Resensi: Dua Lelaki Tentang Wanita

9 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Dimuat Radar Banjarmasin, 8 Maret 2008

Gairah, tepatnya kelanjutan ’kegilaan’ menulis, nampaknya semakin merasuk di kalangan Anak Banua. Beragam buku, mulai dari Buku Teks, Antologi Puisi, sampai buku ’berbau’ historis semakin banyak diterbitkan. Begitu juga Kumpulan Cerpen. Tebaru, buku Perempuan yang Memburu Hujan karya bersama Harie Insani Putra dan Sandi Firly.

Saya jadi ingat motivasi kepada mahasiswa-mahasiswa, angota KP EWA’MCo. dan pe-sahring menulis dunia maya: Sebagai Urang Banua mari kita lanjutkan tradisi hebat yang dibangun Muhammad Arsyad Al-Banjari. Di zaman mesin tulis belum populer, apalagi komputer dan internet, Beliau telah menulis belasan buku. Ketika, etnik-etnik Nusantara lainnya belum menulis, ” Datuk” kita telah mencontohkan bagaimana menulis sangat positif. Buku beliau dipakai di mancanegara. Paling populer, Sabilal Muhtahdin.

Dalam kerangka itulah, apresiasi khusus pantas diberikan kepada Harie dan Sandi. Terlepas, soal conent bisa saja kita tidak sepaham. Bagaimanapun karya ini pantas dibanggakan. Apalagi, dukungan dari Penerbit Tahura Banua, yang dimotori anak muda, Hajriansyah.

Hebatnya, Hajransyah telah menerbitkan kumpulan pusi Jejak Air, dan kemudian menerbitkan buku Urang Banjar Umpat Bepandir: Celotehan Sosial Religi (Ali Muammar Zainal Abidin), sampai Maitihi Sastra Kalimantan Selatan (Sainul Hermawan). Sungguh angir segar yang tengah berembus.

Lelaki Tentang Wanita
Buku setebal 160 halaman ini dibagi pada dua ranah, yaitu ’daerah teritorial’ Hari dibawah bendera: Cerpen Harie Insani Putra. Ada tujuh cerpen; Chantika dan bola matanya, Gadis kecil yang tersihir, Jempol Kaki Ibu Ada di Televisi, Rahasi Sedih Tak Bersebab, Seseorang dari Jauh, dan Wanita yang Melukai Tubuhmu dengan Pisau.

Sandi Firly, redaktur Cakrawala Radar Banjarmasin yang sangat menaruh perhatian terhadap Sastra Banua mengusung cerpen; Bulan Belah Semangka, Perempuan yang Memburu Hujan, Jerit Ranjang di Kamar, Kematian yang Terlalu Pagi, Senja Kuning Sungai Martapura, dan Tubuh dan Kepala Mencari Rupa.

Para lelaki ini ’berkisah; tentang wanita, dengan … he he sedikit agak ’genit’. Harie agak terjerat dengan ’dendam’, atau barangkali bisa dikatakan ’dandaman’ terhadap perempuan. Saya memilih cerpen Harie, Gadis Kecil yang Tersihir.

Cerpen ini dibangun sangat kuat yang dimulai dari masa-masa di sekolah dalam persaingan ala remaja antara Si Aku dan Si Rini. Bangun awalnya sangat bagus walau terkadang-kadang bisa terpatah-patah membacanya. Eloknya, dari masa remaja itu beranjak sampai beranak, ’perseteruan’ berlanjut, sampai-sampai dicerai karena ulah Hermawan, ayah Rini, pesaing Si Aku, Wulan.

Sebabnya sepele, akibatnya yang buruk. Dan, … nampaknya itu digambarkan sangat sangar dalam bentuk dendam. Kita petikan alinea kedua terakhir cerpen Harie: Aku tahu kau sangat ingin denganku. Kali ini kau jangan lari, Hermawan. Jika kau membawa anakmu pergi, yakinlah aku akan menjelma menjadi wanita yang tidak akan pernah kamu sadari. Sangat mengerikan, bukan? Ingat satu hal Hermawan, demi kebahagiaan anakku nanti, aku bisa lebih jahat dari wanita manapun. Masa depan anakku telah pupus bersama jeruji besi.

Saya memuji hari membangun badan cerpen, namun alangkah baiknya pilihan diksi lebih dipertajam. Misal, dia sudah mengalami luka yang bertubi-tubi (luka bertubi-tubi? Kalau ayunan tinju bisa jadi, h.23 ). Alur pun berelok-belok, yang bak jalan justru membawa kita bertamsaya. Menyelusuri terasa nikmat, membuai jiwa pertualangan dalam membaca cerpen. Artinya, kelemahan disana-sini tidak mengurangi kehebatan bangun cerpen. Agak berani saya katakan, justru itu menguatkan cerepen-cerpen Harie. Salut dan tabik.

Sungai Martapura
Pilihan untuk cerpen Sandi, Senja Kuning Sungai Martapura. Cerpen ini dimulai dari hidangan bait-bait cantik:

Bamula angin manyapu banyu
Maniup di batang banyu
Maantar alang tabarang
Handak buli ka sarangnya

Ah, saya tidak terbiasa membaca tulisan Sandi yang bergaya ’Melayu”. Dia memulai: Senja kuning luruh. Kuning, sewarna kunyit. Seperti biasa kau duduk di situ di batang banyu rumah lantingmu, dengan rambut panjang tegerai masai, kaki tercelup sungai. Matamu berkabut air mata meriak, sebelum akhirnya satu-satu bulir bening itu jatuh melincir d pipimu. Hening dalam senja kemuning.

Waduh … Sandi menumpahkan resahnya karena sayang kepada sungai Martapura, gambaran kepedulian terhadap alam. Alam yang nampaknya tidak kita dipedulikan hingga menjadi ’ancaman’ kehidupan. Sandi berhasil secara lembut melambangkan alam dan budaya sungai; sajian nyaman mengelitik, menggugat kepedulian kita. Nyaman menyamankan.

Kalau ada yang agak ’seram’ dalam bingkai kisahnya, ketika ada berita koran: Sungai Martapura Kembali Meminta Tumbal. Galuh mati lamas. Pada persuaan muara ini, Harie dan Sandi bersatu; mengingatkan kita semua akan peran kita dalam kehidupan.

Secara keseluruhan, buku ini mengambarkan kehidupan sehari-hari dalam kaca pandang penulis fiksi. Tidak ada yang berlebihan, gaya tulis saja yang kadang agak seram, kadangkala lembut, yang intinya mengirim makna; hidup dan kehidupan haruslah berlandaskan hal-hal yang hak.

Terlepas dari keslahan, semisal titik waktu dicetak, sekali lagi, tidak mengurangi ’kehebatan’ Kumpulan Cerpan ini. Saya punya kalimat penutup buat kalian: Teruslah menulis. Semoga karya ini menjadi pemicu bagi kita semua untuk menulis, menulis, dan menulis. Hajriansyah ’bertugas”, menerbitkan dengan usungan ideals mendukung perbukuan Banua. Selamat.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 7 Maret 2008.

  1. 9 Responses to “Resensi: Dua Lelaki Tentang Wanita”

  2. By sandi on Mar 9, 2008 | Reply

    wah…, jadi promosi gratis nih. terima kasih pak ersis. semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT…

    ***Wualllah … jangan gratis pang, he he. Upahnya kirimi tu 5 pengomentar awal (berani ngak?).

  3. By sawali tuhusetya on Mar 9, 2008 | Reply

    membaca review pak ersis ttg kumcer ini kayaknya menarik juga tuh, pak. saya justru sangat penasaran mencari cerpen yang menampilkan kultur khas banjar yang khas dan eksotis. sudah ada yang terbit, pak?

    ***He he … baru belajar Pak. Makasih semangatnya. Mas Sandi, kirimkan tu Pak Sawali

  4. By danalingga on Mar 9, 2008 | Reply

    Wah, sepertinya menarik. Kebetulan saya lagi gandrung membaca kumpulan cerpen, soalnya lebih berwarna sih. :D

    ***Mas Sandi, kirimin tu Mas Dan; saya ada tu Surat Buat Kekasih … mana alamatnya?

  5. By mathematicse on Mar 9, 2008 | Reply

    Wah saya senang dan kagum dengan orang-orang yang menulis…

    ***(Banyak orang) justru kagum … sama Kang Jupri he he

  6. By dhodotes on Mar 9, 2008 | Reply

    Ini mah menimbulkan masalah bwat Carik’e. Kemana juga harus kuburu buku nie?

    (*ayo..ayo..Kang Sandi ato Kang EWA nyang mo’ jawab?)

    ***Langsung saja tu sama Sandi … Hai Sandi dijawab tu.

  7. By unai on Mar 10, 2008 | Reply

    skrinscovernya mana pak..? resensinya mantap..saya pingin juga meripyu buku puisi Banjar yang bapak kasih tempo hari, tapi bacanya lamaaa banget karena banyak yang tak paham artinya

    ***Belum sempat e …

  8. By sandi on Mar 10, 2008 | Reply

    waduh…, rame juga tanggapan terhadap buku cerpen “Perempuan yang Memburu Hujan”. Covernya bisa dilihat di http://sfirly.wordpress.com
    Untuk mendapatkan bukunya, saya baru bisa menyarankan agar dicari di toko-toko terdekat di kota Anda, mudah-mudahan sudah nyampe. atau mau dikirimkan langsung? Mungkin saya akan sampaikan dulu kepada penerbit.
    terima kasih atas apresiasinya. terima kasih pak ersis

    ***Yoi.

  9. By hErpandi on Mar 11, 2008 | Reply

    pak ersis,bapa kan bukan asli banjar kok bisa bapa menulis dengan bahasa banjar seperti bait-bait di atas, d mana pak belajarnya ?

    ***Bukan orang Inggris saja yag bisa bahasa Inggri he he. Sya juga bisa, dikit-dikit.

  10. By hErpandi on Mar 13, 2008 | Reply

    pak ada anggapan orang, fkip elit tapi miskin, g mana tu pa ?

Post a Comment