Kehilangan, Sabar dan Ikhlas
4 March 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KEHILANGAN. Begitu sampai di pinggir kolam, saya berhenti. Anak saya, Aprivisi EWA Abbas, ketiduran. Lelapnya nyenyak. Saya raih buku Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembang Profesi Guru (1999). Membaca beberapa hal pokok, teringat dompek. Beberapa buku dan laporan saya angkat di jok mobil. Tidak ada. Nah …
Saya ingat, di belokan pertama dari rumah, pintu kiri mobil terbuka. Kira-kira terlempar keluar. Saya menelepon isteri. Ketika dia menelepon balik: Da … kada da (tidak ada). Yah sudah. Berarti hari ini, Selasa, 4 Maret 2008, jam 3.45 Witeng, kehilangan dompet. Satu dari dua dompet saya.
Terbayang beberapa agenda yang akan terganggu. Uang sekitar Rp.4 jutaan lebih, aneka ATM, dan hal penting lainnya raib. Seperti manusia yang kemalangan, … hal pertama terlintas, moga-moga Allah SWT menolong, dimudahkan hati penemunya mengembalikan saya punya dompet. Minimal, kartu-kartu.
Otak segera berputar. Besok ke bank Mandiri, BNI, dan BPD membuka rekening baru. Kalau meminta kartu baru, ribet. Harus ke polisi segala. Harus menunda beberapa pembelian. Saya kan bukan orang yang berkelebihan finansial.
Oh ya, kemaren sebenarnya lagi senang-senangnya. Dengan teman-teman menyelesaikan satu pekerjaan besar, laporan Pendataan Sarana dan Prasana Sekolah suatu daerah. Kedua, membeli laptop Acer Core2Duo, HDD 160 GB, dengan RAM 1 GB yang langsung di-upgrade jadi 2 GB. Cukup canggih. Maunya akan menulis lebih cepat lagi.
Tapi, kegembiraan tersebut dibarengi cobaan —tentu karena kebodohan. Ya, itu tadi. Kehilangan dompet. Saya tidak mau terdenda lebih dalam. “Ya, Allah. Kalau dompet itu didapat seseorang semoga bermanfaat besar baginya. Semoga pula pintu rizki saya dibuka. Amin”. Tidak ada satu peristiwa atau kejadian apa pun yang tidak bermakna.
Begitulah. Saya menghidupkan komputer. Ingat serial tulisan tentang ‘Ikhlas’ dan ‘Sabar’. Terimah kasih ya Allah, ternyata tulisan serial tersebut sudah tiga perempat buku. Membaca, dan menulis tulisan ini. Menulis, lis, lis, tulis.
Alhamdulillah, hikmah kehilangan terobat. Mendapatkan kembali serial tulisan yang terlupakan. Allah langsung menampakkan berkahnya. Saya memahami karena ikhlas kehilangan; semua berasal dari Allah SWT dan akan kembali pada-Nya. Lagi pula, yakin tidak kehilangan lebih banyak. Misalnya, menyesali berlama-lama atau memaki diri. Saya telah mendapatkan hal lebih baik. Ya, itu tadi, ‘mendapatkan’ calon buku yang terlupakan.
Sebenarnya, banyak ‘kehilangan’ yang kita dapatkan, disenagaja atau bukan. Tapi, terkadang tidak cerdas memaknainya. Umpama, mengerutu, menyesal, sampai putus harapan. Ya rugi berkali-kali. Sabar dan ikhlas, nyaman di pikiran.
Paling penting, agar ke depan kudu hati-hati. Sabar, ikhlas, atau menyerahkan semuanya pada Yang Mahatahu tidak berarti pasrah atau menyerah. Pelajarannya diambil. Kehilangan, kekeliruan, kesalahan, dan atau hal-hal sepadan, bukan datang dari Allah SWt. Saya yang teledor. Allah tidak pernah membatasi pelajaran dan rizki ummat-Nya.
Hari ini mendapat hal sangat berharga dan fundamental. Memahami makna terkandung dari kehilangan yang dibaliknya terdapat hal lebih berharga. Terima kasih Ya, Allah. Sayang-Mu tak bertepi. Semoga hamba selalu dapat memindai dan mengambil makna dan manfaatnya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 4 Maret 2008.









12 Responses to “Kehilangan, Sabar dan Ikhlas”
By gempur on Mar 4, 2008 | Reply
sabar ya pak! *halah, la wong orang sdh sabar kok dinasehati* mudah2an saya bisa sesabar pak ersis! Amin…
***He he …
By noorlatifah on Mar 4, 2008 | Reply
Memang kehilang sesuatu yang kita miliki sangat menyakitkan, tapi jika kita mau menyadari bahwa yang kita miliki itu adalah titipan Allah maka kita tidak akan terlena dengan kesedihan, cobalah sabar dan mengikhlaskan yang sudah hilang dari kita. Insya Allah Tuhan akan menggantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.
***Setujuuuuuuuuuuuuu.
By hanna on Mar 4, 2008 | Reply
Wah, dah pake laptop baru, nih. Selamat, ya. Moga semakin karya Bapak yang lahir dan bisa saya nikmati di sini.
***Amin.
By hanna on Mar 4, 2008 | Reply
Ufhh! ralat, maksud saya moga semakin banyak karya Bapak yang lahir. Ketinggalan satu kata. Maaf, ya…..
By Inas on Mar 4, 2008 | Reply
“… istriku berkata: Sssttt, diamlah, teruslah menulis…” Puisi baru Rendra yang dibacakannya siang tadi.
By Yari NK on Mar 4, 2008 | Reply
Yaa…. saya juga pernah mengalami kehilangan dompet beserta isi2nya…. mungkin ada hikmah di setiap peristiwa pahit… atau bisa jadi Yang Maha Kuasa tengah menegur kita atas peristiwa2 yang kita lakukan di masa lalu ataupun di saat itu. Yah, hanya kita yang tahu dan mudah2an kita semua bisa menyadari kesalahan2 kita……
***Ya ya … setuju, hidup dan kehidupan adalah cermin.
By Rahmadona Fitria on Mar 4, 2008 | Reply
Ass. Subhanallah, memang setiap urusan orang muslim itu baik, ketika mendapat kesenangan ia bersyukur dan ketika mendapat cobaan ia bersabar. Tidak ada yang sia-sia (seperti tulisan saya) setiap kejadian yang menimpa melainkan ada hikmah dibaliknya.
***Hikmah itu lebih penting …
By mathematicse on Mar 4, 2008 | Reply
Semoga segera dapat gantinya, dengan rizki yang lebih baik. Amin.
<strike>Kehilangan dompet doang sih gpp, kehilangan isinya itu yang bikin pusing…. </strike>
Mudah-mudahan jadi pelajaran bagi yang baca artikel ini, supaya bertindak lebih hati-hati.
***Ya ya ya
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Mar 4, 2008 | Reply
Alhamdulillah, pian masih diberi kesabaran dan keikhlash-an. Semoga diberi yang lebih baik lagi, amin yarobbal ‘alamin.
***Amin.
By karlan08 on Mar 4, 2008 | Reply
turut berduka cita atas musibah yang menimpa mang ersis….
semoga dompetnya bisa ditemuka orang yang baik dan jujur. amiin
walaupun tidak kembali semoga dompetnya bermanfaat bagi yang menemukan seperti yang amang bilang.
innalillahiwainailahirajiuun………..
bismillahitawaqaltualallahu…………
***Amin.
By Mega on Mar 5, 2008 | Reply
Wah..lagi kena musibah..sabar emang hrs sabar..Kalau Tuhan masih menginjikan ntuk memilikinya,,ga akan lari kemana..***tapi kehilangannya diIndonesia ya..jarang yg bisa ntuk kembali..
Wow..Laptop baru..yg bekas ntuk aku dung….hahahaa…biar bs ntuk menulis juga..amal beramal dung…
***Ha ha … ngak pa pa kog. Mintanya kog yang bekas. Di Jepang banyak aja lah yaw …
By sawali tuhusetya on Mar 6, 2008 | Reply
jangan khawatir, pak ersis, ntar pasti akan dapat ganti yang lebih banyak dan berlipat-lipat. rezeki itu, *halah sok tahu* datangnya konon serba tak terduga. apalagi dilandai semangat ikhlas dan sabar.
***Sudah didapar Pak, Alhamdulillah.