Bali: Sunset di Kuta
8 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ani
JAM segini baru kelar bikin laporan untuk GM review. Untuk tidur sudah tidak mungkin (dan tidak bisa), sebentar lagi mesti ke dapur. Jadi, lebih baik meneruskan postingan. Setelah dari GWK, kami meneruskan perjalanan menuju Dreamland. Untuk masuk, kita harus melalui pintu gerbang Pecatu Indah Resort yang konon milik salah satu anak mantan penguasa negeri ini (Mas TS).
Memasuki kawasan Dreamland tidak perlu membayar apa pun kecuali karcis parkir mobil Rp.10 ribu. Dreamland merupakan kawasan pantai. Kita perlu berjalan naik turun beberapa meter dari area parkir. Kami menjumpai beberapa turis asing yang sedang berenang dan berjemur. Apabila kita berjalan ke arah kanan pantai, agak berkelok, akan banyak ditemui turis asing (wanita) yang mengapungkan dirinya di atas air laut tanpa mengenakan busana (without bra, hanya bikini bagian bawah). Syukur Reza tidak melihat pemandangan ini. Beberapa ekor anjing berkeliaran. Reza takut pada anjing.
Yang mahal di area ini adalah ongkos ke toilet. Sekali masuk Rp.5 ribu. Toilet umum termahal yang aku temui.
Puas poto-poto di Dreamland, kami beranjak menuju Pura Luhur Uluwatu, yaitu sebuah Pura yang berdiri kokoh pada sebuah batu pada tebing yang curam (setinggi 100m). Konon katanya Pura ini didirikan pada abad ke 14. Uluwatu itu artinya “di ujung”, memang tepat karena letaknya di ujung selatan Pulau Bali. Sekitar 30km dari Denpasar. Nah, kalo sudah ke sana jangan lupa mengunjungi Pura Besan-nya yang terletak di ujung tebingnya .
Terdapat pula sekawanan kera yang jinak menunggu makanan dari wisatawan. Bagaimanapun jinaknya, aku dan Reza, lagi-lagi takut pada yang disebut kera. Baru sampai gerbang Uluwatu, topi yang kupegang sudah ditarik Sang Kera. Aku sangatketakutan.
Tiket masuk ke Uluwatu Rp.3.000 ribu per orang. Untuk masuk kita diharuskan memakai ikat pinggang yang terbuat dari kain berwarna kuning yang disediakan. Bagi yang memakai pakaian di atas lutut (misalnya memakai celana pendek), akan dipakaikan kain sarung ungu. Mengapa begitu? karena kita pergi ke tempat suci, tempat sembahyang, begitu keterangan yang kudapat.
Sayang kami membatalkan diri untuk naik ke Pura Besan yang berada di ujung atas. Lagi-lagi karena rasa takut pada kera. Padahal, kami sudah membawa potongan pisang yang dibeli di pintu gerbang.
Sejenak di Uluwatu, kami meneruskan perjalanan ke pantai Nusa Dua. Orang bilang, surganya pulau Bali. Pantainya berpasir putih dan pohon-pohon nyiur di bibirnya. Sudah lewat tengah hari ketika kami sampai di sana dan cuaca sangat panas. Kulihat kanan kiri, kok semuanya full dengan bule yang sedang berjemur. Orang kita yang nampak hanyalah pegawai restoran dan hotel di sekitar pantai.
Di Nusa Dua kami tidak lama. Perut mulai keroncongan minta diisi. Rencana ke Tanjong Benoa dibatalkan. Aku memilih duduk-duduk di atas tikar. Wuaaaa…dikerubuti para pedagang dan tukang pijat menawarkan jasanya. Semuanya kutolak dengan halus. Hanya saja ada satu pedagang yang mengguiin. Si Ibu malah ngajak ngobrol.
Udah deh kasihan sama si ibu, kubeli dua buah gelang yang dijualnya.
Lucunya, semua pedagang tadi memanggil aku dengan sebutan “Bu Haji”. Pasti karena aku pakai kerudung kan? Kuaminkan saja. Mana tahu suatu saat kesampaian.
Setelah Hubby dan Reza puas main air dan pasir, maghrib tiba, kami kembali ke hotel. Waaaah, hotel yang sebenarnya sangat dekat dari pantai, gara-gara jalanan di sana searah, maka kami harus memuter. Jauuuuh bener. Macet, full mobil dan full manusia.
Sungguh capek, tetapi sangat menyenangkan.









One Response to “Bali: Sunset di Kuta”
By Anang on Apr 9, 2008 | Reply
apapun yang dilakukan di bali memang harus diakui bali itu sangat menyenangkan…. dan ngangenin……..