Guru dan Profesi Lainnya

4 April 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Apa pun profesi di muka bumi ini ‘berasal’ dari dari guru. Silahkan lecehkan profesi guru. Penerbang, pengacara, hakim, dokter, akuntan, notaris, tentara, polisi, atau apa pun, dipastikan karena berguru. Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi dokter dengan bersemadi tanpa mengikuti pendidikan tertentu. Jenjang pendidikan adalah hal wajib menuju profesi.
 
Dalam bahasa motivasional membangkitkan kebanggaan positif profesi guru, hanya ada satu profesi, yaitu guru. Gurulah lebih memungkinkan siapa pun mendapat kecakapan tertentu. Paling tidak, guru adalah landas pacu. Sampeyan hampir tidak mungkin menjadi penerbang kalau tidak berguru. Sedikit orang yang mampu otodidak.
 
Dengan kata lain, gurulah yang memintarkan manusia, profesi gurulah yang melahirkan orang-orang cakap hingga mampu menyandang profesi lainnya. Minimal, profesi itu dapat dibagi dua, guru dan lainnya. Profesi non-guru berawal dari guru.
 
Bahwa pada kenyataannya, dianggap sebelah mata, tersudut hiruk-pikuk dan ketidakberdayaan, itu soal lain. Itu urusan guru. Guru yang bisa jadi, ketika mendidik kurang piawai, misalnya menanamkan nilai-nilai. Guru yang asal menjalankan profesinya. Kog bisa begitu?
 
Ya, iyalah. Katakanlah Pak Oemar Bakry seumur-umurnya menjadi guru. Ribuan orang dididiknya. Namanya saja pendidik. Murid-muridnya menjadi Kepala Dinas, Walikota, Gubernur, Menteri, Jenderal, bahkan Presiden. Ada yang jadi Anggota Dewan, Gubernur BI, pengusaha yang merangkap jadi perampok, atau perampok benaran. Semua cerdik cendikia melalui ‘tangan’ brilian guru. Guru dapat balasan apa?
 
Dininabobokkan dengan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Bangganya luar biasa. Tidak terpikirkan, kenapa ya, makhluk-makhluk yang dididik begitu susah payah, setelah ‘menjadi orang’ segan amat memperjuangkan nasib guru, dan atau, pendidikan? Aneh. Bejibun alasan dijadikan palang untuk memajukan pendidikan dan kesejahteraan guru.
 
Jangan-jangan ketika mengajar (mendidik)  memang salah kaprah. Mantan anak didik yang dididik sedemikian rupa, kog bak ‘anak harimau’. Merenunglah wahai guru. Perlu introspeksi mendalam.
 
Pernah, negara ini ‘dikeliruan’ para bankir. Pemerintah santai saja menyuntikkan dana Rp600 trilun. Saudara-saudara, enam ratus triliun. Kalau dihitung manual, dalam pecahan seribu, berapa tahun baru  selesai. Kalau dibelikan kerupuk, bisa-bisa seluruh Nusantara dipenuhi kerupuk. E … dikemplang. Para bankir tenang-tenang. Sepuluh tahun ‘ditangani’, simpulannya tidak ada unsur tipu-menipu. Bebas. Dan, kemudian tip dipungut.
 
Ketika pemerintah berkehendak menaikkan gaji guru, meningkatkan kesejahteraan, eit … tunggu dulu. Wajib berkualifikasi sarjana, disertifikasi dulu ya, ntar dipantau kompetensinya … baru digaji agak layak. Anehnya, guru ho oh saja. Bagi yang cukup syarat menembus persyaratan dinikmat riang gembira.
 
Lucu. Tidak ada yang bersimpati pada senior, yang sebentar lagi pensiun atau mungkin mati. Memangnya guru-guru senior itu ketika diterima jadi guru wajib sarjana? Tidak bukan? Guru-guru senior itulah yang membatu (mendidik) mereka yang telah ‘jadi orang’. Siapa yang bersimpati? Sesame street eh… sesama guru saja tidak, manalah mungkin dari profesi lain. Yang penting gua duluan. Peduli amat guru senior.
 
Ke depan guru hendaknya lebih cerdas berperan. Menatap diri, profesi, ufuk cerah generasi. Ekonom, sejarawan, fisolof, atau tentara bisa menggusur eh … mengurus guru, menjadi ‘komandan’ tertinggi, menteri pendidikan. Begitu juga sekjen, dan ke bawahnya sampai Kepala Dinas. Tidak usah dari mereka yang berakar pendidikan atau profesi kependidikan (keguruan).
 
Tapi, jangan mimpi pemagut akar pendidikan menjadi menteri kesehatan atau ekonomi. Bisa gempa besar republik ini. Ya, untuk mengurui orang-orang dalam profesinya saja guru ‘memohon’, manalah mungkin ‘mencaplok’ mengurus profesi lain. Profesi guru tergelincir menjadi kasta terendah.
 
Terlepas, ya terlepas, ‘guyonan’ satire tulisan ini, antara apa yang seharusnya memang tidak selalu sama dengan apa yang terjadi. Dalam penelitian, diskrapensi tersebut dinamakan masalah. He he, guru-guru yang bermasalah, bermasalah dengan profesinya. Lalu, bagaimana?
 
Guru tidak perlu berdemo atau membuat partai demi tujuan mulia, dan atau, memperjuangkan pendidikan. Sekalipun, secara kuantitatif beranggokatan 2,7 juta orang. Tidak perlu. Lalu bagaimana dong?
 
Pertama, perkuat kompetensi profesional sehingga mampu ‘mencetak’ alumni handal. Para lulusan yang paham kesulitan guru dan pendidikan, dan yang mampu berbuat —bukan berwacana— bahwa pendidikan teramat penting bagi kualitas bangsa, bagi masa depan generasi selanjutnya. Plus, kesejahteraan guru perlu ditingkatkan.
 
Kedua, berusaha dan berupaya sekuatnya  membelajarkan diri hingga menguasai aneka manajemen kehidupan (keguruan dan kependidikan). Dengan demikian, tidak mungkin lagi —meminjam istilah mantan Mempan Faisal Tamim— guru-guru ‘dikomandoi’ oleh mantan Kepala Dinas Pemakaman. Duh … pejabat berlatar belakang pendidikan apa saja bisa menjadi kepala Dinas Pendidikan, kalau mereka yang berlatar belakang pendidikan, tunggu dulu. Perlu analisis tajam.
 
Ketiga, perkuat organisasi semacam PGRI. Perjuangkan bagaimana mestinya nasib guru (pendidikan). Selama ini kan sudah berdarah-darah berjuang. Bisa jadi. Tapi, apakah buktinya mengembirakan? Setidaknya terlalu lambat dan lamban. Perlu lebih serius.
 
Kelima, sudahilah ‘kebudyaan’ guru diperlukan saat-saat kampanye dengan janji gombal, peningkatan kesejahteraan, pendidikan gratis, hari tua lebih baik, dan omong kosong lainnya. Bangun silaturrahmi permanen dengan segala kekuatan bangsa. Siapa saja, partai apa saja yang dulu pernah berjanji, jangan mau lagi ditipu. Sudah puluhan tahun kita merdeka, mana buktinya?
 
Keenam, di atas semua itu, relakan kondisi saat ini. Mari rapatkan barisan membangun (pendidikan) dengan tulus. Tidak usah ikut gonjang-ganjing ini itu. Pada saatnya, manakala melakukan kebenaran, segala seuatu yang baik akan datang dengan sendirinya, dari Allah SWT. Amin. 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 4 April 2008.

  1. 12 Responses to “Guru dan Profesi Lainnya”

  2. By toni f on Apr 4, 2008 | Reply

    ikut begadang pak..sembari ikut memikirkan gimana nasib para calon guru-guru kita sekarang di masa depan nanti heee…..kompleks banget masalahnya kalo dipikirkan.dari almarhum pak guru oemar bakrie sampe guru yang lulus uji sertifikasi sekarang hanya secuil guru yang bisa menikmati gaji yang layak.itu juga bisa untung untungan. yaa seperti yang lulus sertifikasi. sedangkan yang tua tua yang tergopoh gopoh mengajar di paksa harus puas dengan gaji seadanya..

    kadang saya berpikir tidak mau jadi guru kelak nanti, meskipun latar belakang saya dari pendidikan..namun pikiran lain saya berkata lain. guru adalah profesi yang paling mulia.usaha dan jasanya tidak bisa dinilai dengan harta namun kita semua harus mengerti sebagai manusia yang mampu berkembang karena jasa guru. sudah selayaknya guru mendapatkan hidup yang layak!!! hidup……yapp

    ***Begadang untuk membelajarkan diri, Ok. Kalau main kartu … wah itu namanya …

  3. By sawali tuhusetya on Apr 4, 2008 | Reply

    kita ini masih hidup di sebuah negeri yang penuh ironi, pak ersis. ketika banyak orang bicara ttg nasib guru yang bergaji pas2an, mereka ikut bersimpati. tapi hanya sebatas simpati doang, tak ada upaya riil utk melakukan aksi. kalau guru yang beraksi, dibilang nanti guru ndak mencerminkan jiwa pendidik. sementara mengharapkan peran pemerintah, sukanya hanya bikin undang2 dan suprasutruktur lainnya. realisasinya? utk meningkatkan gaji guru aja mesti harus ikut sertifikasi yang jelas2 menurut saya bukan utk meningkatkan mutu pendidikan, tapi utk meningkatkan kesejahteraan guru. mbok ya kalau punya komitmen utk meningkatkan gaji guru, semua guru dinaikkan saja gajinya, tanpa membedakan kualifikasi pendidikan, sehingga guru ndak perlu harus memanipulasi bukti fisik portofolionya.

    ***Tepatnya, kalau mau menaikkan gaji guru ya naikkan saja … ringkas. Mau menaikkan kualitas pendiikan ya sediakan anggarannya. Ini maunya bagus, tapi perhatian tidak pada bagaimana aga bagus he he

  4. By noorlatifah on Apr 4, 2008 | Reply

    Seamdainya semua orang atau sipembuat kebijakan berfikiran seperti bapak Insya Allah nasib guru tidak menyedihkan seperti sekarang. Eh yang benar dari dulu sampai sekarang. Yang namanya profesi guru itu jarang dilirik orang, gak tau ya apakah karena gajinya kecil atau pekerjaannya yang dianggap kurang bergengsi.Padahal seandainya semua orang gak mau jadi guru lalu apa yang akan terjadi.Akan adakan namanya dokter, pilot, bupati, gubenur ataupun presiden?Masih ingat apa yang dilakukan jepang setelah di bom oleh tentara sekutu? Yang pertama kali dicari adalah berapa jumlah guru yang ada.
    Sejelek apapun guru, keinginannya tetap agar anak-anak didiknya menjadi anak-anak yang pintar dan berbudi pekerti yang baik, mungkin yang berbeda hanya kemampuan mendidiknya aja yang berbeda. Mengenai perhatian terhadap gurunya setelah mereka berhasil bisa dikatakan mungkin karena budaya menghargai dan ucapan terima kasih itu tidak tertanam dalam dirinya. Dan ini bukan tanggung jawab guru sepenuhnya tapi keluarga juga sangat menentukan.
    Pak ulun salut dengan sempeyan yang telah memberikan semangat kepada guru-guru di Banjarbaru. Terus, terus dan teruskan!
    Terima kasih dari kami guru-guru.

    ***He he … yang penting guru santa aja kalo …

  5. By Zul ... on Apr 4, 2008 | Reply

    Pengertian guru sudah mengalami penyempitan makna. Guru dalam kosep sekarang hanyalah mereka yang mengajar di lembaga pendidikan formal. Sehingga jika bicara nasib guru, pembicaraan tak lebih dari meningkatkan kinerja dan penghasilan guru di tingkat sekolah dasar sampai menengah. Sementara guru dalam dimensi lain, seperti guru di perguruan tinggi (dosen), guru ngaji, guru kuntau (karate), guru tari, guru tulis, dan guru-guru bidang lainnya, terabaikan. Namun, persoalan guru di lembaga pendidikan formal saja masih tak habis-habisnya, apalagi jika bicara yang lebih luas. Okelah, biarlag pemerintah terus berusaha memikirkan dan memperbaiki nasib guru dan bagi para guru sendiri teruslah menjalankan aktivitas, melakukan eksplorasi kompetensi diri, dan melayani dengan baik anak didiknya, guru apa pun Anda!

    Tabik!

    ***Ya ya yang wajib aja pemeritah letoy … gimana yang sunat. Ke depan pantasnya diurus oleh yang seriuslah … dan ada hasil nyatanya.

  6. By diorockout on Apr 4, 2008 | Reply

    wah, komennya kok panjang-panjang..
    guru, orang tua di sekolah..

    ***Bagus aja kali …

  7. By Suhadinet on Apr 4, 2008 | Reply

    Saya seorang guru. Walaupun penghargaan terhadap profesi saya belum maksimal, saya tetap akan berusaha menjalani profesi ini dengan sebaik-baiknya. Kalau saja saya dikasih gaji 2 kali lipat (idealnya 3-4x lipat) dari yang sekarang saya terima, maka saya akan lebih mudah mengalokasikan sebagiannya untuk beli buku, internetan, dan hal-hal lain , untuk peningkatan keprofesionalan saya.

    ***Amin.

  8. By mathematicse on Apr 5, 2008 | Reply

    Iya juga ya? Duh guru kita terlalu sabar! Terlalu menerima keadaan. Terlalu terninabobokan oleh kata-kata manis “pahlawan tanpa tanda jasa”. …

    Tapi alhamdulillah, sebagai guru, saya wajib bersyukur. Karena ini cita-cita saya. (sewaktu SMP, ingin jadi guru Fisika, sewaktu SMA, ingin jadi guru Matematika). :D Dan saya wajib menjalankan profesi ini dengan ikhlas. Amin (semoga).

    ***Sabar … sabar amin.

  9. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Apr 5, 2008 | Reply

    Ya, sepakat. Semua profesi sebenarnya dia juga seorang guru, minimal guru bagi dirinya sendiri. Sebagai seorah bapak, di adalah guru dari anak-anaknya. Seorang kakek, di adalah guru bagi para anak cucunya. Seorang pimpinan, dia adalah gurunya para bawahannya. Dan seterusnya…

    Bahkan profesi apa pun juga ada sisi lain dari profesinya yang bernilai sebgai guru.
    Allhu a’lam.

    Makasih, Pak EWA.

    ***Siiip … tulis dong dalam motivasi psikologis. Salam.

  10. By nexlaip on Apr 5, 2008 | Reply

    pak ersis, ibu saya juga guru….pak ersis juga guru nih

    ***Sama dong, salam untuk beliau … kalau ada tulisan saya yang kurang berkenan, maaf ya …

  11. By Yari NK on Apr 5, 2008 | Reply

    Nah…. itulah….. saya lupa, saya pernah berkomentar di blog mana, namun yang saya ingat saya berkomentar di artikel yang bercerita tentang “kesuksesan”. Di dalam artikel tersebut diceritakan bahwa ada seseorang yang sukses karena mempunyai rumah mewah, mobil banyak, perabotan mewah dan lain sebagainya. Seolah2 keberhasilan hanya dilihat dari banyaknya harta yang dikumpulkan…..

    Bagi saya pribadi kesuksesan banyak sekali dimensinya. Termasuk bagi seorang guru. Walaupun mungkin sulit untuk seorang guru untuk mengumpulkan harta yang berlimpah namum apakah berarti guru tidak pernah sukses?? Menurut saya guru mempunyai pengukuran kesuksesan yang berbeda yang tentu ukurannya bukan harta tapi ukurannya sangat mulia. Menurut saya seorang guru boleh dikatakan sukses kalau ia dengan bangga berhasil mengantarkan murid2nya menjadi orang2 yang mandiri.

    Sama halnya dengan ilmuwan, walaupun ia tidak sekaya konglomerat atau pengusaha, ia dapat dikatakan sukses jikalau ia berhasil menemukan sebuah teori yang berguna untuk kesejahteraan umat manusia.

    Banyak sekali pengukuran2 kesuksesan lainnya yang seringkali kita lupakan kalau kita berbicara mengenai kesuksesan seseorang……..

    ***Setuju … dapat menyumput ide lagi. Maksih ya.

  12. By budimeeong on Apr 5, 2008 | Reply

    gimana dengan guru-guru yang dipegunungan…?
    di rawa….?
    biar gaji 6x lipat, tp tetap ngga adil ama yang didaerah diperkotaan..
    duduk enak dikursi berbusa, pakai kipas angin ato ace…
    sementara temen-temen kita yang dipegunungan kira-kira sudah cukup dipuaskan dengan ace alam aje kali….uhuuuuuuu
    guru-guru selalu diributkan dengan gaji mereka, naik dikit, para wakil rakyat pada minta dinaikin juga….
    duuuuuuuuuuh…
    enaknya guru-guru di kalsel ini di gaji ama pa ewa aja, biar ngerti dengan senior-senior kaya abah dirumah,,,,heheh

    ***Wuaw … Yang pasti mereka lebih sehat raga dan jiwa.

  13. By balawi as on Apr 6, 2008 | Reply

    Dari deskripsi yang sampean curahkan dalam tulisan ini ada beberapa hal yang menarik perhatian saya, salah satunya yaitu “Guru tidak usah Berdemo” saya sangat setujuuuu …! Sebenarnya masih banyak jalan lain untuk menekan institusi lain jika guru mau,seperti dengan cara mogok saya pikir ini alternatif yang paling jitu, tetapi guru adalah sosok yang sangat sabar bahkan sabarnya tu kadang-kadang sampai keterlaluan.
    Semestinya setelah lahirnya UU Guru don Dosen bargaening kita kuat (guru), tetapi kenyataan di lapangan belum banyak guru yang punya nyali untuk menentang kesewenang wenangan para pejabat termasuk PGRI.
    Ambil contoh dalam UU Sidiknas Pasal 49 ayat (1) berbunyi bahwa Dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
    Ayat (2)berbunyi Gaji guru dan dosen yang diangkat oleh Pemerintah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
    Buktinya sekarang Pemerintah menganggarkan dana 20% tetapi termasuk gaji dan tunjangan apa ini bener? Sama aja booong besar!
    Inikan jelas-jelas pelanggaran UU Sisdiknas, tetapi apa daya kita orang kecil hanya bisa mengeluh tetapi tak bisa melawan, tetapi bagaimana dengan kesewenag-wenangan ini…? Apa kita diam atau memendam?

Post a Comment