Dosen Teoritikus Menulis
31 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ZULFAISAL PUTRA: Bang, (sekadar tanya): Bagaimana kalau ada dosen yang mengajar (di program magister) mata kuliah ‘Menulis Produktif’, tapi produktivitas menulis Si Dosen tidak pernah kelihatan. Satu pun … tulisan tidak. Tabik!
GURU BANTU: Belajar dari dosen, apalagi tingkat magister, ‘teori’ menulis produktif, tidak apa-apa. Selama, tujuannya mempelajari teorinya, bukan kreativitasnya. Membahas teori kan tinggal ngomong, baca sana-sini, gunakan analisis. Namanya saja belajar teori. Mau dibahas berbulan-bulan, disiskusikan sampai urat leher putus, ya biasalah. Selama tujuannya, menjadikan mahasiswa ahli teori. Pas saja. Bak mur dengan baut. Saya acung jempol malahan.
Â
Tetapi, kalau dalam arti sesungguhnya, produktif menulis, ya lain lagi soalnya. Sampeyan baca buku apa saja tentang efektivitas pendidikan, contoh dari guru sangatlah penting. Ya, itu tadi, tergantung tujuannya. Kalau tujuannya menjadikan mahasiswa produktif menulis, kalau mahasiswa dijejar plus-minus teori melulu, efektivitasnya tidak akan mengembirakan, mustahil mencapai sasaran.
Â
Asyiknya pula, kalau mahasiswanya justru tersenang. Sebab, menyadap apa didongengkan dosennya, nanti ketika mengajar mempraktikkan apa yang dicontohkan, lahirlah ahli-ahli teori produktivitas menulis, sementara menulis produktif dilakoni oleh mereka yang tidak belajar teorinya. Dalam analisis pendidikan, kurang elok, kalaulah dikatakan sia-sia nanti berbuntut panjang.
Â
Minggu lalu, dengan teman-teman terlibat Diklat pembantu bidang studi (PBS) IPA, Matematika, Bahasa Indonesi, dan IPS untuk guru ‘pilihan’ di LPMP Kalsel. Saya ambil bagian kecil saja. Kami paparkan model-model pembelajaran, dan … ini lebih penting … menjadi model pengajarnya.
Â
Tujuannya jelas, agar peserta Diklat bukan hanya paham model-model pembelajarn, tetapi sekalian dapat contoh bagaimana mengajar yang baik (menurut versi kami, he he). Teori saja tidak cukup.
Â
Idealnya, antara teori dan praktik sejalan, dilakukan bersamaan agar ‘ruh’ pembelajarannya menyatu dalam helaan nafas. Hanya saja, dalam kasus Zulfaisal, kita tidak bicara ‘ruh pendidikan’ kan? Galibnya, di perguruan tinggi kita, begitulah adanya. Saya, barangkali, terkungkung juga hal sedemikian.
Â
Bayangkan, semakin banyak sarjana, magister, doktor, sampai profesor kehutanan, lengkap dengan aneka laboratorium dan ditunjang dana tidak sedikit, plus komitmen kuat pemerintah (konon), hasilnya hutan kita gundul. Itu fakta, bukan teori. Pada dimensi teori hal tersebut tidak mungkin terjadi. Kenyataan saja yang berbukti.
Â
Begitu juga dalam dunia pendidikan. Sejak republik ini merdeka, sekaranglah bangsa ini memiliki SDM pendidikan berkualifikasi sarjana, magister, doktor yang profesor bak jamur di musim hujan. Siapa yang bisa membuktikan kehadiran orang-orang hebat tersebut —lagi-lagi saya masuk di dalamnya—Â menjadikan kualitas pendidikan sangat baik, membanggakan bangsa. Hayo?
Â
Kalau alasan gampang dikenakan. Kita lebih lihai mencari alasan daripada membuktikan alasan, he he. Ironis memang. Tapi, itulah kenyataan. Bisa jadi, kita —guru dan dosen– ternyaman dengan nyemplangnya antara teori dan praktik.
Â
Berteori tidak memerlukan contoh atau bukti, berproduksi tandanya adalah apa yang ada, kenyataan, bukan apa yang diomongkan, tetapi hasil dari perbuatan. Kalau sudah begini, kita tidak usah berpanjang-panjang lagi. Tinggal lihat, buktinya.
Â
Agak satire memang, namun pendidikan yang baik adalah teori yangi diperkuat ‘bukti’, perbuatan. Sejak SD sampai sarjana diajarkan teori menulis, bukan menulisnya, apa pula salahnya dilanjutkan sampai program doktoral, ha ha. Kalau ada yang berniat dan berminat produktif menulis, saya mau jadi guru bantu. Minimal, menjadi teman sharing. Kali aja.
Â
Tapi, kalau disuruh membahas teori, hands up. Tidak sanggup. Saya hanya pembelajar menulis, dan (maaf) tidak kompeten menilai para teoritikus menulis. Tabik.
Â
Bagaimana menurut Sampeyan?
Â
Banjarbaru, 31 Maret 2008.










6 Responses to “Dosen Teoritikus Menulis”
By hanggadamai on Mar 31, 2008 | Reply
tapi skarang meskipun banyak punya sarjana
kerjaannya cuma menuh2i status pengangguran doank
di Indonesia bahkan menghasilkan pakar2 di berbagai bidang
tapi nyatanya??
bangsa kita gak maju2!!
karna ap coba? Krn pemerintah gak percaya sama pakar tsb.
Miris bukan?
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 31, 2008 | Reply
Teori aja tidak culup, jarus dengan banyak praktek. Justru saya acungi jempol Pak EWA yang menelorkan teori dalam menulis -EWT-. Kesannya dan kenyataannya : Mudah-gampang-simple-sederhana dan bisa dibuktikan alias dipraktekkan.
Saya sangat setuju agar penelor EWT ini mendapatkan semacam nobel penghargaan. Karena memang betul-betul teori baru dalam dunia tulis menulis. Dan terbukti banyak yang termotivasi dan bisa menulis bahkan ada hasil karya nyata (buku).
Selamat dan Sukses, semoga menjadi amal jariyah, Amin…
By Suhadinet on Mar 31, 2008 | Reply
Saya tak tau teori tulis-menulis dan tidak (belum barangkali) produktif menulis, tapi saya pingin jadi penulis… Wah, gimana ya Pak? Alabio, 31 Maret 2008.
***Bagus, saya suka orang yang tidak paham teori menulis bila sharing, lebih cepat bisanya. Resepnya, tulis apa yang hendak ditulis, habis perkara.
By Zul ... on Mar 31, 2008 | Reply
Menurut sejarahnya, Indonesia dibuat sebagai sebuah negara berdasarkan teori kenegaraan. Sementara, untuk mengelola negara pemimpin kita belajar otodidak. Jadi, jika budaya teori lebih kuat diajarkan daripada praktik, tidak usah heran. Apalagi sekadar urusan ‘menulis’.
Bagaimana menurut Sampeyan sebagai orang sejarah?
Tabik!
***He he. Tabik.
By olangbiaca on Mar 31, 2008 | Reply
Aslkm………iya pak saya mau jadi murid Bapak, murid belajar menulis…
kasih penilaian dong pak atas tulisan sy..hehe
***He he … kita sama-sama menulis sajalah, kalau mau jadi guru diri sendiri, saya mau bantu. Apa ada masalah?
By pri on Mar 31, 2008 | Reply
Menurut sejarahnya memang seperti itu. Kita jago dalam pemikiran dan teoritis. Kita lebih hebat dalam redaksional tapi jangan tanya tentang realitanya?
Jadi? Kalau memang kita belajar teori, jangan tanyakan apa yang dosen telah produksi? Coz, kita juga tidak mau kalau semua praktisi untuk bisa juga secara teoritis, karena mereka juga lebih paham dalam penerapan daripada teoritis.
Kalau negara kita jadi seperti ini? maka sudah samakah antara teori dan realitanya?? itu yang jadi pertanyaan??
Jadi .. pointnya. kalau kita belajar teori menulis harus dosen yang paham secara teori. Tapi kalau kita ingin bagaimana menulis itu secara produktif, ya… para praktisi langsung Dong yang mengajarnya.
thanx