Betapa Mudahnya EWA Menulis
12 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |
Menulis Mari Menulis. Pengarang: Ersis Warmansyah Abbas. Penerbit: Mata Khatulistiwa. Cetakan: I, Desember 2007. Ukuran: 12 x 18 cm, x + 170 halaman.
“MEMBACA buku ini, yakini seyakinnya, pengendala akan hilang ke ruang tak bertepi. Hambatan, ganjalan, rasa takut, minder, menyalahkan diri, atau apapun namanya, tidak akan berbekas lagi. Akan diraih penyadaran, menulis sangat mudah, mudah dan memudahkan. Menulis tak lebih bak ‘bersenda gurau’ belaka. Begitu entengnya, begitu mudahnya. Sampeyan telah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Selamat“
Buku ini benar-benar memotivasi luar dalam. Belum lagi helai demi helai halaman dibuka dan dibaca, pembaca sudah lebih dahulu dimotivasi di cover depan dan belakang buku terbitan Mata Khatulistiwa ini. “Menulis Mari Menulis” sebagai judul buku, jelas sebuah ajakan atau propaganda positif yang dilancarkan Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Untuk meyakinkan calon pembacanya bahwa menulis sangatlah mudah dan memprovokasi agar mereka mau menulis, kalimat yang tertera di atas dijadikan sebagai testimoni di cover belakang buku agar calon pembaca semakin tertarik untuk membaca dan kemudian tidak lagi ragu untuk menulis.
Menulis, bagi sebagian orang memang suatu hal yang memberatkan. Kalau tidak perlu-perlu benar dan bukan sebuah keharusan, pastilah mereka lebih memilih menghindar dari aktivitas ini. Banyak alasan yang akan diutarakan kenapa mereka enggan menulis. Malas, tak pandai, tak punya waktu, lagi buntu, tak tahu apa yang akan ditulis dan seabreg jawab lainnya dijadikan pelepas tanya. Padahal kalau saja mereka tahu betapa bermanfaatnya aktivitas menulis, pastilah takkan ada keengganan dan segala halangan yang akan dijadikan alasan untuk tidak melakukannya.
“Menulislah, bila engkau tak ingin hilang dari pusaran dunia.” Begitu kata Pramoedya Ananta Toer. Atau “Scripta Manent Verba Volan (yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)”, sebuah ujaran yang melegitimasi betapa perlunya menulis. Kebimbangan apalagi yang harus disemayamkan dalam diri untuk melakukan ini?
Merasa tak percaya diri, takut dicaci maki, salah teori, atau merasa otak tak berisi untuk mengejawantahkan buah pikir dalam bentuk tulisan, bagi EWA itu hanya alasan yang dicari-cari. Karena jauh-jauh hari, ketika SD, kita sudah diajari untuk menulis, mengenal 26 huruf (a sampai z) dan 10 angka (0 sampai 9), tinggal lagi kemauan, keberanian, keyakinan, untuk merangkainya menjadi kata, melahirkannya menjadi makna.
Abaikan dulu teori, begitu prinsip EWA untuk memotivasi pembaca agar mau menulis, menulis dan menulis. Dan untuk belajar menulis, memang harus terus menulis. Dan syukurnya dia tidak lupa untuk memberi ingat bahwa untuk menulis harus dikembangkan budaya membaca.
“Resep saya, dalam kondisi apa pun, membaca dan menulis adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan.” (hal.22) Karena menurut rang Minang kelahiran Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan yang kini menetap di Kalimantan Selatan itu, membaca berarti memahami dan menulis ulang dengan bahasa sendiri.
Dalam buku yang terdiri dari 6 bab ini, motivator penulisan yang juga dosen di FKIP Unlam itu dengan gamblang memberi motivasi. Tidak mencle-mencle dan tidak pula perlu banyak teori. Jangan pernah mengira dan jangan berharap kalau di buku setebal 170 halaman ini akan ada segudang teori, kaidah, etika menulis dan kepenulisan yang biasanya dimuat dalam buku-buku sejenis. Takkan ada pelajaran bagaimana mengeja, menuliskan ejaan, apalagi tentang ejaan yang disempurnakan. Menulis saja…. dan mari menulis, menuliskan apa yang ingin ditulis. Habis!
EWA tak sekedar memotivasi dan memberikan gambaran kepada pembaca tentang betapa mudahnya menulis. Dia sendiri menunjukkan kepada kita bahwa saking mudahnya menulis, dirinya bisa merampungkan buku ini hanya dalam satu minggu. Walah! Sebelumnya EWA juga telah memberi motivasi serupa dalam buku “Menulis Sangat Mudah” yang mendapat apresiasi tinggi dari pembaca yang dibuktikan cetak ulang sebulan setelah diterbitkan pada tahun 2007 lalu.
Karena something different yang ditawarkan EWA inilah yang membuat pembaca yang juga calon penulis (atau pernah menulis) menjadi menggebu-gebu melepas belenggu yang bikin mereka buntu untuk menulis. Di samping memotivasi, EWA juga memberi lihat kepada pembaca karya-karya yang telah ditulisnya dan dimuat di media massa serta dibukukan pula. Ada sejumlah Cerpen dan puisi yang dijadikan sebagai bukti dan pemotivasi. Terserah orang mau memuji atau akan mencaci maki, EWA pastilah takkan peduli.
Nah, alasan apalagi yang akan kita cari untuk tidak menulis. Soal tulisan kita akan dicaci maki, anggap sebagai motivasi, kalau dipuji pun tetap anggap sebagai motivasi. Yang penting harus percaya diri, mengapa EWA bisa, kita tidak?
Bagaimana menurut Sampeyan?* (max)
nb:
* merupakan kalimat penutup yang selalu dipakai EWA dalam setiap tulisannya.









4 Responses to “Betapa Mudahnya EWA Menulis”
By eswee on Apr 13, 2008 | Reply
“Merasa tak percaya diri, takut dicaci maki, salah teori, atau merasa otak tak berisi untuk mengejawantahkan buah pikir dalam bentuk tulisan, bagi EWA itu hanya alasan yang dicari-cari.”
Waduh..pas banget tuh..kayak baca pikiran saya aja.
“Karena jauh-jauh hari, ketika SD, kita sudah diajari untuk menulis, mengenal 26 huruf (a sampai z) dan 10 angka (0 sampai 9), tinggal lagi kemauan, keberanian, keyakinan, untuk merangkainya menjadi kata, melahirkannya menjadi makna.”
Nah itu dia kemauan, keberanian ama keyakinan saya sering gak bisa akur.. ketika ada kemauan..eh keyakinan ama keberanian gak dateng.
Sering takjub liat orang-orang kayak sampeyan kok bisa nulis banyak n bagus-bagus.
***Jangan takjub, tidak elok. Percayalah, Sampeyan bisa lebih hebat … asal dilakukan.
By sawali tuhusetya on Apr 13, 2008 | Reply
itu yang bikin saya salut sama pak ersis. betapa mudahnya menulis. dalam sehari, pak ersis bisa memublish antara 2-3 tulisan sekaligus, lantas jadi buku. kreatif bener. salut, pak.
***He he … kena ledek terus nich. Itu kata Max dalam resensinya. Saya belajar ajalah.
By unai on Apr 14, 2008 | Reply
Setuju banget dah dengan resensinya Damax itu…:)
By hErPAndI on Apr 14, 2008 | Reply
pa pian pakai kajian npa jd harat menulis,pian harat jua b pender,amun kaya itu pian jd polikus ja dah, kaya apa pa?
***Membaca.