Menulis, Menulislah Kawan
26 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis ibarat makan masakan Padang. Mula-mula terasa pedas, kemudian pedasnya berkurang, lalu yang tinggal enaknya, nyamannya.
MALAM INI. Menulis Sangat Mudah. Menulis menyenangkan. Menulis ‘membebaskan’ diri; meringankan pikiran menyehatkan jiwa. Menulis ekspresi diri. Menulis kemerdekaan sejati. Menulis berbagi dengan sesama. Dengan menulis kita membangun peradaban; setidaknya berpartisipasi pada era kehidupan di zaman sejarah ini. Bukan sebaliknya, hidup di zaman sejarah, tetapi tidak menulis. Tidak ada tulisan. Menurut sejarawan, berarti di masa prasejarah.
Setiap hari telinga ‘diteror’ aneka berita TV, mata nenjelalah halaman surat kabar, majalah, atau buku, pandangan melihat hal-hal baru tiap hari, pikiran direspon aneka warna kehidupan, dan banyak hal ‘diputar’ di otak. Kita apakan semua itu?
Dalam kehidupan ini, masalah silih berganti, the life is problems, problems must be solved. Kita punya uneg-uneg, ada yang terlekad dirasa, ada yang menyeruak di dada, ada yang menggeliat meminta diteriakkan, diri berisi timbunan hal, akan kita kemanakan semua itu?
Menertawakannya tidak mungkin, tangis saja tidak akan menyelesaikan masalah, kalau diomongkan siapa yang mau mendengar, bosan. Zaman bicara saja tanpa menulis sudah lewat. Itu kemampuan manusia prasejarah; manusia yang hidup di era tulisan namun belum menjadi penanda kebudayaan.
Ide-ide bergulir di kepala, kita punya mau dan harap, dan banyak orang, bahkan bangsa memerlukan gagasan-gagasan, yang tentu akan lebih mengena manakala ditulis. Ada yang belajar sampai berpredikat doktor, pekerjaan ceramah doang. Ilmu yang dituntut berdarah-darah kurang bermakna. Hikmah-hikmah disuarakan tiap hari, banyak teriakan demonstran bermakna filosfis dan praktis, lalu hilang ditelan ruang sehabis dikumandangkan. Kenapa tidak ditulis agar abadi mengikuti kala?
Memang, kalau menulis kita tidak mungkin berkilah. Banyak orang takut, sebab apabila menulis akan terlihat salah benarnya, akan ketahuan apakah ilmuwan itu pintar atau hanya sekadar penyandang gelar. Berbicara berapi-api di ruang kelas, di ruang kuliah, pada pidato-pidato membakar semangat, tentu akan lebih menjangkau manakala ditulis. Semua itu lebih afdol ditulis.
Ya, biarlah pada fase tertentu tersalah. Bisa jadi salah ketik atau salah konsep, namun bukankah salah dan kesalahan mengantar kepada kebenaran? Dari kesalahan (menulis) kita menjadi tahu, membelajarkan diri? Karena itu, kenapa takut menulis? Menulis melawan ketakutan.
Tidak dipungkuri, menulis memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi, tidak sesulit memasak mie instan. Kita bisa menulis sembari menikmati sate Madura. Kita bisa menulis sembari mendengarkan lengkingan Michel Jackson atau aluan suara Ummi Kalsum. Kapan saja dimana saja.
Sudahlah, campakkan dongeng-dongeng susahnya menulis, aturan-aturan yang membuat nyali kecut. Atau, ujaran-ujaran bagus guru bahasa atau penatar penulisan yang indah dalam kata-kata. Kini, lakukan menulis dengan menulis. Abaikan sejenak teori nan canggih-canggih, contoh tulisan kelas dunia, alihkan potensi melatih menulis dengan menulis.
Percayalah, obat mujarab menulis dengan menulis. Ibarat makan masakan Padang. Mula-mula terasa pedas, kemudian pedasnya berkurang, lalu yang tinggal enaknya, nyamannya. Pada tingkat pecandu, kalau tidak makan masakan Padang, badan serasa meriang. Bak menulis, kalau sudah memasih, kalau tidak menulis ada yang terasa hilang.
Mari kawan, mari menulis. Selagi menulis belum dikategorikan kejahatan, mari manfaatkan. Karena tulisan apa yang ada di jagat raya menjadi ‘ada’. Tanpa tulisan kita akan susah memaknainya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 Februari 2008.









5 Responses to “Menulis, Menulislah Kawan”
By Mega on Feb 26, 2008 | Reply
sapa takut….
***Ya sapa takut … yang takut itu yang ngak nule Neng.
By ahmad simanjuntak on Feb 26, 2008 | Reply
wah, dengan menulis postingan ini bapak sudah sangat menginspirasi saya. Jauh lebih efektif dibanding ceramah yang saya dengar diruang kuliah selama tiga tahun ini
***Amin. Ya, kita menulis sajalah, ngak ada jeleknya selama yang ditulis yang baik. Mari begabung …
By nurul huda on Feb 27, 2008 | Reply
menurut jawaban koment bapa terhadap seseorang diatas saya ini bahwa “menulis sajalah selama yang ditulis yang baik…Hal itu memang saya lakukan ketika mengumpul tugas makalah dari dosen atau tugas kuliah lainnya, atau ide-ide yang ada di pikiran saya bagaimana membantu guru-guru lewat forum MGMP,atau hal-hal lain tentang bagaimana memberi motivasi pada diri sendiri untuk selalu berusaha menjadi baik….Saya menulis buat anak saya untuk memberi motivasi dalam menghadapi Ujian Akhir sekolahnya …. tapi saya juga banyak menulis sesuatu yang mungkin menjadi tidak baik ketika orang lain membacanya ….misalnya hasil tulisan saya atas rekaman pendengaran dan dialog dengan teman2 pasca tentang kekecewaan terhadap dosen tertentu, hasil curhat teman2 yang kecewa terhadap pimpinan lembaga dimana saya bertugas atau juga kekecewaan saya terhadap suami …. nach… gimana menurut bapa?
By meiy on Feb 29, 2008 | Reply
menulis samba lado
padeh-padeh tapi minta tambah he
By asep on Jul 9, 2008 | Reply
Luar Biasa!!!!
Tulisan mas Ersis sudah menghipnotis saya, saya jadi terhayut dengan buaian kesederhanaan kata namun tetap dalam bermakna.Tanpa terasa 5 jam lebih saya sudah pelototin nih situs. Memang benar terkadang kita terlalu takut memulai menulis, karena tulisan kita akan di pertanggung jawabkan, tetapi selama yang kita tulis itu benar adanya, tidak ada alasan untuk takut, jadi mulai lah menulis seperti saya sekarang ini lagi menulis disini(post comment) ini membuktikan saya sudah berani menulis, hehe. Bagi yang cuma liat-liat tapi gak komen,,,berarti masih takut.
***Wouw kelaman tu, ntar kasihan matanya. Saya kirimi buku saja ya, biar matanya lebih terpelihara. Alamatnya?