Tanggung Jawab pendidikan Anak

8 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Bu Guru TK (di Batam, siapa ya?)

SUDAH menjadi aksioma bahwa orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan anak. Orang tua adalah guru pertama bagi anak. Seyogiyanya, sejak menanti kelahiran anak, bahkan sebelum menikah, calon orang tua telah merancang bagaimana pola asuh dan metode mendidik anak-anaknya. 
 
Idealnya, ibarat calon guru, orang tua  mempelajari seluk beluk menjadi seorang pendidik. Tetapi sayang, kenyataan di kehidupan yang serba canggih dan serba materi ini, hal yang dikhawatirkan bukan mengenai pendidikan, tapi masalah uang. Apakah ada uang untuk membeli susu? Apakah mampu membahagiakan anak?
 
Bukankah Allah SWT sudah memberikan anugerah pada setiap ibu? ASI; air susu ibu. Aneh, yang dipikirkan membeli susu anak. Ada ASI gratis yang diburu susu sapi. Allah SWT telah mengatur rezeki seorang (anak).
 
Padahal, yang paling mendasar dipikirkan adalah, akan menjadi apa anak kita nanti? Sanggupkah kita menjadi orang tua yang baik? Anak adalah amanah Allah yang harus dijaga, dipelihara, dan dibimbing agar kelak bisa mempertanggung jawabkannya pada Sang Pencipta.
 
Pendidikan anak, mengutip Ki Hajar Dewantara, dilakukan tiga pilar, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Setelah pendidikan dasar oleh orang tua, anak melanjutkan pendidikan ke sekolah formal. Di sekolah anak di didik dan dibimbing oleh guru. Guru menjadi orang tua kedua bagi anak. Karena itu, antara orang tua dan guru harus mempunyai hubungan dan komunikasi yang baik demi tercapainya tujuan pendidikan.
 
Dengan demikian, anak merasakan rumah seperti sekolah, dan sekolah bagaikan rumah. Di rumah punya ibu, di sekolah ‘mendapatkan’ ibu; Rumahku Sekolahku dan Sekolahku Rumahku. Kalau sudah demikian, Insya Allah keberlanjutan pendidikan anak akan memberi pengalaman postitif.
 
Pendidikan anak selanjutan adalah lingkungan tempat tinggal. Pengaruh lingkungan, dalam hal ini masyarakat, sangat berpengaruh pada kehidupan seorang anak. Anak berinteraksi dengan masyarakat seputar tempat tinggalnya.
 
Jika ketiga unsur (keluarga, sekolah dan masyarakat) bisa bekerjasama dengan baik, Insya Allah akan lahir generasi muda yang kuat dan tangguh. Tapi … pembaca budiman, mungkinkah terwujud?
 
Mari kita Tanya diri masing-masing. Tanyalah diri sendiri, apa yang bisa dilakukan dan disumbangkan untuk generasi masa depan bangsa. Jangan saling menyalahkan satu sama lain, orang tua menyalahkan sekolah, sekolah menyalahkan orang tua, sementara masyarakat masa bodoh dan merasa tak punya urusan.
 
Pendidikan anak tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Begitu juga pemerintah, sebagai otoritas pendidikan bangsa, diharapkan lebih serius memperhaikan pendidikan untuk generasi penerus bangsa. Tidak elok pula seluruh beban pendidikan diletakkan pada pundak pemerintah.
 
Dengan kata lain, pendidikan yang dimulai di keluarga, dilakukan sebaik mungkin. Sekolah mendidik secara benar, dan ketika berintegrasi dan belajar dari masarakat, masyarakat menjadi yang baik. Dan, pemerintah memberikan fasilitas untuk semua itu.
 
Pilar-pilar tersebut menjadi garansi kekuatan bagi generasi mendatang. Pendidikan anak yang menjadi tanggung jawab bersama.
 
Batam 7 April 2008.

  1. 2 Responses to “Tanggung Jawab pendidikan Anak”

  2. By nik on Apr 10, 2008 | Reply

    Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://infogue.com
    http://infogue.com/pendidikan/tanggung_jawab_pendidikan_anak/

  3. By Mata Hati on Apr 11, 2008 | Reply

    terima kasih pak tulisan saya bapak muat disini, saya baru hari ini membacanya karena belakangan ini tidak membuka internet. sekali lagi terima kasih pak, semoga motivasi-motivasi bapak selalu menguatkan tekad saya.

Post a Comment