Sabar: Bukan Buta Hati

12 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

 Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TUKANG URUT. “Bekerjanya dimana Pak?”, tanya seseorang. “Saya jawab, di hotel”. Lalu, ditanya lagi: “Bagian apa?”. Saya jawab:  “TU”. Heran kali, dipuji: “Bapak hebat, tidak melihat, bekerja di hotel, TU pula”. Saya tidak tahan saking gelinya, dan dijawab:  “Tuang Urut”. Seluruh penumpang angkot, geeeeeeer.
 
Begitulah kisah Pak Anton ketika tangannya lincah  menjelajah punggung. Jari-jarinya memonitor urat yang kejang dan mengurut sampai lemas. Sambil mengurut ada saja cerita yang dikisahkan. Kadang, karena keenakkan, tertidur. Biasanya, anak-anak dan ibunya yang ikut mendengar memperingatkan: “Pak, Pak, bangun. Om Anton mau pulang.
 
Pak Anton lahir di Flores 50 tahun lalu. Ketika SD berhenti sekolah. Gurunya menganggapnya malas belajar, padahal dia tidak bisa melihat papan tulis. Yang diandalkan kemampuan dengar.  Yang pasti, Pak Anton bukan bodoh. Celakanya, karena bukan dari keluarga berpunya, matanya tidak bisa diselamatkan.
 
Begitulah dengan daya lihat tidak sempurna merantau ke Kalimantan, Kalimantan Tengah. Dengan keterbatasan pandangan, bekerja di perusahaan kayu, nun jauh di perdalaman. Hidup lebih banyak di camp. Wuaw, seru mendengar cerita carut-marut dan bagaimana hutan ditebang membabi buta, plus bagaimana aparat mengutip ‘pajak’. Pantas hutan kita rusak ngak karu-karuan.
 
Episode hutan adalah cerita fresh from the oven kesukaan saya. Selebihnya kisah sedih. Betapa tidak. Pak Anton kawin, dan punya tiga orang anak. Lalu, lambat tapi pasti, sebelah matanya tidak bisa melihat. Terus … yang sebelah lagi tidak berfungsi. Gelaplah dunia ini. Perusahaan pun menghadiahkan pensiun.
 
Setahun dua, apa yang didapat selagi kekuatan fisik prima, habis. Bercerai. Pak Anton hidup sendirian dengan penderitaan yang, saya tidak sanggup menuliskannya. Sampai pada suatu ketika dia bermimpi diberi minyak (ini versi lazim Tukang Urut) oleh entah siapa. Lalu, banyak orang sakit aneka macam disembuhkan. Sampai suatu hari seorang anggota DPRD membawanya.
 
Pak Anton akhirnya dikirim ke sekolah tuna netra di Martapura, tetangga Banjarbaru.  Sekitar 3 km dari rumah saya. Menjadi sahabat ‘terpercaya’. Kami bercerita banyak hal. Persahabatan kami tahunan terjalin. Sekali sebulan, atau dua minggu sekali, Pak Anton saya jemput.
 
Ramadhan tahun lalu Pak Anton beristri baru. Dan, untuk kedua kali mengucapkan kalimah syahadat. Semasa kecil di Flores memeluk agama Katholik, lalu masuk Islam. Ketika ‘ditemukan’ Pastor, kembali memeluk Katholik. Dan, menjelang nikah, masuk Islam.
 
Suatu kali, Pak Anton berkisah mengharukan, sepulang dari PON Palembang (atlet tolak perunggu tuna netra). Temannya bertanya: “Seperti apa pesawat terbang itu? Apakah mengisi bensinnya pakai bensin, botol aqua?” Waduh, membayangkan teman-teman tuna netra membentuk persepsi sungguh berbuah simpatik.
 
Pernah, begitu cerita Pak Anton, ditanya: Apakah jurang itu seperti tong sampah? Di sekolah Tunas Harapan ada tong sampah besar yang dalam lubangnya tidak bisa digapai tangan.
 
“Kasihan”, kata Pak Anton. “Mereka tidak pernah melihat, belum pernah memandang apa itu laut, bagaimana rupa matahari atau bulan. Seperti apa pohon kelapa? Dan, seterusnya. Pak Anton yang tidak bisa melihat mengasihi teman-temannya yang tidak pernah melihat. Buta sejak lahir.
 
Tiba-tiba tangan pijatannya terasa tidak nyaman. Pak Anton mengirim empati, mengasihi teman-teman yang tidak pernah melihat. Ya, kita-kita yang melihat dengan lempang, pernahkah membayangkan buta?
 
Pak Anton boleh cacat mata. Tapi, hatinya tidak. Kalau Pak Anton ke rumah, dua jamanberkisah banyak hal. Dari Perang Bosnia sampai meninggalnya Pak Harto. Yang sangat disesalkannya … harga-harga semakin mahal. Pak Anton, menggugat reformasi. Hidup semakin susah.
 
Ya, itu bagi Pak Anton. Bagi sebagian orang justru kesempatan semakin terbuka. Diantara pijitan-pijitan Pak Anton, cerita tentang perjuangan, tentang sabar yang dipraktikkan adalah pelajaran sesunguhnya. Pak Anton yang sabar, Pak Anton yang buta, tapi hatinya melihat terang menderang.
 
Semoga kita semua bisa belajar sabar, belajar dari Pak Anton.  Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 12 Maret 2008.

  1. 6 Responses to “Sabar: Bukan Buta Hati”

  2. By Mega on Mar 12, 2008 | Reply

    lageee….yg ke berapa yak…

  3. By Mega on Mar 12, 2008 | Reply

    Doh jadi terenyuh baca nya….semoga kak Anton ditumpahi rejeki trs…salam ntuk pak Anton

  4. By karlan08 on Mar 13, 2008 | Reply

    Betul mang, buta bukan berarti buta segalanya dan dibalik kekurangan pasti ada kelebihan. Bukan begitu bukan???? :D

  5. By sawali on Mar 13, 2008 | Reply

    konon orang yang memiliki kelainan fisik, memiliki kelebihan dari sisi yang lain. pak anton bisa menjadi contoh yang baik untuk itu.

    ***Ya. Masalahnya diasah. Kurang satu sisi, lebihan disisi lain.

  6. By dhodotes on Mar 14, 2008 | Reply

    Hikmah yang saya ambil dari kisah itu, Kang Ewa, bahwa sabar itu pilihan terbaik atas semua kondisi, yang sedang kesusahan maupun yang tidak sedang kesusahan.

    ***Pilihan untuk diprakteikkan.

  7. By german on Mar 15, 2008 | Reply

    yg terlebih penting adalah melakukan perbuatan itu dgn ikhlas –ikhlas positip lho–, karena perbuatan seseorang tu kan ditentukan oleh niat? iya gak pak?

    ***Ya. Setuju.

Post a Comment