Melatih Cermat
6 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HANA FRANSIKA: Yupz …dalam menulis manakala salah ejaan bisa salah arti. Jadi, kita harus jeli, melatih kejeliaan; membaca kembali setelah tulisan jadi. Begitukan Pak?
PERFEK. Banyak orang dalam menulis berlaku bak orang hebat dalam arti maunya menulis tanpa cacat. Perfeksionis. Tidak ada yang salah dengan pandangan dan sikap demikian. Kalau bisa, dalam segi apa pun, tentunya sempurna. Masalahnya adalah, pengalaman berkhabar, segala sesuatu tidak mungkin didapat dalam sekejap. Dalam banyak hal, perlu latihan, perlu pengalaman, dan apabila dilakukan terus-menerus barulah kemudahan bergabung.
Bahkan, pemantik tulisan ini, Hanna Fransiska, saya tahu benar bagaimana awalnya dia menulis. Secara ringkas, ‘perjalanan’ menulisnya telah ditulis pada buku terdahulu. Luar biasa anak bangsa keturunan Cina Singkawang ini. Simak blognya, www.sisca78.wordpress.com dan www.atapsenja.wordpress.com.
Dari dia pula saya (lebih) belajar keberanian menulis. Hanna memulai menulis dengan tulisan tangan ala kadarnya. Here gene menulis cerpen dengan tulisan cakar ayam, terlalu nyeni, he he. Ya, semangatnya mengalahakan keterbatasan diri, dan kemauan belajar (praktik) mealahkan beragam kendala. Dalam hitungan tiga bulan menjadi selebritas blog. Terakhir dia berkhabar, diminta seorang produser TV terkenal membuat skenario sinetron.
Sebagai kawan sharing sejak awal, dalam KP EWAM’C0. inilah anggota yang paling cepat potensi menulisnya berkembang. Entah kalau dia punya cara lain, sebab tulisannya belakangan, menurut saya, terlalu cepat membaik. Pada hal-hal tertentu sudah mengalahkan kemampuan saya. Kegembiraan saya justru terletak disitu. Bukan hanya monopoli Hanna, ada Syaharuddin, Rahmadona, Irsan, dan banyak lagi. Bahkan, kelemahan saya, yang abai membaca ulang tulisan seolah diimbuhi mereka.
Saya punya pemikiran kurang baik, dalam menulis, tulis saja dulu. Abaikan salah ketik, asal jangan salah konsep. Kalau tulisan telah selesai baru baca ulang, dan perbaiki. Hal sedemikian dianjurkan pula kepada teman-teman sharing. Buruknya, setelah tulisan selesai, malas membacanya. Ini penyakit memang. Akibatnya, banyak salah ketik. Maklum, saya menulis 11 jari, dan cepat.
Kalaulah isteri saya, Risna Warnidah EWA Abbas, tidak mengoreksinya, dapat dipastikan, terdapat banyak salah ketik. Dulu, saya hibahkan saja memperbaiki kepada redaktur media cetak atau redaktur bahasa penerbit. Dengan demikian, kecepatan menulis tidak terganggu.
Tetapi, saudara-saudara, tetap menganjurkan, dari awal biasakan setelah menulis membaca ulang untuk diperbaiki. Bilamana dibiasakan menulis memilih kata gw, aqu, atau apa begitu, ya akan menjadi kebiasaan. Kalau sudah menjadi kebiasaan, manakala menulis serius akan susah mengubahnya. Lebih baik membangun kemampuan standar sejak dini dibanding dengan bagarah-garah alias maulu-ulu.
Saya sekadar menganjurkan. Sebab, sangat sadar, sedang belajar menulis agak rapih. Itu kelemahan. Itu pulalah sebabnya saya lebih nyaman pada posisi belajar menulis, manusia pembelajar.
Seperti selalu diingatkan guru perfeksionis saya, Erwin Dede Nugroho, saya jawab denga senyum, dan melakukan slowly but sure. Kebiasaan menulis tanpa membaca ulang tetap dilakukan, tetapi kadarnya dikurangi. Akibatnya yang kurang baik. Apa itu?
Kamus saya semakin rusak. Seselesai menulis membolak-balik kamus. Jangankan sampulnya, isinya robek-robek. Sekalipun demikian, saya punya cara sendiri. Tulisan itu tidak diperbaiki. Saya melatih hal lain dengan cara sendiri.
Serapan kata dari kamus, tidak untuk meperbaiki kosaka yang diragui, tetapi untuk menulis berikutnya. Biasanya, bila menulis kata yang dilihat di kamus, jadi ingat. Tulis. Habis perkara. Nah, soal tulisan terdahulu, kalau sempat dibaca isteri syukur. kalau tidak, ya biar saja.
Saya mohon maaf tulisan saya di blog banyak salah ketiknya, begitu juga komen di banyak blog teman-teman. Habis, tidak dikoreksi. Tapi percayalah, saya sedang berusaha untuk tidak salah ketik. Lagi membiasakan, bo.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 April 2008.









3 Responses to “Melatih Cermat”
By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply
Pantesan, kalau saya nulis, suka lama. Soalnya takut salah ketik, salah ejaan…
Malu kalau salah… aneh… 
By hanna on Apr 7, 2008 | Reply
wah, bapak terlalu berlebihan, nih…
By unai on Apr 7, 2008 | Reply
uhuk, saya sama dengan pak Mat ituh…bedanya saya menulisnya lama, banyak yang salak ketik pulak..huhuhu