Tidak Ada Kata Terlambat

20 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

IMELDA COUTRER MIYASHITA: Salam Pak EWA. Saya belajar menulis empat tahun, membiasakan menulis apa saja. Menyesal kenapa terlambat memulai.

KAPAN SAJA. Menulis adalah pekerjaan merdeka. Tidak ada istilah kapan memulai pabila berakhir. Dalam bahasa santainya, suka-suka. Orang bisa saja punya mau setinggi gunung, dan punya kemampuan lebih dari cukup, tetapi belum tentu menjadi penulis. Antara mau dan mampu telah dibahas pada tulisan terdahulu. Akan halnya ‘menjadi’ itu urusan lain lagi. Bisa saja, tiba-tiba muncul ‘kesadaran’ atau datang pemicunya, dan jadilah. Bisa-bisa ketagihan.
 
Yang penting, diri siap menulis. Siap dalam pengertian, apa-apa yang akan ditulis memang sudah tersedia di otak, dan atau, otak mampu mengolah apa yang akan ditulis. Orang yang banyak membaca, dan atau, punya pengetahuan luas, apalagi pengetahuan lebih khusus, lebih memungkinkan menulis, menjadi penulis. Bisa pula dikatakan, kalau posisi sudah stand by, tinggal menunggu pemicu.
 
Yang celaka, libido menulis menguasai ubun-ubun, pengetahuan cekak, penguasaan teori, tehnik, dana seterusnya nol koma nol. Mana sok pintar pula. Kalau mengidap penyakit sedemikian, akan sulit menulis. Hal tersebut harus diatasi terlebih dahulu.
 
Dengan kata lain, ‘kesadaran’ itu tidak ada hubungannya dengan ruang dan waktu. Memakai istilah agama, ketika hidayah menulis datang, ya menjadilah. Ada orang yang sejak SD sudah menulis, dan bagus.
 
Suatu kali saya membuat Antologi Puisi Tajuk Bunga. Seorang kontributornya profesor, dosen Bahasa Indonesia. Pada biodata Beliau ditulis, menulis puisi pertama kali menjelang pensiun, ketika berumur hampir 70 tahun. Itu puisi pertama yang dipublis. Tidak lama setelah antologi terbit, pensiunan. Umur bukanlah alasan untuk menulis. Kalau masanya tiba, ya menulis saja. Yang penting siap.
 
Begini saja. Kalau kita memulai menulis umur 20, kalau konsisiten, pada umur 50 berapa buku yang dihasilkan? Memulai umur 40 juga Ok, mau 50 tak mengapa. Tentu sangat beruntung kalau memulai lebih muda. Setelah terbiasa menulis, fasih menulis, waktu bisa diplipat. Saya menulis artikel ini sembari chatting dengan Zulfaisal Putra. Butuh waktu 15 menit.
 
Kalau memulai empat tahun lalu, itu bagus. Mungkin ‘belajar’ menulis empat tahun bisa terasa lama. Katakanlah mampu menulis 20 tulisan atau satu buku. Karena dilakukan, berikutnya waktunya akan lebih pendek. Menulis lebih mudah.
 
Karena itu, jangan pernah merasa terlambat. Begitu hidayah menulis datang, sambar. Pagut erat dan jadikan bagian jiwa. Ada orang yang bilang, Pak Ersis bagaimana caranya Sampeyan menulis? Apa tiap saat di depan kompter?
 
Nah, salah am. Kehidupan keseharian biasa-biasa saja tu. Mengajar, terlibat berbagai proyek, menerbitkan koran, meneliti, bertambak. Saya punya isteri yang wajib ‘diladangi’, punya anak. Ke mesjid, terkadang ke karaoke. Memelihara beberapa blog atau menjadi pemakalah. Belum lagi kegiatan sosial lainnya. Menulis dihimpitkan dengan aneka kegiatan atau disela-selanya. Tidak dijadikan beban. Saya tidak mau beralasan sibuk. Menulis ‘menyantaikan’ pikiran.
 
Dalam konteks awal tulisan ini, bersyukurlah kalau dapat hidayah menulis. Tidak penting empat tahun lalu atau beberapa detik yang lalu. Yang penting, mendapatkannya, dan melakukan. Artinya, menulis saja tentang apa saja kapan saja. Jangan dijadikan beban. Jadikan saja refreshing.
 
Saya punya seorang teman, S2 dua tamatan Amerika. Pada umur empat puluhan baru kawin. Dulu saya olok-olok, percuma tu bawa pentungan kemana-mana, ngak dimanfaatkan. Hanya untuk kencing doang. Ada lho kencing enak. Mesem-mesem dia.
 
Tadi siang, sehabis menguji, fit and propit test , calon kepala SMA/SMKN dia bilang: “Menyesal”. Kenapa? Kog tidak dari dulu-dulu. Saya baru saja dari rumahnya, perut isterinya sudah matang. Dalam dua minggu ke depan akan lahir anak pertamanya.
 
Jadi, tidak ada kata terlambat. Hidup dinimkati hari ini untuk lebih dinikmati ke depan. Dengan … menulis. Mudah-mudahan saja. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 20 Maret 2008.

  1. 7 Responses to “Tidak Ada Kata Terlambat”

  2. By Zul ... on Mar 20, 2008 | Reply

    Ha ha ha …
    Ilustrasinya ke mana-mana. Sampai ke pentungan segala.
    Asyik juga ni Abang, sambil chating bisa tuntasin tulisan dengan kalimat-kalimat yang tetap koheren dengan ide pokoknya.
    Setuju tidak ada kata terlambat. Walau lebih baik terlambat daripada tidak menulis sama sekali.

    Tabik!

    ***Ha ha ha. Tabik.

  3. By Mega on Mar 20, 2008 | Reply

    oalahh kumat dia..wakakakss..kayak apa sih kencing yang enak itu….*aku msh awam dan kecil soalnya..:=))

    ***Khusus 18 tahun ke atas … di Jepun juga ada kog, he he

  4. By german on Mar 20, 2008 | Reply

    kenapa harus menunggu mood, toh mood lapar datang setiap saat –bahkan setiap saat. kalo ingin menulis ya menulis saja, jika terpatok pada keadaan, yah sama saja dgn anak kecil yg ktika turun sekolah karena takut dimarahi oleh orang tuanya, akhirnya membolos deh. walhasil, malakut maut setiap saat akan datang, bahkan ketika kita menulis pun dia bisa mencerabut nyawa kita dari raga. kemudian berkhutbah seraya memperhatikan tulisan yg sedari tadi kita tulis,
    katanya:
    “apa yg kau tulis?”
    “berapa lembar yg kau tulis?”
    “untuk apa kau menulis?”
    “dgn cara apa kau menulis?”
    maka seketika itu sang jiwa pun hanya bisa menggeretekkan gigi geraham saja, dan sang malakut maut pun mengikhtiarkan sang jiwa ini utk meneropong pesan yg tersirat dari tujuh langit syurganya Allah aza wajallah…
    bunyinya:
    “WAHAI JIWA-JIWA YG TENANG, KEMBALILAH KEPADA RABBMU, YG TELAH MEMBERIKANMU KENIKMATAN DUNIA DAN SELURUH ISINYA, YG TELAH MEMBERIKANMU KENIKMATAN RAGAWI DAN INDAHNYA TEMPAAN BATHIN KARENA IBADAH YG ENGKAU TELAH KERJAKAN, DAN SETIAP JIWA ITU TERGANTUNG APA-APA YG DI’TULIS’KANNYA (NIATKANNYA)”
    maka seketika itu malakut maut pun berserah diri dan menyeret sang jiwa utk kembali ke haribaan-Nya.

    keluarga yg ditinggalkannya pun hanya bisa berpasrah menerima takdir yg telah ditentukan oleh Sang Pencipta. keluarga hanya bisa mendendamkan kerinduan yg tak terhingga atas kepulangan salah satu keluarga terbaiknya. salah satu keluarga terbaik itu pun meninggalkan keluarga bersahaja dan meninggalkan bertumpuk-tumpuk buku serta kitab-kitab yg tidak lain telah ditulisnya dengan tangannya sendiri, dgn keringatnya sendiri serta dgn jerih payah otak keintelektualannya sendiri yg berguna utk orang-orang yg membacanya, berusaha memahami dan mendulang intisari keilmuan sang jiwa yg telah berpulang tadi.
    =THE END=

  5. By sawali tuhusetya on Mar 22, 2008 | Reply

    suparto brata, sang novelis kita, justru mulai produktif menulis justru ketika usianya mencapai kepala 5. tapi, idealnya lebih baik tidak terlambat daripada terlembat, hehehehe :lol:

    ***Ya ya, setuju banget Pak Swali. Terlambat itu kan kata-kata orang yang suka beralasan he he.

  6. By Suci on Mar 22, 2008 | Reply

    Hahaha….
    Seger nih baca yang inih.
    yang saya suka dari tulisan Bapak itu tuh. biar kemana-mana bahasannya, dari kesibukan sehari-hari, dosen yang baru mulai mempublikasi puisi, pentungan,mpe bahasa orang yang nyesel kwain telat,tapi bisa yah tetep terasa nyambung sama ide awal.

    Boleh, boleh…

    ***Segaar … nich ye. Kalau dah segar membaca, biasanya malas nulis tu.

  7. By mathematicse on Mar 24, 2008 | Reply

    Saya tidak setuju bila dikatakan “tidak ada kata terlambat”.

    Saya setuju bila dikatakan “ada kata terlambat” :D Huehehehehehehehehehe… :D
    Contohnya?

    Saya menyesal kenapa ga belajar menulis sejak SMA, kenapa? Saya terlambat! Terlambat untuk mulai menulis sejak saat itu. Padahal banyak momen-momen indah yang bisa dituangkan dalam untaian tulisan, yang mungkin bermakna, dan mungkin juga tidak (bagi orang lain). :D

    Bila saya mulai menulis sejak dulu, mungkin tulisan saya akan lebih variatif, bukan hanya tentang matematika. Bukan hanya itu-itu saja. :D
    Jadi, kata “terlambat” itu ada. Nah, sekarang mulai saja kita lakukan menulisnya. Biar kata “terlambat” itu tak mampir ke kita lagi. Wakakakakak… :D

  8. By Emiko on Mar 26, 2008 | Reply

    waaaahhhh senang sekali baca tulisan bapak dengan topiknya saya. Betul tidak ada kata terlambat untuk menulis. Tapi namanya manusia selalu berpikir “kenapa tidak dari dulu”, “kenapa tidak begini, tidak begitu”. Dan benar kata Bapak yang penting kita <b>SIAP</b> lahir-batin untuk menulis. Saya juga sadar kalau saya menulis lebih awal, mungkin isi tulisan saya tidak akan se “dewasa” sekarang. Hanya berupa catatan-catatan bagaikan anak kecil. Meskipun saya tidak merendahkan tulisan anak kecil, tapi tentu itu tidak sesuai dengan umur saya.

    Ada sosok satu orang yang selalu mengingatkan saya bahwa “tidak ada kata terlambat” yaitu mantan murid bahasa Indonesia saya. Seorang lelaki Jepang bernama Watanabe Ken, yang mulai belajar bahasa Indonesia (di kelas saya) waktu beliau berusia 83 tahun. Dan dia belum pernah sekalipun pergi ke Indonesia. Sekarang beliau berusia 92 tahun, masih sehat, masih belajar meskipun bukan di kelas saya, dan sudah pandai menerjemahkan kalimat bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jepang. 92 tahun…. semangatnya patut kita contoh.

    ***Maksish, saya jadikan artikel he he

Post a Comment