Menulis Berbagi

6 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

AHMAD NUR IRSAN FINAZLI: Teori saja tidak culup, harus dengan banyak praktik. Dalam EWT, Pak EWA memaparkan, menulis itu mudah, simpel, dan … bisa dibuktikan alias dipraktikkan. Banyak yang termotivasi … bahkan ada yang telah menulis buku. Selamat dan sukses. Semoga menjadi amal jariyah. Amin.

PRAKTIK. Motif menulis tentu bermacam-macam, ragam tujuannya pun berbagai rupa, seperti juga kegunaannya. Ditambah dengan teori, gaya, bahasa, sampai langgam, tentu akan ‘seru’ mempelajarinya. Kalau dipelajari segala tetek-bengeknya, menjadi hal mengasyikkan. Saking mengasyikkan sampai-sampai lupa menulisnya. Kalau mempelajarinya secara akademis, saking ahlinya, ketika mempraktikkan bisa jadi terbalik, gagap menulis.
 
Dengan kata lain, teori tanpa praktik kurang elok. Sampai disitu, tanggapan Mas Irsan datar-datar saja. Eh … begitu menyangkut EWT —Ersis Writing Theory— lain lagi muatannya. Saya jadi malu, kog ada nada sambung … eh, sanjungan. Jujur, saya kurang suka. Soalnya, setelah direnung-renung, ah jadi malu. Apalagi, menyangkut niat awal. Bahwa nanti berkembang jadi lain, itu soal nanti.
 
Pertama, ketika memulai menulis tentang menulis, niatnya ‘berbagi’ pengalaman. Saya bukan penulis hebat atau piawai. Hanya, rajin menulis. Terkadang, ada memang rasa bangga, tetapi banyak kecewanya. Terutama pada tahap awal. Kenapa?
 
Saya ingin menulis sebagus Goenawan Mohammad, senyaman Hamka, e… kog jauh bedanya. Tapi, tetap menulis. Mas Goen ya mas Goen, Hamka ya Hamka, Ersis ya Ersis. Ersis yang membelajarkan diri menulis.
 
Pendek kisah, rasa kurang percaya diri berhasil dilewati. Pengalaman tersebut ingin ‘dibagi’ dengan teman-teman yang ingin menulis. Menulis saja sesuai diri, penulis yang dikagumi jadikan teladan. Jangan dibanding-bandingkan. Ibaratnya, ukur saja bayang-bayang diri. Kalau tidak sebagus penulis idola ya sudah. Kembangkan gaya sendiri. Ternyata, positif bagi kreativitas menulis.
 
Kedua, sering ditanya, bagaimana agar kreatif menulis? Saya bukan dosen Menulis Kreatif lho. Kiat saya, menulis apa yang hendak ditulis. Tidak takut dimarahi atau disalahkan. Kalau dicaci-maki ada yang berdenyut-denyut di hulu hati, ya iyalah. Tapi, tetap menulis. Saya, berhasil melalui masa-masa berat tersebut, cuek saja dengan cacian orang. Wong saya belajar menulis dengan menulis itu sendiri.
 
Ketika melakukan ‘kesalahan’ dan ‘dibetulkan’ orang lain, disadari mendapatkan tambahan pengetahuan. Pernah seorang anak SMP mengoreksi tulisan saya tentang Nabi Musa, yang dimaksudkan Nabi Yusuf. Ya, dikoreksi dan berterima kasih. Semakin membelajarkan diri.
 
Ketiga, ketika giat menulis, ternyata juga menjadikan membaca lebih giat. Wah, ini bak mur dengan baut. Lalu, dalam menulis sesuatu tidak memerlukan waktu lama. Entahlah … saya tidak memikirkan apa yang akan menulis, tetapi menuliskan apa yang dipikirkan. Ibarat kata, menyalin saja. Dan, itu sangat mudah.
 
Intinya, berhasil melepaskan diri dari aneka belenggu menulis. Kalau berpikir, diangap pantas ditulis, ya ditulis. Enteng saja. Dengan kata lain, tidak membebankan pikiran dengan hal lain. Saya pikir, positif bagi yang berkehendak menulis.
 
Dari pengalaman tersebut, yang sebenarnya sudah ditebar dalam aneka tulisan, sampai pada kesimpulan: Menulis tidak susah, jangan disusah-susahkan. Menulis itu mudah, dan memudahkan. Saya membangun mindset yang kemudian, entah kenapa, dilabeli Ersis Writing Theory.
 
Bahwa kemudian banyak orang kenal gara-gara menulis, ada yang menawarkan job, atau apa begitu, semua itu dampak. Yang teringat, karena begitu awalnya, ingin berbagai sembari memotivasi, menulis itu mudah, dan memudahkan.
 
Begituah. Di dunia nyata, sering ‘dimudahkan’: Oh Pak Ersiskah? Saya ingin bertemu Sampeyan, dan bla-bla. Lanjutannya, urusan dimudahkan. Ya, membagi pengalaman menulis kan berbagi juga bukan? Mudah-mudah bermanfaat. Waduh, kalau jadi shadoqah atau amal jariah seperti didoakan Irsan, mudah-mudahan saja. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 6 April 2008.

  1. 7 Responses to “Menulis Berbagi”

  2. By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply

    Jadi ingat ungkapan “Rajin Pagkal Pandai”. :D
    Ya, makin kita rajin belajar menulis, maka kemungkinan akan pandai menulis itu besar.. :D
    Kalau tidak rajin menulis, mungkin pandai, mungkin juga tidak… :D

  3. By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply

    Semoga Pak Ersis tidak bosan-bosan memotivasi pembaca blog ini. Dan semoga saya pun tak bosan-bosan belajar menulis… :D

  4. By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply

    Oh iya. Belum mengucap. Amin… :D

  5. By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply

    Oh iya lagi. Yang tadi itu, pertamax, keduax , ketigax ya?

    Kalau yang ini keempax!

    Ah, mau kelimax malu, udah aaaaaaaaah.. :mrgreen:

  6. By emkaha on Apr 6, 2008 | Reply

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Bung Ersis

    kebetulan saya nyasar ke blog bapak, dan kebetulan juga kami punya event untuk membudayakan penggunaan inetrent untuk warga kalimantan.

    Event tersebut antara lain ada lomba blog untuk seluruh warga, guru, pelajar maupun umum, mohon bantuan disebarluaskan ke komunitas blogger lainnya.

    Hadiahnya lumayan total 30 juta.
    silahkan kunjungi link berikut

    http://internetbanjarmasin.blogspot.com/

  7. By kangbarok on Apr 6, 2008 | Reply

    belajar dan terus belajar.. doakan!

  8. By unai on Apr 6, 2008 | Reply

    masih juga kurang pede untuk mempublish tulisan pak…apalagi setelah membaca tulisan2 bagus :(

Post a Comment