Ketika Pemberontak Jatuh Cinta

12 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Surat Buat KekasihBanjarmasin Post, 5 Februari 2006

Surat Buat Kekasih. Penulis: Ersis Warmansyah Abbas. Penerbit: Gama Media Yogyakarta. Tahun: Cetakan I, Januari 2006. Tebal: 144 + viii halaman, 18 cm.

Rasa ingin tahu memang selalu menjadi cirinya. Tidak peduli, apa pun dipertanyakan. Tuhan, agama, manusia, pengetahuan, dan bahkan dirinya sendiri.

UNIK. Itulah komentar pertama ketika membaca karya Ersis Warmansyah Abbas (EWA) ini. Tidak seperti buku kumpulan puisi lainnya yang berisi kalimat-kalimat indah dan mendayu-dayu, justru buku ini berisi protes, kekesalan dan luapan kemarahan terhadap kehidupan sekitar.

Ketidakadilan, pengebirian hukum, penguasaan hak asasi, penggundulan hutan, kesewenang-wenangan, tololnya penguasa, pemimpin dan aparat yang korup, penderitaan, cinta yang dikekang kemunafikan budaya, dan sederet protes ketidakpuasan Ersis menyeruak begitu saja.

Ini mungkin puisi teraneh yang ada dalam dunia sastra Indonesia. Mungkin juga dalam sejarah perkembangan sastra radikal sekalipun. Tidak ada pakem-pakeman. Tidak ada aturan main. Tulisan mengalir begitu saja seperti halnya air atau angin yang bermain dalam dunianya sendiri.

Alur tulisan terjadi begitu saja. Apa adanya. Ketika pikirannya ingin ke Barat, maka tulisan tentang jalur ke barat itulah yang tertuang dalam puisinya. Gaya penulisan campuran berbau melayu Sumatera, Batak dan Banjar mengalun begitu saja. Dan itu sengaja dibiarkan oleh Ersis. Kalimat-kalimat pendek yang tidak beraturan menjadi ciri tersendiri. Monolog menjadi acuan penulisan puisi-puisi dalam buku ini.

Dilihat dari judul dan lay out sampulnya, mungkin orang akan mengira bahwa buku ini berisi puisi romantis. Tapi orang yang berharap demikian jelas akan kecewa, karena buku ini justru berisi tentang kemarahan, protes dan kegalauan seorang Ersis. Tapi terkadang berisi kerinduan dan penghormatan terhadap orang yang dicintainya, orang tuanya atau sahabatnya.

Bagian pertama buku terlihat unik. Pendahuluan yang biasanya dijadikan gerbang pembuka sebuah buku, justru dijadikan isi tulisan. Seperti inti buku ini, bagian pertama merupakan tulisan bebas. Cara penulisannya bebas sebebas-bebasnya. Begitu alasan penulisan dituangkan, saat itu pula alam pikirannya dibawa melayang-layang. Akibatnya, bagian ini berisi wacana yang tak ada polanya. Kemana jemari mengetik, kesana tulisan berjalan. Tanpa muara.

Surat Buat Kekasih berisi suara hati, tentang cita-cita, tentang kegundahan, keinginan terpendam, perlindungan, rasa takut kehilangan serta keragu-raguan. Juga berisi tentang kehidupan orang-orang terkasih. Gaya penulisan mengalir, apa adanya. Apa yang ada di benak, itulah yang ditulis.

Surat Buat Lou Han merupakan sikap pembelaan terhadap yang tertindas. Pembelaan terhadap kesewenang-wenangan, keterpenjaraan, kemewahan yang terkurung dan yang merasa tertindas oleh kekejaman. Sebagai seorang pemberontak, Ersis berusaha menyuarakan suara-suara orang atau kalangan tertindas ini.

Baru pada tulisan Surat Buat Sang Sastrawan, Ersis mulai agak sedikit berhati-hati. Agak mendalam. Perenungan dan penjiwaan. Begitu juga Surat Buat Mata Kasih, Surat Buat Yang Maha Pengasih, dan Surat Buat Ibunda dan Bapak.

Rasa ingin tahu memang selalu menjadi cirinya. Tidak peduli, apa pun dipertanyakan. Tuhan, agama, manusia, pengetahuan dan bahkan dirinya sendiri. Surat Buat Diri merupakan cerminan rasa ingin tahunya yang amat mendalam tentang dirinya sendiri. Terjadi dialog panjang dan mendalam dengan kediriannya sendiri, dengan rohnya, dengan “sesuatu” yang disebutnya sebagai penumpang gelap.

Secara keseluruhan, buku ini cukup unik untuk dinikmati. Ada nuansa kemarahan yang tak terbendung saat menyelami isi hati Ersis dalam buku ini. Bila anda merasa sehati, seide, atau sepaham dengan pemberontakan dalam puisi-puisi ini, itulah isi hati Ersis, si pemberontak. Mengalir tanpa ditutup-tutupi.

* * *
Latar belakang pendidikan filsafatnya lebih dominan menguasai alam pikirnya daripada latar belakang pendidikan keguruannya. Sebagai seorang yang pernah belajar filsafat kehidupan secara apa adanya, jiwa pemberontakannya akan selalu muncul ketika idealismenya harus bertabrakan dengan ketidakadilan.

Bagian awal buku ini, sebagian besar berisi tentang pemberontakannya terhadap keadaan sekitar. Apa yang terlintas dibenaknya langsung ditumpahkan. Tentang kebijakan yang korup, kesewenang-wenangan, harapan yang kandas, keterpurukan dan ketidakadilan. Semua itu ditulis secara liar, seliar isi benaknya. Bagian selanjutnya merupakan monolog kehidupannya.

Apapun yang terjadi, buku ini cukup memberi warna tersendiri bagi perkembangan puisi dan dunia sastra itu sendiri. Seperti halnya lagu rap yang dijadikan simbol pemberontakan orang-orang kulit hitam, puisi ini juga dijadikan simbol pemberontakan dan perlawanan terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Kehadiran buku ini diharapkan bisa menjadi pemicu lahirnya penulis-penulis lokal. Di tengah masih rendahnya minat baca masyarakat yang dipastikan akan semakin terpuruk karena indera mata manusia yang semakin dimanjakan oleh audio visual, buku ini bisa menjadi oase di padang gersang kepustakaan lokal.

Keunikan akan semakin kental ketika melihat latar belakang Ersis yang juga seorang pendidik. Pendidik yang juga pemberontak. Seorang pria kelahiran Muaralabuh Solok Selatan 15 November 1957 lalu ini, selalu menyuarakan lantangnya teriakan ketidakadilan. Terkadang teriakan itu disuarakan melalui forum resmi, dibisikkan kepada penguasa, atau dipendamnya hingga menyesaki relung dadanya. Kali ini, anda bisa mendengarkan teriakan lantangnya melalui puisi-puisi yang ditorehkan dalam buku kecil ini.

Buku terbitan Gama Media Yogyakarta, Januari 2006 ini berisi 12 tulisan isi hati dosen FKIP Unlam Banjarmasin ini. Lebih banyak merupakan tumpahan kekesalan dan idealisme yang tak tersampaikan secara layak.

ErsisĀ  hanya memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk penyusunan buku ini.

Sigit Rahmawan Abadi

  1. One Response to “Ketika Pemberontak Jatuh Cinta”

  2. By Suhadinet on May 8, 2008 | Reply

    Saya dulu kuliah di FKIP UNLAM, saya tau betul bagaimana mahasiswa beliau, teman-teman saya mengidolakan Pak EWA. Saya juga salut dengan dedikasi beliau di dunia pendidikan. Andai saja ada lebih banyak EWA-EWa yang lain.

    ***Wow … ini pujian atau makian he he. Aza-aza sazza.

Post a Comment