Jujur Diri

10 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AKBAR ALAMSYAH HIDAYAT: As. WW. Pak bagaimana caranya menuangkan isi pikiran ke dalam tulisan secara gamblang tanpa ada rasa takut. Saya sudah mencoba, tetapi tetap saja tidak bisa. Tolong Pak.
Was. WW.

ELING. Apa yang menjadi persoalan Akbar sudah pernah ditulis dalam versi berbeda. Mungkin Akbar belum membacanya. Tidak apa-apa. Saya ‘menjawab’ sesuai dengan apa yang sedang terpikirkan. Kalau agak menohok ‘kebiasaan’, persepsi, atau bentukan mindset, mohon maaf. Tidak bermaksud ‘meledek’ siapa pun. Saya pernah mengalaminya, dulu. Menulis gamblang sangat mudah. Asal, jujur. Jujur pada diri, pada pikiran, pada apa yang akan ditulis.
 
Kalau begitu, torang tidak jujur dong Pak? Apa boleh buat, yes. Tapi, bukan dalam arti relasi sosial. Tidak jujur dalam arti komitmen dengan diri sendiri, dalam hal ini menulis. Kenapa kita susah menulis? Kenapa terkendala? Ya, tidak jujur.
 
Pertama, misalkan kita baru memulai (belajar) menulis, tetapi tulisan dibanding-bandingkan dengan karya Goenawan Mohammad atau Hamka. Artinya, tidak tahu diri. Tidak jujur dengan kemampuan. Kalau pendidikan S1 ya berlakukah sebagai sarjana. Ini tidak, pendidikan sarjana tapi ‘menempatkan’ diri bak alumnus s3, seolah sepantaran Doktor.
 
Saya punya kiat begini. Tidak paham apa hiatus, OOT, dan istilah-istilah bloger. Tanya, habis perkara. Kalau berlagak tahu, kan mendustai diri sendiri. Ketika awal menulis, menulis saja sesuai kemampuan. Ibarat tangga, kalau pada posisi tangga pertama, ya pertama. Masyak kaki baru menginjak tangga langsung ke puncak tangga.
 
Kedua, punya pengetahuan tentang kuda, misalnya. Eh … menulis, atau memaksakan menulis, tentang psikologi. Ya, tidak macthing. Misalnya saya, punya kebiasaan jelek malas membaca ulang tulisan (jangan ditiru ya), tentu berakibat sering salah (ketik). Ya jujur saja, memang salah kog. Paling-paling minta tolong isteri atau teman mengeditnya.
 
Peduli amat orang bilang: “Kalau menulis kudu hati-hati, jangan salah ketik”. Itu katanya. Saya malas. Karena kekurangan tersebut, atau demi mengikuti anjuran yang sangat bagus, sekali lagi sangat bagus, dan tidak bisa dipenuhi, lalu berhenti menulis. O hoi … rugilah awak ni. Mau menertawakan atau mencaci-maki silahkan. Kemampuan saya yang segitu. Jujur saja, dan tidak usah malu.
 
Semua kita, maunya yang serba sempurna. Wajar. Tapi, kita kan mempunyai keterbatasan, ya terima saja apa adanya. Biar saja dulu. Kalau sudah sadar, jujur pada diri, baru memulai memperbaiki step by step. Kemampuan belum memcukupi, ya sadari saja, dan … perbaiki. Belajar, belajar, dan belajar.
 
Ketiga, kita mau menulis tentang ‘Keanehan Indonesia’. Misalkan, bangsa besar dengan ribuan sarjana tehnik, ahli-ahli tehnik, tetapi untuk membuat sepeda motor nasional saja tidak mampu. Lulusan perguruan tinggi terbaik, berebut menjadi pegawai di multi national corporation (MNC). Kalau begitu ceritanya, sepanjang umur republik ini akan menjadi kacung negara lain. Sudah begitu, … mengurusi pendidikan, kehutanan, politik, atau apa begitu. Kalau semakin ruwet, kan wajar tu. Nah, tulis saja sesuai yang dipikirkan. Tulis, tulis, pasti jadi tulisan. Jangan mempertimbangkan apa pun. Tulis.
 
Kalau sudah selesai, mau dikoreksi, mau ditulis ulang, atau tidak jadi dijadikan konsumsi umum, baru cerdas namanya. Itulah yang saya maksud dengan jujur diri. Jujur menulis apa yang ada di pikiran, menuangkan pikiran. Bagaimana kalau dianggap kurang pantas, Pak?
 
Itu lebih cerdas. Musuh menulis, munafik menulis itu kan apabila menulis sesuatu, ketika sedang menulis berbagai pertimbangan dibiarkan bebas bergabung. Kalau demikian ceritanya, dijamin tidak akan menjadi tulisan. Tidak akan bisa gamblang menuangkan pikiran.
 
Jadi, kalau berkeinginan menulis secara gamblang, sebagaimana yang dipikirkan, jangan pernah diintervensi apa pun. Tulis sampai selesai. Tuntas menulis. Setelah menjadi tulisan, silahkan pisau pertimbangan dikenakan.
 
Menulislah sampai selesai. Kurang baik, biar. tulis lagi. Lama-lama akan baik, sebab kita tahu kekurangan dari tulisan yang telah menjadi, bukan dari apa yang akan ditulis. Jujurlah … padaku … eh dalam menulis.  
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 April 2008.

  1. 3 Responses to “Jujur Diri”

  2. By Hery Azwan on Apr 10, 2008 | Reply

    Benar, Bos. Salah satu ketakutan orang yang akan menulis adalah apakah tulisannya cukup pantas ditayangkan, atau apakah tulisannya berbobot. Dari pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati ini akhirnya tak satupun tulisan yang “keluar”.

    Saya setuju dengan pendapat Bos. Kita harus jujur. Tulislah dari yang kita lihat dan rasakan sehari-hari.

    Masalah-masalah kecil, jika ditulis dengan jujur, tetap akan menarik pembacanya. Sebaliknya, masalah besar yang ditulis tanpa pemahaman yang memadai akan menjadi garing. La iya lah…

    Salam buat Bos.

  3. By german on Apr 10, 2008 | Reply

    itu sih pendapat bapak, lagian ngga ada salahnya –sah-sah saja– orang ingin membandingkan oretan tangannya dgn oretan tangan sekelas hamka, el shirazy, goenawan mohammad atau oretan-oretan tangan brilian lainnya. walaupun tidak mencapai tak mengapa, lagian bagaimana pun juga tulisan tetaplah tulisan, tulisan akan memiliki ruh dan kekuatan manakala tulisan tersebut memberikan inspirasi terhadap pembacanya, seperti tulisan bapak (jgn ge’er)…

  4. By hanggadamai on Apr 11, 2008 | Reply

    yang penting dari suatu tulisan adalah semangat menulisnya.

    ***Tinggal dimatangkan, semangat dibagun, OK!

Post a Comment