Puisi Cinta (Cinta Rasul): Go Lomba

28 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Blogerwan, Yth.

Lomba Puisi Cinta bulan Maret 2008 bertema: Cinta Rasul. Lomba bulan lalu, Puisi Cinta (34) dan Cinta Ayah Bunda (5) sudah masuk Terminal Nominator yang nantinya setelah melewati penanganan Tim Juri ditentukan pemenangnya dan puisi terpilih akan dibukukan (Antologi Puisi Cinta).

Mengingat blog ini postingannya cukup banyak, tolong dipindai. Sebaiknya tidak usah bertanya-tanya. Pahami saja. Selamat berkarya. Salam.

Ersis Warmansyah Abbas

  1. 43 Responses to “Puisi Cinta (Cinta Rasul): Go Lomba”

  2. By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply

    Duhai Kekasih Allah..Duhai Junjungan kami

    (oleh: Paundra/langitjiwa)

    Yaa..Rasulullah

    kau bawa khabar berita kepada kami

    Tunjukan Jalan Cinta padaNya

    Kau bawa Risalah Tuhan Semesta Alam

    Agar tersirami kami punya hati dan Jiwa

    Menapak jalan kami punya hidup

    Dimana agar kami mengetahui Rahasia Cinta Allah

    Yaa..Rasulullah

    Kau beri kami Cinta penuh makna dan arti

    Dimana kata terucap saat kau melepas kehidupan

    Umati..Umati..Umati…

    Begitu Indah

    Kami disini di tanah bumi ini

    Melantunkan segala puja dan puji

    Kepada kau Yaa..Rasulullah

    Dan kami haturkan Shalawat pada malam ini

    Duhai..kekasih Allah

    Duhai..Junjungan kami

    *Surabaya.maret 2008*

  3. By Yari NK on Mar 9, 2008 | Reply

    Wah kalau lomba2an puisi susah nih ngomentarinnya wakakakakak…. ya udah deh buat yang ikut lomba…. semoga menang…. dan karya2nya dapat menimbulkan kesan yang dalam bagi semua orang yang membacanya………

  4. By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply

    Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
    oleh:paundra/langitjiwa

    Subuh sudah tiba..

    Ambil air wudhu basahi Jiwa panca indera

    agar terhilang kotoran yang melekat

    Berdoa PadaNya

    Panjat syukur terucap pada diri

    Lantunkan Shalawat pada pagi ini

    Bergema….

    Pada Jiwa dan Qalb

    Saat lantunan Shalawat

    Mengetarkan Cakrawala pagi ini.

    Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah

    Agar tercurah Jiwa dan Qalb

    Pada Bunga Cinta Taman Tuhan

    Dimana merekah pada Taman Surga…

    *surabaya maret.2008*

  5. By langitjiwa on Mar 9, 2008 | Reply

    bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah
    oleh:paundra/langitjiwa

    Subuh t’lah tiba

    Ambil air wudhu basahi Jiwa panca Indera

    Agar terhilang kotoran yang melekat.

    Berdoa padaNya

    Panjat syukur terucap pada diri

    Lantunkan Shalawat

    Pada pagi ini.

    Bergema……..

    Pada Jiwa dan Qalb.

    Saat lantunan Shalawat

    Mengetarkan Cakrawala pagi ini

    Bawa Jiwa’ku Ya..Rasulullah

    Agar tercurah Jiwa dan Qalb

    Pada bunga taman Cinta Tuhan

    Dimana merekah pada Taman Surga………

    *surabaya.maret 2008*

  6. By Mega on Mar 9, 2008 | Reply

    wah wah..lagi beramal ria siuda …..aku laptop bekas aja ntuk nulis deh.. waaakakaaksss…

  7. By taro on Mar 9, 2008 | Reply

    ^_^

  8. By mathematicse on Mar 9, 2008 | Reply

    Sholawat dan salam selalu tercurah untuk mu ya rasul

    Ingin rasanya bertemu denganmu

    Bertemu di dunia ini

    Mungkinkah?

    Dalam mimpi pun aku rela kok..

    Ku rindu tuk bertemu engkau..

    Rindukah dirimu bertemu diriku?
    :D

  9. By gempur on Mar 9, 2008 | Reply

    Dentang lonceng menandai kudusnya malam
    Senandung pujian bergema. Berucap panjaga Tuhan:

    “Dengan nama keilahian manusia, hentikan pertumpahan darah, hentikan nafsu amarah merajalela. Atas nama perdamaian dan kemanusiaan, sebarkanlah pesan Tuhan ke bilik-bilik terkecil derita manusia yang hina dan terhina. Demi kesucian Tuhan, basuh dan sucikanlah jiwa-jiwa yang merana terbuang, lepaskan mereka dari kubangan lumpur hidup dan pancarkan sinar terang”,

    Masih terdengar nyanyian itu
    Masih pula retorika suci itu menusuk ulu hati
    Seperti khutbah-khutbah jum’at di masjid yang kering
    Melambai-lambai di angkasa tak pernah menghinggapi kesadaran bumi
    Masih saja terngiang-ngiang mengumandang
    Menyusup ke lorong-lorong, kampung-kampung kumuh, pinggir kali dan tepian sampah
    Menjelajahi selimut malam yang nyenyak terlena Menjelang tengah malam

    Di sebuah dipan reot
    Di sebuah trotoar kotor dan sepi Wajah isa hadir
    Tertunduk sayu meninabobokan seorang bocah yatim kurus dan dekil yang tertidur di pangkuannya
    Menghibur gelandangan yang gelisah menyesali hidupnya Bersama sejuta malaikat sejuta rahmat

    Muhammad mengetuk pintu hamba yang meratap terisak dalam do’a
    Membasuh peluh pekerja yang lelap dilena lelah
    Memberi penawar umatnya yang terjebak dosa
    Isa Muhammad hadir
    Menemani mereka yang diburu dosa dan kematian
    Bersemayam di hati yang teriris terluka
    Menuntun mereka ke padang cahaya

    Isa Muhammad ada…
    Jauh dari keramaian
    Jauh di kesunyian
    Berkhalwat di kegelapan malam
    Di gua-gua persembunyian hati manusia

    Condongcatur, 29 Desember 1999

  10. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 9, 2008 | Reply

    Ass.wr.wb
    Selamat berlomba, semoga sukses…

    ***Amin.

  11. By sawali tuhusetya on Mar 9, 2008 | Reply

    selamat berlomba para penyairku!

    ***Kapan ikut Pak Guru?

  12. By Iwan Awaludin on Mar 10, 2008 | Reply

    Muhammad, adalah nama pasaran di Malaysia
    Aku perhatikan nama-nama orang Melayu yang duduk di kelas tutorialku.
    Laki-laki, namanya hampir selalu berawal dari Muhammad
    Muhammad Jazlin
    Mohd Safi
    M. Azri

    kalau hitung punya hitung, 90% pakai Muhammad
    Apa sih istimewanya nama Muhammad?
    Oi-oi-oi, jangan salah
    Nama setiap orang adalah doa orangtua.
    Muhammad, artinya adalah orang yang terpuji
    Mungkin itu juga harapan orang tua Nabi Muhammad dan orangtua Muhammad-Muhammad yang lain
    Mudah-mudahan anak-anak mereka menjadi orang yang terpuji
    Dan itu terbukti pada Muhammad yang jadi Rasul
    Namanya dipuji oleh banyak manusia, dan bahkan juga Tuhan
    Dipuji karena akhlaknya, karena jasanya, karena kebaikannya, dan karena dia menjadi perantara, aku mengenal Islam.

    Ah, terlalu panjang.
    Udah dulu. Kalo mau lihat puisi tentang Muhammad yang panjang, lihat di mualafmenggugat.wordpress.com aja. Itu blog punya teman saya, yang mualaf.

  13. By amin on Mar 11, 2008 | Reply

    Cinta ini, keyakinan ini..

    Malam-malam bagimu tak pernah tua
    Sepi-sepi bagimu tak pernah kehilangan maknanya
    Pertanyaan terjebak dalam jawaban tak terberi
    Dalam buaian takut masih saja engkau tak henti mencari

    Bacalah..
    Bacalah, duhai kekasih hati
    Yakinlah dalam segala gundah dan letihnya langkah kaki
    Yakinlah Pada-Nya, pemberi nafas dan pengisi nurani..

    Sabarlah dalam diammu
    Tegarlah dalam senyummu
    Wahai kekasih hati,
    Sesungguhnya janji-Nya adalah pasti..

    Duhai pemilik segala sucinya jiwa
    Kau senandungkan dendang munajat cinta
    Menyentuh hati-hati manusia
    Hingga hidup tak lagi sisakan hampa

    Cinta ini, keyakinan ini..
    Biarkan mengisi botol-botol anggur hingga suci..
    Biarkan merasuk dalam jiwa-jiwa pendengki..
    Cinta ini, menyelamatkan manusia di akhir hari..

    depok, 11 maret 2008

    -saya ikutan lagi ya pak, hehehe..-

  14. By Febry Abrar on Mar 11, 2008 | Reply

    Sampaikan Salam.

    Terimalah salamku…wahai Rasulullah
    kekasih Allah…
    Seperti semesta bergembira
    Menyambut kehadiranmu…

    Terimalah salamku..duhai kekasih Allah
    saat malam tanpa bulan
    ketika kegelapan menyelimuti kami..

    Terimalah salamku..wahai Nabi Allah
    Di masa dunia kembali Jahiliyah
    Disaat cerai berai kehidupan
    Meluluhkan iman…
    Menyesakkan hati dan pikiran…

    Terimalah salam ini…
    Kami tak hentinya Haturkan salam padamu
    Wahai Rasulullah…
    Kekasih Allah…
    Nabi Allah…

    Saat akhir nanti…
    Kami ingin menjadi pendampingmu
    Disamping sahabat-sahabatmu
    Dalam keharuman surgamu.

    Banjarmasin,11 Maret 2008

  15. By TuanSUFI on Mar 12, 2008 | Reply

    Bagaimana mungkin tanpa Cintamu ya Nabi
    TuanSUFI, 11 Maret 2008

    ya nabi,
    jikalau seluruh ayah di dunia ini dikumpulkan di depanmu.
    Niscaya tak satu pun yang mampu mengalahkan kasih sayangmu kepada Fatimah dan Ibrahim.
    begitu juga aku, yang tetap saja tertatih.
    Walau begitu nyata langkahmu menuntunku, menuntun semua ayah.

    ya nabi,
    betapa awalnya untai kesempatan tiba dan dihayati,
    tapi berjuta titian juga tiba dan tak sempat dijalani
    betapa akhirnya waktu melesat kencang membunuhnya.
    sehingga jadilah aku tertatih dan menjauh lagi dari langkahmu.

    ya nabi,
    satu sisi cermin beningku, ingin jadi ayah mulia sepertimu
    tapi sisi lainnya keniscayaan hatiku masih kerontang air kesabaran.
    atau kadang malah berlebihan udara kebendaan,
    rasa yakin dan malu berganti-ganti
    mengiring waktu demi waktu bertumbuhnya buah hatiku.
    oh, maafkan abi sayangku, yang punya hobi salah dan salah lagi.

    ya nabi,
    Bersama uap fikir dan gelombang hati ini, datanglah pemahamanku tentangmu.
    kepayahan ini ada karena pacekliknya resapan shalawat kami kepadamu.
    Bukan karena tidak pernah diucapkan.
    Justru karena sudah ribuan getaran lidah menghambur kemana-mana,
    tapi tak satupun yang merambat masuk jiwa.

    ya nabi,
    tanpa kasih kami yang hakiki padamu,
    bagaimana pula bisa kami tebarkan kasih hakiki pada yang lain…

  16. By makaribi on Mar 12, 2008 | Reply

    Lelaki Quraisy itu menyentak kesadaranku
    Ia idolaku,
    kuingin turut jalannya walau berliku
    meski aku tak pernah melihat wajahnya
    ku tahu hatinya seluas angkasa
    musuh-musuhnya mengakui kejujurannya
    Sang Al-Amin
    tempat segala semesta bercermin
    teladan orang-orang mukmin
    Nabi Anak Yatim memadamkan api majusi
    meruntuhkan istana kisra parsi
    dimatanya terkabar risalah
    dijalannya terhampar sajadah
    meski mereka menawarkan bulan ditangan kirinya
    dan matahari ditangan kanannya
    tak kan surut kakinya menapak jalan terjal itu
    mengibarkan panji-panji Allah Yang Satu
    Shalawat atas Mohammad
    Shalawat atasnya dan salam
    Utusan Allah, Sang Jiwa Dunia
    Manusia terpuji yang Allah tinggikan derajatnya
    Karenanya pohon-pohon kurma menunduk
    awan-awan memayungi
    hati yang keras menjadi takluk
    cahaya wajahnya menerangi
    Sang Pejalan malam bersama Jibril
    Ia terbang ke Jerussalem
    dan menapaki tangga-tangga langit
    Bertemu Allah Azza Wa Jalla,
    Ia belah bulan
    Ia alirkan air dari sela jari
    Ia tinggalkan Al-Quran Sang Keajaiban Abadi
    sebagai petunjuk
    semoga kita tak sesat jalan
    Rasulullah Mohammad Sholallahu Alaihi Wassalam
    Utusan Allah Mohammad Shalawat atasnya dan keselamatan.

  17. By makaribi on Mar 12, 2008 | Reply

    Judul Puisi Saya diatas (maaf lupa)

    MUHAMMAD SANG JIWA DUNIA

    kerinduan padanya adalah kerinduan tak berbatas.

  18. By indah ip on Mar 14, 2008 | Reply

    RINDU TAK HENTI MENCARI TAK HENTI MENUJU

    adakah yang lebih luas dari selaut sabar dan segunung tegarmu, ya Rasul
    yang tak tertandingkan
    yang membuat ribu badai kalah dan takluk

    adakah yang lebih madu dari lembut tutur kata dan santun bahasamu, ya Rasul
    yang tak terpuisikan
    yang membuat hati jatuh gemetar dan hanyut

    adakah yang lebih cahaya dari senyum sederhana dan sahajamu, ya Rasul
    yang tak terlukiskan
    yang membuat teduh dan sejuk merongga dada

    adakah yang lebih mulia dari luhur budi dan bijak akhlakmu, ya Rasul
    yang tak terbantahkan
    yang membuat tunduk dan hormat semesta alam pun segenap mahluk

    adakah yang lebih dalam dari cinta pemimpin kepada umatnya, ya Rasul
    yang tak terukurkan
    yang sanggup membuat hujan tumpah demikian lebat demikian panjang di matamu sebelum pergi dulu

    adakah yang lebih sembilu dari rindu umat kepada pemimpinnya, ya Rasul
    yang tak terperikan
    yang membuat waktu menunggu begitu siksa begitu ungu

    ke dalam barismu, ya Rasul, ke dalam barismu!
    rindu tak henti mencari tak henti menuju!

    indah ip
    14 maret 2008, 3.04 pm

  19. By izzah on Mar 15, 2008 | Reply

    Berebut Kasih

    Dalam…
    Kehangatan rahim Aminah
    Kun fa yakun, terciptalah raga perkasa Rasulullah
    Putihnya air susu Halimah
    Mengalirkan jiwa suci Nabiyullah
    Kegigihan Khadijah
    Membangun ghirah baja Khalifatullah
    Kelembutan Aisyah
    Merebakkan wangi kasturi Habibullah

    Muhammad al-Musthafa,
    Kisah Paduka di antara mereka
    Dari hati yang tenang
    Teruntuk jiwa yang menang

    Ya Badraz Zaman,
    Kau sinaran jiwa-jiwa yang haus kasih
    Lunglai terasa perih
    Ulu hati dalam lorong-lorong sunyi
    Ingin segera berlari
    Menjemput cawan kehangatan, lentera hati
    Dalam dekapan terbelai
    Sekeping hati
    Titipan Ilahi

    Ku mengemis kasih…
    Berebut kekasih Sang Maha Kasih
    Syafaat yang ‘kan kau beri
    Shalawat dan salam terpatri
    Bagi Baginda sejati.

    Bi Qalam: Izzah Anwar
    Batu
    On Friday, at 05:00 PM
    February 22, 2008

  20. By izzah on Mar 15, 2008 | Reply

    Senandung Barjanzi

    Gemeletuk terompah kayu
    Bertalu-talu
    Buyung berduyun-duyun
    Percepat laju langkah menuju mushalla
    Menjinjing rinjing isi nasi kuning
    Berbelit sarung, menyungging kopyah

    Shallu ‘alaih…
    Shallu ‘alaih…

    Tabuhan rebana semakin membahana
    Pukulan jidor menderu dada
    Gemerincing tamborin mengiring
    Dendang puja-puji kado kekasih Rabb nya
    Senandung barjanzi menyiram kalbu sang pemuja
    Hanyut membuai cinta

    Bak iringan orkestra
    Riuh meliuk-liuk
    Sahut-bersahutan
    Musik, vokalis serta backing-vocal nya

    Thala’al badru ‘alaina…
    Kusambut duhai junjunganku
    Maulidmu tiba
    Mahammad ibnu Abdillah.

    Bi Qalam: Izzah Anwar
    Batu
    On Monday, at 12:45
    March 10, 2008

  21. By izzah on Mar 15, 2008 | Reply

    ralat: baris ke-tiga puisi Berebut Kasih
    Kun fa yakun, terciptalah raga nan perkasa Rasulullah

  22. By namora sinaga on Mar 16, 2008 | Reply

    ASA DALAM GELAP MASA

    Apakah yang kudapat dalam jejakmu? sebab segala cahaya Ilahi kau rangkum dalam genggammu. Akupun iri, karenanya. tapi rinduku padamu melayang diatas awan, pada warna pelangi, pada untaian senja, pada lukisan matahari yang kau bawa, bagi kami bagai lentera pada gelap malam sebuah peradaban. Teramat ingin ku pandang rona wajahmu selayak kuraba Kasih-NYA dalam diam sujudku. Sesayang itu ALLAH padamu? sepanjang masa berguru padamu kami di buat-NYA. pun. apa juga harus kutuliskan tentangmu? bahkan surgapun dititipkan-Nya padamu.bagi kami syafaatmu tersisa

  23. By dinda on Mar 19, 2008 | Reply

    Puisinya bagus2
    ~^_^~

  24. By dioly andina on Mar 19, 2008 | Reply

    cHuan thiQq ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………. banGet

  25. By makaribi on Mar 19, 2008 | Reply

    MOHAMMAD SANG JIWA DUNIA II
    : Kadang aku merasa tak pantas mengidolakanmu.

    1\
    Ketika ku baca kisahmu
    aku selalu malu akan diriku
    Ketika kau remaja kau nikahi seorang janda
    kadang bagiku sangat penting seorang gadis
    tapi Engkau ? Cinta dalam matamu
    tak mudah kutafsirkan
    Khadijah menemanimu, mendampingimu,
    menghiburmu dalam kondisi sulit,
    menyelimutimu ketika kau gelisah
    Ia seperti ibu, kekasih, istri
    dan menyerahkan seluruh yang dimilikinya
    untuk perjuanganmu.

    2\
    Pernah ku berpikir apa yang kau cari
    Sekembali dari fathu makkah
    kau berikan untaunta ghanimah
    ke mualaf disana
    orangorang besertamu menggerutu
    kau diamkan hingga di madinah kau katakan
    “apakah kalian iri mereka membawa hartaharta
    sementara kalian membawa aku bersama kalian”
    orangorang pun menangis, sungguhsunguh menangis ya Rasulullah
    “wahai kekasih Allah tak ada yang bisa menggantikanmu
    dihati kami, engkaulah harta tak ternilai yang kami miliki”

    3\
    atau ketika perang parit, orangorang kelaparan
    dan mengganjal perut dengan satudua batu
    seseorang menghampirimu untuk meminta makanan
    ia urungkan niatnya saat melihat tiga batu mengganjal perutmu.
    Wahai nabi yang menjahit terompahnya sendiri
    yang tidur di dipan beralas tikar
    yang jika tak temukan makanan di pagi hari
    hanya minum segelas air kemudian berpuasa,
    Pernahkah kau menikmati ghanimah ?
    ah bahkan kau berikan apa yang kau miliki
    jika ada yang memintanya.
    Kau ajarkan
    “yang membedakan manusia dihadapan Allah hanyalah takwanya”
    Kau genggam dunia ditanganmu tapi tidak dihatimu.
    rindu padamu rindu dalam bisu
    rindu yang bicara dalam diam
    rindu syafaatmu selalu
    rindu cahayamu di saat kelam.

  26. By Bibidapi on Mar 20, 2008 | Reply

    Datang Cahaya

    Masih kuingat keringat yang pecah di tubuh
    Di bawah matahari yang mengakar
    Dahaga terasa menang dalam sesenggukan air liur
    Belum kupahami, mengapa aku berdiri di sini
    Bersama manusia-manusia yang sedang menanti entah
    Ditemani angin yang bergerak lemah juga ke arah entah

    Lalu aku melihat kejauhan
    Serombongan beriringan
    Membawa cahaya di mukanya
    Inikah yang kami nanti?
    Mereka semakin dekat
    Cahaya itu semakin dekat
    Dan berhentilah ia di depanku
    Membasuh wajahku yang kering
    Subhanallah…
    Kaukah itu Rasulullah?
    Datang bagai cahaya dan membawa cahaya
    Seribu pujian kulantunkan dalam batin
    Saat punggungmu menari bergerak menjauh

    Rindu ini semakin mencekam
    Airmata ini telah menjadi sungai
    Seribu Shalawat kuucap dengan senyuman
    Saat aku terbangun dari mimpi yang nyata
    Mimpi yang tak mungkin jadi kenyataan

    **Berdasarkan mimpi yang nyata, yang diceritakan kembali oleh sang pemimpi

  27. By Bibidapi on Mar 20, 2008 | Reply

    puisinya bagus-bagus. Tuansufi, you have great great poetry! i love your “Bagaimana mungkin tanpa Cintamu ya Nabi”. Congrats!!

  28. By rizal khadafi nasution on Mar 21, 2008 | Reply

    KAMI YANG TERLUPA
    Andai saja…
    Bisa kau sahuti segala shalawat yang kulantunkan. Tentang kami, padamu kan kukisahkan. Tentang ulama mampupun tak jadi warosatul anbiya’, tentang pemimpin tidakpun sanggup jadi suri tauladan, tentang saudara seiman yang saling-pandang dengan curiga, tentang sepi mesjid, tentang Al-qur’an berdebu, tentang rapuh tali ukhwah, tentang luka harga diri, dan tentang-tentang yang lain.
    Untuk apa? di langit tinggi pujian padamu kami haturkan, bila sunnahmu di hati tak kami tempatkan. Dengan darah dan air mata DINUL ini kau juangkan, dengan sepenuh asa nur-NYA kau pantulkan, lalu dengan seresah hati, kami kau tinggalkan. Tapi kami lupa, tak peduli kami, kami tak hargai. Lalu pantaskah diri kami labeli dengan nama ummat MUHAMMAD? Syafaat pada kami layakkah kau berikan kelak?. Ah! Habiballohku, saat ini menjawabnya tiada kuasaku, akan itu ragu berlumur bagi sepenuh raga-jiwaku. Andai saja rasulku bisa kau sahuti segala shalawat yang kulantunkan…

  29. By ANDI SAPUTRA on Mar 25, 2008 | Reply

    mas rizal khadafi! saya sangat-sangat srtuju dengan puisi anda, karna memang begitulah realitanya. thanks!!!!

  30. By makaribi on Mar 26, 2008 | Reply

    UTUSAN YANG DATANG DI ZAMAN AKHIR
    : Rasulullah

    Engkau ceritakan tentang akhir zaman
    kami bukanlah apaapa sebelum engkau datang
    Setidaknya engkaulah harapan
    sebelum senja menjelang

    Jika demikian niscaya kami kutuki diri sendiri
    Tapi Allahlah diatas semua ini, katamu
    Allah ciptakan manusia atas dua sisi
    hanya Allahlah yang tahu

    Disangka hidup ini permainan ataukah ujian
    Tapi kami selalu berprasangka baik pada-Nya
    aku tahu diri-Nya darimu, maka kulantunkan pujian
    manusia hanya setes air yang hina ditangan ke Maha Besaran-Nya

    Maka didepanmu aku hanya ingin ceritakan diriku sendiri
    seperti ketika sepi, ketika sendiri
    masihkah ku sebut nama-Nya, ah aku sering lupa
    berdoa mengharap ampunan-Nya

    jika ku bercermin, sungguh nampak lukaluka
    nodanoda yang kubuat sendiri,
    tak ada lagi seandainya
    karena ku harus tanggung sendiri

    ah aku sering lupa
    berdoa mengharap ampunan-Nya
    ampuni aku, ampuni aku
    atas kealpaanku

    Seperti doa untuk-Nya shalawat itu untukmu
    Karena Ia telah titipkan sebagian syafaatnya
    padamu, syafaat itu kuharap selalu
    aku ingin bertemu keindahan abadi-Nya selamanya.

    (meskipun tak layak, aku hanya berharap
    karena harapanlah, satusatunya yang kupunyai
    setelah semua usaha kurasa tak sebanding
    dengan rahmat dan kasih-Nya.)

  31. By Haffez Hossen on Mar 27, 2008 | Reply

    …DAN IZINKAN AKU MENGIKUTIMU

    Jika dosa ini telah melumur hampa
    Takkah layak aku menjamu pahala?

    Jika waktu ini terbuang hina
    Masihkan ada sisa yang dapat aku punya?

    Imanku tak sekokoh miliknya,
    Amalku nihil akannya,
    diri ini…
    dirinya…
    terlalu beda.

    Jika shalat ini masih belum cukup
    kapan tiba waktuku bersamanya?

    Jika kaji ini belum cukup
    kapan tiba waktuku mendampingnya?

    Terlalu beda…
    Hidupmu terlalu sempurna, Rasulullah
    Hidupku, adalah dosa.

    Tapi…

    Jika memang belum sempurna imanku itu,
    Izinkan aku tetap selalu mengikutimu…

    BANDUNG, 2008

  32. By Haffez Hossen on Mar 27, 2008 | Reply

    …DAN IZINKAN AKU MENGIKUTIMU.

    Jika hidup ini melumur dosa,
    takkah aku layak menuai pahala?

    Jika waktuku telah terbuang hina,
    masihkah bersisa yang aku punya?

    Imanku tak sekuat miliknya,
    Amalpun hampir aku tak punya,
    diri ini…
    dirinya…
    terlalu beda.

    Jika shalat ini tak cukup,
    kapan tibanya aku bersamamu?

    Jika kaji ini pun tak juga cukup,
    kapan tibanya aku mendampingmu?

    Terlalu beda…
    Hidupmu terlalu sempurna, Rasulullah
    hidupku, adalah dosa.

    Tapi,
    Jika tak kunjung lengkap iman, hidup, dan amalku,
    Izinkan aku untuk selalu mengikutimu.

    BANDUNG, 2008

    ————-
    Haffez Hossen, Mahasiswa Tingkat IV Teknik Kimia ITB

  33. By unai on Mar 28, 2008 | Reply

    sttt jangan banyak tanya..hahah capai Bapak ini meladeni kita :P

  34. By meiy on Mar 28, 2008 | Reply

    ah pak ewa, gak demokratis neeh hahaha, bacando pak…ondeh ambo ingin ikut, tapi kok belum mantap baraso puisi ambo yo…*sok kontemplasi dulu ah* masih ada waktu ya pak (eh gak boleh tnya ya) peace deh pak :)

  35. By cempluk on Mar 28, 2008 | Reply

    mw ngucapin selamat berlomba buat para penyair…sukses !!!

  36. By isnuansa on Mar 28, 2008 | Reply

    saya belom bisa ikutan…

  37. By mathematicse on Mar 29, 2008 | Reply

    Mmmm lomba puisi ya? Mmmmm … :D Selamat berlomba…

  38. By unai on Mar 29, 2008 | Reply

    Kealpaan Hati

    Purnama hadir, menyeruak diantara belantara sepi.
    Pucuk pucuk bambu membeku
    Kitab suci yang tua dimakan usia
    Setua alam raya dan isinya…
    Lapuk tak terbaca

    Duhai hati
    masihkah kau berdiri pada ketinggian angkuh?
    Terpenjara dalam amarah dan lupa wangi tanah basah
    yang penah kita hirup di jaman purba

    Kau lupa
    tersesat dan tak mampu melacak jalan pulang
    Kau lena dalam buai mimpimimpi duniawi, wahai hati
    Sujudsujudmu, tangis, dan serak rapal doamu
    Apakah Rasul Allah yang jadi panutanmu?
    Jawablah duhai hati…!

    Kau yang kerap menyuarakan nyanyian bimbang
    Bermelodikan embun dan titiktitik hujan
    Kembalilah
    MEski tubuhmu tersungkur dalam ketakutan
    Akan ada jalan terang
    Bila kau menyesali kealpaan.

  39. By Fien Prasetyo on Mar 29, 2008 | Reply

    Kerinduan
    Fien Prasetyo

    Setiap kata adalah petuah
    Dan setiap petuah adalah terucap dari segenap bibir nan sahaja
    Bibir yang senantiasa membawa angin surga
    Keluar dari hati…

    Lelah…pedih…penat hampir pasti menyeruak di setiap nafas wangi
    Tak sedikit rasa dendam mereka pada langkah santun
    Tapi tak sontak wajah berubah mengkerut menghanyut
    Bibir yang selalu rekahkan senyum kecintaan pada Ilahi

    Disini, keabadian itu hadir mengisi kekosongan relung sanubari
    Dunia yang tak lagi punya petuah
    Hidup yang tak jua ada sahaja
    Hangar bingar, selisih tajam, menjadi ritme setiap waktu

    Tidak denganku, sendiri menunduk pada kekuasaan Ilahi
    Berdiam di sudut sepi tapi hingar dengan makna
    Makna akan damai hati, sejuk jiwa, dan binar cahaya mulia
    Aku tertidur bersama mimpi abadi sang pujaan hati, Muhammad…

    Ya rassul…petuah demi petuah kini terbingkai dalam kitab
    Membayangkan dan hanya bisa membayangkan perjuanganmu
    Hingga aku tersentak, bangun dari segala kelalaian dunia
    Mencarimu…merindukanmu…
    Tidak ada satu pun yang tahu, hanya menggeleng saja
    Airmataku meleleh bergulir-gulir, saat adzan berkumandang
    Ya rassul…kita bertemu dalam bait doa…sesaat lagi…

    Aek Nabara, 2008

  40. By meiy on Mar 31, 2008 | Reply

    Masih boleh ikut kan pak?

    Ini Puisi saya:

    Kepada Rasul

    pernah
    tak kutemukan alasan ‘tuk mencinta
    hatiku penuh curiga
    kau punya banyak wanita aku tak suka

    sayang
    cinta tak mesti miliki alasan
    hanya perlu dirasakan
    pada suci
    pada percaya
    pada cahaya
    pada indah

    dan diriku yang berlari menjawab tanya
    di dada
    relung terdalam hati
    mengapa kau suci

    dalam perjalanan kucari makna
    mengapa kau mustafa kekasih pilihanNya?

    pencarian memberiku tahu meski ilmu tak jauh

    dalam termangu
    menemu diri
    aku yang naïf
    kini merindu

    tak mungkin kau kekasihnya
    jika bukan kau juga sang pencinta
    yang ikhlas
    menerima
    walau nestapa

    yang rela memberi
    asal umat selamat
    menuju cahaya abadi.

  41. By artja on Apr 1, 2008 | Reply

    Sudah terlambat, ya? Kalau begitu puisi ini buat dibaca-baca sajalah. Mudah-mudahan nggak mengecewakan.

    Belajar Membaca Muhammad

    Aku pernah belajar membaca
    dengan cara mengikuti baris kalimat berirama rapi.
    “Lakukan saja seperti cara orang bernyanyi
    hingga meresap indahnya ke dalam hati.”

    Aku pun pernah belajar membaca
    dengan cara duduk rapi di lantai tanpa kursi.
    “Tekunlah mendengar tutur sejarah dari pak haji
    sambil menghafal catatan tahun dan hitungan hari.”

    Tapi hingga kini aku masih saja tergagap
    untuk mengucap ataupun menuliskan namamu.
    Apalagi membubuhkan cinta disamping namamu.
    Barangkali karena aku tak pernah benar-benar menyadari
    betapa melimpahnya cintamu kepadaku.

    Maka ajari aku mengeja
    muatan cinta
    pada mim, ha, mim lagi, lalu dal dari namamu
    agar bisa kubaca fasih huruf-huruf itu
    lalu tegak menjalankan sunnahmu dalam kehidupan.
    Bukan sekadar sepi sapaan shalawat dan salam.

    Hingga kelak nanti
    aku tak hadir sebagai orang asing di hadapanmu
    dan tak lagi keliru menyapa cinta
    kepada dirimu.

  42. By meiy on Apr 2, 2008 | Reply

    keren banget puisi artja, ampe speechless ;)

  43. By Rahayu Angini on Apr 15, 2008 | Reply

    salam…

    numpang unjuk kebolehan yoo..
    permisi..
    puwteun..

    ehem…

    ssstt…

    Kekasih

    Rabb
    ada pesakitan di ambang ketakutan sepeninggal kekasihmu
    ada keraguan di langkah kami untuk menuju ridhomu

    Rabb
    sampaikan pada kekasihmu tentang segenggam rindu di tanganku
    cintaku melilin beku
    betapa kutunggu api dari tangan kekasihmu lelehkan hatiku

    segenggam rindu yang hadir dalam cengkraman kezaliman dunia
    kekasihmu mencuri cintaku dalam dekap hangatMu

    Serang,2008

  1. 1 Trackback(s)

  2. Mar 31, 2008: Kepada Rasul « Alam Takambang Jadi Guru

Post a Comment