Menulis, Imajinasi, dan Fantasi
10 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TONI FEBRUARI: Dalam menulis kita tidak bisa lepas dari persepsi terhadap sesuatu sekaligus ‘bumbu’ fantasi. Tetapi, hal tersebut bukanlah perkara mudah. Lalu, bagaimana caranya Pak?
KHAYAL. Menulis, bisa jadi berawal dari persepsi terhadap sesuatu. Persepsi dapat diartikan bagaimana kita mengetahui sesuatu melalui pancaindera. Titik tumpu definisonalnya, adalah proses penerimaan pengetahuan; apa yang di luar diri ‘dimasukkan’ ke rumah pengetahuan di otak. Disimpan di memori (otak), dan galibnya dinamakan konsep. Konsep-konsep (pengetahuan) itulah yang yang menjadi bahan dasar untuk menulis.
Fantasi adalah daya menciptakan sesuatu atau gambaran dalam angan-angan. Prosesnya di otak. Persepsi raupan pengetahuan, fantasi daya kerja otak yang ‘tidak membumi’. Istilahnya angan-angan, khayalan. Ah, agak susah membedakannya dengan imajinasi dalam konteks menulis.
Katakanlah fantasai lebih cendung dalam menulis fiksi dimana kita bebas ‘berkelana’ di alam pikiran. Imajinasi pun demikian. Tetapi, menulis non-fiksi memerlukan fantasi dan imajinasi apa tidak? Tergantung pemaknaannya. Pastinya, fantasai dan imajinasi adalah ‘permaian’ otak.
Fantasi merujuk kepada ‘cara pikir’ melebih-lebihkan sesuatu atau menguranginya hingga jauh dari sesungguhnya. Imajinasi lebih kepada membangun, membayangkan atau menciptakan gambar-gambar (lukisan, karangan, dan sebagainya) kenyataan atau pengalaman sesorang. Ya, pada dasarnya khayal juga bo. Karena itu, tidak usahlah diperpanjang bahasannya. Biar jadi urusan psikolog.
Imjanisi OK, fantasi boleh … asal jangan sampai mencabut akar ‘kenyataan’ atau daya logis sirna. Misalnya mau menulis perpustakaan sekolah, kampus, atau perpustakaan milik daerah yang canggih. Kita andaikan (bayangkan) berdinding marmar berlantai pualam berdisain kokoh indah.
Khayal melayang ke perpustkaan Universitas Bagdad atau Cordoba di zaman kejayaan Islam. Impikan pula berbasis IT. Pokoknya suka-suka Sampeyan (penulis). Hingga, tulisan begitu membuai. Mengagumkan.
Sekalipun begitu, saya menganjurkan, tulislah berdasarkan kondisi obyektif. Bagaimana memimpi perpustakaan ciamik, perpustakaan sebagai jantung universitas, kalau dananya cekak. Para petinggi tidak suka membaca. Berharap membangun rumah ilmu kepada mereka yang tidak doyan membaca? Berpikir logislah. Jangan terlalu berkhayal.
Tapi ingat, hal-hal besar di dunia ini banyak yang bermula dari khayal; imajinasi, bahkan fantasi. Contoh, komik Flash Gordon memancing kehendak manusia berkelana ke jagat raya, ke Bulan sampai ke Mars. Fantasi, imnajinasi, diperlukan dalam hidup dan kehidupan hingga tidak hambar.
Logikanya, apalagi menulis. Hanya saja, imajinasi yang ‘aman dan terkendali’. Kalau masih mahasiswa belum menikah, (maaf) bila membonceng pacar, tersenggol ‘ssnya’ khayal membawa ke alam kenyamanan. Bisa tidak tidur tiga hari tiga malam. Tapi, kalau sudah nikah, dari ‘ss’ sampai ‘Mrs. V’ dinikmati, nyaman saja. Tidak perlu khayalan. Konon, hidup terindah di alam khayal. Mbuh.
Dengan kata lain, menggunakan imajinasi (fantasi) dalam membangun tulisan tidak ada salahnya, bahkan bisa leibh menarik. Terutama dalam menulis fiksi. Tetapi, tulisan yang baik, barangkali kita sepakat, adalah tulisan yang berdasarkan kenyataan.
Bahwa, apa-apa yang ada di otak, yang kita tuangkan menjadi tulisan, pada dasarnya bukan wajib ‘kenyataan’ saja, ya iyalah. Tetapi, bukan berarti khayalan doang.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 Maret 2008.













10 Responses to “Menulis, Imajinasi, dan Fantasi”
By mathematicse on Mar 10, 2008 | Reply
Suatu tulisan yang fiktif pun pada dasarnya bersumber pada sesuatu yang nyata. Setidaknya nyata bagi otak si penulis.
Dengan imajinasi, manusia mempunyai sifat kreatif, sifat mencipta (mungkin ini bagian kecil dari sifat Sang Maha Pencipta yang terdapat dalam mahluknya.. bener ga ya?
)
***Ha ha apa ino termasuk logika matematikan Kang Jupri?
By nexlaip on Mar 10, 2008 | Reply
imajinasi yang baik adalah imajinasi yang menuju ke arah perbaikan…..apabila kita b erada di zaman yang kurang baik maka kita berimajinasilah ke arah yang lebih baik, dituangkan dalam tulisan dan di nyatakan dengan tindakan menuju perbaikan….bener apa ga bang?
***Ya.
By Rizhal on Mar 10, 2008 | Reply
Berimajinasi merupakan pola pikir manusia untuk memperbaiki segala hal yang ia lihat dan rasakan, setidaknya dapat memberikan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
***Kira-kira begitu …
By Hedi on Mar 10, 2008 | Reply
plus kita juga harus banyak membaca supaya lancar menulis
***Persis …
By toni februari on Mar 10, 2008 | Reply
ehmmmm…sepakat… tulisan yang pure itu yang pastinya yang obyektif ( non fiksi )berdasarkan pengetahuan yang diketahui, yaaaa biarpun sedikit yang diketahuinya heee..
imajinasi atau fantasi mungkin lebih condong ke tulisan yang fiksi ya pak..meskipun basicnya tetap dari persepsi dari apa yang kita dapatkan dalam sebuah pengalaman atau dari pengetahuan
yaaap
Seperti Negeri di atas Awan…tempat mimpi-mimpi bercinta dengan angin..yang membelai kejujuran sang bidadari di bawah pohon kebahagian yang abadi…tak ada raga hanya ada sebuah penglihatan, sebuah makna dan sebuah arti..tak ada umur tak ada waktu..
tapi ada kampus yang mungil di ujung negeri tersebut dengan mataharinya yang terang tapi sejuk ngelonin jiwa…diatasnya.heeee
disitulah kampus yang enak buat belajar pak…heeee yaaap makasih banyak pak….
By sawali tuhusetya on Mar 10, 2008 | Reply
dalam soal menulis fiksi, saya lebih percaya pada kekuatan imajinasi dan fantasi, pak. kenyataan2 riil seringkali hanya bagaikan riak yang akhirnya tersapu oleh dahsyatnya gelombang imajinasi dan fantasi.
***Sama dong …
By sluman slumun slamet on Mar 10, 2008 | Reply
paragraph tiga dari bawah
–fantasi mode ON–
By MUHAMMAD FAUZI on Mar 11, 2008 | Reply
NAMA : MUHAMMAD FAUZI
NIM : A1A104003
Intinya kalau kita mau menulis itu harus ada kemauan. Orang sepintar apapun, dia mempunyai segalanya, pengetahuan yang sangat luas, memiliki imajinasi dan daya fantasi yang sangat tinggi kalau tidak ada kemauan maka tidak akan tercipta apa yang dinamakan tulisan. Mengenai bagus apa tidak tulisan kita karena mungkin daya imajinasi, khayal, dan fantasi kita yang waktu menulis terlalu berlebihan dan kurang masuk di akal, itu urusan orang bagaimana menilai tulisan kita. Setelah ada kemauan untuk menulis, maka usahakanlah seobjek mungkin dalam menggunakan imajinasi, khayal, dan fantasi kita dalam menulis…
By german on Mar 11, 2008 | Reply
setahu saya, kadang-kadang sebuah ‘bahasa’ menjauhikan manusia dari sebuah kebenaran. lantas, siapa yg tahu menahu apakah fantasi/khayal Tuhan –tentu haram hukumnya mencari tahu–, atau mencari tahu kira-kira apa yg sedang dipikirkan oleh binatang –insting, jika khayalan menjadikan manusia mencari potensi didlm dirinya, saya pikir sah-sah saja.. yg gawatnya bila khayalan menjadikan makhluk yg berpredikat ‘manusia’ menjadi bulan-bulanan khayalan itu sendiri –malas!!!
***terlalu tinggi, pantas saja malas he he