Praktik Menulis Melawan Diri
23 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
IWAN AWALUDIN: Ah itu kan teori Pak. Memang gampang bilang kalau praktik itu guru yang paling bagus. Tapi kenyataan di lapangan (punya saya) membuktikan, bahwa praktik pun tidak selalu membawa peningkatan. Memang lemah saja kemampuannya, ha ha ha.
LAWAAAAN. Bisa jadi, Iwan Awaluddin, pemelihara School Universe, blog yang rutin saya intip, bagarah-garah mengomentari tulisan Praktik Guru Sesungguhnya. Hal senada banyak disulangkan teman-teman; gampang diucapkan sulit dilakukan. Pertanyaan pokoknya, apa sih yang mudah di dunia ini? Untuk mendapatkan atau mencapai sesuatu, perlu perjuangan. Hidup, hakikinya, ‘menembus’ hal-hal tidak mudah. Bukankah begitu?
Dalam menulis begitu juga. Karena itu, kunci pembukanya praktik. Punya kemampuan atau ilmu segudang, kalau tidak dipraktikkan, ama aja boong. Dalam memotivasi menulis sampai pada simpulan, cara terbaik melatih menulis dengan menulis. Belajar teori boleh, memungut gaya, silahkan, menyadap pola penulis hebat, monggo. Tetapi, praktik yang utama.
Perhatikan Pak Tani yang begitu gigihnya. Pak Tani bisa jadi lebih pintar dari lulusan perguran tinggi pertanian paling hebat sekalipun dalam urusan persawahan. Mereka hapal kapan harus menebar benih, menanam, menuai, sampai menjual hasilnya. Tanpa bersekolah tinggi. Bukankah teori-teori yang dibahas dibangku kuliah berasal dari apa yang dilakukan petani? Memang ada sistem rekayasa yang dikembangkan di laboratorium. Namun, dalam praktik bisa jadi Pak Tani unggul.
Belum lagi ‘kelucuan’ dari ladang teori. Secara logika, dengan banyaknya PT bidang pertanian, laboratorium, litbang yang bertebaran, dan setersunya, produk pertanian kita baguslah. Kita kelebihan sarjana, magister, sampai doktornya, sampai-sampai banyak yang menganggur. Tapi ingat, kita pengimpor beras alang kepalang, kedelai bergantung Amerika Serikat, durian dari Bangkok, jangan-jangan nanti rumput diimpor dari Australia atau Arab Saudi, he he.
Begitu juga pada bidang lain. Belum pernah dalan sejarah republik ini, begitu berhamburan sarjana pendidikan, magister pendidikan bertumbuhan bak cendawan di musim hujan, doktor-doktor pendidikan lulusan dalam dan luar negeri tak alang kepalang banyaknya. Siapa yang bisa membantah, kualitas pendidikan kurang memuaskan? Kalau alasan, atau beralasan, sudahlah, pasti ada argumenya. Yang kita rindukan pendidikan berkualitas, bukan segerobak alasan. Alasan, dan alasan.
Dalam konteks itu, ya teori memang gampang —padahal kalau kuliah bisa dibenamnya lho berathun-tahun, pertanda sulit bo— praktik lebih susah. Susah? Ya, tapi itu yang harus dilawan. Kita latih diri sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, dengan praktik. Presiden mau profesor pertaniankah, kalau praktiknya tidak jauh dari yang seharusnya, tetap saja kita akan kekurangan bahan pangan. Kalau harga-harga hari-hari naik, itu mah sudah biasa.
Coba sigi, apakah guru-guru kita fasih menulis? Kalau teori tidak diragukan. Bandingkan, apakah penulis-penulis kreatif, penulis terkenal, dari mereka yang hidupnya belajar teori atau mempraktikkan menulis? Jawab sendiri deh. Anjuran saya, kalau mau melakukan sesuatu, ya perkuat praktik. Praktik melawan kendala-kendala, terutama diri sendiri.
Setidaknya dengan praktik kita membelajarkan diri. Tapi, kalau bersikukuh bahwa itu sulit, tidak mudah, sukar dilakukan, itulah mindset. Kehidupan ini ‘ditentukan’ oleh midset yang kita setting di otak. Kalau yakin melakukan sesuatu, dibarengi praktik, Insya Allah, menuju sukses.
Pengalaman pribadi, secara formal saya bukanlah keluaran sekolah bahasa atau pendidikan tulis-menulis. Ketika memulai menulis, yakin saja bisa. Makanya, tulisan-tulisan saya tidak bermutu. Mula-mula susah, tapi karena praktik terus-menerus, jadi tertolong. Setelah agak fasih, membaca buku-buku teori menulis. Oh begitu. Banyak yang sudah diparktikkan.
Logikanya, kalau belajar teori, dipraktikkan, tentu lebih bagus. Saya sering menganjurkan kepada teman-teman dekat yang ahli teori, menulislahlah kawan. Kalau bagus, ditiru, belajar. Agar, tulisan saya bagus. Tapi, kalau berteori melulu, menyalahkan tulisan jelek saya, buat apa? Mendingan latihan dengan praktik. Menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Maret 2008.









10 Responses to “Praktik Menulis Melawan Diri”
By ha on Mar 23, 2008 | Reply
akur pa ai, tabrak tarus. biar haja tapuntal-puntal gin
By Prabu Dian Sori on Mar 23, 2008 | Reply
kalo saya mending praktek aja langsung daripada banyak teori. sakit kepala dengerin banyak teori
By mathematicse on Mar 23, 2008 | Reply
Kalau saya, teori dan praktik.
Menulis pada hakikatnya berbagi pengetahuan, berbagi pengalaman, dan juga belajar. Karena itu menulis adalah salah satu bentuk beramal.
Nah, beramal dengan ilmu alias dilandasi teori tentu lebih baik ketimbang praktik terus-terusan tanpa dibarengi ilmu. Bagaimana menurut bapak?
By budi spensabjb on Mar 24, 2008 | Reply
assalamualaikum pak, wah..lama nggak ketemu nih…waduh pak saya setuju aja nulis itu mudah…yang tidak terlalu bersadarkan teori sana-sini…tapi pak? kalau mau nulis …otaknya diisi oleh asap dapur..jadinya kagak konsent nih pak…nah gimana caranya tetap bisa nulis walau perut lapar…maklumlah pak cuman omar bakri..he..he…
By meiy on Mar 24, 2008 | Reply
pada dasarnya praktik adalah menerapkan teori juga yg kita dapat secara sadar n tak sadar dalam belajar formal & informal. praktik punya nilai lebih karena kalau kita menghadapi kendala, kita belajar lagi.
By hanggadamai on Mar 24, 2008 | Reply
hahaha saya tersinggung
soalnya saya kuliah di PT pertanian di bogor
By german on Mar 24, 2008 | Reply
tidak ada teori yg pasti –haha lagi2 teori–, yg menjelaskan bahwa teori sekian persen dpt menjadi pemantik praktik dari teori itu sendiri. pada faktanya teori tanpa praktik pun hanya teori yg kering tanpa makna –krn tdk dipraktikkan– lain halnya praktik tanpa teori –kebalikannya– yg bisa jadi praktik lebih memadai –berpengalaman– daripada teori. idealnya sih, teori dan praktik satu paket utuh yg tdk dpt dipisahkan dari pengalaman –sekalipun pengalaman hanya secuil ujung jari, yg pasti tidak ada yg menganjurkan bahwa seseorang yg ‘mengabdi’ puluhan tahun sekalipun di PT (perguruan tinggi) dapat melakukan praktik yg sesungguhnya dari teori yg didapatkannya.. kalau tidak dipraktikkan, iya gak pak?!
By Edi Psw on Mar 25, 2008 | Reply
Ooo… berarti sembari menulis, kita harus juga belajar tentang bagaimana menulis yang baik itu baik melalui buku maupun melalui media lain. Bagitu ya, Pak?
***Jadi artikel he he Maksih
By Yari NK on Mar 25, 2008 | Reply
Justru terkadang cara melawan itu yang sulit. Terkadang kita melawan sesuatu sangat mudah terkadang melawan sesuatu yang lainnya sangat sulit. Terkadang melawan untuk malas menulis bagi sebagian orang adalah mudah sedangkan bagi sebagian lainnya sangat sulit. Begitu pula dalam kasus lain, bagi sebagian orang melawan agar membuat buku yang berindeks agar lebih baik kualitasnya sangat mudah, buat sebagian orang bikin buku yang berindeks sangat sulit walaupun dilawan. Bukan begitu?? hehehe….
By unai on Mar 27, 2008 | Reply
belajar banyak teori tapi ndak diterapkan sama saja bohong ya pak? mulai dari hal hal kecil dan sederhana mungkin akan lebih mudah
***Ya, kalau tidak diterapkan. Praktik aja.