Menulis, Ya Menulis Saja

17 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansdyah Abbas

ECHY: Perkenalkan, nama saya Echy, mak-emak yang ingin menulis. Saya membaca buku ini dan itu, belajar teori menulis, sampai kursus menulis. Akhirnya sampai pada kesimpulan: Menulisnya yang belum. Anehnya, setiap ada ide, selalu mencari alasan untuk menundanya. Banyak tulisan yang tidak terselesaikan. Bagaimana menurut Bapak?

DO IT. Membaca ‘keluhan’ Mak-emak Echy, inilah contoh korban kesekian ‘Teori Kuno’ menulis. Belajar aneka teori menulis lengkap dengan segala syarat dan aturannya. Ditambah berbilang kursus, lengkaplah sudah penderitaan dari kehendak menulis. Bisa dibuktikan, belajar teori menulis sampai mendapat predikat Doktor, kalau menulisnya tidak dilakukan,  tidak akan penah menghasilkan tulisan. Tidak akan pernah jadi penulis. Kalau jadi ahli teori, mungkin.
 
Saya punya cerita sedikit konyol. Sekitar awal Abad XXI terbetik di pikiran membuat kolam ikan. Saya suka memancing. Di Kalsel yang banyak rawa-rawanya ikan-ikan hidup riang gembira. Airnya tergantung air pasang (laut). E … mertua hendak menjual tanah untuk naik haji. Begini saja Bah, kata saya, tanahnya saya beli seongkos haji. Deal.
 
Mula-mula dianggap kurang waras oleh penduduk sekitar. Tanah sehektar itu dikerjakan 11 orang. Jadi 18 kolam. Lalu membeli bibit ikan patin, nila, dan bawal. Enam bulan besar, laku dijual. Panen. Para tetangga akhirnya bikin kolam. Asyiiiiiiiik.
 
Meningkat, memelihara ikan Mas. Banyak yang mati. Kalau ikan nila, patin, dan bawal, OK-OK saja. Lalu, memasang pipa air 200 batang kali dua. Air mengalir dari irigasi. Ikan-ikan senang. Baru belajar apa itu PH, tingkat keasaman, sistem pemijahan, dan sebagainya. Kini, kolam berproduksi normal. Musuh utamanya banjir, he he. Makanya saya bikin sedalam dua meter. Apa hubunganya dengan menulis?
 
Begini. Saya tidak perlu kuliah di Fakultas Perikanan. Apalagi, sampai meraih predikat Doktor perikanan segala macam. Tidak perlu kursus apalagi pencerahan tentang kolam ikan. Kini, kalau seluk-beluk pertambakkan, walaupun bukan ahli perikanan, jangan sombonglah. Saya praktik langsung.
 
Analoginya, kalau ahli perikanan tetapi tidak berkolam ikan, ya hanya terpatok pada teori. Kalau praktik bisa juga bingung lho, atau setidaknya perlu ‘penyesuaian’ dengan kondisi obyektif. Pernah, mahasiswa perikanan datang dengan segala teori, padahal minta bekerja, ya ditolak saja. Ini bukan jurusan teori, tetapi berbuat, bekerja, praktik.  
 
Begitu juga menulis. Bisa jadi belajar teori, kurus ini-itu, dan atau meminta petunjuk kesana-kemari. Kalau menulisnya tidak dilakukan, ya kapan akan ada bukti tertulis berupa tulisan. Kalau tidak dipraktikkan, kapan akan fasih menulis. Teori itu penting, tetapi lebih penting melakukan, menulis.
 
Dengan kata lain, kalau langsung praktik dengan pengetahuan seadanya kita akan terus belajar dan belajar. Dalam belajar itu membangun teori. Kalau belajar teori, ketika menulis ‘kerangka teori’ akan membelenggu. Menulis begini, ah salah secara teori. Menulis begiti, tidak cocok. Salah melulu.
 
Saya pernah ketawa terbahak-bahak ketika diskusi dengan seorang mahasiswa. Bagaimana ini Pak, saya ini belajar wrinting I, II, sampai III. Kalu menulis tobat, minta ampun. Iseng saya tanya: dosen yang mengajar menulis itu, menulis apa tidak? Tidak, katanya. Sebagai murid kamu tidak salah. Mencontoh guru itu baik, he he. Dia mesem-mesem saja.
 
Sekarang berpalinglah. Tinggalkan segala aturan yang dipelajari. Menulis harus ditempat yang nyaman, pada malam hari. Harus ada pendahauluan, pembahasan, dan kesimpulan. Harus begini-begitu. Pokoknya harus-harus. Lalu?
 
Menulis saja. Tulis apa yang hendak ditulis. Jangan berhenti sebelum selesai. Setelah menulis,  kalau mau, cocok-cocokan dengan teori atau aturan. Kalau mau memperbaiiki, silahkan. Jangan sampai, ketika menulis memikir teori. Kalau sharing darat dengan saya, jangankan buku tebal, kamus wajib jauh dari komputer. Kalau tulisan sudah jadi, baru koreksi. Kalau sudah selesai baru diperbaiki.
 
Jadi, alasan tidak akan pernah bergabung. Apa pun alasannya, menulis sampai selesai. Kalau alasan berhasil dienyahkan, tidak akan pernah ada tulisan yang tidak selesai. Sekali saja membiarkan alasan bergabung, berarti kita memberi tempat bagi alasan untuk berkembang. Akibatnya, alasan itu akan menjadi penguasa yang memandulkan aktivitas menulis. 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 17 Maret 2008.

  1. 11 Responses to “Menulis, Ya Menulis Saja”

  2. By noorlatifah on Mar 17, 2008 | Reply

    keinginan menulis itu ada, namun itu tadi ada-ada saja belenggu sehingga inginan tadi jadi kandas. Mungkin perlu dimotivasi terus kali ya? Rasanya motivasi yang jitu adalah ada orang lain yang mau dan selalu memberikan komentar-komentar terhadap tulisan yang telah ditulisnya.Jika kita menulis tapi gak ada yang baca dan gak yang memberikan komentar akhirnya jadi gak bersemangat lagi.Contohnya kaya Pak Ersis banyak yang mengomentari jadi senangkan Pak?

    ***KUnjungi blog teman-teman, komentari juga, jangan menunggu, aktif, jemput bola. Coba, kunjungi 100 blog teman-teman, Insyah akan dikunjung baik. Kalau pasrah, menunggu saja … ya begitulah. Esensinya nanti ditulis, Insya Allah.

  3. By uwiuw on Mar 17, 2008 | Reply

    iya bang…menulis itu banyak godaannya…sering pengalih datang dari luar membuyarkan ide…entah ada cucian yg belum beres…atau kedengaran kucing lagi kawin…kalau udah begini khan bete :-(

    ***He he … dibalik saja, menulis saja, fokus. Mana berani godaan datang, godaan itu kan karena ada peluang? Tutup rapat. Saya pernah eksprimen mendatangkan godaan, kalah tuh si godaaan, tetap saja menulis he he

  4. By Zul ... on Mar 17, 2008 | Reply

    Menulis bisa saja tanpa aturan jika aturan itu menjadi penghalang untuk memulai apalagi lancar menulis. Namun, aturan tetap diperlukan manakala kita ingin tulisan kita bisa dibaca dan dipahami oleh si pembaca. Paling tidak aturan tentang koherensi kalimat dan koherensi paragraf. Sebagai pemula, bisa saja sementara mengabaikan aturan itu. Kelak, jika sudah merasa perlu orang lain untuk menikmati tulisan kita, maka mulailah belajar bagaimana membuat kalimat atau paragraf yang padu. Banyak orang yang sekolahnya tinggi-tinggi, bahkan sudah S2 kemampuan membuat kalimat dan paragrafnya, sangat rendah. Aku ga tahu mengapa di jenjang pendidikan yang sudah tinggi itu masih belum mempunyai kemampuan seperti itu. Lalu bagaimana sampai mampu menulis skripsi dan tesis dan berhasil mencapai nilai cumlaude? Seorang teman berbisik: mungkin skripsi dan tesisnya dulu diupahkan kepada jasa penyusunan karya ilmiah! Ooo …

    Tabik!

    ***Sangat pas, Kawan. Itu yang saya kampanyekan, saya bukan anti teori, tapi pemegang teguh … melakukan. Menulis ada tingkatannya toh? Yah, kita bahas lain kali. Bisa terpaksa, bisa diupahkan he he

  5. By Emiko on Mar 18, 2008 | Reply

    Salam Pak Ewa, maaf baru menulis sekarang, padahal bapak sudah bertandang ke blog saya di http://13tahun.blogspot.com tepat sebulan yang lalu. Selama sebulan saya mempersiapkan website baru yang bisa menampung semua tulisan saya selama ini yang berserakan. Kalau Bapak ada waktu silakan berkunjung ke rumah maya saya yang baru, dan ditunggu kesannya.

    Menanggapi tulisan Bapak yang ini, saya amat sangat setuju sekali dengan pendapat Bapak. Menulis, ya menulis saja. Kita toh menulis dalam bahasa kita, bahasa Indonesia, yang tentu saja sudah kita pelajari dari lahir atau paling tidak dari SD. Menulis itu merupakan ekspresi jiwa yang terekam dalam paduan huruf dan kata yang menjadi kalimat. Selama kita bisa bercakap-cakap dengan orang lain pasti kita bisa mengekspresikan isi percakapan itu dalam bentuk tulisan. Tapi memang benar menulis (mengarang) tidak dibiasakan dalam pendidikan kita. Sehingga kita akan canggung dan merasa TIDAK BISA.

    Saya sendiri baru BELAJAR menulis 4 tahun lalu yaitu dengan membuka blog, dan membiasakan menulis apa saja. Di situ saya tahu kekurangan saya dalam menulis. Penyingkatan, tanda baca, terlalu kaku dsb. Menulis memang perlu stimulus, yang mungkin bagi saya waktu itu “Kenapa dia bisa punya blog. Saya sangat suka membaca tulisan dia, padahal isinya hanya keluhan terus. Kalau saya menuliskan kehidupan saya di sini pasti akan lebih menarik.” Lalu saya mulai menulis. Untuk saya umpannya adalah “rasa iri hati” itu. Kadang saya menyesal kenapa saya baru mulai 4 tahun yang lalu, kenapa tidak dari dulu-dulu. Kalau saya bisa menuangkan perasaan saya seperti kalau saya menulis sekarang, mungkin skripsi atau thesis saya akan lebih menarik, dan lebih singkat waktu yang diperlukan dalam penyusunan.

    Hanya saja saya sarankan …pleaseeeee deh jangan tulis blog dengan kode kode sms. Jika kode sms seperti itu sudah begitu merasuk dalam kehidupan, sampai-sampai menulis di blog pun seperti itu, saya bisa bayangkan betapa kasihan hidupnya karena begitu dikejar-kejar waktu dan uang dan pasti orang itu lebih sibuk daripada bisnisman Jepang.

    Jadi… cari umpan yang bisa menstimulus kemauan untuk mulai menulis. Dan seperti Zul katakan, aturan belakangan setelah kita menikmati enaknya menulis. Mulai dengan topik yang ringan dan singkat. Lama-lama Anda tidak sadar sudah menulis 10 halaman (seperti saya tahu-tahu sudah kepanjangan nih). Soal dibaca orang, atau dikomentari orang saya rasa tidak penting. Bener tidak pak Ewa…..

    ***Setuju esensinya. Ya, mari dibalik … menulis itu justru susah mengehentikannya. Jadi, siapa bilang susah memulai menulis?

  6. By meiy on Mar 18, 2008 | Reply

    Praktek adalah pelajaran sebenarnya ya pak. waktu menemui kesulitan kita pasti aksn belajar, mencari tahu cara untuk mengatasi kesulitan. itu lah guru yg sebenarnya

  7. By fay on Mar 18, 2008 | Reply

    yak. menulis!menulis! menulis!
    tapi kalo ngga baca, sama aja boong.
    ibarat terasi, itu terasi bukan dari udang, tapi dari tanah.
    yang sepakat, monggo. yang ngga sepakat, klik yang ini satu kali. http://fayray.wordpress.com/ klik!

  8. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 19, 2008 | Reply

    Assalamu’alaikum.

    Betul juga sih, belajar apapun dari pengalaman atau langsung terjun ke kancah ‘perjuanagan’ juga sangat memungkinkan untuk sukses. Menurut saya dengan salah satu kunci : belajar dan belajar tanpa kenal lelah.

  9. By echy on Mar 20, 2008 | Reply

    Pak Ersis, terima kasih atas tanggapannya.

    -echy-

  10. By german on Mar 20, 2008 | Reply

    piye iki, tidak ada yg pernah memperkirakan waktu ke depan nasib kita seperti apa, lantas mengapa tembok penghalang utk menulis saja tdk pernah dienyahkan? yg walaupun menulis itu pekerjaan rumit –harus menggunakan pensil/pen dgn selembar kertas atau media yg lain– dan pekerjaan rumit biasanya memerlukan waktu yg sangat lama bahkan waktu yg lama itu pun masih dibarengi dgn otak yg berpikir lama sampai dgn keadaan dimana lalat yg mendarat di hidung saja tdk disadari. walaupun pekerjaan rumit, menulis pada prinsipnya hanyalah tekor waktu serta tekor tenaga –disamping tekor pensil/pen atau media yg lainnya–, bahkan ketekoran itu pun beradaptasi terhadap daya khayal yg biasa-biasa saja. tentunya tidak pernah terbetik satu kata pun di otak kepala yg mengharuskan tangan dan jari jemari utk memulai menulis! walhasil, pada intinya menulis adalah menorehkan ukiran-ukiran unik di selembar kertas, yg selembar kertas itu pun masih menimbulkan bias-bias yg seringkali orang yg menulisnya pun bingung tulisan atau gambar apa gerangan yg dibuat, inilah pentingnya menulis! menulis ya menulis, tanpa diembeli-embeli dgn mengayuh pedal sepeda, atau sembari tidur memejamkan mata! haha kalo ini sih namanya lagi tidur..
    iya ngga pak?!

  11. By rahma on Mar 21, 2008 | Reply

    Terima kasih sharingnya pak, saya jarang menulis karna itu aku merasa tulisanku kok kaku trs yah, tapi setelah baca tulisan bapak keknya memang saya harus latihan terus nih…

  12. By Indra EHM on Sep 19, 2008 | Reply

    Sip pak, baru saja saya mau cari-cari bagaimana caranya memulai menulis untuk Tugas Akhir.

    Eeh, ketemu tulusan bapak. Terimasih pak, saya jadi termotivasi.. Hehehe..

Post a Comment