Lagi Tentang Teori Berak dalam Menulis
5 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis itu kan ‘menuangkan’ pikiran, melahirkan apa-apa yang ada di pikiran, apa yang dipikir. Kalau banyak membaca akan banyak hal bisa diolah; otak itu ibarat komputer. Apabila ada input akan terjadi process melahirkan output. Bacaan itu agar otak bisa bekerja dan hasilnya lebih bagus. Tidak lucu kalau otak disuruh bekerja sementara raw materials cekak. Bisa-bisa haus itu sel-sel syaraf. Bisa gila, bo.
Atau mau contoh yang sedikit jorok. Kalau kita banyak makan akan menumpuk di lambung. Mesin lambung akan menggilingnya, mana yang baik dijadikan ‘makanan’ tubuh, ampasnya akan menjadi tahi. Dari masukan makanan itu akan terpenuhi kebutuhan tubuh, Sampeyan akan sehat. Kalau berlebihan tentu saja sakit. Banyak makan akan banyak berak he … he … Kira-kira begitu contoh gampangnya.
Kalau tidak makan, apa yang mau dikeluarkan dubur? Paling-paling kentut. Kalau lambung tidak ada isinya, akan terjadi gesekan yang berakibat penyakit maag. Begitu kata dokter. Begitu juga menulis. Kalau Sampeyan merenung terus-menerus, berpikir, tapi bahannya tidak diraup dengan membaca, bisa gila lho, sebab otak bisa rusak. Pendek kisah, harus banyak membaca.
Jadi, kalau bermaksud menjadi penulis, ya banyak membaca. Harus banyak masukan ke otak. Kalau punya entry behaviore yang cukup pastilah menulis jadi mudah. Ya itu, kalau banyak makan, tidak berak-berak, perut bisa meledak. Pasti ada kelainan. Sampeyan tidak mau kan punya kelainan?
Ingat, menulis itu adalah cara keluaran apa yang ada di otak, yang diolah otak. Punya teman yang suka ngomong sepanjang hari? Dia itu orang cerdas yang tidak paham arti kecerdasan. Kalau dia mau belajar menulis, pasti menjadi penulis hebat. Sebab, cara kerja otaknya cepat.
Tapi, sekali lagi ingat, agama kita tidak menganjurkan orang suka omong banyak. Omongan itu tidak bisa dipegang, begitu keluar, di telan ruang. Kalau menulis, bisa dilihat betul-salahnya. Mereka yang punya pengetahuan luas, banyak ilmu, tidak mau menulis, jangan-jangan takut kalau menulis bisa terlihat seketika, dia pintar atau tidak. Menulis itu tidak main-main, lho. Contoh, suatu kali sebuah surat kabar nasional menulis tentang Nabi . Nabi yang seharusnya ditulis dengan n tertulis b, jadi babi. Datang protes dari mana-mana, didemo kalangan Islam.
Dengan kata lain, kalau pun bahan-bahan untuk ditulis sudah menumpuk di otak, harus pula hati-hati menuliskannya. Kalau tidak, salah menulis satu huruf saja, fatal akibatnya. Itu soal huruf, apalagi soal rangkaian tulisan.
Banjarbaru, 5 April 2008
(Cuplikan buku Menulis Sangat Mudah, juga pernah dilansir www.urip.woerdpress.com. Maaf ya, hanya sekadar memotivasi).









12 Responses to “Lagi Tentang Teori Berak dalam Menulis”
By toni f on Apr 5, 2008 | Reply
heeee….yoi dong pak.membaca itu penting…sebagai asupan gizi otak kita sehari-hari.tanpa baca otak kita bisa kurus da kering kerontang..hee yapp
By Prabu Dian Sori on Apr 5, 2008 | Reply
Apakah tidak ada asumsi yang lain selain “…..” untuk dijadikan sample untuk menuangkan pikiran? ga usah jauh2 kita ambil samplenya. Contoh komputer aja, makin banyak file yang ada di komputer maka secara otomatis komputer akan mudah hang. Mungkin itu lebih baik di jadikan sample. Maaf tidak bermaksud mengajari itu sekedar pendapat pribadi doang.
***Ya bagus, saya terima usulnya … cuman tulisan itu dah jadi. Lain kali aja ya. Trims.
By Guh on Apr 5, 2008 | Reply
Sepertinya ini tulisan paling asusila yang ada disini, dubur dan berak dibahas eksplisit!
Bisa dijerat UU yang baru ga yaa:-P
Btw, kalau yang doyan omong tapi tak berani menulis bisa disangka seperti itu, bagaimana dengan orang yang suka nulis tapi tak berani ngomong?
***Ha ha … jangan terlalu diseriusi … saya juga heran ketika menulis itu pertama kali, … tapi sudah begitulah ‘mau’ saat itu. Kalau kini, ngak mungkin nulis gaya begitu. Oh … tinggal membiasakan ngomong aja lagi; yang penting dibiasakan.
By sawali tuhusetya on Apr 5, 2008 | Reply
itulah, pak, perlunya hati2 dalam soal ejaan, *halah* maaf, pak, link-nya pak oerip salah ejaan juga tuh hehehehe
***Ya Pak, seautu yang saya tidak piawai … tapi ya belajar membiasakan. Soalnya nulisnya kecepatan dan jarang dibaca ulang he he
By hanna on Apr 5, 2008 | Reply
Yupz…..
salah ejaan bisa salah arti. jadi perlu jeli membaca kembali setelah tulisan jadi.
lagu di web ini asyik banget, Pak.
***Sip makasih naehat dan pujiannya
By sakura on Apr 5, 2008 | Reply
menulis biasa membuat awet mudah hehehhe…setidaknya tak ada tumpukan hal-hal negatif di otak
***Wow ini bisa jadi ide untuk menulis euy … makasih
By akayah on Apr 5, 2008 | Reply
weee….
betul tu OM kalau makan Ga berak bahaya…. kalau susah BAB gimana OM?? heee….
tapi kalo berak melulu hati2 juga,, jangan2 diare…. wawww…
***He he jangan terlalu seirus … pikiran saja.
By mathematicse on Apr 5, 2008 | Reply
Iiiiiiiiiiiy, terorinya jijay…
Iya juga siy, klo jarang (hampir ga pernah) baca, gemana mau bisa nulis… :D.
Tapi kalau jarang makan, bisa-bisa lemes dong…
***Yang penting intinya. Membaca.
By Yari NK on Apr 5, 2008 | Reply
Menurut saya justru menulis itu lebih mirip dengan teori kentut! Ini persis seperti apa yang pernah diungkapkan pak Ersis sendiri bahwa menulis ya menulis aja, ngapain repot2! Analoginya begini (seperti artikel di atas), jikalau ingin menghasilkan output ya tentu harus ada input yg banyak, nah jikalau ingin menaikkan volume gas dalam perut ya gampang saja, makan saja umbi2an yang banyak atau makan makanan yang kaya serat ditanggung akan banyak kentutnya!! Sama halnya seperti menulis!!
Nah kenapa menulis lebih mirip kentut daripada berak?? Karena ya itu tadi, ngapain repot2, menulis sih menulis aja. Kalau berak kita masih repot, harus cari WC dan buka celana. Kalau kentut kan nggak perlu repot2, apalagi kalau nggak ada orang, tinggal buang di tempat dan nggak perlu buka celana segala! Ya kan?? Wakakakakakakakakakakakak….. ginian aja dibahas!! Lho… habis yang mulai pak Ersis duluan lho!!
***Ha ha boleh juga. Multi demensi memang. Ngak pa pa bagus aja, kan merangsang tu
By mathematicse on Apr 5, 2008 | Reply
@ Yari NK: Hahahahahahahahhahahaha…
lucu
***Ikutan ha ha jua ah
By Shamir on Apr 6, 2008 | Reply
Apa toh definisi “jorok”? Menurut saya, sekedar perumpamaan agar mudah dicerna pembaca gak masalah. Apalagi dah ada kata “maaf sedikit jorok”. Bahkan kalima hal-hal seperti ini mudah diingat sebagai motivator diri, dengan ingat teori berak, kita jadi cenderung ingat “kalau ingin jadi penulis ya hrs suka membaca”. Makasih, perumpamaan yang cukup gampang diingat.
By unai on Apr 6, 2008 | Reply
perumpamaannya itu loh..mosok seperti berak
***Biar mearik peratian he he. Tapi, benar juga ngak?