Menulis Menyampaikan
9 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HANGGA DAMAI: Punya ilmu itu harus disampaikan ya … Itu namanya ilmu yang anda miliki sangat bermanfaat Pak.
GO-BLOG. Alkisah, pada pertengahan 2006, sahabat saya, Erwin Dede Nugroho, mengajukan hal baru yang sebelumnya tidak terpikirkan. Anak muda yang pada umur 23 tahun tersebut telah menjadi General Manager dan Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin tersebut kira-kira berkata begini: “Bos, tulisan pian itu banyak banar sudah, napa kada membuat blog. Jangkauannya bisa lebih luas, dan menulis bisa tanpa batas, lho”.
Erwin, mempertontonkan blognya. Menarik. Biasanya ngenet tak lebih dari sekadar mencari informasi. Ngeblog? Ah, saya kan gagap teknologi. “Bos, kalau begitu tolong buatkan cashing blognya. Ajarin ‘mengoperasikan’ sekalian”.
Kursus singkatlah malam itu. Walau berikutnya sering bikin repotnya, saya belajar dan mempraktikkan dengan slowly but sure. Setelah agak fasih, dan dalam beberapa bulan, rupanya www.webersis.com setelah sebelumnya ‘bermain’ di blogdrive, blogsome, blog, akhirnya hinggap di wordpress, rupanya ramai dikunjungi. Mencuat (rasa) kewajiban menyebarkan ilmu berian Erwin.
Korban awal anggota KP EWA’MC0. Semua wajib punya blog. Lalu, saya melatih mahasiswa-mahasiswa pengambil mata kuliah saya, terus guru-guru SD, SMP, dan SMA. Pada awalnya ditangani sendiri. Karena peserta semakin hari semakin banyak, saya ‘latih’ khusus Syamsuwal Qomar dan Suciati. A haa … punya asisten deh.
Saya sadar perilmuan komputer dan internet masih cekak. Tetapi, apa yang dipunyai bukankan sebaiknya disampaikan? Dibagi buat sesama. Saya diajarkan gratis oleh teman, dan mengratiskan pula pada yang lainnya. Itulah mungkin yang dimaksudkan Hang Damai, ilmu harus disampaikan.
Akan halnya menyampaikan kiat-kiat menulis, (maaf) bagi saya menulis itu bukan persoalan besar. Manakala ingin menulis, tulis, dan jadilah tulisan. Sementara keheranan semakin menjadi, sebab, semakin banyak yang bertanya: “Pak bagaimana ya agar bisa menulis seperti Bapak?”. Bosan menerima pertanyaan sekaligus harapan seperti itu, separoh dari tulisan diarahkan seputar hal-ikhwal menulis.
Luar biasa. Tanggapan datang dari mana-mana. Yang mencaci-maki, sekalipun ada, dibanding yang merasakan mendapatkan manfaat lebih banyak. Semangat semakin menjadi; menyampaikan sedikit kemampuan yang dipunyai agar berguna bagi yang lain. Itukah yang dimaksud Hang Damai dengan: Punya ilmu itu harus disampaikan? Mudahan saja.
Maksud saya, kalau sesuatu yang kita ‘punyai’ diprediksi bermanfaat, sebaiknya disampaikan. Ya, dibagi-bagi agar dapat direngkuh banyak orang. Bayangkan, Ersis yang baru paham sedikit hal tentang internet kog berani-beraninya menyampaikan.
Dengan kata lain, kita tidak harus menunggu menjadi ahli, atau belajar sampai S3 segala macam untuk berbagi. Sekalipun ada juga hal mengelikan. Ada yang menyangka, Ersis jago internetan. Yo, opo rek. Malu-maluin aja. Tapi, biar saja. Kan bukan saya yang merasa hebat he he.
Begitulah, pengetahuan (ilmu) sejauh bisa dipertanggungjawabkan sebaiknya disampaikan. Berbagi tidak ada salahnya. Apalagi, kalau Sampeyan ahli tentang sesuatu. Mana tahu, bermanfaat bagi yang membutuhkan.
Menulis menyampaikan, tidak salah juga bukan? Menyampaikan hal-hal yang bermanfaat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 April 2008.













9 Responses to “Menulis Menyampaikan”
By hanggadamai on Apr 9, 2008 | Reply
cukup kaget juga melihat komentar diriku dijadikan salah satu postingan.
bagi diriku, tulisan anda semua ini mengalir apa adanya sehingga para pembaca memahami apa yang anda ingin sampaikan.
Memang seperti itu yang ingin diriku sampaikan.
Ilmu yang bermanfaat alangkah baiknya disampaikan.
Saya pun sangat setuju dengan menulis itu menyemangati, menyenangkan dan menyampaikan.
***Yoi.
By sawali tuhusetya on Apr 9, 2008 | Reply
sepakat, pak ersis, sharing ilmu itu bikin ilmu kita justru makin bertambah!
***Ya ya ya
By noorlatifah on Apr 9, 2008 | Reply
Bila sampai waktu kita untuk menghadap Yang Maha Kuasa maka putuslah segala amal kita kecuali 3 hal:1. Amal jariah,2. ilmu yang bermanfaat, 3. Anak yang sholeh. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang pernah kita sampaikan kepada orang lain dan ilmu tersebut dapat digunakan orang dalam hal kebaikan baik dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Nah beruntunglah wahai Guru!!!!
By Hery Azwan on Apr 9, 2008 | Reply
Ilmu yang bermanfaat termasuk juga di dalamnya blog yang bermanfaat kan? Wah, tulisannya banyak banget….
Salam kenal…
***Amin. Sama-sama.
By arif on Apr 9, 2008 | Reply
Saya sependapat, Pak. Makanya, walaupun ilmu masih sedikit saya kadang beranikan diri untuk membuat panduan praktis. Semangatnya hanyalah berbagi.
***Yap berbagi tidak perlu jadi doktor atau konglemrat he he
By mathematicse on Apr 9, 2008 | Reply
Iya Pak, sampaiakanlah walau cuma satu “ayat”. Sampaikan apa yang kita tahu, niscaya dia akan melekat dalam diri kita (insya Allah tidak lupa).
Kalau kata orang tua jadul (baca: jaman dulu), kalau kita menyampaikan alias mengajarkan ke orang lain tentang ilmu atau pengetahuan yang kita miliki, niscaya ilmu itu akan jadi milik kita (ilmunya akan masuk ke dalam “perut” = bukan lagi di kepala, melainkan ke seluruh jiwa).
Maksud milik kita itu, mungkin, karena ilmu yang kita sampaikan itu merupakan amal jariah kita yang insya Allah akan menolong kita di akhirat kelak.
***Maksih supornya. Amin.
By jimmy on Apr 10, 2008 | Reply
setuju sekali.. kalau punya ilmu memang jangan pelit, bagikan saja karena bisa bermanfaat buat orang lain. kalau kita memberi manfaat untuk orang lain, kita juga pasti akan menerima manfaat.. jangan mau cuma menerima tanpa memberi
***Yap … jangan mau cuma menerima tanpa memberi. Salam.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 10, 2008 | Reply
Iya, pak. Saya juga jadi tertantang untuk menyampaikan apa yang saya ketahui walau satu deret tulisan dst.