Sabar Menikmati Sabar

13 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

JALAN BARU. Hari ini seharian melakukan aktivitas dengan seorang teman. Sebenarnya bukan hal luar biasa. Tetapi, kali ini terasa lain. Pukul 10 Witeng dia menjemput saya, dan langsung menemui petinggi fakultas sebuah perguruan tinggi.  Tujuan kami mencari jalan keluar paling pas buat anak seorang teman yang bisa jadi akan tertimpa musibah.
 
Anak teman kami memasuki fakultas dimana selama tiga semester mendapatkan IPK di bibir drop out; (DO). Kawan yang satu ini sedang gundah-gelana. Dia baru pindah dari satu instansi terkarena pimpinannya berhenti. Dia, sangat fanatik dengan bosnya. Walaupun karirnya cemerlang, dia mengambil jalan baru.
 
Teman saya yang bosnya itu, lebih gundah lagi. Berhenti dari pekerjaan karena satu dan lain hal. Saya, minggu lalu kehilangan dompet, dan … karena banjir melanda Kalimantan Selatan, bibir kolam setinggi dua meter mulai dicium air. Untung saja, sudah sejak jauh hari bersia-siap. Kalau hujan turun selama tiga hari, bisa-bisa separoh ikan akan gembira ria ke danau bebas. Hitungannya aman saja. Namun, cemas manusiawi kan?
 
Tapi, ya itu. Segala agenda dibatalkan. Hasilnya, hanya ada dua jalan; pindah atau belajar sungguh-sungguh; kalau perlu pakai bimbingan belajar segala rupa. Untuk yang terakhir saya kurang yakin. Sebab, Si Anak Kesayangan baru saja nikah.
 
Alhasil, sehabis diskusi dengan petinggi fakultas, kami meluncur ke rumah Si Teman. Percakapan dimulai basa-basi seperti biasanya. Nampaknya, dia happy-happy saja tu. Saya menyantap rona kesabaran dari wajahnya, begitu juga isterinya.
 
Untuk ukuran saya, dia sangat berada. Begitulah. Setelah permasalahan dibicarakan tibalah saatnya diskusi tentang bagaimana baiknya. Anjuran saya: sebaiknya  pindah kuliah atau mendaftar lagi sebagai mahasiswa baru. Cari jalan baru, lupakan yang lalu. Menurut hitungan, kalau dipaksakan dia akan kelelahan belajar, mana harus melayani suami. Soalnya starnya jelek. Saya menangkap timpaan palu di wajah isterinya.
 
Akhirnya disepakati, malam ini keputusan diserahkan kepada si anak dengan suaminya. Pokoknya saya tekankan, kuliah itu tidak salah. Jadi, jangan sampai berhenti dalam arti tidak kuliah. Tahulah kemampuan anaknya.
 
Yang saya resapi bukan pada inti soalnya, tapi bagaimana orang-orang hebat ini secara rasional memahami kondisi obyektif, menjadikan emosinya cerdas. Saya memahami sebagai aplikasi sabar. Sabar bukan dalam artian pasrah, tetapi memahami kenyataan dengan semangat mengatasi masalah. Bukan menyerah.
 
Jujur, saya tidak bisa menulis suasananya. Ada yang menyentak-nyentak di ulu hati. Namanya saja teman. Dan, kami meneruskan perjalanan ke kedai laptop punya seorang teman. Di mobil, jarak Banjarbaru-Banjarmasin 35 km, teman saya curhat habis. Sungguh luar biasa, kog ya begitu sabarnya. Salut. Lebih salut, ketika mendengar dari mulutnya agenda ke depan. Berjuang.
 
Kembali ke Banjarbaru, kami mulai bercanda. Tiba-tiba merasa lapar. Waktu menunjuk pukul 16.00 Witeng. Kami mampir ke terminal kargo bandara Syamsuddin Noor mengambil kiriman buku dari penerbit Mata Khatulistiwa lalu mampir ke RM Parahyangan. Suasana nyaman restoran membuat kami bakisah banyak hal yang muaranya gambaran kesabaran teman. Sabar untuk menempuh jalan baru kehidupan.
 
Menjelang magrib kami berpisah. Pelajaran sabar dipetik; kesabaran teman menghadapi berbagai persoalan yang disikapi dengan sabar. Tidak putus asa, melainkan dijadikan landasan untuk meraih yang lebih baik.
 
Setelah isya, Jaya Setiawan seorang pengembang yang mengembangkan Hunian Islami di Banjarbaru dibeking Ustad Yusuf Mansur me-SMS. Saya pikir menayakan dua buku Yusuf Mansur yang belum sempat diterimakasihi. Saya belum tahu, apakah hadiah Yusuf Mansur atau Jaya, e … dia menggoda: “Pian isuk ke kediaman —(pokoknya orang hebat Kalsel)— lah”.
 
Waduh, rupanya dia dapat ‘bocoran’.  Ah, sudahlah. Yang penting mendapatkan pelajaran berharga. Dibalas: Besok pagi ke LPMP Kalsel, lalu menguji proposal mahasiswa di Unlam, siang ke BPD Kalsel, dan sore ke kediaman, dan kami sepakat bersua. 
 
Kehidupan kudu dijalani dengan sabar. Besok  harus siap-siap sabar menghadapi agenda. Dan, malam  menyelesaikan buku Ikhlas dan Sabar. Untung Pak Bambang bergabung hingga di mobil bisa menulis. Sabar. Ya Allah, limpahkanlah kesabaran di hati hambaMu ini. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 13 Maret 2008.

  1. 14 Responses to “Sabar Menikmati Sabar”

  2. By Toni on Mar 13, 2008 | Reply

    Ilmu baru saya dapatkan dari posting ini, sesuatu hal yang kadang take it for granted. Sabar.

  3. By meiy on Mar 13, 2008 | Reply

    sabar mesti dipelajari setiap detik kali ya pak. sabar untuk perbaikan :)

    ***Bukan. Dipraktikkan.

  4. By Mardies on Mar 13, 2008 | Reply

    Wah, sabar itu ujian terberat buat saya Pak. Mudah diucapkan, sulit dilaksanakan.

    Katanya orang yang lolos ujian kesabaran itu pasti saleh, ya?

    ***Mudahan saja, Amin.

  5. By Mega on Mar 13, 2008 | Reply

    Emang..!..Hidup harus punya kesabaran..kalau aku tidak punya kesabaran selama Hidup diJepang..mungkin dr tahun2 kemaren dah gulung kasur mudik kekampung…

    ***Aku sabaran di Indonesia aja. Maunya sih ke Jepang juga he he

  6. By noorlatifah on Mar 13, 2008 | Reply

    Orang bisa dibilang sabar bila sudah diuji Allah dan dia mampu mengendalikan dirinya, menerima segala ujian dengan lapang dada. Nah itu ga mudah loh. Tapi setidaknya kita berusaha sabar walaupun sedikit demi sedikit dari pada tidak sama sekali.

    ***Ya mudah ngak mudah, harus sabar, sebab kita punya keterbatasan. Ya kan?

  7. By hanggadamai on Mar 13, 2008 | Reply

    innAllaha ma`as shabirin

    ***Yop

  8. By Zul ... on Mar 14, 2008 | Reply

    Sabar itu buah yang subur.
    Menanam kesabaran akan memetik banyak kesuburan.
    Sukses, Bang!
    Hari-hari yang dijalani seakan tak habis-habisnya, tapi juga semakin sedikit waktu lagi yang bisa dijalani. Usia terbatasn dan Allah membatasi.

    Tabik!

    ***Ya ya sabar ai, yang penting berbuat to. Sabar dalam berkarya.

  9. By dhodotes on Mar 14, 2008 | Reply

    sabar itu bikin subur. oki, suburkan sabar yok!

    ***Yoi.

  10. By Yari NK on Mar 14, 2008 | Reply

    Yah, sebenarnya nggak sabar itu adalah sifat manusiawi, tetapi jikalau orang sangat sabar wah itu pasti lebih hebat dari sifat manusiawi biasa, begitu bukan Pak Ersis?? Hehehe… :D

    ***Bisa jadi. Tapi, karena sabar itu menjadi manusia sesungguh he he.

  11. By Humai on Mar 14, 2008 | Reply

    Sabar dari sudut pandang saya sih…suatu sikap sadar dari pikiran dan hati dalam menyikapi masalah hidup baik itu yang menyenangkan maupun yang sedih…dengan kata lain suatu laku dalam mengontrol diri.Manusia tanpa sikap kontrol akan seperti robot( memang ) atau juga bisa bersikap semaunya ( AKU, tapi lihat dulu kontrol yang dimaksud itu yang bagaimana

  12. By ogi fajar nuzuli on Mar 15, 2008 | Reply

    Sabar untuk tidak sabar…tidak sabar untuk bersabar… dan sabar untuk bersabar…. adalah tiga hal mendasar untuk bersabar di dalam hidup….

    ***Ya, sabar …

  13. By hanna on Mar 15, 2008 | Reply

    Maaf, Pak.
    Sekarang mau minta bantuannya untuk ikut partisispasi kalau tidak keberatan.

    http://atapsenja.wordpress.com/2008/03/15/lapar-menjemput-ajal-pedulikah-kita/

  14. By takutan cacak on Mar 15, 2008 | Reply

    memang kudu sabar dalam menjalani hidup. kan hidup tak selalu seperti apa yang kita bayangkan dan impikan? pertanyaannya sekarang bagaimana memanajemen sabar agar menjadikan kita orang yang sukses?

    ***Nah itu dia, saya belum sukses he he

  15. By german on Mar 15, 2008 | Reply

    ada yg mengatakan ’sabar itu ada batasnya’, sabar utk siapa –yg berbatas– kalo bagi manusia, itu jelas manusiawi, tapi bagi Tuhan… ah saya pikir sabar tak ada batasnya. coba bayangkan, jika sabar ada batasnya, apakah itu bisa dinamai dgn kesabaran? sabar ya, harus sabar.. tanpa diembel-embeli dgn batas!, sabar yg sejati adalah dgn berusaha sebaik mungkin utk memungkinkan sabar dgn ada hasilnya –ikhtiar–, seperti Aa Gym kan? bagaimana menurut sampeyan pak?!

    ***ha ha kalau pakai batas-batasan ngak sabar lagi dong. Ya, itu pembahasaan bagi manusia.

Post a Comment