Kiat Cekak Menulis Buku
18 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SYAHARUDDIN: Pak saya ingin menulisbuku. beberapa tulisan saya telah dimuat surat kabar, dan kini mulai menulis blog. Bagiamana kiat menulis buku, Pak?
STEP BY STEP. Aku akan menulis buku Teori Evolusi. Seorang teman yang lain berujar, akan menulis Metode Sejarah. Sejarah hidupku sangat berwarna, sangat bagus. Aku akan menulis, kata seorang mantan pejabat. Seorang Doktor, entah bidang apa, ketika membahas buku saya, katanya akan menulis lebih yahud. Setelah membaca buku Menulis Sangat Mudah, saya akan menulis buku sensasional, kata seseorang bersemangat 45. Luar biasa.
Perhatikan. Ungkapan-ungkapan bersemangat para ‘Doktor Akan’ tersebut. Akan menulis anu, akan menulis buku anu. Akan. Sekali lagi akan. Sampai kiamat atau ajal menjemputnya, selama akan, mereka tidak akan pernah menulis buku apa pun. Lalu bagaimana caranya menulis buku?
Tulis saja. Mudah. Sangat mudah. Pagi-pagi seselesai sholat subuh, tulis sehalaman. Begitu setiap hari. Kalau menulis sehalaman sehari dalam setahun dapat 300 halaman. Kalau mau lebih cepat tambah waktu, menjelang tidur sehalaman. Dalam setengah tahun akan menjadi buku.
Tapi, saya ingatkan. Tertib menulis hanya untuk orang-orang yang tertib dan punya komitmen. Kalau beralasan, Raja Alasan, tidak bisa. Raja Alasan, tidak akan pernah menulis satu bukupun. Aku sibuk. Banyak pekerjaan. Komputerku ngadat. Waduh … gimana ya, anakku sakit. Maaf Mas, kemarin itu petinggi marah-marah lagi. Pusing. Menulisnya ditunda dulu.
Apalagi kalau culas, culasnya sudah terlatih (dalam menulis). Menulis surat cinta, minta tolong teman. Menulis lamaran kerja minta tolong paman. Apalagi, kalau skripsi, tesis, disertasi, bahkan orasi pengukuhan profesor dibuatkan asisten. Gawat. Dipastikan, tidak akan menghasilkan buku. Paling-paling karya bersama, numpang nama doang.
Dengan kata lain, menulis itu dari dalam diri. Apalagi, menulis buku. Celakanya, begitu ada ide menulis buku, membangun konstruksinya di otak, langsung mau menulis buku. O ho … mana tahan. Jangankan satu buku, satu bab saja bisa mandeg. Bahkan, dua-tiga halaman stop. Apa sebab?
Pikiran, tubuh kita, bukan mesin. Punya keterbatasan. Ditambah pula, menulis remeh-temeh saja belum fasih, apalagi menulis buku. Ibarat belajar nyetir, langsung tancap gas. Bisa-bisa mobilnya hancur menabrak apa gitu, atau si belajar nyetir yang koit. Menulis bukanlah pekerjaan instan.
Menulis, apalagi menulis buku, dilandasi niat, komitemen kuat, latihan dengan disiplin tinggi. Orang yang tidak mengenal (kemampuan) dirinya tidak akan pernah menjadi penulis. Orang yang tidak mampu mendidik dirinya, tidak akan menjadi penulis. Menulis bukan angan-angan, menulis bekerja, dan hasilnya tulisan. Bukan impian, tetapi kenyataan.
Sebagai pemula, sekarang saya mensiasati dengan menulis di blog. Menulis sebisanya. Tidak muluk-muluk. Misalnya, ketika mampu menulis satu tulisan sehari, e … dalam sebulan terkumpul 30 tulisan. Kumpulkan, buat urutannya, daftar isi, kasih kata pengantar, jadi deh buku. E … kog ada penerbit yang mau menerbitkan, dan laku.
Kalau mengikuti petuah-petuah hebat ‘orang-orang hebat’, hampir mustahil membuat buku. Angan-angan menulis buku hebat-hebat, disingkirkan dulu. Kecerdasan saya belum cukup untuk hal sedemikian. Mana pula waktu kepakai untuk banyak hal, sementara latihan menulis dengan menulis terus bergulir. Jadi, menulis saja. Menulis apa saja.
Sebaiknya, buang dongeng impian menulis buku sekali jadi. Penggal dalam tahapan sesuai kemampuan dan keterbatasan (diri). Jangan jadi Raja Akan, Raja Alasan. Lakukan saja. Mulai hari ini. Sedikit demi sedikit, step by step.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 18 Maret 2008.









7 Responses to “Kiat Cekak Menulis Buku”
By musheni on Mar 18, 2008 | Reply
alhamdulillah.
sekarang aku sudah bisa belajar.
sekarang aku akan banyak membaca
sekarang aku akan banyak menulis
sekarang aku akan menjadi seorang pembalajaran sejati
terimah kasih.
By mathematicse on Mar 18, 2008 | Reply
I am interested in one of the paragraphs below:
How do we know our selves’ ability? Could you suggest me to teach ourselves to be a writer? I will wait for your answer. Thanks..
By mhzen on Mar 18, 2008 | Reply
Betul Sekali Mas Ersis,
Jika kita hanya terjebak “akan menulis”, maka sampai kapanpun tidak bakal jadi kenyataan.
Ada tambahan dikit, ttg menulis sedikit demi sedikit, step by step, itu ibarat orang “makan bubur panas”. Sebaiknya yang dimakan yang dipinggir dulu, yang tipis-tipis dulu (karena dinginnya lebih cepat), barulah secara perlahan bubur yang di tengah piring juga akan dingin dan bisa dimakan.
Ok, Salam dari Kota Apel Malang
Muhammad Zen
By Toni on Mar 19, 2008 | Reply
Akur Pak Ersis. Dulu ada dosen Sastra Indonesia (saya lupa namanya) sangat produktif menulis. Saat ditanya resepnya cuma satu, nulis minimal 7 halaman setiap habish sholat shubuh. Eh buku yang dihasilkannya jadi seabreg. Salam.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 19, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum.wr.wb
Iya, sepakat pak Ersis. Step by step.
By german on Mar 20, 2008 | Reply
HOAHAHA… jadi ngantuk! enaknya tidur dan cepat bangun keesokan harinya –utk menulis– iya ngga?! kata instan lebih tepatnya kalo saya beranggapan adalah sinonim dgn kata MALAS! ya, malas yg menjadi persoalan. entah karena hanya ingin curriculum vitae-nya terlihat keren dgn memampang tulisan “Karya Buku” sebagai bahan gengsi agar diterima sebagai karyawan disebuah perusahaan besar dan naik pangkat menjadi General Manager, lagaknya seperti orang yg sudah menulis berpuluh-puluh buku! moge keren tampang beken muka lu cemen!
padahal lembaran-lembaran kisah yg kita jalani didalam kehidupan ini akan dicatat kemudian dan dijadikan kitab setebal usia manusia, lantas kitab tersebut tersimpan di lauhul mahfudz. seandainya, astronot bumi yg memiliki teknologi tercanggih tahun 3000 M dapat menembus langit ketujuh kemudian mengambil kitab manusia yg setebal lebih dari jutaan trilyunan kilometer itu dan dibawa ke bumi, niscaya banyak orang-orang di dunia ada yg kegirangan lantas melupakan sholat lima waktunya karena sudah yakin akan masuk syurga, kemudian ada orang yg sedihnya stengah mati –hingga ingin bunuh diri– lantas mencaci maki Tuhan sang pembuat kitab karena tau dirinya akan diseret dan dijembab ke dalam liang neraka. entah, akan ada berapa banyak lagi tulisan-tulisan didalamnya (kitab Lauhul Mahfudz) akan menjadi obralan murah yg hanya dinikmati oleh orang-orang kaya saja, lantas orang miskin bagaimana?
intinya, ukirlah dirimu dilembaran kertas, niscaya hidupmu akan bermakna –bermakna embahmu!!! hahaha…
By syaharuddin on Mar 22, 2008 | Reply
trims idenya. Saya sudah berniat membukukan beberapa puluh tulisan saya. intinya step by step….maka jadilah bukunya.