Sabar Menulis
12 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
NULIS. Dalam menulis setidaknya kita menaiki beberapa tangga, yang harus dilalui dengan sabar. Tidak ada orang yang begitu lahir langsung piawai menulis. Sangat jarang orang yang berkehendak menulis, tulisannya langsung bagus. Tidak semua yang kita ditulis diamini orang lain atau dipuji. Cobaan datang bertubi-tubi.
Karena itu, sesuai proses kehidupan selama itu pula kita belajar, ya membaca, meraup pengetahuan dan ilmu, mengamati, ‘mengisi’ kepala, dan atau berkomunikasi sesama manusia. Jangan lupa memahami tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar pada ciptaannya. Kalau semua hal tersebut dirasa belum mencukupi, ya terus ditimbun di rumah otak.
Dengan kata lain kita menapak langkah ‘persiapan’, dan atau, siap menulis. Setelah hal-hal pokok menjadi entry behaviore tinggal ‘mencari’ pemicu. Kalau pemicu sudah didapat biasanya menulis menjadi mungkin. Tapi, kalau belum terbiasa kesulitan akan menghadang. Mengatasinya ya dengan menulis. Menulis adalah latihan menulis itu sendiri. Diperlukan kesabaran dalam latihan.
Pada menulis awal tentu saja berbagai kendala bergabung. Namanya saja memulai. Nah, lawan diri dengan sungguh-sungguh, sabar. Kalau dirasa belum baik, ya perbaiki. Enyahkan malas, buang kemalasan, campakkan alasan dan alasan. Kalau kurang paham kosakata, cek di kamus. Pengetahuan kurang memadai, baca buku, bolak-balik ensiklopedi. Kurang ‘manis’ gaya bahasa, baca tulisan para penulis. Tancapkan kesabaran.
Begitu juga setelah menjadi tulisan, jangan paksa orang paham dan atau menyenangi apa yang kita tulis. Dunia ini lebar, beragam pandangan orang, dan isi kepala tiap-tiap orang berbeda. Artinya, asas kemerdekaan dan kebebasan berpendapat dipenuhi.
Itu belum seberapa. Ada kalanya bertemu orang yang selalu melihat sisi buruk tulisan kita. Biar saja. masyak sih semua yang kita tulis selalu bagus menurut semua orang. Kalau salah dan atau kurang bagus, lalu dihajar, terima saja. Jadikan bahan untuk perbaikan. Namanya saja belajar. Tidak usah takut salah.
Ada pula tuntutan, kalau menulis tentang A kelakuan harus A. Memang sebaiknya begitu, idealnya demikian, apa yang ditulis dilakukan. Tetapi, banyak orang lupa, menulis itu belajar, membelajarkan diri. Kalau baru mampu menulis, ya menulis saja. Soal mempraktikkan jalani semampunya. Kan tidak lucu, misal meamsal menulis ke bulan, lalu dituntut harus ke bulan. Yo opo rek.
Artinya, hal-hal ideal itu impian setiap orang. Namun, kenyataan tidak harus sama sebangun dengan hal ideal. Saya paham merokok itu tidak baik, begitu bagusnya. Tapi, tercatat sebagai perokok. Baru belajar mengurangi … mudahan nanti berhenti. Menulis tentang kejelekan rokok tidak berdosa, berusaha mengurangi merokok tidak berdosa. Lakukan semampunya. Menulis juga begitu, jangan dipaksa-paksa.
Belum lagi, orang yang mencari-cari kejelekan tulisan kita. Pokoknya main tembak saja. Kalau kita nulis dia sewot, kalau bikin blog, kalau menulis buku, dicari kelemahan-kelemahannya. Biar saja. Ambil manfaat dari niat buruknya, mempermalukan kita. Dia akan jadi pakar sedemikian, lama kelamaan tulisan kita semakin baik. Cuekin saja. Gitu saja kog repot.
Blog saya pernah dicaci-maki sesorang yang kesannya huibat banget. E … blognya payah. Yang penting belajar dan terus belajar. Kalau nantinya bagus, Alhamdulillah. Kalau kurang, terus belajar, menulis.
Artinya, dalam menulis berbagai terpaan akan datang tanpa diundang, dari berbagai orang. Sabar adalah obatnya dalam pengertian agar kita tetap teguh menulis. Sabar dalam menulis ya tetap menulis.
Akhirnya, kalau diambil simpulan —bisa jadi ngawur he …he … menulis adalah aplikasi kesabaran. Sabar memenej diri, sabar menghadapai tanggapan, dan sabar untuk terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 13 Maret 2008









9 Responses to “Sabar Menulis”
By noorlatifah on Mar 12, 2008 | Reply
ya sabar, memang kedengarannya mudah tapi begitu dapat masalah nah di sinilah kita bisa membuktikan apakah bisa sabar atau tidak. Seperti apa yang dikatakan Bapak tadi bahwa ketika kita dicaci maki kita ambil sebagai bahan perbaikan buat diri kita. Biar kita jadi kuat. Waahh setuju sekali….
***Amin. Kita belajar sabar saja.
By jimmy on Mar 12, 2008 | Reply
setuju dengan kesimpulannya pak.. saya pernah langsung deg-degan waktu ada yang kasih komen miring di blog saya.. tapi untung saya hadapi dengan sabar hehe.. sekarang kalo ada yang begitu lagi saya sudah pengalaman, ya sabar aja.. biarin aja
***Sama dong. Minimal kita belajar sabar.
By Toni on Mar 12, 2008 | Reply
Idem dengan di atas. Yang lucu ada orang kasih comment sarcastis tentang mantan suaminya yang kebetulan muncul di blog saya. Wah bingung nih, urusan pribadi masuk ke blog orang. Aya2 wae.
***Aya aya wae … sabar.
By sawali on Mar 13, 2008 | Reply
sabar pak ersis, sabar, hehehehe
meski pakar telematika kita bilang bahwa bloger itu ternyata tak lebih dari tukang tipu!
***Ha ha … Roy kan cari sensasi aja tu
By Mega on Mar 13, 2008 | Reply
sabar..sabarr…
***BTW…Sabar memenej diri..!itu artinya “MEMENEJ” apaan ya Uda..?…
By dhodotes on Mar 14, 2008 | Reply
wah..betul itu! betulll. menulis adalah aplikasi dari kesabaran (*yang digauli kenekatan)
By Yari NK on Mar 14, 2008 | Reply
Kalau dihujat sabar, kalau dipuji juga sabar, sabar jangan cepat terlalu gembira maksudnya, yah memenej sabar memang nggak mudah, tetapi ya itu, ketidakmudahan memenej sabar itu sendiri memerlukan kesabaran, jadinya, lho kok muter2 sih?? hehehehe…..
***Melatih sabar, dengan sabar, tujuannya sabar. Alias, sabar he he
By german on Mar 15, 2008 | Reply
pernah saya denger ungkapan –udah lupa siapa yg bilang–, jika ingin menulis, perbanyaklah membaca buku –terserah buku apaan. disini, saya mengilhami ttg penyamaan kondisi –walau agak nyerempet sdikit–, banyak-banyaklah minum air niscaya keluarnya pun –kencing– banyak juga, walaupun terkadang sedikit (hehe), namun jgn digeneralisasikan ya… kemudian saya sdikit mengambil hikmah pernyataan tersebut diatas (banyak-banyak membaca!) yg walaupun tanpa ditriggernya (pemantik) melalui menulis ya sama aja bo’ong, intinya banyak-banyaklah membaca –disitu intinya, sama dengan banyak-banyaklah minum air. koq muter-muter, yg pasti dengan banyak membaca, kita pun akan memiliki kosakata-kosakata tambahan ketika menuangkan gagasan, ide, tulisan dan lain sebagainya… bagaimana menurut sampeyan pak?!
***Praktikkan saja, membaca. Itu berakar dari ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah.
By german on Mar 15, 2008 | Reply
ttg blog? weleh-weleh, saya pikir blog adalah salah satu fasilitas –didunia maya– yg digunakan oleh sebagian orang di dunia ini karena kemajuan teknologi informasi –mutaakhir–, sama dengan buku, saya salut dgn bapak karena sudah mengumpulkan berbagai tulisan-tulisan –yg saya pikir biasa-biasa aja, hehe– bisa menjadi best seller hingga sekarang! wah! yg jelas, jgn pernah jemu utk menulis, karena jejak seseorang itu tidak dinilai dgn tampilan fisiknya (penampilan) belaka namun dgn hasil karyanya –terserah karyanya apa aja, yg penting jgn nyelenehlah–, iya gak pak?!
***Huah ha ha … mengumpulkan berbagai tulisan —yang saya pikir biasa-biasa aja, he he— bisa menjadi … Setuju, biasa-biasa saja, tapi … ya tapi nya itu. Justru karena itu menjadi luar biasa. Berarti ngak biasa he he. Istimewa dong (geer he he).