Menulis Memaafkan (Diri)

23 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SUCIATI: Pak, saya kini suka menulis. Ketika menulis buku pertama ‘dihajar’ sesorang dengan kata-kata yang bagaimana ya. Pokoknya membuat nyali ciut. Hati berdenyut-denyut. Sabar. Dijadikan untuk lebih memotivasi diri. Bagaimana itu Pak?

KASIHAN. Pada buku Menulis Sangat Mudah (2207-2008), Menulis Mari Menulis (2008), dan Menulis dengan Gembira (2008) telah ditulis bahwa tidak semua apa yang kita tulis diamini semua orang. Apa yang kita tulis belum tentu kebenaran kan? Kita punya kelemahan, salah, atau kekurangan. Orang punya pikiran, perasaan, pendapat, atau pandangan. Tidak aneh. Yang lucu justru ketika memaksa orang lain atau orang lain memaksakan pikiran atau pandangnnya.
 
Kalau dikritik, terima saja. Kalau dicaci ya apa boleh buat. Bukan berarti diam atau tidak ‘melawan’ lho. Adakan perlawanan, tetapi fokuskan pada diri sendiri. Kesemua hal-hal minor jadikan pemotivasi untuk memperteguh kemauan dan kemampuan, agar belajar lebih serius.
 
Percuma dilawan. Apalagi, orang-orang yang emosional. Perhatikan, mereka yang berjiwa penulis pastilah memberikan apresiasi terhadap karya kita, betapapun awamnya tulisan kita. Sebaliknya, orang yang payah menulis, cenderung ‘membantai’. Sudah mencela tidak memberi solusi. Pokoknya caci-maki.
 
Kalau sudah paham posisi demikan, buat apa dihiraukan. Artinya, kritikan dipilah-pilah. Kritikan konstruktif, betapapun pahitnya, wajib diterima demi perbaikan. Cacian, makian, celaan, dan saudara sepupunya, biarkan saja. Maafkan. Bersimpati. Kasihan. Ejekan jadikan untuk berbenah diri, membelajarkan diri. Insya Allah akan lebih piawai sementara mereka semakin mantap dengan caci-makiannya.
 
Perhatikan hal sederhana, komentar pada aneka tulisan saya. Ada yang baunya marah melulu, sampai menanya kedalaman ilmu (emang laut), dongok, wajah jelek, menulis saja bisanya, tidak cocok apa yang ditulis dengan yang dilakukan. Pokoknya macam-macam. Pahami, dan maafkan. Legaaaa.
 
Jangan sampai tergoda dengan tonjokkan yang tidak konstruktif dan tidak produktif. Percayalah, menulis itu jauh lebih baik dari megeluh, apalagi menghujat. Kalau tulisan kita dihujat, bukankah kita mendapat pelajaran? Malahan harus bersukur sebab jiwa akan menjadi kuat.
 
Saya pernah dikatakan penjilat. Emang kalau dikatakan begitu menjadi penjilat, tidak bukan? Bagaimana orang yang menulisnya payah menilai kita yang menulis berpuluh-puluh artikel. Aneh. Lebih aneh lagi klau terengaruh sampai pata semangat. Biarkan saja. Nanti dia pusing sendiri.
 
Minggu lalu, seorang teman, dosen tamatan S2 UGM mendiskusikan perilaku orang yang mencaci tulisannya. Apa fasal? Tulisanya, juga tulisan saya dan tulisan anggota KP EWA’MCo. disepelekan. Saya katakan, Sampeyan bangga ngak menulis begitu banyak di koran dan menghasilkan dua buku. Ya, katanya. Yang mengritik, apa menulis? Jangankan buku, artikel di koran saja tidak.
 
Coba pikir, kog bisa-bisa orang yang tangannya letay, otaknya buntu menulis ‘menilai’ kita yang menulis. Yang celaka tambah saya: Kamu terpengaruh. Patah semangat. Kalau begitu, betul-betul bodoh. Dibodohi orang bodoh. Matanya berbinar, dan minta diajarkan bikin blog. Selamat.
 
Dengan kata lain, jadikan pandangan negatif orang untuk berbenah diri. Kalau sakit hati yang rugi kan kita. Lalu, kalau sudah paham buat apa diperlihara. Resep saya, cuekin saja. Perbanyak saja menulis. Lama-lama semakin fasih, dan semakin bagus. Yakinlah.
 
Dus, menulis saja. Kritikan terima, ambil hikmahnya. Kalau dari yang mencaci, biarkan, lupakan. Ngapain mengingat-ingat caci-maki orang, mendingan mengingat cacing. Dan, jadikan dia cacing kepanasan dengan karya kita. Rebes eh beres.
 
Sekali lagi, apa pun penilaian orang jangan sampai menciutkan nyali. Sebaliknya, jadikan untuk memperkuat tekad, membulatkan niat, dan terlebih demi pembelajaran diri. Orang sekaliber Socrates saja berkata: ibi est verum. Dimana kau, kebenaran?
 
Kebenaran sejati punya Allah, pratik manusiawinya simak pada Rasulullah. Kita bertugas mencarinya, pada diri, di pada inti pikiran, relung hati, bukan pada penilaian. Tugas kita mencari dan berusaha dalam irama kebenaran (kalau bisa). Menulis memaafkan diri, dan … orang lain. Semoga.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 Maret 2008.

  1. 4 Responses to “Menulis Memaafkan (Diri)”

  2. By Freddy Hernawan on Mar 23, 2008 | Reply

    Setuju banget pak :) kalau nggak gitu, gimana kita bsia tahu akan tulisan kita sendiri kan? pembaca kan adalah cermin kita.

    ***Ya, dari hal-hal buruk kita belajar, apalagi dari hal baik. Yang penting menulis ya kan Mas Freddy. Salam.

  3. By mathematicse on Mar 23, 2008 | Reply

    Iya, sebetulnya, manusiawi bila kita merasa ga enak saat tulisan kita (yang sudah susah payah dibuat) dicaci senaknya oleh orang lain.

    Di satu sisi mereka menciutkan nyali kita, tapi di sisi lain sesungguhnya orang-orang seperti mereka tetap diperlukan agar kualitas tulisan kita makin baik. Jadi, kita harus melestarikan keberadaaan mereka untuk perbaikan diri. … wakakakakakakak.. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :D

  4. By german on Mar 24, 2008 | Reply

    kalo saya pribadi, masa bodo’ orang mau nilai apa! yg penting menulis itu bagian dari tangan –selain makan dst–, lagian tulisan yg ditulis belum tentu sependapat dgn orang lain yg membacanya, tentu tidak utk menghakimi ataupun membuat debat kusir –sekedar proses agitasi diri–, yg terpenting adalah berbuat lebih banyak dari orang lain dan berusaha semaksimal mungkin menguasai diri –atas tulisan yg ditulis–, bagaimana pak?!

  5. By dadan on Mar 31, 2008 | Reply

    Santai aja pak…
    Wong cuman pendapat orang saja koq repot (niru GusDur)

    Saya biasanya mikir gini : emang berapa sih index bias antara kebenaran sejati dengan pendapat orang ?

    La wong warna yang kita dilihat oleh mata kita itu sebenarnya cuman terjemahan otak atas panjang gelombang yang terpantulkan …. hehehe…

    Apalagi menilai karya tulis, sesuatu yang exist dalam dimensi makna…

    Tapi bukan berarti harus menutup kuping terhadap kritik. Bukankan bintang yang jauh di ruang angkasa baru bisa diketahui jarak dan posisi akuratnya melalui beragam medote teknis ?

    **waduh.. mohon maaf sudah ngomong ngalur-ngidul kayak di warung kopi**

    ***He he … berpendapat kemerdekaan. Kalau saya sih yang penting nulisnya, soal penilaian terserah orang sajalah. Dan, serial tulisan saya memotivasi, yang tidak esensial … biarlah terabai (sementara).

Post a Comment