Rekreasi Bermula dari Mindset

30 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Esis Warmansyah abbas

JIMMY: Waduh, bagi saya benar-benar tidak kebayang menulis jadi rekreasi. Kalau terlalu serius mau nulis malahan stress lho, bukannya jadi enteng di pikiran. Mungkin gara-gara masih kurang sering menulis ya Pak?

LAKUKAN. Menulis sebagai rekreasi mungkin wacana baru dalam telaah menulis. Bagaimana mana mau dijadikan arena rekreasi, ada orang kalau menulis, apalagi dapat tugas menulis, malahan stres. Apa yang ditulis Jimmy, lebih maju, kalau terlalu serius baru stres. Belakangan saya melatih, menjadikan menulis arena rekreasi. Masih ingat judul tulisan Menulis Enjoy Aja, atau buku saya Menulis dengan Gembira, Menulis Berbunga-Bunga, dan hal-hal serupa?
 
Kampanye (‘membalik’) menulis mudah, tanpa berguru, sampai arena rekreasi, tentu bukan tanpa sebab. Pengalaman sharing menulis dengan banyak kalangan mendatangkan kesan, menulis kog disusah-susahkan. Aturan inilah, teori itulah, harus begana-begini, dan entah apa lagi. Kenapa sih, terutama pada mula menulis tidak dipahami sederhana, menungkan pikiran. Apa yang ada di pikiran, apa yang terpikirkan ditulis. Ringkas aja.
 
Coba pula dipikir-pikir, dengan segala ‘aturan’ dan hal ideal tersebut apakah kita kreatif menulis? Kalau terkendala, kenapa tidak dicoba cara baru? Kenapa tidak berani melakukan prubahan mindset?  Kalau menuangkan pikiran sudah fasih, baru didukung teori atau beragam aturan.
 
Banyak orang berkeinginan menulis, belajar aneka teori, menyimak petuah-petuah penulis hebat-hebat, eh … begitu dipraktikkan madeg. Apa sebab? Tulisan disepadankan, dibanding-bandingan dengan karya penulis hebat. Kita baru mau memulai, baru membiasakan menulis, apakah logis dibanding dengan penulis-penulis hebat. Lebih celaka kalau dapat guru norak, dia tidak memberikan contoh karyanya, tulisan kita dibanding-bandingkan dengan karya J.K Rowling atau Hamka. Jelas saja bak bumi dan langit. Hal-hal seperti itu ditancapkan pada mindset. Dasar.
 
Setelah direnung-renung, bisa jadi bak proses pembodohan. Misalnya ’diwajibkan’ membaca karya Anton Chekov, Ernerst Hemingway, Kar May, atau buku Laila and Majnun. Tidak salah memang, tetapi kita kan tidak punya bukunya, di perpustakaan kampus tidak ada. Lalu, apa hubungannya dengan menulis? Kalau menambah amunisi menulis, iyalah. Kita mau membiasakan menulis atau menambah amunisi?
 
Kini dibalik, fasihkan menulis. Setelah itu, atau bersamaan dengan pancangan tekad menulis, berusaha membaca karya-karya tersebut, akan lain hasilnya. Ibarat membangun rumah, hanya Candi Parmbanan yang dibangun semalam, lainnya memerlukan tahapan. Petani handal kita tidak pernah kuliah di Fakultas Pertanian, tetapi kalau ada hasil riset (kalau ada lho), akan lebih memudahkan proses bertani petani. Memangnya ahli pertanian ahli dalam bertani? Ada lho yang melihat lumpur saja sudah ciut.
 
Begitu juga rekreasi menulis, menulis dijadikan arena rekreasi, menyegarkan pikiran. Ada landasan teoritik psikologisnya, katarsis. Kalau kita melakukan katarsis, kerak-kerak pikiran bisa terkikis, tidak dipendam. Konon, kata psikolog menyehatkan jiwa. Percaya atau tidak, coba dipraktikkan. Kalau disoal, lain ceritanya. Kalau dirasakan manfaatnya, patok pada ranah mindset. Saya senang melatih diri untuk itu.
 
Menulis sebagai arena rekreasi sederhana saja. Manakalah letih, saat pikiran kalut, perasaan tertekan, atau ada hal menganjal, salurkan dengan menulis. Minimal, saat menulis waktu terpakai, dan kita tidak sempat lagi memikirkan kesulitan. Kesulitan, dalam hal ini kesulitan menulis, diatasi dengan menulis itu sendiri. Hasilnya berupa tulisan.
 
Banding dengan mereka yang punya mindset mapan, menulis itu harus pada suasana bagus, mood lagi cerah, dompet penuh, suasana rumah tenteram, di kantor pekerjaan selesai semua, para tetangga rukun-damai, dan seterusnya. Memangnya gampang mendapatkan tingkat kehidupan sedemikian?
 
Beban kehidupan sudah begitu membeban, kita perlu rekreasi. Satu bentuk rekreasi murah meriah, dan kalau mampu memaknainya akan mendatangkan kepuasaan, kebanggan, popularitas dan finansial. Sangat berbeda, keinginan menulis begitu menggebu-ngebu, tetapi mindset dilas, menulis itu susah dan menyusahkan. Pikiran sedemikian yang menjadikan sters, bukan menulisnya.
 
Jadi, mari rekreasi. Hasilnya tulisan. Berpikir tentang kendala menulis, menciutkan nyali. Mari menulis, menulis, dan menulis. Mudah dan murah.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 30 Maret 2008.

  1. 4 Responses to “Rekreasi Bermula dari Mindset”

  2. By sawali tuhusetya on Mar 30, 2008 | Reply

    tulisan pak ersis ini relevan dengan adagium: “kalau Anda ingin ingin melihat dunia, membacalah, dan jika Anda ingin dilihat dunia, menulislah!”

    ***Makasih Pak Guru. Sampeyan selalu memberi darag segar.

  3. By hanggadamai on Mar 30, 2008 | Reply

    sedih karna tulisan saya ndak mutu :(

    ***Kata siap tu? Jangan tidak menghormati karya sendilah, kawan. Menurut saya bagus kog.

  4. By jimmy on Mar 30, 2008 | Reply

    wah terima kasih pencerahannya Pak Ersis.. saya setuju semuanya harus dimulai dari mindset. Seperti kalau pikiran kita bilang tidak bisa, maka kenyataannya kita pastilah tidak bisa.

    Mengenai menulis, saya pikir apa yang Pak Ersis katakan sangat tepat. Dulu di sekolah koq kalau ada pelajaran mengarang saya dan (kebanyakan) teman sangat tidak suka. Mungkin terlalu banyak teori ya.. jadilah mindset kita di-set dan tertancap di bawah sadar bahwa menulis itu sulit dan tidak menyenangkan, terbawalah hingga besar.

    Setelah membaca tulisan Pak Ersis di atas, saya jadi tercerahkan, dan berani serta bertekad mengubah mindset bahwa menulis itu ternyata menyenangkan! Selama ini saya punya banyak ide untuk menulis tapi tidak pernah diwujudkan dalam bentuk tulisan. Terima kasih ilmunya Pak :D

    ***Sama-sama, mari kita sama menulis, saling memberi. Terima kasih juga tanyanya, saya jadi bisa bikin tulisan.

  5. By Zul ... on Mar 31, 2008 | Reply

    Bang,

    (Sekadar tanya)
    Bagaimana pula kalau ada dosen yang mengajar (di program magister) mata kuliah ‘Menulis Produktif’, tapi malah ga pernah keliatan produktivitas menulisnya. Satu pun …

    Tabik!

    ***Tuh dalam 10 menit jadi artikel. Itulah prosuktivisa menulis. Tanya Samoeyan hanya 10 menit dibiarkan tak terjawab, he he

Post a Comment