Menulis Kehabisan Kata-Kata
29 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
RIDUAN SAIDI: Ass. Ewa. Dari dulu, saya selalu ingin menulis cerita. Tetapi tidak pernah selesai, karena selalu kehabisan kata. Kalau pun selesai ceritanya tidak nyambung
DOEL SUMBLANG. Membaca keluhan Riduan Saidi saya teringat bait lagu Doel Sumblang … kehabisan kata-kata. Menulis menorehkan kata-kata. Kalau kata-kata yang akan ditorehkan habis, ya mustahil menulis. Cara paling logis berhenti. Kalau tidak, hasilnya bisa jadi lukisan abstrak. Tetapi, tentu saja, membacanya tidak tekstual begitu. Mandeg menulis, kehabisan kata-kata dalam arti ‘bingung’ melanjutkan tulisan. Pertanyaannya, kenapa ‘kehabisan’ kata-kata?
Menurut saya, pertama-tama karena salah memaknai kata. Tidak rasional kata-kata habis di lambung pemikiran di simpanan memori. Kalau dihitung, sepanjang kehidupan menghitungnya, bisa jadi, simpanan kata-kata takkan pernah selesai dihitung. Banyaknya tidak terhitung.
Illustrasinya sama dengan ‘menunggu’ mood. Mood jelas sejelasnya suasana hati. Suasana hati kog ditunggu, emang mobil, dan kita lagi di halte? Mood diciptakan, bukan dinanti. Itu alasan, cara orang —entah siapa— untuk membenarkan ketidakmampuan menulis. Kalau ada mood baru menulis. Aneh. Kog bisa-bisanya mood menjadi remote control menulis. Ntar, kalau ada mood baru menulis. Yo opo rek. Logisnya ciptakan suasana hati, dan … menulis. Jangan dibolak-balik. Jadi rusak frame of mind.
Begitu juga kata-kata, sifatnya endless. Tidak percaya? Coba tulis kata tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak. Seumuran menuliskan kata tidak, takkan pernah habis. Eh … saya teringat penggalan (kata) syair Bohomeian Rapsodhy dari Queen, yang kalau kami ke karaoke dengan Erwin menjadi lagu wajib, … Oh no … no … no. Tepatnya, kata-kata itu tinggal ditulis semau kita. Jangan ditunggu, jangan dikatakan habis. Tulis sesuka hati, semau hendak, tidak akan pernah habis.
Dalam menulis, memilih kata-kata yang tepat untuk tulisan dinamakan diksi. Kata memuat konsep, konsep merupakan pengambaran tentang sesuatu. Misal, kita melihat bangunan yang ada jalan masuknya, ada pintu, ada ruang tamu, ruang tidur, dapur, dan seterusnya. Kita simpan di memori secara terlipat ringkas dalam satu kata, rumah.
Kalau menuliskan kata rumah, ya itu tadi, memuat gambaran pikiran tentang tempat tinggal. Karena itu, gambaran tidak sama antara satu orang dengan lainnya. Dinamakan persepsi. Wajar kita sering disuguhkan kata-kata, mari samakan persepsi. Agar, punya pemahaman yang sama.
Nah, konsep itu yang harus ditumpuk, dikembangbiakkan dalam rumah pengetahuan. Itu pulalah sebanya, kita diwajibkan membaca, iqra’, iqra;, iqra’. Semakin banyak membaca, yang tersurat dan tersirat, dengan kemampuan membaca yang terbaca dan tidak terbaca, yang menjadikan pengetahuan memadai.
Dalam kerangka menulis, kalau ada ide, ada yang hendak ditulis, konsep diwakili kata. Misal, menulis tentang rumah. Bayangkan kalau lupa, apa itu pintu. Atau, mau menulis jendela yang terbayang di otak atap, lalu dituliskan. Kira-kira bagaimana bangun tulisan. Bisa jadi lucu-lucuan.
Dengan kata lain, satu-satunya jalan, lengkapi pengetahuan. Kalau buntalan pengetahun sudah menumpuk, tetapi masih susah menuliskannya, ya wajar saja. Tidak mungkin kita menuliskan semua yang ada di memori (otak). Jangankan semuanya, sebagian kecil saja susah. Lalu?
Ya, itu tadi, yang dapat ditulis bagian sangat kecil. Dan, satu-satunya jalan, dengan latihan. Bagaimana melatihnya? Ya, menulis. Tulis, tulis, dan tulis. Tidak ada cara lain. Kalau menulis sudah fasih, beranak-pinak kata-kata akan tertorehkan.
Jadi, kuncinya dilatih dengan menulis, bukan menunggu Godot … eh maaf mood. Ibarat mengetik tuts komputer, pertama menekannya harus dilihat seksama; kiri atas q, w, e, kanan atas i, o, p. Kalau sudah terbiasa, seolah-olah ujung jari bermata, otomatis menekan apa yang dimaui otak. Itulah kunci sesungguhnya, latihan. Latihan menulis dengan menulis, bukan memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi menuliskan pikiran, apa yang terpikir.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 29 Maret 2008.









5 Responses to “Menulis Kehabisan Kata-Kata”
By mathematicse on Mar 29, 2008 | Reply
Mmmmm, mungkin bukan kehabisan kata-kata, tapi kekurang mampuan mensintesis ide-ide yang berserakan ddalam pikiran.
***Yap.
By mathematicse on Mar 29, 2008 | Reply
Menulis adalah proses sintesis, proses mengkreasi, proses mencipta dari beragam ide dalam pikiran lalu dipadukan dalam satu “ide”.
Nah jikalau kita tak terbiasa mensisntesis beragam ide tersebut maka susahlah jadinya
Mood, barangkali itu adalah keadaan otak kita yang sudah berhasil mensintesis ide-ide yang ada di pikiran itu. Makin mampu mensisntesis ide-ide, sama artinya dengan makin mampu menciptakan mood itu. Ketika mandeg menulis, barangkali itu karena otak kita belum siap alais belum mampu mensisntesis ide-ide, makanya disebutlah ga ada mood. Nah, agar otak kita selalu ammpu mensintesis, maka dia juga perlu makanan bergizi. Makanan itu adalah pengetahuan atau ilmu yang diperoleh dari membaca, belajar, berpikir, merenung, dll
Lho, kok saya bikin teori sendiri ya?
***Bagus tinggal matangkan, jadi teori benaran lho.
By mathematicse on Mar 29, 2008 | Reply
Menulis adalah proses sintesis, proses mengkreasi, proses mencipta dari beragam ide dalam pikiran lalu dipadukan dalam satu “ide”.
Nah jikalau kita tak terbiasa mensintesis beragam ide tersebut maka susahlah jadinya.
Mood, barangkali itu adalah keadaan otak kita yang sudah berhasil mensintesis ide-ide yang ada di pikiran itu. Makin mampu mensintesis ide-ide, sama artinya dengan makin mampu menciptakan mood itu.
Ketika mandeg menulis, barangkali itu karena otak kita belum siap alias belum mampu mensisntesis ide-ide, makanya disebutlah ga ada mood.
Nah, agar otak kita selalu mampu mensintesis, maka dia juga perlu “makanan” bergizi. Makanan itu adalah pengetahuan atau ilmu yang diperoleh dari membaca, belajar, berpikir, merenung, dll.
Lho, kok saya bikin teori sendiri ya?
By Suhadinet on Mar 31, 2008 | Reply
Saya sependapat dengan Pak EWA dan, cuman kalau saya asal nulis dan terus nulis, saya takut apa yang saya tulis tidak ‘klik’ dengan apa yang sebenarnya ingin ditulis, terjadi bias gitu.. Alabio, 31 Maret 2008.
***Jangan takut dong, itu belenggu. Menulis saja dulu, takutnya belakangan, penilaiannya setlah ada tulisan, bias itu setelah ada tulisan. Jadi, nulis dulu yang diutamakan, dari tulisan kita belajar.
By Riduan Saidi on Apr 6, 2008 | Reply
Ass. Ewa
Waduh baru membuka web Ewa neh, maklum lagi banyak tugas kuliah. Sip banget saran dan motivasi buat menulis. Terima kasih buat semuanya.