Menulis dan Awet Muda
6 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SAKURA: Menulis bisa membuat awet mudah he he … setidaknya tak ada tumpukan hal-hal negatif di otak. Bukankah begitu?
SEHAT. Rabu, 2 April 2003, saya berbincang dengan Pak Dharmansyah. Guru besar FKIP Unlam. Doktor kebahasaan tersebut baru pensiun. Tertampak segar bugar. Jadi ingat Bapak (hampir 90 tahun) yang baru menelepon, adik yang bersama Beliau, akan ‘bekerja’ di Malaysia. Tinggallah Beliau dengan Ibu (7o-an). Saya minta adik yang dosen di Universitas Bengkulu ‘mengirim’ ponakan ke Muaralabuh. Seorang anaknya ikut saya di Banjarbaru. Ibu-Bapak masih segar bugar.
Jujur saja, saya tidak ‘melihat’ kaitan langsung antara membaca dan menulis dengan umur panjang, dan atau, awet muda. Kalau soal membaca, belum menemukan orang ‘segila’ Bapak. Koleksi buku-buku Beliaulah yang menjadikan ‘terperangkap’ hobi membaca. Kelas 5 SD sudah membaca aneka buku Karl May sampai Ihya Ullumudin. Jangan tanya soal koran, majalah, atau novel. Kampung saya nun di kaki gunung Kerinci. Bapak pekerja (pemborong) bangunan. Mendekati umur 90 masih segar bugar … dan bilang: “Sis, kirimkan Bapak buku ya”. Selalu begitu.
Menurut Pak Dharman, membaca dan menulis mengaktifkan syaraf-syaraf otak. “Mas Ersis, teruslah menulis”. Tanya Beliau: “Suka olah raga ngak?” Saya jawab apa adanya. Dulu, jago main bola dan bulu tangkis. 10 tahun terakhir hampir tidak pernah.
Mulai sekarang, minimal mulailah jalan pagi. Sediakan waktu minimal 1-2 jam sekali seminggu. Tiap pagi, sehabis shalat subuh usahakan jalan kaki minimal 15 menit. Maksud Beliau, raga kita harus sehat, begitu juga pikiran dan jiwa. Pelihara dengan membaca dan menulis, dan olah raga. Saya tertarik dengan apa yang dipraktikkan dibanding yang diceramahkan. Bapak, Ibu, dan Pak Dharman contoh nyata. Saya (50), Alhamdulillah masih dikurniahi kesehatan prima. Membaca dan menulis hobi utama.
Kalau mBak Sakura menulis, menulis membuat awet muda, entahlah. Soalnya, belum menemukan kajian ilmiahnya. Kalau apa yang dia tulis, mengikis kerak-kerak negatif di otak, saya setuju. Mas Irsan, psikolog yang anggota KP EWAM’Co paham benar hal tersebut. Namanya katarsis.
Nasehat Pak Dharman, pikiran jangan sampai tersisi hal-hal negatif. Orang mau apakah, apa urusan kita. Pelihara pikiran dengan berpikir positif. Saya praktikkan sejak jauh hari. Begitu menulis, merasa terbebas dari banyak hal. Wuaw … ditambah dikenal banyak orang, diminta menulis ini-itu, sampai menulis aneka buku. Alhamdulillah, juga berbuah finansial.
Kini, tinggal bagaimana menjaga agar otak agar tetap fresh, pikiran nyaman, menyiapkan kenyamaan diri. Karena itu, tidak menunggu-nunggu mood untuk menulis. Bagi saya mood kesatuan diri. Aneh saja kalau menunggu mood dulu baru menulis. Ciptakan mood dan menulis. Terbukti, justru susah menghentikan aktivitas menulis.
Apabila tulisan telah menjadi, ada sesuatu membuncah di tataran otak, menyeruak di relung rasa, menyamankan. Hal tersebut tidak bisa dibeli dengan fulus. Kita bisa merasakan pada pangkal rasa. Tidak perlu pujian atau komentar orang. Nyaman dan menyamankan diri.
Lanjutannya, menulis tidak dijadikan beban. Tepatnya, kalau hendak menulis, menulis saja. Jangan sampai , eh … malah mendatangkan stres. Kalau begitu ceritanya, jangankan mengikis kerak-kerak di otak, tetapi bisa mempertebalnya. Berlawanan dengan maksud saya, menulis nyaman dan menyamankan.
Minimal ambil hal minimal, menulis nyaman dan menyamankan. Jangan sampai mendatangkan keruwetan tambahan. Kalau begitu, lebih baik hentikan saja. Hidup dan kehidupan telah teralu banyak dililit masalah. Kalau diperuwet dengan menulis, bodoh namanya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 April 2008.










3 Responses to “Menulis dan Awet Muda”
By Mega on Apr 6, 2008 | Reply
wah..menulis itu “awet muda..???” or “mudah awet nih..??”…hehehe
***He he tinggal pilih aja kali.
By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply
Awet mudah atau awet muda Pak? Kok judulnya awet mudah siiiy?
***He he contoh nyata kan, ntar diedit euy.
By Bibidapi on Apr 6, 2008 | Reply
hehe hidup sudah penuh dengan tekanan, jangan tambah tertekan gara-gara menulisnya nggak nyaman. kalau mau, jadikan menulis sebagai entertain saja.
***He he emang gitu baiknya, kalau bisa.