Praktik Guru Sesungguhnya
20 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HARMITA DESMERRY: Praktek adalah pelajaran menulis sebenarnya. Ketika menemui kesulitan kita mencari tahu bagaimana mengatasinya. Itulah guru sesunguhnya. Bukan begitu Pak?
GAJAH. Ibu satu anak yang tengah berkutat dengan program Edgar di pedalaman Sumatera ini sungguh menarik perhatian sejak pertama mengujungi blognya. Gambar-gambar alam dan atau tulisan keresahannya tentang alam dan pendidikan menusuk ke jantung keprihatinan. Dia, ‘tega-teganya’ mengendong anak sembari ‘mencumbui’ gajah. Yang paling dikagumi puisinya. Resah dan harap ditorehan. Makhluk satu ini penulis bagus yang menunggu kematangan.
Saya, berkali-kali dan berlama-lama menatap jepretan kameranya. Sampai-sampai membayangkan mengelus belalai gajah, bercelana pendek, lalu mencebur ke sungai, berenang, berpindah dari satu batu di tengah kali ke batu lainnya, tangan meraih ranting-ranting pohon sembari menyiulkan lagu, Di Ambang Sore Nan Lalu —lagu wajib saya di karaoke. Duh, indah dan nikmatnya hidup ini.
Tapi, hanya akan menjadi imajinasi belaka. Susah bagi saya langsung megalamani. Paling-paling menulis cerpen tentang ‘persetubuhan’ dengan alam. Saya membayangkan daerah kelahiran, Mualarabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat. Indah nian.
Ketika Mey, begitu dia mengkodekan diri, berkomentar di satu postingan tulisan saya, saya sungguh tersenang. Dia menangkap ide dasarnya: Praktik adalah guru menulis sesungguh. Ketika menemui kesulitan kita berusaha mengatasinya. Ya, proses berlangsung pada diri, pada pikiran dan ketrampilan menuangkan.
Belajar benulis, memulai menulis, memasihkan menulis untuk menjadi penulis, hanya dengan tiga cara. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Ketika, menulis. Tidak ada cara lain. Mau punya pikiran, pengetahuan, ide, atau pendukung lain seyahud apa pun, kalau tidak menulis, ama aja boong.
Kalau menulis dilakukan, menulis dan terus menulis, kita tidak memerlukan guru. Latih saja diri sendiri dengan menulis. “Pak, mudah menulis (mengatakan), tapi susah mempraktikkan”, sulang seseorang. A ha … kalau disoal susah memang. Tapi, coba praktik, langsung lakukan, pasti hasilnya lain.
Hebatnya pula, apabila kita menemukan kesulitan, misalnya bahan kurang, sebagai orang waras akan mencari bahan, membaca. Ketika ragu menulis kosakata, akan mencek di kamus. Ketika tidak tahu kepanjangan BH, mencari di kamus, bukan asal pakai saja. Dimana ya Taskent atau Kiev? Oh, Vladivostok itu di Asia rupanya, Cape Tow di Afrika Selatan seperti juga gunung Kalimanjoro. Bolak balik buku georgrafi atau menselancari Google Earth.
Makna paling inti praktik menulis adalah melakukan. Sebab, dengan melakukan kita belajar, membelajarkan diri. Bukan belajar teori atau menimbah nasehat muluk-muluk yang kadang tidak berujung-berpangkal. Betapa banyaknya guru kita menganjurkan menulis sejak SD sampai PT. Guru sendiri tidak menulis he he.
Tidak semua ‘kelakuan; guru harus diapresiasi. Menjadi guru diri sendiri dengan belajar, apa susahnya? Kenapa takut dengan kesulitan kalau dengan itu kita kerpincut belajar, membelajarkan diri.
Pada prores sedemikian kita akan lebih mengenal diri, mengenal potensi dan kekurangan-kekurangan diri. Mengenal diri (kemampuan) sangat positif dalam menulis. Menulis tidak menjadi anganan, tetapi pratik, pembelajaran.
Sssst. Jangankan menulis tentang gajah, kita bisa jadi ‘Gajah Menulis’. Buang rasa kerdil atau kekerdilan jiwa dalam menulis. Praktik menulis adalah guru sesungguhnya. Menulis Tanpa Berguru.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 Maret 2008.









6 Responses to “Praktik Guru Sesungguhnya”
By izzah on Mar 20, 2008 | Reply
Benar pak!Izzah juga mempraktekkan menulis dari hal kecil, masih dapat satu sih…! Ketika teman curhat lewat sms tentang kisahnya yang saya ikut terharu dan menangis karena ’suatu kisahnya’. Kok saya pikir ‘eman’ kata-kata curhatannya tadi kalo didelete dari inbox. Akhirnya izzah mencoba merangkum curhatannya dalam puisi. Walau izzah bukanlah si karakter, tapi kok rasanya ingin banget masuk jadi pelakunya. Dan jadilah satu puisi. Izzah pingin balik tanya, pas puisi dah jadi meski apa yang tertuang tak sedalam apa yang dirasakan secara detailnya oleh pelaku , apa izzah harus cross-check dengan si karakter tadi? Karena takut ketika beliau baca kok kisahku kurang ‘menggigit’ sih… Atau izzah cukup dengan menambah referensi bacaan, misalnya setting yang mau saya masukkan karena pada dasarnya izzah belum tahu kayak apa ‘the real setting’ sesungguhnya. Thanks….so much…my teacher…!!
By german on Mar 20, 2008 | Reply
haha.. lagi-lagi masalah klise ‘menulis’, selain akal, manusia dikaruniai organ tubuh untuk bergerak. salah organ tubuh itu adalah tangan, kaki, kepala dan lain-lain. lantas mengapa ada saja manusia yg masih menggunakan tangannya utk berjalan, kakinya utk menulis dan kepalanya senantiasa mengelus-eluskan ke punggung anaknya yg hendak tertidur? karena jelas mereka cacat fisik, tapi anehnya, walaupun tidak ada cacat fisik toh masih ada yg menggunakannya secara berlainan? karena orangnya lagi bingung.. hahaha… bingungkan?
wah, pak ersis… kelakukan manusia di dunia dewasa ini ngga tanggung2nya, ada-ada saja caranya mereka menggunakan akal pikiran utk menumpahkan ide, gagasan dll.. agar perwakilan bahasa bathin mereka tersampaikan. tapi, adakalanya ketika menulis seseorang itu hanya berpijak berdasarkan nalar (mengambang) saja, lantas apakah keterwakilan bahasa bathin yg ingin disampaikan itu sama dgn nalar (ambang mengambang) di otak yg bernama manusia? seandainya binatang seperti kambing, sapi, kerbau dan lain sebagainya itu memiliki akal pikiran seperti manusia, kira-kira apakah yg akan ditulisnya? mungkin mereka akan menuliskan tentang susahnya mencari makan di areal pepadangan karena sudah tidak ada lagi yg dpt dimakan akibat banjir, atau mereka akan menulis di diary mereka, tentang susahnya melahirkan bayi kambing tanpa dibantu oleh bidan puskesmas (manusia), mungkin mereka akan menuliskan berpuluh-puluh atau mungkin berjuta-juta lembar kertas tentang penderitaannya hidup bersama dgn manusia. yah… memang inilah tabiat manusia –senang melihat penderitaan orang lain (haha.. kalo ini sih omongan saya ajah, jgn didenger)– jika kendaraan (menulis) manusia utk mewakilkan perwatakannya –karakter tulisan– dibarengi dgn hanya nalar (simpang siur) tanpa berusaha mewakilkan bahasa bathin yg ingin ditumpahkannya, saya pikir sah-sah saja, yg ribetnya kadangkala menulis itu sembari menyerumput puntung rokok dan abunya terkena kertas yg ia tulis, haha… kotor dech… idem!!! (just joking)
By sawali tuhusetya on Mar 22, 2008 | Reply
praktik memang guru yang terbaik dalam mengasah potensi menulis, pak ersis. meski demikian, praktik menulis perlu diimbangi dengan penciptaan atmosfer yang bisa membuat seseorang merasa nyaman dan nikmat menulis. praktik dan atmosfer penciptaan *halah sok tahu nih pak* ini sangat penting ketika seseorang benar-benar menjadikan dunia menulis sebagai bagian dari kebutuhan dan panggilan hidupnya. btw, bagaimana kabar pak ersis, sehat ya, pak? alhamdulillah!
By Iwan Awaludin on Mar 22, 2008 | Reply
Ah itukan teorema Pak. He he he, memang gampang bilang kalau praktik itu guru yang paling bagus. Tapi kenyataan di lapangan (punya saya) membuktikan bahwa praktik pun tidak selalu membawa peningkatan. Memang lemah saja kemampuannya, hahaha.
***Ya, hal-hal begitu yang kita lawan, kita latih. Bagaimana menurut Sampeyan?
By meiy on Mar 24, 2008 | Reply
wah senangnya komen saya direspon. baru online lagi nih. thanks pak, selalu bagi saya motivasi yg bapak berikan lewat blog ini sangat sangat berharga, walau saya masih belum pakar melipat waktu, masih ngos-ngosan antara anak, suami, kantor, guru-murid, rimba dan gajah hehe…
praktik memang penting, untuk bisa berkawan dg gajah terlatih misalnya bukan hal mudah, walau sepertinya mereka jinak–kenyataannya mereka tetap hewan liar yg hanya patuh pada mahout-nya (mahout kira-kira = ‘pawang’, walau teman2 saya tidak suka istilah ini sebab mereka tidak memakai magic).
saya sendiri belum bisa meng-handle gajah sendirian karena saya nggak bisa tinggal di camp minimal 6 bulan. semua harus dimulai dari awal, memberi makan, membuang kotorannya, memandikan, dsb,…dan dalam praktiknya kita bisa jatuh bangun, belajar dan belajar lagi. saat inipun para mahout masih belajar dan melatih gajah tiap hari…nah apa hubungannya dengan menulis?

Pak, kapan ketemu gajahe? see u in Medan ya!
By dadan on Mar 31, 2008 | Reply
Wah … jadi minder lihat koment-koment diatas..
Berat-berat semua…
Saya sendiri cuman hobi nulis di blog doang.
Bagi saya nulis di blog itu katalis jiwa, banyak yang bisa didapat disana
Namun ada satu titik dimana saya merasa gak ada kemajuan kalau cuman menulis saja…
Maka dari itu saya perlu banyak membaca, melihat, merenung, berpikir dan berdiskusi. terkadang saya perlu eksperimen, sekadar memuaskan dahaga penasaran..
Baru setelah itu bisa cukup ‘plong’ coret-coret bikin tulisan di blog.
Di titik ini blog seolah menjadi center kegiatan saya, walaupun tak banyak posting yang bisa dihasilkan hahahaha….
Berikutnya saya ‘makin tersesat’, masak nulis tok ? kapan actionnya ?
***Sampeyan dusta kog … kapan ngomong? Wong Sampeyan nulis kog, he he
Nah disinilah saya menyerah.. waktu, tenaga, dan pikiran sudah habis dimakan profesi…
Maklumlah saya belum bisa keluar dari lingkaran setan seorang pekerja… hahaha…
Wah sorry Pak… ngomong jadi ngelantur…