Menulis Itu Belajar (Praktik)
25 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
EDY PSW: Ooo… berarti sembari menulis, kita harus juga belajar tentang bagaimana menulis yang baik, baik melalui buku maupun melalui media lain. Begitu kesimpulan saya setelah membaca tulisan-tulisan Bapak. Begitu ya, Pak?
PTAKTIK. Persis. Manakala mindset dipola, belajar ya belajar, praktik ya praktik, proses dan muatan aktivitas dalam menulis akan terpilah. Kalau dijadikan dalam kesatuan, garis pemisahnya akan hilang. Pada proses menulis proses belajar terjadi. Ketika menulis itulah belajar sesungguhnya, membelajarkan diri. Ada orang yang belajar teori hingga menguasai teori menulis sedetailnya, tetapi kalau tidak dipraktikkan, pasti tidak akan ada hasilan tulisan.
Manakala menulis dimulai dengan (melakukan, praktik) menulis itu sendiri berarti kita membangun ‘teori’ menulis. Misalnya, menulis tentang kampus. Tulis apa yang ada di pikiran. Bukankah itu melatih ingatan tentang kampus? Bayangkan kalau rutin tiap hari, berarti tiap hari melatih daya ingat.
Harap diingat, kalau kemampuan, keterampilan dilatih terus-menerus, akan terasah. Daya ingat dilatih, daya pikir, proses kerja otak, juga rasa, dilatih. Tentu, akan berbeda kalau yang dipelajari adalah teori melulu. Bisa saja mempunyai segudang teori, e … begitu diterapkan, tidak cocok dengan kita punya pikiran, obyek yang akan ditulis, atau analisis sesuai pengetahuan atau kemampuan pikir. Apa jadinya?
Bingung, susah, ngalih, yang ujung-ujung, bukan tidak mungkin memvonis, menulis itu susah. Padahal, bukan menulisnya yang susah, cara berpikir kita yang disusah-susahkan. Pembangunan mindset yang tidak mendukung kreativitas menulis.
Menghapal jutaan kosakata tentu baik. Bandingkan. Dalam pratik menulis kita memerlukan kosakata, kalau ragu, setelah tulisan jadi, cek di kamus. Perbaiki. Kalau diksi (pilihan kata) kurang pas, ganti. Kita melatih kemampuan diksi. Kalau wajib sempuran, bagi kita yang belajar (menulis), susah tu. Bisa ngak jadi-jadi tulisannya.
Posisi kita, dalam rangkaian andaian seri memotivasi menulis, kan belajar. Jangankan hal-hal ‘berat’ semacam konsep ilmu atau daya analisis, menekan keyboard komputer saja kalau tidak dibiasakan akan menganggu. Ranah pengetahuan bagus, lihatan obyek OK punya, daya analisis siip, tetapi begitu mau menekan huruf a yang terkekan b. Mau menulis nabi, tertekan huruf b, jadi babi. Berabe bo. Kalau biasa menulis, ujung jari itu seolah bermata. Refleks menulis.
Begitu juga kalau menulis dilakukan, dilatih dengan menulis itu sendiri, kita bisa membanding-bandingkan dengan kara penulis lain. Kenapa ya tulisan Sawali Tuhusetya itu enak dibaca, kalau Al Jupri menulis tentang matematika enak dicena, atau membaca puisi Hermita Desmerry atau Ambarwati, enak gitu. Ya, kita menyadap untuk diolah otak yang dikeluarkan dalam bentuk pikiran kita sendiri; lain dari sumbernya. Bukan menciplak.
Kalau hal tersebut berkelanjutan akan semakin mematangkan tulisan. Coba bandingkan tulisan pertama dengan yang tearkhir, kog beda ya. Tapi, bisa jadi juga lho, dari yang bagus menjadi jelek manakala qualitaty qontrol diabaikan. Nanti dibahas khusus. Dengan kata lain, membaca itu sangat penting. Dari membaca itulah rumah pengetahuan terbina dan menjadikan menulis lancar.
Ya, kita belajar dari apa saja. Dari buku, dari artikel, dari omongan ngalor-ngidul, dari pujian dan makian, dari apa yang dilihat atau diraba, dari yang terlihat atau tersembunyi, dari apa saja; dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terpatri pada ciptaan-Nya.
Serial tulisan ini dalam katup belajar. Saya belajar, Sampeyan belajar, kita sama-sama belajar. Bukan buat yang ahli. Dengan begitu, saya tidak takut salah, he he.
Tulisan-tulisan saya bukanlah untuk mereka yang piawai menulis; mereka adalah guru. Hanya saja, kalau guru menikam, itu bukan guru dong namanya. Bagi saya, sesuai posisi dan kemampuan yang terbatas, menulis itu belajar, membelajarkan diri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 25 Maret 2008.













12 Responses to “Menulis Itu Belajar (Praktik)”
By meiy on Mar 25, 2008 | Reply
“….Padahal, bukan menulisnya yang susah, cara berpikir kita yang disusah-susahkan.”
saya suka frasa di atas, sering jadi kendala, saya praktikkan pada diri sendiri, hasilnya beda. Saat kita anggap sesuatu mudah, insya Allah akan mudah, begitu sebaliknya
***Ya, itu intinya
By Toni on Mar 26, 2008 | Reply
“Saya belajar, Sampeyan belajar, kita sama-sama belajar”
Padahal saya banyak belajar dari blog ini.
Salam Pak Ersis.
***Salam. Sama-sama.
By kangguru on Mar 26, 2008 | Reply
Hahahha kita mahkluk dalam kotak yang hobi membuat kotak, dulu rasanya ad a yang bilang begitu deh, seluas luasnya kotak tetap akan lebih luas jika sekat antara kotak itu bisa kita dobrak…. ehm aku ini ngomong apa sich
Oh ya pak mengenai ide
sayaakan lebih baik jika bapak mengemasnya, soalnya kalo saya sich cuma bisa sekedar melamun, pasang mata dan telingga, dengan senang hati pak, semoga bermanfaat.By benbego on Mar 27, 2008 | Reply
setuju sama meiy. lebih kepada pikiran kita sendiri. dibilang susah ya jadi susah. klo dianggap mudah jd enteng nulisnya.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 27, 2008 | Reply
Pak EWA, akhir-akhir ini saya menulis, bukan sebuah artikel tapi sebuah hasil assesment dari citra diri seseorang. Menurut pian itu juga sebuah tulisan bukan, pak?
Karena bentuk tulisan hasil assesment, juga dalam bentuk cerita dinamika psikologis seseorang juga.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 27, 2008 | Reply
Saya menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya, sumber idenya ya dari stimulus karya seseorang juga. Jadi ya saya tuh merangkai kata-kata yang intinya menggambarkan atau menceritakan keadaan diri seseorang.
***Sip, bagus itu. Lanjuuuuuut.
By unai on Mar 27, 2008 | Reply
lama saya ndak mampir kemari pak, banyak sekali tulisan baru…saya merasa sangat jauh dari peradaban…meski saya masih membaca, akhir2 ini saya sulit menulis…selain waktu yang semakin sempit, saya juga terlalu lelah secara “Jiwa” menghadapi pekerjaan saya . (halah kok malah curcat) tapi saya masih semangat pak….semangattt
***Jangan lama-lama dong, kita kanegn ama unai
By sawali tuhusetya on Mar 27, 2008 | Reply
saya juga seorang guru, pak, hanya guru biasa, hehehehe
bukan guru menulis. karena itu, saya juga banyak belajar dari blog pak ersis. memang ada guru yang suka menikam, pak? hiks.
***Sama dong. Banyak he he … dengan kata-kata bahasa Indonesia, he he
By Evi on Mar 27, 2008 | Reply
Pak Ersis,
Akhir-akhir ini keinginan saya untuk bisa menulis semakin meningkat. Saya telah menemukan kenikmatan ketika melakukannya. Rasanya seperti masuk kedalam kepala sendiri, menemukan ribuan frame-frame alkisah, menangkap salah satu diantaranya, mengakrabi sejenak agar jinak dan mudah untuk di pindahkan ke layar monitor. Dan perjuangan keras saya terletak disitu, kebanyakan ide, sudah begitu liar lagi, jadi susah memilah ide apa sebaiknya dituliskan pada hari ini. Kalau sudah begitu saya akan berkunjung ke sini untuk mendapat ketegasan bahwa menulis apa yang ada dipikiran tidak perlu di perumit. Terima kasih Pak.
***Sama-sama. Menulis, menulis, dan terus menulis.
By mathematicse on Mar 28, 2008 | Reply
Wew ada nama saya disebut-sebut…
Iya, menulis dari apa yang ada dipiiran itu nikmat. Apalagi menulis sesuatu dengan keinginan kuat agar pembaca mengerti itu lebih nikmat lagi.
Kita berusaha sekuat kemampuan agar tulisan tentang topik yang sulit itu enak dibaca, itu ternyata menimbulkan sensasi yang wuah susah diungkapkan lewat kata-kata. Seperti “candu” yang membius kita untuk terus dan terus melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
***He he … kira-kira begitu.
By Edi Psw on Mar 28, 2008 | Reply
Tapi kadang-kadang menulis itu juga disesuaikan dengan mood, Pak. Saya pernah mengalami, ketika saya sedang menemukan bahan menarik yang bisa ditulis, tiba-tiba saat mau nulis itu seakan-akan pikiran ini tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Jadi hanya diam termenung lama di depan laptop. Saya nggak tahu, apakah itu dampak dari rasa letih setelah pulang kerja atau ada faktor lain. Akhirnya, yach terpaksa saya tunda dulu menulisnya. Kemudian esoknya saya bangun pagi-pagi dan mulai menulis lagi. Tanpa diduga, begitu enaknya menulis sampai dalam waktu beberapa menit saja tulisan sudah selesai.
Jadi menurut saya, mood juga berpengaruh terhadap kualitas tulisan. Begitu kan, Pak?
***Ngak la yaw. Mood diciptakan, bukan datang sendiri —lihat artikel tentang mood.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 29, 2008 | Reply
Mantap banaaaarrr.