Asyiknya Rekreasi Menulis
31 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Esis Warmansyah Abbas
ENGGAR: Salam kenal, Pak. Kalau membaca tulisan orang lain yang sederhana dan mudah dicerna jadi iri deh, ingin sekali merangkai kalimat seperti itu. Enak dibaca, menyenangkan. Ada saran buat saya, Pak?
FRESH. Menulis yang ‘enak dibaca dan perlu’ bak semboyan majalah Tempo tentu banyak faktor pendukungnya. Untuk bisa meproduk tulisan demikian tentu melalui tahapan panjang dalam arti cukup syarat. Hal tersebut secara implisit telah dibahas pada banyak tulisan saya. Tulisan picuan tanya Enggar sengaja ‘dipotong’ ke pangkal memula menulis. Apa itu? Pola pikir alias mindset. Menulis kita artikan sederhana saja, menuangkan pikiran.
Perhatikan komentar di www.webersis.com. Ada yang setelah membaca tulisan saya, langsung komentar: “Ah itu kan kata Bapak. Mudah memang bagi yang sudah terbiasa menulis, tetapi bagi yang baru belajar menulis, susah. Sangat susah”.
Itulah mindset. Pada pola pikir ditancapkan kokoh, menulis serba susah. Lucunya pula, diberi sajian pengalaman gratis, tips menulis mudah dan memudahkan, malah menyosal: “Tidak semudah yang Bapak tulis”. Ya, iyalah. Wong saya mendapatkannya ‘berdarah-darah’, melalui perjuangan panjang. Maunya saya, bagi yang serius sharing, jangan mengalami lagi kesusahan. Tidak usah terlalu dipikir, langsung praktik. Kalau masih kesulitan mari sharing.
Setelah melalui pelatihan (sendiri) yang cukup panjang menemukan resep, menulis arena rekreasi. Betapa tidak, sebelum menulis dan atau ketika menulis, pikiran melayang ke ranah menyegarkan. Lupa segala kesulitan, aneka masalah. Membayangkan sesuatu yang akan ditulis saja, duh … nyamannya. Nyaman dan menyamankan. Mana gratis pula.
Lebih nyaman saat menulis. Sampai lupa waktu. Setelah selesai, menjadi super nyaman. Sudah pernah merasakan suasana kebathinan buku-buku yang dilepas ke pasar bebas laku dan direspon positif? Sungguh nyaman. Nyaman. Nyam-nyaman.
Kesemua itu berawal dari pangkal, suasana pikir nyaman ketika menulis. Mendapatkan suasana demikian memang bukan perkara mudah. Jangan-jangan itu yang disebut teoritikus mood. Mbuh, apa peduli saya, sebab teorinya direvolusi. Maksudnya?
Pertama, menulis tidak dijadikan membeban. Ketika ada ide menulis sudah menyenangkan, ketika menulis sangat menyenangkan, setelah menulis lebih menyenangkan. Mampus tu bisikan menulis itu susah, menyusahkan, membuat pikiran ruwet, pusing, dan kakek-cucunya. Pokoknya, kalau menulis langsung senang dan menyenangkan.
Kedua, kalau badan kurang enak, perasaan kurang nyaman, ada pengalaman buruk —misalnya baru saja kehilangan dompet— langsung menulis. Hilang tu hal-hal membuat keruwetan pikiran. Tercipta suasana kebathinan yang nyaman.
Dengan kata lain, saya tidak pernah menunggu yang namanya mood. Mood tercipta dengan sendirinya manakala pikiran disipakan untuk nyaman. Pikiran dan persaan selalu siap dalam suasan mood. Duh, bagaiman menulisnya. Sungguh, kalau tidak dihentikan, bisa-bisa menulis sepanjang hari. Padahal, banyak pekerjaan lain, pekerjaan utama. Karena itu, menulis dijadikan sekadar selingan, mengisi sela-sela waktu agar jangan terbuang percuma.
Dungunya saya, tidak pernah memikirkan tulisan saya itu enak apa tidak dibaca, atau perlu apa sekaliber sampah. Lagi pula, buat apa dipikir? Mendapatkan kenyamanan saja sudah untung. Pikiran terpelihara, dapat rekreasi kapan mau, tanpa biaya, tanpa mempersiapkan ini itu. Mantapnya pula, bacaan sehari-hari, ilmu yang pernah dipelajari, pengalaman, dan atau, ide-ide yang muncul tak terbatas, tersalurkan. Sungguh nyaman rekreasi menulis. Tidak percaya?
Coba pelihara kebencian di lubuk jiwa, iri di jantung hati, mematenkan karya orang jelek melulu, manakala menulis, hal-hal sedemikian akan terpancar. Mustahil orang yang berjiwa pesimis tulisannya bermuatan optimis, hil yang mustahal.
Jadi, buat apa lagi menunggu mood, ciptakan mood. Buat apa lagi memikirkan ini-itu, saatnya menulis. Menulis apa yang ada di pikiran, apa yang terpikirkan. Kalau penampakkannya kurang beres, kurang nyaman dibaca, … tolehlah sarang pikiran, kubak mindset. Pastilah disitu awal mulanya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 31 Maret 2008.









2 Responses to “Asyiknya Rekreasi Menulis”
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 31, 2008 | Reply
Ya, cara pandang dalam berpikir memang sangat mempengaruhi jiwa kita, kalo berparadigma dari sisi negatif terus-terusan bisa dipastikan hasil karya-nya NEGATIF. Tentu demikian juga sebaliknya.
Wah, jadi teringat awal-awal dulu menulis (saat gabung dalam komunitas EWA ‘MCo). Sebelum bergabung sih, nulis tuh seperti banyak beban saat memulainya (ya karena banyak sekali aturan yang harus dijaga saat kita menulis, sbgmn teori yang kita dapatkan di sekolah dulu), tetapi setelah mendapat pencerahan atau katkan motivasi dari Sang Motivator–> jadi berani nulis dengan riang gembira-gak takut salah-alias menulis ya menulis maka jadilah tulisan.
Mengenai kualitas itu nomer kesekian, itu akan mengikuti aja jiaka terus dilatih menulis dengan menulis.
MAntap.
By kaitokid724 on Mar 31, 2008 | Reply
Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://www.infogue.com/pengetahuan_umum/asyiknya_rekreasi_menulis/
***Yoi, makasih infonya.