena pada hari-hari terakhir pendudukan Jepang, koleksi museum ini jadi rebutan para penguasa ketika itu.
Museum yang kedua adalah Museum Kalimantan yang didirikan berkat kegigihan usaha para budayawan di daerah ini, yang antara lain dimotori oleh Alm. Amir Hasan Gelar Kyai Bodan Kejawan. Museum yang menggunakan Gedung Permufakatan Indonesia ini juga tidak berumur panjang. gedung itu terbakar habis.
Museum yang ketiga adalah Museum Banjar yang didirikan pada tahun 1967 dengan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan No. 19/1-2-301-573, tanggal 8 Mei 1967 Untuk sementatra koleksi-nya disimpan pada sebuah bangunan rumah Alm. Abdul Ghafar Hanafiah di Jalan Haryano M.T. No 1 Banjarmasin yang disewa sebagai gedung sementara Museum Banjar itu. Pada tahun 1968 dipindahkan ke Balai Wartawan Jalan Jend. Sudirman Banjarmasin, dan selanjutkan ke Jalan A. Yani Km. 5,5 Banjarmasin.
Museum yang keempat adalah Museum Lambung Mangkurat, Lahirnya Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru memiliki riwayat yang panjang. Selain berkait secara kronologis dengan sejarah museum di Kalimantan Selatan yakni sejak Borneo Museum (1907), Museum Kalimantan (1955), Museum Banjar (1957) dan akhirnya Museum Lambung Mangkurat, keberadaannya berawal dari pemikiran cemerlang yang terlahir oleh keprihatinan terhadap kondisi sumberdaya sejarah dan budaya yang kita miliki, yang secara nyata agaknya kurang terurus.
Museum dan pendidikan, selama keduanya masih berfungsi ditengah-tengah masyarakat, maka peranannya akan tetap aktual dan terus diamati, dikaji untuk kemudian dapat disempurnakan. Antara museum dengan pendidikan memang tidak terdapat hubungan fungsional. Pendidikan sebagai proses sosialisasi dan proses pembudayaan orang-perorang telah berlaku sejak manusia itu lahir, hidup bermasyarakat dan berkebudayaan.
Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru
Memasuki pintu gerbang Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru ini, mata kita langsung dimanjakan dengan bangunan mewah yang mengadaptasi bentuk rumah tradisional banjar yaitu “Rumah Bubungan Tinggi” yang dipadu dengan gaya modern sebagai ruang pameran utama. Selanjutnya bangunan lain yaitu Ruang Pameran Temporer dan ruang pameran kain, keramik, lukisan bergaya eropa. Kantor Tata Usaha, ruang Kepala dan Perpustakaan bentuk atap pisang sasikat. Kantor tenaga teknis dan gudang koleksi dengan bangunan atap hidung bapicik[2]. Tentu saja memikat
Saat diresmikan pada tahun 1979, Museum Lambung Mangkurat memiliki bangunan seluas 2000 m2 yang dibangun di atas lahan seluas 15.000 m2. Fasilitas gedung tersebut terdiri dari : Gedung Induk Pameran Tetap dua lantai, Ruang Pameran Temporer, Kantor dan Rumah Dinas Kepala.
Sampai dengan Desember 2007, jumlah koleksi Museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru mencapat 12.020 buah, Benda koleksi sejumlah tersebut harus terus menerus dikelola agar terjamin keamanannya baik dari ancaman kerusakan maupun kehilangan, baik kerusakan biotic (jamur, pelapukan, rayap) maupun kimiawi dan fisis akibat perubahan suhu, kontaminasi lingkungan mikro dan sebagainya.
Koleksi merupakan benda-benda bernilai sejarah, kebudayaan dan sejarah alam yang dikelola oleh museum untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas baik langsung melalui pameran di museum maupun melalui media (cetak, elektronik, brosur dan buku). Pada awal berdirinya Museum Lambung Mangkurat, sebagian koleksinya berasal dari Museum Banjar yang masih tersisa, sebagian lain dari Direktorat Permuseuman dan sebagian lagi hasil pengadaan baru Museum Lambung Mangkurat. Jumlahnya saat itu sebanyak 5.253 buah dengan rincian :
- Prasejarah
- Arkeologi
- Numismatika/Heraldika
- Keramologika
- Sejarah
- Naskah
- Seni rupa modern
- Seni kriya/kontemporer
- Geografi
- Astronomi
- Geologi
- Paleontologi/antropologi
- Botani
- Zoologi
- Herbarium
- Etnografi
21 buah
61 buah
309 buah
449 buah
90 buah
111 buah
144 buah
507 buah
26 buah
15 buah
27 buah
19 buah
28 buah
16 buah
16 buah
3.193 buah
Jumlah……………………
5.253 buah
Sumber : Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan
Banjarbaru 2008
Sejak diresmikan pada tahun 1979 hingga saat ini (2008), Museum Lambung Mangkurat telah memberikan layanan informasi sejarah dan budaya Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas, baik pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Jumlah kunjungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat pada 15 tahun terakhir, yang dapat dilihat pada Tabel dan Grafik berikut ini :
Tabel Kunjungan Museum Negeri Lambung Mangkurat
Th 1990-2008
Tahun
Jumlah Pengunjung
1990/1991
8165 orang
1991/1992
29200 orang
1992/1993
27200 orang
1993/1994
16946 orang
19941995
12201 orang
1995/1996
15690 orang
1996/1997
19580 orang
1997/1998
20000 orang
1998/1999
17300 orang
1999/2000
18048 orang
2000/2001
13500 orang
2001/2002
18287 orang
2002/2003
21660 orang
2003/2004
21406 orang
2004/2005
29954 orang
2005/2006
36114 orang
2006/2007
49965 orang
2007-2008
45500 orang
Sumber : Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru 2008
Peranan Museum Lambung Mangkurat Terhadap Pendidikan
Kota Banjarbaru menempatkan dirinya sebagai kota Pendidikan di Kalimantan Selatan, sebagai tempat yang comfortable untuk para pencari ilmu. Keberadaan sebuah museum di kota ini dapat memberikan informasi edukatif tentang sejarah dan kebudayaan lokal melalui koleksi yang ditampilkannya. Museum dapat pula menjadi sebuah lembaga pendidikan non formal yang dapat memainkan peranan positif dalam bidang pendidikan berkaitan dengan upaya pencerdasan bangsa dan “melek” budaya. Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru akhirnya memposisikan dirinya sebagai media tempat belajar dan rekreasi bagi masyarakat Kalimantan Selatan dan masyarakat Banjarbaru pada khususnya. Banyaknya kunjungan dari kalangan pelajar dan mahasiswa atau pun para pecinta sejarah dan budaya ke Museum Lambung Mangkurat ini menunjukkan adanya sifat memerlukan (defendensi) dari masyarakat terhadap keberadaan sebuah museum.
[1] Museum Umum adalah museum yang koleksinya meliputi benda-benda sejarah, budaya dan sejarah alam, sedangkan museum khusus adalah museum yang koleksinya terdiri satu jenis atau satu tema tertentu seperti Museum Tekstil, Museum Botani, Museum Purbakala dan sebagainya.
[2] Wawancara dengan Drs. Ikhlas Budi Prayogo, M. Hum (Kasi Edukasi Preparasi Museum lambung Mangkurat Propinsi Kalimantan Selatan Banjarbaru) 15 Mei 2008
By VIDA AULIA RAKHMAN on May 17, 2008 | Reply
Bab.VIII.Kebudayaan Banjar.
SOTO BANJAR
SOTO BANJAR
Setiap daerah tentunya memiliki masakan khas yang menjadi ciri daerah tersebut. Seperti halnya pada suku Banjar makanan khas yang sangat digemari adalah Soto Banjar dan dijadikan sebagai mascot masakan khas provinsi Kalimantan Selatan dimata Indonesia, bahkan setiap orang-orang luar yang datang ke Kalimntan Selatan sangat disayangkan apabila tidak dapat mencicipinya.
Soto Banjar ini di buat dengan bahan utama ayam yang beraroma harum rempah-rempah seperti kayu manis, biji pala, dan cengkeh. Soto berisi daging ayam yang sudah disuwir-suwir, dengan tambahan perkedel atau kentang rebus, rebusan telur, dan ketupat.
Seperti halnya soto ayam, bumbu Soto Banjar berupa bawang merah, bawang putih dan merica, tapi tidak memakai kunyit. Bumbu ditumis lebih dulu dengan sedikit minyak goreng atau minyak samin hingga harum sebelum dimasukkan ke dalam kuah rebusan ayam. Rempah-rempah nantinya diangkat agar tidak ikut masuk ke dalam mangkuk sewaktu menghidangkan.
Dalam buku Koentjaraningrat yang menggambarkan empat wujud kebudayaan dengan simbolis digambarkan sebagai empat lingkaran konsentris. Dalam hal ini mengenai makanan khas yang dihasilkan masuk pada lingkaran 2 yang menggambarkan wujud dari tingkah laku manusianya. Kebudayaan dalam wujud ini masih bersifat konkret, dapat difoto, dan dapat difilm. Pada jaman prasejarah manusia sudah berusaha untuk mendapatkan makanan demi kelangsungan hidupnya, walaupun sebelum makan mereka harus berburu dan selanjutnya mereka mengenal cara bercocok tanam.
Soto Banjar merupakan hasil dari sebuah ide untuk dapat membuat masakan yang dapat menjadi ciri makanan khas daerah, yang dilanjutkan dengan aktifitas, kegiatan ini dimaksudkan agar ide yang telah tertuang bisa mencapai keinginan dan dengan perpaduan dua unsur itu menghasilkan satu karya atau hasil yang didapat dan lahirlah Soto Banjar.
Tidak hanya soto Banjar saja yang dikenal di Indonesia daerah-daerah lain juga mempunyai cita rasa soto tersendiri yang merupakan hasil dari ide, aktifitas, dan karya masing-masing. Bahkan ada pula yagn menyebutkan soto adalah masakan pemersatu rakyat Indonesia. Pada soto Banjar penyajiannya beraneka ragam, di Banjarmasin terkenal dena pasar terapung yang beraktifitas pada jam 06.00 pagi yang dengan hanya mengunjungi itu kita dapat menikmati soto Banjar diatas perahu atau klotok sambil menikmati keindahan dan keunikan pasar diatas sungai.
Resep soto Banjar :
Bahan :
• 1 ekor Ayam muda
• 2 buah Kentang direbus dipotong-potong
• 100 gram Soun yang sudah direndam
• 3 sdm Bawang goreng
• 1 sdm Bawang putih goreng
• 5 batang Seledri dirajang
• 4 butir Telur rebus dibelah empat bagian
• 4 buah Perkedel
• 4 sdm Minyak goreng untuk menumis
• 1 buah Ketupat Banjar dipotong-potong
• 1 batang Kayu manis
• 2 sdm Kecap asin
• 2 buah Jeruk nipis
• 1500 ml Air
Bumbu yang dihaluskan :
• 4 buah Bawang merah
• 3 siung Bawang putih
• 1/2 sdt Adas
• 1/2 sdt Jintan
• 3 cm Jahe
• 2 cm Kunyit
• 1/2 sdt Merica
• 1 sdt Garam
Cara membuat :
• Rebus ayam dengan kayu manis dan garam hingga mendidih.
• Tumis bumbu yang dihaluskan dengan menggunakan minyak goreng hingga harum, kemudian masukkan ke dalam rebusan ayam, rebus kembali hingga ayam empuk.
• Angkat ayam dari rebusan kemudian tiriskan hingga dingin kemudian suwir.
Racikkan :
• Letakkan ketupat di atas mangkuk beserta soun, kentang, perkedel, suwiran ayam, telur, kemudian siram dengan kuah soto. Taburkan bawang goreng, bawang putih goreng, seledri dan perahan jeruk, hidangkan.
By haryani on May 17, 2008 | Reply
Tugas mata kuliah antropologi (profil FKIP Unlam)
Forum Studi Islam (FSI) Al Furqon FKIP Unlam
FSI Al Furqon adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa Fakultas (UKMF) yang bernaung di kampus FKIP Unlam, sekaligus sebagai satu-satunya UKMF di FKIP Unlam yang bergerak dibidang kerohanian islam.
FSI Al Furqon didirikan pada tahun 1995 oleh para mahasiswa yang tergabung dalam sekbid kerohanian di masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di kampus FKIP Unlam.
Awalnya keberadaan FSI Al Furqon ditujukan untuk menyatukan gerak langkah dalam syiar Islam di Kampus FKIP, tapi seiring dengan perkembangannya FSI melihat perilaku mahasiswa muslim khususnya di FKIP Unlam semakin memprihatinkan. Budaya dan pemikiran barat yang bersifat destruktif dengan mudah diadopsi dan kemudian mengkristalisasi di dalam generasi muda Muslim. Kamudian dengan minimnya alokasi waktu untuk mata kuliah agama Islam yang hanya 2 SKS.
Maka dengan melihat fakta-fakta seperti itu, FSI Al Furqon bekerjasama dengan dosen-dosen pembimbing mata kuliah agama Islam melaksanakan program pembinaan lewat mentoring, yang berlangsung selama satu semester bebarengan dengan pengambilan mata kuliah agama Islam.
Visi, Misi dan Motto FSI Al Furqon
Visi : Menjadikan Islam di atas segalanya dan membumikan nilai-nilai
Islam dalam kehidupan multidimensi terutama bidang
pendidikan.
Misi : Menumbuhkan nilai-nilai Islam di Masyarakat terutama
masyarakat pendidikan dengan mengacu pada pola pembinaan,
syi’ar dan dakwah Islam.
Motto : Media penjernihan pemikiran dan perasaan untuk membentuk
insan yang furqon (pembeda antara yang haq dan yang bathil)
dan berkepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiah).
Program Kerja FSI Al Furqon
Marhaban Mahasiswa baru
Ta’aruf FSI Al Furqon dan pembukaan mentoring
Mentoring
Penutupan Mentoring
Pekan Pendidikan Islam (PPI)
Ta’mir Ramadhan di Kampus (TRDK), kerjasama dengan LDK AMBH Unlam.
Peringatan hari-hari besar Islam
Daurah Dirasah Islamiyah
Pelantikan dan training Pengurus FSI Al Furqon
Buletin Al Furqon
Kajian pengurus Ikhwan FSI Al Furqon
MABIT (Malam Bina Iman dan Taqwa)
NGTREN (Ngaji Ala Pesantren)
One Night With Us
The Best FM (Forum Muslimah Terbaik)
Klinik Muslimah
PEPSI (Pengjian Pengurus FSI Al Furqon)
Manajemen Dakwah Organisasi (MADANI)
TOP (Training Orientasi Pengurus)
Rihlah
Briefing Mentoring
SILCIVA (Silaturrahmi Civitas Akademika)
Pengiriman utusan
Mading FSI
PENTIUM (Pertemuan Pengurus dan Alumni)
BUFET (Breaking Fast Together)
Kajian Pendidikan Islam
POKUS (Penyebara Opini Khusus)
Iuran Pengurus
Bursa Usaha Alif
Donator Tetap
Bazar
Penerimaan, pengumpulan,dan penyaluran Jildab dan Khimar.
Inilah sekilas wacana tentang Forum Studi Islam Al Furqon Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat.
By Catur Widyastuti PH on May 17, 2008 | Reply
Catur Widyastuti PH
BAB IV. Masyarakat
4.1. Pengertian Masyarakat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,masyarakat adalah sejumlah dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.
Banyak para ahli telah memberikan pengertian tentang masyarakat. Smith, Stanley dan Shores mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kelompok induvidu-induvidu yang terorganisasi serta berfikir tentang diri mereka sendiri sebagai suatu kelompok yang berbeda.
Dari pengertian diatas ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu bahwa masyarakat itu kelompok yamg terorganisasi dalam masyarakat itu suatu kelompok yang berpikir tentang dirinya sendiri yang berbeda dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu orang yang berjalan bersama-sama atau duduk bersama-sama yang tidak terorganisasi bukanlah masyarakat. Kelompok yang tidak berpikir tentang kelompoknya sebagai suatu kelompok bukanlah masyarakat. Oleh karena itu kelompok burung yang terbang bersama dan semut yang berbaris rapi bukanlah masyarakat dalam arti yang sebenarnya sebab mereka berkelompok hanya berdasarkan naluri saja.
Masyarakat( sebagai terjemahan istilah society ) adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup ( atau semi terbuka ), dimana sebagian besar interaksi adalah antara induvidu-induvidu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen ( saling tergantung satu sama lain ). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem/ aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.
Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Pakar ilmu sosial mengidentifikasikan ada: masyarakat pemburu, masyarakat pastoral nomadis, masyarakat bercocoktanam, dan masyarakat agrikultural intensif, dan juga disebut masyarakat peradaban. Sebagian pakar menganggap masyarak industri dan pasca-industri sebagai kelompok masyarakat yang terpisah dari masyarakat agrikultural tradisional. Masyarakat dapat pula diorganisasikan berdasarkan struktur politiknya: berdasarkan urutan kompleksitas dan besar, terdapat masyarakat band, suku, chiefdom, dan masyarakat negara.
Kata society berdasarkan dari bahasa latin, societas, yang berarti hubungan persahabatan dengan yang lain. Societas diturunkan dari kata socius yang berarti teman, sehingga society berhubungan erat dengan kata sosial. Secara implisit, kata society mengandung makna setiap anggotanya mempunyai perhatian dan kepentingan yang sama dalam mencapai tujuan bersama.
By moneng on May 26, 2008 | Reply
antropologis….
By dyan on Oct 31, 2008 | Reply
pak gamana yah cara sukses menjadi penulis !
By ggggg on Dec 4, 2008 | Reply
minta di kirimin artikel pendekatan studi islam dari perspektif antropologi
By natalius on Sep 13, 2009 | Reply
soal tentang defenisi kebudayan menurut para ahli