Menulislah, Legakan Dirimu
26 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis membantu membersihkan kerak-kerak pikiran di otak, noda-noda di perasaan. Ibarat besi, supaya jangan berkarat, ya dibersihkan. Menulis.
OUGH …. Pernah kasasuban atau kasusuban? Itu lho, dalam bahasa Banjar tertusuk benda yang kecil. Bahasa Padangnya, kasuban. Misalnya kalau tulang ikan atau patahan kayu kecil menusuk kulit. Duh, sakit. Kalau menancap sampai ke daging, lebih sakit. Biasanya, kalau dicabut akan patah. Merana deh. Kalau dibiarkan beberapa hari akan bernanah, dan seterusnya. Pokoknya berbuah derita. Satu-satunya cara terbaik dicabut paksa. Sakit memang. Hanya saja, kalau berhasil legaaaaaaaaaa.
Ya, kasusuban jarang memang mendenda otak dalam artian tertusuk benda. Tapi, kalau ditusuk-tusuk, diaduk-aduk, dipusingkan atau dibuat kehidupan tidak nyaman oleh apa yang ‘bersarang’ di otak, oleh pikiran, apa yang dipikir dan terpikirkan, bisa jadi dialami banyak orang. Kalau dilengkapi dengan dendaan rasa, perasaan, maka ibarat pepatah, makan tak enak tidur tak nyenyak.
Kalau kasasuban dicabut, gelegar onak di pikiran, terkeluar. Caranya? Minimal, bak anak baru gede, curhat. Hal-hal yang menyamankan dan membahagiakan seperti jatuh cinta saja bisa membuat puyeng. Apalagi, hal-hal buruk seperti disakiti teman karena sebab yang tidak jelas.
Kalau dipelihara di ranah pikiran, direndam di kuala rasa, ya bisa menyakitkan jiwa. Pada tingkat tertentu, kalau batin tidak kuat memendamnya, bisa-bisa berakibat pikiran tidak di jalan yang lurus alias senewen. Kalau sudah begitu, pekerjaan psikolog dan psikiater jadi sulit. Kata orang, sudah miring.
Saudara-saudara sebangsa. Percaya atau tidak, apa yang kita pikirkan, apa yang dirasakan, apablia dikeluarkan, akan mengurangi beban pikiran dan rasa. Terutama hal-hal mendenda. Bisa dikeluarkan dengan mengatakan, mengiringi sendu-sedan, menangis, atau teriak-teriak sepuas-puasnya bak orang Indian menggali kapak perang.
Namun, ada cara lebih praktis. Apa pun yang menganggu pikiran, yang menghujam rasa, disalurkan dengan menuliskannya. Lazimnya, manakala beban pikiran telah dituliskan, dibaca atau tidak, diketahui orang lain atau tidak, kelegaan adalah manfaat pertama. Selanjutnya, terserah Sampeyan.
Menulis adalah katarsis; pembebasan dengan melepaskan ketegangan-ketengangan yang menjadikan kelegaan emosiomal; pikiran dan rasa terasa plong. Begitulah. Setelah menulis biasanya orang akan bernafas legah, ough. Kalau makan masakan Padang, terasa pedasnya, lalu hilang pelan-pelan dan rasa enaknya baru habis setelah makan makanan Padang berikutnya. Nyaman dan menyamankan.
Menulis membantu membersihkan kerak-kerak pikiran di otak, noda-noda di perasaan. Ibarat besi, supaya jangan berkarat, ya dibersihkan. Membersihkan otak, satu cara diantaranya, dengan mengeluarkan pikiran menjadi tulisan. Ibarat komputer, defragh dilakukan rutin, beban CPU menjadi ringan.
Boleh pula diibaratkan darah. Kalau darah kotor dikeluarkan akan tergantikan sel-sel darah baru. Padahal sejatinya, kalau menulis jadi kebiasaan, kita tidak mengeluarkan hal-hal kotor. Tapi, hal baik. Minimal untuk kesehatan otak sendiri. Kalu tingkatnya lebih tinggi, bisa menyehatkan yang lain. Artinya, hal-hal kotor dalam kaitan tulisan ini diabaikan.
Benar atau tidak, saya tidak memikirkannya, tetapi merasakan, apabila tulisan menjadi maka kelegaan datang tanpa diundang. Ada rasa gimana gitu. Apalagi, kalau menjadi buku sebagaimana ditutup dengan tulisan ini. Legaaaaaaaa tenan.
Saya mengakhiri buku Menulis Enjoy Sajalah (2008) dengan tulisan pengakhirnya dengan perasaan lega. Setelah mendapatkan ‘kelapangan’ begitu tiap tulisan menjadi, kini lebih lengkap setelah menjadi buku. Menulis melegakan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Agustus 2008.










12 Responses to “Menulislah, Legakan Dirimu”
By Mega on Feb 26, 2008 | Reply
Legaaa..partamax….
Di Banjarbaru Rp7600 per liter, makin mahal saja harga BBM di negeri penghasilnya.
By Mega on Feb 26, 2008 | Reply
wah baru tau kalau tatususak tulang kasuban namonyo yo..hahaha..selama ini ga pernah tau..
***Katanya perna sekolah di Mualab … pacaran aja kali ni. Oh ya ada cerpen berjudul: To KL with love. Gimana?
By Mega on Feb 26, 2008 | Reply
ahahha…iyo..sakolah lamo sich disinan.. tapi kalo yg bahasa kasuban ga pernah denger ach..
Wow..judule keyenn sekalee….setujuuu..buruan bikiin ya..mau jadipembaca pertama deh
***Tinggal nyalin. Sabar. Dan, yang lebih penting diingatkan. Ini cerita seorang kawan yang pacaran dengan orang Mongolia … dan janjian bersua di KL, lalu kawin he he … setuju aja kan?
By Mega on Feb 26, 2008 | Reply
haahaha..koq mongolia sich ..LoL..iya deh, setuju… setuju..yg penting bisa baca cerpen dari uda EWA
By unai on Feb 26, 2008 | Reply
walah kok ngobrol hihii…Uni Mega jo Pak Ewa…hihi malah konsen baca komennya
By isnuansa on Feb 26, 2008 | Reply
bener Pak, kayaknya menulis itu proses menghilangkan “kesusupan” ya?
[dalam bahasa Jawa sih: TLUSUPEN]…
**Tlusupen … asyik tu, nambah kosakat nich. Tq.
By nurul huda on Feb 27, 2008 | Reply
saya juga legaaa banget sekarang ini pa …. bisa duduk nyantai diwarnet sambil baca n koment tulisan bapa ….meskipun habis baca tulisan bapa ini saya senyum sendiri… abisnya….tadi pagi saya betul2 nyabut kasusuban ulin di jari tangan kiri…he…he…
By eNPe on Feb 27, 2008 | Reply
Legaaaaaaa..akhirnya hari ini bisa silaturahmi ke rumah abah
udah dua jam nongkrong di warnet utk menulis k berbagai blog, waktunya pulang 
By Agoy Agoy Agoy on Feb 27, 2008 | Reply
Seperti punya bisul kalau menurut saya
kalau bisulnya sudah pecah… hmmmmm legaaa…
***Dalam contoh yang lain
By Am. Hamsin Fitriadi on Feb 27, 2008 | Reply
sukses selalu untuk bapak deh..saya sangat tertarik dengan tulisan bapak ini. benar juga pak ya pikir-pikir kalau perasaan itu dipendaaam terus saya rasa malah bikin kita hidup jadi gak semangat, lesu bahkan malah bikin stress sendiri..dengan menuangkan beban pikiran ke sebuah tulisan seperti yang dikatakan bapak insya allah bisa membantu melegakan pikiran kita..
By olangbiaca on Feb 27, 2008 | Reply
Aslkm..muantab…….horeeeeeeeee…hidup budaya menulis, Niscaya bangsa ini akan maju…..
***Amin.
By meiy on Feb 28, 2008 | Reply
iya pak abis nulis kita bisa tersenyum menghadapi dunia
saya sedang belajar agar tulisan bisa bermutu, mungkin direnung dulu?