Melahirkan di di Indonesia
8 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Suryanita
AKU ingat waktu melahirkan anak pertama di Jepang. Mendapatkan pelayanan yang sangat bagus, benar-benar ditangani dokter ahli. Setelah anak lahir diberi keterangan memuaskan untuk mendapatkan perawatan dan pengechekan perkembangan bayi sampai imunisasi.
Aku ingat melahirkan anak kedua di Indonesia. Di rumah sakit dan ditangani dokter terkenal bergelar Prof. Dr. DSOG … waduh panjang benar gelarnya. Ceritanya, lima bulan sebelum melahirkan, aku sampai di tanah Air. Aku telah merasa tenang karena mendapatkan dokter terkenal. Rutin dan rajin konsultasi ke dokter.
Lagi pula, aku membawa surat keterangan dari rumah sakit di Jepang. Diprediksi melahirkan 28 Oktober. Tapi, kata dokter: ”Tidak perlu surat keterangan dari dokter sebelumnya karena kandungan ibu masih muda”.
Selang beberapa bulan berkonsultasi, heran juga, setiap dilakukan pengechekan tidak memakai monitor. Menurut Pak dokter: ”Pengechekan dengan monitor cukup sekali atau dua kali”.
Aku tanya: “Kenapa di Jepang selalu pakai montor?” Pak Dookter diam saja. E … suatu hari aku disuntik. Heran, aku bertanya: “Kok disuntik? Di Jepang tidak pernah disuntik”. Dijawab: “Imunisasi”. Tidak pula diberi tahu suntikan apa. Yang disuntik pantat, padahal kalau di Jepang di tangan. Anak pertamaku menangis ketakutan melihat ibunya disuntik di pantat.
Lebih heran, dokter selalu memberi obat berukuran sangat besar dan warna warni. Padahal, di Jepang dilarang mengkonsumsi obat. Kalau kurang darah disuruh mengkonsumsi sayuran yang banyak kalsiumnya dan zat besinya.
Kemudian pintu rahimku dicek, apakah pintu satu atau dua sudah terbuka. Dokter memberikan surat keterangan untuk menginap di rumah sakit. Pilihanku rumah bersalin Annisa. Rumah bersalin terbaik di kota kelahiranku.
Waduh, sebulan sebelum melahirkan sudah masuk rumah bersalin. Walaupun, makanannya dan pelayanannya bagus. Aku protes, sebab hari melahirkan sudah dihitung-hitung dengan suami dan dokter di Jepang. Nah, dokter itu berkata: “Ibu ini Indonesia, bukan Jepang. Jangan selalu membawa- bawa Jepang. Lain Jepang lain Indonesia”. Nampaknya dia marah.
Aku tidak mau bersoal. Lalu, berkonsultasi dengan bidan rumah bersalin Annisa. Kata bidan, masih lama. Karena aku cerita perintah dokter, bidan melakukan cek ulang pintu rahim. Bidan akhirnya menyuruh pulang. Aku lega.
Sejak itu aku tidak berkonsultasi lagi ke dokter. Mau menunggu hari bersalin saja. Pagi, sore, dan malam olah raga ibu hamil. Benar saja. Bayi keduaku lahir sehari sebelum yang kami perkirakan, tanggal 27, pas hari pertama Ramadhan.
Aku melahirkan di rumah bersalin Annisa. Tidak merasakan sakit yang terlalu, dan … dokter yang menangani selama ini datang. Aku kaget … Begitulah, aku berbaring ditempat persalinan dan dokter masuk ruangan bersalin. Dokter yang sering aku lawan. Dokter yang pelit memberikan keterangan. Dia memberi salam dan kujawab dengan salam minta pertolongan. Kami saling senyum damai.
Bayiku cowok. Lahir sangat lancar. Tapi, (maaf) aku sempat ‘bercanda’: “Dokter … benar kan hari lahir bayiku seperti yang kami perhitungkan?”. Dengan muka agak merah dia tersenyum. Selamat ya Bu, katanya sambil mengulurkan jabat tangan.
Sesampai di Jepang aku membawa anaku untuk melakukan pengecekkan sampai imunisasi. Alhamdulillah, semua berjalan baik. Pelajarannya, demi keselamatan bayi dan ibu, kita harus melakukan yang terbaik.
Semoga bermanfaat adanya.








