Asupan Membaca
6 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TONI FEBRUARI: Eee … yoi Pak. Membaca itu penting sebagai asupan gizi otak kita sehari-hari. Tanpa membaca otak bisa kurus dan kering kerontang. Menulis semakin menghimbau semangat membaca kan Pak?
KASIHAN. Pengertian paling umum membaca adalah ketika mata melihat, menatap, menyantap, atau apalah namanya, obyek bacaan untuk dikonsumsi otak atau ranah rasa. Hasil membaca, biasanya begitu, menjadi asupan rumah pengetahuan di otak. Boleh pula diartikan ‘menatap’ teks bacaan lalu melafazkan melalui ‘jasa’ mulut hingga membentuk bunyi sesuai bacaan. Sering pula dikatakan, kita bisa membaca yang tersurat dan tersirat.
Sebagaimana diamarkan, kita membaca Al-Quran. Ya, dari kecil sampai mati, bisa saja ada yang membaca Al-Quran sekadar teksual. Padahal, intinya membaca membentuk kepribadian Muslim. Celakanya, jangankan menangkap dan mampu mengaplikasikan makna kandungannya, membaca yang tertulis saja terkadang tidak piawai.
Ada yang setiap hari shalat membaca … Kuhadapkan muka hatiku kepada Allah … Ya, tanpa paham ‘muka’ yang mana, atau Allah yang mana. Ini bukan soal salah atau benar, tetapi dalam kandungan, seyogyanya hakikat makna bacaan dari ke hari dipertajam. Tiap hari berdoa, berbahasa Arab pula, dengan ucapan fasih. Bagus. Hanya saja, kalau tidak paham artinya, tidak paham apa yang diminta, dalam doa, bagaimana akan dikabulkan. Kira-kira begitu amsal sederhanya.
Dalam kaitan menulis, kalau kita belajar teori menulis, banyak membaca teori dan beragam hal bergayutnya, kalau tidak paham arti tersurat, apalagi tersirat, bagaimana bisa menulis? Dengan kata lain, lebih baik memahami dan mempraktikkan sedikit pengetahuan tetapi diaplikasikan dalam bentuk menulis. Dalam pada itu, pada menulis itulah kita mengembangkan teori, dan atau, memantapkan dengan teori.
Artinya, membaca bukan sekadar yang tersirat. Membaca yang tersurat, pada tahap tertentu lebih tinggi kadarnya. Memahaminya, yang dibuktikan dengan aplikasi, tentu jauh lebih bagus. Pada persuaan demikian, membaca dapat dimaknai sebagi asupan gizi menulis. Bukan sembarangan membaca.
Sebab, apa pun bacaan pada gilirannya ‘ditanak’ di otak. Apabila kita telah memiliki sejumlah pengetahuan tentang A, ketika membaca B, otak akan terangsang bekerja, dan menghasilkan C. Namanya proses bekerja di otak, yang dalam kaitan menulis, dituangkan dalam bentuk tulisan.
Begitu pula sebabnya, kalau orang membiasakan membaca hal-hal miring, pikirannya akan terpola miring, dan tulisannya juga miring-miring. Tidak mungkin dari bacaan seorang Muslim yang mampu meraup makna hakiki nilai-nilai keislaman, ketika melihat tulisan saudara seimannya dengan semangat setan mencaci-maki, mencari jeleknya, dan atau, menghina habis-habiskan.
Apabila mindset di bentuk atas landasan positif, diakumulasikan dengan bacaan-bacaan positif, tulisan akan menjadi positif. Tidak melihat segala hal dengan kekurangan atau caci-maki, tetapi ada tawaran solusi. Membaca penting, memagut makna bacaan lebih penting, dan ditulis lebih bermakna, lebih penting.
Kembali ke awal pijak tulisan ini, bacaan yang dapat kita baca tersedia bak samudera tak bertepi. Bacalah, pilihlah, pahamilah, dan … tuliskanlah. Kita hanya bisa menulis apa yang ada di otak dan perasaan kita. Apa yang menjadi tulisan, itulah ‘diri kita”.
Tarikan ke hulunya, semua itu berpangkal dari bacaan, apa yang dibaca; tersurat atau tersirat. Kalau dimotivasi, dikatakan menulis itu mudah … ‘jawaban reflektif otak’ susah dan menyusahkan, itulah bentukan mindset. Mindset yang terbentuk demikian selalu akan bertahan … Oh itu kata Sampeyan … Bagi saya, menulis susah dan menyusahkan. Insya Allah, kalau itu yang dipagut erat, menulis memang akan menyusahkan.
Dus, mari membaca, membaca, dan terus membaca, dan … menulis, menulis, dan terus menulis. Terlalu banyak membaca, tetapi tidak dikeluarkan, bisa berakibat otak hang lho.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 April 2008.









8 Responses to “Asupan Membaca”
By hanna on Apr 6, 2008 | Reply
membaca dan melihat ialah dua hal yang berbeda. kadang kita hanya iseng membolak-balikan buku atau majalah sambil melihat gambar-gambarnya saja.
membaca dengan serius dan mencoba memahami isinya akan lebih berarti daripada membaca dengan sekilas lewat.
***Siip, kira-kira begitu.
By Evi on Apr 6, 2008 | Reply
Pak Ersis, indah juga membayangkan prosesnya, melalui bacaan masukan informasi ke otak, terus keluarkan lagi dalam bentuk nilai tambah, apakah dalam bentuk tulisan atau kah yang menjadi perangai sang pembaca. Setuju gak pak kalau nilai tambah yang ini, sekalipun menggaet untung berlipat-lipat tapi tidak akan pernah di kejar-kejar kantor pajak?
Mengenai membaca dengan indah tapi tak di mengerti maksudnya pernah juga di lakukan nenek dan sempat melintas keheranan di benak saya, lho untuk apa? Tapi saya tidak berani bertanya lebih jauh, disamping takut di sangka menggugat, sulit juga menjelaskan makna yang saya lihat bahwa membaca saja tidak cukup untuk jaminan ke solehan. Ketidak beranian saya berangkat dari asumsi bahwa itu kan dari titik pandang saya, mungkin view-nya sedikit beda dari titik pandang my grand ma. Hehehe…sikap seperti ini tidak akan pernah membawa perubahan ya, Pak? Tapi saya sadar kok dengan tidak memilihpun saya sudah memilih
***Tidak berpendap pun sebenarnya telah berpendapat. Ntar kita bahas ya.
By mathematicse on Apr 6, 2008 | Reply
<p>Apa yang kita keluarkan lewat tulisan, berarti tergantung apa yng kita masukan lewat membaca ya Pak? :D</p>
<p>Kalau kita banyak emmbaca hal-hal negative, berarti kemungkinan besar tulisan kita pun berupa hal-hal negative? Mmmm.. iya juga ya? :D</p>
***<em>Tidak mesti sama sebangun. Tapi, kalau percaya tataran psikolog pembentukkan karakter, adalah cuatan benarnya, walaupun tidak harus. Membaca tentang komunis kan tidak mesti kita langsung jadi komunis. Iya kan? Tulisan tersebut lebih pada kebiasaan dan pembiaasaan. </em>
By Toni on Apr 6, 2008 | Reply
Gara2 komik saya suka membaca tuh pak, tapi untuk gak jadi miring.
***Syukur. Kan ngak harus begitu, hanya saja ada kalanya kalu akumulasi yang miring-miring yang ditumpuk, bisa ngak sadar mirngnya he he. Tapi, tentu bukan buat samoeyan he he.
By ichal on Apr 6, 2008 | Reply
duh,, masa sih pak !! kok bisa “hang” otak yang sering membaca, kalo tidak dikeluarkan????
terkadang saya suka mengeluarkan melalui kata-kata, walapun sedikit, karena memang pada dasarnya saya adalah orang yang sedikit bicara.
***Biacara bentuk lain menulis. Tapi, lebih afdol menulis.
By german on Apr 6, 2008 | Reply
ah, teori bapak itu terlalu relatif & naif, artinya bukan berarti yg membaca bacaan miring orangnya akan miring! bukan berarti pula orang yg membaca bacaan positif, kelak otaknya akan positif! tergantung orang memahami bacaannya itu seperti apa, lantas target akhir yg hendak diambil dari inti dari bacaan itu seperti apa, bukan berarti pula orang yg membaca buku playboy –atau bacaan cabul lainnya– dianggap sebagai lemah iman. apatah yg dilakukan habaib ketika kampanye soal pilkada –demokrasi– dikatakan sebagai perhatian terhadap nasib rakyat yg ingin memperbaiki kesejahteraan rakyat? itu semua bullshit!! jangan memandang orang dari penampilannya saja, apalagi sampai menggeneralisasikannya hingga menjadi stereotype yg tiada kesudahan. intinya perbanyaklah membaca! karena di dalam aktivitas membaca kalian akan merengguk hikmah dibalik tabir ilmu dunia –baik yg tersurat maupun yg tersirat!!
***Itu satu pandangan, he he. Silahkan saja berpendapat dan atau menuangkan pendapat. Dalam memotivasi, terkadang memang ada hal-hal yang terabai. salam.
By Bibidapi on Apr 6, 2008 | Reply
emang, kadang setelah membaca saya jadi pingin menulis, mengembangkan tema apa yang barusan saya baca tadi…
***Itu pertanda normal euy … tinggal lakukan. Go.
By unai on Apr 7, 2008 | Reply
Kalau begitu, saya membaca terus tulisan Bapak disini akan sangat mempengaruhi apa yang akan saya tulisa nantinya dong pak