Menulis, Menebar Manfaat

5 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

RAHMADONA FITRIA: Ass. Alhamdulillah sekarang sudah PeDe menulis, Pak. Tapi, bagaimana caranya agar aktivitas menulis manfaatnya bisa langsung dirasakan orang lain, terutama di lingkungan pergaulan kita?

MEMINDAI:  Dona, begitu si penanya, dipanggil. Saya pahamlah siapa ibu beberapa anak yang psikolog tersebut. Dia termasuk angkatan pertama KP EWAM’Co. dalam sharing menulis. Dan, termasuk yang saya banggakan. Tulisannya bagus.
 
Pertanyaan ‘kuno’ tersebut dijawab di komentar balik www.webersis.com.: “Pelajari ‘kebutuhan’ mereka”.  Kebutuhan pembaca? Yes. Kalau kita menulis di wilayah publik, tulisan tersebut untuk publik.
 
Memindai kebutuhan pembaca adalah kunci agar tulisan bermanfaat. Kalau ‘kebutuhan’ tersebut tidak terendus, lalu siapa yang mau membaca? Siapa yang mau membaca tulisan yang tidak bermanfaat? Mereka yang iseng saja kali yang mau menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat.
 
Dalam kaitan menulis untuk kemanfaatan bagi orang-orang di lingkungan sekitar, tentu lebih mudah. Oboservasi apa yang mereka butuhkan, apa masalah mereka, apa cita-cita, atau yang tidak diinginkan. Begitu terdeskripsi, tulis. Wuaw, mereka bisa melonjak kegirangan membacanya, dan … oh begitu ya, saya akan melakukan, akan merobah sikap.
 
Setelah kebutuhan pembaca terdeskripsi, kita tagih rumah pengetahuan di memori otak, bagaimana ya logika, argumentasi, atau solusi bagi orang-orang yang suka beralasan? Pindai paparan psikologi tentang kenapa orang suka beralasan? Atau, amati orang-orang yang tidak suka beralasan, jadikan contoh.
 
Saya jadi teringat apungan MacClelland dalam buku Myron Weyner (kalau ngak salah), Achieving Sosiety. Kira-kira tanyanya: “Kenapa Korea Selatan, Taiwan, Singapura dan Malaysia lebih maju dari Indonesia?”. Selidik punya selidik, di orang-orang negara maju selangkah tersebut didapat satu jenis virus ganas, kebutuhan berprestasi. Virus itu dilabeli sebagai nACh; need for achievement.
 
Asyiknya, virus tersebut dilabeli sangat membuncah; melakukan sesuatu lebih baik dan dalam waktu sesingkat mungkin. Nah, … jelas virus nACh. menjadi musuh orang-orang yang suka beralasan. Tidak punya komputerlah, tidak punya bukulah, di kampus kurang saranalah, aset speedy lambatlah, tulisan tidak dihargai oranglah, dan segerobak alasan gombal lainnya. Ketidakbecusan diri dilimpahkan pada orang atau pihak lain.
 
Kalau tulisan dengan pola demikian yang dirakit, Insya Allah bermanfaat. Memberi pencerahan dan pembelajaran bagi, terutama mereka yang suka beralasan ini-itu. Emang ketika Socrtaes menulis Apologia sudah ada komputer? Emang era Iman Gazali menulis Ihya Ullumuddin sudah ada internet, jutaan referensi, atau Al-Qur’an digital?
 
Masalah-masalah yang dikeluhkan komunitas pada dasarnya masalah semua orang. Karena itu jangan jadikan alasan. Mereka yang unggul adalah yang berhasil mengatasinya sementara yang dungu mengibarkam alasan. Alasan, alasan, dan beralasan. Hingga menjadi Raja Alasan.
 
Karena itu, siap-siaplah, tulisan berdasarkan pindaian, bisa jadi akan dicerca oleh mereka yang suka berasalan. Mereka akan melihat dari segi alasan, tidak untuk memperbaiki keadaan. Be careful.
 
Seorang kawan, minta tulisannya dikomentari, berkali-kali. Karena blognya non-WP, agak kesulitan, ribet (menurut saya, lho). Kesallah dia: “Dasar kamu bodoh”, katanya. Seorang mahasiswa minta blognya dikomentari. Saya dolan-dolan, eh ribet. Lalu dia nulis begini: Tidak ribet kog Pak, malahan tampilannya lebih variatif.
 
Masalahnya, dia punya kebutuhan, saya punya kebutuhan, bagaimana ceritanya kebutuhan dia saja yang dikedepankan, kebutuhan saya dalam mengomen blognya —yang dia minta dengan tekun, he he— tidak digubris. Coba, bagaimana logikanya. Pentayaannya, yang memutuhkan dia atau saya?
  
Jadi, pandai-pandailah memindai kebutuahn pembaca. Kalau tidak, menulis saja di diari atau di kamar sendiri. Tulis, nikmati, banggakan sendiri he he. Itu baru narsis; mabuk mencintai diri sndiri.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 4 Maret 2008.

  1. 13 Responses to “Menulis, Menebar Manfaat”

  2. By Mega on Mar 5, 2008 | Reply

    pertama..x lagi euy..

    ***Ngak jadi naik, di Banjarbaru masih …Rp.7600 per liter he he

  3. By eNPe on Mar 5, 2008 | Reply

    blog ita masih jauh dari kebutuhan pembaca. mgk boleh dibilang narsis karena byk postingan ttg diri sendiri yg gak penting n bermanfaat bagi pembaca. terima kasih atas masukannya :-D

  4. By Mega on Mar 5, 2008 | Reply

    hahaha..Pom bensin rupanya pertama..x itu ya..hahaha..kiraiin…LoL..=))

  5. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 5, 2008 | Reply

    Wah, maksih pak EWA saya juga dapat terpahamkan dari uraian ini.
    Saya Sependapat, sbg-mana koment saya yang terdahulu. Ingat-kan, Pak ?!

  6. By ichal on Mar 5, 2008 | Reply

    ada point yang membuat saya tertarik tentang “tulisan yang minta di komentari”.

    memang cukup membuat senang ketika tulisan (blog) kita di kunjungi banyak orang dan berkomentar. namun jika memaksa atau meminta untuk dikomentari rasanya kenikmatan menulis menjadi berkurang, karena kita memaksa seseorang untuk berkomentar.

    pendapat ini saya dasarkan pada buku bapak juga dan syukurnya sudah ada keberanian untuk meresapai point “MENULIS DENGAN IKHLAS”.

    BUKANKAH BEGITU ???

  7. By mathematicse on Mar 5, 2008 | Reply

    Wah, iya juga ya? Apa sih sebenarnya kebutuhan pembaca?

    Saya juga ketika menulis sering memikirkan apa sebenarnya kebutuhan mereka. Salah satu bentuk perhatian kita akan kebutuhan mereka, kita tulis sesuatu yang mereka kenali dan sering alami, kemudian tawarkan solusi masalah yang mereka hadapi, insya Allah mereka akan suka tulisan kita dan syukur-syukur bermanfaat bagi mereka juga. (Btw, emang tulisan-tulisan saya bermanfaat gitu? Wakakakakakakakak… :D :mrgreen: )

    ***Kira-kira, he he. Pada dasarnya kebutuhan kita kan kebutuhan orang juka khan? Sama-sama manusia. Tinggal, bagaimana memindai mana yang mempribadi mana yang mempublik. Gampangkan?

  8. By noorlatifah on Mar 6, 2008 | Reply

    walah-walaaaahh, memang hebat!!!!!!Kapan ulun bisa nulis sesuai kebutuhan orang ya??? He he he ……….

    ***Kapan mau saja …

  9. By sawali tuhusetya on Mar 6, 2008 | Reply

    memindai kebutuhan pembaca? wah, itulah sulitnya, pak ersis. kalau menulis di media cetak sih jelas segmennya. tapi di blog, repot juga tuh. hingga sekarang saya masih kesulitan, tulisan seperti apa sih sebenarnya yang sesuai dengan kebutuhan pembaca?

    ***He he biasa, memang kura-kura kalau dalam perahu terkadang ngak mau nagaku lagi sedang berkelana, he he

  10. By Mega on Mar 6, 2008 | Reply

    Lha itu dia…menulis diblog yg bisa menarik dan dibutuhkan oleh pngunjung ntuk dibaca yang seperti apa..?..aku tak tauuuuu….

    ***Ah . msayak sih

  11. By Atah on Mar 6, 2008 | Reply

    ini pula yang selalu jadi motivasi saya: MENYEBARKAN TULISAN YANG BERMANFAAT LEWAT BLOG!!!

    Semoga menjadi amal jariyah bagi kita semua. Amiiin…

  12. By edratna on Mar 6, 2008 | Reply

    Jadi ingat saran dosen saat mau presentasi…buatlah tulisan yang mempunyai magnet…sehingga banyak pertanyaan.
    Betul pak, kenapa ada tulisan yang walaupun bentuk diary diminati banyak pembaca, namun ada tulisan lainnya tak tersentuh. Mungkin yang banyak pembacanya…adalah gaya tulisan tak menggurui, dan pembaca merasakan manfaat saat membaca pengalaman penulis tsb.

    Sama seperti buku seri kenangan tulisan NH Dini, yang cerita zaman masa kecilnya di Semarang, saya suka sekali, bacanya berulang-ulang…karena mirip saat saya masih kecil, bermain ke sungai, memanjat pohon dsb nya. Tulisan Dini sampai saat ini tetap saya minati, karena saya belajar betapa sulitnya menikah dengan orang yang beda kultur, beda bangsa…..

    ***Ya ya, sama dong Bu.

  13. By alpi on Mar 6, 2008 | Reply

    “Winners see probles as a challenge; losers as a burden”nn “nothing great was ever achieved without enthusiasm”

    mudah2an saya, n kita semua masuk zona ‘berbahaya” virus nACh itu yak pak..

    ***Amin.

  14. By Rahmadona Fitria on Mar 7, 2008 | Reply

    Alhamdulillah, tulisan ini memperjelas jawaban dari pertanyaan saya. Terima kasih ya,Pak. Senang sekali pertanyaan saya dibikin tulisan, insya Allah menjadi pencerahan juga bagi yang lainnya.Yuk, menebar manfaat dengan menulis, jangan cuma narsis apalagi hanya untuk dinikmati sendiri. Gitu kali ya,Pak pesan dari tulisan ini.Salam Love write & keep writing.

Post a Comment