Dihina Geert Wilders
8 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Yari NK
POSTINGAN ini berkaitan dengan film ‘Fitna’ yang ramai ‘dibicarakan’ di blogsfer. Sudah tidak terhitung banyaknya. Namun, artikel ini bukan membahas khusus film tersebut, atau pun mengajak kaum Muslimin memprotesnya secara keras. Juga, tidak untuk pasrah terhadap hinaan tersebut.
Sebagai Muslim ingin berbagi, untuk tetap pede dan tegar walaupun agama kita dihina. Menurut saya, ada satu atau dua hal yang perlu direngi. Oh ya, terus terang saya bukan ahli agama. Jadi, harap maklum. Saya sudah melihat film tersebut, namun tidak sampai tamat menontonnya, sebab ‘muak’ duluan.
Tadinya saya berharap akan melihat film yang “artistik” walaupun menghina Islam. Namun, ternyata hanya kumpulan klip dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang ditafsirkan dengan dangkal oleh Wilders. Yah, apa sih yang bisa dilakukan Wilders, kecuali menghina? Kemampuannya sangat rendah.
Film dibuka dengan sampul Al-Quran yang terbuka dimana pada halaman pertama terdapat kartun Nabi Muhammad dan timer yang menghitung mundur. Gambar kartun Nabi Muhammad? Emang siapa sih yang tahu gambar Nabi Muhammad? Sungguh sok tahu Si Wilders dan kartunis-kartunis yang pernah gambar kartun Nabi Muhammad. Itu gambar mungkin lebih mirip bapaknya dimirip-miripkan orang Arab, jenggot dan rambutnya dicat hitam. Yang jelas, ummat Islam tidak perlu gusar
Hinaan semacam itu mungkin akan terus bermunculan. Lantas apa sikap kita? Menurut saya, kalau kita marah apalagi dengan anarkis, tentu akan menunjukkan sifat inferioritas atau ketidakpedean. Negara adidaya Amerika Serikat, walaupun dicacimaki oleh banyak negara, tenang-tenang aja tuh. Orang Amerika mungkin berfikir: “Alaaa…. orang Islam, lu bisanya menghina aja, tunjukin dong kalo lu itu jago. Wong lu gali minyak aja masih butuh teknologi dari gue”.
Beda dengan kita (Muslim) yang hampir tidak punya kebanggaan riil lagi sehingga jika dihina akan marah sejadi-jadinya. Bisa jadi, karena memang pada dasarnya merasa sebagai masyarakat yang inferior.
Kalau percaya diri dan yakin bahwa agama kita paling mulia di sisi Allah kita tidak perlu membuang energi hanya untuk marah kepada Geert Wilders. Sejuta Wilders yang menghina, Islam tetaplah agama yang mulia. Untuk itu reaksi kita tidak pelu berlebihan. Kalau bereaksi berlebihan, sampai anarkis, malah bisa membuat rusak citra Islam sebagai agama yang penuh kedamaian. Bukankah begitu?
Lagipula, kalau ‘mengamuk’, berarti kita masuk perangkap Si Wilders. Tujuannya ya memang membuat umat Islam marah. Kalau kita marah, terpuaskan dirinya, dan … menjadikan dia semakin terkenal. Kalau kita cuekkin saja, pasti dia bakal keki deh; umpannya meleset dan buah karyanya, “Fitna” tidak mendapat respon. Bukankah begitu?
Menurut saya, daripada kita menghabiskan energia untuk seseorang yang kecil dan tak berarti seperti Wilders, lebih baik energi kita salurkan untuk menjayakan Islam di bidang ekonomi, dan terlebih dalam bidang sains dan teknologi. Dengan sains dan teknologi kita dapat membuat produk-produk bernilai tambah tinggi.
Lihat saja negara-negara yang menguasai ilmu dan teknologi. Tidak miskin, kesejahteraannya baik, dan terhormat diantara bangsa-bangsa negara di dunia. Seyogiyanya, disamping memperdalam ilmu agama, kita juga lebih serius mempelajari dan memanfaatkan ilmu-ilmu lainnya. Semua ilmu dari Allah; matematika, fisika, kimia, biologi dan lain sebagainya.
Einstein menemukan rumus e=mc2, dan jikalau rumus itu valid, Einstein hanya menemukan, yang menciptakan hukum itu tetaplah Allah. Insya Allah, jika kita belajar matematika atau fisika dengan niat ibadah, dan demi menjayakan Islam akan mendapat pahala yang sama sperti belajar ilmu agama.
Jadi, mulai sekarang, mari kita, umat Islam, selalu beriqra’ dan beriqra’, belajar dan belajar terus. Jangan malas. Belajar bukan hanya semata-mata untuk mencari ilmu saja atau duit, tetapi demi menjadikan Islam sebagai agama berjaya di Bumi dan di akhirat. Orang-orang kerdil seperti Wilders, tidak ada apa-apanyalah.
Salam.









4 Responses to “Dihina Geert Wilders”
By diknyo on Apr 9, 2008 | Reply
Sayangnya tidak semua umat islam berpikiran seperti anda, namun saya yakin bahwa lebih banyak yang tidak menggubris film ini di indonesia dari pada yang anarkis, karena memang rakyat indonesia sekarang masih terpuruk dengan permasalahan2 yang lain, so kenapa juga kita mikirin film yang seharusnya ga perlu di pikirkan.
Saya memang bukan muslim namun alm.ayah dan saudara2 saya seorang muslim saya sering membaca buku2 beliau entah kenapa saya jadi berpikiran bahwa suatu saat Islam akan menjadi besar, ketika semua umatnya memahami benar apa itu Islam.
Semoga umat Islam di Indonesia lah yang memulainya
By diknyo on Apr 9, 2008 | Reply
o ya mau nanya neh…maaf apabila ada kesalahan dalam bertanya
Saya sering mendengar bahwa Nabi Muh tidak boleh digambar oleh siapapun. Dan memang tidak ada yang tahu bagaiman wajah Nabi Muh. Namun mengapa anda bisa bilang kalo gambar yang ada di film fitna tersebut adalah gambar Nabi Muh. padahal tidak ada keterangannya sama sekali. Apakah kalo nanti saya dapat pesanan melukis orang Arab atau Timur Tengah…nanti dikirain saya melukis Nabi Muh…?
By Yari NK on Apr 9, 2008 | Reply
Tapi kok di akhir artikel, kalimatnya jadi agak sedikit berbeda artinya ya??
Hmmm ya untuk kolaborasi menulis saya setuju2 aja deh, ikhlas meski ngga dapet royaltinya hehehe…. tapi kalo bisa kirimin satu kopiannya dong ya! bisa ngga??
***So pasti, tapi agak lama … Akhir artikel, maaf ada sekit guntingan agar ngak terlalu keras he he.
By boy on May 8, 2008 | Reply
Orang seperti ada bagus cara berpikirnya..mungkin lebih cenderung dari kemanusiaan dan pendidikan anda. Cuma saya heran,klo melihat orang indonesia, sering melakukan anarkis jika ada berita penghinaan terhadap Islam. Dan suka memakai ayat di dalam Alquran untuk mendukungnya..
- Perlukah nyawa manusia sebagai tebusan hanya untuk balasan kepuasan untuk sebuah hinaan ???-