Puisi Cinta (Cinta Rasul): Go Lomba
28 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Blogerwan, Yth.
Lomba Puisi Cinta bulan Maret 2008 bertema: Cinta Rasul. Lomba bulan lalu, Puisi Cinta (34) dan Cinta Ayah Bunda (5) sudah masuk Terminal Nominator yang nantinya setelah melewati penanganan Tim Juri ditentukan pemenangnya dan puisi terpilih akan dibukukan (Antologi Puisi Cinta).
Mengingat blog ini postingannya cukup banyak, tolong dipindai. Sebaiknya tidak usah bertanya-tanya. Pahami saja. Selamat berkarya. Salam.
Ersis Warmansyah Abbas













48 Responses to “Puisi Cinta (Cinta Rasul): Go Lomba”
By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply
Duhai Kekasih Allah..Duhai Junjungan kami
(oleh: Paundra/langitjiwa)
Yaa..Rasulullah
kau bawa khabar berita kepada kami
Tunjukan Jalan Cinta padaNya
Kau bawa Risalah Tuhan Semesta Alam
Agar tersirami kami punya hati dan Jiwa
Menapak jalan kami punya hidup
Dimana agar kami mengetahui Rahasia Cinta Allah
Yaa..Rasulullah
Kau beri kami Cinta penuh makna dan arti
Dimana kata terucap saat kau melepas kehidupan
Umati..Umati..Umati…
Begitu Indah
Kami disini di tanah bumi ini
Melantunkan segala puja dan puji
Kepada kau Yaa..Rasulullah
Dan kami haturkan Shalawat pada malam ini
Duhai..kekasih Allah
Duhai..Junjungan kami
*Surabaya.maret 2008*
By Yari NK on Mar 9, 2008 | Reply
Wah kalau lomba2an puisi susah nih ngomentarinnya wakakakakak…. ya udah deh buat yang ikut lomba…. semoga menang…. dan karya2nya dapat menimbulkan kesan yang dalam bagi semua orang yang membacanya………
By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply
Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
oleh:paundra/langitjiwa
Subuh sudah tiba..
Ambil air wudhu basahi Jiwa panca indera
agar terhilang kotoran yang melekat
Berdoa PadaNya
Panjat syukur terucap pada diri
Lantunkan Shalawat pada pagi ini
Bergema….
Pada Jiwa dan Qalb
Saat lantunan Shalawat
Mengetarkan Cakrawala pagi ini.
Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
Agar tercurah Jiwa dan Qalb
Pada Bunga Cinta Taman Tuhan
Dimana merekah pada Taman Surga…
*surabaya maret.2008*
By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply
bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
oleh:paundra/langitjiwa
Subuh t’lah tiba
Ambil air wudhu basahi Jiwa panca Indera
Agar terhilang kotoran yang melekat.
Berdoa padaNya
Panjat syukur terucap pada diri
Lantunkan Shalawat
Pada pagi ini.
Bergema……..
Pada Jiwa dan Qalb.
Saat lantunan Shalawat
Mengetarkan Cakrawala pagi ini
Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
Agar tercurah Jiwa dan Qalb
Pada bunga taman Cinta Tuhan
Dimana merekah pada Taman Surga………
*surabaya.maret 2008*
By Mega on Mar 9, 2008 | Reply
wah wah..lagi beramal ria siuda …..aku laptop bekas aja ntuk nulis deh.. waaakakaaksss…
By taro on Mar 9, 2008 | Reply
^_^
By mathematicse on Mar 9, 2008 | Reply
Sholawat dan salam selalu tercurah untuk mu ya rasul
Ingin rasanya bertemu denganmu
Bertemu di dunia ini
Mungkinkah?
Dalam mimpi pun aku rela kok..
Ku rindu tuk bertemu engkau..
Rindukah dirimu bertemu diriku?

By gempur on Mar 9, 2008 | Reply
Dentang lonceng menandai kudusnya malam
Senandung pujian bergema. Berucap panjaga Tuhan:
“Dengan nama keilahian manusia, hentikan pertumpahan darah, hentikan nafsu amarah merajalela. Atas nama perdamaian dan kemanusiaan, sebarkanlah pesan Tuhan ke bilik-bilik terkecil derita manusia yang hina dan terhina. Demi kesucian Tuhan, basuh dan sucikanlah jiwa-jiwa yang merana terbuang, lepaskan mereka dari kubangan lumpur hidup dan pancarkan sinar terang”,
Masih terdengar nyanyian itu
Masih pula retorika suci itu menusuk ulu hati
Seperti khutbah-khutbah jum’at di masjid yang kering
Melambai-lambai di angkasa tak pernah menghinggapi kesadaran bumi
Masih saja terngiang-ngiang mengumandang
Menyusup ke lorong-lorong, kampung-kampung kumuh, pinggir kali dan tepian sampah
Menjelajahi selimut malam yang nyenyak terlena Menjelang tengah malam
Di sebuah dipan reot
Di sebuah trotoar kotor dan sepi Wajah isa hadir
Tertunduk sayu meninabobokan seorang bocah yatim kurus dan dekil yang tertidur di pangkuannya
Menghibur gelandangan yang gelisah menyesali hidupnya Bersama sejuta malaikat sejuta rahmat
Muhammad mengetuk pintu hamba yang meratap terisak dalam do’a
Membasuh peluh pekerja yang lelap dilena lelah
Memberi penawar umatnya yang terjebak dosa
Isa Muhammad hadir
Menemani mereka yang diburu dosa dan kematian
Bersemayam di hati yang teriris terluka
Menuntun mereka ke padang cahaya
Isa Muhammad ada…
Jauh dari keramaian
Jauh di kesunyian
Berkhalwat di kegelapan malam
Di gua-gua persembunyian hati manusia
Condongcatur, 29 Desember 1999
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 9, 2008 | Reply
Ass.wr.wb
Selamat berlomba, semoga sukses…
***Amin.
By sawali tuhusetya on Mar 9, 2008 | Reply
selamat berlomba para penyairku!
***Kapan ikut Pak Guru?
By Iwan Awaludin on Mar 10, 2008 | Reply
Muhammad, adalah nama pasaran di Malaysia
Aku perhatikan nama-nama orang Melayu yang duduk di kelas tutorialku.
Laki-laki, namanya hampir selalu berawal dari Muhammad
Muhammad Jazlin
Mohd Safi
M. Azri
…
kalau hitung punya hitung, 90% pakai Muhammad
Apa sih istimewanya nama Muhammad?
Oi-oi-oi, jangan salah
Nama setiap orang adalah doa orangtua.
Muhammad, artinya adalah orang yang terpuji
Mungkin itu juga harapan orang tua Nabi Muhammad dan orangtua Muhammad-Muhammad yang lain
Mudah-mudahan anak-anak mereka menjadi orang yang terpuji
Dan itu terbukti pada Muhammad yang jadi Rasul
Namanya dipuji oleh banyak manusia, dan bahkan juga Tuhan
Dipuji karena akhlaknya, karena jasanya, karena kebaikannya, dan karena dia menjadi perantara, aku mengenal Islam.
Ah, terlalu panjang.
Udah dulu. Kalo mau lihat puisi tentang Muhammad yang panjang, lihat di mualafmenggugat.wordpress.com aja. Itu blog punya teman saya, yang mualaf.
By amin on Mar 11, 2008 | Reply
Cinta ini, keyakinan ini..
Malam-malam bagimu tak pernah tua
Sepi-sepi bagimu tak pernah kehilangan maknanya
Pertanyaan terjebak dalam jawaban tak terberi
Dalam buaian takut masih saja engkau tak henti mencari
Bacalah..
Bacalah, duhai kekasih hati
Yakinlah dalam segala gundah dan letihnya langkah kaki
Yakinlah Pada-Nya, pemberi nafas dan pengisi nurani..
Sabarlah dalam diammu
Tegarlah dalam senyummu
Wahai kekasih hati,
Sesungguhnya janji-Nya adalah pasti..
Duhai pemilik segala sucinya jiwa
Kau senandungkan dendang munajat cinta
Menyentuh hati-hati manusia
Hingga hidup tak lagi sisakan hampa
Cinta ini, keyakinan ini..
Biarkan mengisi botol-botol anggur hingga suci..
Biarkan merasuk dalam jiwa-jiwa pendengki..
Cinta ini, menyelamatkan manusia di akhir hari..
depok, 11 maret 2008
-saya ikutan lagi ya pak, hehehe..-
By Febry Abrar on Mar 11, 2008 | Reply
Sampaikan Salam.
Terimalah salamku…wahai Rasulullah
kekasih Allah…
Seperti semesta bergembira
Menyambut kehadiranmu…
Terimalah salamku..duhai kekasih Allah
saat malam tanpa bulan
ketika kegelapan menyelimuti kami..
Terimalah salamku..wahai Nabi Allah
Di masa dunia kembali Jahiliyah
Disaat cerai berai kehidupan
Meluluhkan iman…
Menyesakkan hati dan pikiran…
Terimalah salam ini…
Kami tak hentinya Haturkan salam padamu
Wahai Rasulullah…
Kekasih Allah…
Nabi Allah…
Saat akhir nanti…
Kami ingin menjadi pendampingmu
Disamping sahabat-sahabatmu
Dalam keharuman surgamu.
Banjarmasin,11 Maret 2008
By TuanSUFI on Mar 12, 2008 | Reply
Bagaimana mungkin tanpa Cintamu ya Nabi
TuanSUFI, 11 Maret 2008
ya nabi,
jikalau seluruh ayah di dunia ini dikumpulkan di depanmu.
Niscaya tak satu pun yang mampu mengalahkan kasih sayangmu kepada Fatimah dan Ibrahim.
begitu juga aku, yang tetap saja tertatih.
Walau begitu nyata langkahmu menuntunku, menuntun semua ayah.
ya nabi,
betapa awalnya untai kesempatan tiba dan dihayati,
tapi berjuta titian juga tiba dan tak sempat dijalani
betapa akhirnya waktu melesat kencang membunuhnya.
sehingga jadilah aku tertatih dan menjauh lagi dari langkahmu.
ya nabi,
satu sisi cermin beningku, ingin jadi ayah mulia sepertimu
tapi sisi lainnya keniscayaan hatiku masih kerontang air kesabaran.
atau kadang malah berlebihan udara kebendaan,
rasa yakin dan malu berganti-ganti
mengiring waktu demi waktu bertumbuhnya buah hatiku.
oh, maafkan abi sayangku, yang punya hobi salah dan salah lagi.
ya nabi,
Bersama uap fikir dan gelombang hati ini, datanglah pemahamanku tentangmu.
kepayahan ini ada karena pacekliknya resapan shalawat kami kepadamu.
Bukan karena tidak pernah diucapkan.
Justru karena sudah ribuan getaran lidah menghambur kemana-mana,
tapi tak satupun yang merambat masuk jiwa.
ya nabi,
tanpa kasih kami yang hakiki padamu,
bagaimana pula bisa kami tebarkan kasih hakiki pada yang lain…
By makaribi on Mar 12, 2008 | Reply
Lelaki Quraisy itu menyentak kesadaranku
Ia idolaku,
kuingin turut jalannya walau berliku
meski aku tak pernah melihat wajahnya
ku tahu hatinya seluas angkasa
musuh-musuhnya mengakui kejujurannya
Sang Al-Amin
tempat segala semesta bercermin
teladan orang-orang mukmin
Nabi Anak Yatim memadamkan api majusi
meruntuhkan istana kisra parsi
dimatanya terkabar risalah
dijalannya terhampar sajadah
meski mereka menawarkan bulan ditangan kirinya
dan matahari ditangan kanannya
tak kan surut kakinya menapak jalan terjal itu
mengibarkan panji-panji Allah Yang Satu
Shalawat atas Mohammad
Shalawat atasnya dan salam
Utusan Allah, Sang Jiwa Dunia
Manusia terpuji yang Allah tinggikan derajatnya
Karenanya pohon-pohon kurma menunduk
awan-awan memayungi
hati yang keras menjadi takluk
cahaya wajahnya menerangi
Sang Pejalan malam bersama Jibril
Ia terbang ke Jerussalem
dan menapaki tangga-tangga langit
Bertemu Allah Azza Wa Jalla,
Ia belah bulan
Ia alirkan air dari sela jari
Ia tinggalkan Al-Quran Sang Keajaiban Abadi
sebagai petunjuk
semoga kita tak sesat jalan
Rasulullah Mohammad Sholallahu Alaihi Wassalam
Utusan Allah Mohammad Shalawat atasnya dan keselamatan.
By makaribi on Mar 12, 2008 | Reply
Judul Puisi Saya diatas (maaf lupa)
MUHAMMAD SANG JIWA DUNIA
kerinduan padanya adalah kerinduan tak berbatas.
By indah ip on Mar 14, 2008 | Reply
RINDU TAK HENTI MENCARI TAK HENTI MENUJU
adakah yang lebih luas dari selaut sabar dan segunung tegarmu, ya Rasul
yang tak tertandingkan
yang membuat ribu badai kalah dan takluk
adakah yang lebih madu dari lembut tutur kata dan santun bahasamu, ya Rasul
yang tak terpuisikan
yang membuat hati jatuh gemetar dan hanyut
adakah yang lebih cahaya dari senyum sederhana dan sahajamu, ya Rasul
yang tak terlukiskan
yang membuat teduh dan sejuk merongga dada
adakah yang lebih mulia dari luhur budi dan bijak akhlakmu, ya Rasul
yang tak terbantahkan
yang membuat tunduk dan hormat semesta alam pun segenap mahluk
adakah yang lebih dalam dari cinta pemimpin kepada umatnya, ya Rasul
yang tak terukurkan
yang sanggup membuat hujan tumpah demikian lebat demikian panjang di matamu sebelum pergi dulu
adakah yang lebih sembilu dari rindu umat kepada pemimpinnya, ya Rasul
yang tak terperikan
yang membuat waktu menunggu begitu siksa begitu ungu
ke dalam barismu, ya Rasul, ke dalam barismu!
rindu tak henti mencari tak henti menuju!
indah ip
14 maret 2008, 3.04 pm
By izzah on Mar 15, 2008 | Reply
Berebut Kasih
Dalam…
Kehangatan rahim Aminah
Kun fa yakun, terciptalah raga perkasa Rasulullah
Putihnya air susu Halimah
Mengalirkan jiwa suci Nabiyullah
Kegigihan Khadijah
Membangun ghirah baja Khalifatullah
Kelembutan Aisyah
Merebakkan wangi kasturi Habibullah
Muhammad al-Musthafa,
Kisah Paduka di antara mereka
Dari hati yang tenang
Teruntuk jiwa yang menang
Ya Badraz Zaman,
Kau sinaran jiwa-jiwa yang haus kasih
Lunglai terasa perih
Ulu hati dalam lorong-lorong sunyi
Ingin segera berlari
Menjemput cawan kehangatan, lentera hati
Dalam dekapan terbelai
Sekeping hati
Titipan Ilahi
Ku mengemis kasih…
Berebut kekasih Sang Maha Kasih
Syafaat yang ‘kan kau beri
Shalawat dan salam terpatri
Bagi Baginda sejati.
Bi Qalam: Izzah Anwar
Batu
On Friday, at 05:00 PM
February 22, 2008
By izzah on Mar 15, 2008 | Reply
Senandung Barjanzi
Gemeletuk terompah kayu
Bertalu-talu
Buyung berduyun-duyun
Percepat laju langkah menuju mushalla
Menjinjing rinjing isi nasi kuning
Berbelit sarung, menyungging kopyah
Shallu ‘alaih…
Shallu ‘alaih…
Tabuhan rebana semakin membahana
Pukulan jidor menderu dada
Gemerincing tamborin mengiring
Dendang puja-puji kado kekasih Rabb nya
Senandung barjanzi menyiram kalbu sang pemuja
Hanyut membuai cinta
Bak iringan orkestra
Riuh meliuk-liuk
Sahut-bersahutan
Musik, vokalis serta backing-vocal nya
Thala’al badru ‘alaina…
Kusambut duhai junjunganku
Maulidmu tiba
Mahammad ibnu Abdillah.
Bi Qalam: Izzah Anwar
Batu
On Monday, at 12:45
March 10, 2008
By izzah on Mar 15, 2008 | Reply
ralat: baris ke-tiga puisi Berebut Kasih
Kun fa yakun, terciptalah raga nan perkasa Rasulullah
By namora sinaga on Mar 16, 2008 | Reply
ASA DALAM GELAP MASA
Apakah yang kudapat dalam jejakmu? sebab segala cahaya Ilahi kau rangkum dalam genggammu. Akupun iri, karenanya. tapi rinduku padamu melayang diatas awan, pada warna pelangi, pada untaian senja, pada lukisan matahari yang kau bawa, bagi kami bagai lentera pada gelap malam sebuah peradaban. Teramat ingin ku pandang rona wajahmu selayak kuraba Kasih-NYA dalam diam sujudku. Sesayang itu ALLAH padamu? sepanjang masa berguru padamu kami di buat-NYA. pun. apa juga harus kutuliskan tentangmu? bahkan surgapun dititipkan-Nya padamu.bagi kami syafaatmu tersisa
By dinda on Mar 19, 2008 | Reply
Puisinya bagus2
~^_^~
By dioly andina on Mar 19, 2008 | Reply
cHuan thiQq ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. banGet
By makaribi on Mar 19, 2008 | Reply
MOHAMMAD SANG JIWA DUNIA II
: Kadang aku merasa tak pantas mengidolakanmu.
1\
Ketika ku baca kisahmu
aku selalu malu akan diriku
Ketika kau remaja kau nikahi seorang janda
kadang bagiku sangat penting seorang gadis
tapi Engkau ? Cinta dalam matamu
tak mudah kutafsirkan
Khadijah menemanimu, mendampingimu,
menghiburmu dalam kondisi sulit,
menyelimutimu ketika kau gelisah
Ia seperti ibu, kekasih, istri
dan menyerahkan seluruh yang dimilikinya
untuk perjuanganmu.
2\
Pernah ku berpikir apa yang kau cari
Sekembali dari fathu makkah
kau berikan untaunta ghanimah
ke mualaf disana
orangorang besertamu menggerutu
kau diamkan hingga di madinah kau katakan
“apakah kalian iri mereka membawa hartaharta
sementara kalian membawa aku bersama kalian”
orangorang pun menangis, sungguhsunguh menangis ya Rasulullah
“wahai kekasih Allah tak ada yang bisa menggantikanmu
dihati kami, engkaulah harta tak ternilai yang kami miliki”
3\
atau ketika perang parit, orangorang kelaparan
dan mengganjal perut dengan satudua batu
seseorang menghampirimu untuk meminta makanan
ia urungkan niatnya saat melihat tiga batu mengganjal perutmu.
Wahai nabi yang menjahit terompahnya sendiri
yang tidur di dipan beralas tikar
yang jika tak temukan makanan di pagi hari
hanya minum segelas air kemudian berpuasa,
Pernahkah kau menikmati ghanimah ?
ah bahkan kau berikan apa yang kau miliki
jika ada yang memintanya.
Kau ajarkan
“yang membedakan manusia dihadapan Allah hanyalah takwanya”
Kau genggam dunia ditanganmu tapi tidak dihatimu.
rindu padamu rindu dalam bisu
rindu yang bicara dalam diam
rindu syafaatmu selalu
rindu cahayamu di saat kelam.
By Bibidapi on Mar 20, 2008 | Reply
Datang Cahaya
Masih kuingat keringat yang pecah di tubuh
Di bawah matahari yang mengakar
Dahaga terasa menang dalam sesenggukan air liur
Belum kupahami, mengapa aku berdiri di sini
Bersama manusia-manusia yang sedang menanti entah
Ditemani angin yang bergerak lemah juga ke arah entah
Lalu aku melihat kejauhan
Serombongan beriringan
Membawa cahaya di mukanya
Inikah yang kami nanti?
Mereka semakin dekat
Cahaya itu semakin dekat
Dan berhentilah ia di depanku
Membasuh wajahku yang kering
Subhanallah…
Kaukah itu Rasulullah?
Datang bagai cahaya dan membawa cahaya
Seribu pujian kulantunkan dalam batin
Saat punggungmu menari bergerak menjauh
Rindu ini semakin mencekam
Airmata ini telah menjadi sungai
Seribu Shalawat kuucap dengan senyuman
Saat aku terbangun dari mimpi yang nyata
Mimpi yang tak mungkin jadi kenyataan
**Berdasarkan mimpi yang nyata, yang diceritakan kembali oleh sang pemimpi
By Bibidapi on Mar 20, 2008 | Reply
puisinya bagus-bagus. Tuansufi, you have great great poetry! i love your “Bagaimana mungkin tanpa Cintamu ya Nabi”. Congrats!!
By rizal khadafi nasution on Mar 21, 2008 | Reply
KAMI YANG TERLUPA
Andai saja…
Bisa kau sahuti segala shalawat yang kulantunkan. Tentang kami, padamu kan kukisahkan. Tentang ulama mampupun tak jadi warosatul anbiya’, tentang pemimpin tidakpun sanggup jadi suri tauladan, tentang saudara seiman yang saling-pandang dengan curiga, tentang sepi mesjid, tentang Al-qur’an berdebu, tentang rapuh tali ukhwah, tentang luka harga diri, dan tentang-tentang yang lain.
Untuk apa? di langit tinggi pujian padamu kami haturkan, bila sunnahmu di hati tak kami tempatkan. Dengan darah dan air mata DINUL ini kau juangkan, dengan sepenuh asa nur-NYA kau pantulkan, lalu dengan seresah hati, kami kau tinggalkan. Tapi kami lupa, tak peduli kami, kami tak hargai. Lalu pantaskah diri kami labeli dengan nama ummat MUHAMMAD? Syafaat pada kami layakkah kau berikan kelak?. Ah! Habiballohku, saat ini menjawabnya tiada kuasaku, akan itu ragu berlumur bagi sepenuh raga-jiwaku. Andai saja rasulku bisa kau sahuti segala shalawat yang kulantunkan…
By ANDI SAPUTRA on Mar 25, 2008 | Reply
mas rizal khadafi! saya sangat-sangat srtuju dengan puisi anda, karna memang begitulah realitanya. thanks!!!!
By makaribi on Mar 26, 2008 | Reply
UTUSAN YANG DATANG DI ZAMAN AKHIR
: Rasulullah
Engkau ceritakan tentang akhir zaman
kami bukanlah apaapa sebelum engkau datang
Setidaknya engkaulah harapan
sebelum senja menjelang
Jika demikian niscaya kami kutuki diri sendiri
Tapi Allahlah diatas semua ini, katamu
Allah ciptakan manusia atas dua sisi
hanya Allahlah yang tahu
Disangka hidup ini permainan ataukah ujian
Tapi kami selalu berprasangka baik pada-Nya
aku tahu diri-Nya darimu, maka kulantunkan pujian
manusia hanya setes air yang hina ditangan ke Maha Besaran-Nya
Maka didepanmu aku hanya ingin ceritakan diriku sendiri
seperti ketika sepi, ketika sendiri
masihkah ku sebut nama-Nya, ah aku sering lupa
berdoa mengharap ampunan-Nya
jika ku bercermin, sungguh nampak lukaluka
nodanoda yang kubuat sendiri,
tak ada lagi seandainya
karena ku harus tanggung sendiri
ah aku sering lupa
berdoa mengharap ampunan-Nya
ampuni aku, ampuni aku
atas kealpaanku
Seperti doa untuk-Nya shalawat itu untukmu
Karena Ia telah titipkan sebagian syafaatnya
padamu, syafaat itu kuharap selalu
aku ingin bertemu keindahan abadi-Nya selamanya.
(meskipun tak layak, aku hanya berharap
karena harapanlah, satusatunya yang kupunyai
setelah semua usaha kurasa tak sebanding
dengan rahmat dan kasih-Nya.)
By Haffez Hossen on Mar 27, 2008 | Reply
…DAN IZINKAN AKU MENGIKUTIMU
Jika dosa ini telah melumur hampa
Takkah layak aku menjamu pahala?
Jika waktu ini terbuang hina
Masihkan ada sisa yang dapat aku punya?
Imanku tak sekokoh miliknya,
Amalku nihil akannya,
diri ini…
dirinya…
terlalu beda.
Jika shalat ini masih belum cukup
kapan tiba waktuku bersamanya?
Jika kaji ini belum cukup
kapan tiba waktuku mendampingnya?
Terlalu beda…
Hidupmu terlalu sempurna, Rasulullah
Hidupku, adalah dosa.
Tapi…
Jika memang belum sempurna imanku itu,
Izinkan aku tetap selalu mengikutimu…
BANDUNG, 2008
By Haffez Hossen on Mar 27, 2008 | Reply
…DAN IZINKAN AKU MENGIKUTIMU.
Jika hidup ini melumur dosa,
takkah aku layak menuai pahala?
Jika waktuku telah terbuang hina,
masihkah bersisa yang aku punya?
Imanku tak sekuat miliknya,
Amalpun hampir aku tak punya,
diri ini…
dirinya…
terlalu beda.
Jika shalat ini tak cukup,
kapan tibanya aku bersamamu?
Jika kaji ini pun tak juga cukup,
kapan tibanya aku mendampingmu?
Terlalu beda…
Hidupmu terlalu sempurna, Rasulullah
hidupku, adalah dosa.
Tapi,
Jika tak kunjung lengkap iman, hidup, dan amalku,
Izinkan aku untuk selalu mengikutimu.
BANDUNG, 2008
————-
Haffez Hossen, Mahasiswa Tingkat IV Teknik Kimia ITB
By unai on Mar 28, 2008 | Reply
sttt jangan banyak tanya..hahah capai Bapak ini meladeni kita
By meiy on Mar 28, 2008 | Reply
ah pak ewa, gak demokratis neeh hahaha, bacando pak…ondeh ambo ingin ikut, tapi kok belum mantap baraso puisi ambo yo…*sok kontemplasi dulu ah* masih ada waktu ya pak (eh gak boleh tnya ya) peace deh pak
By cempluk on Mar 28, 2008 | Reply
mw ngucapin selamat berlomba buat para penyair…sukses !!!
By isnuansa on Mar 28, 2008 | Reply
saya belom bisa ikutan…
By mathematicse on Mar 29, 2008 | Reply
Mmmm lomba puisi ya? Mmmmm …
Selamat berlomba…
By unai on Mar 29, 2008 | Reply
Kealpaan Hati
Purnama hadir, menyeruak diantara belantara sepi.
Pucuk pucuk bambu membeku
Kitab suci yang tua dimakan usia
Setua alam raya dan isinya…
Lapuk tak terbaca
Duhai hati
masihkah kau berdiri pada ketinggian angkuh?
Terpenjara dalam amarah dan lupa wangi tanah basah
yang penah kita hirup di jaman purba
Kau lupa
tersesat dan tak mampu melacak jalan pulang
Kau lena dalam buai mimpimimpi duniawi, wahai hati
Sujudsujudmu, tangis, dan serak rapal doamu
Apakah Rasul Allah yang jadi panutanmu?
Jawablah duhai hati…!
Kau yang kerap menyuarakan nyanyian bimbang
Bermelodikan embun dan titiktitik hujan
Kembalilah
MEski tubuhmu tersungkur dalam ketakutan
Akan ada jalan terang
Bila kau menyesali kealpaan.
By Fien Prasetyo on Mar 29, 2008 | Reply
Kerinduan
Fien Prasetyo
Setiap kata adalah petuah
Dan setiap petuah adalah terucap dari segenap bibir nan sahaja
Bibir yang senantiasa membawa angin surga
Keluar dari hati…
Lelah…pedih…penat hampir pasti menyeruak di setiap nafas wangi
Tak sedikit rasa dendam mereka pada langkah santun
Tapi tak sontak wajah berubah mengkerut menghanyut
Bibir yang selalu rekahkan senyum kecintaan pada Ilahi
Disini, keabadian itu hadir mengisi kekosongan relung sanubari
Dunia yang tak lagi punya petuah
Hidup yang tak jua ada sahaja
Hangar bingar, selisih tajam, menjadi ritme setiap waktu
Tidak denganku, sendiri menunduk pada kekuasaan Ilahi
Berdiam di sudut sepi tapi hingar dengan makna
Makna akan damai hati, sejuk jiwa, dan binar cahaya mulia
Aku tertidur bersama mimpi abadi sang pujaan hati, Muhammad…
Ya rassul…petuah demi petuah kini terbingkai dalam kitab
Membayangkan dan hanya bisa membayangkan perjuanganmu
Hingga aku tersentak, bangun dari segala kelalaian dunia
Mencarimu…merindukanmu…
Tidak ada satu pun yang tahu, hanya menggeleng saja
Airmataku meleleh bergulir-gulir, saat adzan berkumandang
Ya rassul…kita bertemu dalam bait doa…sesaat lagi…
Aek Nabara, 2008
By meiy on Mar 31, 2008 | Reply
Masih boleh ikut kan pak?
Ini Puisi saya:
Kepada Rasul
pernah
tak kutemukan alasan ‘tuk mencinta
hatiku penuh curiga
kau punya banyak wanita aku tak suka
sayang
cinta tak mesti miliki alasan
hanya perlu dirasakan
pada suci
pada percaya
pada cahaya
pada indah
dan diriku yang berlari menjawab tanya
di dada
relung terdalam hati
mengapa kau suci
dalam perjalanan kucari makna
mengapa kau mustafa kekasih pilihanNya?
pencarian memberiku tahu meski ilmu tak jauh
dalam termangu
menemu diri
aku yang naïf
kini merindu
tak mungkin kau kekasihnya
jika bukan kau juga sang pencinta
yang ikhlas
menerima
walau nestapa
yang rela memberi
asal umat selamat
menuju cahaya abadi.
By artja on Apr 1, 2008 | Reply
Sudah terlambat, ya? Kalau begitu puisi ini buat dibaca-baca sajalah. Mudah-mudahan nggak mengecewakan.
Belajar Membaca Muhammad
Aku pernah belajar membaca
dengan cara mengikuti baris kalimat berirama rapi.
“Lakukan saja seperti cara orang bernyanyi
hingga meresap indahnya ke dalam hati.”
Aku pun pernah belajar membaca
dengan cara duduk rapi di lantai tanpa kursi.
“Tekunlah mendengar tutur sejarah dari pak haji
sambil menghafal catatan tahun dan hitungan hari.”
Tapi hingga kini aku masih saja tergagap
untuk mengucap ataupun menuliskan namamu.
Apalagi membubuhkan cinta disamping namamu.
Barangkali karena aku tak pernah benar-benar menyadari
betapa melimpahnya cintamu kepadaku.
Maka ajari aku mengeja
muatan cinta
pada mim, ha, mim lagi, lalu dal dari namamu
agar bisa kubaca fasih huruf-huruf itu
lalu tegak menjalankan sunnahmu dalam kehidupan.
Bukan sekadar sepi sapaan shalawat dan salam.
Hingga kelak nanti
aku tak hadir sebagai orang asing di hadapanmu
dan tak lagi keliru menyapa cinta
kepada dirimu.
By meiy on Apr 2, 2008 | Reply
keren banget puisi artja, ampe speechless
By Rahayu Angini on Apr 15, 2008 | Reply
salam…
numpang unjuk kebolehan yoo..
permisi..
puwteun..
ehem…
ssstt…
Kekasih
Rabb
ada pesakitan di ambang ketakutan sepeninggal kekasihmu
ada keraguan di langkah kami untuk menuju ridhomu
Rabb
sampaikan pada kekasihmu tentang segenggam rindu di tanganku
cintaku melilin beku
betapa kutunggu api dari tangan kekasihmu lelehkan hatiku
segenggam rindu yang hadir dalam cengkraman kezaliman dunia
kekasihmu mencuri cintaku dalam dekap hangatMu
Serang,2008
By rahmawati widya putri on Mar 14, 2009 | Reply
Keheningan rindumu
Di dunia ini ….
begitu banyak umat islam saling mempertetangkan masalah
tiada yang mau mengalah
dan hanya sebuah keinginan belaka
ya rasul
apakah kejadian sekarang akan terulang besok
Ya rasul
kamilah umatmu yang menginginkan sebuah kedamaian dan kebersamaan dalam bersatu mewujudkan cita-cita bersama
Ya rasul
di dalam keheninganmu itulah kami akan merasa rindu
rindu yang tak ada yang bisa menandingi
dan kami umatmu akan senantiasa menunggu KEHENINGAN RINDUMU
By nabila on Apr 3, 2009 | Reply
pengen dc mimpi ketemu Rasulullah
moga blog ini berkah
By Bim on Oct 12, 2009 | Reply
Ijin Baca n Save ya…
By SaNg_KeLLaNa on Nov 13, 2009 | Reply
TAK ADA KERAGUAN
dalam gelap ada terang
dalam terang ada remang
dalam remang ada bayang
dalam bayang ada kepastian
semua begitu jelas tertera
semua tanya terjawab disana
tak ada keraguan
karena semua jawab tak perlu tanya
darimana, untuk apa, maukemana, jawab sudah ada
renungkanlah, duduk dan bersilah, tak usah banyak kata, cukup hati yang bicara
biarkanlah jiwamu yang cari tanya
dari mana
untuk apa
dan mau kemana
jawab telah ada
genggam niat dan melangkah
bukalah setiap juznya
jawab tertera disana
tentang alam yang enggan bicara
karena kita merasa tak bersalah
atas semua langkah
yang selalu jauh padanya
By pesama on Nov 18, 2009 | Reply
puisi2 yang bagus, ntar saya ikut bacain di website saya.