Rekreasi Menulis

30 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

WILLY EDIYANTO: Kalau kebanyakan ide dan tubuh letih, ya nggak bisa tidur. Malam terbangun. Jamu atau istri penetralnya. Kerja fisik yang melelahkan, menyerobot waktu berpikir. Jangankan menulis, membaca saja susah.

DIKLAT. Kelelahan karena bekerja adalah hal wajar. Lelah fisik berakibat lelah pikiran, atau sebaliknya, lelah berpikir membuat badan letih. Lelah dan kelelahan milik kita semua. Tetapi, apakah harus dijadikan alasan untuk tidak berkarya? Pada kadar tertentu, tidak perlu berakibat buruk pada berpikir. Kelelahan fisik dapat ‘diobati’ dengan rekreasi. Penyegaran kembali badan dan pikiran; mengembirakan hati dan menyegarkan; hiburan, piknik, dan sebagainya.

Sejak bulan Januari 2008 sungguh bulan-bulan melelahkan. Betapa tidak. Bersama teman-teman  merancang Program Percepatan Peningkatan Mutu Pendidikan Banjarbau. Ujung-ujungnya bermuara merealisasikan program, yang apa boleh buat, sangat saya benci. Apa itu?
 
Penataran. Tepatnya, pendidikan dan latihan (Diklat) guru pembantu bidang studi (PBS) IPA, Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPS. Setelah dua bulan merancang dan melakukan educational mapping, melaksanakan Diklat. Bencinya saya, setahunan meriset efektivitas penataran berbuah simpulan; hal sia-sia. Sia-sia? Yes.
 
Bayangkan, tidak terhitung Diklat diikuti guru, tidak sedikit biaya, waktu, tenaga terkeluar. Hasilnya? Mengecewakan. Sebab, begitu Diklat selesai, masalah usai. Guru kembali mengajar seperti sedia kala. Tidak ada tindak lanjut. Sedikit saja hasil yang tertampak. Ironi Diklat.
 
Pada rapat-rapat awal saya mengancam: Tidak ikut mendukung program Diklat kalau berterminal Diklat doang. Akhirnya disepakati, diprogramkan tindak lanjut, pemantauan lapangan. Lalu, dilanjutkan Diklat pedagogi, revitalisasi, PTK, TIK, pembuatan Buku Ajar, LKS, yang dikerjakan bersama guru. Semangat saya membuncah. Ikuuuuut.
 
Seselesai pemetaan sarana dan prasaran sembari menggulirkan pemantauan kompetensi individu 1562 guru, melaksanakan Diklat. Ya, 24-29 Maret kami ‘terbenam’ di LPMP Kalsel. Banyak hal, bejibun masalah, dan beragam tantangan. Asyiknya, kami lalui dengan riang gembira. Kami bangga, guru-guru bersemangat, dan ternyata … guru-guru itu pada cerdas-cerdas.
 
Sebagai quality control waktu saya tersedot. Lelah fisik. Sungguh sangat melelahkan. Untung dalam kesibukan sedemikian punya kiat rekreasi. Apa itu? Membaca dan menulis. Ah masyak sih?
 
Disela-sela tugas mengendalikan mutu Diklat, juga jadi instruktur, membaca ragam buku. Kalau tidak membaca, ya menulis. Ternyata, hasilnya tidak jelek. Saya menulis, dan … itu yang saya maksud dengan rekreasi; rekreasi pikiran dengan menulis.
 
Sungguh. Seselesai membaca, apalagi menulis, pikiran fresh, semangat mencuat lebih kencang. Apalagi mendapatkan guru-guru dengan semangat super. Saya menulis RPP, berusaha menjadi ‘model guru’ sehabis , sharing model-model pembelajaran. Ketika guru-guru mengeluh sulit naik pangkat, tertahan di golongan IV a karena tidak piawai menulis, muncul ide menulis buku Penelitian Tindakan Kelas (PTK). E … malamnya menulis setelah mendapatkan masukan.
 
Yah, …www.webersis.com tetap mendapatkan jatah postingan. Tidak merasa terbeban. Sharing di kelas, berbincang dengan 15 instruktur di meja makan, atau dikala rehat, menjaring banyak ide. Kalu dihitung-hitung, beberapa puluh ‘calon’ tulisan didapat dari arena Diklat, langsung dari medan sesungguhnya; fresh from the oven.
 
Setelah dipikir-pikir, justru dalam kesibukan, membaca dan menulis menjadi rekreasi. Buktinya, setelah menulis pikiran tidak kusut, dan letih berkurang. Tulisan ini saya tulis sesampai di rumah, pukul 12.45 Witeng sekembali acara HUT Bank BPD Kalsel. Bandjarbaroe Post, media cetak milik saya, membuat Laporan Khusus HUT ke-44 Bank BPD Kalsel. Kata banyak orang, isinya bagus.
 
Pesan yang ingin saya sampaikan, bilamana menulis kita jadikan rekreasi, fisik dan pikiran menjadi lebih segar. Lain halnya kalau dijadikan beban, bisa-bisa menambah keletihan, menjadi letay.

Mohon izin Mas Willy komentarnya dijadikan pemicu contoh balikan. Bahwa, hal sedemekian memerlukan perjuangan keras, ya. Tapi, tidak ada salahnya dicobaterapkan. Mana tahu tidak sulit. Saya mempraktikkan walau secara sederhana.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 30 Maret 2008.

  1. 5 Responses to “Rekreasi Menulis”

  2. By samsul on Mar 30, 2008 | Reply

    Hebat Pak Ersis, menulis sebagai sarana rekreasi. Saya kok susah ya menulis, apalagi menulis yang panjang :-)

    ***Ngak, itu mindset. Tulis saja. Apa yang bisa saya bantu?

  3. By jimmy on Mar 30, 2008 | Reply

    waduh saya bener2 gak kebayang menulis jadi rekreasi. saya kalo terlalu serius mau nulis malahan stress lho, bukannya jadi enteng pikiran.. mungkin gara2 masih kurang sering menulis ya pak?

    ***Saya jadikan artikel ya. Selamat membaca.

  4. By mathematicse on Mar 30, 2008 | Reply

    Wah klo saya rekreasi setelah ngerjakan tugas, setelah mikir yang berat-berat, baca-baca berita (online), baca blog, dan kalau masih ada waktu ya nulis di blog. Wakakakakakakakakak… :D

    Tapi, saya coba deh menulis jadi rekreasi yang menyegarkan pikiran. :D Baru tahap membaca doang nih Pak… :D

    ***Wakaka kalau ke blog ini, buktinya Sampeyan menulis kog, he he

  5. By mathematicse on Mar 30, 2008 | Reply

    Wah klo saya rekreasi setelah ngerjakan tugas, setelah mikir yang berat-berat, baru deh baca-baca berita (online), baca blog, dan kalau masih ada waktu ya nulis di blog. Wakakakakakakakakak… :D
    Tapi, saya coba deh menulis jadi rekreasi yang menyegarkan pikiran. :D Baru tahap membaca doang nih Pak… :D

    ***Wakakakakaka (apa sih artinya?)

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 31, 2008 | Reply

    Menulis memang jadi enak kalo hal itu sesuai dengan bidang yang kita senangi, lebih-lebih kita menguasai disitu. Yang tak kalah pentingnya, ya menulis dengan senang hati alias gembira.

Post a Comment