Guru dan Kemampuan Ganda
11 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Seseorang, alumnus ‘ilmu murni’ (emang ada ‘ilmu keruh’) berlagak di depan rekannya yang sesama dosen di LPTK. Bangga menceritakan kehebatan kampus, dan tentu dirinya. Walah … kalau hebat, kenapa tidak mengembangkan disiplin keilmuan dan mencari makan dari apa yang dipelajarinya. Begitu seorang teman menggugat agak emosional.
Kalau mampu dibidangnya, tambahnya kesal, kenapa mengemis-ngemis bekerja di bidang pendidikan. Sudah begitu sok hebat pula. Hayo, apa buktinya? Mana penelitiannya, mana bukunya, mana jaringan mantan kampusnya ? Mana? Bisanya ‘merampas’ ranah rizki pendidikan.
Saya senyum-senyum saja, dan segera mohon diri. Jujur saja, sebal juga orang-orang berlagak seperti itu, dan lebih sebal lagi orang yang mengutuk orang lain sekadar untuk menjelekkan. Temannya pula. Ah, malas. Mendingan menulis.
Saya punya sahabat dari, apa tadi, ‘ilmu murni’ yang sesama dosen di LPTK. Sejak awal sudah wanti-wanti, kalau memilih menjadi dosen di LPTK atau guru SD, wajib hukumnya punya kompetensi, kemampuan ganda. Pertama, disiplin ilmu yang akan diajarkan. Kedua, ilmu pedidikan.
Begitulah, dia mulai membaca buku-buku filsafat pendidikan, hal-hal sepele seperti apa itu micro teaching, RPP, sampai educational tecnology. Tobat saya, ketika ‘mengajarkan’ evaluasi pendidikan. Tidak lupa dikatakan, kepemilikan —apa tadi— ‘ilmu murni’ sangat bagus untuk materi, tetapi itu saja tidak cukup. Sebab, betapun hebatnya kamu kalau tidak punya ilmu untuk menyampaikannya, ilmu kependidikan, tidak akan banyak berarti. Harus belajar.
Lalu kami berdiskusi, betapa hebatnya kampusnya; ‘dididikan’ oleh dosen-dosen yang hebat. Tidak lupa dia menyulang, dosen-dosen saya kan tidak belajar ilmu pendidikan?
Bukan begitu kawan. Pertama, mahasiswa di kampusmu orang-orang hebat. Mahasiswanya terseleksi dari calon yang hebat. Jangankan diajar dosen hebat (materi), dikasih buku saja mampu belajar mandiri. Contohnya kamu, he he. Saya sekampus dengannya ketika belajar —apa tadi — ilmu murni.
Kedua, dulu ada namanya Akta Mengajar V. Kamu saja yang bebas merdeka menjadi dosen tanpa bekal ilmu pendidikan. Makanya, sejak kamu menjadi dosen, ada guru-guru yang ‘rusak’, he he. Ketiga, dosen non-kependidikan itu kan orang ilihan, mereka belajar dari pengalaman, The experience the best teacher.
Ya, sudah, pokoknya kalau menjadi dosen, kalau bukan dari ilmu kependidikan, ya belajarlah ilmu pendidikan. Kalau dari kependidikan, perkuat bidang keilmuwan. Bukan berlagak, atau bernostalgia. Hidup dan kehidupan adalah kenyataan.
Prinsip dasar yang kami diskusikan adalah, menjadi ‘guru’ tidak semudah yang dibayangkan, atau disepelekan banyak orang. Banyak hal ideal yang harus dipagut erat. Sayangnya tulisan ini tidak membahas hal tersebut. Menjadi guru banyak disyarat.
Artinya, apakah itu guru TK, SD, SMTP, SMTA, atau PT, tuntutan idealnya sama; menguasai bidang keilmuan dan ilmu kependidikan. Keduanya diramu sedemikian rupa sehingga menciptakan iklim kondusif bagi terciptanya suasana pembelajaran efektif dan tepat sasaran; mengembangkan potensi peserta didik.
Kalau begitu, menjadi guru (dosen) tidak semudah yang dibayangkan dong? Ya, iyalah. Guru yang kompetensi keilmuannya bagus, tetapi dungu ilmu kependidikan, atau hebat mengajar namun cekak ilmunya, tentunya sangat buruk. Keduanya harus menjadi dirinya dan mampu berkreasi meramunya untuk kepentingan pendidikan.
Sudah begitu, salary untuk pekerja ‘pemilik’ dua bidang keilmuan tersebut, sungguh sangat jauh dari ideal. Untuk menjadi guru SD wajib berkualifikas sarjana, menjadi presiden cukuplah tamatan sekolah menengah. Sudah begitu, menguasai bidang keilmuan dan memiliki ilmu kependidikan.
Berat disyarat, tapi minim pendapatan. Guru adalah tumpuan harapan, namun mimpi guru dengan kesejahteraan pantas. Kalau punya anak perawan, berpikir-pikirlah menerima mantu seorang guru he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 11 April 2008.









7 Responses to “Guru dan Kemampuan Ganda”
By Kayon on Apr 11, 2008 | Reply
Jadi mikir dua kali nih Pak, mau jadi guru. Pikirnya sih gampang, siapkan materi semalam dua malam, sisipkan animasi satu dua buat pencegah kantuk, serta berbekal dobosan cerita rodo-rodo saru. Soal siswa paham atau gak, itu urusan lain. Ternyata jauh lebih sulit dari yang saya bayangkan. Jadi muridnya Pak EWA saja dulu laah…
By enggar on Apr 11, 2008 | Reply
Iya, Pak. Jadi guru tidak sekedar punya ilmu untuk bidangnya tapi terutama ilmu kependidikan itu sendiri. Walaupun masih banyak juga yang menggampangkan. Tapi, biarlah :).
By sawali tuhusetya on Apr 11, 2008 | Reply
sepakat, pak ersis, kemampuan menguasai ilmu kependidikan dan “ilmu murni” *halah* memang sudah seharusnya menyatu ke dalam ranah kompetensi seorang dosen atau guru. penguasaan kedua disiplin inilah yang akan membawa wacana2 keilmuan ke dalam kelas melalui strategi pembelajaran yang menarik dan kontekstual.
By mathematicse on Apr 11, 2008 | Reply
Iya sih, terkadang orang-orang yang katanya lulusan ilmu murni, dari PT terkemuka, seringnya sombong. Berlagak paling hebat. Padahal…
(udah ah ga boleh ikutan nambahin omongan, udah jelas tertulis di artikel ini..
).
Tapi kok ujung-ujungnya, di paragraf terakhir jadi ga enak… wakakakakakakakakak…
(nasib seorang guru yang belum laku nih Pak… ) 
By noorlatifah on Apr 11, 2008 | Reply
Akur pak ae, tupoksi guru itu bukan hanya mengajar atau cuman menyampaikan materi pelajaran kepada muridnya tapi juga mendidik. Dan ini memerlukan cara atau teknik dan ini yang perlu dimiliki seorang guru, itu yang dinamakan ilmu mendidik. Makanya tidak semua orang mampu menjadi pendidik (pendidik yang baik gitu).
By Iwan Awaludin on Apr 11, 2008 | Reply
Jaman berubah, yang katanya yang tidak berubah itu ya cuma perubahan itu sendiri. Ngejar ilmu menjadi pendidik yang berubah itu gimana ya Pak? Soalnya kalau ngejar kompetensi keilmuannya bisa lewat baca paper dan membuat paper. Lah kalau ngejar ilmu pendidikannya, apa harus ikut pelatihan macam NLP, Quantum Teaching, dan metoda lain yang harganya juga sudah selangit? Kalau pelatihan menjadi pendidik yang biasa dilakukan di sekolah atau kampus sih, rasanya dari dulu ya gitu-gitu aja deh ngga ada perubahan.
By ichsan on Apr 14, 2008 | Reply
guru guru sekarang ga bisa ndidik, cuma bisa ngajar doang! dah gitu, masih aja egois, mo bener ndiri, dibenerin muridnya malah marah marah. sorry bilang gitu, banyak guru smaku dulu kayak gitu. sekarang malah pada ikutan demo minta kenaikan gaji. perbaiki dulu kualitas, baru minta kesejahteraan!!
***SEbagai pendapat sah-sah saja. Sejelek-jeleknya, guru juga kan, yang membuat kita pintar he he …