Menulis Menyemangati
9 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis armansyah Abbas
TONI WAHID: Terimakasih untuk selalu memberikan semangat untuk menulis. Salam Pak Ersis.
POTENSI. Saya bukan ahli psikologi. Pernah belajar dan membaca buku-bulu psikologi, ya iyalah. Lebih penting dari itu, adakalanya merenungi ‘perjalanan’ kehidupan, dan atau, mengamati lingkungan paling dekat. Simpulan sederhananya, kehidupan manusia, setidaknya dibalut tiga hal: menerima apa-apa yang di luar diri, memproses apa yang diinput berdasarkan ‘potensi diri’, dan kemudian mengeluarkan apa yang telah menjadi dirinya.
Begitulah, sekalipun ketika dilahirkan bak kapas putih, sebenarnya sudah memiliki potensi bawaan, yang kemudian dalam pengelaan spritual, saya pahami sebagai titipan Asmaul Husna. Sifat-sifat Allah telah melekad begitu ruh ditiupkanNya. Pengembangannya tergantung dari apa yang diinstal, apa dan bagaimana memprosesnya, dan sampai pengeluarannya. Pada tataran demikian adalah wilayah pilihan manusia.
Berdasarkan itu pulalah, saya punya keyakinan, setiap orang mempunyai potensi menulis. Sejak lahir proses tersebut telah berlaku. Kita diajarkan segala sesuatu, dibiasakan mengerti dan memahaminya, yang setelah terjadi proses di otak, dikeluarkan. Ya, kita diajarkan bicara; mengucapkan banyak hal. Begitulah pendidikan dasar dalam keluarga.
Jenjang input, proces, dan output adalah kehidupan. Berhentinya satu dari tiga serangkai tersebut berakibat involusi. Kalau ketiga-tiganya mandeg, berarti mati. Sekalipun hal ruh belum tuntas dipahami, pengertian kita sampai pada, apabila otak stop berperan berarti wassalam.
Dalam kaitan menulis, apa yang kita maksud dengan bicara, pada kelanjutannya dibiasakan dengan menulis. Berbicara dan menulis, begitu juga body langguage dan bahasa isyarat adalah penampakkan diri ke dunia luar. Kita tidak bisa (elok) hidup sendiri.
Proses ‘penampakkan’ diri berlangsung sepanjang kehidupan. Dengan ketampakkan ‘diri’ dilihat oleh lainnya, komunikasi bisa dijalin, dan ide bisa saling dilempar dalam membangun kehidupan bersama atau pun individual. Satu tampakkannya, menulis. Menulis adalah penampkkan diri dengan maksud dan tujuan yang terserah formulasinya kita bangun seperti apa.
Jelaslah sudah, menulis dalam pemahaman demikian bukan sesuatu yang sulit. Bahkan, tidak perlu diajarkan, Menulis Tanpa Berguru. Guru menulis sesunguhnya adalah masing-masing diri kita; kita adalah murid sekaligus guru menulis untuk diri sendiri. Lalu, bagaimana peran lainnya?
Saya tergugah kalimat Toni Wahid … memberi semangat menulis. Ya, ya, yaaaaaaaa. Barangkali pada posisi demikianlah saya menempati diri dengan ratusan artikel dan beberapa buku. Menyemangati menulis. Sebab, proses menulis telah berlansgung bersamaan dengan kehidupan itu sendiri.
Bisa jadi, kita gagap menulis karena tidak dilatih, tidak dibiasakan. Padahal, sebenarnya kita selalu menulis, menulis di otak. Otak kita menulis (merekam) apa-apa yang ditangkap dari luar diri; tiap hari, tiap detik, tiap saat. Dalam keadaan apa pun, pada kesempatan manapun. Selalu menulis.
Yang ingin saya semangati adalah menulis ‘konvensional’ yang sebenarnya begitu mudah. Sebab, kita hanya melanjutkan pekerjaan otak yang setiap saat menulis, mengolah informasi, yang kemudian tertahan menjadi pemikiran, gagasan, atau ide. Ide-ide ditumpuk tiap saat. Saking banyaknya, ibarat komputer hang, menjadi susah dikeluarkan, ditulis.
Karena itu, mari melatih mengeluakan apa-apa yang sebenarnya sudah ada di otak, memasihkan menuangkan pikiran, belajar menuliskannya. Caranya?
Hanya ada tiga jalan. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketiga, terus menulis. Kalau punya cara lain, sebaiknya tidak melanjutkan membaca tulisan-tulisan saya tentang menulis. Sebab akan menghabiskan energi dan waktu saj. Tapi, kalau mau mempraktikkan ‘cara kuno’ sebagaimana saya praktikkan, do it.
Mari menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 April 2008.









3 Responses to “Menulis Menyemangati”
By Toni on Apr 9, 2008 | Reply
It’s true Pak, this blog given me an endless spirit to write in my blog, otherwise I had deleted all my posting karena patah semangat. Tulisan di blog ini kan simpel dan tidak berusaha untuk menggurui. Jadi kalau sudah mentok mau nulis apa, saya mencari “obat” di blog ini karena Pak Ersis sekali lagi, selalu menyemangati setiap orang untuk menulis. Thanks karena quote comment saya di awal tulisan. Salam pak Ersis.
***Yeah, tq 4 u atention … endless spirit he.
By Yosman on Apr 27, 2008 | Reply
Apakah tidak adan perlombaan menulis puisi untuk kali ini?
***Ada dong. Kan ada pengumumannya.
By Yosman on Apr 27, 2008 | Reply
Hai pak, aku memiliki beberapa puisi jadi aku bingung entah mau aku apain puisi ku ini. Khan gak mungkin ku simpan2 aja terus.
Thanks
**terbitkan. Kalau disimpan berarti yang baca sendiri aja dong, kasihan yang lain.