Orang-Orang Pemarah

8 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Erwin Dede Nugroho

ORANG kampung tetaplah orang kampung. Atas nama rasa udik, saya belum kunjung mengerti mengapa begitu sulit memahami peradaban orang kota; sibuk, tergesa-gesa, sedikit senyum, egois dan, ini yang rasanya cukup penting: gampang sekali marah-marah.
 
Saya menjumpai orang-orang aneh ini setiap hari, terutama di jalan raya. Di kampung, saya biasa berkendara sambil membuka jendela, lantas melambai tangan menyambut tegur sapa bukan saja teman, tapi boleh jadi entah siapa. Di kota, di sepanjang jalan saya harus menutup rapat semua akses kabin kendaraan dengan dunia luar, selain karena polusinya sangat tak bersahabat, orang-orangnya pun demikian juga.
 
Udara panas, jalanan sesak, hiruk-pikuk, orang-orang sibuk dengan urusan dan pikirannya masing-masing. Sopir angkot dengan urusan kejar setoran, yang karena itu bisa berhenti di mana suka, tak peduli di belakang sederet panjang kendaraan tersendat ingin lewat. Sopir bus begitu juga, bodi boleh bongsor tapi gerak selincah sedan. Sepeda motor, jangan ditanya. Kalau ada lajur busway sedang nganggur bisa jadi lintasan trek-trekan. Bajaj? Jangan pernah bayangkan pengemudinya sesopan Bajuri.
 
Macet. Tapi tidak bagi pejabat. Di tengah lalu lintas, yang, meminjam istilah penyiar radio “padat merayap” itu, para penggede dikawal aparat, yang dengan kasar membuka jalan dengan meminggirkan semua kendaraan. Tak cukup dengan sirine mengaung, tangan dan mulutnya pun mengarahkan dengan hardik tak bersahabat.
 
“Inilah Jakarta,” hibur seorang teman. “Kau mungkin baru merasakan sebagiannya. Masih banyak hal lain yang harus dinikmati.”
 
Setelah lebih sebulan di ibukota, saya sadar tak harus lebih dulu berjumpa ibutiri untuk merasakan kekejamannya. Orang-orang yang marah, mengumpat, menghardik, sumpah dan serapah, memadati jalan-jalan raya. Mulut mereka kotor. Wajahnya tak bersahabat. Seperti ingin menerkam. Kalau siang, berselisih jalur sedikit saja dijamin dapat hadiah klakson panjang. Bila malam, sudah terbiasa disiram lampu dim yang menyilaukan.
 
Di kampung bukannya tak ada pemarah. Tetapi keramahan adalah tabiat sebagian besar orang. Orang kampung bila marah tak perlu mengumpat dan banyak bicara. Langsung saja ambil belati, sodok, selesailah hajat. Di kota, orang tampaknya lazim hidup dalam caci-maki. Tidak benar-benar berkelahi. Ini yang bisa bikin orang kampung sakit hati – karena merasa ditantang duel padahal lawan hanya memprovokasi dengan mulutnya yang bau sampah.
 
Untungnya saya belum kapok, dan mudah-mudahan tidak, untuk terus belajar jadi orang kota. Sebisa mungkin menghindari keluyuran di saat jalanan padat, daripada itu tadi: sakit hati karena orang-orang pemarah itu juga ternyata tak mau diajak berkelahi. Rupanya, kepentingan mereka memang hanya marah-marah. Itu saja.
 
Hei, apa kabar Anda semua?

  1. 4 Responses to “Orang-Orang Pemarah”

  2. By hanggadamai on Apr 8, 2008 | Reply

    mang mesti sabar klo jadi orang kota..

  3. By noorlatifah on Apr 8, 2008 | Reply

    Tidak pandang hidup di kampung maupun di kota, yang namanya pemarah itu merupakan sifat/ tabiat seseorang.Jadi kalau ada sedikit saja sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya maka dia akan marah, sumpah serapah atau apapun akan terlontar dimulutnya. Namun sifat pemarah bisa diredam kok.
    Pak kapan dilanjutin kami diajarin ngeblognya lagi? Hehehe………

  4. By meiy on Apr 9, 2008 | Reply

    selamat jadi orang kota pak win, semoga pak win tetap bersikap seperti orang kampug yg ramah, gak ketularan :)

  5. By Anang on Apr 9, 2008 | Reply

    kota sangat jauh dibandingkan dengan di kampung… di kampung kita merasa lebih damai tentram dan menemukan ketenangan hati… sangat berbeda dengan apa yang ada di kota…… tetep sabar dan jalani apa adanya pak

Post a Comment