Menulis dan Networking

25 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis armansyah Abbas

Menulis membuka pintu gerbang persahabatan mengangakan jaringan dalam lintas makna saling menguntungkan.

BERTEMAN. Baru saja seorang pegiat sastra SMS: Pak komunitas (…) bermaksud mengadakan “Malam Seribu Puisi” untuk mahasiswa dan dosen. Tolonglah kami dengan nama besar, popularitas dan publisitas pian yang notabene diadakan mahasiswa agar dosen-dosen dan petinggi mau menghadiri. Aha, bisa diartikan meledek atau serius. Tapi sudah, saya memang tergairah menyokong kegiatan mahasiswa, apalagi apresiasi sastra. Saya menabalkan diri sebagai pecandu sastra.
 
Dalam hal beginian, saya agak termudahkan. Biasanya, kalau mengadakan acara, tidak terlalu sulit mengajak berbagai pihak dalam galang kemitraan. Dari menerbitkan antolog puisi, baca puisi, sampai Aruh Ganal (pesta besar), pernah saya adakan tanpa memakai dana kampus. Mencari sponsor itu tidak sulit. Tapi itu dulu.
 
Pada tahun 2007 melatih diri mengurangi kegiatan, dari olahraga, bahkan sampai kegiatan ESQ. Kini, agak susah mencari saya di ruang seminar atau acara-acara seremonial. Kenapa? Tidak apa-apa. Saya agak fokus membaca dan menulis. Kenikmatan baru sedang dipagut.
 
Sekalipun demikian, nampaknya tidak mungkin dimatikan. Saat ini ada satu pekerjaan besar yang menyita hari-hari, selain kegiatan kampus. Ya, saya memang tidak bisa hidup menyendiri. Karena itu, membaca dan menulis, dilakukan dimana sempat. E … kalau dihitung jam sela-sela tersebut, ternyata durasinya sangat panjang. Dapat satu kunci, tidak perlu menyiapkan waktu khusus.
 
Oh ya, dalam kaitan itu —maaf bukan  sombong atar narsisme— saya analisis, kenapa agak mudah berteman dengan pejabat atau pengusaha. Refleks terjawab: karena menulis. Ya, rata-rata mereka membaca tulisan saya yang terkadang nyleneh. Ada pula yang minta dituliskan ini-itu.
 
Artinya, jembatan awal berteman dimulai dari berkah menulis. Soal selanjutnya, tentu tergantung bagaimana memenej pertemanan. Yang pasti, banyak mendapat kemudahan. Hingga, mengkreasinya  untuk membangun jaringan, networking. Saya banyak mendapat teman gara-gara menulis.
 
Dalam pada itu, karena bergaul atas-bawah, kiri-kanan, apalagi setelah aktif di dunia maya (blog) semakin menjadi-jadi. Hampir tiap hari mendapatkan teman baru. Saya berdoa, mudah-mudahan musuh tidak bertambah. Jadi, kalau ada yang tidak senang dengan, tolong ingatkan ya.
 
Tidak bisa tidak, belive it or not, menulislah kalau ingin cara pintas mendapat banyak sahabat. Anjuran ini terutama kepada penulis-penulis muda. Sampeyan sungguh beruntung, ada yang masih SMA sudah masuk jaringan narkoba internasional … eh maaf, salah tulis. Sudah masuk komunitas nasional dan internasional. Tinggal, bagaimana memelihara dan menjadikan lebih bermanfaat.
 
Pertemanan dalam menulis tidak memerlukan kontak langsung, cukup saling menuang dan cengkerama pikiran, jadilah. Ketika bersama seorang teman ke luar negeri, di Singapura si teman punya teman, di Malaysia, di Bangkok, dan entah dimana lagi. Saya yang tidak tahu apa-apa dapat limpahan kemudahan. Melancong menjadi lebih ‘ringan’.
 
Kalau saya sih baru diundang, tepatnya ditawari mampir kalau ke Jepang (hayo siapa?), Australia, Bangkok, Pakistan, Denmark, atau Amrik. Entah kalau ke Holland, apa ada yang nawarin singgah ngak ya? Kalau benar-benar kejadian akan menyata atau tidak, mbuh, kog dipikirkan. Kalau ke Jakarta atau Jogya, ada tuh yang menyiapkan tiket sampai hotel (hayo, jangan komen ya). Artinya, itu dalam katup pertemanan.
 
Ada yang lebih agresif. Jaringan dijadikan ajang bisnis. Bagi yang lihai sungguh peluang yang sayang kalau dibiarkan berlalu begitu saja. Dan semua itu hanya karena menulis. Lalu, apa lagi yang ditunggu? Mari, Mari menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 25 Februari 2008.

  1. 4 Responses to “Menulis dan Networking”

  2. By sawali tuhusetya on Feb 25, 2008 | Reply

    <blockquote>
    Dalam pada itu, karena bergaul atas-bawah, kiri-kanan, apalagi setelah aktif di dunia maya (blog) semakin menjadi-jadi. Hampir tiap hari mendapatkan teman baru. Saya berdoa, mudah-mudahan musuh tidak bertambah. Jadi, kalau ada yang tidak senang dengan, tolong ingatkan ya.
    </blockquote>
    aha, yang penting tidak sikut-kanan kiri, sembah ke atas, atau injek bawah *wih kok jadi ngelantur* pak ersis tetap dipuja. banyak temen dan sahabatnya. btw, saya termasuk sahabat pak ersis, ndak? sering nyampah tuh, hiks.
    aha, belakangan ini adrenalin saya untuk komen di blog pak ersis sedang memuncak. tak peduli dibilang OOT bin sampah juga ndak apa-apa, hehehe :lol: saya juga ndak akan kabuuur lage. ditimpuk sorban saktinya pun *halah* kubiarkan biar dapat pahala, hayyah.

    ***Wualllllaaaaaaaaaaaaaaaaaah. Jangan pernah kabur he he

  3. By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply

    niat, kesempatan dan takdir.
    niat pa ersis : menulis adalah…….?
    kesempatan : krn pa ersis punya SDM yang memumpuni
    takdir : itu memang sudah takdir pa ersis punya teman.
    tp yang ngga kalah lagi adalah usaha.

    ***Bisa jadi.

  4. By Mega on Feb 26, 2008 | Reply

    lha..kapan mau ke Jepangnya..kamar tamu dah disiapin ala Jepang stile tu hahaa..**baru ngeh ada postingan ini..

  5. By meiy on Mar 4, 2008 | Reply

    iya pak, nulis byk teman, saya juga mengalami. kalau ke medan juga bisa pak, nanti ambo ajak ke camp, ketemu gajah hehe :)

Post a Comment