Inspirasi di Kolam Ikan
14 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HARUAN. Hari Minggu, terutama bagi anak-anak, sungguh menyenangkan. Dulu, ketika Erwin di Banjarbaru, dua minggu sekali kami berdua keluarga, berenang di kolam The Kalimantan Hotel, Banjarmasin. Biasa, weekend. Masuk Sabtu, check out Minggu. Bagi anak-anak sungguh menyenangkan, ya mandi di kolam hotel. Minggu sore balik ke Banjarbaru.
Begitulah, kalau hari Minggu ini mandi di kolam hotel, minggu berikutnya di kolam renang pribadi. Sejak Erwin pindah ke Balikpapan, lalu ke Jakarta, kami sekeluarga jarang ke hotel. Hampir tiap minggu, bahkan kalau sempat, sore ke kolam. Jarak rumah dengan kolam ikan, sekitar 5 km. Asyiiiik. Anak-anak gembiraria.
Sebelum mandi, biasanya menyulut sebatang rokok ditemani secangkir kopi atau teh hangat. Ada kalanya membersihkan kolam. Atau, berkeliling memberi makan ikan. Lalu, parkir di bawah pohon palem sembari menebar makanan ikan. Untuk kolam yang satu ini, biasanya berisi sekitar 5-10 ribu ekor, saya ‘menjalankan’ pikiran. Sampai hapal beberapa ikan. Sebab, dari ‘lahir’ diamati sampai seberat 0,3-05 kg. Lalu, jual.
Saat-saat begitu, inspirasi datang tak terbendung. Imajinasi, bahkan fantasi berkembang ‘liar’. Cerpen Universitas Kolam Ikan, lahir dari kolam ikan. Tak terhitung tulisan yang ditulis di otak, kemudian ditulis lewat jalur konvensional. Adakalanya membawa laptop. Minimal, membawa HP Nokia 9500 yang bisa untuk menulis puluhan tulisan.
Ikan-ikan yang berkejaran, menukik lalu menyambar umpan, atau membuat formasi ‘terbang’ kompetetitif, duh … membuai. Kalaulah tidak diteriaki anak-anak atau isteri, bisa larut deh. Otak fresh dan ide berdesakkan minta ditulis.
Biasanya, sebelum anak-anak berangkat sekolah, selepas subuh menulis satu dua artikel. Lalu, membaca beberapa koran. Kalau tidak ada kegiatan kantor atau apa begitu, membaca buku. Saya, kata banyak orang tidak bisa diam. Kalau ada waktu barang sejam saja, biasanya membawa teman-teman berkeliling sudut-sudut kota. Kalau menemukan sesuatu yang menarik, dijadikan bahan tulisan. Atau, menelepon pewarta Bandjarbaroe Post agar melakukan investigasi untuk ditulis.
Kesemua asupan otak tersebut, manakala di pinggir kolam, membucahkan ide, insprasi untuk menulis. Saya heran, kenapa banyak yang sharing menulis mengaku, kehabisan ide. Memperhatikan air mengalir melalui pipa, memunculkan ide. Kalau hari hujan, setelah panas yang agak panjang, beberapa ikan mati, ya muncul ide. Rupanya —saya tidak tahu penjelasan ilmiahnya— suhu air yang panas ditimpa air hujan, menyebabkan ikan susah bernafas. Ikan yang kurang sehat, dead.
Belum lagi, bagaimana ikan haruan (gabus) bisa-bisanya masuk kolam yang sudah dikeringkan dan diberi kapur. Padahal, semua yang bernyawa mampus karena kapur. Rupanya, ikan haruan mampu berjalan di pematang kolam, melompat setinggi 1 meter. Ikan alam itu adalah ikan tertangguh yang saya ‘kenal’ di rawa-rawa Kalimantan. Mana pula, kalau mati di musim panas, telurnya tidak terganggu. Begitu ada air, menetas.
Saya pernah menghitung-hitung, kalau hal-hal seputar kolam ikan saja, kalau ditulis bisa disandingkan dengan apa saja. Mau melengketkan dengan menulis, sikap ikhlas, sabar, bersyukur, atau kebesaran ‘kekuasaan’ Allah SWT, tidak akan habis-habis.
Dari situ dapat pembelajaran, apa-apa yang ada di Bumi kecil ini, adalah sumber inspirasi yang diberikan Allah SWT kepada kita untuk dimaknai, dipelajari, dan dijadikan pelajaran. Saya semakin yakin, tanda-tanda kebesaran Allah tersimpan pada ciptaannya.
Menangguk inspirasi, menulis di bibir kolam ikan, sungguh menyamankan. Jangan-jangan, nikmatnya pemancing pada kadar tantangan yang mendatangkan kenikmatan di rasa pada pikiran. Inspirasi menulis bisa datang dari mana saja, asal tidak ditunggu, tetapi dikondisikan. Saya mendapatkan dari pinggir kolam ikan. Kolam ikan pemantik ide, pengelora inspirasi.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 April 2007.










13 Responses to “Inspirasi di Kolam Ikan”
By sawali tuhusetya on Apr 14, 2008 | Reply
ikan dan bau kolamnya agaknya terus merangsang adrenalin pak ersis untuk selalu menulis. kreatif, pak, hehehehe
kok tamu2 di hotel malah ndak diceritakan kalau bisa jadi bahan tulisan, pak?
By mathematicse on Apr 14, 2008 | Reply
Kok Pak ersis kalau difoto sepertinya serius terus….
By hanna on Apr 14, 2008 | Reply
menyulam hujan di tepi kolam
air dan pohon sedang ritual
ikan-ikan menyerahkan dirinya sebagai sesaji
angin senja menerbangkan aku ke sini
sesuatu kudapat dan kunikmati
namun tak bisa kuikatkan sebagai puisi
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 14, 2008 | Reply
Saya bisa merasakan kegembiraan keluarga Pak Ersis. Karena ya pada saat dan setelah bertamasya bersama keluarga, sungguh menggembirakan dan seger di jiwa. Selamat bertamasya merajut kasih bersama keluarga tercinta….
By edratna on Apr 14, 2008 | Reply
Katanya jika mau mengurangi stres lihatlah ikan yang berkejaran di kolam. Makanya banyak yang mempunyai akuarium, sekedar untuk diamati sambil merenung sepulang kerja.
Saya biasanya suka merenung, saat malam yang tenang, di dekat taman kecil dihalaman rumah, Rasanya memang membuat hati sejuk, dan mengurangi kelelahan fisik.
By unai on Apr 14, 2008 | Reply
wah bisalah saya minta ikannya barang satu dua kilo…buat dibakar :)..hmmm maaf oot deh pak
By Mega on Apr 14, 2008 | Reply
Ikut seneng bacanya..emang kalau dikolam enak main2..apalagi kalau bisa berteduh..indah hidup deh..
aku dulu dikampung hobbynya mancing ikan dikolam..ada batu besar dan pohon pisang ntuk berteduh..sepulang sekolah ganti baju..pake topi..bawa nasi trus ambil ulat pisang yg ada didlm gulungan daun pisang..ntuk makanan pemancing ikan….setiap pulkam walau kolam bapakku tidak seperti dulu lagi..dh jarang ikannya masih aja tetep mancing dilakuin..heheh
Duh jadi yg diatas itu poto uda EWA ya..?…anak2nya lucu2..salam ntuk anak2 dan uni
By meiy on Apr 14, 2008 | Reply
wah yg difoto bapak dan anak2, kok beda dg foto yg di buku, di kolam mah muda 10 teuun hehehe…
inspirasi darimana saja yah pak. ikan haruan itu sama dg gabuskah pak? atau timpakul? serius saya mau tau.
By alpi on Apr 14, 2008 | Reply
buat kawan2 yang dapat keberuntungan untuk di ajak pa ersis ke kolam ikannya…. jangan sia2kan kesempatan ambil sebanyak2nya buat dibawa pulang.. pa ersis orangnya suka shadaqah kok, kalo ntar terlalu sedikit ngambilnya-karena ga enak di bilang maksimalis gratisan- beliau akan ngomong kenapa ga banyak2 ngambilnya,. tapi dia ngomongnya pas dah ga dikolam lagiii tapi dah jauh dari lokasi biar ga mungkin balik lagi hehehe…(based on experience).. pak, kapan ngajak saya lagi kekolamnya????
By Rahmadona Fitria on Apr 14, 2008 | Reply
Ass.Subhanallah, senangnya menikmati kegembiraan bersama keluarga,dikolam ikan pula.kalau lihat oranglain sedang berkumpul bersama keluarga,saya suka merasa ikut terbawa, duh nikmatnya. seperti turut merasakan suasana bahagianya.saya baru-baru ini dapat inspirasi menulis dari silaturahmi,Pak,mohon masukannya dong tulisan saya, ‘ma kasih.
***Amin.
By toni februari on Apr 15, 2008 | Reply
fotonya bikin saya iri deh tapi saya senang melihatnya hee didalamnya ada kebersamaan dan kebahagiaan…isi dunia ini adalah inspirasi tiada henti..inspirasi bagi apa saja yang manusia inginkan..ciaaaaaat
By Antik on Apr 16, 2008 | Reply
Assik ya pak berenang di kolam ikan sendiri bareng keluarga lagi.,pernah mama saya ingin bikin kolam ikan di belakang rumah tapi niatnya urung karena kalau musim hujan pasti banjir soalnya di belakang rumah saya sungai,klo banjir pasti ikan nya kabur donk.,,ya ngga jadi deh.jadi kalau ikan di sungai lagi mudik,saya dan teman2 waktu kecil dulu tinggal nyemplung aja ke sungai…hee
By arni on Apr 17, 2008 | Reply
I ngin rasanya saya bisa seperti Bapak.
Kalau saya merenung sebelum tidur sambil menatap langit-langit rumah saya yang diberi plapon. Sering saya meneteskan air mata namun tak lupa saya tetap selalu bersyukur atas nikmat dan anugrah yang telah diberikan Tuhan kepada saya dan keluarga walaupun yang saya punya mungkin hanya seujung kukunya yang dipunya orang lain.
Sekarang ini saya rajin berlatih dan belajar karena sangat termotivasi oleh apa yang Bapak katakan saat pertamabelajar memberi komentar kali saya mengikuti pembelajaran yang Bapak berikan.
Do’akan ya Pak agar saya tetap bersemangat untuk belajar walaupun usia saya sudah mencapai setengah abad.
Memang dari apa yang sudah diciptakan Tuhan banyak sekali yang dapat kita pelajari. Maaf ya Pak , ini saya baru