Menulis Lanjutan Membaca
16 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ISNUANSA: Untuk bisa menulis, modal utamanya banyak membaca. Dari pengetahuan yang kita punya, kita akan lebih gampang “menerjemahkannya” dalam tulisan. Begitukan Pak?
HEBAT. Suatu kali, sebagai puncak kekaguman terhadap Hamka, mencuat tanya motivasional: Kenapa tidak mengikuti jejak Buya menulis? Saya dua kali bertemu Buya. Pertama di mesjid Nurul Iman Padang, dan kedua, di rumah kelahiran Beliau di Maninjau saat KKN. Sangat bekesan. Sholat diimami Hamka. Selebihnya bersua dalam tulisan. Saya pegangum berat Buya. Akhirnya menyeruak dari benak jawaban dalam bungkusan tanya: Ya, kenapa tidak?
Saya, sungguh bangga punya bapak, Ibnu Abbas. Tidak sarjana, apalagi profesor. Di kaki gunung Kerinci, Muaralabuh, Solok Selatan, Sumatera Barat, dan berprofesi sebagai Tukang Bangunan, namun memiliki buku-buku cukup banyak. Dari koleksi buku beliau sedari kecil saya membaca karya Karl May, Al-Gazali, sampai Hamka.
Ya, saya ingin menulis. Bahasa impiannya, menjadi penulis. Celakanya, menurut istilah anak muda sekarang, kurang pede alias tidak percaya diri. Akhirnya dahaga dipuaskan dengan membaca, membaca, dan membaca. Kalau untuk yang satu ini, tidak mengalami kesulitan yang ganas.
Bapak selalu murah hati memberi uang tambahan kalau yang dipakai bahasa: buat beli buku. Saya juga punya Iciak (tante), mamak (paman), yang tidak banyak cincong kalau minta uang untuk beli buku. Ditambah pula ketika kuliah sejak awal mendapat beasiswa, ya untuk beli buku. Sejak sekolah di Padang sudah setia membeli Kompas dan Tempo.
Dalam diri tidak pernah mendaulat bahwa saya penulis. Kalau banyak menulis apa saja, iya. Menjadi penulis tetap menjadi impian, yang entah kapan tercapai. Karena itu masih mencambuk diri untuk membaca, membaca, dan membaca apa saja. Orang yang kekurangan biasanya bersemangat.
Hebatnya pula, hal tersebut dimudahkan Allah. Kalau membeli buku di TB Gramedia Veteran dan Duta Mall Banjarmasin, misalnya, diberi diskon 10%. Teman-teman juga banyak yang memberi hadiah. Kalau dihitung-hitung, pengeluaran pribadi cukup banyak untuk keperluan seputar penyediaan sarana untuk menulis. Kenapa hal beginian ditulis?
Ya, bukan untuk beriya-riya. Di darat, begitu juga di dunia maya, terlalu banyak yang bertanya tentang bagaimana agar lancar menulis. Contoh terbaru. Sabtu, 15 Maret 2008, saya membawa isteri dan beberapa wartawan ke rumah Rosehan NB. Teman yang satu ini, sekalipun masih muda, menjabat Wakil Gubernur Kalimantan Selatan.
Bukan bersua Rosehan itu yang ingin saya tulis, tetapi ‘permintaan’ isterinya. Wanita cantik itu mengatakan ketika saya mohon diri mau pacaran dengan isteri, ini malam Minggu, bo. Apa katanya?
Saya ingin berbincang-bincang agak lama. Ingin belajar menulis. Ingin menulis seperti Pak Ersis. Ya, hal seperti itu sudah sangat sering didapat. Di ruang kuliah, seminar, diskusi, atau apa. Karena itu, paparan tulisan ini diujukan buat mereka semua. Intinya, kalau ingin menulis, apalagi jadi penulis, ‘pegang’ niat tersebut. Kedua, ‘benahi’ rumah pengetahuan di otak dengan membaca.
Kalau dinapaktilasi aktivitas kehidupan, banyak sedikit mendukung ke arah bagaimana memuaskan dahaga baca. Diandaikan Goenawan Mohammad misalnya, kemembacaan saya, ibarat sebutir pasir pada hamparan pantai. Belum ada apa-apanya. Pesan yang diapungkan, membaca itu perlu perjuangan.
Ketika S2 di Bandung membuka usaha photo copy, ERAS FC bersama seorang teman. Tujuan saya, agar mudah mendapatkan buku. Dosen-dosen di IKIP Bandung banyak membawa buku-buku baru dari luar negeri. Buku-buku itu digandakan (terakhir baru sadar, gimana kalau dipenjarakan, … tobat). Angkatan pertama S2 di IKIP Bandung yang kini sudah pada Doktor bahkan banyak yang Profesor, pernahlah ‘menikmati’ buku murah kopian kami. Mereka tersebar di seanatero Tanah Air.
Sengaja saya paparkan, karena membaca itu begitu menggoda, kita perlu mengusahakan bacaan. Perpustakaan memang banyak menolong, tetapi kan tidak selalu memuaskan. Kita, sebaiknya punya buku, tetapi itu bukan perkara mudah. Apalagi, kalau tidak berkelebihan finansial seperti saya.
Dengan kata lain diusahakan. Bukan mengeluh. Pustaka tidak punya buku memadai, pemerintah kurang perhatian, dan bla-bla. Usaha dan usaha dong. Begitulah negara kita. Masyak mengeluh terus.
Ya, membaca bagi saya adalah belajar sesungguhnya. Celakanya belum juga menjadi pintar. Dalam pada itu, kehendak menulis seolah-olah hendak menjebol tengkorak otak, keinginan menghentak jiwa. Begitu menatap diri, menemukannya masih sangat hijau. Belum pantas.
Dus, dalam perlawanan atas ketidakmampuan diri itulah semakin menggiatkan membaca, sekaligus melatih diri menulis. Ya, Ersis yang belajar. Lalu, kenapa memotivasi?
Setelah dipikir-pikir, bisa jadi banyak orang mengalami nasib yang sama. Saya berkeinginan, anak-anak muda janganlah mengalami kesulitan seperti saya. Sedari belia, mulailah menulis, awali dengan banyak membaca. Baca apa yang bisa dibaca, tulis apa yang bisa (dan pantas) ditulis.
Kepada teman-teman muda yang sharing menulis di darat, saya katakan: Kalau mampu membeli deodoran, kenapa buku tidak? Kalau tidur 6 jam sehari, potong 2 jam, gunakan untuk membaca. Daripada ngerumpi di pojok kampus doang, separoh waktu ngerumpi gunakan untuk membaca dan menulis, walau sehalaman buku atau tiga baris tulisan. Ngerumpinya terus, bonusnya membaca dan menulis. Membaca dan menulis bisa kog digandengkan dengan kegiatan apa saja.
Dari situlah muncul ide, membaca dan menulis jangan diersulit, tetapi mudahkan saja. Kini, hampir sepuluh buku tentang menulis telah ditulis. Tiga diantaranya telah dicetak, dan beredar secara nasional. Alhamdulillah, lumayan laku. Lalu apa?
Pada gilirannya, membaca dan menulis itu ibarat two side in one coin. Membaca dan menulis adalah urusan masing-masing. Pada tingkat lebih tinggi, membaca dan menulis tidak memerlukan guru, sebab gurunya adalah diri kita sendiri. Itulah gagasan dasar Ersis Writing Theory.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Maret 2008.













3 Responses to “Menulis Lanjutan Membaca”
By hanna on Mar 16, 2008 | Reply
Kata orang pintar, manusia pintar selalu mengaku dirinya belum pintar. Dan manusia bodoh baru membaca sebuah buku saja sudah merasa hebat, hehe. Saya lupa baca di buku yang mana satu tentang ini. Payah saya ini, sedikit pelupa.
Membaca itu menyenangkan, kok. Menambah ilmu, kadang2 menyentil kita ingin segera menulis juga.
***Ya, Membaca yang menyenangkan dan menyenangkan membaca.
By jalian on Mar 17, 2008 | Reply
menarik…….cerita kehidupan bapak, bisa di bikin film tuh pak. film yang bertemakan motivasi untuk membaca dan menulis.
***Ngledek nich ye, he he … Trim atas atensinya.
By Riduan Saidi on Mar 28, 2008 | Reply
Ass. Ewa
Dari dulu, saya selalu ingin menulis cerita. Tetapi tidak pernah selesai, karena selalu kehabisan kata. Kalau pun selesai ceritanya tidak nyambung.
***Ya ntar dibahas, nic lagi diredam sebagai instrktur Diklat … seminggu full.