Sabar: Simpati Buat Guru
12 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |GURU CURANG. Guru, apa pun perlakuan yang diberikan kepada kita, adalah pejasa kehidupan. Kita diajarkan mengenal huruf, mengeja angka, menyusun kata, merangkai kalimat, membangun pikiran, dan seterusnya. Sangat banyak hal-hal baik kita perdapat dari guru. Guru-guru kita tercinta.
Â
Sebaliknya, ada guru ‘durhaka’. Bengis, otoriter, tidak demokratis, sok benar, adalah sisi buruk (sebagian) guru. Seolah ‘menanamkan’ pada alam bawah sadar, dengan contoh perbuatannya, hal-hal buruk. Gara-gara guru tidak ‘pandai’ mengajar, ada yang jadi jago krepet. Curang itu sah. UN dibocorkan. Pendidikan curang, labelnya ditukar demi menolong murid. Dasar (guru) culas.
Â
Bisa jadi ada guru ‘hantu’ atau ‘iblis’ pendidikan. Tetapi, kalau punya pengalaman jelek dengan guru, jangan sekali-kali menyamaratakan. Lebih banyak, sangat banyak, guru yang memang guru dalam arti sesungguhnya. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana menjalankan kehidupan ini manakala tidak mendapat sentuhan guru. Terima kasih Bu Guru, Pak Guru. Jasa dan pahalamu tak akan pernah berakhir. Never and never again.
Â
Beberapa tahun belakangan, karena pekerjaan, persentuhan dengan guru semakin intens. Hampir tiap hari berkomunikasi. Lagi pula, sejatinya saya guru. Labelnya saja yang dibuat dengan pengkastaan, dosen. Padahal, guru juga. Simpulannya, guru adalah contoh manusia sabar. Tidak berlebihan ada yang mengatakan: Guru-guru Indonesia adalah guru paling sabar di dunia.
Â
Betapa tidak. Guru dituntut memberikan hal terbaik dari kemampuan demi pendidikan bangsa. Sementara, gajinya ditakar demikian kecil. Tidak usah dibanding dengan gaji guru negara lain. Membuat hati perih saja. Hal itu berlangsung sejak bangsa ini merdeka.
Â
Ajaibnya, guru yang populasinya 3 juta, sabar. Tidak menuntut ‘keras-keras’. Mana pula, dalam kebijakan pendidikan, hampir tidak dilibatkan. Misal, begitu saja ‘diwajibkan’ melaksanakan KBK. Belum mantap, datang perintah, wajib KTSP. Guru diciutkan sekadar pelaksana. Sabar adalah milik sejati guru paling berharga.
Â
Kalau ada yang mengatakan, sabar berkelebihan dan tidak berdasar beda tipis dengan kebodohan, itu soal lain. Kita pantas belajar dari kesabaran guru. Belajar sabar, belajarlah dari guru.
Â
Sejauh yang saya pahami, birokrat pendidikan, dari aparat pendidikan paling rendah sampai menteri, adalah ‘pelayan’ guru. Misal, sekolah perlu ruang kelas, alat peraga, WC, atau penggaris, ya disiapakan. Itu tugas Dinas Pendidikan. Kompetensi guru, naik pangkat, keterampilan tambahan, ya diprogramkan. Bukan guru yang menyembah-nyembah, apalagi sampai ‘membayar’. Maksudnya, agar guru fokus mendidik. Untuk itulah birokrasi pendidikan dibangun, demi melayani. Bukan terbalik menjadi ‘atasan’ menakutkan.
Â
Cermat-cermati. Dapat dipastikan, seluruh aparat pemerintahan, anggota DPRD-DPR, jaksa, pengusaha, bahkan bandit dan koruptor, apalagi orang-orang pintar yang ‘mengatur’ republik tercinta ini, adalah hasilan pendidikan (sabar) guru. E … begitu ‘menjadi orang’ berkoar-koar, pendidikan tidak beres, guru-guru tidak kompeten, kurang ini-itu.
Â
Tidak sadarkah, dengan segala keterbatasan selama ini, ‘menghasilkan’ Sampeyan-Sampeyan yang hebat-hebat. Jika, ketika berekedudukan memperjuangkan nasib guru, menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan, bukankah hasilan pendidikan akan lebih baik?
Â
Guru-guru ditikam mantan anak didiknya. Luar biasa. Bukannya nasibnya diperjuangkan, tetapi dihujat. Mana pula penunjang tugas profesionalnya terbaikan. Apakah begitu parah mental (sebagian) orang-orang hebat bangsa ini? Atau, guru perlu merenenung: Kenapa ya, hasilan didikan kog bak anak harimau? Entahlah.
Â
Satu hal yang tidak terbantahkan, guru adalah makhluk sabara dalam segala keterbatasannya. Ya, kalau belajar sabar, belajarlah dari guru.
Â
Oh ya, pengamatan saya berbuah. Guru yang bergaji rata antara Rp.1,2 sampai Rp.2-an setiap bulan dipotong cicilan rumah Rp.500 ribuan, kendaraan Rp.400 ribuan, utang koperasi sekolah Rp300 ribuan, dan hanya punya take home pay Rp250 sampai 500an. Dengan dana bersih segitu menghidupkan asap dapur, menyekolahkan anak, tampil wajar di masyarakat, dan mengerjakan seabreg tugas. Duh, guru-guru yang super sabar.
Â
Bagaimana menurut Sampeyan?
Â
Banjarbaru, 12 Maret 2008










15 Responses to “Sabar: Simpati Buat Guru”
By Mega on Mar 12, 2008 | Reply
pokokknya ngantrii doeloe…wakakakasssss….
By Mega on Mar 12, 2008 | Reply
hem..kalau aku menilai..tugas guru diIndo itu malah paling santai banget..kayak ratu dan raja kata aku mah..duduk santai aja trs main tunjuk sana sini hehee..di Jepang aku lihat guru2 pulangnya banyakan malam..karena sibuknya..
kalau guru TK anakku dulu..aku salut..mencakup jadi tukang sapu..tukang cuciin baju anak2 yg ketinggalan..tukang ngelap kaca2..tukang bersih WC..Tukang buang sampah..di Indonesia …pernah guru begitu..Ga kan..?..malah enak guru diIndoensia..dapat pensiun kalo dah hbs masa tugas..diJepang gurunya ga ada gaji pensiun dan..semua serba ada tukangnya..nanti deh kapan2 aku tulis tentang guru diJepang..***kalo Inget..
By jalian on Mar 12, 2008 | Reply
thanks pak guru, bapak sudah banyak memberi saya pengetahuan dan membuka alam pikiran saya yang duluya malas berpikir.
By hanggadamai on Mar 12, 2008 | Reply
tidak seharusnya guru menjadi pahlawan tanpa tanda jasa
guru sudah banyak berjasa dalam pembangunan negara.
***Itu kata guru dan ca;on guru, kata pemerintah? Bisa dilihat dari bukti penhargaan terhadap profesi guru.
By farhat tifani on Mar 12, 2008 | Reply
Bagaimanapun guru adalah tugas yang mulia tanpa melihat gaji ataupun imbalan. hal yang mulia di manapun Mereka berada tetap harum sepanjang masa. hidup guru ,hidup naik gajih hapuskan guru honor angkat harkat dan martabat guru.
***SEpakat, tugasnya. Gurunya? Tepatnya yang dilakukan apakah sudah semulia tugasnya?
By setyawan dharma on Mar 12, 2008 | Reply
guru memang selalu sabar…juga sabar saat kinerjanya dikritik sampeyan ok
***he he saya ngak gritik kali, menganalisis he he
By sluman slumun slamet on Mar 12, 2008 | Reply
semoga sertifikasi cepat kelar ya pak!
saya juga nunggu tuh!
***Bagusnya begitu, tapi kalau pakai rasio susah … 2,7 juta guru, butuh waktu, butuh dana … pemerintah kita kan susah kalau sesuatu sampai tuntas.
By gempur on Mar 12, 2008 | Reply
untung saya hanya guru gadungan… hehehehehe… saya bukan orang sabaran.. malah suka marahan.. temperamental.. reaksioner…
pengabdian guru berbnading lurus dengan penghasilan itu harus diwujudkan.. guru memang selayaknya mendapat apresiasi lebih.. jika sekarang banyak guru yang tak banyak melakukan tugas dengan baik dan lebih mementingkan mengejar materi, itu wajar, karena mereka butuh hidup layak, seandainya kebutuhan terpenuhi semua, maka wajib bagi para guru kembali ke khittahnya untuk medidik lebih baik lagi, mengabdi lebih baik lagi.
kenapa kompetensi guru rendah? itu bisa dijawab dengan mudah.. karena apresiasi terhadap profesi guru sangat rendah dalam takaran ekonomi. alhasil, sdm yang masuk dan berminat menjadi guru jelas SDM sisa-sisa dari mereka yang pandai2 yang lbh memilih kedokteran, teknik dan ekonomi.
Jika, perbaikan ekonomi guru selesai, saya berani jamin, kualitas SDM guru akan meningkat karena generasi muda akan banyak memilih menjadi guru ketimbang direktur, pialang saham, dokter atau teknokrat. Guru akan menjadi profesi yang memiliki gengsi tinggi dan pasti digemari.
Bila masa itu tiba, maka para guru jangan culas, curang, korup, malas, tunjuk sana tunjuk sini seperti kata mbak Mega di atas. Pengabdian wajib dioptimasi ditingkatkan, kemampuan diupgrade untuk adaptasi dengan kemajuan. Keihlasan dan ketulusan harus menjadi landasan utama. dan para anak didik hasil didikan guru tentu akan bangga telah dibesarkan oleh guru yang mulia dan berdedikasi. Tentunya, anak didik itu tak akan kurang ajar yang dengan congkak memaki dan mengata-ngatai gurunya terlebih memasung gurunya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang merugikan kelak jika ia menjadi pejabat atau pemimpin negeri ini.
salam untuk para guru.
maaf, pak ersis, ini bukan posting tandingan.
***Kog minta maaf, bagus malahan …
By haris zaky mubarak on Mar 12, 2008 | Reply
Guru-guru memang pantas untuk diberikan simpatinya, bahkan boleh dibilang orang yang pertama masuk surga (lepas dari semua stigma yang ada pada guru saat ini).
Dan mungkin, saya sendiri barangkali calon pada kategori tersebut. tapi yang sebenarnya pantas untuk diberikan simpati yang lebih (kedukacitaan yang mendalam) adalah aksi-aksi para gurunya guru yang mengajar didepan kelas sambil merokok dan mengangkat kakinya diatas kursi, karena semua itu merupakan gambaran dari dekadensi moral untuk seorang gurunya guru.
lantas, apakah kita akan tetap bersabar dengan semua ini….???
By noorlatifah on Mar 13, 2008 | Reply
Kalau kita mampu mengingat ketika kita pertama kali diantar orang tua kita masuk sekolah dasa, mungkin saat itu kita menangis ketakutan karena belum bisa apa-apa. Tapi ketika kita disambut oleh guru dengan penuh kasih sayang sehingga kita merasa nyaman, kemudian kita mulai dikenalkan huruf demi huruf, kata demi kata sampai menjadi kalimat-kalimat, terus ketika kita mau pipis atau b a b tanpa ada rasa jijik sang guru terus membantu dan melayani kita dengan penuh kesabaran, dan tentunya banyak lagi hal-hal yang tidah bisa sebutkan.
Nah pantaskah kita mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan hati guru kita tersebut. Kita tidak terus menjadi pintar, jadi orang yang berhasil seperti sekarang ini tanpa ada guru.
Mari kita renungkan betapa berat tugas seorang guru. Orang boleh mengatakan jadi guru enak, bisa santai dan sebagainya. Tapi coba banyangin mendidik satu anak sendiri saja kita sangat berat, apa lagi mendidik puluhan anak yang punya latarbelakang yang berbeda. Banyangkan!!!!!! Sabar sabar saabar itulah modal guru.
***Ya Bu Guru, sabar … sabar itu berpahala. Yakini dengan berbuat. Selamat sabar.
By Yusmadani on Mar 13, 2008 | Reply
Bagus banget pa pemikirannya,salut buat anda.Memang sekarang ini guru di Indonesia adalah orang paling sabar,dengan gaji sedikit tapi harus mendidik siswa yang kebanyakan terkena degredasi moral.Sikap siswa yang meremehkan seorang guru bahkan menghina.Tapi guru dituntut sabar bahkan apabila seorang guru marah yang dianggap salah adalah guru,padahal siswa yang membuat guru marah. Memang guru sekarang bagaikan lilin yang menerangi orang lain tp dia sendiri rela luluh hancur.Tapi ingat guru bukanlah dewa yang bisa selalu bijak sana,,,guru juga manusia,,,
***Mari berjuang.
By sawali on Mar 13, 2008 | Reply
bisa jadi saya termasuk guru yang tidak sabar, pak, hehehehe
ketika ada guru yang berniat tulus utk mengungkap borok ttg pelaksanaan UN, niat mereka justru dikebiri, nurani saya tidak sabar untuk ikut “memberontak”.
***Bisa saja. Memberontak dengan sabar.
By dhodotes on Mar 14, 2008 | Reply
di Advayataraka Upanishad mengatakan (kata mb wiki), kata guru diuraikan demikian :
-suku kata gu artinya bayang-bayang (kegelapan)
-suku kata ru artinya seseorang yang mampu mengoyak kegelapan (tadi)
karena kekuatan seseorang yang mampu mengoyak kegelapan menjadi dunia terang itulah istilah guru digunakan, berlaku bagi siapa saja yang mampu melaksanakan itu dan tentunya kesabaran menjadi garda depan, berdampingan dengan pengetahuan, bagi orang2 berkekuatan tersebut.
kalo sebuah profesi sudah meminjam istilah tersebut, hendaknya diresapi, dijiwai, dan dilaksanakan hakikat guru tadi. ya kekuatannya, ya sabarnya, sehingga apa yang disebut dunia gelap dapat menjadi terang kemudian, baik bagi pribadi maupun kelompok terbesar sekalipun.
By nurul huda on Mar 14, 2008 | Reply
guru yang sabar pasti disayang Tuhan!
meskipun gaji sudah dipotong sana sini, bahkan ada yang minus lho…tapi anehnya si guru masih bisa hidup!
nah…saat ini jutaan guru juga lagi sabar…nunggu antrian ikut sertifikasi..yach..biar nambah sejahtera katanya (bagi guru yang sekarang sudah sejahtera) he..he..
By taufik on Mar 14, 2008 | Reply
salut untuk pa Ersis, hidup guru…